• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

B. Hasil Analisis

3. Jenis Tokoh

Jenis tokoh dalam Novel Do’a Anak Jalanan diuraiakan sebagai

berikut :

Berdasarkan fungsi penampilannya tokoh digolongkan menjadi dua

yaitu tokoh protagonis dan tokoh antagonis dan tokoh tambahan.

a. Tokoh Protagonis

Tokoh protagonis adalah tokoh yang kita kagumi, yang salah

satu jenisnya secara popular disebut hero, tokoh yang merupakan

pengejawataan norma-norma, nilai-nilai yang ideal bagi kita

(Nurgiyantoro, 1995:178). Tokoh protagonis dalam cerita tersebut

adalah Dina, Adib, dan Cindy. Mereka disebut tokoh hero karena

memiliki sifat-sifat penyayang, pemberani, peduli, dewasa, dan pintar.

1)

Sifat Penyayang

a)

Dina

Kali ini Dina berkeliling dari satu tempat ke tempat yang lain, di bangku bis sebelum pintu belakang ada seorang berkaos, rambutnya pendek, kulitnya coklat bersih,cara berpakiannya rapi. Dina yakin dia anak orang kaya tapi entah kenapa tidak memakai mobil. Saat Dina menyodorkan tangan kanan, pemuda tersebut mengeluarkan uang dua puluh ribuh dari dompetnya.

“Terimakasih Mas, terimakasih,” Dina menunduk, seumur dia hidup memeluk gitar, belum pernah ia menerima selembar uang dua puluh ribu, seolah di hadapannya malaikat untuk mereka bertiga.

Sebegitu senangnya Dina, saat turun tepat di penjual buah ia belikan mangga, satu kilo lima ribu, berisi empat buah, ia bagikan satu persatu kepada Adib dan Cindy.

“Kenapa beli buah kak?” Adib bertanya.

“Ada yang memberi dua puluh ribu,” Dina tersenyum. “Kenapa tidak disimpan saja kak,” Adib bertanya lagi.

“Biar, supaya kita pernah merasakan makan buah mangga,” Dina beralasan. Dina tersenyum bahagia melihat kedua adiknya yang asyik menikmati buah mangga (Do’a hlm. 89-90).

b)

Adib

Sifat penyayang Adib kepada Dina ditunjukkan dalam

kutipan sebagai berikut :

Adib berlari kecil diatas trotoar. Tangannya membawa bungkusan plastik hitam. Isinya 3 nasi bungkus dan 3 air aqua gelas kecil untuk makan siang mereka bertiga. Adib tidak lupa membelikan obat sakit kepala untuk Dina.

“Maaf Kak, Adib lama.”

“Tidak apa Dib,” jawab Dina tersenyum. “Ini Kak, obat sakit kepala untuk kakak.”

“Kenapa kamu beli obat,? Kan uang setoranmu belum cukup Dib.” “Uang Adib udah lebih koq Kak, yang penting kakak ga’ sakit kepala lagi.”

“Terimakasih ya Dib,” Dina terharu (Do’a hlm. 81).

Sifat penyayang Adib kepada Cindy ditunjukkan dalam

kutipan sebagai berikut :

Sebelum berangkat ke sekolah, Dina membagikan uang hasil bolos untuk ngamen kemarin kepada Adib dan Cindy. Biasanya uang saku paling banyak seribu atau seribu lima ratus, kali ini sepuluh ribu berdua Adib dan Cindy. Bila Cindy butuh lebih, Adib selalu mengalah, mungkin untuk Adib dua ribu, untuk Cindy delapan ribu (Do’a hlm. 50).

c)

Cindy

Cindy memandangi kakaknya. Perlahan ia mengusap airmata yang mengalir perlahan di pipi Dina.

“Mama kenapa?” Cindy bertanya “Mama kangen ya sama Kak Adib?” Dina hanya diam.

“Kata Kak Adib, kita harus kuat.” Cindy mengulang pesan Adib saat pertemuan mereka di penjara.

Dina memeluk Cindy, berdua larut dalam kesedihan masing-masing (Do’a hlm. 135).

Sifat penyayang Cindy kepada Adib ditunjukkan dalam

kutipan sebagai berikut :

Cindy duduk bersimpuh di dekat kaki Adib. Tangan kecilnya tak henti-henti mengusap kepala dan pipi Adib, bekas pukulan Suratman. Cindy hanya bisa memandang, kadang ia memijat kaki dan tangan Adib, sekedar penghilang rasa perih. Adib tahu, kalau Cindy menyayanginya (Do’a hlm. 39).

2)

Sifat Pemberani

a)

Dina

Sifat pemberani Dina ditunjukkan dalam kutipan sebagai

berikut :

“Mulai malam ini kita berlari dari Abang, kaka harap kalian jangan takut, “Dina berpesan,”kita tidak bisa membayar uang ujian kalau tiap hari diminta Abang” (Do’a hlm. 91).

b)

Adib

Sifat pemberani Adib ditunjukkan dalam kutipan sebagai

berikut :

Adib tak menoleh ke belakang, ia terus berlari dan berlari, keringatnya mengucur, nafasnya hampir habis, perutnya seperti tertusuk-tusuk, menyelip diantara dua rumah Adib berhenti mengintip, Suratman sudah tak ada. Ia belum percaya, ia kembali mengintip dari balik dinding rumah, Abang sepertinya tertinggal, kali ini ia beruntung, besok pasti Abang kembali dating. Adib bertekad untuk kabur dari Abang (Do’a hlm. 101).

c)

Cindy

Kembalikan uang kami,” tangan kecilnya menarik baju si preman, berusaha merebut kembali uang yang sudah diambil. Cindy sudah membayangkan apa yang akan dilakukan Suratman kalau uang hasil

ngamennya tidak mencukupi setoran.

“Itu kan uang kita Ma!!!” Cindy menarik ujung kaos Dina.

“Kembalikan!!! Cindy setengah berteriak, marah kepada preman itu. “Sudah, ayo kita balik, sebentar lagi maghrib,” (Do’a hlm. 78).

3)

Sifat Peduli

1)

Dina

Sifat peduli Dina ditunjukkan dalam kutipan sebagai

berikut :

“Kenapa jam segini mereka belum pulang May?” dari jam delapan Dina terus bertanya. “Mungkin mereka menginap di tempat teman,” Maya mencoba menenangkan, duduknya memeluk bantal sembari menatap paras Dina dari samping.

Dina menggeleng, “Tidak mungkin, mereka selalu mendengar kata- kataku, aku sudah katakan untuk kembali bertemu di depan mushola sepulang sekolah”.

Dina melirik sejenak melihat ke dinding, terlihat sudah jam sepuluh malam. Dina cemas, mereka berdua memang masih terlalu kecil, yang Dina khawatirkan jika mereka berdua tertangkap Abang, atau ada preman lain menculik.

Sampai jam dua belas malam Dina tak bisa menutup matanya. Dina hanya berbaring, namun pikirannya hanya tertuju pada Adib dan Cindy.

Belum sempat matahari terbit Dina sudah memaksakan diri untuk berangkat, Maya berharap Dina bersabar, tapi Dina sudah satu malam tertekan, ditelan gelap pagi Dina berangkat membawa gitar, berjalan ke luar rumah sendirian, tapi belum sempat Dina menjauh, belum sampai ke tepi jalan raya, Maya menyusul dengan sepeda motornya, ”Ayo Din”.

Berdua menerjang jalan raya, masih sepi bila jarum jam menunjuk jam lima pagi, terlebih hari jum’at, hanya segelintir sepeda motor menyalakan lampu depan yang tampak menyala.

Dina tak berjaket, tapi ia tak merasa dingin. Ia terus berdo’a semoga bisa temukan dua adiknya sesampainya di mushola. Dalam kepalanya mereka berdua tidur di sana. Maya kagum dan terharu melihat kepedulian Dina kepada kedua adiknya (Do’a hlm. 105-107).

2)

Adib

Sifat peduli Adib ditunjukkan dalam kutipan sebagai

“Tadi kata teman-temannya, Cindy pulang bareng Hanna, ia kan minggu depan ikut lomba cerdas cermat, mungkin mereka belajar bersama.” Jawab Dina.

Adib mendengar tak kuasa menahan kesal, ia takut hal buruk terjadi pada Cindy.

“Ayo Kak, kita harus cari Cindy Kak,” Adib mempercepat langkahnya (Do’a hlm. 22).

3)

Cindy

Sifat peduli Cindy ditunjukkan dalam kutipan sebagai

berikut :

“Kenapa Cindy belum pulang ya May?” Dina terlihat panik.

“Paling sedang main di rumah teman,” Maya mencoba menenangkan Sahabatnya, ia rangkul Dina dari samping.

Dina menggeleng, “Dia tidak pernah seperti itu, aku takut terjadi sesuatu padanya, dia masih kecil May.”

“Sudahlah,” Maya mengelus punggung Dina, “Itu Cindy.”

Dina langsung berdiri menyambut, menghampiri, “Kamu dari mana?” Maya berdiri melihat, Cindy tampak kusam seperti terpanggang matahari.

“Cindy baru ngamen,” Cindy memberikan uang, “Dapet tujuh ribu Ma.”

Dina terdiam seketika. Ia langsung memeluk Cindy penuh kasih sayang (Do’a hlm. 129).

4)

Sifat Dewasa

a)

Dina

Sifat dewasa Dina ditunjukkan dalam kutipan sebagai

berikut :

Dina berdo’a dalam hatinya, semoga mereka yang menghinanya tidak merasakan seperti dirinya yang harus hidup di tengah tekanan, yang harus berjuang di tengah kesempitan, penyiksaan, yang harus terus bertahan dalam kisah penuh cita yang yang tak pernah mudah diwujudkan, Dina berdo’a cukup dirinya saja yang merasakan (Do’a hlm. 59).

b)

Adib

Sifat dewasa Adib ditunjukkan dalam kutipan sebagai

Cindy, dia tetap bisa menjadi yang terbaik walaupun dalam keadaan terbatas, kalau Adib tak bisa meraih cita-cita seperti yang selama ini kita inginkan, Adib harap Cindy bisa melakukannya.

“Kita sering menemui keadaan yang tak sesuai dengan harapan kita, tapi Adib ingin salah satu dari kita bisa mewujudkannya, agar semua kenangan hidup susah yang kita punya tidak dilupakan, mungkin Cindy yang bisa mewujudkannya.

Dina diam, kadang Dina tak sedewasa Adib, walaupun masih kelas enam SD, ia memang masih kecil, tapi keadaan yang memaksanya menjadi dewasa, hidup yang keras menjadikannya tetap kuat untuk bertaha dalam kesusahan (Do’a hlm. 40).

c)

Cindy

Sifat dewasa Cindy ditunjukkan dalam kutipan sebagai

berikut :

“Mama, Kakak, maafkan Cindy, tadi Cindy belajar tapi Cindy ketiduran, Cindy janji ga’ akan mengulangnya lagi, Cindy janji ga’ akan buat Mama dan Kakak khawatir. Maafkan Cindy ya Ma, Kak,” Cindy meminta maaf kepada Dina dan Adib (Do’a hlm. 29).

5)

Pintar

a)

Dina

Kutipan yang menunjukkan bahwa Dina anak yang pintar

adalah sebagai berikut :

Dina langsung masuk ke kelas III A, kelas yang tergolong tinggi dan pintar di sekolahnya, walau Dina peringkat lima belas di kelas, tapi ia terlanjur masuk di kelas bergengsi (Do’a hlm. 50).

b)

Adib

Kutipan yang menunjukkan bahwa Adib anak yang pintar

adalah sebagai berikut :

Ini bukan pertama kali, bukan kedua kali, sudah tak terhitung berapa kali, tapi Adib selalu punya akal untuk kembali ke belakang.

“Berapa akar dari 144?”

“12,” Jawab Adib sembari berdiri.

Satu kelas kadang kagum, kalau soal berhitung Adib memang sangat pandai (Do’a hlm. 118-119).

c)

Cindy

Kutipan yang menunjukkan bahwa Cindy anak yang pintar

adalah sebagai berikut :

Tampak di ruang kelas, Cindy dan Hanna duduk berdampingan satu meja. Mereka harus menjawab soal tulis cepat lebih dahulu sebagai tes seleksi sebelum melangkah ke lomba cerdas cermat.

Setelah selesai, semua peserta meninggalkan ruang kelas dan menunggu hasil pengumuman tes seleksi peserta lomba cerdas cermat. Tak lama berselang. Tampak guru-guru mengerubut di satu papan, ada pengumuman tertulis. Satu kertas bertuliskan nilai dan satu kertas lagi bertuliskan nama-nama peserta yang lolos mengikuti lomba cerdas cermat. Entah mengapa tiba-tiba ada Ibu guru keluar dari kerumunan,berlari kearah Cindy dan Hanna, “Cindy!!! Hanna!!!” ia seketika memeluk, mencium keduanya.

“Lima menit lagi kita cerdas cermat!!!” Bu guru tersenyum girang. Ada empat kelompok yang lolos, terbagi di grup A, B, C, dan D. Cindy dan Hanna di grup D. Semua pendukung masuk aula, aula sebesar 10 x 20 meter, dewan juri ada empat orang, penulis nilai seorang Ibu guru muda berdiri di dekat papan tulis, semua peserta mencoba memencet bel untuk pengecekan.

Saat babak pertama, grup A menang, saat soal lemparan grup B menang, Cindy dan Hanna tertinggal tapi tak begitu jauh. Di papan skor, grup A

600, grup B 650, grup C 450, dan grup D 600 poin. Saat babak rebutan, semua terhanyut dalam ketegangan. Babak rebutan pun dimulai, Cindy beberapa kali mengangkat tangan, dan menjawab soal dengan benar, Hanna pun demikian, mereka melesat hingga sebelum soal terakhir diberikan, kedudukan imbang antara grup A, B, dan grup D, berbeda tipis. Grup A 800, grup B 750, grup D 850.

Semua hening terdiam mendengarkan soal terakhir, salah satu juri membacakan soal, “Siapa nama lengkap pencipta lagu Indonesia raya.”

Tangan Cindy tampak mengangkat tinggi, “W.R Supratman.” Jawab Cindy tegas.

“Nama lengkapnya?” juri ingin tahu jawaban lengkap.

Mata penonton memusat pandangan, ada yang mulutnya menganga, ada yang menutup mulut dengan dua tangan, hening terasa seolah mencekam, rasanya bila ada jarum jatuh, akan terdengar di seisi ruangan.

Cindy dan Hanna celingukan, selama ini yang mereka tahu W.R.Supratman.

“Tiga, dua, satu. Grup D dikurangi seratus.”

Bersorak seketika pendukung grup A yang keluar sebagai pemenang. Cindy tertunduk, Hanna pun tampak lesu (Do’a hlm. 71-74).

b. Tokoh Antagonis

Tokoh antagonis adalah tokoh yang menyebabkan terjadinya

konflik (Nurgiyantoro, 1995:179). Suratman adalah tokoh antagonis.

Suratman dalam cerita ini diceritakan sebagai seorang preman yang

mengadopsi atau menampung Dina, Adib, dan Cindy. Suratman

memiliki sifat kasar dan pemarah. Selain itu Suratman suka menyiksa

ketiganya. Suratman merupakan tokoh antagonis karena merupakan

tokoh penyebab terjadinya konflik. Konflik yang disebabkan oleh

Suratman adalah menerapkan tarif setoran yang tinggi kepada mereka

bertiga, selain itu Suratman juga melakukan tindakan kekerasan apabila

jumlah setoran uang tidak mencukupi target, padahal ketiganya sudah

berusaha bekerja. Kutipan yang mendukung pernyataan tersebut adalah

sebagai berikut :

Setiap anak dibebani setoran empat puluh ribu, kecuali Cindy hanya dua puluh ribu. Katanya Cindy masih kecil, harus belajar cara ngamen yang bisa menghasilkan banyak uang. Jadi total uang setoran ketiganya seratus ribu rupiah tiap harinya. Tapi sekiranya kurang, Abang akan kesetanan, bahkan kurang seribu akan dihargai berkeping tamparan (Do’a hlm. 37).

Dari kejauhan Suratman sudah terlihat duduk di teras dalam penantian, ia berteman rokok, mengepul asap, ia duduk di kursi bambu, satu-satunya kursi yang ada di kontrakan. Dari jauh yang tanpak di bawah kemuning asap hanya kumis hitam dan perut buncitnya, tak lebih, Adib sudah tak enak hati untuk memandang, tak enak rasa memperhatikan.

“Sini!!! Dapat berapa kalian hari ini ?”perut buncit Suratman kembang kempis memandang tiga anak yang berbaris berdiri.

“Ini Abang,” Adib keluarkan dari balik sakunya, ia maju satu langkah. Suratman menghitung, Dina heran, kenapa hanya sedikit yang didapat, Dina peluk kepala Cindy dan didekatkan ke pinggang.

“Masa satu hari hanya enam puluh ribu, sedikit sekali, kalian mau mati?” Suratman mulai bengis, “Ngapain aja seharian?”

“Itu uang Mba’ Dina dan Cindy bang,” Adib beralasan. “Punya kamu mana?” nafas Suratman turun naik.

“Ini Bang,” Adib mengeluarkan dari sakunya. Dihitung kembali kepingan uang, hanya dua puluh ribu, “Kamu menghina abang ya?”

“Kamu main-main sama Abang ya?” rambut Adib di jambak, Suratman berdiri.

“Ga Bang, Cuma segitu Adib dapat,” Adib meringkuk.

“Kamu mau mati ya?” Suratman melayangkan tamparan pertama, “Plak!!!” “Ampun Bang!!!” Adib mulai kesakitan. Cindy dipelukan Dina ketakutan, menangis tanpa suara.

“Kamu mau mati? Eh…” tanparan tak terhitung beberapa kali melayang,” Plak!!! Plak!!! Plak!!!” sampai satu tanparan yang paling keras mendarat, “Plakkk!!!!” darah mengalir dari bibir, menetes merah padam seperti rintikan hujan, Adib terhuyung, tersungkur jatuh, tapi semua belum cukup, kepala Adib di benturkan ke dinding,”Dak!!!”

Dina tak kuasa melihat, ia keluarkan uang dari sakunya, “Ini Bang!!! Ini uang Adib!!! Ini uang Adib!!” setengah memohon Dina memberikan.

“Ohh…main-main ya…besok awas kalo seperti ini!!! Jangan sok pahlawan didepan Abang!!!” Suratman meludah, “Cuih!!! Tidur sana!!! Besok kalian harus kerja” (Do’a hlm 36-38).

c. Tokoh Tambahan

Tokoh tambahan adalah tokoh yang hanya dimunculkan sekali

atau beberapa kali dalam cerita, dan itupun mungkin dalam porsi

penceritaan yang relative pendek (Nurgiyantoro, 1995:176).

Tokoh tambahan yang pertama adalah Kepala sekolah. Kepala

sekolah merupakan tokoh tambahan karena porsi penceritaannya relativ

pendek. Tokoh Kepala sekolah dimunculkan dalam cerita ketika ia

memanggil Dina yang ketahuan bolos sekolah untuk ngamen. Kutipan

yang medukung pernyataan tersebut adalah sebagai berikut :

Bapak Rahman tak pernah basa-basi, “Kemarin kamu benar tidak masuk sekolah?”

“Benar Pak,” Dina tertunduk.

“Dan kamu ngamen,” tidak enak hati Pak Rahman menyebut, tapi harus ditanyakan.

“Maaf Pak,” Dina entah sudah berapa kali mengucapkan kata maaf.

“Sebentar lagi kamu selesai dari sekolah ini, mungkin hanya tinggal satu bulan, Bapak ingin saat memanggilmu lagi ke kantor dan mendengarmu lulus,” Bapak Rahman berharap, kacamatanya dilepas diletakan diatas meja. “Apa bisa kamu berhenti ngamen supaya kamu lebih fokus dalam pelajaran?” Tanya Kepala sekolah.

Dina mengerti, meski hal itu mungkin sulit sekali,” Dina mohon maaf Pak.” “Sudah tak apa-apa,” Pak Rahman melongok ke luar jendela,”Kamu masih ingin terus sekolah?”

“Sudah menyiapkan segalanya untuk persiapan ujian?” Dina menggeleng, “Masih berusaha Pak.”

“Coba ada sepuluh siswa yang punya semangat sepertimu, yang berjiwa tegar seperti kamu, Bapak yakin tak ada siswa-siswa cengeng yang hanya mengadu pada orangtua dengan masalah kecil mereka,” Pak Rahman tersenyum, “Kau harus semangat Nak, kamu harus yakin dengan jalanmu, itu penting.” Dina mengangguk, “Dina akan ingat Pak”

“Sudah, masuk kelas sana! Kamu harus belajar” (Do’a hlm. 62).

Tokoh kepala sekolah muncul dalam cerita ketika ia melakukan

pembelaan terhadap Dina yang ingin dikeluarkan oleh beberapa guru

karena kegiatan ngamennya. Kutipan yang mendukung pernyataan

tersebut adalah sebagai berikut :

Pak Rahman entah harus bagaimana berpesan, “Ada beberapa guru yang ingin kamu dikeluarkan dari sekolah, tapi menurut Bapak kamu sangat layak duduk di bangku sekolah ini.”

“Apa kata para guru Pak?” Dina heran.

“Katanya kamu mencemarkan nama baik sekolah dengan kegiatan ngamen,” Pak Rahman memberitahu.

“Apa hanya karena ada siswa dari pengamen, guru-guru malu Pak?” Dina sungguh heran.

“Bapak tidak malu, bapak bangga karena kamu adalah satu diantara yang terbaik di sekolah ini walaupun kamu seorang pengamen,” Pak Rahman membela Dina (Do’a hlm. 61).

Tokoh tambahan yang kedua adalah Maya. Maya adalah tokoh

tambahan karena kemunculannya yang agak pendek di dalam cerita.

Tokoh Maya dimunculkan dalam cerita saat ia membela Dina dari

penghinaan Madya dan Putri di kelas. Kutipan yang mendukung

pernyataan tersebut adalah sebagai berikut :

Madya dan Putri berdiri di dekat Maya dan Safira, Madya yang paling angkuh, dua tangannya bertolak pinggang, maju selangkah menantang, “Berani sama kita?” yang di tatap Madya adalah dua mata Maya.

Maya benar-benar nekat, Dina sudah menarik bajunya untuk duduk, tapi Maya terlanjur emosi, gadis berkacamata itu mengumpulkan keberaniannya dan berteriak, “Jangan menantang,!!! Aku ga’ takut sama kalian, kalian pikir kalian siapa? Seenaknya menghina orang lain, dasar… mulutnya kayak ember,” maki Maya dengan kesal. Dina terkejut mendengar kata-kata Maya barusan. Putri dan Madya akhirnya mundur beberapa langkah ke belakang (Do’a hlm. 57).

Tokoh Maya dimunculkan dalam cerita yang melalui

percakapannya dengan Dina yaitu ketika ia menerima permintaan

tolong Dina untuk menginap di rumahnya. Kutipan yang mendukung

pernyataan tersebut adalah sebagai berikut :

Dina teringat dua adiknya, teringat Adib, teringat Cindy, hanya mereka keluarga belahan hati Dina.

Dina menoleh ke arah Maya, “Boleh aku menginap di rumahmu?” “Boleh Din,” Maya sangat senang bisa membantu.

“Tapi aku bawa dua adikku,” Dina berharap malam ini dua adiknya bisa tertidur nyenyak.

“Tidak apa-apa,” Maya mengangguk. (Do’a hlm. 85-86).

Adib dan Cindy tidur di ranjang, justru Dina dan Maya tidur di kasur lipat di bawah, disamping tempat tidur. Adib dan Cindy langsung terlelap dalam balutan lembutnya kasur dan bantal, dibalik hangatnya selimut tebal yang membungkus letihnya tubuh mereka.

“Maaf, aku harus menumpang May,” Dina memperhatikan kedua adiknya. Maya berpura-pura tak mendengar perkataan Dina barusan.

Maya membuka lemari mengambil kaos, Maya tak menanggapi ocehan Dina, “Ganti kaosmu dengan baju ini,” Maya memberikan kaos berwarna hijau daun kepada Dina. Tak lupa Maya juga memberikan satu selimut kepada Dina (Do’a hlm. 94).

Tokoh tambahan yang ketiga adalah Safira. Safira merupakan

tokoh tambahan karena hanya muncul dua kali dalam penceritaan.

Kemunculan tokoh Safira yang pertama kali yaitu saat ia melakukan

pembelaan terhadap Dina. Kutipan yang mendukung pernyataan

tersebut adalah sebagai berikut :

Teman-teman lain tak ada yang mengikuti jejak Madya dan Putri, yang laki- laki hanya mendengar, saat Dina duduk ia langsung membuka buku dan membacanya, tapi suara sumbang kembali terdengar, kali ini dari Putri, “ Kalau Dina sakit, ga’ usah jenguk ah, paling juga ngamen, dasar anak jalanan,!!!” umpat Putri.

Dina seolah menutup telinganya, diam, tetap membaca, tapi yang tidak terima justru Safira, ia berdiri di tengah ketakutannya, “Bisa diam ga’? kenapa sih kalian berdua selalu menghina Dina,? Memangnya kalian pikir diri kalian udah sempurna,? Tantang Safira kepada Madya dan Putri (Do’a hlm.55-56).

Tokoh Safira dimunculkan dalam cerita melalui percakapannya

dengan Dina ketika Adib melakukan pembunuhan. Kutipan yang

mendukung pernyataan tersebut adalah sebagai berikut :

Dina merasa semua yang ada di matanya kini hanya sebuah mimpi. Suratman tergeletak, sudah menjadi mayat, yang membunuh adiknya sendiri, rumah kontrakannya seketika menjelma menjadi bahan tontonan satu desa, semuanya mengerubut, suara lambaian gugur daun seakan terdengar, ia terduduk lemas sembari memeluk Cindy, garis kuning polisi mengeliling, tim penyidik sibuk memeriksa, mondar-mandir ke setiap sisi, riuh bisikan suara terdengar bak dengung nyamuk di malam hari. Tak disangka Maya dan Safira datang, entah dari siapa mereka mendengar beritanya. “Dina!!!” Safira mendekat, menerobos kerumunan orang banyak.

Dina menoleh, Safira langsung memeluk erat temannya, “Adikku Fira, adikku telah membunuh Abang.” Tangis Dina pecah.

Safira memeluk Dina semakin erat, “Dina, kamu harus kuat, kamu harus

Dokumen terkait