• Tidak ada hasil yang ditemukan

METODE PENELITIAN Lokasi dan Waktu Penelitian

Dalam dokumen PROSIDING SEMINAR NASIONAL AGRIBISNIS DA (Halaman 77-82)

DIMENSI ORIENTASI KEWIRAUSAHAAN DAN KINERJA UMKM TAHU DI KABUPATEN BOGOR

METODE PENELITIAN Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di 14 wilayah pelayanan (kecamatan) di Kabupaten Bogor. Pemilihan lokasi penelitian dilakukan secara sengaja (purposive) dengan

pertimbangan bahwa di Kabupaten Bogor banyak terdapat UMKM pembuatan tahu menurut data dari KOPTI Kabupaten Bogor 2012. Pengumpulan data dilakukan selama satu bulan dari bulan Maret sampai dengan April 2015.

Metode Penentuan Sampel

Responden dari penelitian ini adalah 100 unit UMKM pembuatan tahu yang di Kabupaten Bogor. Berdasarkan Latan dan Ghozali (2012) jumlah tersebut didapatkan berdasarkan aturan statistik untuk SEM dengan pendekatan PLS. Teknik pengambilan sampel atau pemilihan responden dengan menggunakan metode purposive secara

proporsional. Jumlah sampel didapatkan dari jumlah pelaku usaha tahu di setiap wilayah pelayanan (kecamatan) dibandingkan dengan jumlah seluruh populasi pelaku tahu dikalikan dengan jumlah minimal sampel statistik. Teknik tersebut sudah tepat karena pengambilan sampel secara acak dan proporsional di setiap wilayah pelayanan (kecamatan) dapat menggambarkan orientasi kewirausahaan dari para pelaku usaha pembuatan tahu di Kabupaten Bogor serta pengaruhnya terhadap kinerja usaha.

Data dan Instrumentasi

Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini meliputi data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dari wawancara langsung dengan pengurus KOPTI dan pelaku usaha tahu di lokasi masing-masing dengan menggunakan daftar pertanyaan (kuesioner) yang telah disediakan. Data sekunder diperoleh dengan cara mempelajari buku dan sumber yang relevan dengan topik yang diteliti dari Kementrian Koperasi dan UMKM, Badan Pusat Statistik, dan KOPTI Kabupaten Bogor. Pengambilan data sekunder diperoleh juga dari literatur-literatur, baik yang didapat di perpustakaan maupun dari tempat lain berupa hasil penelitian terdahulu mengenai kajian kewirausahaan, orientasi kewirausahaan, serta kinerja UMKM, baik dari media cetak (tabloid dan majalah), maupun media elektronik (internet). Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner, penyimpan data elektronik, dan alat pencatat.

Metode Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data dalam penelitian ini meliputi wawancara dan observasi lapang yang dilakukan sendiri oleh peneliti. Penelitian ini menggunakan bantuan kuesioner untuk memperoleh data secara utuh yang dapat menggambarkan fenomena yang terjadi di lapangan. Selain itu, kuesioner digunakan untuk mendapatkan data dari pelaku usaha terkait dengan orientasi kewirausahaan yang

dimiliki. Setiap pengisian kuesioner peneliti melakukan pendampingan untuk mengantisipasi adanya kesulitan atau kesalahpahaman dalam mengartikan pertanyaan kuesioner. Pendampingan yang dilakukan dalam setiap pengisian kuesioner juga dimaksudkan untuk mencari informasi lain yang lebih mendalam yang belum tercakup dalam kuesioner.

Metode Analisis Data

Data yang diperoleh dari penelitian ini adalah data kualitatif dan kuantitatif. Data kualitatif diperoleh melalui wawancara dan observasi selama penelitian. Sedangkan data kuantitatif diperoleh berupa data anggota pelaku usaha pembuatan tahu, data profit dan nilai penjualan serta data penilaian orientasi kewirausahaan yang dimiliki masing-masing pelaku usaha pembuatan tahu.

Analisis data dilakukan secara deskriptif dan kuantitatif. Analisis deskriptif digunakan untuk menggambarkan orientasi kewirausahaan yang ada pada diri pelaku usaha pembuatan tahu di Kabupaten Bogor serta bagaimana kondisi UMKM tersebut. Data yang diperoleh dari kuesioner akan diolah menggunakan software computer

Microsoft Excel dan Partial Least Square.

Variabel Pengukuran

Path Modelling Partial Least Square dalam penelitian ini digunakan untuk mengetahui

besarnya pengaruh antar variabel laten. Variabel-variabel yang digunakan untuk menjawab tujuan penelitian terdiri dari variabel laten dan variabel manifest yang merupakan indikator dari variabel laten. Pengukuran peubah variabel-variabel didasarkan pada konsep yang telah terbukti secara empiris, sehingga dapat diimplementasikan di lapangan serta diukur sebagaimana seharusnya. Semua variabel diukur dengan skala ordinal dengan menggunakan skala likert 1 sampai dengan 4. Terdapat tujuh variabel laten dan dua puluh variabel manifest yang digunakan pada model penelitian. Identifikasi variabel laten dan manifest disajikan pada Tabel 1 dan operasionalisasi variabel diuraikan di bawahnya.

Tabel 1

Variabel laten dan indikator penelitian

No Variabel Laten Variabel Manifest/Indikator

1. Orientasi

Kewirausahaan (EO)

1

Keinovatifan (EO1)

2

Proaktif (EO2)

3

Berani mengambil risiko (EO3)

4

Agresivitas kompetitif (EO4)

5

Otonomi (EO5)

2. Kinerja Usaha (KUS)

6

Profit (KUS1)

7

Pertumbuhan penjualan (KUS2)

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil Analisis Model Pengaruh Orientasi Kewirausahaan Terhadap Kinerja Usaha

Model awal orientasi kewirausahaan pada pelaku UMKM tahu di Kabupaten Bogor dikembangkan berdasarkan pada teori dan hasil penelitian terdahulu serta eksplorasi beberapa variable yang dianggap sesuai dengan ruang lingkup kajian. Pengembangan model ini bertujuan untuk merumuskan hipotesis dalam menduga variabel orientasi kewirausahaan berpengaruh langsung terhadap kinerja usaha. Model PLS yang digunakan dalam penelitian ini adalah model reflektif. Tujuan utama dilakukan evaluasi model pengukuran adalah untuk menilai validitas dan reliabilitas model atau secara tidak langsung untuk menilai bahwa variabel indikator benar-benar mengukur variabel laten dalam model. Untuk melakukan evaluasi model pengukuran dengan indikator reflektif, sebagaimana model penelitian ini dikembangkan, digunakan evaluasi beberapa perlakuan dan metode. Model awal penelitian ini dapat dilihat pada Gambar 1.

Sumber : Primer (diolah)

Gambar 1 Model Awal Penelitian

Pengujian validitas dan reliabilitas dalam model reflektif dilakukan dalam tiga pengujian yaitu convergent validity, discriminant validity, composite reliability. Convergent validity dari model pengukuran reflektif, indikator dinilai berdasarkan item score atau component score dengan construct score yang dihitung dengan PLS. .

Ukuran reflektif dikatakan tinggi apabila berkorelasi lebih dari 0.7 dengan konstruk yang ingin diukur. Namun untuk penelitian tahap awal dari pengembangan skala pengukuran outer loading 0.5 sampai dengan 0.6 dianggap cukup menurut Chin dalam

Latan dan Ghozali (2012). Penelitian ini menggunakan ukuran reflektif 0.5 karena termasuk penelitian tahap awal. Uji statistik hasil olahan model penelitian dapat dilihat pada Tabel 2.

Tabel 2

Uji Statistik Model Awal Penelitian

Indikator Outer

Loading

T-Hitung Keterangan

Keinovatifan (EO1) 0.80 143.74 Signifikan

Proaktif (EO2) 0.79 153.86 Signifikan

Berani mengambil risiko (EO3) 0.63 88.04 Signifikan

Agresivitas kompetitif (EO4) 0.52 53.77 Signifikan

Otonomi (EO5) 0.68 94.89 Signifikan

Profit (KU1) 0.99 394.92 Signifikan

Peningkatan penjualan (KU2) 0.91 227.86 Signifikan

Kepuasan konsumen (KU3) 0.01 0.22 Tidak Signifikan

Berdasarkan hasil evaluasi pengukuran pada model awal, diperoleh beberapa variabel indikator yang dinilai tidak merefleksikan konstruknya. Oleh karena itu perlu dilakukan perlakuan untuk memperbaiki validitas dan reliabilitas model. Perbaikan model dilakukan dengan menghilangkan variabel indikator dan laten yang tidak memenuhi kriteria kelayakan model pengukuran. Dari hasil evaluasi model pengukuran model awal penelitian dapat diketahui beberapa perlakuan yang dibutuhkan untuk memperbaiki model adalah sebagai berikut: (1) variabel indikator yang memiliki nilai

loading factor ( ) kurang dari 0.5 akan dikeluarkan dari model yaitu KUS3 (kepuasan

pelanggan) dan (2) tahapan selanjutnya adalah melakukan proses ulang dengan tanpa melibatkan variabel-variabel indikator tersebut diatas. Gambaran model pengaruh orientasi kewirausahaan terhadap kinerja usaha yang diperbarui dapat dilihat pada Gambar 2

Sumber : Primer (diolah)

Gambar 2 Model Akhir Penelitian

Proses algoritma PLS pada model yang telah diperbarui memberikan hasil yang valid dan reliable berdasarkan kriteria evaluasi pengukuran model PLS. Validitas konvergen masing-masing konstruk pada model diperbarui sudah sesuai dengan nilai kirits atau rule of thumb, yaitu nilai loading factor dan AVE yang lebih dari 0.5 serta t-

hitung lebih dari 1.96 (Latan dan Ghozali 2012). Selain itu, tingkat reliabilitas masing- masing konstruk sudah meyakinkan karena nilai Composite Reliability (CR) seluruh

konstruk lebih besar dari 0.7 (Tabel 3).

Dimensi Orientasi Kewirausahaan

Keinovatifan merupakan dimensi dari orientasi kewirausahaan yang terlihat pada diri pelaku usaha pembuatan tahu di Kabupaten Bogor. Keinovatifan dalam pelaku usaha pembuatan tahu relatif berkembang. Terdapat dua kriteria dalam penelitian yang digunakan untuk mengukur keinovatifan, yaitu keragaman produk dan keaktifan mencari pasar baru. Hasil dari inovasi umumnya adalah produk, baik berupa barang maupun jasa. Produk yang diproduksi oleh pelaku usaha pembuatan tahu umumnya lebih dari satu jenis. Sebesar 80 persen pelaku usaha pembuatan tahu

Tabel 3

Loading factor, t-value, average variance extracted,

dan composite reliability.

Variabel Laten Variabel Indikator Λ t AVE CR

Orientasi Kewirausahaan (EO) Keinovatifan (EO1) 0.80 138.50 0.50 0.82 Proaktif (EO2) 0.79 160.16

Berani mengambil risiko (EO3)

0.64 99.74

Agresivitas kompetitif (EO4) 0.52 51.17

Otonomi (EO5) 0.68 92.82 Kinerja Usaha (KUS) Profit (KUS1) 0.99 809.04 0.90 0.95 Pertumbuhan penjualan (KUS2) 0.91 246.88

menjual produk tahu 2-3 jenis. Jenis produk tahu yang dijual adalah tahu potong putih, tahu kunyit, tahu bungkus putih dan tahu goreng. Sebesar 13 persen pelaku usaha pembuatan tahu memasarkan tahu pada pasar kecamatan. Seperti contoh pelaku usaha pembuatan tahu di Desa Iwul memasarkan tahu di pasar Kecamatan Ciseeng, karena Desa Iwul berada pada Kecamatan Ciseeng. Akan tetapi, pada umumnya pelaku usaha pembuatan tahu di Kabupaten Bogor sudah melakukan perluasan pasar dalam memasarkan tahu. Sebesar 87 persen pelaku usaha pembuatan tahu memasarkan tahu di luar kecamatan di mana tahu tersebut diproduksi, bahkan tahu tersebut sudah dipasarkan pada pasar tingkat kabupaten. Berdasarkan hasil output PLS, nilai outer loading dari keinovatifan sebesar 0.80 dengan t-value 152.24 dimana t- value lebih besar dari t-table (1.96). Artinya peningkatan satu persen variabel orientasi

kewirausahaan, menyebabkan variabel keinovatifan meningkat 0.80 persen dan semakin terlihat, karena korelasi yang didapatkan bernilai positif dilihat dari nilai outer loading.

Dimensi proaktif pada pelaku usaha pembuatan tahu diindikasikan dengan beberapa kriteria, yaitu keinginan untuk menjadi usaha tahu yang besar, menajadi usaha yang dapat memanfaatkan peluang dan cepat dalam merespon tindakan yang dilakukan pesaing. Sebesar 97 persen pelaku usaha pembuatan tahu menyatakan bahwa usaha pembuatan tahu yang dijalankan selalu diusahakan untuk dapat usaha yang besar. Sebesar 88 persen pelaku usaha pembuatan tahu melakukan kerja sama dengan mitra terbaik sebelum pesaing melakukannya. Mitra terbaik misalnya pemilik warung makan, pedagang gorengan, bahkan restoran. Sebagian besar pelaku usaha pembuatan tahu lebih aktif dalam menentukan harga jual untuk tahu dibandingkan dengan pesaing lakukan. Sehingga pesaing harus merespon atau menanggapi harga yang telah ditentukan terlebih dahulu. Berdasarkan hasil output PLS, nilai outer loading

dari proaktif sebesar 0.79 dengan t-value 152.39 dimana t-value lebih besar dari t-table

(1.96). Artinya peningkatan satu persen variabel orientasi kewirausahaan, menyebabkan variabel proaktif meningkat 0.80 persen dan semakin terlihat, karena korelasi yang didapatkan bernilai positif dilihat dari nilai outer loading.

Karakteristik pengambilan risiko digambarkan oleh tiga kriteria, yaitu sikap terhadap kondisi ketidakpastian atas penggunaan dana, kesediaan untuk mengembangkan produk baru, dan kesediaan mengembangkan teknologi produksi tahu. Seluruh responden menyatakan bahwa usaha pembuatan tahu yang dijalankan akan selalu diusahakan untuk dapat menerima risiko atas usahanya. Berdasakan penelitian di lapang, Sebesar 77 persen pelaku usaha pembuatan tahu berani menggunakan jumlah dana yang besar untuk menjalankan usahanya. Pelaku usaha pembuatan tahu menyatakan bahwa ketika sudah terjun dalam usaha tahu maka harus berani untuk mengambil seluruh risiko atas usaha yang dijalankan. Dana yang digunakan oleh pelaku usaha pembuatan tahu untuk menjalankan usahanya berasal dari dana sendiri. Akan tetapi sebesar 75 pesen pelaku usaha pembuatan tahu menyatakan berani melakukan pinjaman dana untuk mengembangkan usaha pembuatan tahu yang sedang dijalankan apabila dana sendiri tidak mencukupi. Sebesar 76 persen pelaku usaha pembuatan tahu berani untuk mengembangkan produk baru walaupun produk tersebut belum tentu laku di pasar. Selain itu pelaku usaha tahu tersebut juga berani menerapkan teknologi baru untuk memproduksi tahu walaupun berisiko tinggi untuk gagal. ). Berdasarkan hasil output PLS, nilai outer loading dari berani mengambil risiko sebesar 0.64 dengan t-value 90.58 dimana t-value

lebih besar dari t-table (1.96). Artinya peningkatan satu persen variabel orientasi

kewirausahaan, menyebabkan variabel berani mengambil risiko meningkat 0.54 persen dan semakin terlihat, karena korelasi yang didapatkan bernilai positif dilihat dari nilai

outer loading.

Dimensi agresivitas kompetitif pada pelaku usaha pembuatan tahu diindikasikan dengan beberapa kriteria, yaitu sikap kompetitif untuk mengalahkan

pesaing dan terbuka pada persaingan. Sikap kompetitif pada pelaku usaha pembuatan tahu terlihat ketika usaha pembuatan tahu yang dijalankan selalu diusahakan untuk dapat mengalahkan pesaing dalam memasuki pasar baru. Seluruh pelaku usaha pembuatan tahu menyatakan bahwa akan menanggapi tindakan dari pesaing lakukan. Misalnya pada saat pesaing menjual produk tahu dengan membuka lapak di pasar, pelaku usaha pembuatan tahu tersebut juga berani bersaing dengan membuka lapak di pasar. Hal tersebut menandakan pelaku usaha pembuatan tahu terbuka dengan persaingan yang ada, sejauh persaingan tersebut adalah persaingan yang sehat dan tidak saling menjatuhkan. Selain itu, pelaku usaha pembuatan tahu akan selalu berusaha memenuhi semua permintaan tahu agar pesaing tidak mengambil konsumennya. Berdasarkan hasil output PLS, nilai outer loading dari agresivitas

kompetitif sebesar 0.52 dengan t-value 51.88 dimana t-value lebih besar dari t-table

(1.96). Artinya peningkatan satu persen variabel orientasi kewirausahaan, menyebabkan variabel agresivitas kompetitif meningkat 0.52 persen dan semakin terlihat, karena korelasi yang didapatkan bernilai positif dilihat dari nilai outer loading.

Dimensi terakhir dari orientasi kewirausahaan pelaku usaha pembuatan tahu yang dikaji dalam penelitian ini adalah otonomi. Karakteristik otonomi berkaitan dengan kemampuan secara mandiri dalam mencari peluang pasar dan mengembangkan usaha. Otonomi ini berkaitan dengan kewenangan pelaku usaha pembuatan tahu dalam mengambil keputusan dan menjalankan usahanya. Usaha pembuatan tahu di Kabupaten Bogor termasuk usaha yang dijalankan secara mandiri oleh masing-masing pelaku usaha. Usaha ini jarang dijalankan secara bersama-sama oleh dua atau lebih pelaku usaha. Usaha pembuatan tahu yang dijalankan dapat secara mandiri mengidentifikasi peluang untuk mengembangkan usahanya. Selain itu pelaku usaha pembuatan tahu sebagai pemimpin sekaligus pemilik usaha selalu memberikan dorongan kepada seluruh individu yang terlibat dalam usaha pembuatan tahu yang dijalankan. Hal tersebut dilakukan karena setiap individu yang terlibat dalam usahanya memiliki pengaruh dalam pencapaian target usaha. Walaupun demikian, pelaku usaha pembuatan tahu memegang wewenang secara penuh dalam memutuskan sesuatu yang berkaitan dengan usahanya. Secara mandiri pelaku usaha pembuatan tahu dapat mengidentifikasi peluang untuk mengembangkan usaha. Berdasarkan hasil output PLS, nilai outer loading dari otonomi sebesar 0.58 dengan t-value 94.72 dimana t-value

lebih besar dari t-table (1.96). Artinya peningkatan satu persen variabel orientasi

kewirausahaan, menyebabkan variabel otonomi meningkat 0.58 persen dan semakin terlihat, karena korelasi yang didapatkan bernilai positif dilihat dari nilai outer loading.

PENGARUH ORIENTASI KEWIRAUSAHAAN TERHADAP KINERJA UMKM TAHU

Dalam dokumen PROSIDING SEMINAR NASIONAL AGRIBISNIS DA (Halaman 77-82)