• Tidak ada hasil yang ditemukan

K ERENTANAN DAN K APASITAS

Dalam dokumen 2 DOKUMEN RPB ACEH (Halaman 46-51)

4. Mengurangi faktor-faktor risiko dasar, dengan indikator :

a. Pengurangan risiko bencana merupakan salah satu tujuan dari kebijakan-kebijakan dan rencana-rencana yang berhubungan dengan lingkungan hidup, termasuk untuk pengelolaan sumber daya alam, tata guna lahan dan adaptasi terhadap perubahan iklim

b. Rencana-rencana dan kebijakan-kebijakan pembangunan sosial dilaksanakan untuk mengurangi kerentanan penduduk yang paling berisiko terkena dampak bahaya

c. Rencana-rencana dan kebijakan-kebijakan sektoral di bidang ekonomi dan produksi telah dilaksanakan untuk mengurangi kerentanan kegiatan-kegiatan ekonomi

d. Perencanaan dan pengelolaan pemukiman manusia memuat unsur-unsur pengurangan risiko bencana termasuk pemberlakuan syarat dan izin mendirikan bangunan untuk keselamatan dan kesehatan umum (enforcement of building codes)

e. Langkah-langkah pengurangan risiko bencana dipadukan ke dalam proses-proses rehabilitasi dan pemulihan pascabencana

f. Siap sedianya prosedur-prosedur untuk menilai dampak-dampak risiko bencana atau proyek-proyek pembangunan besar, terutama infrastruktur.

5. Memperkuat kesiapsiagaan terhadap bencana demi respon yang efektif di semua tingkat, dengan indikator :

a. Tersedianya kebijakan, kapasitas teknis kelembagaan serta mekanisme penanganan darurat bencana yang kuat dengan perspektif pengurangan risiko bencana dalam pelaksanaannya

b. Tersedianya rencana kontinjensi bencana yang berpotensi terjadi yang siap di semua jenjang pemerintahan, latihan reguler diadakan untuk menguji dan mengembangkan program-program tanggap darurat bencana

c. Tersedianya cadangan finansial dan logistik serta mekanisme antisipasi yang siap untuk mendukung upaya penanganan darurat yang efektif dan pemulihan pasca bencana

d. Tersedianya prosedur yang relevan untuk melakukan tinjauan pasca bencana terhadap pertukaran informasi yang relevan selama masa tanggap darurat Berdasarkan pengukuran indikator pencapaian ketahanan daerah maka kita dapat membagi tingkat tersebut kedalam 5 tingkatan, yaitu :

 Level 1 Daerah telah memiliki pencapaian-pencapaian kecil dalam upaya pengurangan risiko bencana dengan melaksanakan beberapa tindakan maju dalam rencana-rencana atau kebijakan

 Level 2 Daerah telah melaksanakan beberapa tindakan pengurangan risiko bencana dengan pencapaian-pencapaian yang masih bersifat sporadis yang disebabkan belum adanya komitmen kelembagaan dan/atau kebijakan sistematis.

 Level 3 Komitmen pemerintah dan beberapa komunitas tekait pengurangan risiko bencana di suatu daerah telah tercapai dan didukung dengan kebijakan sistematis, namun capaian yang diperoleh dengan komitmen dan kebijakan tersebut dinilai belum menyeluruh hingga masih belum cukup berarti untuk mengurangi dampak negatif dari bencana.

 Level 4 Dengan dukungan komitmen serta kebijakan yang menyeluruh dalam pengurangan risiko bencana disuatu daerah telah memperoleh capaian-capaian yang berhasil, namun diakui masih ada keterbatasan dalam komitmen, sumber daya finansial ataupun kapasitas operasional dalam pelaksanaan upaya pengurangan risiko bencana di daerah tersebut.

 Level 5 Capaian komprehensif telah dicapai dengan komitmen dan kapasitas yang memadai disemua tingkat komunitas dan jenjang pemerintahan.

3 . 2 . 1 I n d e k s K e t a h a n a n A c e h

Nilai indeks ketahanan provinsi diperoleh dari nilai indeks rata-rata tingkat ketahanan kabupaten/kota di Wilayah Aceh.

Berdasarkan hasil pemetaan kajian ketahanan di 21 kabupaten/kota dari 23 kabupaten/kota yang ada di Aceh, terlihat bahwa Tingkat Ketahanan Aceh dalam menghadapi bencana yang mungkin terjadi adalah pada level 2 (besar indeks : 44,63) seperti yang dapat dilihat pada Tabel 3.

Tabel 3. Hasil Kajian Tingkat Ketahanan Aceh berdasarkan hasil survey indikator HFA

No. Kabupaten/Kota Prioritas (nilai maks :20) Total Indeks

Tingkat Ketahanan

1 2 3 4 5

1 Simeulue 9,25 9,25 7,25 7,75 11,5 45 2

2 Aceh Besar 6 5,25 4 4 9,5 28,75 1

3 Pidie 7,5 6,25 4,75 15,75 9,5 43,75 2

4 Pidie Jaya 6,25 4 4 14,75 10,5 39,5 2

5 Aceh Utara 5 4 4 6 14,25 33,25 1

6 Lhoukseumawe 8,5 5,25 4 4 7 28,75 1

7 Langsa 20 4 7,5 12,75 19 63,25 3

8 Aceh Tamiang 10,25 5,25 4,75 4,5 9 33,75 1

9 Aceh Timur 9,75 7,5 7,5 5,5 17 47,25 2

10 Bireuen 10,5 6,25 6,75 11,75 15,25 50,5 2

11 Aceh Tengah 8,5 5,25 6 13,25 13,5 46,5 2

12 Bener Meriah 9 7,75 6 16 17,75 56,5 3

13 Gayo Luwes 10 9,25 9,5 12,75 16,25 57,75 3

14 Aceh Tenggara 6,75 5,25 7 11,75 13,75 44,5 2

15 Singkil 15,25 9 4,75 7,25 17,75 54 2

16 Aceh Selatan 5,75 5,25 4,75 5,25 8,25 29,25 1

17 Abdya 5,75 4 4,75 7 11,25 32,75 1

18 Subussalam 12,25 6,75 4,75 10,25 13,5 47,5 2

19 Aceh Barat 13,75 11 9,25 10 13 57 3

20 Nagan Raya 11,5 6,5 8 8,75 11 45,75 2

21 Aceh Jaya 11,25 6,25 8 10 13 48,5 2

PROVINSI 9,625 6,2 6 9,563 13,24 44,625 2

Secara umum Tabel 3 memperlihatkan bahwa Prioritas 5 adalah pencapaian tertinggi dari tingkat ketahanan di Aceh (bobot=13,24). Kondisi ini memperlihatkan bahwa pembangunan ketahanan di Aceh selama ini difokuskan kepada kesiapsiagaan untuk penanganan darurat bencana.

3 . 2 . 2 A n a l i s i s I n d e k s K e t a h a n a n A c e h

Indeks ketahanan Aceh dalam mengurangi risiko bencana dapat diklasifikasikan berdasarkan prioritas HFA. Fokus kebijakan penanggulangan bencana diperoleh berdasarkan analisis indeks ini.

1. Memastikan bahwa pengurangan risiko bencana menjadi sebuah prioritas nasional dan lokal dengan dasar kelembagaan yang kuat untuk pelaksanaannya.

Komitmen terhadap penanggulangan bencana telah dimiliki baik pada tingkat provinsi maupun kabupaten/kota di Wilayah Aceh. Komitmen ini telah dipertegas dalam bentuk qanun ataupun peraturan lainnya dengan menyediakan berbagai sumber daya untuk mewujudkan komitmen ini. Walau masih sangat terbatas, sumber daya ini telah tersebar diseluruh jenjang pemerintah.

Namun demikian penyebaran sumber daya ini masih terkesan hanya untuk mengikuti aturan dari pemerintah pusat tanpa ada pemahaman makna dari penyebaran sumber daya tersebut. Hal ini dapat dilihat dari pemanfaatan sumber daya tersebut serta pemberian kewenangan yang masih bersifat sentralistik di pemerintahan.

Partisipasi masyarakat dan komunitas lain belum didorong dan diberikan ruang yang cukup luas dalam perencanaan, pemanfaatan dan pengawasan sumber daya ini. Tidak hanya untuk sumber daya , kewenangan untuk terlibat langsung dalam upaya pengurangan risiko bencana juga belum didelegasikan kepada komunitas hingga di tingkat lokal. Kondisi ini mengakibatkan lambatnya pertumbuhan ketahanan daerah ditingkat lokal dalam mengurangi risiko bencana.

Forum pengurangan risiko bencana yang dapat mempercepat pertumbuhan ketahanan daerah belum berfungsi efektif. Forum baru dibentuk di tingkat provinsi dan sebagian anggota masih belum memahami fungsi-fungsi forum dalam mempercepat peningkatan ketahanan. Sebagai lembaga non formal, forum diharapkan dapat menembus birokrasi dan kendala anggaran dengan memanfaatkan seluruh sumber daya dan kekuatan yang dimiliki oleh anggota forum.

2. Tersedianya Kajian Risiko Bencana Daerah berdasarkan data bahaya dan kerentanan untuk meliputi risiko untuk sektor-sektor utama daerah

Kajian risiko bencana telah mulai dilaksanakan di Aceh. Pada tingkat provinsi, kajian ini dilaksanakan dengan menyusun peta risiko untuk 10 bencana yang berpotensi terjadi di Aceh. Peta risiko ini perlu ditingkatkan untuk mendapatkan kajian risiko bencana yang mampu memenuhi kebutuhan perencanaan daerah seperti Rencana Penanggulangan Bencana dan Rencana Kontinjensi. Peningkatan peta risiko menjadi kajian risiko sebaiknya dilaksanakan kepada penghitungan nilai aset daerah yang berpotensi terpapar bencana. Aset minimal daerah yang dihitung adalah fasilitas kritis, fasilitas publik dan rumah penduduk. Selain itu, kajian yang dilaksanakan sebaiknya telah menghitung kemungkinan risiko untuk bencana lintas batas administrasi Aceh.

Aceh telah mengembangkan sistim untuk memantau, mencatat, menganalisis dan menyebarluaskan data-data terkait potensi dan kerentanan utama bencana yang terjadi di Aceh namun belum mampu memberikan akses luas kepada seluruh pemerintah

Khusus untuk bencana tsunami, sistem peringatan dini telah tersedia di Aceh dan telah didukung dengan adanya Prosedur Operasi Standar Sistem Peringatan Dini dan Tsunami. Sistem peringatan ini masih perlu dikembangkan untuk bencana-bencana lainnya. Pengembangan sistem ini amat bergantung dari hasil kajian risiko bencana yang memenuhi standar minimum nasional yang mampu memperlihatkan potensi paparan penduduk terkena dampak bencana dan potensi kehilangan aset daerah.

3. Terwujudnya penggunaan pengetahuan, inovasi dan pendidikan untuk membangun ketahanan dan budaya aman dari bencana di semua tingkat

Belum tersedianya kurikulum terkait pengurangan risiko bencana baik pada lembaga pendidikan formal, informal dan non formal menyebabkan pembangunan budaya keselamatan menjadi sedikit terlambat di Aceh. Namun demikian perlu dicatat bahwa inisiatif untuk mengembangkan kurikulum ini ke dalam mata pelajaran yang sudah ada pada lembaga pendidikan formal sedang digalang oleh Pemerintah Aceh. Inisiatif ini perlu dikembangkan lagi untuk penggunaan di lembaga pendidikan informal dan non formal.

Sebagai langkah lain dalam pengembangan budaya keselamatan adalah penggunaan ilmu praktis yang dapat diterapkan diseluruh segi kehidupan masyarakat untuk mengurangi timbulnya jumlah korban saat bencana dan mengurangi biaya pemulihan akibat bencana. Pengembangan ilmu praktis yang dapat diterapkan oleh masyarakat ini menjadi tanggungjawab lembaga riset baik ditingkat lokal, nasional maupun internasional.

Arah pengembangan riset untuk berkontribusi langsung dalam pembangunan budaya keselamatan perlu segera dibangun dengan strategi yang efektif. Strategi tersebut juga perlu didukung dengan strategi publikasi hasil riset yang mampu menggerakkan masyarakat untuk menggunakan hasil riset tersebut.

Tidak hanya hasil riset, strategi publikasi juga dinilai efektif untuk mengembangkan seluruh informasi terkait pengurangan risiko bencana kepada masyarakat. Penggunaan media publikasi perlu dipertimbangkan untuk menjamin keterpaparan informasi penduduk diseluruh tingkatan dan daerah.

Dari pengembangan riset dan pendidikan pada seluruh bentuk pendidikan dengan publikasi yang efektif dapat menjamin pembangunan budaya keselamatan di Aceh.

4. Mengurangi faktor-faktor risiko dasar

Masyarakat dengan penghasilan rendah biasanya tinggal dan bergantung penghidupannya di daerah rentan. Oleh karena itu pengembangan sektor produksi dan ekonomi diprioritaskan untuk daerah rentan dan masyarakat yang bergantung pada daerah tersebut. Tidak hanya pengembangan sektor produksi dan ekonomi, pemerintah juga perlu mendukung masyarakat tersebut dengan jaringan pengamanan sosial yang memadai dan mengarahkan pembentukan kemandirian secara finansial dari masyarakat di daerah rentan. Pemerintah Aceh telah melaksanakan beberapa proyek terkait pengamanan sosial dan kesehatan. Namun fokus proyek belum diarahkan secara khusus kepada masyarakat berisiko tinggi di daerah rentan.

Selain itu perlindungan terhadap faktor-faktor risiko lain dapat dilaksanakan dengan menerapkan aturan dan kebijakan yang berhubungan dengan pengelolaan lingkungan hidup dan sumber daya alam serta dengan mempertimbangkan kemampuan adaptasi daerah terhadap perubahan iklim yang sedang terjadi. Hal ini membutuhkan konsistensi dengan mengadaptasikannya kepada rencana pengelolaan lingkungan dan tata guna lahan. Hal ini telah mulai dilaksanakan oleh sebagian besar pemerintah kabupaten dan kota di Aceh, termasuk pemerintah provinsi. Namun perlu komitmen kuat untuk menjalankan perencanaan ini. Termasuk penggunaan metode reward and punishment dalam mengimplementasikan perencanaan tersebut.

Untuk memastikan tidak adanya peningkatan risiko bencana yang disebabkan oleh pembangunan, Pemerintah Aceh perlu melaksanakan mekanisme untuk menilai dampak risiko yang ditimbulkan oleh pelaksanaan proyek pembangunan berskala besar.

Hal ini tidak hanya untuk menjamin keselamatan penduduk di sekitar proyek, namun juga untuk menjamin keselamatan investasi pemilik modal dari risiko bencana yang mungkin ditimbulkannya.

Tidak hanya untuk proyek pada skala besar, mekanisme ini juga perlu dilaksanakan untuk pembangunan daerah hunian masyarakat. Pembangunan daerah hunian baru ini harus mampu melindungi masyarakat penghuninya dari ancaman bencana. Demikian halnya untuk pembangunan daerah hunian baru pada masa pemulihan bencana.

Pembangunan daerah hunian ini perlu mempertimbangkan unsur pengurangan risiko sehingga tidak muncul risiko bencana yang lama sekaligus menghindari kemungkinan paparan risiko baru di daerah hunian baru tersebut.

5. Memperkuat kesiapsiagaan terhadap bencana demi respon yang efektif di semua tingkat

Seluruh kabupaten/kota di Wilayah Aceh termasuk provinsi telah membentuk Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) yang pada skala provinsi disebut BPBA (Badan Penanggulangan Bencana Aceh). Namun demikian BPBA/BPBD yang ada di Aceh belum didukung dengan kebijakan, kapasitas teknis yang kuat untuk menjalankan mekanisme penanggulangan bencana yang tersedia, khususnya untuk penanganan kedaruratan.

Dengan belum adanya dukungan tersebut, penting untuk menyusun rencana kontinjensi untuk bencana yang mungkin terjadi pada jangka waktu dekat dalam skala besar. Rencana kontinjensi ini perlu disusun untuk mempersiapkan cadangan finansial dan mekanisme lain yang dibutuhkan untuk proses penanganan darurat bencana dan pemulihannya.

Rencana kontinjensi ini perlu disusun sebagai pendukung penerapan prosedur operasi standar penanganan darurat bencana yang telah disusun untuk bencana gempa bumi dan tsunami di Aceh.

Dalam dokumen 2 DOKUMEN RPB ACEH (Halaman 46-51)

Dokumen terkait