MEDIASI KOMUNITAS: JALAN MENUJU DAMAI
Bagan 5.1. Sengketa yang Sering Terjadi dalam Masyarakat
3. Jenis-jenis Sanksi
Sanksi didefinisikan sebagai ganjaran yang diberikan kepada pelaku karena tindakan pelanggaran yang dilakukannya. Sanksi hukum adalah hukuman yang dijatuhkan pada seseorang yang melanggar hukum. Merupakan bentuk perwujudan yang paling jelas dari kekuasaan negara dalam pelaksanaan kewajibannya untuk memaksakan ditaatinya hukum, demikian pula hukum adat.
Filosofi dan tujuan pemberian sanksi antara peradilan umum dengan peradilan adat harus dipahami dalam perspektif yang berbeda. Peradilan formal biasanya memutuskan sebuah perkara bertujuan untuk memastikan siapa yang benar dan siapa yang salah, atau menentukan siapa yang menang siapa yang kalah. Sedangkan dalam peradilan adat, tidak hanya sebatas mewujudkan keadilan dalam bentuk formil, tetapi lebih sebagai upaya untuk memulihkan ketenteraman dan keharmonisan dalam masyarakat. Diharapkan pihak-pihak yang bersengketa setelah keputusan ditetapkan dapat kembali hidup berdampingan dan bersama-sama, tidak ada lagi rasa dendam, tetapi semakin memperkuat tali persaudaraan di antara mereka.6
Atas dasar tersebut, sanksi dalam hukum adat bersifat fleksibel dan tidak kaku. Tidak ada ketentuan khusus yang memberi batasan jumlah maksimal dan minimal. Penentuannya besar kecilnya sanksi sangat tergantung dengan sengketa yang terjadi, kemampuan pihak yang bersengketa, dan berdasarkan kesepakatan para pihak setelah adanya mediasi yang dilakukan oleh tokoh adat. Fleksibilitas sanksi yang diterapkan dalam sistem peradilan adat merupakan keunggulan yang menjadi ciri khas dibandingkan sanksi dalam hukum pidana umum, dengan tetap mempertimbangkan dan memperhatikan prinsip tercapai keadilan bagi para pihak.
Karena sifatnya yang fleksibel, tokoh adat harus mempertimbangkan secara baik sengketa yang diselesaikan dengan merujuk kepada prinsip-prinsip penyelesaian sengketa secara adat. Menurut Teuku Raja Itam Aswar Syiah Ulama, pertimbangan
6
Abdurrahman, Jenis dan Tujuan Pemberian Sanksi Adat. Tersedia di: http://maa.acehprov.go.id/?p=321.
138
penentuan sanksi harus memenuhi syarat-syarat tertentu agar keputusan ditetapkan memiliki kebenaran dan keadilan sehingga dapat diterima dengan ikhlas oleh para pihak, yaitu:
a. Kalau menimbang sama berat. b. Kalau mengukur sama panjang. c. Tidak boleh berpihak-pihak.
d. Lurus dan benar harus menjadi pegangan.
e. Benar adalah menurut kehendak adat dan syarak.7
Untuk memudahkan sebagai pedoman pemberian sanksi, dalam Qanun No. 9 Tahun 2008 tentang Pembinaan Adat dan Adat Istiadat, dalam Pasal 16 ayat (1) dinyatakan bahwa Jenis-jenis sanksi yang dapat dijatuhkan dalam penyelesaian sengketa adat sebagai berikut:
a. Nasehat; b. Teguran; c. Pernyataan maaf; d. Sayam; e. Diyat; f. Denda; g. Ganti kerugian;
h. Dikucilkan oleh masyarakat gampong atau nama lain; i. Dikeluarkan dari masyarakat gampong atau nama lain; j. Pencabutan gelar adat; dan
k. Bentuk sanksi lainnya sesuai dengan adat setempat.
Sanksi juga bertujuan untuk pembinaan, perbaikan dan pemulihan para pihak seperti keadaan semula, misalnya khusus mengenai masalah anak yang bermasalah dengan hukum (ABH), maka pada 4 gampong (Neuheun, Bineh Blang, Meunasah Tutong dan Lam Ujong) di Kabupaten Aceh Besar yang menjadi wilayah dampingan Pusat kajian pendidikan dan masyarakat (PKPM) telah dibuat reusam gampong
7
Teuku Raja Itam Aswar Syiah Ulama, Penyelesaian Sengketa dan Berbagai Kasus, dalam M. Isa Sulaiman (ed), “Pedoman Adat Aceh: Peradilan dan Hukum Adat, Banda Aceh: Lembaga Adat dan Kebudayaan Aceh (LAKA), 2001, hal. 43.
139
tentang penanganan ABH.8 Reusam ini juga memuat tentang sanksi-sanksi
penyelesaian permasalahan anak melalui mekanisme peradilan adat gampong, yaitu: 1. Nasehat;
2. Teguran;
3. Pernyataan permintaan maaf; 4. Denda;
5. Ganti kerugian;
6. Dikembalikan kepada keluarga dan masyarakat untuk pembinaan;
7. Tinggal di Dayah atau lembaga sejenisnya untuk belajar dalam beberapa waktu tertentu;
8. Membersihkan meunasah atau masjid atau fasilitas umum lainnya di Gampong;
9. Menjadi muazzin di masjid selama beberapa waktu tertentu; 10. Menghafal juz „amma dalam jumlah tertentu;
11. Jika anak dipindahkan dari gampong asal ke tempat lain yang lebih kondusif dan aman bagi anak karena pertimbangan tertentu dengan ketentuan tempat tersebut adalah keluarga, seagama, dan seadat.
Pemberian sanksi bagi anak berhadapan dengan hukum berprinsip pada upaya memperbaiki keadaan anak untuk kembali pulih sebagaimana sebelumnya, bukan bermaksud untuk menghukum dan memberi efek jera. Maka proses pemberian sanksi kepada ABH menganut prinsip-prinsip di bawah ini:
1. Bersifat mendidik bagi anak.
2. Mempertimbangkan usia anak dan bentuk pelanggaran yang dilakukan. 3. Tidak memberatkan anak dengan mempertimbangkan aspek psikologis anak. 4. Mengutamakan kepentingan terbaik bagi anak.
5. Bersifat pencegahan dan tidak memposisikan si anak sebagai pelaku kejahatan.
8
Pada keempat gampong tersebut telah disahkan aturan gampong tentang pembinaan kehidupan anak, yaitu Reusam Gampong Bineh Blang No. 102/20.28/XI/2015; Reusam Gampong Lam Ujong No. 336/2010/XI/2015; Reusam Gampong Meunasah Tutong No. 01/SK/PKA-MT/2015; dan Reusam Gampong Neuhen No. 12/2015. Lihat: M. Ridha dan Muhajir al-Fairusy, Modul Pelatihan: Penanganan ABH Melalui Peradilan Adat, Banda Aceh: UNICEF, PKPM, dan RJWG, 2016.
140
6. Mempertimbangkan prinsip keadilan bagi anak sebagai korban dan atau pelaku.
Sanksi-sanksi yang disebutkan dalam Qanun No. 9 Tahun 2008 dan Reusam Gampong tentang ABH maupun beberapa aturan lainnya yang tidak tertulis dan dipraktikkan dalam masyarakat memperlihatkan bahwa sanksi adat sebagaimana telah diuraikan bersifat fleksibel, disesuaikan dengan jenis perkara dan kondisi sosial kehidupan masyarakat. Beragamnya sanksi adat tidak hanya terjadi antar wilayah di Aceh, misalnya karena perbedaan suku atau etnis, tetapi antar gampong dalam satu wilayah pun sering ditemui adanya perbedaan sanksi yang ditetapkan. Hal ini sebagaimana disampaikan oleh Keuchik Rusli pada saat pelaksanaan FGD di Bireuen:
“Mengenai sanksi yang dijatuhkan tergantung pada putusan gampong, karena beda gampong akan berbeda juga dalam pemberian sanksi, contoh ada gampong ketika orang berkelahi sampai berdarah, diselesaikan melalui sayam, tetapi bentuk sayam berbeda-beda, ada gampong harus bayar 2 juta, ada yang harus sembelih kambing, perbedaan itu terjadi karena tidak ada suatu ketetapan baku dalam masyarakat”.9
Sementara itu, ada juga perilaku masyarakat yang memberikan sanksi secara spontanitas di luar ketentuan sanksi yang ditetapkan dalam hukum adat, seperti:
Di antara bentuk-bentuk sanksi yang tidak boleh untuk dijatuhkan adalah sebagai berikut:
Dimandikan dengan air kotor. Ditenggelamkan ke sungai.
Dikeroyok, dianiaya dan atau dipukuli. Diarak keliling. Dicambuk. Mencukur rambut. Menggunting pakaian. Dan lain-lain. 9
141
Bentuk sanksi di atas bukanlah merupakan sanksi adat atau hukuman adat, tetapi kadang-kadang terjadi karena marahnya masyarakat terhadap perilaku mereka yang dianggap sudah mengotori gampong atau berperilaku di luar batas kewajaran. Sedangkan tokoh adat, sangat paham bahwa sanksi tersebut bukan yang seharusnya, sehingga ketika pimpinan gampong atau tokoh adat mengetahui adanya kejadian tersebut, biasanya langsung mengambil tindakan untuk menghentikannya.
Kasus seperti ini sekarang memang sudah jarang terjadi, MAA dalam berbagai kegiatan sudah mensosialisasikan bahwa beberapa sanksi yang dianggap sebagai sanksi adat, sebenarnya bukan bagian dari sanksi adat, karena tidak sesuai dengan nilai keislaman, melanggar prinsip-prinsip hak asasi manusia serta tidak terwujudnya tujuan dari penetapan sanksi itu sendiri.