• Tidak ada hasil yang ditemukan

Anggota 20.570 20.148 20.148 20.427 20.427 3 Jumlah Anggota (Non KUD) Anggota 25.220 26.002 26.422 30.760 48.917

4 Koperasi Aktif Unit 187 199 203 207 213

5 Koperasi Tidak Aktif Unit 14 15 15 15 19

Sumber Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Koperasi Kabupaten Jembrana

Laju Inflasi

Perhitungan laju inflasi hanya dilakukan di BPS Provinsi Bali, sehingga untuk mengetahui angka inflasi di Kabupaten Jembrana menggunakan acuan perhitungan angka inflasi di kota terdekat, yaitu Kota Denpasar. Selain dilakukan di Kota Denpasar, perhitungan angka inflasi tersebut dilaksanakan di 66 kota di Indonesia yang secara periodik diumumkan oleh Badan Pusat Statistik Provinsi Bali. Data perkembangan inflasi tahun 2008-2012 sebagai berikut:

5 Pekutatan 84 5 8 7 144 Jumlah 1.201 73 36 76 1.786

Tabel 4.26:

Perkembangan Laju Inflasi Kota Denpasar Tahun 2008 s/d 2012

Sumber : BPS Provinsi Bali

Perkembangan harga berbagai komoditas pada Desember 2012 secara umum menunjukkan adanya kenaikan. Berdasarkan hasil pemantauan BPS di 66 kota pada Desember 2012 terjadi inflasi 0,54 persen, atau terjadi kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 134,76 pada November 2012 menjadi 135,49 pada Desember 2012. Tingkat inflasi tahun kalender (Januari–Desember) 2012 dan tingkat inflasi year on year (Desember 2012 terhadap Desember 2011) sebesar 4,30 persen.

Inflasi terjadi karena adanya kenaikan harga yang ditunjukkan oleh kenaikan indeks seluruh kelompok pengeluaran, yaitu: kelompok bahan makanan 1,59 persen; kelompok makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau 0,29 persen; kelompok perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar 0,17 persen; kelompok sandang 0,24 persen; kelompok kesehatan 0,18 persen; kelompok pendidikan, rekreasi, dan olahraga 0,05 persen; dan kelompok transpor, komunikasi, dan jasa keuangan 0,26 persen.

Beberapa komoditas yang mengalami kenaikan harga pada Desember 2012 antara lain: beras, daging ayam ras, ikan segar, telur ayam ras, tarif angkutan udara, daging sapi, bawang merah, bayam, sawi hijau, kangkung, kentang, jeruk, nasi dengan lauk, rokok kretek filter, upah tukang bukan mandor,dan jam tangan. Sedangkan komoditas yang mengalami penurunan harga adalah: cabai merah danminyak goreng.

Kelompok-kelompok komoditi yang pada Desember 2012 memberikan andil/sumbangan inflasi,yaitu: kelompok bahan makanan 0,37 persen; kelompok makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau 0,05 persen; kelompok perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar 0,04 persen; dan kelompok sandang 0,02 persen; kelompok kesehatan 0,01 persen; kelompok pendidikan, rekreasi, dan olahraga 0,01 persen; dan kelompok transpor, komunikasi, dan jasa keuangan 0,04 persen.

Inflasi 2008 2009 2010 2011 2012

Indeks Gini

Gini rasio merupakan salah satu indikator yang dapat melihat ketimpangan pendapatan antar golongan penduduk, untuk melihat karakteristik ketimpangan lainnya dapat menggunakan data PDRB perkapita sebagai proxy pendapatan perkapita. Indikator yang memberikan gambaran proporsi tingkat pendapatan yang dapat digunakan untuk perencanaan pembangunan daerah secara umum serta sebagai bahan evaluasi pembangunan daerah. Koefisien Gini (Gini Ratio) adalah salah satu ukuran yang paling sering digunakan untuk mengukur tingkat ketimpangan pendapatan secara menyeluruh.

Sebagaimana disebutkan dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 54 tahun 2010 bahwa tentang gini ratio dikelompokkan kedalam ketimpangan rendah apabila gini ratio tinggi lebih kecil dari 0,3, di kategorikan ketimpangan sedang apabila gini rationya lebih besar dari 0,3 dan lebih kecil dari 0,5, selanjutnya di kategorikan ketimpangantinggi apabila gini rationya lebih besar dari 0,5. Berikut dapat disajikan perkembangan gini ratio Kabupaten Jembrana untuk kurun waktu 2008 – 2012 pada tabel berikut:

Tabel 4.27:

Indeks Gini Kabupaten Jembrana Tahun 2008 s/d 2012

No. Tahun Indeks Gini

2008 0,2583

2009 0,2370

2010 0,2475

2011 0,2575

2012 0,2550

Sumber : BPS Kabupaten Jembrana

Bila diperhatikan tabel tersebut diatas dalam kurun waktu 2008 – 2012 Kabupaten Jembrana Gini Rationya terkategorikan ketimpangan rendah. Sedangkan pada tahun 2011 gini ratio berkategorikan sedang. Kondisi tersebut mencerminkan tingkat pendapatan masyarakat di Kabupaten Jembrana cenderung tidak merata atau gap antara rumah tangga kaya dan rumah tangga miskin cenderung ketimpangan sedang .Oleh sebab itu pertumbuhan ekonomi diharapkan merata di masing-masing sektor (9 sektor) sehingga ketimpangan tidak cenderung naik.

Melihat kondisi di Provinsi Bali pendapatan golongan (20%) tertinggi di kab./kota seluruhnya berada pendapatan rendah dan sedang. Di Kabupaten Jembrana kontribusi pendapatan penduduk dengan pendapatan tertinggi di atas 40 % nomer setelah Kota Denpasar yang merupakan satu-satunya kabupaten/kota di Brovinsi Bali dengan kontribusi diatas 50%.. Hanya Kabupaten Karangasem kontribusi pendapatan penduduk dengan pendapatan tertinggi di bawah 40%. Kontribusi yang tinggi terhadap golongan pendapatan penduduk tertinggi memberikan efek yang kurang baik terhadap pemerataan hasil-hasil pembangunan.

Gambar 4.22: Perbandingan kontribusi pendapatan penduduk di Provinsi Bali

(Sumber BPS Provinsi Bali)

Laju Pertumbuhan Ekonomi (LPE)

Kontribusi Laju pertumbuhan ekonomi (LPE) Jembrana terhadap ekonomi Provinsi Bali tahun 2012 mencapai 5,89% lebih kecil jika dibandingkan tahun 2000 yang mencapai 7,03%. Kontribusi ekonomi kabupaten/kota sentral (Kabupaten Badung dan Kota Denpasar) terus mendominasi bahkan kontribusinya mengalami peningkatan. Kontribusi Badung dan Denpasar tahun 2012 mencapai 45% meningkat 5% jika dibandingkan kontribusi di tahun 2000. Percepatan ekonomi di Kabupaten Jembrana tahun 2012 sebesar 5,90%, masih di bawah Laju Pertumbuhan Ekonomi Provinsi Bali sebesar 6,65%. Kabupaten/kota yang pertumbuhan ekonominya diatas rata-rata didominasi oleh Kabupaten Badung yang mampu mencatat pertumbuhan tertinggi yaitu 7,30%, sedangkan yang pertumbuhan terendah adalah Kabupaten Karangasem yang mencapai 5,73%. Pemerataan ekonomi Bali antar kabupaten/kota menjadi kerja bersama antara pemerintah provinsi dengan pemerintah kabupaten/kota di Provinsi Bali. Gambaran Laju Pertumbuhan Ekonomi (LPE) dapat dilihat pada grafik berikut.

Gambar 4.23: Perbandingan kontribusi Laju Pertumbuhan Ekonomi (LPE) Kabupaten/Kota di Provinsi Bali

(Sumber : BPS Provinsi Bali)

Gambar 4.24: Laju Pertumbuhan Ekonomi (LPE) Kabupaten/Kota di Provinsi Bali

(Sumber : BPS Provinsi Bali)

NTP (Farmers Term of Trade) merupakan salah satu indikator untuk melihat tingkatkemampuan/daya beli petani di perdesaan. NTP juga menunjukkan daya tukar (term of trade) dariproduk pertanian terhadap barang dan jasa yang diperlukan petani untuk konsumsi rumah tangganya maupun untuk biaya produksi produk pertanian. Nilai Tukar Petani (NTP) diperoleh dariperbandingan indeks harga yang diterima petani terhadap indeks harga yang dibayar petani (dalam persentase). Semakin tinggi NTP, secara relatif semakin kuat pula tingkat kemampuan/daya beli petani.

Berdasarkan hasil pemantauan harga-harga perdesaan pada bulan Nopember 2012, NTP Bali mengalami penurunan bila dibandingkan dengan bulan Oktober 2012 sebesar 0,60 persen dari 108,93 menjadi 108,28. Secara umum turunnya NTP ini disebabkan oleh turunya nilai indeks yang diterima petani yaitu sebesar (0,45) persen sedangkan indeks yang dibayar petani naik sebesar 0,15 persen. Turunnya indeks yang diterima petani (It) ini terjadi pada turunnya indeks yang diterima petani pada Subsektor Tanaman Pangan, Hortikultura dan Tanaman Perkebunan Rakyat, sedangkan pada Subsektor Peternakan dan Perikanan mengalami kenaikan. Sebaliknnya naiknya indeks yangdibayar petani (Ib) terjadi pada Subsektor Tanaman Pangan, Hortikultura dan Tanaman Perkebunan Rakyat, Peternakan dan Perikanan. Perbandingan NTP Nopember 2012 terhadap Oktober 2012 menunjukkan bahwa semua subsektor mengalami penurunan NTP.

Tabel 4. 28:

Sumber : BPS Propinsi Bali

Perbandingan NTP Oktober 2012 terhadap Nopember 2012 menunjukkan bahwa beberapa subsektor mengalami penurunan NTP. Subsektor yang mengalami penurunan adalah Subsektor Hortikultura, Subsektor Tanaman Perkebunan Rakyat, Subsektor Peternakan, Subsektor Tanaman Pangan dan Subsektor Perikanan.

Dokumen terkait