Yusuf Enril Fathurrohman
Magister Manajemen Agribisnis Universitas Gadjah Mada [email protected]
ABSTRAK
POKDAKAN Ulam Sari di Desa Kalikidang sebagai sentra gurami di Banyumas bertujuan memperkuat posisi tawar pembudidaya dengan melakukan manajemen produksi hingga pemasaran secara kolektif yang lebih profesional untuk menghindari berbagai macam permasalahan. Tujuan penelitian ini adalah untuk (1) Mendeskripsikan peran POKDAKAN Ulam Sari dalam membantu proses produksi hingga pemasaran, (2) Menyusun strategi alternative dan (3) prioritas strategi dalam pengembangan agribisnis ikan gurami di Kabupaten Banyumas. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan analisis SWOT dan QSPM. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya 1) kerjasama yang saling menguntungkan antara anggota dengan POKDAKAN Ulam Sari dalam proses produksi hingga pemasaran dan adanya mekanisme pemasaran bersama yang menguntungkan anggota POKDAKAN Ulam Sari, 2) Tedapat 8 alternatif strategi yang dihasilkan dan 3) prioritas strategi yang dihasilkan adalah mempertahankan pasar dan lebih memperkuat hubungan dengan stakeholder terkait penanaman modal dalam pengembangan agribisnis ikan gurami.
Kata Kunci : Minapolitan, Gurami, POKDAKAN, Strategi
Fish Farmer Group Contribution Against Gouramy Agribusiness Development In Banyumas District
ABSTRACT
Fish Farmer Group ‘Ulam Sari’ in Kalikidang Village as the center of carp fish farm aims to strengthen the bargaining position of farmers through proffesionals production to marketing management to avoid various problems. The research aims to (1) Describe role of’Ulam Sari’ in helping process from production to marketing, (2) Formulate strategies alternative and (3) priorities to develop gouramy agribusiness in Banyumas.This research used descriptive method with SWOT analysis and QSPM as the analysis method. The result of this research showed that 1) Mutual Beneficial between the members and Ulam Sari in production to marketing process and there is collective marketing mechanism that give benefit to members of Ulam Sari. 2) There are 8 alternative strategy produced and 3) The priority of strategy is to maintain market and further strengthen the relationship with the relevant stakeholders in the development of agribusiness of gouramy investment
PENDAHULUAN
Perikanan merupakan salah satu subsektor pertanian dan kelautan yang memiliki peran penting sebagai penggerak kemajuan perekonomian nasional di Indonesia. Saat ini apabila ditinjau dari aspek ekonomi ,perikanan memberikan kontribusi terhadap PDB berdasarkan harga berlaku selama periode 2004-2008 berkisar 2,15% - 2,77% (Kementerian Kelautan dan Perikanan, 2008). Pada tahun 2011 hingga 2012 PDB sektor perikanan juga mengalami peningkatan yang cukup signifikan yaitu mencapai 6,48 persen (Anonim, 2013). Menurut data dari Badan Pusat Statistik tahun 2013 menunjukkan bahwa subsektor perikanan merupakan subsektor
terbesar kedua penyumbang PDB pada sektor pertanian dengan total kontribusi sebesar 57,7 triliun rupiah.
Gambar 1.
Kontribusi Sub-sektor Pertanian Tahun 2007-2013 (triliun Rupiah)
Seiring dengan hal tersebut Provinsi Jawa Tengah sebagai salah satu provinsi yang memiliki potensi dalam mengembangkan subsektor perikanan memiliki visi
“Terwujudnya sumberdaya kelautan dan perikanan sebagai sumber utama
penghidupan dan kesejahteraan yang berkelanjutan”. Menurut Tono Kuswoyo (2011)
Provinsi Provinsi Jawa Tengah merupakan provinsi yang memiliki potensi perikanan budidaya yang besar dan dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Potensi sumber mata air sangat potensial untuk pengembangan kawasan budidaya ikan dan kegiatan lain yang mendukung beserta sarana dan prasarana lainnya atau yang lebih dikenal dengan kawasan minapolitan sesuai dengan PERMEN No. 12 Tahun 2010.
Salah satu wilayah di Jawa Tengah yang ditetapkan menjadi kawasan Minapolitan adalah Kabupaten Banyumas berdasarkan Keputusan Bupati Banyumas Nomor: 523/673/2008. Perkembangan produksi budidaya pembesaran ikan cukup pesat dari tahun 2009 - 2011. Produksinya terus mengalami kenaikan walaupun belum mampu memenuhi target produksi pada tahun 2010 dan 2011 (rudiono et all, 2013). Kabupaten Banyumas memiliki komoditas unggulan yang dikenal bernilai ekonomi penting dan harganya di pasar cukup tinggi (Effendi, 2006) serta sudah banyak dibudidayakan secara intensif (Hastuti, 2003) yaitu ikan gurami.
Menurut data dari Dinas Perikanan Kabupaten Banyumas, pada tahun 2014 produksi benih ikan gurami mencapai 140.596.591 ekor dan ikan gurami konsumsi mencapai 4.060.089 ekor. Produksi ini adalah produksi tertinggi diantara budidaya komoditas ikan lainnya. Hal tersebut mensiratkan bahwa kegiatan agribisnis ikan gurami di Kabupaten Banyumas merupakan salah satu sumber pendapatan pembudidaya selain dari usaha lainnya. Lebih jauh lagi sesuai dengan dicanangkannya program minapolitan sesuai keputusan Bupati Banyumas Nomor: 523/673/2008 pembudidayan ikan gurami ini memiliki sentra di beberapa wilayah tertentu dan yang terbesar adalah Kecamatan Sokaraja lebih tepatnya di Desa Kalikidang yang di desain sebagai sentra pembesaran gurami (konsumi).
Di sisi lain, meski produksi melimpah hasil usaha pembesaran gurami juga tidak terlepas dari berbagai permasalahan. Seperti komoditas pertanian maupun perikanan lainnya, struktur pasar yang terbentuk pada tingkat pedesaan menghadapi permasalahan seperti masalah permodalan, sarana prasarana, lemahnya posisi tawar petani/pembudidaya, harga selalu ditekan, masalah kualitas, dan rantai distribusi panjang sehingga terjadi penyusutan yang cukup signifikan. Sehingga salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan memanfaatkan wadah yang dapat memperkuat
posisi tawar yaitu dengan melalui Kelompok Pembudidaya Ikan (POKDAKAN) sebagai sarana untuk memfasilitasi transfer ilmu dalam hal budidaya dan berbagai program serta penguatan dari aspek manajemen khususnya pemasaran.
POKDAKAN bernama “Ulam Sari” yang berada di Desa Kalikiadang saat ini
berperan sebagai lembaga yang bertujuan untuk memperkuat posisi tawar pembudidaya dengan melakukan manajemen produksi hingga pemasaran secara kolektif. Kegiatan ini dapat memperbaiki manajemen budidaya yang dilakukan pembudidaya hingga dapat memperbaiki mekanisme pemasaran yang adil sehingga tercipta kesejahteraan pembudidaya melalui peningkatan pendapatan.
Penelitian ini bertujuan untuk (1) Mendeskripsikan peran POKDAKAN Ulam Sari sebagai tangan panjang kebijakan Minapolitan terhadap kegiatan agribisnis ikan gurami, (2) Menyusun strategi alternative dalam pengembangan agribisnis ikan gurami di Kabupaten Banyumas, (3) Merumuskan prioritas strategi dalam pengembangan agribisnis ikan gurami di Kabupaten Banyumas.
METODE PENELITIAN
Penetian ini merupakan penelitian studi kasus dengan analisis deskriptif yang dilakukan di Desa Kalikidang Kecamatan Sokaraja Kabupaten Banyumas. Pemilihan tempat dilakukan secara purposive dengan pertimbangan Desa Kalikidang yang dikenal sebagai sentra pembesaran gurami terbesar di Kabupaten Banyumas.
Sumber data adalah data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh melalui wawancara langsung dengan pembudidaya gurami dan beberapa stakeholder terkait (pedagang, pemerintah daerah, dan lembaga keuangan). Sedangkan data sekunder diperoleh dari berbagai instansi terkait seperti BPS Kabupaten Banyumas, Dinas Perikanan, kantor kecamatan dan desa serta lembaga lain yang terkait.
Metode yang digunakan dalam menjawab tujuan pertama menggunakan analisis deskriptif dengan mengetahui system kerja POKDAKAN Ulam Sari dalam mengelola usaha budidaya gurami dari hulu hingga hilir. Untuk menjawab tujuan ke dua langkah awal yang digunakan adalah mengidentifikasi kondisi internal dan eksternal untuk mengetahui kekuatan dan kelemahan serta peluang dan ancaman yang dapat berfungsi sebagai dasar untuk perumusan dan pengembangan kebijakan. Kemudian dilanjutkan menggunakan analisis SWOT dalam merumuskan berbagai alternative strategi (David, 2009) serta langkah terakhir menggunakan matriks QSPM dalam merumuskan prioritas strategi.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Kinerja Kelembagaan POKDAKAN Ulam Sari
Kelompok Pembudidaya Ikan (POKDAKAN) bernama Ulam Sari adalah salah satu POKDAKAN yang mewadahi para pembudidaya ikan gurami di Desa Kalikidang. Ulam Sari sudah berdiri sejak 1999 bersamaan dengan program IDT (Indeks Desa tertinggal) kala itu. Hingga kini Ulam Sari memiliki kurang lebih 57 anggota. Fungsi POKDAKAN ini adala sebagai penguat posisi tawar pembudidaya dalam memanajemen usaha budidaya pembesaran ikan gurami.
Anggota dari Ulam Sari kebanyakan berasal dari warga sekitar yang tidak memiliki kolam atau lebih tepatnya tidak memiliki modal tetap yang kemudian nantinya diberi pinjaman kolam untuk di usahakan dengan system kerjasama yang telah terjalin. Konsep keanggotaan dan keuntungan timbal balik bagi kedua belah pihak (POKDAKAN dan anggota) seperti pada kelompok-kelompok tani lainnya hanya dalam kasus ini Ulam Sari telah menerapkan system manajemennya dengan professional seperti adanya farm record, pertemuan rutin, laporan cashflow, pemasaran bersama
Langkah awal terjalinnya kerjasama antara Ulam Sari dengan calon anggota adalah dimulai dari keinginan seseorang yang memiliki keinginan untuk membudidayakan gurami namun terhalang oleh permasalahan permodalan dan pasar. Hal tersebut dapat didiskuskan terlebih dahulu dengan pengurus Ulam Sari terkait langkah awal apa saja yang harus dilakukan sebagai calon anggota. Kemudian pengurus Ulam Sari menawarkan syarat-syarat dan beberapa peraturan yang berlaku sebagai calon anggota. Syarat yang harus dipenuhi seperti : 1) mengikuti anjuran dalam teknis budidaya agar sesuai dengan standard operasional procedure (SOP), 2) Pemasaran harus melalui kelompok, 3)Hasil pemasaran harus dibagi ke kelompok 15% dari keuntungan bersih setelah dikurangi biaya permodalan selama 6 bulan (2,5%/bulan), 4) Mengikuti rapat rutin setiap satu bulan, 5) Mengikuti kegiatan yang diadakan oleh kelompok. Setelah calon anggota sepakat dengan syarat yang berlaku maka sebagai anggota akan memperoleh berbagai macam factor penunjang budidaya dari POKDAKAN Ulam Sari seperti : 1) Kolam budidaya, 2) Bibit ikan gurami, 3) pengarahan/pelatihan terkait budidaya pembesaran gurami, 4) Pelatihan mengenai
farm record/pencatatan sederhana terkait biaya yang dikeluarkan selama proses
budidaya, 5) Harga penjualan yang lebih tinggi.
Apabila terjadi kesepakatan terjalinlah kerjasama antara Ulam Sari dengan pembudidaya sebagai anggota. Pada dasarnya anggota sangat diuntungkan karena hanya meluangkan waktu dan kemauan saja untuk memulai budidaya yang akhirnya akan menikmati hasilnya. Selebihnya berbagai macam factor produksi telah disiapkan oleh POKDAKAN Ulam Sari.
Gambar 2.
Alur Proses Keanggotaan
Calon Anggota
Konsultasi/Diskusi Usaha Budidaya
Syarat : 1. SOP
2. Pemasaran melalui kelompok 3. Bagi hasil 15% ke kelompok 4. Rapat bulanan
5. Mengikuti kegiatan kelompok
Sepakat
Tidak Sepakat
Benefit : 1. Kolam
2. Bibit Ikan Gurami
3. pengarahan/pelatihan budidaya
4. Pelatihan mengenai farm record/pencatatan sederhana
5. Harga penjualan yang lebih tinggi
Faktor penentu kesejahteraan pembudidaya lainnya selain produksi yaitu pemasaran. Mahyuddin (2009) menyatakan bahwa pemasaran dapat diartikan sebagai suatu proses kegiatan menyalurkan produk dari produsen ke konsumen sehingga pemasaran merupakan ujung tombak kegiatan ekonomi dalam agribisnis perikanan. Proses pemasaran yang dilakukan pembudidaya ikan gurami di Desa Kalikidang yang merupakan anggota POKDAKAN Ulam Sari dilakukan secara kolektif. Pemasaran secara kolektif dilakukan untuk meningkatkan posisi tawar pembudidaya supaya tidak dipermainkan oleh tengkulak. Pemasaran dilakukan dengan menjadwalkan jadwal panen pada tiap kolamnya yang dikelola masing-masing pembudidaya yang berbeda agar tidak terjadi over production, kemudian ketika ada tengkulak yang ingin membeli
hasil panen, POKDAKAN Ulam Sari menawarkan untuk menggunakan jasa panen, timbang, dan angkut yang berasal dari anggota. Harga jual yang ditawarkan biasanya lebih tinggi Rp. 2000/kg dari harga normal. Hal ini dilakukan sebagai langkah untuk menghindari permainan tengkulak yang terbiasa memainkan timbangan dan juga untuk mengefisiensikan biaya pasca panen.
Gambar 3.
Mekanisme Pemasaran Melalui POKDAKAN Ulam Sari Identifikasi Faktor Internal dan Eksternal
Tabel 1
Identifikasi Faktor-faktor Internal Pengembangan Agribisnis Ikan Gurami di Desa Kalikidang Kecamatan Sokaraja Kabupaten Banyumas
Aspek Internal
Kekuatan (Strenght) Kelemahan (Weakness)
Aspek
Keuangan - 1. Permodalan yang kecil
Pembudidaya
POKDAKAN ULAM SARI
Jasa Panen, Timbang, Angkut
Harga Rp. 2000/kg lebih tinggi dari harga normal
Pembudidaya Pembudidaya Pembudidaya
TENGKULAK
Peni ngkatan
Pen dapatan
Aspek
Produksi 1. Terdapat (Standart Operating SOP Procedure)
2. Inovasi pakan
tambahan
3. Kualitas hasil panen yang baik dibandingkan dengan yang lain
1. Sarana dan prasarana produksi
yang belum memadai
2. Pembudidaya belum
mengefisienkan dan
memanfaatkan waktu produksi secara optimal
3. Pembudidaya belum mampu
mengendalikan resiko budidaya ikan gurami dengan baik (SDM penanganan resiko kurang)
4. Pengelolaan ikan gurami kurang
optimal Aspek
Pemasaran 1. Kontinuitas hasil produksi -
Aspek
Manajmen 1. Memiliki penjadwalan
dan pencatatan
administrasi yang baik 2. Memiliki pengalaman
yang cukup lama dalam membudidayakan gurami
3. Terfokus pada pembesaran
1. Tidak semua pembudidaya
gurami mau mengikuti
kesepakatan bersama antar pembudidaya.
2. Adanya pembudidaya yang tidak konsisten dalam budidaya
Sumber : Analisis Data Primer, 2012
Berdasarkan tabel 1 hasil identifikasi internal menunjukkan bahwa sebagian besar pembudidaya gurami memiliki masalah keuangan yaitu permodalan yang terbatas; pada proses produksi atau keberjalanan budidaya pembudidaya gurami meskipun masih ada beberapa kendala sarana prasarana dan kurang optimalnya pengelolaan namun sebagian pembudidaya gurami sudah menerapkan Standard Operational Procedure; daerah Kalikidang merupakan daerah yang selalu menjaga keberlanjutan produksi akan kebutuhan pasar terhadap ikan gurami walaupun; pembudidaya gurami di Desa Kalikidang sudah menerapkan manajemen yang baik (administrasi dan penjadwalan) karena didukung dari pengalaman yang cukup lama akan pembesaran ikan gurami, hanya saja terdapat beberapa pembudidaya gurami yang tidak mau mengikuti kesepakatan bersama antar pembudidaya.
Tabel 2
Identifikasi Faktor-faktor Eksternal Pengembangan Budidaya Ikan Gurami di Desa Kalikidang Kecamatan Sokaraja Kabupaten Banyumas
Aspek Eksternal
Peluang(Opportunity) Ancaman(Threats)
Kondisi
ekonomi - 1. Harga faktor produksi yang semakin meningkat
2. Kenaikan upah tenaga kerja Aspek
Sosial Budaya dan lingkungan
1. Banyak pihak yang
mendukung
pengembangan agribisnis ikan gurami
2. Kondisi lingkungan yang
1. Kesenjangan sosial
2.Adanya komplain dari
pelanggan/pembeli terkait kondisi ikan gurami
aman dan terkendali.
3. Musim hujan yang
mendukung
pengembangan gurami
menghambat produksi 4. Air yang kurang baik
Aspek Pemerintah an
1. Perhatian pemerintah terhadap pengembangan budidaya gurami (kebijakan
dan bantuan yang
diberikan) Aspek
Teknologi - 1. Mesin budidaya yang tergolong mahal
Aspek
Persaingan 1. Rendahnya tingkat persaingan 2. Hilangnya pesaing utama 3. Permintaan terhadap ikan
gurami besar
-
Sumber : Analisis Data Primer, 2012
Berdasarkan tabel 2 hasil identifikasi eksternal menunjukkan bahwa kondisi ekonomi yang tidak menentu sangat berpengaruh terhadap harga faktor produksi dan tenaga kerja; adanya berbagai dukungan dari berbagai pihak yang sangat membantu dan perlunya memperhatikan terkait kondisi internal pembudidaya maupun hubungan pembudidaya dengan pengepul; perhatian khusus dari pemerintah yang sangat siginifikan terhadap budidaya gurami dari segi kebijakan maupun bantuan berupa sarana produksi, prasarana, dan program-program serta sosialisasi yang diberikan; mesin budidaya yang sulit dijangkau secara financial oleh masing-masing pembudidaya; dari kondisi persaingan usaha agribisnis pembesaran ikan gurami di Desa Kalikidang cukup menguntungkan karena selain rendahnya tingkat persaingan, pesaing utama yakni dari daerah Tulungagung sudah tidak memasuki wilayah bagian barat serta didukung permintaan akan ikan gurami yang besar.
Formulasi Alternatif Strategi
Setelah mengidentifikasi faktor-faktor internal dan eksternal yang menjadi kekuatan dan kelemahan serta peluang dan ancaman dalam mengembangkan budidaya ikan gurami di Kabupaten Banyumas, maka diperoleh beberapa alternatif strategi yang dapat dipertimbangkan seperti pada tabel 5.
Tabel 3
Alternatif Strategi Matriks SWOT Pengembangan Agribisnis Ikan Gurami Di Kabupaten Banyumas Kekuatan-S 1. Terdapat SOP (Standard Operational Procedure) 2. Inovasi pakan tambahan
3. Kualitas hasil panen yang lebih baik dibandingkan yang lainnya 4. Kontinuitas hasil produksi Kelemahan-W 1. Permodalan yang kecil
2. Sarana dan prasarana produksi yang belum memadai 3. Pembudidaya belum mengefisienkan dan memanfaatkan waktu produksi secara optimal 4. Pembudidaya belum mampu