PENGELOLAAN LOGISTIK
A. Jenis Logistik
PENGELOLAAN LOGISTIK
A. Jenis Logistik
Logistik yang dibutuhkan untuk tatalaksana kasus TB MDR pada dasarnya dibagi menjadi dua jenis yaitu obat dan non obat.
1. Obat :
a. Obat anti TB lini pertama : Pirazinamid, Etambutol
b. Obat anti TB lini kedua : Kanamisin, Kapreomisin, Levofloksasin, Etionamid, Sikloserin, PAS, Moksifloksasin.
c. Obat pendukung: Vitamin B6
d. Obat untuk penanggulangan efek samping pengobatan 2. Logistik pendukung lain/non obat
a. Bahan habis pakai: alat suntik, sarung tangan, masker, respirator, aqua pro injeksi, pot dahak, kaca sediaan, reagen, dan sebagainya.
b. Formulir pencatatan dan pelaporan.
B. Pengelolaan OAT
Sampai dengan saat ini, OAT untuk pasien TB MDR sebagian besar belum diproduksi di dalam negeri, untuk pemenuhan kebutuhan OAT tersebut Pemerintah dalam hal ini Kementerian Kesehatan RI masih tergantung pada produk luar negeri.
Pengelolaan OAT untuk pasien TB resistan obat berbeda dengan pengelolaan OAT lini 1. Salah satu contoh perbedaannya adalah pengemasan OAT untuk pasien resistan obat tidak bisa disediakan dalam bentuk paket seperti pada OAT lini 1 sehingga untuk menjamin ketersediaan dan jumlah yang cukup untuk pengobatan pasien TB MDR maka petugas kesehatan harus memiliki keterampilan dalam mengelola semua logistik dengan baik.
1. Perencanaan OAT
Untuk saat ini perencanaan OAT untuk MTPTRO dilaksanakan oleh Dinas Kesehatan Provinsi bersama Kementerian Kesehatan RI. Perencanaan obat menggunakan metode konsumsi dan target penemuan kasus dan sisa stok tahun lalu. Perencanaan OAT dilakukan setiap satu tahun sekali.
Perencanaan di tingkat Provinsi diperlukan untuk alokasi OAT untuk MTPTRO di masing-‐ masing Provinsi. Perencanaan di tingkat Provinsi memperhitungkan buffer stock sebesar 25%.
Sampai saat ini beberapa jenis OAT MDR masih diimpor dan tidak dijual di pasaran. Hal ini merupakan tantangan bagi Program Nasional untuk menjamin ketersediaan obat bagi pasien TB MDR tidak terputus. Perencanan kebutuhan ini harus memperhitungkan jumlah pasien yang sedang diobati, pasien yang akan diobati, masa tenggang kedatangan obat (lead time), buffer stock dan sisa obat yang ada.
2. Pengadaan OAT
Mekanisme pegadaan OAT pada MTPTRO menggunakan mekanisme yang sama dengan pengadaan OAT yang lain. Pengadaan untuk kebutuhan OAT untuk MTPTRO disuplai dari berbagai negara melalui International Dispensary Association (IDA).
3. Penyimpanan dan Pendistribusian OAT
Penyimpananan obat merupakan salah satu elemen pendukung dalam proses manajemen obat. Mengingat pengobatan TB MDR membutuhkan waktu yang lama dibandingkan dengan TB bukan MDR dan juga menggunakan OAT lini kedua yang membutuhkan penanganan khusus maka penyimpanan OAT MDR harus ditempatkan di sarana yang memadai dan dikelola oleh tenaga kefarmasian terlatih dan kompeten di bidangnya.
a. Penyimpanan OAT MDR
Penyimpanan OAT lini kedua mengikuti mekanisme yang sudah ada dalam Program Pengendalian TB. OAT lini kedua disimpan di beberapa jenjang administrasi, tingkat pertama Pusat , tingkat dua di Provinsi, tingkat tiga di Fasyankes Rujukan/Sub Rujukan TB MDR dan tingkat ke empat di fasyankes satelit TB MDR. Apabila sarana di tingkat Provinsi belum sesuai dengan standar penyimpanan OAT lini kedua maka mekanisme bisa disesuaikan sampai sarana tersebut siap. Dinas Kesehatan Provinsi akan memfasilitasi Fasyankes Rujukan/RS Sub Rujukan TB MDR dan fasyankes satelit TB MDR untuk segala urusan pengelolaan obat dan bahan penunjang lainnya. Penunjukkan instalasi farmasi sebagai pengelola OAT lini kedua dan sebagai tempat penyimpanannya harus mempertimbangkan infrastruktur dan SDM yang tersedia.
b. Distribusi OAT
Distribusi OAT pada MTPTRO dari Kementerian Kesehatan RI didistribusikan ke Dinkes Provinsi setiap 3 bulan sekali sesuai permintaan. Pengiriman obat dari Dinkes Provinsi
Fasyank es Satelit Fasyank es Satelit RS Rujukan TB MDR DINKES KAB / KOTA PUSAT DINKES PROVINSI RS Rujukan TB MDR menuju Fasyankes Rujukan/Sub Rujukan dilakukan setiap 3 bulan sekali dengan tembusan informasi kepada Dinas Kesehatan Kab/Kota.
Pendistribusian obat ke Fasyankes satelit dilakukan oleh Fasyankes Rujukan/Sub Rujukan TB MDR. Pendistribusian ke satelit harus sesuai dengan jumlah pasien yang sedang diobati di satelit tersebut.
Pendistribusian OAT PAS kepada seluruh unit pelayanan kesehatan harus mempertimbangkan tempat penyimpanan OAT tersebut. Apabila Fasyankes Satelit TB MDR akan menyimpan PAS pastikan Fasyankes tersebut mempunyai Kulkas/Pendingin untuk menyimpan PAS.
Gambar 6. Alur Distribusi OAT MDR Keterangan: Alur Distribusi Informasi distribusi
Realokasi obat dari satu daerah ke daerah lainnya diperbolehkan selama ada alasan yang kuat dan proses administrasi realokasi obat telah dilaksanakan. Proses realokasi akan difasilitasi oleh jenjang pemerintahan diatasnya, apabila realokasi dilaksanakan antar Kabupaten/Kota maka akan difasilitasi oleh Dinkes Provinsi. Realokasi antar Provinsi akan difasilitasi oleh Kementerian Kesehatan RI.
4. Permintaan dan Pelaporan OAT
Permintaan OAT MDR kepada tingkatan yang lebih tinggi harus dilaksanakan sesuai jadual yang telah ditentukan. Keterlambatan permintaan OAT akan menyebabkan keterlambatan pasokan OAT dan akhirnya mengganggu ketersediaan OAT.
Jadual permintaan OAT untuk seluruh tingkatan dilaksanakan pada minggu kedua pada akhir bulan setiap triwulan. Jadwal setiap triwulan dimulai pada awal tahun, yaitu: Januari-‐ Maret, April-‐Juni, Juli-‐September dan Oktober-‐Desember. Begitu pula untuk tingkat Fasyankes Satelit jadwal permintaan OAT bukan pada saat pasien datang menerima pengobatan melainkan tetap sesuai jadual yang telah ditentukan.
Permintaan obat dari Fasyankes satelit, Fasyankes Rujukan/Sub Rujukan, Dinas Kesehatan memerlukan surat resmi dari instansi terkait.
Tabel 19. Jadual Permintaan OAT MDR dari RS Rujukan/ RS Sub Rujukan ke Dinkes Provinsi
Kebutuhan untuk Jadwal Permintaan Perkiraan OAT dikirim
Triwulan Bulan
1 Januari s/d Maret Minggu ke-‐3 bulan November Minggu ke-‐3 bulan Desember 2 April s/d Juni Minggu ke-‐3 bulan Februari Minggu ke-‐3 bulan Maret 3 Juli s/d September Minggu ke-‐3 bulan Mei Minggu ke-‐3 bulan Juni 4 Oktober s/d Desember Minggu ke-‐3 bulan Agustus Minggu ke-‐3 bulan September
Fasyankes Rujukan/Sub Rujukan TB MDR meminta obat dengan menggunakan Formulir TB.13B MDR ke Dinas Kesehatan Provinsi dengan tembusan ke Dinkes Kab/kota dan Subdit TB.
Dinas Kesehatan Provinsi mengirim surat ke Subdirektorat TB untuk menindaklanjuti permintaan OAT RS Rujukan TB MDR.
Fasyankes Satelit Fasyankes Satelit Fasyankes Rujukan TB MDR DINKES KAB/ KOTA PUSAT DINKES PROVINSI
Fasyankes Sub Rujukan
Tabel 20. Jadual Permintaan OAT MDR dari Dinkes Provinsi ke Kementerian Kesehatan cq Subdit TB
Kebutuhan untuk Jadwal Permintaan Perkiraan OAT dikirim
Triwulan Bulan
1 Januari s/d Maret Minggu ke-‐4 bulan November Minggu ke-‐2 bulan Desember 2 April s/d Juni Minggu ke-‐4 bulan Februari Minggu ke-‐2 bulan Maret 3 Juli s/d September Minggu ke-‐4 bulan Mei Minggu ke-‐2 bulan Juni 4 Oktober s/d Desember Minggu ke-‐4 bulan Agustus Minggu ke-‐2 bulan September
Fasyankes satelit TB MDR meminta kepada Fasyankes Rujukan/Sub Rujukan TB MDR menggunakan Formulir TB.13A MDR. Permintaan obat untuk memenuhi kebutuhan 3 bulan ditambah satu bulan buffer.
Gambar 7. Alur Permintaan OAT MDR
Keterangan: Alur Permintaan
5. Monitoring dan Evaluasi
Monitoring OAT dilakukan dengan menggunakan formulir pelaporan dan permintaan obat yang dilaksanakan oleh setiap jenjang. Monitoring dan evaluasi dilaksanakan secara berjenjang dari jenjang yang paling atas ke jenjang dibawahnya. Monitoring dan evaluasi dilaksanakan bersama antara staf program TB dan staf program farmasi.
6. Pengawasan Mutu
Pengawasan dan pengujian mutu OAT dilaksanakan pada saat pengadaan OAT. Produsen OAT harus melampirkan sertifikat analisis dari obat yang diproduksinya. Setelah obat didistribusikan ke jenjang Provinsidan fasyankes maka pengawasan dan pengujian mutu dilakukan secara rutin oleh Badan/Balai POM dan Ditjen Binfar dan Alkes.
C. Pengelolaan Logistik Non OBAT
Pada dasarnya pengelolaan barang non obat mempunyai siklus yang sama dengan pengelolaan obat dan mengacu kepada kebijakan pengelolaan logistik Program Pengendalian TB Nasional. Logistik non obat khusus untuk MTPTRO adalah alat perlindungan diri bagi petugas (respirator, fit test) dan pasien (masker bedah).
1. Perencanaan Logistik Non Obat
Perencanaan dilaksanakan oleh Dinkes Kabupaten/Kota yang memiliki fasyankes TB MDR dengan memperhitungkan stok yang tersedia, buffer stock, lead time dan jenis barang yang akan disediakan. Perencanaan di tingkat Kabupaten/Kota dikoordinasikan dengan Dinas Kesehatan Provinsi untuk disampaikan ke Pusat.
2. Pengadaan Logistik Non Obat.
Pengadaan logistik non obat dapat dilaksanakan oleh Dinkes Kabupaten/Kota, Dinkes Provinsi dan Pusat. Sumber dana yang digunakan dapat menggunakan dana dari Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah dan bantuan luar negeri. Pengadaan setiap jenis barang non obat harus sesuai dengan spesifikasi yang telah ditentukan oleh Program Pengendalian TB Nasional.
3. Penyimpanan dan Pendistribusian Logistik Non Obat
Penyimpanan logistik non obat dapat disimpan di gudang umum/gudang farmasi disetiap tingkatan. Pendistribusian logistik non obat dilaksanakan sesuai dengan permintaan dari fasyankes. Realokasi logistik non obat disesuaikan dengan peraturan yang berlaku dan sumber dana yang digunakan untuk mengadakan logistik tersebut.