• Tidak ada hasil yang ditemukan

KERANGKA TEORI DAN TINJAUAN KEPUSTAKAAN

SEKRETARIS TEUNGKU

B. Tinjauan Kepustakaan

Kajian-kajian mengenai penyelesaian kasus atau sengketa di tengah masyarakat lewat pendekatan adat, dapat ditemukan dalam beberapa bacaan. Diantaranya, buku Adat dalam Dinamika Politik Aceh. Buku ini, merupakan kajian adat di tiga kabupaten kota (Aceh Besar, Nagan Raya, dan Aceh Tengah). Penelitian ini mencoba mengkaji dan menampilkan deskripsi praktik adat di tengah tiga tipologi masyarakat tersebut. Beberapa subbab memang sempat mengangkat terminologi, dan kasus-kasus yang berkaitan dengan peradilan adat di tengah masyarakat. Di sini, konsep peradilan adat dipaparkan, dan diangkat beberapa kasus, serta penyelesaiannya oleh perangkat adat. Namun, dari seluruh rangkaian tulisan yang luas ini, belum memiliki deskripsi spesifik yang berbicara model dan proses mediasi peradilan adat yang dilaksanakan di gampong-gampong. Pun demikian, buku ini cukup membantu untuk menelusuri dinamika peradilan adat pasca tsunami, yang selanjutnya digunakan sebagai barometer dalam kajian ini.

29

Di sisi lain, penting untuk melihat pemikiran Badruzzaman Ismail dalam buku Peradilan Adat Sebagai Peradilan Alternatif dalam Sistem Peradilan di

Indonesia. Kajian ini tergolong komprehensif memberikan gambaran secara fokus

peradilan adat di Aceh. Sisi uniknya, kajian ini mendeskripsikan penekanan sebab memudarnya peradilan adat dalam masyarakat. Diantaranya, akibat tekanan politik penguasa begitu ketat terhadap kehidupan demokrasi rakyat, kedudukan dan hak-hak hukum masyarakat mulai dikebiri. Maka, tanpa disadari kebijakan pemerintah (machststaat) telah berada di luar jalur UUD 45. Karenanya, lapangan keadilan hukum tidak dapat dikontrol lagi. Lebih lanjut, menurut Badruzzaman, gampong dalam Daerah Istimewa Aceh dapat dijadikan indikator tentang betapa beratnya beban yang dipikul masyarakat dalam hal penyelesaian perkara-perkara peradilan,

sehingga masyarakat sangat berhasrat untuk menginginkan dihidupkan

kembali/reaktualisasi fungsi berdasarkan Keputusan Pemerintah tanggal 25 Mei 1959 Nomor I/Missi/1959. Keistimewaan tersebut dalam penyelenggaraan bidang agama, pendidikan, dan adat istiadat. Namun, kajian ini juga masih sebatas catatan perkembangan peradilan adat dan dinamikanya, belum membahas secara rinci perkembangan peradilan adat dalam perkembangannya, seiring perubahan sosial. Karena itu, kajian baru ini diharapkan akan memberikan gambaran, bagaimana mediasi menjadi model peradilan lokal menghadapi perubahan sosial di tengah masyarakat.

Pun demikian, penting pula melihat kajian Soeharsono, Benturan Antara

Hukum Pidana Dengan Hak-Hak Sipil Dalam Perspektif Hak Asasi Manusia.18

Kajian in dilakukan di Aceh. Soeharsono mendiskusikan kecenderungan tindak pidana dalam Islam yang dapat mengabaikan hak-hak sipil, karenanya dalam kajiannya ia mengakui, bahwa usaha untuk mereformasi hukum Islam memang mengalami tantangan, terutama terkait manusia sebagai agen yang menerima perintah tuhan, meskipun di sisi lain manusia juga profane yang rentan akan kesalahan. Namun, menurut peneliti, bahwa ada hal-hal lain yang bisa dilakukan

18

Diterbitkan oleh Jurnal Lex Crime Vol. I/No.2/Apr-Jun/2012. Lihat juga Mardani, Sanksi Potong Tangan Bagi Pelaku Tindak Pidana Pencurian dalam Perspektif Hukum Islam (dalam Jurnal Hukum, No.2 Vol.15 April 2008), yang menjelaskan mengenai kelayakan penerapan sanksi potong tangan hanya diberlakukan dalam kondisi yang maksimal dengan syarat dan rukun yang sangat ketat (tidak sembarangan).

30

untuk mengontrol/pelaksanaan hukuman-hukuman. Pun, jika ditinjau dari teori hukum pidana Islam klasik, banyak pendapat yang menyatakan bahwa penerapan hukum pidana Islam yang tepat, adalah ketika kondisi ideal masyarakat telah terwujud. Kondisi ini, dianggap terwujud jika nilai-nilai Islam seperti keadilan, tanggung jawab sosial dan kesejahteraan sosial telah masuk ke dalam sendi kehidupan masyarakat. Jadi, ketika bisa dibuktikan secara rasional, bahwa pelaku kejahatan adalah produk dari problem sosial masyarakat, maka kepentingan si pelaku harus dipertimbangkan dan hukuman hudud bisa dihilangkan. Praktik peradilan Islam ini, sangat cocok sebagai perbandingan dalam rangka membahas mediasi peradilan adat dalam kajian ini. Di sisi lain, kajian ini juga menjadi pilot untuk melihat posisi peradilan adat dan keberadaan hak asasi manusia dalam pelaksanaannya.

Pusat Kajian dan Pendidikan Masyarakat (PKPM) Aceh, sebagai lembaga yang ikut fokus pada isu dan wacana adat Aceh, pernah menerbitkan dua buku yang berkaitan langsung dengan adat dan peradilan adat. Pertama, Revitalisasi nilai-nilai lokal dan peran lembaga adat Keujruen Blang di Kabupaten Aceh Besar. Kedua, Modul Pelatihan Penanganan ABH Melalui Mekanisme Peradilan Adat. Dua buku ini, menampilkan narasi dan gambaran dialektika dan peranan lembaga adat di Aceh. Buku pertama, cenderung membahas secara fokus dan lokus pada lembaga adat pengelolaan sawah di Aceh. Meskipun, di dalamnya juga sempat memuat bagaimana kinerja lembaga adat ini melakukan mediasi dalam rangka menyelesaikan sengketa masyarakat pertanian di Aceh. Karena itu, kajian ini hanya terfokus pada mediasi masyarakat agraris dan sumber daya alamnya. Buku kedua, juga menempatkan lokus dan fokus pada kasus anak bermasalah dengan hukum yang dapat diselesaikan di tingkat gampong. Karena itu, dua kajian ini hanya terfokus pada dua isu, belum menyentuh peradilan adat secara komprehensif dan meluas.

Selanjutnya, kajian-kajian lain yang berkaitan dengan mediasi dan konsensus penyelesaian sengketa di Aceh, dapat dilihat pada dokumen-dokumen lain. Sebut saja penelitian yang dilakukan oleh Arskal Salim, dkk. di Aceh, yang mengambil fokus dan lokus bagaimana proses mediasi dan penyelesaian konflik lingkungan di Aceh “Model Konsensus Konflik Berbasis Sumber Daya Alam di Aceh”. Kajian ini sempat dipublikasikan pada beberapa media cetak dan publikasi video via youtube

31

saat dilakukan diseminasi mencapai lesson learned bagi pengambil kebijakan di Aceh. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sebenarnya masyarakat Aceh memiliki konsep kearifan lokal berbasis konsensus dalam menyelesaikan setiap perkara, termasuk kasus tindak pidana dalam hal pelanggaran norma sosial, Syariat Islam, hingga sengketa lain.

Buku-buku lainnya yang dapat dijadikan tinjauan pustaka guna menempatkan ketajaman penelitian ini, adalah kajian yang dilakukan oleh M. Akbar, dkk. Kearifan

Lokal; Proses Refungsionalisasi Konsensus Penyelesaian Tindak Pidana Pelanggaran Syariat Islam Perspektif Adat Aceh. Penelitian ini mengambil lokus di

tiga wilayah (Kabupaten Pidie, Pidie Jaya, dan Bireuen) untuk melihat praktik mediasi peradilan adat dalam rangka menyelesaikan kasus-kasus pelanggaran syariat Islam oleh perangkat gampong, bukan Dinas Syariat Islam. Dalam penelitian ini, tampaknya kasus yang difokuskan hanya pada kasus-kasus berbasis pelanggaran syariat Islam yang dapat diselesaikan di gampong. Adapun kasus lain, tidak dikaji di dalam penelitian ini. Padahal, kasus-kasus lain sangat penting untuk dilihat bagaimana proses mediasi dijalankan di tingkat gampong.

Terakhir, buku Administrasi Peradilan Adat yang ditulis oleh Abdurrahman (Pengurus MAA Aceh). Kajian ini cukup representatif untuk membantu melihat proses mediasi dan bagaimana seharusnya praktik peradilan adat dilaksanakan di gampong-gampong. Buku ini, juga mencoba mendorong mediasi dalam praktik peradilan adat ke arah yang lebih formal, dengan memberikan contoh-contoh penggunaan buku catatan dan tabel yang harus diisi oleh mediator saat melaksanakan peradilan adat di Aceh. Tampaknya, buku ini beranjak dari fenomena di lapangan, di mana praktik-praktik peradilan perdamaian di gampong dan mukim, selama ini biasanya dilaksanakan dengan cara yang tidak terlalu formal, baik dalam proses maupun dalam hal administrasinya.

Selain itu, buku ini juga memberikan basis filosofi, bahwa sebenarnya Peradilan Adat dalam bentuk peradilan Perdamaian dikenal pada tingkat gampong dan Mukim. Peradilan ini baik pada tingkat gampong maupun tingkat mukim, berfungsi menyelesaikan perkara/ sengketa antar warga dalam bentuk perdamaian. Selain itu, penting untuk dicatat bahwa perdamaian untuk menyelesaikan perkara/ sengketa oleh majelis perdamaian sudah lama hidup dalam masyarakat Aceh.

32

Peradilan Perdamaian ini terbukti sangat efektif dalam menyelesaikan perkara/ sengketa. Lembaga ini efektif berfungsi sebagai alat menjaga kedamaian dalam masyarakat. Namun demikian, buku ini belum memberikan beberapa model kasus yang representasi untuk dimediasi. Padahal, sangat penting jika kasus-kasus ditonjolkan dalam buku ini, tentunya akan sangat membantu pembaca memahami interkoneksi antara konsep administrasi yang diwacanakan dengan kasus-kasus yang diselesaikan lewat mediasi.

Pada akhirnya, beranjak dari tinjauan pustaka tersebut, maka penelitian ini akan mengambil lokus dan fokus mencari model, dan lesson learned dari beberapa contoh mediasi (berbagai kasus) berbasis peradilan adat yang sedang dan telah dilakukan di Aceh. Model dan contoh kasus menjadi penting dalam kajian ini, guna melengkapi dan memperkaya khazanah penelitian mediasi berbasis peradilan adat sebelumnya. Karena itu, penelitian ini mengambil beberapa kabupaten di Aceh, yang dianggap representasi untuk memberi gambaran, bagaimana pelaksanaan mediasi (yang berhasil) dilaksanakan di tengah masyarakat. Kajian ini, nantinya akan menjadi corong pendorong rekomendasi dan kebijakan publik di Aceh, terutama dalam ranah penguatan kembali posisi mediasi berbasis adat di tengah masyarakat Aceh.

33