• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II. TANGGA NADA PELOG DALAM MUSIK

2.3 Bentuk Gending pada Umumnya

2.3.1 Jenis-jenis Tembang

Tembang dapat dibagi menjadi empat bagian besar, yaitu:

2.3.1.1 Tembang Macapat atau Alit

Tembang Macapat atau Alit adalah tembang yang biasa digunakan untuk

membaca buku dan juga sebagai gerongan (dibawakan dalam paduan suara

67

R. L. Martopangrawit seperti dikutip dalam Sumarsam, Hayatan Gamelan: Kedalaman Lagu, Teori dan Perspektif, 13.

68

Subuh, Gamelan Jawa Inkulturasi Musik Gereja: Studi Kasus Gending-gending Karya C. Hardjasoebrata, STSI Press, Surakarta 2006, 45.

dengan irama yang metris) dengan menggunakan bahasa Jawa baru69. Tembang-

tembang macapat terdiri dari: Dandanggula, Mijil, Asmaradana, Sinom, Pangkur,

Durma, Kianti, dan Pucung70. Dalam perkembangannya, beberapa tembang

tengahan pun masuk dalam kelompok tembang ini, yaitu Gambuh, Megatruh atau

Duduwuluh, Balabak, Wirangrong, dan Jurudemung. Tembang ageng yang masuk

dalam kelompok ini adalah Girisa71.

Setiap tembang macapat diatur dalam ketentuan gurulagu (jatuhnya bunyi

akhir pada tiap baris), guruwilangan (jumlah suku kata pada tiap baris), dan

gurugatra (jumlah baris pada tiap bait). Aturan ini bersifat tetap dan ketat, kendati

tembang ini dinyanyikan dengan cengkok atau lagu yang berbeda-beda. Masing-

masing tembang macapat memiliki lebih dari satu cengkok72.

Berikut ini adalah contoh syair Sinom73:

Pawarta Kratoning swarga Mangsa cacawis mring Gusti Bakal rawuh paring warta Kratoning Allah wus prapti King Yoanes Pambaptis Pawarta ing ngrara samun Jroning tlatah Yudhea Martobata sira aglis

Mrih widada ing tembene bagya mulya.

69

Subuh, Gamelan Jawa Inkulturasi Musik Gereja: Studi Kasus Gending-gending Karya C. Hardjasoebrata, 47.

70

R. Ng. Ranggawarsita, Mardawalagu, Sadubudi, Solo 1957, 38. 71

J. Kunst seperti dikutip dalam Subuh, Gamelan Jawa Inkulturasi Musik Gereja: Studi Kasus Gending-gending Karya C. Hardjasoebrata, 46.

72

Subuh, Gamelan Jawa Inkulturasi Musik Gereja: Studi Kasus Gending-gending Karya C. Hardjasoebrata, 46-47.

73 Diambil dari “II. Pawarta Bab Kratoning Swarga: A. Mangsa Cacawis: Gusti Bakal Rawuh Martakake Kratoning Allah” dalam G. P. Sindhunata, SJ dan Ag. Suwandi, Injil Papat: Piwulang Sang Guru Sejati Ing Tembang Macapat, Boekoe Tjap Petroek, Yogyakarta 2008, 67.

2.3.1.2 Tembang Tengahan atau Madya

Tembang Tengahan atau Madya adalah tembang yang banyak dipergunakan

sebagai bawa, untuk memulai suatu gending. Tembang ini menggunakan bahasa

Jawa tengahan dengan diatur dalam ketentuan tembang yang sama seperti

tembang macapat74. Contoh dari tembang jenis ini adalah Kuswarini,

Kuswawirangrong, Jurudemung, Blabak, Pamiwalkung, Lontang, Girisaja, Megatruh, Dudukwuluh, Maskumambang, Kelingan, Pamungu, Raradenok, Onanganing, dan Kalajaran75.

Berikut ini adalah contoh tembang Megatruh76:

Sigra milir

Sang getek sinangga bajul Kawan dasa kang jageni

Ing ngarsa miwang ing pungkur Tanapi ing kanan kering

Kang getek lampahnya alon.

2.3.1.3 Tembang Gedhe atau Ageng

Tembang Gedhe atau Ageng adalah tembang yang digunakan sebagai bawa

atau suluk dalam pedalangan. Tembang ini adalah jenis tembang yang tertua dan

masih menggunakan bahasa Jawa Kawi atau Jawa Kuna. Secara ketat, jenis

74

Subuh, Gamelan Jawa Inkulturasi Musik Gereja: Studi Kasus Gending-gending Karya C. Hardjasoebrata, 47.

75

R. Ng. Ranggawarsita, Mardawalagu, 34-37. 76

Gending Ketawang Megatruh, dari M. Siswanto, dkk., Gending-gending Beksan II Ketawang, Konservatori Tari Indonesia, Yogyakarta 1975, 44.

tembang ini diatur dalam ketentuan dalam satu bait (sapadeswara) terdiri dari 4

baris (padapala); satu bait dibagi menjadi dua, masing-masing terdiri dari dua

baris yang disebut sapadadirga; jumlah suku kata dalam tiap baris disebut

salampah/ salaku, dan paling sedikit terdiri dari lima suku kata (lampah 5);

menggunakan pedhotan, khususnya bagi tembang ageng yang berlampah tujuh

atau lebih77. Contoh dari jenis tembang ini adalah Citramengeng78, Sikarini,

Bangsapatra79, Citrarini dan Madayanti80. Berikut ini adalah syair tembang Citrarini yang diciptakan oleh KRT Madukusuma81:

Langen pradangga, ngesti lebdeng pra siswa Mardi mardawa kagunan karkarena

Mung haywa kemba miwah mengeng ing karna Antep ing sedya lir parta mangsah yuda.

2.3.1.4 Tembang Dolanan

Istilah tembang dolanan pada awalnya digunakan untuk menyebut jenis tembang permainan anak. Namun pada perkembangannya, istilah ini pun digunakan untuk menyebut tembang-tembang hasil kreasi baru dan digunakan

untuk membedakannya dengan tembang-tembang klasik yang adi luhung82.

77

Subuh, Gamelan Jawa Inkulturasi Musik Gereja: Studi Kasus Gending-gending Karya C. Hardjasoebrata, 47. 78 R. Ng. Ranggawarsita, Mardawalagu, 22. 79 R. Ng. Ranggawarsita, Mardawalagu, 26. 80

Purwadi, dkk., Ensiklopedi Kebudayaan Jawa, Bina Media, Yogyakarta 2005, 528. 81

Purwadi, dkk., Ensiklopedi Kebudayaan Jawa, 528. 82

Rahayu Supanggah seperti dikutip dalam Subuh, Gamelan Jawa Inkulturasi Musik Gereja: Studi Kasus Gending-gending Karya C. Hardjasoebrata, 48.

Beberapa tembang dolanan karya C. Hardjasoebrata yang cukup populer adalah Sinten Nunggang Sepur, Sapa Munggah Gunung, Kupu Kuwe, Go Jago, Bagong Ngamuk83, Kursi Jebol, Adiku, Omahku, Buta Cakil Untu Telu, Kathok Putih, Palang Sepur84. Berikut ini adalah contoh syair tembang Omahku85:

Kowe tak kandhani prenahe omahku Nurut dalan iki ana omah jejer telu Latar jembar gilar-gilar

Omah gedhong anyar lawang kaca nganggo gambar Sing wetan cete ijo, sing kulon cete kuning.

Sing tengah campuran ijo royo-royo sulak kuning Aja wedi-wedi kowe ndang mlebua wae,

Nanging aja gedhong kuwi, omahku presis mburine.

2.3.1.5 Beberapa Jenis Tembang Lain

Sindhenan adalah tembang yang dinyanyikan secara tunggal oleh seorang pesinden atau waranggana. Sulukan adalah tembang yang dinyanyikan oleh

dalang pada awal atau akhir suatu gending, atau di tengah-tengah pocapan dengan

tujuan untuk menciptakan suatu suasana tertentu yang diharapkan. Sebagai

contoh, tlutur digunakan untuk menciptakan suasana prihatin dan sedih, kawin

digunakan untuk menciptakan suasana bersemangat, dan ada-ada digunakan

83

Subuh, Gamelan Jawa Inkulturasi Musik Gereja: Studi Kasus Gending-gending Karya C. Hardjasoebrata, 66.

84

Subuh, Gamelan Jawa Inkulturasi Musik Gereja: Studi Kasus Gending-gending Karya C. Hardjasoebrata, 85.

85

Subuh, Gamelan Jawa Inkulturasi Musik Gereja: Studi Kasus Gending-gending Karya C. Hardjasoebrata, 85.

untuk suasana tegang atau marah. Laras dan pathet sulukan disamakan dengan

laras dan pathet gending yang akan atau sudah dimainkan86.