• Tidak ada hasil yang ditemukan

2 DOKUMEN RPB ACEH

N/A
N/A
Subangkit Wicaksono

Academic year: 2022

Membagikan "2 DOKUMEN RPB ACEH"

Copied!
159
0
0

Teks penuh

(1)

TAHUN 2012 - 2017

BADAN PENANGGULANGAN BENCANA ACEH

(2)
(3)
(4)
(5)
(6)
(7)
(8)

PEMERINTAH ACEH

Badan Penanggulangan Bencana Aceh

Rencana Penanggulangan Bencana Aceh (RPB Aceh)

Periode 2012 - 2017

(9)

PEMERINTAH ACEH

Rencana Penanggulangan Bencana Aceh (RPB Aceh)

BADAN PENANGGULANGAN BENCANA ACEH Didukung oleh UNDP DRR-A

2012-2017

(10)

Daftar Isi

DAFTAR ISI ...I DAFTAR TABEL ...II DAFTAR GAMBAR ... IV KATA PENGANTAR ... VI

PENDAHULUAN ... 1

1.1 LATAR BELAKANG ... 1

1.2 MAKSUD ... 2

1.3 TUJUAN ... 2

1.4 SASARAN ... 2

1.5 KEDUDUKAN DOKUMEN ... 2

1.6 PENGERTIAN ... 3

1.7 LANDASAN HUKUM ... 5

1.8 RUANG LINGKUP ... 8

GAMBARAN UMUM KEBENCANAAN ... 9

2.1 GAMBARAN UMUM WILAYAH ... 9

2.2 SEJARAH KEJADIAN BENCANA ... 10

PENGKAJIAN RISIKO BENCANA ... 16

3.1 ANCAMAN ... 17

3.2 KERENTANAN DAN KAPASITAS ... 31

3.3. TINGKAT RISIKO BENCANA ACEH ... 36

KEBIJAKAN PENANGGULANGAN BENCANA... 48

4.1. VISI DAN MISI ... 48

4.2. KEBIJAKAN PENANGGULANGAN BENCANA ACEH ... 48

4.3. STRATEGI DAN SASARAN ... 50

4.4. KAIDAH PELAKSANAAN ... 56

FOKUS, PROGRAM DAN KEGIATAN PENANGGULANGAN BENCANA ... 64

5.1. FOKUS,PROGRAM DAN KEGIATAN PENANGGULANGAN BENCANA ... 64

5.2. INDIKATOR KEBERHASILAN DAN PAGU INDIKATIF KEGIATAN PENANGGULANGAN BENCANA ... 74

5.3. ANGGARAN PENANGGULANGAN BENCANA ... 118

PELAPORAN, MONITORING DAN EVALUASI ... 120

6.1 MONITORING DAN EVALUASI ... 120

6.2 PELAPORAN ... 121

PENUTUP ... 122

LAMPIRAN -1 ... 0

(11)

Daftar Tabel

Tabel 1. Potensi Bencana Aceh ... 10

Tabel 2. Wilayah Sungai (WS) Provinsi Aceh ... 20

Tabel 3. Hasil Kajian Tingkat Ketahanan Aceh berdasarkan hasil survey indikator HFA ... 33

Tabel 4. Zona Prioritas Penanggulangan Bencana Aceh ... 61

Tabel 5. Rencana Advokasi RPB-A Fase Sebelum Penyusunan RPJMA ... 62

Tabel 6. Rencana Advokasi RPB Aceh Fase Saat Penyusunan RPJMA ... 62

Tabel 7. Rencana Advokasi RPB Aceh pada Fase Setelah Penyusunan RPJMA ... 63

Tabel 8. Fokus, Program dan Kegiatan Penguatan Peraturan Perundangan dan Kapasitas Kelembagaan ... 65

Tabel 9. Fokus, Program dan Kegiatan Perencanaan Penanggulangan Bencana Terpadu ... 67

Tabel 10. Fokus, Program dan Kegiatan Penelitian, Pendidikan dan Pelatihan ... 68

Tabel 11. Fokus, Program dan Kegiatan Peningkatan Kapasitas dan Partisipasi Masyarakat dan Pemangku Kepentingan Lain dalam Pengurangan Risiko Bencana ... 69

Tabel 12. Fokus, Program dan Kegiatan Perlindungan Masyarakat dari Bencana ... 71

Tabel 13. Sandingan Program, Kegiatan, Indikator Keberhasilan, Keterlibatan Instansi dan Pagu Indikatif untuk Program Generik, berlaku untuk semua bencana ... 74

Tabel 14. Sandingan Program, Kegiatan, Indikator Keberhasilan, Keterlibatan Instansi dan Pagu Indikatif untuk Penanggulangan Bencana Gempa bumi ... 88

Tabel 15. Sandingan Program, Kegiatan, Indikator Keberhasilan, Keterlibatan Instansi dan Pagu Indikatif untuk Penanggulangan Bencana Tsunami ... 91

Tabel 16. Sandingan Program, Kegiatan, Indikator Keberhasilan, Keterlibatan Instansi dan Pagu Indikatif untuk Penanggulangan Bencana Banjir ... 96

Tabel 17. Sandingan Program, Kegiatan, Indikator Keberhasilan, Keterlibatan Instansi dan Pagu Indikatif untuk Penanggulangan Bencana Letusan Gunung Api ... 99

Tabel 18. Sandingan Program, Kegiatan, Indikator Keberhasilan, Keterlibatan Instansi dan Pagu Indikatif untuk Penanggulangan Bencana Longsor Lahan dan Gerakan Tanah ... 103

Tabel 19. Sandingan Program, Kegiatan, Indikator Keberhasilan, Keterlibatan Instansi dan Pagu Indikatif untuk Penanggulangan Bencana Abrasi/Sedimentasi Pantai ... 106

Tabel 20. Sandingan Program, Kegiatan, Indikator Keberhasilan, Keterlibatan Instansi dan Pagu Indikatif untuk Penanggulangan Bencana Kekeringan ... 109

Tabel 21. Sandingan Program, Kegiatan, Indikator Keberhasilan, Keterlibatan Instansi dan Pagu Indikatif untuk Penanggulangan Bencana Puting Beliung ... 111

Tabel 22. Sandingan Program, Kegiatan, Indikator Keberhasilan, Keterlibatan Instansi dan Pagu Indikatif untuk Penanggulangan Bencana Konflik ... 113

Tabel 23. Sandingan Program, Kegiatan, Indikator Keberhasilan, Keterlibatan Instansi dan Pagu Indikatif untuk Penangulangan Kejadian Luar Biasa ... 115

Tabel 24. Sandingan Program, Kegiatan, Indikator Keberhasilan, Keterlibatan Instansi dan Pagu Indikatif untuk Penanggulangan Bencana Kegagalan Teknologi dan Kebakaran ... 117

(12)

Tabel 25. Format monitoring dan evaluasi ... 121

(13)

Daftar Gambar

Gambar 1. Peta Wilayah Administratif Aceh ... 9

Gambar 2. Peta Seismotektonik Aceh ... 11

Gambar 3. Peta Potensi Bencana Gempa Bumi Aceh ... 18

Gambar 4. Peta Potensi Bencana Tsunami Aceh ... 19

Gambar 5. Peta Genangan Banjir Aceh ... 21

Gambar 6. Peta Potensi Bencana Gunung Api di Aceh ... 22

Gambar 7. Peta Potensi Bencana Tanah Longsor ... 23

Gambar 8. Peta Potensi Bencana Abrasi Pantai ... 25

Gambar 9. Peta Potensi Bencana Kekeringan ... 25

Gambar 10. Peta Potensi Bencana Angin Puting Beliung ... 26

Gambar 11. Peta Potensi Kejadian Luar Biasa ... 29

Gambar 12. Peta Potensi Bencana Kebakaran ... 30

Gambar 13 . Peta Risiko Bencana Gempa bumi ... 37

Gambar 14. Peta Risiko Bencana Tsunami ... 38

Gambar 15. Peta Risiko Bencana Banjir ... 39

Gambar 16. Peta Risiko Bencana Letusan Gunung Api ... 40

Gambar 17. Peta Risiko Bencana Longsor ... 41

Gambar 18. Peta Risiko Bencana Abrasi ... 42

Gambar 19. Peta Risiko Bencana Kekeringan ... 43

Gambar 20. Peta Risiko Bencana Puting Beliung ... 44

Gambar 21. Peta Risiko Epidemi ... 45

Gambar 22. Peta Risiko Kebakaran Hutan ... 46

Gambar 23. Peta Risiko Multi Bencana ... 47

(14)

Rencana Penanggulangan Bencana Aceh (RPB Aceh)

2012-2017

(15)

Assalammu'alaikum Wr Wb.

Penanggulangan bencana adalah tanggung jawab semua pihak baik pemerintah, masyarakat dan dunia usaha. Dalam pengertian ini, setiap orang atau komunitas ikut bertanggung jawab dalam penanggulangan bencana untuk keamanan dan keselamatan dirinya, keluarganya, maupun lingkungannya.

Salah satu upaya untuk mewujudkan Aceh yang lestari dan tangguh terhadap bencana adalah dengan mengubah paradigma penanganan terhadap bencana yang cenderung masih bersifat tanggap darurat menjadi kesiapsiagaan melalui budaya sadar bencana. Tangguh dalam arti kata memahami ancaman yang ada, mau berbuat sesuai dengan kemampuan yang dimiliki serta mampu mengambil peran secara aktif dalam penanggulangan bencana di daerahnya untuk tercapainya Aceh yang makmur dan berkeadilan.

Rencana Penanggulangan Bencana Aceh (RPB Aceh) Tahun 2012 – 2017 disusun sebagai wujud komitmen yang kuat dari Pemerintah Aceh dalam menjalankan amanat Undang – Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana dan Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2008 tentang Penyelenggaran Penanggulangan Bencana serta Qanun Aceh Nomor 5 Tahun 2010 tentang Penanggulangan Bencana.

Fokus dokumen ini adalah untuk menjelaskan “siapa merencanakan apa” dalam rangka upaya penanggulangan bencana. Dengan adanya dokumen ini, maka para pemangku kepentingan penanggulangan bencana memiliki pedoman bagi institusi terkait bagi upaya penanggulangan bencana di Aceh.

Penyusunan dokumen diawali dengan penerbitan Surat Keputusan Gubernur Aceh untuk menunjuk tim kerja multi-stakeholder yang mewakili unsur dari birokrat baik Pemerintah Provinsi maupun Instansi Vertikal yang ada di Aceh, akademisi, lembaga swadaya masyarakat dan media massa. Penyusunan dokumen ini diawali dengan Workshop Pembekalan TIM Penyusun, pelaksanaaan survey kajian kapasitas penanggulangan bencana di tingkat kabupaten/kota, dan dua kali konsultasi publik serta konsultasi ke BNPB.

Akhirnya kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak dan para pemangku kepentingan yang telah berperan serta dan berkontribusi dalam penyusunan dokumen Rencana Penanggulangan Bencana Aceh Tahun 2012 – 2017. Secara khusus kepada pihak UNDP DRR-A dan MDF yang telah mendukung pembiayaan penyusunan dokumen ini disampaikan penghargaan dan ucapan terima kasih.

Semoga dokumen ini bermanfaat dan Allah SWT selalu memberikan petunjuk dan hidayah-Nya kepada kita

Amin ya rabbal’alamin

Banda Aceh, Oktober 2011

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Aceh

T. SETIA BUDI

(16)

Pendahuluan

1.1 Latar Belakang

Aceh merupakan wilayah dengan kondisi alam yang kompleks sehingga menjadikan Aceh sebagai salah satu daerah berpotensi tinggi terhadap ancaman bencana, khususnya bencana alam dan non alam. Selain itu kondisi dinamika sosial dan budaya Aceh yang unik juga menjadikan Aceh rawan dengan bencana sosial.

Pada umumnya bencana alam meliputi bencana akibat fenomena geologi (gempa bumi, tsunami, gerakan tanah dan letusan gunungapi), bencana akibat kondisi hidrometeorologi (banjir, tanah longsor, kekeringan, dan angin topan), bencana akibat faktor biologi (wabah penyakit manusia, dan penyakit tanaman/ternak) serta kegagalan teknologi (kecelakaan industri, kecelakaan tranportasi, radiasi nuklir, dan pencemaran bahan kimia). Bencana akibat ulah manusia terkait dengan konflik antar manusia akibat perebutan sumber daya yang terbatas, konflik dengan alam, alasan ideologi, agama, dan politik.

Kompleksitas dari permasalahan bencana tersebut memerlukan suatu penataan dan perencanaan yang matang dalam penanggulangannya, sehingga dapat dilaksanakan secara terarah dan terpadu. Penanggulangan bencana yang dilakukan selama ini belum didasarkan pada langkah-langkah yang sistimatis dan terencana, sehingga seringkali terjadi tumpang tindih dan bahkan kadang terdapat langkah upaya penting yang terlewati.

Setelah terjadinya bencana gempa bumi dan tsunami tanggal 26 Desember 2004 di Aceh telah memberikan pengalaman dalam penanganan bencana. Keterlibatan masyarakat dalam penanggulangan bencana mulai terlihat dalam pengelolaan bantuan bencana pada saat tanggap darurat, pembangunan rehabilitasi dan rekontruksi dengan adanya program- program berbasis masyarakat baik yang dilakukan oleh pihak asing maupun pemerintah.

Penyelenggaraan penanggulangan bencana di Aceh saat ini telah bergerak mengikuti sistem penanggulangan bencana nasional. Perubahan cara pandang bencana dari yang bersifat tanggap darurat menjadi pengurangan risiko bencana telah mulai berjalan. Hal ini ditandai dengan masuknya Penanganan dan Pengurangan Resiko Bencana sebagai salah agenda pembangunan Aceh Tahun 2007 -2012 dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJM Aceh) Tahun 2007 – 2012.

Selanjutnya dalam rangka melaksanakan ketentuan Pasal 10 dan Pasal 100 Undang- Undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh, dan Pasal 18, Pasal 19 dan Pasal 25 Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana, telah dibentuk Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA) di tingkat provinsi dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) di tingkat kabupaten/kota yang diperkuat dengan

1

(17)

berbagai peraturan gubernur/bupati/walikota berkenaan dengan penanggulangan bencana.

Ditingkat masyarakat juga sudah banyak terbentuk kelompok-kelompok siaga bencana.

Pasal 35 dan pasal 36 Undang-undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana, mengamanatkan setiap daerah harus mempunyai perencanaan penanggulangan bencana. Secara rinci hal tersebut dijelaskan dalam ketentuan Pasal 6 ayat (5) Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2008 tentang Penyelenggaraan Penanggulangan Bencana, Rencana Penanggulangan Bencana Aceh ditetapkan oleh Pemerintah Aceh sesuai dengan kewenangannya untuk jangka waktu 5 (lima) tahun, selanjutnya dalam Pasal 5, Pasal 6 dan Pasal 14 ayat (2) huruf a Qanun Aceh Nomor 5 Tahun 2010 tentang Penanggulangan Bencana dan ketentuan dalam Pasal 8, Pasal 9 dan Pasal 10 Qanun Aceh Nomor 6 Tahun 2010 tentang Pembentukan Susunan Organisasi dan Tata Kerja Badan Penanggulangan Bencana Aceh, disimpulkan bahwa Pemerintah Aceh perlu merumuskan dan menetapkan Rencana Penanggulangan Bencana Aceh (RPB Aceh) Tahun 2012-2017, yang mampu menjadi pedoman dalam pelaksanaan praktik-praktik penanggulangan bencana di Aceh baik pada masa sebelum, saat, maupun sesudah terjadinya bencana.

1.2 Maksud

RPB Aceh ini mempunyai maksud sebagai

a. Landasan untuk upaya penanggulangan bencana di Aceh;

b. Pedoman bagi institusi terkait dalam pelaksanaan upaya penanggulangan bencana di Aceh; dan

c. Dasar perencanaan pengembangan penanggulangan bencana di Aceh.

1.3 Tujuan

Tujuan penyusunan RPB Aceh Tahun 2012 – 2017 adalah :

a. Mempersiapkan perencanaan yang terarah, terpadu, dan terkoordinasi untuk menurunkan risiko bencana di Aceh;

b. Meningkatkan kinerja antar lembaga dan instansi penanggulangan bencana di Aceh menuju profesionalisme dengan pencapaian yang terukur dan terarah;

c. Membangun dasar yang kuat untuk kemitraan penyelenggaraan penanggulangan bencana;

d. Melindungi masyarakat di Wilayah Aceh dari ancaman bencana.

1.4 Sasaran

RPB Aceh ini mempunyai sasaran sebagai pedoman bagi pemerintah, swasta dan pemangku kepentingan lainnya dalam penyelenggaraan penanggulangan bencana di Aceh.

1.5 Kedudukan Dokumen

RPB Aceh ini merupakan bagian yang tak terpisahkan dari Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJM Aceh) yang memuat penyelenggaraan penanggulangan bencana

(18)

1.6 Pengertian

Untuk memahami Rencana Penanggulangan Bencana Aceh ini, maka disajikan pengertian- pengertian kata dan kelompok kata sebagai berikut:

1. Bencana adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan, baik oleh faktor alam dan/atau nonalam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis.

2. Rencana Penanggulangan Bencana Aceh tahun 2012-2017 yang selanjutnya disebut RPB Aceh adalah dokumen perencanaan penanggulangan bencana Aceh untuk jangka waktu tahun 2012 sampai dengan tahun 2017;

3. Penyelenggaraan penanggulangan bencana adalah serangkaian upaya pelaksanaan penanggulangan bencana mulai dari tahapan sebelum bencana, saat bencana hingga tahapan sesudah bencana yang dilakukan secara terencana, terpadu, terkoordinasi dan menyeluruh.

4. Pengurangan risiko bencana (disaster risk reduction) adalah segala tindakan yang dilakukan untuk mengurangi kerentanan dan meningkatkan kapasitas terhadap jenis bahaya tertentu atau mengurangi potensi jenis bahaya tertentu.

5. Penanggulangan bencana (disaster management) adalah upaya yang meliputi:

penetapan kebijakan pembangunan yang berisiko timbulnya bencana; pencegahan bencana, mitigasi bencana, kesiap-siagaan, tanggap darurat, rehabilitasi dan rekonstruksi.

6. Badan Penanggulangan Bencana Aceh, yang selanjutnya disingkat BPBA, adalah badan Pemerintah Aceh yang melakukan penyelenggaraan penanggulangan bencana di Aceh.

7. Status keadaan darurat bencana adalah suatu keadaan yang ditetapkan oleh pemerintah untuk jangka waktu tertentu atas dasar rekomendasi badan yang diberi tugas untuk menanggulangi bencana.

8. Korban bencana adalah orang atau kelompok orang yang menderita atau meninggal dunia akibat bencana.

9. Bahaya (hazard) adalah situasi, kondisi atau karakteristik biologis, klimatologis, geografis, geologis, sosial, ekonomi, politik, budaya dan teknologi suatu masyarakat di suatu wilayah untuk jangka waktu tertentu yang berpotensi menimbulkan korban dan kerusakan.

10. Kerentanan (vulnerability) adalah tingkat kekurangan kemampuan suatu masyarakat untuk mencegah, menjinakkan, mencapai kesiapan, dan menanggapi dampak bahaya tertentu. Kerentanan dapat berupa kerentanan fisik, ekonomi, sosial dan tabiat, yang dapat ditimbulkan oleh beragam penyebab.

(19)

11. Kemampuan (capacity) adalah penguasaan sumber-daya, cara dan kekuatan yang dimiliki penduduk, yang memungkinkan mereka untuk, mempersiapkan diri, mencegah, menjinakkan, menanggulangi, mempertahankan diri serta dengan cepat memulihkan diri dari akibat bencana.

12. Risiko (risk) bencana adalah potensi kerugian yang ditimbulkan akibat bencana pada suatu wilayah dan kurun waktu tertentu berupa kematian, luka, sakit, jiwa terancam, hilangnya rasa aman, mengungsi, kerusakan atau kehilangan harta, dan gangguan kegiatan masyarakat.

13. Pencegahan (prevention) adalah upaya yang dilakukan untuk mencegah terjadinya sebagian atau seluruh bencana.

14. Mitigasi (mitigation) adalah upaya yang dilakukan untuk mengurangi risiko bencana dengan menurunkan kerentanan dan/atau meningkatkan kemampuan menghadapi ancaman bencana.

15. Mitigasi fisik (structure mitigation) adalah upaya dilakukan untuk mengurangi risiko bencana dengan menurunkan kerentanan dan/atau meningkatkan kemampuan menghadapi ancaman bencana dengan membangun infrastruktur.

16. Mitigasi non-fisik (non structure mitigation) adalah upaya yang dilakukan untuk mengurangi risiko bencana dengan menurunkan kerentanan dan/ atau meningkatkan kemampuan menghadapi ancaman bencana dengan meningkatkan kapasitas pemerintah dan masyarakat dalam menghadapi bencana.

17. Kesiap-siagaan (preparedness) adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan untuk mengantisipasi bencana melalui pengorganisasian serta melalui langkah yang tepat guna dan berdaya guna.

18. Peringatan dini (early warning) adalah upaya pemberian peringatan sesegera mungkin kepada masyarakat tentang kemungkinan terjadinya bencana pada suatu tempat oleh lembaga yang berwenang.

19. Tanggap darurat (emergency response) bencana adalah upaya yang dilakukan dengan segera pada saat kejadian bencana untuk menangani dampak buruk yang ditimbulkan, yang meliputi kegiatan penyelamatan, evakuasi korban dan harta benda, pemenuhan kebutuhan dasar, perlindungan, pengurusan pengungsi, penyelamatan, serta pemulihan pra-sarana dan sarana.

20. Bantuan darurat (relief) bencana adalah upaya memberikan bantuan untuk memenuhi kebutuhan dasar pada saat keadaan darurat.

21. Pemulihan (recovery) adalah upaya mengembalikan kondisi masyarakat, lingkungan hidup dan pelayanan publik yang terkena bencana melalui rehabilitasi.

22. Rehabilitasi (rehabilitation) adalah perbaikan dan pemulihan semua aspek pelayanan publik atau masyarakat sampai tingkat yang memadai pada wilayah pascabencana dengan sasaran utama untuk normalisasi atau berjalannya secara wajar semua aspek pemerintahan dan kehidupan masyarakat pada wilayah pascabencana.

(20)

23. Rekonstruksi (reconstruction) adalah pembangunan kembali semua prasarana dan sarana, kelembagaan pada wilayah pascabencana, baik pada tingkat pemerintahan maupun masyarakat dengan sasaran utama tumbuh dan berkembangnya kegiatan perekonomian, sosial dan budaya, tegaknya hukum dan ketertiban, dan bangkitnya peran serta masyarakat dalam segala aspek kehidupan bermasyarakat pada wilayah pascabencana.

24. Pengungsi adalah orang atau sekelompok orang yang terpaksa atau dipaksa keluar dari tempat tinggalnya untuk jangka waktu yang belum pasti sebagai akibat dampak buruk bencana.

25. Setiap orang adalah orang perseorangan, kelompok orang, dan/atau badan hukum.

26. Prosedur tetap adalah serangkaian upaya terstruktur yang disepakati secara bersama tentang siapa berbuat apa, kapan, dimana dan bagaimana cara penanganan bencana.

27. Gagal teknologi adalah jenis ancaman bahaya yang disebabkan oleh tidak berfungsinya atau kesalahan operasi suatu media/aplikasi tertentu.

28. Sistem peringatan dini tsunami adalah serangkaian jaringan kerja berdasarkan prosedur-prosedur yang saling berkaitan untuk melakukan kegiatan pemberian peringatan sesegera mungkin dari hasil analisis dari lembaga ditingkat pusat kepada lembaga yang berwenang di daerah tentang kemungkinan terjadinya bencana tsunami pada suatu tempat.

29. Sistem penanganan darurat bencana adalah serangkaian jaringan kerja berdasarkan prosedur-prosedur yang saling berkaitan untuk melakukan kegiatan yang dilakukan dengan segera pada saat kejadian bencana untuk mengurangi dampak buruk yang ditimbulkan, yang meliputi kegiatan penyelamatan dan evakuasi korban, harta benda, pemenuhan kebutuhan dasar, perlindungan pengurusan pengungsi, penyelamatan, serta pemulihan prasarana dan sarana.

30. Non proletisi adalah bahwa dilarang menyebarkan agama atau keyakinan pada saat keadaan darurat bencana, terutama melalui pemberian bantuan dan pelayanan darurat bencana.

1.7 Landasan Hukum

RPB Aceh ini dibuat berdasarkan landasan hukum yang berlaku di Indonesia dan Aceh.

Landasan hukum tersebut adalah:

1. Undang-Undang Nomor 24 Tahun 1956 tentang Pembentukan Daerah Otonom Provinsi Atjeh dan Perubahan Pembentukan Propinsi Sumatera Utara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1956 Nomor 64, Tambahan lembaran Negara Nomor 1103);

2. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 47, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4286);

(21)

3. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 5, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4355);

4. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 104, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4421);

5. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4437) sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang- Undang Nomor 12 Tahun 2008 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 59, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4844);

6. Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2006 Nomor 62, Tambahan lembaran Negara Nomor 4633);

7. Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 66, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4723);

8. Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 12, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4725);

9. Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 84, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4739);

10. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional Tahun 2005-2015 ( Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 33, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4700);

11. Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 1988 tentang koordinasi Kegiatan Instansi Vertikal di Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1988 Nomor 10, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3733);

12. Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 140, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4578);

13. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 39 Tahun 2006 tentang Tata Cara Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2006 Nomor 96, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4663);

14. Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2008 tentang Tahapan, Tata Cara Penyusunan, Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah (Lembaran

(22)

Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 21, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4817);

15. Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2008 tentang Penyelenggaraan Penanggulangan Bencana (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 42, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4828);

16. Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 2008 tentang Pendanaan dan Pengelolaan Bantuan Bencana (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 43, Tambahan lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4829);

17. Peraturan Pemerintah Nomor 23 Tahun 2008 tentang Peran Serta Lembaga Internasional dan Lembaga Asing Non Pemerintah dalam Penanggulangan Bencana (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 44, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4830);

18. Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 48, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4833);

19. Peraturan Presiden Nomor 5 Tahun 2010 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional Tahun 2010-2014;

20. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 21 Tahun 2011 tentang Perubahan Keduan Atas Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006;

21. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 54 Tahun 2010 tentang Pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2008 tentang Tata Cara Penyusunan, Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah;

22. Peraturan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana Nomor 4 Tahun 2008 tentang Pedoman Penyusunan Rencana Penanggulangan Bencana;

23. Peraturan Daerah Propinsi Daerah Istimewa Aceh Nomor 9 Tahun 1995 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Propinsi Daerah Istimewa Aceh (Lembaran Daerah Propinsi Daerah Istimewa Aceh Tahun 1996 Nomor 150, Tambahan Lembaran Daerah Nomor 149);

24. Qanun Aceh Nomor 5 Tahun 2007 tentang Susunan Organisasi dan Tata Kerja Dinas, Lembaga Teknis Daerah dan Lembaga Daerah Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (Lembaran Daerah Propinsi Daerah Istimewa Aceh Tahun 2007 Nomor 5, Tambahan Lembaran Daerah Nomor 05);

25. Qanun Aceh Nomor 5 Tahun 2010 tentang Penanggulangan Bencana (Lembaran Daerah Aceh Tahun 2011 Nomor 02, Tambahan Lembaran Aceh Tahun 2011 Nomor 31);

(23)

26. Qanun Aceh Nomor 6 Tahun 2010 tentang Pembentukan Susunan Organisasi dan Tata Kerja Badan penanggulangan Bencana Aceh (Lembaran Daerah Aceh Tahun 2011 Nomor 03, Tambahan Lembaran Daerah Aceh Nomor 32);

27. Peraturan Gubernur Aceh Nomor 26 Tahun 2010 tentang Perubahan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh Tahun 2007-2012.

28. Peraturan Gubernur Aceh Nomor 102 tahun 2009 tentang Penetapan Susunan Organisasi dan Tata Kerja Badan Penanggulangan Bencana Aceh (Berita Daerah Aceh Tahun 2009 Nomor 86);

29. Peraturan Gubernur Aceh Nomor 07 tahun 2011 tentang Rincian Tugas Pokok dan Fungsi Pemangku Jabatan Struktural di Lingkungan Badan Penanggulangan Bencana Aceh (Berita Daerah Aceh Tahun 2011 Nomor 6);

1.8 Ruang Lingkup

RPB Aceh memuat panduan penyelenggaraan penanggulangan bencana yang disusun berdasarkan kajian risiko bencana serta kondisi terkini penyelenggaraan penanggulangan bencana di Aceh. Panduan dijabarkan dalam visi, misi, kebijakan program dan berbagai kegiatan serta alokasi anggaran yang menjadi mandat Pemerintah Aceh dalam penyelenggaraan penanggulangan bencana selama lima tahun ke depan. Selain itu panduan ini juga menjabarkan mekanisme yang mampu menjamin penerapan, pemantauan, dan evaluasi.

(24)

Gambar 1. Peta Wilayah Administratif Aceh

Gambaran Umum Kebencanaan

2.1 Gambaran Umum Wilayah

Aceh terletak di ujung barat laut Sumatera (2o- 6o Lintang Utara dan 94o-98o Bujur Timur) dengan ibukota Banda Aceh, memiliki luas wilayah 58.375,63 km2 atau 5.837.630 Ha (12,26 persen dari luas Pulau Sumatera), wilayah lautan sejauh 12 mil seluas 7.479.802 Ha dengan garis pantai 2.666,27 km. Secara administratif pada tahun 2009, Aceh memiliki 23 kabupaten/kota yang terdiri dari 18 kabupaten dan 5 kota, 276 kecamatan, 731 mukim dan 6.455 gampong atau desa. Peta Wilayah Administratif Aceh dapat dilihat pada Gambar 1 di bawah ini.

Aceh memiliki topografi datar hingga bergunung. Berdasarkan kelas topografi wilayah, yang memiliki topografi datar (0 - 2%) tersebar di sepanjang pantai barat – selatan dan pantai utara – timur sebesar 24.83 persen dari total wilayah; landai (2 – 15%) tersebar di antara Pegunungan Seulawah dengan Sungai Krueng Aceh, di bagian pantai barat – selatan dan pantai utara – timur sebesar 11,29 persen dari total wilayah; agak curam (15 - 40%) sebesar 25,82 persen dan sangat curam (> 40%) yang merupakan punggung pegunungan Seulawah, Gunung Leuser, dan bahu dari sungai-sungai yang ada sebesar 38,06 persen dari total wilayah.

Aceh memiliki 119 pulau, 35 gunung, 73 sungai besar, 2 buah danau dan sebagian besar wilayahnya merupakan kawasan hutan yang terdiri dari hutan lindung 26.440,81 Km2 dan hutan budidaya 30.924,76 Km2. Aceh mempunyai beragam kekayaan sumber daya alam antara lain : minyak dan gas bumi, pertanian, industri, perkebunan (kelapa sawit, karet, kelapa, cengkeh, kakao, kopi, dan tembakau), perikanan darat dan laut, serta pertambangan umum (logam, batu bara, emas, dan mineral lainnya).

Berdasarkan Sensus Penduduk 2010, jumlah penduduk Aceh adalah 4.486.570 jiwa yang terdiri dari 2.243.578 jiwa laki-laki dan 2.242.992 jiwa perempuan. Pada tahun 2010 kepadatan penduduk di Aceh sebesar 76 orang/km2 dengan kepadatan tertinggi adalah Kota Banda Aceh. Kepadatan penduduk Kota Banda Aceh mencapai 3.654 orang per km2,

2

(25)

periode 2005-2010 kepadatan penduduk di Aceh terus meningkat; dari 68 jiwa/km2 pada tahun 2005 naik menjadi 76 jiwa/km2 pada tahun 2010.

Evaluasi iklim mikro di Stasiun Klimatologi Indrapuri Tahun 2010 memperlihatkan jumlah penyinaran matahari rata-rata maksimum sebesar 60% terjadi di bulan Januari dan penyinaran matahari rata-rata minimum sebesar 47% terjadi di bulan Juni. Suhu udara terendah tercatat sebesar 27°C terjadi di setiap bulan dari Januari sampai dengan September kecuali pada bulan Mei dimana suhu tercatat lebih tinggi yaitu sebesar 28°C.

Kelembaban udara rata-rata maksimum terjadi di bulan September sebesar 83% dan minimum di bulan Mei sebesar 77%. Rata-rata tekanan udara terhadap permukaan laut pada bulan September 2010, tercatat sebesar 1011,0 mb pada tanggal 18 September 2010 yang merupakan rata-rata tekanan udara terendah, sedangkan rata-rata tekanan udara tertinggi tercatat pada tanggal 06, 27 dan 28 September sebesar 1012,9 mb.

Jumlah penguapan terendah yang tercatat di Stasiun Klimatologi Indrapuri pada bulan September 2010 terjadi pada tanggal 29 September 2010 dengan nilai penguapan sebesar 0,3 mm, sedangkan jumlah penguapan tertinggi terjadi pada tanggal 10 September 2010 dengan jumlah penguapan 7,0 mm.

Profil angin bulan September 2010 di Stasiun Klimatologi Indrapuri tercatat bahwa persentase kecepatan angin terbanyak adalah pada kecepatan Calm (0 Knot) sebesar 57,4% dan persentase kecepatan angin terendah pada 11-17 Knot sebesar 1,3%.

Sedangkan persentase arah angin terbanyak pada bulan Agustus 2010 didominasi arah dari barat laut sebanyak 8 % dan arah angin terendah dari timur laut dengan persentase sebesar < 1,4%.

2.2 Sejarah Kejadian Bencana

Sejarah bencana yang pernah terjadi di Aceh merupakan bencana alam dan non alam serta bencana sosial akibat ulah manusia. Terdapat 11 potensi bencana yang teridentifikasi berdasarkan sejarah kejadiannya. Potensi bencana tersebut dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Potensi Bencana Aceh

POTENSI BENCANA ACEH

BERDASARKAN CATATAN SEJARAH

1. Gempa bumi 7. Kekeringan 2. Tsunami 8. Puting beliung

3. Banjir 9. Konflik

4. Letusan gunungapi 10. Kejadian Luar Biasa 5. Longsor 11. Kegagalan teknologi

dan kebakaran 6. Abrasi, erosi dan

sedimentasi

2 . 2 . 1 G e m p a B u m i

Beberapa kejadian gempa besar tercatat pernah terjadi di Aceh dan menimbulkan kerugian korban jiwa atau kerusakan terjadi pada tahun 1936, 1983, 1998, 2000, 2004, 2005, 2008

(26)

dan 2009 di kabupaten/kota Banda Aceh, Aceh Besar, Pidie, Aceh Utara, Aceh Timur, Simeulue, Aceh Singkil, Aceh Selatan, Aceh Barat, Aceh Tengah dan Aceh Tenggara.

Aktivitas kegempaan di Aceh bukanlah suatu hal yang luar biasa, karena Aceh memang berada di jalur gempa. Berdasarkan sejarah kegempaan selama 30 tahun terakhir, tercatat telah terjadi 100 kali gempa berskala 5 Skala Richter (SR) atau lebih. Pusat gempa terbanyak terdapat di sepanjang laut sebelah timur Aceh, dimana tercatat 15 kali gempa dengan skala lebih besar dari 7 SR terjadi di laut, dan enam kali terjadi di daratan sepanjang Patahan Sumatera yang melintasi Aceh. Keseluruhan gempa tersebut memiliki ciri kedalaman yang dangkal. Gempa berskala menengah terjadi 27 kali di sepanjang laut Aceh dan 25 kali terjadi di daratan. Sebagian besar gempa-gempa tersebut berkedudukan di laut sekitar Pulau Simeulue dan Bukit Barisan berarah barat daya-timur laut dan menerus sampai ke lautan di Kepulauan Andaman dan Birma (Myanmar). Gempa 26 Desember 2004 berskala 9,2 SR dengan kedalaman 30 km dengan pusat gempa berada pada 225 km di selatan Kota Banda Aceh merupakan gempa terbesar yang pernah terjadi di daerah ini sesudah tahun 1900.

Gempa bumi 5,0 SR mengguncang Kabupaten Aceh Tengah pada Kamis malam tanggal 28 Januari 2010 sekitar pukul 23.12 WIB. Gempa dirasakan beberapa detik dengan 4 kali getaran kuat yang menyebabkan warga keluar rumah dan panik. Kerusakan terparah terdapat di 3 kecamatan, yaitu Ketol, Kutepanang dan Silihnara. Sebanyak 602 rumah, 31 sarana pendidikan, 22 rumah ibadah dan 13 fasilitas kesehatan rusak berat akibat kejadian bencana ini.

Gambar 2. Peta Seismotektonik Aceh

(27)

Dari Peta Seismotektonik Aceh seperti terlihat pada Gambar 2, yang dihasilkan dengan Probabilistic Seismic Hazard Analysis (PSHA), terlihat ada beberapa daerah yang memiliki tingkat bahaya kegempaan tinggi dengan besaran PeakGround Acceleration (PGA) antara 0.3 – 0.4 g. Daerah yang dikategorikan memiliki potensi gempa bumi tinggi adalah kabupaten/kota Banda Aceh, Aceh Besar, Aceh Jaya, Aceh Barat, Aceh Tengah, Aceh Barat Daya, Aceh Selatan dan Simeulu.

2 . 2 . 2 T s u n a m i

Berdasarkan catatan sejarah, Aceh pernah mengalami bencana tsunami pada tahun 1797, 1891, 1907 dan 2004. Bencana Tsunami 26 Desember 2004 mengakibatkan 126.915 jiwa meninggal, 37.063 jiwa hilang, lebih kurang 100.000 jiwa menderita luka berat maupun luka ringan dan 517.000 unit rumah rusak dan melanda seluruh kabupaten/kota di wilayah pesisir Aceh terutama pantai barat.

2 . 2 . 3 B a n j i r

Hampir seluruh wilayah Aceh pernah mengalami banjir, baik itu banjir genangan maupun banjir bandang.

Banjir bandang pada bulan Oktober 2005 di Kecamatan Semadam Aceh Tenggara mengakibatkan 15 orang meninggal dan puluhan rumah rusak.. Banjir pada bulan Desember 2006 di wilayah pantai utara dan timur Aceh mengakibatkan 38 orang meninggal, 5 di kabupaten Aceh Utara, 5 orang di kabupaten Aceh Timur dan 28 orang korban di Aceh Tamiang serta ratusan rumah rusak. Banjir bandang pada tanggal 11 Maret 2011 di Kecamatan Tangse, Pidie mengakibatkan 12 orang meninggal, dan 174 unit rumah hancur.

2 . 2 . 4 L e t u s a n G u n u n g a p i

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana, mencatat ada 3 letusan gunungapi aktif type A (pernah mengalami letusan / erupasi sedikitnya 1 kali sesudah tahun 1600) di Aceh yang pernah terjadi yaitu : Gunung Peut Sagoe tahun 1919, 1920, 1978, 1998; Gunung Burni Telong tahun 1837, 1839, 1856, 1919, dan 1924; Gunung Seulawah Agam tahun 1600, 1839 dan 1975. Semua kejadian letusan gunungapi tersebut tidak ada korban jiwa.

2 . 2 . 5 L o n g s o r

Tanah longsor di Aceh pernah terjadi di Sabang, Subulussalam, Bireuen, Nagan Raya, Aceh Barat, Aceh Selatan, Pidie, Aceh Utara, Aceh Tengah, Gayo Lues, Bener Meriah, Aceh Barat Daya, dan Aceh Timur.

Kejadian tanah longsor pada Rabu 12 April 2005 pukul 18.15 WIB di Kecamatan Silihnara, Kabupaten Aceh Tengah dipicu hHujan deras selama dua jam mengakibatkan runtuhnya material tanah ke permukiman warga. Dalam kejadian ini 2 orang penduduk meninggal dunia dan 20 unit rumah rusak dengan rincian 3 unit hancur total, 6 unit rusak parah, dan 11 unit rusak ringan.

(28)

2 . 2 . 6 A b r a s i , E r o s i d a n S e d i m e n t a s i

Kejadian abrasi yang terjadi di beberapa wilayah di Aceh sudah mulai menunjukkan dampak kerugian yang besar dengan rusaknya aset dan fasilitas masyarakat dan pemerintah.

Pada tanggal 25 Februari 2010 abrasi pantai yang terjadi di Dusun Cot Me dan Ulee Uteun, Desa Kuala Keureutoe Timu, Kecamatan Lapang, Aceh Utara, sudah mencapai 200 m.

Sekitar 50 kk terpaksa membongkar rumah dan pindah ke dusun lain. Air laut menggenangi areal persawahan serta kebun warga yang ditanami palawija dan tanaman keras..

Pada tanggal 2 Agustus 2010 abrasi yang terjadi di Gampong Telaga Tujoh atau Pulau Pusong, Kecamatan Langsa Barat, telah membuat 7 unit rumah warga digerus air laut, sebuah mesjid terancam abrasi dan memaksa 20 kk mengungsi.

2 . 2 . 7 K e k e r i n g a n

Daerah-daerah yang sering mengalami kekeringan berada di beberapa kabupaten/kota yaitu Aceh Besar, Pidie, Pidie Jaya, Bireuen, Aceh Utara, Lhokseumawe, Aceh Timur, dan Aceh Tamiang. Meskipun hingga saat ini belum tercatat jumlah korban jiwa akibat bencana kekeringan di Aceh, namun dampak kekeringan cukup berkontribusi terhadap produktifitas pertanian dan perekonomian masyarakat.

Pada tahun 2008 kekeringan yang melanda Aceh Utara menyebabkan ribuan hektar sawah puso. Tanah pecah-pecah dengan retakan sedalam setengah hingga satu meter. Akibat ketiadaan irigasi, tanaman tidak dapat hidup, sedangkan hewan ternak sulit memperoleh air. Ribuan petani di Kecamatan Peureulak Timur terancam kelaparan. Kekeringan yang berkepanjangan memaksa sejumlah petani meninggalkan ladang mereka dan beralih menjadi penebang kayu di hutan untuk menyambung hidup.

Pada Maret 2010 dua unit bendungan di Desa Blang Puuk Nigan, Kecamatan Seunagan hancur terkena banjir. Sekitar 200 hektar sawah di enam desa di Kecamatan Seunagan, Kabupaten Nagan Raya terancam kekeringan. Sebagian besar lahan sawah telah ditanami padi, sehingga jika kekeringan berkepanjangan dikhawatirkan akan mengakibatkan gagal panen. Para petani hanya menggantungkan air dari hujan untuk mengairi sawah dan ladang.

2 . 2 . 8 P u t i n g B e l i u n g

Puting beliung pernah dialami oleh seluruh kabupaten kota yang ada di Aceh. Meski kejadian puting beliung sering ditemui, namun hingga saat ini masih sulit diprediksi lokasi dan waktu kejadiannya serta belum menimbulkan dampak kerugian yang signifikan.

Pada Rabu malam tanggal 22 Juli 2009 angin puting beliung memporakporandakan sejumlah gampong di 4 kecamatan di Kabupaten Aceh Utara. Kejadian ini menyebabkan 3 orang cedera dan 3 rumah rusak di Desa Paya Bili, 2 rumah rusak di Desa Mesjid, 2 rumah tertimpa pohon kelapa di Desa Mei, belasan tiang listrik patah akibat tertimpa pohon tumbang di Desa Ujung Reba dan Paya Reba.

(29)

2 . 2 . 9 K o n f l i k

Aceh mempunyai sejarah panjang terkait konflik antar kelompok dan atau antar golongan masyarakat. Konflik yang pernah terjadi di Aceh Seperti Perang Cumbok (1945-1946), Pemberontakan DI/TII (1953-1962) dan juga yang paling lama adalah Gerakan Aceh Merdeka (1976-2005). Dari ketiga konflik yang terjadi di Aceh hampir semuanya dilatar belakangi perbedaan pandangan politik.

Konflik bersenjata yang terjadi di Aceh pada dekade terakhir ditandai dengan kekerasan fisik dan psikis yang mengakibatkan korban jiwa, harta, dan hancurnya sendi-sendi sosial masyarakat. Korban konflik di Aceh tercatat sebanyak 22.353 orang meninggal, 14.932 orang cacat, 29.376 rumah terbakar serta rusaknya fasilitas sarana dan prasarana pemerintah.

2 . 2 . 1 0 K e j a d i a n L u a r B i a s a

Beberapa penyakit menular dan tidak menular yang menonjol di Aceh dalam lima tahun terakhir adalah dugaan Rabies, Busung Lapar, Tetanus Neonatorum, Chikungunya, Campak, Diare, Malaria, DBD, Flu H1N1(Flu Meksiko), HIV/AIDS dan Keracunan Makanan.

Data Dinas Kesehatan Aceh 2007 menunjukkan semua kabupaten/kota merupakan daerah yang rawan diare bagi balita terutama untuk daerah Pidie, Aceh Utara, Bireuen, Aceh Timur, Aceh Tengah, Aceh Tamiang dan Lhokseumawe. Jumlah penderita Diare pada tahun tersebut adalah 100.789 orang dengan jumlah kasus diare pada balita sebanyak 45.157 orang.

Untuk Kejadian Luar Biasa Demam Berdarah Dengue (DBD) pada tahun 2007 adalah sebanyak 1.724 kasus dengan sebaran di 16 kabupaten/kota.

Penyakit tumbuhan dan ternak dapat menimbulkan kerugian yang sangat besar terhadap penghasilan dan kesehatan masyarakat. Kerugian ini selain disebabkan karena dapat menimbulkan gangguan terhadap konsumen dengan adanya bakteri, racun dan virus yang dihasilkan oleh mikroorganisme juga disebabkan karena hilangnya / berkurangnya pendapatan masyarakat.

Potensi timbulnya penyakit tanaman dan ternak disebabkan oleh perubahan cuaca yang mengganggunya stabilitas rantai makanan serta resistensi hama dan penyakit akibat penggunaan bahan kimia yang berlebihan.

2 . 2 . 1 1 K e g a g a l a n T e k n o l o g i d a n K e b a k a r a n

a . K e g a g a l a n T e k n o l o g i

Catatan sejarah menyebutkan Kapal Motor Penumpang (KMP) GURITA tenggelam di Perairan Sabang pada tanggal 19 Januari 1996 pukul 20.30 WIB disebabkan kelebihan muatan. Kapasitas angkut penumpang yang hanya 210 orang dipaksakan untuk mengangkut 378 orang. Hanya 40 orang yang selamat, sedangkan 54 orang meninggal dunia,dan 284 orang dinyatakan hilang.

(30)

b . K e b a k a r a n

Jumlah titik api (hot spot) sesuai dengan data yang dihimpun oleh WALHI Aceh menunjukkan adanya kebakaran ladang dan hutan di Aceh mulai Juni 2007 hingga Desember 2009 adalah sebanyak 1.196. Jumlah titik api di luar kawasan hutan tercatat sebanyak 1.112 titik sedangkan dalam kawasan hutan sebanyak 84 titik. Angka ini terbanyak kedua untuk provinsi di Pulau Sumatera. Titik api tersebut terdapat di Kabupaten Aceh Barat, Aceh Jaya, Nagan Raya, Singkil, dan Aceh Tengah.

Kebakaran lahan gambut juga sering terjadi, salah satu kejadian adalah kebakaran lahan gambut di Aceh Barat tanggal 16 Januari 2009 yang mengakibatkan 500 Ha lahan hangus terbakar dan sekitar 200 kk mengungsi.

Di samping kebakaran lahan dan hutan, Aceh juga mengalami frekwensi kebakaran

pemukiman yang cukup tinggi. Kejadian kebakaran di Sinabang pada tanggal 23 Februari 2009 pukul 16.20 WIB menghanguskan 28 toko, 12 rumah

penduduk, 3 bengkel, 1 mesjid dan 1 balai pemuda.

(31)

Pengkajian Risiko Bencana

Bencana akan terjadi dan menimbulkan dampak kerugian bila skala dari ancaman terlalu tinggi, kerentanan terlalu besar, dan kapasitas serta kesiapan yang dimiliki masyarakat atau pemerintah tidak cukup memadai untuk mengatasinya. Ancaman atau bahaya tidak akan menjadi bencana apabila kejadian tersebut tidak menimbulkan kerugian baik fisik maupun korban jiwa. Secara teknis, bencana terjadi karena adanya ancaman dan kerentanan yang bekerjasama secara sistematis serta dipicu oleh faktor-faktor luar sehingga menjadikan potensi ancaman yang tersembunyi muncul ke permukaan sebagai ancaman nyata.

Nilai risiko bencana tergantung dari besarnya ancaman dan kerentanan yang berinteraksi.

Interaksi ancaman, kerentanan dan faktor - faktor luar menjadi dasar untuk melakukan pengkajian risiko bencana terhadap suatu daerah. Kajian risiko bencana menjadi landasan untuk memilih strategi yang dinilai mampu mengurangi risiko bencana.

Kajian risiko bencana dilakukan dengan melakukan identifikasi, klasifikasi dan evaluasi risiko melalui beberapa langkah, yaitu :

1. Pengkajian Ancaman;

Pengkajian ancaman dimaknai sebagai cara untuk memahami unsur-unsur ancaman yang berisiko bagi daerah dan masyarakat. Karakter-karakter ancaman pada suatu daerah dan masyarakatnya berbeda dengan daerah dan masyarakat lain. Pengkajian karakter ancaman dilakukan sesuai tingkatan yang diperlukan dengan mengidentifikasikan unsur-unsur berisiko oleh berbagai ancaman di lokasi tertentu.

2. Pengkajian Kerentanan;

Pengkajian kerentanan dapat dilakukan dengan menganalisa kondisi dan karakteristik suatu masyarakat dan lokasi penghidupan mereka untuk menentukan faktor-faktor yang dapat mengurangi kemampuan masyarakat dalam menghadapi bencana.

Kerentanan dapat ditentukan dengan mengkaji aspek keamanan lokasi penghidupan mereka atau kondisi-kondisi yang diakibatkan oleh faktor-faktor atau proses-proses fisik, sosial ekonomi dan lingkungan hidup yang bisa meningkatkan kerawanan suatu masyarakat terhadap ancaman dan dampak bencana.

3. Pengkajian Kapasitas;

Pengkajian kapasitas dilakukan dengan mengidentifikasikan status kemampuan individu, masyarakat, lembaga pemerintah atau non pemerintah dan aktor lain dalam menangani ancaman dengan sumber daya yang tersedia untuk melakukan tindakan

3

(32)

pencegahan, mitigasi, dan mempersiapkan penanganan darurat, serta menangani kerentanan yang ada dengan kapasitas yang dimiliki oleh masyarakat tersebut.

4. Pengkajian dan Pemeringkatan Risiko;

Pengkajian dan pemeringkatan risiko merupakan pengemasan hasil pengkajian ancaman, kerentanan dan kemampuan/ketahanan suatu daerah terhadap bencana untuk menentukan skala prioritas tindakan yang dibuat dalam bentuk rencana kerja dan rekomendasi guna meredam risiko bencana.

3.1 Ancaman

3 . 1 . 1 G e m p a B u m i

Penyebab terjadinya gempa bumi merupakan proses tektonik akibat pergerakan kulit/lempeng bumi, aktivitas sesar dipermukaan bumi, pergerakan geomorphologi secara lokal (runtuhan tanah), aktivitas gunung api, dan ledakan nuklir

Gempa bumi diakibatkan aktivitas zona penunjaman (subduction) dan sesar aktif yang terdapat di darat maupun di laut. Pulau Sumatera merupakan bagian tepi barat daya- selatan dari Lempeng Benua Eurasia yang berinteraksi dengan Lempeng Samudera Indo- Australia. Gerakan lempeng tersebut telah menghasilkan bentuk-bentuk gabungan penunjaman dan sesar mendatar dekstral. Penunjaman yang terjadi di bawah Pulau Sumatera mengakibatkan terbentuknya jalur busur magma yaitu Pegunungan Bukit Barisan. Penunjaman yang terbentuk secara berkala telah dilepaskan melalui sesar transform yang sejajar dengan tepian lempeng dan terpusat di sepanjang Sistem Sesar Sumatera (Sumatera Fault System) yang membentang sepanjang Sumatera.

Sistem Sesar Sumatera yang berarah barat laut - tenggara, membentang mulai dari Pulau Weh di Aceh sampai Teluk Semangko di Lampung. Sistem Sesar Sumatera ini paling sedikit tersusun oleh 8 segmen sesar berarah orientasi barat laut-tenggara dengan pergerakan yang menganan (dextral), yaitu Patahan Lokop-Kutacane, Patahan Blangkeujeren-Mamas, Patahan Kla-Alas, Patahan Reunget-Blangkeujeren, Patahan Anu-Batee, Patahan Samalanga-Sipopoh, Patahan Banda Aceh-Anu, Patahan Lamteuba-Baro. Khusus untuk Kota Banda Aceh dan Kabupaten Aceh Besar dihimpit oleh dua patahan aktif, yaitu segmen Seulimum dan Segmen Aceh. Patahan-patahan tersebut menyimpan energi yang besar dan jika energi tersebut dilepaskan akan menimbulkan gempa bumi.

Komponen merusak gempa bumi berbentuk getaran dan amblasan. Tingkat daya rusak gempa bumi tergantung dari intensitas, lama kejadian, jarak pusat gempa, kondisi geologi setempat, dan kondisi bangunan setempat. Mekanisme perusakan terjadi karena energi getaran gempa dirambatkan ke seluruh bagian bumi. Di permukaan bumi, getaran tersebut dapat menyebabkan kerusakan dan runtuhnya bangunan dan dapat memicu terjadinya tanah longsor, permukaan tanah yang terbelah, runtuhan batuan, dan kerusakan tanah lainnya yang merusak pemukiman penduduk serta memicu terjadinya tsunami.

Berdasarkan Peta Seismotektonik Aceh pada Gambar 2, diperoleh Peta Potensi Bencana Gempa bumi Aceh seperti yang terlihat pada Gambar 3.

(33)

Gambar 3. Peta Potensi Bencana Gempa Bumi Aceh

3 . 1 . 2 T s u n a m i

Tsunami adalah kejadian alam dimana suatu rangkaian gelombang terjadi ketika air di danau atau laut berpindah dengan cepat dalam satu skala yang sangat besar akibat gempa bumi, tanah longsor, erupsi gunungapi dan tumbukan meteorit.

Penyebab utama terjadinya tsunami adalah gempa bumi yang diikuti dengan dislokasi/perpindahan massa tanah/batuan yang sangat besar di bawah air (laut/danau), tanah longsor di dalam laut, dan meletusnya gunungapi bawah laut atau gunung api pulau.

Ancaman tsunami dapat dikelompokan menjadi 2 bagian yaitu ancaman tsunami jarak dekat (lokal) dan ancaman tsunami jarak jauh. Kejadian tsunami di Aceh pada 26 Desember 2004 adalah tsunami lokal yang terjadi sekitar 10 - 20 menit setelah terjadinya gempa bumi yang dirasakan oleh masyarakat setempat. Sedangkan tsunami jarak jauh bisa terjadi dalam rentang 1 - 22 jam setelah gempa atau letusan gunungapi dimana masyarakat setempat tidak merasakan atau melihat langsung penyebabnya.

Mengingat keberadaan wilayah Aceh di atas tumbukan lempeng dan patahan sumatera, serta di pesisir pantai, maka potensi ini masih akan terjadi di wilayah Kabupaten : Kota Sabang, Kota Banda Aceh, Kabupaten Aceh Besar, Kabupaten Pidie Jaya, Kabupaten Pidie, Kabupaten Aceh Jaya, Kabupaten Aceh Barat, Kabupaten Nagan Raya, Kabupaten Aceh Barat Daya, Kabupaten Aceh Selatan, Kota Lhokseumawe, Kabupaten Aceh Utara,

(34)

Kabupaten Singkil dan Kabupaten Simeuleu. Aceh Tengah memiliki potensi tsunami disebabkan adanya Danau Laut Tawar. Peta Potensi Bencana Tsunami Aceh diperlihatkan pada Gambar 4.

Gambar 4. Peta Potensi Bencana Tsunami Aceh

3 . 1 . 3 B a n j i r

Banjir merupakan peristiwa terbenamnya daratan karena peningkatan volume air akibat hujan deras, luapan air sungai atau pecahnya bendungan. Banjir bisa terjadi saat curah hujan normal karena buruknya daya serap tanah terhadap air atau saat jumlah curah hujan di atas normal dan melebihi daya serap tanah. Ada beberapa jenis banjir, antara lain adalah banjir bandang dan banjir genangan.

Banjir bandang umumnya terjadi pada sungai dengan kemiringan dasar sungai yang curam. Aliran banjir bandang tinggi, sangat cepat dan limpasannya dapat membawa batu besar, bongkahan tanah, lumpur dan material lain yang merusak dan menghanyutkan apa saja yang berada di jalurnya, namun tinggi dan kecepatan air tidak bertahan lama.

Banjir genangan terjadi saat tinggi air melebihi muka air normal sungai dan menyebabkan genangan air di lahan rendah di sepanjang sisi sungai. Banjir berasal dari Daerah Aliran Sungai (DAS) yang didahului oleh curah hujan yang tinggi dan menyebabkan genangan air yang luas dengan ketinggian air minimal 1 meter dan kehadirannya dapat diprediksi.

Sumber utama penyebab banjir biasanya berkaitan dengan buruknya pengelolaan tutupan

(35)

Aceh mempunyai 11 Wilayah Sungai (WS) yakni Krueng Aceh, Krueng Mereudu-Baro, Krueng Pase-Peusangan, Krueng Jambo Aye, Krueng Tamiang Langsa, Krueng Teunom Lambeuso, Woyla-Seunagan, Krueng Tripa-Batee, Krueng Baroe-Kluet, Pulau Simeulue dan Alas-Singkil dengan 34 DAS dan 298 sungai yang tersebar di seluruh kabupaten/kota di Aceh. Krueng Aceh merupakan sungai dengan terpanjang dan terluas di Aceh. Untuk lebih jelas data WS ditampilkan dalam Tabel 2.

Tabel 2. Wilayah Sungai (WS) Provinsi Aceh

Ancaman banjir berpotensi terjadi karena Aceh memiliki DAS yang tersebar di semua wilayah Aceh. DAS yang ada saat ini sebagian besar tidak mampu lagi menampung debit air sehingga terjadi luapan air yang menggenangi daerah sepanjang sungai. Hal ini terjadi karena adanya peningkatan curah hujan akibat perubahan iklim, adanya alih fungsi lahan hutan yang tidak terkontrol dan pemanfaatan DAS sebagai kawasan budidaya.

Berkurangnya daerah resapan dan daerah terbuka hijau di kawasan permukiman/perkotaan turut berkontribusi menambah potensi ancaman banjir. Aceh diperkirakan akan mengalami peningkatan bencana banjir dalam kurun waktu 5 (lima) tahun ke depan. Peta Potensi Bencana Banjir Aceh dapat dilihat pada Gambar 5.

3 . 1 . 4 L e t u s a n G u n u n g a p i

Letusan gunungapi merupakan bagian dari aktifitas vulkanik yang dikenal dengan istilah erupsi. Hampir semua aktifitas gunungapi berkaitan dengan zona penunjaman lempeng dan kegempaan aktif. Ujung lempeng yang menunjam hingga kedalaman 125 km akan mengalami pelelehan sehingga membentuk embrio kantung-kantung magma sedangkan zona kegempaan aktif berhubungan dengan kegiatan yang terjadi di batas lempeng. Pada batas lempeng terjadi peningkatan tekanan dan suhu yang sangat tinggi sehingga mampu melelehkan material di sekitar batas lempeng. Material lelehan (magma) yang bertekanan dan bersuhu tinggi ini selanjutnya akan mengintrusi batuan atau tanah di sekitarnya melalui rekahan-rekahan mendekati permukaan bumi.

NO NAMA WILAYAH SUNGAI DAS KETERANGAN

1 2 3 4

1 Alas Singkil Lae Pardomuan, Lae Silabuhan, Lae Saragian, Lae

Singki, L.Kuala Baru Lintas Provinsi; Aceh-Sumatera Utara 2 Meureudu-Baro Meureudu, Baro, Tiro, Pante Raja, Utue, Putu,

Trienggadeng, Pangwa,Beuracan,Batee Strategis Nasional; Aceh

3 Jamboe Aye

Jambo Aye, Geuruntang, Reungget, Lueng, Simpang Ulim, Malehan, Julok Rayeuk, Keumuning, Ganding Idi Rayeuk, Lancang, Jeungki, Peundawa Rayeuk, Peureulak, Peundawa Puntong, Leugo Rayeuk.

Strategis Nasional; Aceh

4 Woyla-Seunagan Woyla-seunagan Strategis Nasional; Aceh

5 Tripa-Bateutue Tripa-Bateutue Strategis Nasional; Aceh

6 Krueng Aceh Aceh, Raya, Teungku, Batee Lintas Kabupaten/Kota

7 Pase-Peusangan Pase, Peusangan, Peudada, Keureuto, Mane,

Geukeuh Lintas Kabupaten/Kota

8 Tamiang-Langsa Tamiang, Langsa, Raya, Telaga Muku, Bayeuen Lintas Kabupaten/Kota 9 Teunom-Lambeusoi Teunom, Lambeusoi,Bubon, Sabe, Masen, Inong Lintas Kabupaten/Kota

10 Krueng Baru-Kluet Krueng Baru-Kluet Lintas Kabupaten/Kota

11 Pulau Simeulue Sungai-sungai di Pulau Simeulue Dalam Satu Kabupaten

Sumber: Permen PU No.11A/PRT/M/2006 dan Renstra SDA Prov Aceh 2007-2012

(36)

Gambar 5. Peta Genangan Banjir Aceh

Bahaya yang ditimbulkan akibat letusan gunung api dapat dibagi menjadi dua; bahaya langsung (primer) dan ikutan (sekunder). Bahaya langsung adalah bahaya pada saat letusan sedang berlangsung, seperti awan panas, lontaran batu, hujan abu, dan gas beracun sedangkan bahaya ikutan (sekunder) adalah bahaya yang timbul sebagai dampak dari letusan seperti lahar dingin dan tsunami. Lahar dingin adalah material abu dan batu yang terbawa air hujan dan mengalir melalui sungai atau jalan air lainnya. Lahar dingin bisa mendangkalkan sungai dan mengakibatkan banjir lumpur yang bisa merusak aset daerah.

Ancaman letusan gunungapi di Aceh masih berpotensi karena dalam wilayah administrasi Aceh terdapat tiga gunungapi dengan tipe A. Ketiga gunungapi tersebut adalah Gunungapi Seulawah Agam, Gunungapi Burni Telong, dan Gunungapi Peut Sagoe. Saat ini status ketiga gunung api tersebut di atasa adalah aktif normal kecuali Gunungapi Seulawah Agam yang berstatus waspada. Gambar 6 memperlihatkan Peta Potensi Bencana Gunung Api di Aceh.

Peta Potensi Bencana Gunung Api di Aceh ini disusun berdasarkan Peta kawasan rawan bencana yang diterbitkan oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Bandung yang juga bertanggung jawab dalam memberikan informasi terkait kemungkinan terjadinya letusan gunungapi .

(37)

Gambar 6. Peta Potensi Bencana Gunung Api di Aceh

3 . 1 . 5 L o n g s o r

Ada 5 kondisi yang menjadi penentu terjadinya bencana longsor, yaitu kondisi geomorfologi, geologi, tanah atau batuan penyusun lereng, iklim, dan hidrologi lereng.

Aceh terdiri dari wilayah-wilayah yang sebagian besar merupakan perbukitan atau penggunungan sehingga banyak dijumpai lahan miring ataupun bergelombang. Lereng pada lahan miring ini berpotensi mengalami gerakan massa tanah atau batuan. Wilayah Aceh juga memiliki kondisi geologi yang dinamis karena adanya pergerakan Lempeng Samudera Australia yang menunjam di bawah Lempeng Benua Eurasia.

Temperatur dan curah hujan tinggi sangat mendukung terjadinya proses pelapukan batuan menjadi tanah pada lereng, akibatnya lereng akan tersusun oleh lapisan tumpukan tanah tebal yang relatif lebih rentan terhadap gerakan tanah. Getaran gempa bumi atau letusan gunungapi bisa menyebabkan terlepasnya lapisan bumi paling atas seperti bebatuan dan / atau tanah dari bagian utama gunung atau bukit.

Tanda-tanda terjadinya longsor dapat dilihat dari beberapa parameter; antara lain timbulnya keretakan pada tanah di lereng bukit atau gunung, runtuhnya bagian-bagian tanah dan batu dalam jumlah besar atau jumlah kecil dengan intensitas sering, adanya suara gemuruh dan tanda-tanda lain yang menunjukkan adanya penurunan kualitas landskap dan ekosistem. Kabupaten/kota yang diprediksi masih akan mengalami ancaman kejadian ini adalah: Sabang, Pidie, Aceh Tengah, Aceh Selatan, Aceh Barat, Bener Meriah,

(38)

Gambar 7. Peta Potensi Bencana Tanah Longsor

3 . 1 . 6 A b r a s i , E r o s i d a n S e d i m e n t a s i

Abrasi merupakan mundurnya garis pantai/garis tepi sungai akibat tergerus gelombang laut atau arus sungai sehingga berkurangnya luas daratan dan rusak/hilangnya aset wilayah seperti pemukiman, kawasan wisata, pertambakan maupun pelabuhan.

Erosi lahan merupakan proses yang menyebabkan tergerusnya atau terkikisnya lapisan tanah (perpindahan sedimen negatif). Erosi lahan sangat dipengaruhi oleh curah hujan, kemiringan lereng, jenis tanah dan porositas tanah disuatu kawasan. Jika tutupan lahan sangat minim maka tingkat erosi lahan sangat tinggi. Erosi lahan dapat mengakibatkan terjadinya sedimentasi muara sungai dan berkurangnya luas lahan.

Sedimentasi adalah jenis ancaman yang diakibatkan oleh proses pengendapan sejumlah material di suatu tempat aliran air sehingga tidak mampu berpindah ke tempat lain.

Biasanya sedimentasi terjadi di muara sungai sebagai akibat hidrodinamika aliran sungai dan pantai. Pergerakan sedimen di air yang dapat merusak ekosistem merupakan proses hidrodinamis dengan bantuan angin, air atau es, menyebabkan bergeraknya sedimen dari satu lokasi ke lokasi lain.

Aktifitas angkutan sedimen sangat berkaitan dengan kondisi dan aktifitas di dalam DAS serta morfologi sungai atau pantai. Karena itu, buruknya pengelolaan DAS ditambah ekstrimnya morfologi suatu badan air akan semakin mempertinggi aktifitas erosi, abrasi dan

(39)

Mengingat mayoritas aktifitas perikanan di Aceh berada di muara sungai, maka sedimentasi akan mengganggu perekonomian, jalur pelayaran, rusaknya ekosistem terutama terumbu karang dan transportasi di kawasan tersebut

Di Aceh, abrasi pantai dan gelombang pasang sering terjadi di wilayah Lhokseumawe, Aceh Utara, Aceh Barat, Aceh Selatan, Aceh Barat Daya, Pidie, Pidie Jaya dan Singkil. Pantai Ujong Blang di Kota Lhokseumawe adalah perkampungan yang termasuk sering mengalami bencana abrasi. Peta Ancaman Bencana Abrasi Aceh dapat dilihat pada Gambar 8.

Kejadian erosi lahan masih ditemui di Aceh Tenggara (Sungai Lawe Alas), Aceh Tengah (Kawasan Danau Laut Tawar), Aceh Tamiang (Krueng Tamiang), Aceh Utara (Krueng Pase), Bireuen (Krueng Peusangan), Aceh Besar (Krueng Aceh), Pidie (Krueng Tiro, Krueng Baro), Pidie Jaya (Krueng Beuracan), Aceh Barat (Krueng Meureubo), dan Nagan Raya (Krueng Tripa).

Beberapa DAS yang mengalami dampak besar sedimentasi adalah DAS Krueng Aceh, Krueng Peusangan, Sungai Tamiang dan Krueng Meurebo. Sedimentasi juga terjadi di danau-danau yang ada di Aceh.

3 . 1 . 7 K e k e r i n g a n

Kekeringan merupakan periode kekurangan air dengan durasi dari beberapa bulan hingga beberapa tahun. Hal ini terjadi akibat curah hujan di suatu kawasan jauh dibawah curah hujan normal dalam waktu lama. Bencana ini dipicu oleh perubahan siklus iklim global yang ditandai dengan meningkatnya temperatur rata-rata atmosfir, laut, dan daratan.

Kekeringan menimbulkan dampak yang amat luas, kompleks, dan juga dalam rentang waktu panjang, baik pada saat ataupun setelah berakhirnya kekeringan. Dampak yang luas dan berlangsung lama akibat kekerengin karena air merupakan kebutuhan pokok dan vital bagi seluruh makhluk hidup dan tidak tergantikan oleh sumber daya lain.

Adapun daerah yang sering kali mengalami kekeringan terdapat di beberapa daerah di kabupaten/kota Aceh Besar, Pidie, Pidie Jaya, Bireuen, Aceh Utara, Lhokseumawe, Aceh Timur, dan Aceh Tamiang. Meskipun hingga saat ini belum tercatat jumlah korban jiwa akibat bencana kekeringan di Aceh, namun dampak kekeringan cukup berkontribusi terhadap produktifitas pertanian dan ketahanan pangan. Peta Potensi Bencana Kekeringan dapat dilihat pada Gambar 9.

(40)

Gambar 8. Peta Potensi Bencana Abrasi Pantai

Gambar 9. Peta Potensi Bencana Kekeringan

(41)

3 . 1 . 8 P u t i n g B e l i u n g

Puting beliung adalah angin yang berputar dengan kecepatan lebih dari 60 km/jam. Durasi puting beliung biasanya adalah 5 hingga 10 menit. Dampak puting beliung terasa di wilayah yang kecil akibat tekanan udara negatif yang tiba-tiba dan ekstrim di kawasan tersebut. Awan Cumulusnimbus (Cb) menjadi gejala atmosferik utama kejadian puting beliung.

Beberapa gejala alam yang sering menandai munculnya puting beliung adalah udara terasa panas dan gerah, terlihat adanya pertumbuhan awan putih bergerombol yang berlapis-lapis (Cumulusnimbus), awan kemudian berubah warna dari putih menjadi hitam, dan angin bertiup kencang secara tiba-tiba. Karakter penting bencana puting beliung adalah pusarannya berbentuk mirip belalai gajah, terjadi tiba-tiba, biasanya terjadi di daerah dataran rendah dan waktu kejadian sebagian besar terjadi di malam hari.

Selain puting beliung, badai juga merupakan potensi ancaman bencana bagi Aceh. Badai di wilayah Aceh biasanya merupakan dampak dari pertukaran musim yang terjadi di Samudera Hindia. Badai ditandai dengan kecepatan angin yang melebihi 128 km/jam dengan durasi berkisar dari jam hingga hari. Hingga saat ini belum ada jenis badai yang langsung melanda kawasan Aceh. Namun demikian, ekor dari badai-badai yang biasanya tumbuh di kawasan Lautan Hindia sering turut memberi dampak ke Wilayah Aceh terutama terhadap kawasan pesisir barat dan selatan Aceh.

Gambar 10. Peta Potensi Bencana Angin Puting Beliung

Referensi

Dokumen terkait

Pengertian gerak dasar adalah kemampuan untuk melakukan tugas sehari-hari yang meliputi gerak jalan, lari, lompat, lempar (Aip Syarifudin dan Muhadi, 1992 :

Untuk kondisi minimum phase, seperti yang terlihat pada gambar 12 dan 13, kedua kontroler baik MPC maupun PI, terlihat mampu mengikuti referensi yang diharapkan,

Dari tingkat kepuasan ini diketahui pula tingkat loyalitas responden, dimana sebanyak 84% responden dikategorikan memiliki loyalitas tingkat shopper yakni responden yang

Harto, 1993); b) Hujan effektif dihitung dengan metode phi (φ) indeks; c) Hidrograf satuan pengamatan diturunkan dari hidrograf banjir pengamatan dengan memakai

Kekudusan dapat ditunjukkan dalam hubungan dengan sesama karena itu jiwa orang Kristen yang percaya kepada Kristus telah dimurnikan oleh ketaatan kepada kebenaran

Tujuan penelitian ialah untuk merancang sebuah kawasan transit oriented development dengan menggunakan metode walkable urban agar terbentuk sebuah lingkungan yang

Berdasarkan permasalahan, maka tujuan dari penelitian ini adalah: Untuk mengetahui strategi yang dilakukan guru dalam menerapkan pembelajaran nyanyian Kakor Lalong pada siswa