• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pendapatan Rumah Tangga Perikanan (Perikanan Demersal)

6.1. Metode dan analisa indikator EAFM yang digunakan

6.2.3. Kabupaten Alor

Berdasarkan hasil analisis indeks dekomposit untuk Ecosystem Approach to Fisheries

Management di Kabupaten Alor menunjukkan status sedang dengan flag modeling berwarna

kuning dan nilai akhir agregat sebesar 157. Semua domain harus mendapat mendapat perhatian, terutama Domain Habitat dan Ekosistem dan Domain Ekonomi.

Domain Nilai Komposit Deskripsi

Sumberdaya Ikan 33 Kurang Habitat & ekosistem 44 Sedang Teknik Penangkapan Ikan 42 Sedang

Sosial 52 Sedang

Ekonomi 20 Buruk

Kelembagaan 47 Sedang

Aggregat 40 Kurang

Gambar 22. Status Perikanan Berbasis Ekosistem Berdasarkan Nilai Komposit di Kabupaten Alor

Domain Habitat dan Ekosistem dan Domain Ekonomi perlu disikapi serius karena berstatus buruk (flag modeling berwarna kuning muda dan merah). Hal ini memberikan gambaran bahwa secara umum pengelolaan perikanan di Kabupaten Alor perlu mendapat perhatian dari berbagai pihak yang berkepentingan (pemerintah, swasta/dunia usaha,

104

masyarakat, pengelola kawasan konservasi, lembaga pendidikan/penelitian, dan stakeholder lainnya).

Ekonomi masyarakat pesisir (terutama nelayan) yang lemah akan memberikan tekanan terhadap sumberdaya dan ekosistemnya, karena memaksimalkan upaya pemanfaatan sumberdaya bahkan dengan cara yang merusak dan ilegal. Hingga kini persoalan illegal fishing sulit memberantasnya, aktivitas illegal fishing termasuk kategori kejahatan perikanan terorganisir secara nasional dan internasional. Bahkan, organisasi pangan dunia (FAO) menempatkannya sebagai kejahatan perikanan nomor wahid yang harus mendapat perhatian serius. Namun di Indonesia masalah Illegal, Unreported, and Unregulated Fishing/IUU

Fishing menurut Apridar dkk (2011), makin sulit memberantasnya, apalagi tahun 2010

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mengalihkan alokasi anggaran APBN-nya ke sektor budidaya perikanan hingga 40% dan berimbas pada maraknya illegal fishing. Akibatnya hingga Juni 2010 illegal fishing di perairan Indonesia justru meningkat menjadi 116 kapal, dan 112 unit berupa kapal asing. Penyebabnya, jadwal hari operasi pengawasan berkurang dari 180 hari menjadi 100 hari. Tentu soal ini amat mengkhawatirkan, bila pemerintah membiarkannya menguras perairan Indonesia. Apakah pembiaran ini akan merugikan negara dan rakyat yang menggantungkan kehidupannya pada sumber-sumber perikanan? Tentu jawabannya ada pada pemerintah dan tanpa disadari model seperti ini merembes ke daerah-daerah, terutama daerah dengan PAD yang minim akan memangkas anggaran pengawasannya untuk dialokasikan bagi kepentingan lain yang dianggap lebih utama.

Bila tidak ditangani secara serius dan tidak holistik maka dalam pengelolaan perikanan kedepan akan terjadi Ecosystem overfishing. Yang dimaksud dengan Ecosystem overfishing adalah overfishing yang lebih diakibatkan karena degradasi sumberdaya lingkungan (habitat atau ekosistem) yang akan mengakibatkan penurunan hasil dan komposisi tangkapan dari suatu stok sumberdaya (misalnya: sumberdaya ikan karang) akibat upaya penangkapan yang berlebihan, dimana spesies target menghilang dan tidak digantikan secara penuh oleh jenis “pengganti”. Biasanya Ecosystem overfishing mengakibatkan timbulnya suatu transisi dari ikan bernilai eknomi tinggi berukuran besar kepada ikan bernilai ekonomi kurang berukuran kecil, dan akhirnya kepada ikan rucah (trash fish) dan/atau invertebrate non komersial seperti ubur-ubur (Widodo dan Suadi, 2008). Hal ini juga didukung oleh data penelitian yang menunjukkan bahwa pada musim puncak dan sedang rata-rata ikan yuwana (juvenile) yang tertangkap 30%, sementara musim paceklik rata-rata 60%, dengan data ini mengindikasikan kalau nelayan sudah mulai mengeksploitasi ikan yuwana, oleh karenanya penerapan model pengelolaan perikanan yang bertanggung-jawab dan berkelanjutan (Ecosystem Approach to

105 Fisheries Management/EAFM) menjadi skala prioritas pembangunan perikanan dan kelautan

di Kabupaten Alor.

Langkah menuju pengelolaan perikanan yang berkelanjutan dan bertanggung-jawab itu telah dimulai oleh pemerintah daerah dengan pembentukan Kawasan Konservasi Perairan Daerah (KKPD Alor), dan diperkuat dengan regulasinya dengan mengeluarkan Keputusan Gubernur NTT nomor 70/KEP/HK/2006 tentang Pembentukan Tim Pengkajian dan Penetapan Kawasan Konservasi Laut Sawu, Solor, Lembata dan Alor (SOLAR), Peraturan Bupati nomor 12 tahun 2006 tentang penetapan Selat Pantar sebagai Kawasan Konservasi Laut Daerah, dan Peraturan Bupati nomor 6 tahun 2009 tentang perubahan atas Peraturan Bupati nomor 12 tahun 2006 tentang penetapan Selat Pantar sebagai Kawasan Konservasi Laut Daerah.

106

Gambar 24. Peta Lokasi Dugaan Daerah Pemijahan Ikan di KKPD Kabupaten Alor

Pengelolaan perikanan (termasuk pengelolaan kawasan konservasi) di Kabupaten Alor sebaiknya mengadopsi pemikiran Fauzi (2005), yaitu kebijakan sektor perikanan dan kelautan yang Back to the Future. Back to the Future untuk pengelolaan perikanan dan kelautan menawarkan suatu pendekatan dengan menggunakan informasi ekosistem (termasuk kebijakan perikanan dan kelautan) masa lalu (back) untuk dijadikan panduan kebijakan di masa mendatang (to the future). Secara ringkas Back to the Future kebijakan sektor perikanan menawarkan tiga program utama restorasi yang harus dilakukan (back) untuk menciptakan sektor perikanan kelautan yang sehat di masa mendatang (to the future), yaitu:

1. Restorasi ekosistem harus menjadi pertimbangan utama program KKP (termasuk dinas perikanan dan kelautan di daerah), karena restorasi ini adalah amanat utama World

107

laut yang rusak akibat alam maupun antropogenik (bom, racun, dsb), namun juga menyangkut usaha meng-update dan menyempurnakan pendugaan stok sumberdaya. 2. Back to the Future kebijakan perikanan ke depan juga harus didasarkan pada restorasi

institusi. Salah satu masalah krusial pengelolaan perikanan adalah tereduksinya peranan institusi lokal yang sebenarnya memiliki daya tahan lebih baik daripada institusi top down.

Restorasi ekonomi. Hakikatnya etika ekonomi harus direstorasi yaitu menyangkut perubahan cara pandang terhadap sumberdaya perikanan yang tidak boleh diperlakukan sebagai “engine of growth” semata.

108 BAB VI. KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

6.1.Kesimpulan

Dari hasil penelitian dapat disimpulkan sebagai berikut:

1. Hasil analisis dengan indeks dekomposit menunjukkan bahwa pengelolaan perikanan kurang mendapat perhatian (model bendera kuning) di 2 kabupaten di Provinsi NTT (Flores Timur, dan Lembata), bahkan Alor dengan model bendera kuning muda atau bernilai kurang, bila dikaitkan dengan pengelolaan perikanan dengan pendekatan ekosistem maka ke 3 kabupaten tersebut kurang menerapkan EAFM. Mendapat perhatian serius adalah domain-domain yang berstatus kurang dengan flag modeling berwarna kuning muda, yang mendapat status sedang dengan flag modeling berwarna kuning, dan berstatus buruk dengan flag modeling berwarna merah, serta indikator-indikator dengan skor 1.

2. Aktivitas Illegal, Unreported, and Unregulated perikanan (IUU Fishing) di daerah penelitian sudah harus segera ditangani serius oleh aparat penegak hukum dan stakeholder lainnya, karena akan menghambat upaya-upaya pengelolaan perikanan berkelanjutan dan lestari.

3. Penyusunan dokumen Rencana Pengelolaan Perikanan merupakan hal yang urgen dan mendesak untuk mendukung upaya-upaya pengelolaan perikanan.

4. Restorasi ekosistem menjadi faktor kunci dalam pengelolaan perikanan menuju perikanan berkelanjutan dan lestari.

6.2.Rekomendasi

Beberapa rekomendasi yang diberikan pada hasil penelitian ini, yaitu:

1. Perlunya perbaikan panduan untuk menyesuaikan dengan kebutuhan analisis EAFM ditingkat kabupaten (misalkan indikator kesesuaian fungsi dan ukuran kapal penangkapan ikan dengan dokumen legal dan indikator sertifikasi awak kapal perikanan sesuai dengan peraturan), untuk tingkat kabupaten hampir tidak didapatkan informasi dan data karena mayoritas kapal yang digunakan nelayan dibawah 10 GT dan sertifikasi awak kapal dikeluarkan bagi kapal yang berlayar diatas 60 mil dengan kapal ukuran diatas 10 GT. 2. Perlu kesepakatan tentang data sekunder yang digunakan (misalkan untuk indikator CpUE

baku), data sekunder berupa statistik perikanan tangkap dari dinas kelautan dan perikanan secara jujur diragukan keakuratan datanya (perbedaan data antara kabupaten dengan rekapan di provinsi terutama data trip dan produksi), bila disandingkan dengan dengan data

109

primer hasil wawancara nelayan untuk menetapkan nilai CpUE dalam beberapa tahun terakhir akan terdapat perbedaan dari kedua sumber data tersebut, untuk laporan ini kami masih menggunakan data statistik dengan alasan karena telah dipublikasikan oleh lembaga negara.

3. Perlunya penetapan waktu yang ideal untuk penelitian EAFM, terutama bagi enumerator dalam memperoleh data ukuran ikan, panduan mensyaratkan data primer ukuran ikan dari pengukuran panjang total, sementara karena keterbatasan waktu enumerator hanya mengandalkan informasi ukuran ikan dari wawancara nelayan, ada kemungkinan data tersebut bias karena hanya merupakan pengakuan nelayan.

4. Untuk indikator metode penangkapan ikan yang bersifat destruktif dan/atau ilegal pada domain Teknologi Penangkapan Ikan, bila mengandalkan data frekuensi kasus untuk menentukan skor indikator kemungkinan hasil akhirnya selalu rendah, mesti menjadi perhatian juga terhadap kualitas dari kasus tersebut (penanganan ditingkat aparat penegak hukum).

5. Kegiatan IUU Fishing perlu upaya pencegahan yang lebih mendalam dengan memperhatikan beberapa hal:

- Melakukan identifikasi, menginventarisasi dan merefungsionalisasi model-model dan penyebab serta pelaku Destruktif Fishing yang dilakukan oleh masyarakat.

- Sangat penting untuk diketahui tentang persepsi masyarakat tentang Destruktif Fishing dan dampaknya yang akan ditimbulkan, terutama bagi terumbu karang, karena semua daerah penelitian memiliki area konservasi.

- Perlu penyusunan dokumen perencanaan (misalnya rencana strategis dan rencana aksi) dalam penanggulangan aktivitas IUU Fishing.

6. Mendorong pembuatan Rencana Pengelolaan Perikanan berdasarkan analisa EAFM. Perlunya menindaklanjuti kajian EAFM sebagai basis pengelolaan perikanan yang berkelanjutan dalam dokumen perencanaan daerah termasuk Rencana Pengelolaan KKPD dalam peningkatan Performa EAFM.

110 REFERENSI

Anonimus, 2009. Laporan Akhir. Master Paln Kawasan Minapolitan Kabupaten Sikka. Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Sikka dan Pusat Pengkajian Perencanaan dan Pengembangan Wilayah Institut Pertanian Bogor.

Anonimus, 2010. Profil Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil Kabupaten Sikka Provinsi Nusa Tenggara Timur. Balai Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Laut (BPSPL) Bali. Direktorat Jenderal Kelautan Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil. Kementerian Kelautan dan Perikanan.

Anonimus, 2011. Rencana Strategis Pengelolaan Terumbu Karang. Project Management Unit Coral Reef Rehabilitation and Management Program (Coremap) Phase II Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Sikka.

Adrianto L, Abdulah H, Achmad F, Audillah A, Handoko AS, Imam M, Mukhlis K, Sugeng HW, dan Yusli W., 2012. Modul Penilaian Pendekatan Ekosistem dalam Pengelolaan Perikanan (EAFM). Jakarta: Direktorat Sumberdaya Ikan, WWF-Indonesia, dan Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan IPB.

Adrianto L, Arsyad AM, Ahhmad S, dan Dede IH., 2011. Konstruksi Lokal Pengelolaan Sumberdaya Perikanan di Indonesia. PT Penerbit IPB Press.

Badan Pusat Statistik Kabupaten Alor, 2010. Alor dalam Angka 2010. Kabupaten Alor Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Badan Pusat Statistik Kabupaten Lembata, 2011. Lembata dalam Angka 2011. Kabupaten Lembata Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Badan Pusat Statistik Kabupaten Sikka, 2011. Sikka dalam Angka 2011. Kabupaten Sikka Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Coremap, 2010. Monitoring Kesehatan Karang dan Ikan Karang di Kabupaten Sikka. PMU Coremap Phase II dan Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Sikka.

Dinas Kelauatan dan Perikanan Provinsi Nusa Tenggara Timur., 2006. Statistik Perikanan Tangkap Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Dinas Kelauatan dan Perikanan Provinsi Nusa Tenggara Timur., 2007. Statistik Perikanan Tangkap Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Dinas Kelauatan dan Perikanan Provinsi Nusa Tenggara Timur., 2008. Statistik Perikanan Tangkap Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Dinas Kelauatan dan Perikanan Provinsi Nusa Tenggara Timur., 2009. Statistik Perikanan Tangkap Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Dinas Kelauatan dan Perikanan Provinsi Nusa Tenggara Timur., 2010. Statistik Perikanan Tangkap Provinsi Nusa Tenggara Timur.

111

Dinas Kelauatan dan Perikanan Provinsi Nusa Tenggara Timur., 2011. Statistik Perikanan Tangkap Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Dinas Kelauatan dan Perikanan Provinsi Nusa Tenggara Timur., 2012. Statistik Perikanan Tangkap Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Fauzi A., 2005. Kebijakan Perikanan dan Kelautan. Isu, Sintesis, dan Gagasan. Penerbit PT. Gramedia Utama. Jakarta.

Fauzi A dan Suzy Anna., 2005. Pemodelan Sumberdaya Perikanan dan Kelautan untuk Analisis Kebijakan. Penerbit PT. Gramedia Utama. Jakarta.

Kusumastanto, T, Luky Adrianto, dan Ario Damar., 2006. Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Laut. Universitas Terbuka. Departemen Pendidikan Nasional. Jakarta.

Lain A. H.,2011. Analisis Ekologi–Ekonomi Pengelolaan Perikanan berbasis Ekosistem Terumbu Karang (Studi Kasus Perairan Pulau Liwutongkidi, Kabupaten Buton, Provinsi Sulawesi Tenggara). Tesis Pasca Sarjana, Intitut Pertanian Bogor.

Noor, R. Y, Khazali, M dan Suryadiputra, N. N.I.,1999. Panduan Pengenalan Mangrove di Indonesia. PKA/WI-IP. Bogor.

Sumardjono M, Nurhasan I, Ernan R, dan Damai AA., 2011. Pengaturan Sumberdaya Alam Antara yang Tersurat dan Tersurat. Kajian Kritis Undang-undang Terkait Penataan Ruang dan Sumberdaya Alam. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Sikka Tahun 2012-2016. Dokumen Perencanaan Daerah Kabupaten Sikka Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Setiawan, A., N. Widagti, F. Hamzah, T. A. Wibawa, I. Triyulianti, S. C. Nugroho, dan N. D. Arisandi. 2013. Studi Kondisi Kualitas Perairan Laut dan Produktivitas Estuarin Dalam Mendukung Pengelolaan Perikanan Berbasis Ekosistem di Kabupaten Flores Timur. Balai Penelitian dan Observasi Laut, Bali, Indonesia

Solihin, A, Muhammad Karim, Suhana, dan Thomas Nugroho. 2005. Strategi Pembangunan Kelautan dan Perikanan Indonesia (Bunga Rampai). Humaniora, Penerbit Buku Pendidikan – Anggota Ikapi. Bandung.

Stanis S, Donny M.B., Ayub M, Urbanus O.H, Feliks L, dan Vinsensius R. 2010. Identifikasi, Revitalisasi dan Refungsionalisasi Kearifan Lokal dalam Pengelolaan Sumberdaya Alam Laut dan Pesisir di Kabupaten Sikka. Kerjasama: Unit Pelaksana Rehabilitasi dan Engelolaan Terumbu Karang Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Sikka dan LP3M Flobamora.

Widodo J dan Suadi., 2008. Pengelolaan Sumberdaya Perikanan Laut. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.

WWF, 2009. Survei Ekologi Kabupaten Alor. Laporan Kegiatan. Yayasan WWF Indonesia, Solor-Alor Project. Lembata, NTT.

112

WWF, 2009. Survei Ekologi Kabupaten Lembata. Laporan Kegiatan. Yayasan WWF Indonesia, Solor-Alor Project. Lembata, NTT.

WWF, 2009. Survei Ekologi Kabupaten Sikka. Laporan Kegiatan. Yayasan WWF Indonesia, Solor-Alor Project. Lembata, NTT.

WWF, 2011. Survey Reef Health Kabupaten Flores Timur. Laporan Kegiatan. Yayasan WWF Indonesia, Solor-Alor Project. Alor, NTT.

WWF, 2012. Survey Reef Health Kabupaten Alor. Laporan Kegiatan. Yayasan WWF Indonesia, Solor-Alor Project. Alor, NTT.

Dokumen terkait