• Tidak ada hasil yang ditemukan

Jenis dan Sumber Data

Dalam dokumen Komunikasi Antar Pribadi dalam Relations (Halaman 48-55)

Menurut Lofland dan Lofland dalam Moleong (2012 h.157) sumber data utama dalam penelitian kualitatif adalah kata – kata, dan tindakan, selebihnya adalah data tambahan seperti dokumen dan lain – lain. Menurut Kriyantono (2006 h.43), berdasarkan sumbernya data dibedakan menjadi dua yaitu

..3 Data Primer

Data primer dalam penelitian ini adalah hasil wawancara dari informan utama. Data primer adalah data yang diperoleh dari sumber data pertama atau tangan pertama di lapangan. Sumber data ini bisa responden atau subjek

penelitian, dari hasil kuisioner, wawancara, dan observasi. Data primer ini termasuk data mentah yang harus diproses lagi sehingga menjadi informasi yang bermakna.

..4 Data Sekunder

Data sekunder dari penelitian ini adalah :

a. Data – data klien yang bekerja sama dengan CV.Krismaya mulai tahun 2010 hingga sekarang, yang akan peneliti gunakan sebagai dasar wawancara dengan klien.

b.Data mengenai Krismaya yang dapat membantu peneliti memperdalam hasil penelitian ini, seperti company profile, logo, visi dan misi, dan profil dari pemilik Krismaya. Data tersebut sebagai lampiran peneliti mengenai profil dari Krismaya.

c. Dokumentasi perjanjian kerja sama dan hasil dari kerja sama, sebagai bukti bahwa memang ada kerjasama antara klien dengan pemilik Krismaya.

Data sekunder adalah data yang diperoleh dari sumber kedua atau sumber sekunder. Data ini juga dapat diperoleh dari data primer penelitian terdahulu yang telah terolah lebih lanjut menjadi bentuk – bentuk seperti tabel, grafik, diagram, gambar, dan sebagainya sehingga menjadi informatif bagi pihak lain. Karena data sekunder ini bersifat melengkapi data primer, kita dituntut hati – hati atau menyeleksi data sekunder jangan sampai data tersebut tidak sesuai dengan tujuan riset kita atau mungkin terlalu banyak. Selain melengkapi, biasanya data sekunder ini sangat membantu periset bila data primer terbatas atau sulit diperoleh. Data

sekunder dalam penelitian ini di dapat dari arsip Krismaya yang diberikan oleh pemilik Krismaya tersebut.

3.5 Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah melalui wawancara mendalam. Pemilihan teknik tersebut ialah karena dalam penelitian ini yang ingin diketahui ialah mengenai strategi Krismaya dengan mewawancarai pihak Krismaya, baik pemilik dan klien yang bergabung dengan Krismaya. Pemilihan teknik wawancara juga dikarenakan posisi dari beberapa klien yang ada di luar kota sehingga tidak memungkinkan melakukan observasi, dan juga dikarenakan pada saat peneliti melakukan kegiatan penelitian ini di Krismaya sedang tidak terdapat event yang akan dilaksanakan.

..5 Wawancara

Teknik wawancara yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik wawancara mendalam. Berger dalam Kriyantono (2007 h.96) mendefiniskan wawancara adalah percakapan antara periset yaitu seseorang yang berharap mendapatkan informasi dan informan yaitu seseorang yang diasumsikan mempunyai informasi penting tentang suatu objek. Wawancara merupakan metode pengumpulan data yang digunakan untuk memperoleh informasi langsung dari sumbernya. Esteberg dalam Satori (2011, h.130) menjelaskan “interviewing, a meeting of two persons to exchange information and idea through question and responses, resulting in communication and joint construction of meaning about particular topic” Satori melanjutkan wawancara dalam penelitian kualitatif

sifatnya mendalam karena ingin mengeksplorasi informasi secara holistic dan jelas dari informan.

Penelitian ini menggunakan salah satu jenis wawancara yaitu wawancara mendalam. Wawancara ini digunakan karena peneliti mengangkat permasalahan mengenai relationship, dan dalam menganalisis permasalahan tersebut tidak bisa hanya dengan melakukan wawancara sederhana dan dilakukan sekali saja, namun perlu wawancara mendalam dan dilakukan beberapa kali untuk mendapatkan hasil yang mendalam pula. Kriyantono (2010 h.102) menjelaskan wawancara mendalam adalah suatu cara mengumpulkan data atau informasi dengan cara langsung bertatap muka dengan informan agar mendapatkan data lengkap dan mendalam. Wawancara ini dilakukan dengan frekuensi tinggi (berulang – ulang) secara intensif. Selanjutnya dibedakan antara responden (orang yang akan diwawancarai hanya sekali) dan informan (orang ingin periset ketahui atau paham dan akan diwawancarai berkali – kali). Pada wawancara ini respon dari informan tidak dapat dikontrol oleh pewawancara, sehingga informan bebas memberikan jawaban.

Kriyantono (2010, h.107) memberikan beberapa teknik dalam melakukan wawancara mendalam yaitu:

a. Periset harus menjamin anonimitas

Sebelum wawancara, sebaiknya peneliti menjelaskan kepada informan bahwa selain peneliti tidak akan ada yang tahu sumber dari informasi tersebut. Objek dalam penelitian ini mengijinkan untuk memberikan data dirinya sebagai kelengkapan yang peneliti butuhkan. Hal ini dengan terlampirkan persetujuan bahwa klien bersedia memberikan data dirinya seperti nama dan foto.

b. Pastikan bahwa periset telah bertindak akurat

Akurat disini dimaksudkan data yang didapat dari informan sebaiknya segera dicatat ataupun direkam pada saat wawancara. Wawancara ini

dilakukan melalui sms maupun BBM dikarenakan beberapa klien di luar kota dan susahnya mengatur jadwal untuk bertemu. Hasil wawancara sudah peneliti rangkum dan terdapat dalam lampiran.

c. Hindarkan pertanyaan yang mengarahkan jawaban

Dalam memberikan pertanyaan sebaiknya peneliti tidak memberikan pertanyaan yang memancing informan untuk memberikan jawaban tertentu. Seharusnya informan dapat memberikan jawaban sesuai keinginannya. Pertanyaan yang peneliti tanyakan kepada klien sudah terlampir. Selama melakukan wawncara peneliti tidak sekedar menanyakan apa yang terdapat dalam interview guide, namun juga peneliti berusaha melakukan pendekatan dengan melakukan obrolan ringan terlebih dahulu.

d. Mintalah informan mendefinisikan istilah-istilah yang tidak di pahami peneliti.

Apabila peneliti kurang paham mengenai apa yang dikatakan oleh klien maka peneliti menanyakan ulang atau mengkonfirmasikan ulang apa yang dimaksdukan agar dapat memiliki pemahaman yang sama. Pada saat melakukan wawancara dengan klien, peneliti tidak menemukan adanya istilah – istilah yang tidak dapat peneliti pahami, sehingga proses wawancara berjalan lancar.

e. Tetap fokus

Peneliti harus tetap fokus dalam memberikan pertanyaan sesuai dengan permasalahan yang diambil. Walaupun wawancara dilakukan secara berulang-ulang namun tidak membahas hal di luar topik utama. Peneliti memang tidak hanya menanyakan yang terdapat dalam interview guide, namun peneliti juga sempat berbincang mengenai hal di luar penelitian. Namun hal tersebut hanyalah untuk melakukan pendekatan dengan klien, dan peneliti juga masih tetap terfokus dengan permasalahan dalam penelitian ini.

f. Periset harus memastikan pertanyaannya jelas dan bisa dimengerti oleh informan

Apabila peneliti memberikan pertanyaan yang kurang dimengerti oleh informan, maka informan pun hanya akan memberikan jawaban asal walaupun sebenarnya informan ingin memberikan jawaban yang akurat. Pada proses wawancara, klien cukup paham dengan maksud dari peneliti, apabila ada yang kurang paham klien akan langsung bertanya kepada peneliti, seperti yang dilakukan klien 3 yang kurang paham menganai pertanyaan peneliti mengenai kedekatan hubungan dengan pemilik Krismaya.

g. Periset tidak segan meminta contoh dan penjelasan detail ini upaya untuk memenuhi prinsip authenticity.

Hakikat dari wawancara mendalam ialah memperoleh jawaban atau data yang lebih mendalam, Karena itu peneliti diharapkan terus menggali data dengan cara mendorong informan untuk memberikan jawaban panjang dan detail.

Wawancara mendalam memiliki sifat tak terstruktur, namun agar wawancara berjalan efektif dan dapat menggali data yang sesuai dengan permasalahan yang diambil, maka sebaiknya peneliti menyiapkan beberapa pertanyaan. Lampiran pertanyaan sudah peneliti persiapkan.

3.6 Teknik Pemilihan Informan

Teknik pemilihan informan yang akan peneliti gunakan dalam penelitian ini adalah teknik purposif. Teknik ini mencakup orang – orang yang diseleksi atas dasar kriteria – kriteria tertentu yang dibuat oleh peneliti berdasarkan tujuan penelitian. Kriyantono (2008, h.161) menjelaskan bahwa riset kualitatif tidak bertujuan untuk membuat generalisasi hasil riset. Karena itulah pada riset kualitatif tidak dikenal istilah sampel, namun pada riset kualitatif sampel biasanya disebut informan atau subjek penelitian. Dalam penelitian ini kriteria yang peneliti gunakan adalah orang – orang yang pernah menggunakan jasa Krismaya 2 kali atau lebih. Selain itu juga klien yang mengenal pemilik dari Krismaya. Kriteria pemilihan informan dalam penelitian ini adalah klien dari Krismaya yang sudah mengalamai pembentukan hubungan pada periode 2010 hingga 2012 dan juga sudah melewati tahap pemeliharaan hubungan pada tahun 2014. Pemilihan kriteria tersebut bertujuan untuk mempermudah peneliti dalam memilih klien yang menjadi narasumber dalam penelitian ini, dan agar penelitian ini tidak keluar dari fokus permasalahn yang sudah ditetapkan.

Informan utama dalam penelitian ini adalah pemilik dari CV. Krismaya. Hal ini dikarenakan melalui informasi dari pemilik CV.Krismaya peneliti bisa mendapatkan data lengkap mengenai pembentukan komunikasi antara pribadi dan pemeliharaan komunikasi antar pribadi dengan klien. Informasi pendukung dari

dalam penelitian ini merupakan klien – klien yang pernah bekerjasama dengan Krismaya pada tahun 2010 dan masih menjalin hubungan baik dengan pemilik Krismaya hingga saat ini. Pemilihan informan yang awalnya berjumlah 11 klien pada saat terjun di lapangan hasil yang diperoleh hanya dari 4 orang. Hal itu dikarenakan beberapa klien berada di luar kota dan dikarenakan klien tersebut tidak menganggap topik wawancara yang peneliti berikan termasuk dalam hal pribadi sehingga tidak berkenan memberikan jawabnnya kepada peneliti. Adapun klien tersebut adalah :

1. Daniel dan Diana (jasa event organizer)

Pemilihan informan Daniel dan Diana dikarenakan klien ini memang bekerjasama dengan Krismaya pada tahun 2010 dan untuk pemeliharaan hubungan pun masih berlangsung hingga saat ini. Kerjasama yang terjalin dalam bentuk Wedding EO mulai dari perencanaan hingga dekorasi. 2. Santi dan Agus (jasa event organizer)

Santi dan Agus melakukan kerjasama pada tahun 2010 juga, dengan menggunakan jasa dekorasi. Hubungan baik antara klien ini dengan pemilik Krismaya juga masih terjalin hingga saat ini.

3. Sandy dan Aulia (jasa event organizer)

Klien Sandy bekerjasama dengan Krismaya pada tahun 2011 dalam jasa dekorasi. Hubungan yang terjalin untuk klien Sandy sampai pada tahun 2013.

4. Endy

Klien Endy mengenal pemilik Krismaya melalui adiknya yang merupakan teman dari pemilik Krismaya. Klien endy tidak bisa dibilang hanya

sebagai perantara, karena belum pernah secara langsung melakuka kerjasama.

5. Ila dan John (jasa event organizer)

Klien Ila merupakan saudara dari pemilik Krismaya yang melakukan kerjasama pada tahun 2010. Jasa yang digunakan berupa Wedding EO mulai dari dekor hingga perencanaan acara. Hubungan yang terjalin juga masih baik hingga saat ini.

Dalam dokumen Komunikasi Antar Pribadi dalam Relations (Halaman 48-55)