BAB III. DASAR-DASAR INKULTURASI MUSIK LITURG
3.1 Inkulturasi Liturgi
3.1.2 Teologi Inkulturasi
Dalam perspektif teologi penciptaan, karya keselamatan melalui penebusan merupakan rencana Allah sejak awal. Allah Tritunggal menciptakan segalanya itu sungguh amat baik (Kej 1:31). Segala yang diciptakan Allah ini baik dan berbobot, tidak ada yang kurang bernilai, tidak ada yang semu, tidak ada yang
buruk24. Menurut Ireneus, penciptaan dan penebusan tidak bisa dipisahkan satu
sama lain. Sejak awal penciptaan telah terarah pada pembebasan dosa dari dan dalam Kristus. Alam ciptaan ini berpotensi untuk ditebus sampai ke unsur-unsur
jasmani karena alam ini diciptakan sendiri dengan tangan-Nya25. Rencana awal
untuk menjadikan manusia sebagai mitra, teman sekerja, bahkan anak-Nya,
22
E. Martasudjita, Pr., Pengantar Liturgi: Makna, Sejarah dan Teologi Liturgi, 82. 23
Pedro Arrupe, On Inculturation: A Letter of Father General Pedro Arrupe to the whole Society, Rome, 14 May 1978, 14.
24
Nico Syukur Dister, OFM., Teologi Sistematika 2, Kanisius, Yogyakarta 2004, 71. 25
diinterupsi oleh dosa Adam. Penciptaan ini pun diperbarui, diperbaiki dan disusun
kembali dalam pribadi Yesus Kristus yang menjadi Adam kedua26. Demikian
pula, kebudayaan-kebudayaan yang pada dasarnya adalah baik, dapat digunakan di dalam inkulturasi.
Dasar teologis inkulturasi adalah misteri perutusan trinitaris. Misteri perutusan trinitaris ini adalah perutusan Putra oleh Bapa di dalam Roh Kudus, sekaligus perutusan Roh Kudus oleh Bapa dan Putra. Kedua perutusan ini, perutusan Putra dan perutusan Roh Kudus, tidak bisa dipisahkan karena mengalir dari satu sumber, yaitu Allah Bapa, dan melayani rencana keselamatan Bapa yang
terlaksana melalui Putera-Nya, dalam Roh Kudus di dalam rentang sejarah27.
Inkulturasi merupakan konsekuensi logis dari realitas penyelamatan. Karya keselamatan itu terlaksana secara konkret di dalam sejarah manusia: di dalam ruang, waktu dan pribadi manusia yang tertentu. Demikian juga, pewartaan iman Kristiani, yang merupakan penghadiran karya keselamatan Allah melalui Yesus
Kristus, juga perlu membumi28.
Selain itu, inkulturasi berdasar pada tiga misteri yang saling berhubungan,
yaitu misteri inkarnasi, misteri Paska, dan misteri Pentakosta. Pertama, misteri
inkarnasi. “Misteri inkarnasi dapat menjadi alasan pertama dan pola yang
sempurna bagi inkulturasi”29. Lebih jauh dari itu, inkulturasi benar-benar dituntut
oleh hakikat Injil itu sendiri, karena Injil pada dirinya sendiri berisi mengenai
26
Nico Syukur Dister, OFM., Teologi Sistematika 2, 51-52. 27
E. Martasudjita, Pr., Liturgi: Pengantar untuk Studi dan Praksis Liturgi, 267. 28
E. Martasudjita, Pr., Pengantar Liturgi: Makna, Sejarah, dan Teologi Liturgi, 82. 29
Pedro Arrupe, On Inculturation: A Letter of Father General Pedro Arrupe to the whole Society, 13.
kehadiran Yesus Kristus di dalam sejarah keselamatan manusia30. “Firman itu
telah menjadi manusia, dan diam di antara kita” (Yoh 1:14). Yesus Kristus yang
adalah Putera Allah yang menjadi manusia dengan segala keterbatasannya31. Ia
masuk dalam konteks hidup manusia dengan segala keterbatasannya. Karena menjadi manusia, Ia pun terikat pada budaya, adat kebiasaan, bahasa dan pola
pikir tertentu32.
Seperti Yesus yang menjadi orang Yahudi, demikian pula Gereja tidak
hanya menjadi Gereja yang berada (in), tetapi menjadi Gereja yang berasal dari
(from) lokalitas tertentu33. Demikian pula, Injil harus diungkapkan dan
diwujudnyatakan dalam adat, budaya, bahasa, dan pola pikir suatu bangsa yang
konkret34. Manusia yang berasal dari kebudayaan tersebut pun pada akhirnya
dapat sungguh merasakan wujud konkret dari karya penyelamatan Allah melalui diri Yesus Kristus. Melalui misteri inkarnasi ini, Allah mengangkat, menerima dan menjadikan seluruh segi kehidupan manusia, termasuk kebudayaannya,
sebagai medan komunikasi dan perjumpaan antara manusia dengan Allah35.
Kedua, Misteri Paskah. Misteri Paskah adalah puncak sejarah keselamatan Allah. Dengan sengsara, wafat dan kebangkitan Kristus, manusia ditebus dari dosa dan diselamatkan. Segala segi hidup yang manusia bawa, termasuk
kebudayaan, pun turut ditebus, dibersihkan, dimurnikan, dan disucikan36,
30
E. Martasudjita, Pr., Pengantar Liturgi: Makna, Sejarah, dan Teologi Liturgi, 83. 31
Pedro Arrupe, On Inculturation: A Letter of Father General Pedro Arrupe to the whole Society, 14.
32
E. Martasudjita, Pr., Pengantar Liturgi: Makna, Sejarah, dan Teologi Liturgi, 82. 33
Anscar J. Chupungco, Liturgical Inculturation: Sacramentals, Religiosity, and Catechesis, 17. 34
E. Martasudjita, Pr., Pengantar Liturgi: Makna, Sejarah, dan Teologi Liturgi, 82. 35
E. Martasudjita, Pr., Liturgi: Pengantar untuk Studi dan Praksis Liturgi, 267. 36
sehingga layak menjadi sarana perjumpaan antara Allah dengan manusia. Hal ini perlu dilakukan karena tidak semua unsur-unsur budaya baru sesuai dengan nilai-
nilai Injil (SC 21)37. Sebagai contoh, cerita-cerita legenda mengenai asal mula
gamelan, tidak mewarnai atau ikut dibawa dalam liturgi Gereja. Asal mula gamelan dapat dijelaskan secara lebih ilmiah melalui ilmu etnomusikologi, yang menerangkan mengenai sejarah asal-usul, perkembangan dan persebaran musik di dunia. Gamelan Jawa pun semakin dimurnikan dan dibersihkan supaya dapat digunakan di dalam liturgi. Liturgi harus menghormati kebudayaan, sekaligus mengundang kebudayaan tersebut untuk memurnikan dan menyucikan dirinya (bdk. LRI 19).
Ketiga, misteri Pentekosta. Karya keselamatan Allah melalui Yesus Kristus sudah terjadi 2.000 tahun yang lalu. Pertanyaannya adalah bagaimana penebusan Yesus Kristus tersebut dapat dialami oleh masing-masing orang pada zaman dan budayanya? Roh Kudus menjamin sampainya karya keselamatan Allah tersebut pada masing-masing orang pada zaman dan budayanya. Kisah Para Rasul 2 menunjukkan diterimanya Injil oleh setiap budaya manusia. Setelah mendengarkan kotbah Petrus, mereka yang tadinya hanya tercengang dan termangu (Kis 2: 12), kini hatinya terbuka pada pewartaan Injil. Mereka
menyediakan diri dibaptis38. Dengan turunnya Roh Kudus, inkulturasi Injil
berlangsung terus ke dalam keragaman bahasa dan budaya di seluruh dunia. Injil
pun lahir dalam pelbagai budaya dan bangsa39. Sebagai contoh, Kitab Suci
diterjemahkan dalam banyak bahasa negara (Indonesia, Inggris, Yunani, Jerman,
37
E. Martasudjita, Pr., Pengantar Liturgi: Makna, Sejarah, dan Teologi Liturgi, 83. 38
E. Martasudjita, Pr., Liturgi: Pengantar untuk Studi dan Praksis Liturgi, 268. 39
Itali) dan daerah (Batak, Bali, Sunda, Toraja, Jawa). Penerjemahan ini membantu orang untuk mengetahui dan memahami Kabar Sukacita yang menjadi inti dari Injil. Karya keselamatan Allah pada 2.000 tahun yang lalu diterima secara personal oleh orang-orang sesuai dengan zaman dan budayanya.