LANDASAN TEORI
F. Jenis Kelamin Antarsaudara Kandung
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1997), jenis kelamin adalah sifat atau keadaan individu yang membedakan dirinya antara laki(laki atau perempuan. Jenis kelamin juga bisa diartikan sebagai identitas yang dimiliki
oleh seseorang berdasarkan pertimbangan alat kelamin (Aspuah, 2008). Berkaitan dengan hubungan antarsaudara kandung, jenis kelamin merupakan salah satu faktor yang ikut berpengaruh terhadap munculnya
pada diri seorang anak (Hurlock, 1999).
Leder (dalam Waluyo, 2010) mengatakan bahwa ada tiga tipe pasangan antarsaudara kandung yaitu laki(laki dengan laki(laki, perempuan dengan perempuan, dan perempuan dengan laki(laki. Binotiana (2008) menambahkan bahwa kemungkinan munculnya akan lebih tinggi pada pasangan kakak atau adik berjenis kelamin sama dibandingkan dengan mereka yang berjenis kelamin berbeda. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Minnet, Vandell, dan Santrock (1983) yang menyatakan bahwa agresivitas dan dominasi akan lebih banyak muncul dalam hubungan antarsaudara kandung yang memiliki jenis kelamin yang sama. Selain itu, Stewart (dalam Bonitiana, 2008) juga berpendapat bahwa kemungkinan munculnya
cenderung tinggi pada pasangan saudara kandung yang berjenis kelamin laki(laki karena faktor budaya yang lebih memacu anak laki(laki untuk bersaing. Namun, Milman dan Schaefer (1989) justru menyatakan bahwa lebih sering terjadi pada pasangan saudara kandung dengan jenis kelamin perempuan. Hal ini dikarenakan kakak dan adik yang berjenis kelamin perempuan cenderung memiliki sifat emosional dan sensitif.
Pembahasan mengenai jenis kelamin saudara kandung menjadi penting karena jenis kelamin saudara kandung ikut mempengaruhi hubungan jarak usia dan jumlah saudara kandung terhadap . Menurut
Puspitasari (2003), anak yang berjenis kelamin sama dan memiliki jarak usia yang berdekatan dengan saudara kandungnya lebih mudah merasa cemburu dan benci terhadap saudaranya tersebut. Hal tersebut didukung oleh beberapa pendapat yang mengatakan bahwa pasangan saudara berjenis kelamin sama dengan jarak usia yang berdekatan, serta kurangnya interaksi yang positif akan lebih banyak mengalami persaingan dan konflik (Dunn & Kendrick, 1981; Minnett, Vandell & Santrock, 1983).
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa kecenderungan munculnya tidak hanya dipengaruhi oleh jenis kelamin saudara kandung saja, tetapi juga dipengaruhi oleh jenis kelamin antara satu saudara dengan satu saudara kandungnya yang lain dimana akan lebih tinggi pada pasangan saudara kandung yang memiliki jenis kelamin sama dibandingkan dengan pasangan saudara kandung yang memiliki jenis kelamin berbeda. Oleh karena itu, jenis kelamin antarsaudara kandung dalam penelitian ini dapat didefinisikan sebagai identitas yang didasarkan atas pertimbangan alat kelamin antara pasangan saudara kandung, yaitu laki(laki dengan laki(laki, perempuan dengan perempuan, dan perempuan dengan laki( laki atau sebaliknya.
G. Hubungan antara dengan Jarak Usia Kelahiran dan
Jumlah Saudara Kandung pada Remaja Awal
Masa remaja sering juga dikenal sebagai masa badai dan tekanan ( ). Menurut Arnett (dalam Gunarsa, 2004), ada tiga elemen kunci
yang termasuk dalam konsep masa badai dan tekanan pada masa remaja awal, yaitu konflik dengan keluarga, gangguan suasana hati, dan kecenderungan terjadinya tingkah laku yang berisiko.
Salah satu konflik keluarga yang sering dialami oleh remaja awal adalah konflik dengan saudara kandungnya. Menurut Thompson (dalam Binotiana, 2008), merupakan penyebab utama terjadinya konflik antara anak dengan saudara kandungnya. memang wajar terjadi di dalam sebuah keluarga yang memiliki anak lebih dari satu orang, termasuk di Indonesia. Hal tersebut didukung oleh Data Survei Demografi dan Kesehatan (SDKI) tahun 2007 yang menyebutkan bahwa perempuan usia subur di Indonesia rata(rata memiliki anak dua sampai tiga selama hidupnya (dalam Wahyuningsih, 2011). Oleh Hurlock (2000), keluarga yang terdiri dari dua atau tiga orang anak disebut sebagai keluarga kecil. Artinya, anak yang tinggal di dalam keluarga kecil memiliki jumlah saudara yang sedikit pula. Namun, semakin sedikitnya jumlah anak di dalam keluarga kemungkinan munculnya perselisihan justru semakin besar karena intensitas kebersamaan antara satu saudara dengan saudara kandung yang lain menjadi sangat tinggi (Susilowati, 2011).
Menurut Buhrmester dan Furman (dalam Santrock, 2003), jika dibandingkan dengan usia tahap lainnya, tingkat konflik antarsaudara kandung pada masa remaja sangat tinggi. Hal ini dikarenakan remaja lebih sering mengalami gangguan suasana hati yang negatif dibandingkan pada saat masa kanak(kanak. Suasana hati negatif yang sering dialami oleh remaja
diantaranya adalah perasaan diabaikan atau kurang diperhatikan (Larson & Richards, dalam Arnett, 1999, dalam Gunarsa, 2004).
Remaja yang sedang dalam masa transisi dari masa kanak(kanak menuju dewasa sangat membutuhkan perhatian dan kesiapan orang tua untuk membantu, mendengarkan dan berusaha mengerti mereka sebagai seorang remaja (Newman dalam Rice, 1999, dalam Gunarsa, 2004). Akan tetapi, ketika seorang anak tumbuh dewasa, para orang tua justru semakin tidak mampu memberikan perhatian yang seimbang kepada seluruh anak(anaknya (Ferguson, 1958, dalam Bank & Kahn, 1982). Orang tua cenderung memilih mengabaikan perasaan salah satu anaknya yang mengatakan bahwa dia diperlakukan dengan tidak adil atau tidak sama dibanding dengan saudaranya (Woolfson, 2004). Jika jarak usia kelahiran antarsaudara cukup besar, maka remaja bisa memenuhi kebutuhan akan perhatian tersebut pada diri saudaranya, dimana saudara yang lebih tua dapat berperan sebagai seseorang yang dapat dipercaya dan sumber dari dukungan emosional (Cicirelli, 1976, dalam Minnett, Vandell & Santrock, 1983). Jarak usia kelahiran yang begitu jauh membuat potensi munculnya persaingan antarsaudara sangat kecil karena tahap perkembangan mereka begitu jauh terpisah. Hal ini membuat hubungan mereka lebih ramah, kooperatif, dan saling mengasihi (Susilowati, 2011).
Di sisi lain, jika jarak usia kelahiran antara seorang anak dengan saudaranya cukup dekat, maka kemungkinan munculnya justru akan semakin besar. Kedekatan usia membuat potensi munculnya persaingan menjadi semakin hebat karena mereka memiliki kebutuhan yang serupa
sehingga antara satu saudara dengan saudaranya yang lain saling bersaing untuk memperebutkan cinta dan perhatian yang sama dari orang tuanya (Faber & Mazlish, 1987; Freud, 1955; Ihinger, 1975, dalam Raffaelli, 1992). Kebutuhan remaja akan perhatian dari orang tua yang tidak terpenuhi tersebut cenderung membuat remaja selalu ingin memenangkan persaingan dengan saudara mereka (Ferguson, 1958, dalam Bank & Kahn, 1982).
VandenBos (2007) menambahkan bahwa persaingan antara pasangan kakak adik tidak hanya memperebutkan kasih sayang dan perhatian orang tua, tetapi juga prestasi sekolah atau penghargaan(penghargaan lain di luar sekolah seperti olahraga, seni, dan lainnya. Hal tersebut sesuai dengan konsep Ross dan Milgran (dalam Bank & Kahn, 1982) yang menyatakan bahwa saudara kandung yang menginjak usia remaja bisa menggunakan kekuatannya untuk menyakiti saudaranya yang lain dalam tiga area pribadi mereka, yaitu prestasi dan sukses, seksual dan kecantikan, hubungan sosial dengan teman( teman, orang lain, dan saudara lainnya.
Lebih lanjut, jika terus berlanjut maka bisa berdampak pada hubungan saudara kandung itu sendiri. Dampak negatif yang dapat ditimbulkan adalah anak bisa mengalami gangguan perilaku antisosial, tanda(tanda depresi atau kecemasan ( 7 ) karena tidak siap berkompetisi dengan saudaranya tersebut (Steinberg 2003, dalam Binotiana, 2008). Di sisi lain, bisa berdampak positif karena melatih anak untuk belajar bernegosiasi, berkompromi, dan menyelesaikan konflik dengan saudara kandungnya (Bomb, 2005, dalam Binotiana, 2008).
Berikut bagan hubungan antara dengan jarak usia kelahiran dan jumlah saudara kandung:
Skema 1 Hubungan antara dengan Jarak Usia Kelahiran
dan Jumlah Saudara Kandung pada Remaja Awal
! " " " " " " ! # $ % & % # ' % & !
H. Hipotesis
Berdasarkan kerangka kajian teori yang ada, maka hipotesis penelitian ini adalah ada hubungan negatif antara dengan jarak usia kelahiran dan jumlah saudara kandung pada remaja awal. Semakin dekat jarak usia antarsaudara kandung, maka tingkat nya semakin tinggi. Kemudian, semakin sedikit jumlah saudara kandung, maka tingkat
35 BAB III