BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
4.2.4. Kadar Glukosa Media
Hasil analisis kadar glukosa menunjukkan bahwa terjadi penurunan dan peningkatan kadar glukosa pada setiap dosis perlakuan selama masa inkubasi (Gambar 11). Gula pereduksi merupakan indikator aktivitas enzim dalam menghidrolisis lignoselulosa pada substrat jerami padi. Lignoselulosa merupakan komponen utama dari jaringan tanaman yang terdiri dari selulosa, hemiselulosa, dan lignin dengan struktur berupa mikrofibril polisakarida.
Perlakuan dosis kontrol memiliki kadar glukosa 1,11 ± 0,03 mg/ml pada hari ke-0 inkubasi. Kadar glukosa menurun menjadi 0,22 ± 0,05 mg/ml hingga hari ke-6 inkubasi. Kadar glukosa kembali meningkat menjadi 1,92 ± 0,06 mg/ml pada hari ke-9 inkubasi. Namun pada akhir masa inkubasi hari ke-13 kembali menurun menjadi 0,71 ± 0,07 mg/ml. Perlakuan dosis 10 Gy dan 20 Gy memiliki kadar glukosa sama sebesar 1,07 ± 0,04 mg/ml pada hari ke-0 inkubasi. Kadar glukosa perlakuan dosis 10
Gy meningkat menjadi 1,16 ± 0,01 mg/ml, namun untuk dosis 20 Gy sudah mulai menurun menjadi 1,05 ± 0,01 mg/ml pada hari ke-3 inkubasi. Selanjutnya kedua dosis perlakuan tersebut menurun menjadi 1,07 ± 0,04 dan 0,51 ± 0,03 mg/ml hingga hari ke-6 inkubasi. Kadar glukosa kembali meningkat menjadi 1,56 ± 0 dan 1,18 ± 0,01 mg/ml di akhir masa inkubasi. Perlakuan dosis 40 Gy memiliki kadar glukosa terendah yaitu sebesar 0,24 ± 0,03 mg/ml pada hari ke-0 inkubasi. Kadar glukosa cenderung sama berkisar antara 0,7-0,8 ± 0,03 mg/ml hingga akhir masa inkubasi.
Gambar 11. Kadar glukosa medium kapang P. chrysosporium dalam substrat jerami padi pada inkubasi suhu ruang dan agitasi 150 rpm.
Peningkatan kadar glukosa dalam medium disebabkan oleh adanya pemecahan selulosa yang terkandung dalam substrat jerami padi menjadi glukosa dengan bantuan enzim selulase. Kadar glukosa akan meningkat ketika laju pemecahan selulosa lebih cepat dibandingkan dengan pemakaian glukosa. Selulosa tersusun atas polimer glukosa dengan ikatan glikosidik β-1,4 dalam rantai lurus
37
dengan bangun dasar suatu selobiosa yaitu dimer dari glukosa (Kogel-Knabner, 2002). Menurut Beguin dan Aubert (1992) enzim selulase terdiri dari tiga jenis enzim yang memiliki fungsi sinergis yaitu endoglukanase, eksoglukanase (cellodekstrinase) dan β-glukosidase (β-glukosideglukohidrolase) yang dapat mengubah selulosa menjadi glukosa.
Proses hidrolisis selulosa melalui tiga tahap yaitu pemecahan selulosa (polisakarida) menjadi oligosakarida, kemudian oligosakarida akan dihidrolisis oleh enzim menjadi disakarida lalu disakarida akan dihidrolisis menjadi monosakarida yaitu glukosa (Anomalibio, 2011). Penurunan kadar glukosa dalam medium disebabkan penggunaan gula sederhana (glukosa) yang terkandung dalam substrat jerami padi untuk metabolisme kapang sebagai sumber karbon dan energi. Kadar glukosa yang menurun ini diakibatkan pula oleh lambatnya laju pemecahan selulosa, sehingga glukosa yang dipakai untuk proses metabolisme kapang semakin menurun.
4.2.5. Kadar Protein Media
Analisis uji protein ekstraseluler bertujuan untuk mengetahui seberapa besar enzim ekstraseluler yang diekskresikan oleh kapang P. chrysosporium. Kadar protein ekstraseluler menunjukkan adanya perubahan kadar protein pada setiap perlakuan dosis radiasi (Gambar 12). Berdasarkan hasil regresi, secara umum semua perlakuan mengalami penurunan kadar protein yang ditandai dengan nilai slop yang negatif.
Penurunan tertinggi terjadi pada perlakuan dosis 20 Gy, diikuti oleh dosis perlakuan 10 Gy, 40 gy, dan 0 Gy.
Gambar 12. Kadar protein ekstraseluler kapang P. chrysosporium yang ditumbuhkan dalam medium jerami padi yang diinkubasi pada suhu ruang dan agitasi 150 rpm.
Kadar protein ekstraseluler semua dosis perlakuan berfluktuatif selama masa inkubasi. Hal ini dapat terjadi karena kapang mengalami mutasi akibat iradiasi gamma sehingga DNA mengalami perubahan. Menurut Claire (2002) perubahan nukleotida tunggal di dalam rantai cetakan DNA mengakibatkan produksi protein yang abnormal. Gen menentukan fenotip melalui enzim yang mengkatalisis reaksi kimia yang spesifik di dalam sel. Selain itu, substrat pada jerami padi yang bersifat heterogen kemungkinan akan menyebabkan protein atau enzim yang dihasilkan berbeda-beda.
Perlakuan dosis 0 Gy memiliki kadar protein ekstraseluler sebesar 2,09 ± 0,01 mg/ml pada hari ke-0 inkubasi. Kadar protein ekstraseluler menurun menjadi 1,78 ± 0,04 mg/ml pada hari ke-1 inkubasi, kemudian meningkat menjadi 1,80 ± 0,01 mg/ml
39
pada hari ke -3 inkubasi. Kadar protein ekstraseluler kembali menurun menjadi 1,30
± 0,01 mg/ml, kemudian meningkat menjadi 1,62 ± 0,01 mg/ml hingga akhir masa inkubasi hari ke-13.
Perlakuan dosis 10 Gy memiliki kadar protein ekstraseluler 2,05 ± 0,05 mg/ml pada hari ke-0 inkubasi. Kadar protein ekstraseluler menurun menjadi 1,98 ± 0,04 mg/ml pada hari ke-1 inkubasi, kemudian meningkat menjadi 2,18 ± 0,01 mg/ml pada hari ke -3 inkubasi. Kadar protein ekstraseluler kembali menurun menjadi 1,24 ± 0,03 mg/ml, kemudian meningkat menjadi 1,56 ± 0,01 mg/ml hingga akhir masa inkubasi hari ke-13.
Perlakuan dosis 20 Gy memiliki kadar protein ekstraseluler 2,25 mg/ml pada hari ke-0 inkubasi. Kadar protein ekstraseluler menurun menjadi 1,28 mg/ml hingga hari ke-3 inkubasi, kemudian meningkat menjadi 1,91 mg/ml pada hari ke -6 inkubasi. Kadar protein ekstraseluler kembali menurun menjadi 1,37 mg/ml pada hari ke-9 inkubasi, kemudian meningkat menjadi 1,41 mg/ml hingga akhir masa inkubasi hari ke-13.
Perlakuan dosis 40 Gy memiliki kadar protein ekstraseluler 2,04 ± 0,04 mg/ml pada hari ke-0 dan ke-1 inkubasi. Kadar protein ekstraseluler menurun menjadi 1,24
± 0,02 mg/ml hingga hari ke-3 inkubasi, kemudian meningkat menjadi 1,57 ± 0,01 mg/ml pada hari ke -6 inkubasi. Kadar protein ekstraseluler kembali menurun menjadi 1,20 ± 0,01 mg/ml pada hari ke-9 inkubasi, kemudian meningkat menjadi 1,47 ± 0,03 mg/ml hingga akhir masa inkubasi hari ke-13.
Perlakuan dosis 10 Gy memiliki kadar protein ekstraseluler tertinggi pada hari ke-3 inkubasi dibandingkan dengan perlakuan dosis lainnya. Hal tersebut disebabkan sel-sel kapang lebih cepat dapat beradaptasi pada hari ke-3, sehingga mampu tumbuh dan menghasilkan enzim ekstraseluler dengan kadar yang tinggi. Data tersebut sesuai dengan gambar 8, dimana kolonisasi miselium kapang yang terbentuk pada hari ke-3 untuk dosis 10 Gy lebih rapat dibandingkan dengan perlakuan dosis lainnya.
Perlakuan dosis 20 Gy memiliki kadar protein ekstraseluler tertinggi pada hari ke-6 inkubasi dibandingkan dengan perlakuan dosis lainnya. Hal tersebut disebabkan setelah hari ke-6 inkubasi, kapang P. chrysosporium dosis 20 Gy mampu beradaptasi lebih lama dibandingkan dosis lainnya. Kapang P. chrysosporium memanfaatkan nutrien hasil degradasi jerami padi. Data tersebut sesuai dengan (Gambar 8) yang menunjukkan kolonisasi miselium kapang P. chrysosporium yang sangat rapat pada hari ke-6 dibandingkan dengan perlakuan dosis lainnya.
Kadar protein ekstraseluler yang meningkat di akhir masa inkubasi pada setiap perlakuan menandakan tingginya enzim ekstraseluler pada hari tersebut. Hal ini terjadi karena kapang P. chrysosporium telah mengalami adaptasi dengan baik pada medium yang mengalami penambahan jerami padi sehingga dapat mengalami pertumbuhan dengan baik pula. Sel-sel dari kapang P. chrysosporium yang semakin banyak menyebabkan enzim ekstraseluler yang dikeluarkan juga mengalami peningkatan. Namun pada nilai pH mengalami kenaikan di akhir masa inkubasi, salah satu penyebabnya adalah lisisnya sel dan terjadi efek buffering serta dihasilkannya senyawa ammonium. Peningkatan nilai absorbansi menunjukkan kadar protein
41
ekstraseluler yang meningkat karena kapang mensekresikan enzim ekstraseluler dan terjadi degradasi jerami padi oleh kapang.
4.2.6. Karakteristik Enzim Ekstraselular P. chrysosporium
Hasil elektroforesis SDS-PAGE memperlihatkan gambaran karakteristik enzim ekstraselular kapang P. chrysosporium berdasarkan berat molekulnya (BM).
Karakteristik enzim ekstraseluler P. chrysosporium menunjukkan hasil yang berbeda (Gambar 13). Perlakuan 0 Gy, 20 Gy, dan 40 Gy terdeteksi memiliki jumlah pita sebanyak 3. Perlakuan dosis 10 Gy terdeteksi memiliki jumlah pita sebanyak 5 (Lampiran 13). Meskipun karakteristik enzim yang sama pada dosis 0 Gy, 20 Gy, dan 40 Gy, tetapi berbeda konsentrasinya. Hal ini dapat dilihat bahwa semakin besar dosis iradiasinya, intensitas warna pita yang terbentuk semakin gelap (Lampiran 13).
Perlakuan dosis 0 Gy, dan 20 Gy terdeteksi memiliki enzim lakase (BM= 110 kDa) dan dua enzim belum diketahui karakteristiknya (BM = 35 kDa dan 21,5 kDa).
Karakteristik enzim pada perlakuan dosis 10 Gy terdiri dari atas Lignin Peroksidase (BM=42 KDa), Mangan Peroksidase (BM= 48 kDa), lakase (BM= 110 kDa) dan dua enzim belum diketahui karakteristiknya masing-masing memiliki BM 35 kDa dan 21,5 kDa. Perlakuan dosis 40 Gy terdeteksi memiliki enzim lakase (BM= 110 kDa) dan enzim Lignin Peroksidase (BM= 40 kDa) serta satu enzim belum terdeteksi karakteristiknya (BM = 22 kDa). Menurut Fakuosa dan Hofrichter (1999), enzim Lignin peroksidase memiliki berat molekul (BM) antara 38-47 kDa, Mangan peroksidase (BM= 43-50 kDa), lakase (BM= 53-110 kDa). Terdeteksinya enzim LiP dan MnP didukung oleh aktivitas kapang dalam mendegradasi lignin (Gambar 10).
M 1 2 3 4
Gambar 13. Karakteristik enzim ekstraseluler P. chrysosporium hasil iradiasi gamma pada medium jerami padi. M (marker), (1= 0 Gy), (2= 10 Gy), (3= 20 Gy), (4= 40 Gy).
Enzim-enzim ekstraseluler yang terlibat dalam proses degradasi jerami padi adalah lignin peroksidase, mangan peroksidase, dan lakase. Enzim ini berperan untuk memecah senyawa kompleks seperti lignin menjadi senyawa yang lebih sederhana seperti glukosa. Glukosa ini akan digunakan sebagai sumber energi untuk pertumbuhan kapang (Fakuosa dan Hofriichter, 1999).
200 kDa
43
LiP dan MnP mempunyai mekanisme yang berbeda dalam proses degradasi lignin. LiP merupakan katalis utama dalam proses ligninolisis oleh kapang karena mampu memecah unit non fenolik yang menyusun sekitar 90 % struktur lignin (Srebotnik, dkk., 1994). MnP mengoksidasi Mn2+menjadi Mn3+ yang berperan dalam pemutusan unit fenolik lignin. Have dan Fransesen (2001) mengemukakan bahwa LiP yang diaktivasi oleh H2O2 dapat mengoksidasi senyawa fenolik dan non fenolik. LiP memotong ikatan Cα-Cβ molekul lignin. Pemotongan ikatan pada posisi Cα-Cβ
merupakan jalur utama perombakan lignin oleh berbagai white rot fungi (Hammel, 1997).
.
44 5.1 Kesimpulan
Karakteristik enzim ekstraseluler kapang Phanerochaete chrysosporium pada perlakuan dosis 20 Gy tidak memiliki perbedaan dengan kontrol (0 Gy), sedangkan perlakuan dosis 10 Gy dan 40 Gy berbeda. Enzim yang terdeteksi pada perlakuan dosis 0 Gy dan 20 Gy adalah enzim lakase (BM= 110 kDa) dan dua enzim belum diketahui karakteristiknya (BM = 35 kDa dan 21,5 kDa). Enzim yang terdeteksi pada perlakuan dosis 10 Gy terdiri dari atas Lignin Peroksidase (BM= 42 KDa), Mangan Peroksidase (BM= 48 kDa), lakase (BM= 110 kDa) dan dua enzim belum diketahui karakteristiknya (BM = 35 kDa dan 21,5 kDa). Enzim yang terdeteksi pada perlakuan dosis 40 Gy adalah enzim lakase (BM= 110 kDa) dan enzim Lignin Peroksidase (BM= 40 kDa) serta satu enzim belum terdeteksi karakteristiknya (BM = 22 kDa).
5.2 Saran
Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui enzim lain yang belum terdeteksi guna mengetahui potensi kapang P. chrysosporium hasil mutasi dan dilakukan pengukuran aktivitas enzim. Selain itu perlu dilakukan penelitian untuk memproduksi enzim yang lebih tinggi.
45
DAFTAR PUSTAKA
Abo-State, M.A.M., M. Othman, O. Khatab, dan E.A. Abd-El-Fattah. 2011.
Enhanced Production of MnP Enzyme Produced by Pleurotus sajor-caju Exposed to Gamma Radiation. World Applied Sciences Journal 14 (10):1457-1468. ISSN 1818-4952. Helwan University. Helwan. Egypt.
Akhtar M., R.A. Blanchette dan T.K. Kirk. 1997. Fungal Delignification and Biomechanical Pulping of Wood. Advances in Biochemical Engineering Biotechnology 57:159-195.
Alatas, Z., Y. Lusiyanti, dan I. Indrawati. 2006. Pemeriksaan Aberasi Kromosom Stabil dengan Teknik Fluorescence In Situ Hybridization (FISH).
Prosiding Pertemuan dan Presentasi Ilmiah Penelitian Dasar Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Nuklir. Yogyakarta.
Alexopoulos C.J., C.W. Mims, dan M. Blackwell. 1996. Introductory Mycology. Ed.
Ke-4. New York: John Willey and Sons Inc.
Anomalibio. 2011. Apa Itu Enzim. http//:apa-itu-enzim.html. Diakses 25 Agustus 2013, pukul 19.00 WIB.
Arinong, R. 2008. Pemanfaatan Jerami Padi untuk Konservasi dan Pakan Ternak.
http://www.stppgowa.ac.id/content/view/62/40. Diakses 25 Maret 2013, pukul 09.00 WIB.
Aryantha, I.N.P dan B. Rachmat. 1999. Dasar-dasar Usaha Budidaya Jamur. Bio Agro Lestari Publ. Bandung: 22-25.
Badan Pusat Statistik. 2012. Produksi Padi, Jagung, Dan Kedelai (Angka Sementara Tahun 2012). Berita Resmi Statistik. No. 20/03/ Th. XVI, 1 Maret 2013
BATAN. 1995. Mengenal Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir. Jakarta.
Beguin, P. dan J. P. Aubert. 1992. Cellulases. Encyclopedia of Microbiol. Vol 1.
Academic Press, Institute-Paris
Catcheside, D.E.A dan J. P. Ralph. 1994. Decolourisation and Depolymerisation of Solubilised Low Rank Coal by The White-rot Basidiomycete Phanerochaete chrysosporium. Appl Microbial Biotechnol. 42: 536-542
Chahal, P.S. dan D.S. Chahal. 1998. Lignocellulosic Waste: Biological Conversion. In: Martin, A.M. (editor). Bioconversion of Waste Materials to Industrial Products. Edisi ke-2. London: Blackie Academic &
Professional. pp. 376-422.
Chang, H.H., Y.K. Lee, J.S. Kim, K.S. Lee, dan K.S. Cho. 2003. Mutation Spectrum of Manganese (II) Peroxidase Gene in the Pleurotusostreatus Mutants Induced by Gamma Radiation. The Journal of Microbiology 41 (1): 52-57. Daejeon. Korea.
Church, D. 1988. The Ruminant Animal Digestive Physiology and Nutrition. A Reston Book. Prentice Hall. Englewood Cliffs. New Jersey.
Claire, R. 2002. Impact of Mutations Affecting ND Mitochondria-Encoded Subunits On The Activity and Assembly of Complex I in Chlamydhomonas. Implication for Structural Organization of The Enzyme. Departement of Life sciences. Belgium. Journal of Molecular Biology. 319: 1211-1221.
Crowder, L.V. 1986. Genetika Tumbuhan. Terjemahan dari Plant genetics oleh Lilik Kusdiarti. Gajah Mada University Press. Yogyakarta. pp. 499.
Cui, F. dan D. Dolphin. 1999. The role of Manganese in Model Systems Related to Lignin Biodegradation. Holzforschung 44:279-283.
Darussalam, M. 1996. Analisis Tingkat Pencemaran Radioaktivitas Gas Buang Reaktor. PSPKR, BATAN.
Datta, R. 1981. Acidogenic Fermentation of Lignocelluloce Acid Yield and Convertion of Components. Biotechno 23: 2167-2170.
Dey, S., T.K. Maiti, dan B.C. Bhattacharyya. 1994. Production of Some Extracellulear Enzymes by a Lignin Peroxidase-Producing Brown Rot Fungus, Polyporus ostreiformis, and Its Comparative Abilities for Lignin Degradation and Dye Decolorization, Applied and Enviromental Microbiology 60: 4216- 4218.
Diehl, J.F. 1990. Safety of Irradiated Foods. New York: marcel dekker, Inc.
Dixon, R.M. dan A.R. Egan. 1988. Strategies for Optimizing Use of Fibrous Crop Residues as Animal Feed. In: Dixon, R. M. (Ed). Ruminant Feeding System Utilizing Fibrous Agricultural Residues-1987. International Development Program of Australian Universities and College Limited.
Canberra.
47
Djajanegara, I., P. Wahyudi, D. Tjokrokusumo. 2007. Pengaruh Mutasi radiasi Sinar Gamma (Co60) Terhadap Produktivitas Jamur Tiram Abu-abu (Pleurotus sajur-caju). P3T Bioindustri BPPT. BATAN. Berk. Penel.
Hayati 13: 57–61.
Doyle, P.T., C. Devendra dan G.R. Pearce. 1986. Rice Straw as a Feed for Ruminants. International Development Program of Australian Universities and College Limited. IDP. Canberra.
Fadilah, S., E. Distantina, K. Artati, dan A. Jumari. 2008. Biodelignifikasi Batang Jagung dengan Jamur Pelapuk Putih P. chrysosporium. J. Ekuilibrium 7 (1): 7 – 11.
Fakoussa, R. dan M. Hofrichter. 1999. Bio-technology and Microbiology of Coal Degradation. Appl. Micro-biol. Biotech 52: 25-40.
Fardiaz, S. 1998. Mikrobiologi Pangan 1. PT Gramedia Pustaka Umum. Jakarta Gandjar, I., W. Sjamsuridzal dan A. Oetari. 2006. Mikologi. Yayasan Obor
Indonesia. Jakarta.
Garfin. 2003. Gel Electrophoresis of Proteins. Oxford UK: Oxford University.
Gold, M.H. dan M. Alic. 1993. Molecular Biology of The Lignin-Degrading Basidiomycete Phanerochaete chrysosporium. Microbiol. Rev 57: 605-622.
Hames, B.D. 1998. Gel Electrophoresis of Proteins. Oxford University Press.
New York
Hammel, K.E. 1997. Fungal Degradation of Lignin. Di Dalam: Cadisch G, Giller KE, Editor. Driven By Nature: Plant Litter Quality And Decompostion.
London: CAB International: 33-45.
Hatakka, A. 2000. Biodegration of Lignin. Universityof Helsinki, Viikki Biocenter. Department ofApplied Chemistry dan Microbiology. Helsinki.
Hatakka, A. 1994. Lignin Modifying Enzyme from Selected White Rot Fungi:
Production and Role in Lignin Degradation. FEMS Microbiol Rev 13.
Have, R.T. dan M.C.R. Franssen. 2001. On A Revised mechanism of Side Product in The Lignin Peroxidase Catalyzed of Veratryl Alcohol. FEBS Letters.
487: 313-317.
Hendriks, A.T.W., M. Zeeman. 2009. Pretreatments to EnhanceThe Digestibility of Lignocellulosic Biomass. Bioresource Technology. 100: 10-18.
Herliyana, E.N. 1997. Studi Pertumbuhan Fungi White-Rot Phanerochaete chrysosporium pada Berbagai Macam Suhu, pH Media dan Sumber N.
Bogor: Institut Pertanian Bogor.
Hidayati. 2011. Studi Optimasi Proses Biosolubilisasi Batubara oleh Kapang Hasil Isolasi dari Pertambanggan Batubara Sumatera Selatan berdasarkan Karakterisasi Enzim Ekstraseluler dan Produk yang Dihasilkan. Skrispi.
Jurusan Kimia. Fakultas Sains dan Teknologi. UIN Syarif Hidayatullah.
Jakarta.
Howard, R.T., E. Abotsi, E.L. Jansen Van Rensburg, dan S. Howard. 2003.
Lignocellulose Biotechnology : Issue of Bioconversion and Enzyme Production. African Journal of Biotech. 2: 602 –619.
http://www.infonuklir.com. Interaksi dengan Materi Biologis. Diakses tanggal 21 Agustus 2013, pukul 10.00 WIB.
Iriani, P. 2003. Delignifikasi Sabut Kelapa (Cocos nucifera L.) oleh Jamur Phanerochaete chrysosporium. Skripsi. SITH Institut Teknologi Bandung.
Bandung
Johjima, T., N. Itoh, M. Kabuto, F. Tokimura, T. Nakagawa, H. Wariishi, dan H.
Tanaka. 1999. Direct Interaction of Lignin and Lignin Peroxidase from Phanerochaete chrysosporium, Proc. Natl. Acad. Sci 96: 1989–1994.
Kartadisastra, H.R. 1997. Penyediaan dan Pengolahan Pakan Ternak Ruminansia (Sapi, Kerbau, Domba, dan Kambing). Kanisius. Yogyakarta.
Kirk, T.K. dan M. Tien. 1984. Lignin Peroxidase of Phanerochaete chrysosporium. Methods in Enzymology. 161:238-249.
Kogel-Knabner, I. 2002. The Macromolecular Organic Composition of Plant and Microbial Residues As Inputs to Soil Organic Matter. Soil Biology Biochemistry Germany. 34: 139-162.
Kuwahara M., J.K. Glenn, M.A. Morgan, dan M.H. Gold. 1984. Separation and Characterization of 2 extracellular H2O2-Dependent Oxidases from Ligninolytic Cultures of Phanerochaete chrysosporium. FEBS Lett . 169:
247-250.
Laemmli, U.K. 1970. Nature. 227: 680-685.
Lieser, K.H. Nuclear and Radiochemistry (2001), p.61, Fig 5.12; ISBN 3-527-30317-0
Lynd, L.R., P. Weimer, W. VanZyl, I.S. Pretorius. 2002. Microbial Cellulose Utilization: Fundamentals and Biotechnology. Microbiol. Mol. Biol. Rev.
66: 506-577.
49
Liu, J.X. dan E.R. Orskov. 2000. Cellulase Treatment of Untreated and Steam Pretreated Rice Straw Effecton In Vitro Fermentation Characteristic.
Animal.Feed Science. Technology. 88:189-200.
Madigan, M., J. Martinko, D. Stahl, dan D. Clark. 2009. Brock Biology of Microorganism. 13th edition. Pearson/Benjamin Cummings.
Martina, A. 1998. Optimasi Beberapa Faktor Fisik yang Mempengaruhi Degradasi Kayu Albasia Secara Ennzim oleh Jamur Phanerochaete chrysosporium.
Tesis. Institu Teknologi Bandung. Program Pasca Sarjana. Bandung.
Mustikasari, N.S. 2009. Pengaruh Jumlah Inokulum Phanerochaete chrysosporium dan Konsentrasi Batubara Pada Pencairan (Solubilisasi Batubara). Skripsi. Jurusan Mikrobiologi. Bandung: Institut Teknologi Bandung.
Perez, J., J. Munoz-Dorado, T. de la Rubia dan J. Martinez. 2002. Biodegradation and Biological Treatments of Cellulose, Hemicellulose and Lignin: An Overview. Int. Microbiol. 5:53-63.
Piontek, K., A.T. Smith dan W. Blodig. 2001. Ligninperoxidase Structure and Function. Biochem. Soc. Trans 29 (2) : 111-116.
Rolz, C., R. de Leon, M.C. de Arriola, dan S. De Cabrera. 1986.
Biodelignification of Lemon Grass and Citronella Bagasse by White-Root Fungi. Applied and Environmental Microbiology. 52: 607-611.
Shi, K.Y., X. Tao, S. Yin, D. Ying, dan L. Zuo-Peng. 2009. Biodepolymerization Studies of Low Rank Indian Coals. World J. Microbiol. Biotechnol. 25:
1713-1720.
Singh, H. 2006. Mycoremediation. John Wiley & Sons, Inc: America 358-375.
Srebotnik, E., K.A. Jensen, dan K.E. Hammel. 1994. Fungal Degradation of Recalcitrant Nophenolic Lignin Structure without Lignin Peroxidase. Proc Natl Acad Sci. 91: 12794-12797.
Steffen, K.T. 2003. Degradation of Recalcitrant Biopolymers and Polycyclic Aromatic Hydrocarbons by Litter-Decomposing Basidiomycetous Fungi.
Disertasi. Division of Microbiology Department of Applied Chemistry and Microbiology. Viikki Biocenter. University of Helsinki. Helsinki.
Sudarmaji, S., Bambang, H., dan Suhardi. 1984. Prosedur Analisa untuk Bahan Makanan dan Pertanian Edisi Ketiga. Liberty. Yogyakarta
Sugoro, I. dan D. Tetriana. 2008. Aplikasi Teknik Nuklir Dalam Bidang Vaksin.
BATAN. Jakarta
Suparjo. 2008. Saponin, Peran dan Pengaruhnya Bagi Ternak dan Manusia.
Laboratorium Makanan Ternak. Fakultas Peternakan. Universitas Jambi.
http//:jojo66.wordpress.com. Diakses 3 April 2013 pukul 10.00 WIB.
Suparjo, K., G. Wiryawan, E.B. Laconi, D. Mangunwidjaja. 2011. Performa Kambing yang Diberi Kulit Buah Kakao Terfermentasi. Media Peternakan Edisi April: 35 – 41.
Syamsu, J.A. 2007. Teknologi Pengolahan Jerami Padi Sebagai Pakan Ternak.
Skripsi. Jurusan Nutrisi dan Makanan Ternak. Fakultas Peternakan.
Universitas Hasanudin. Makasar. Sulawesi Selatan.
Tang, S.X., G.O. Tayo, Z.L. Tan, Z.H. Sun, L.X. Shen, C.S. Zhou, W.J. Xiao, G.P. Ren, X.F. Han, dan S.B. Shen. 2008. Effests of Yeast Culture and Fibrolytic Enzyme Supplementation on In Vitro Fermentation Characteristics of Low-Quality Cereal Straws. J. Anin. Sci. 86: 1164-1172.
Thacker, J. 1986. The Nature of Mutants Induced by Ionizing Radiationin Cultured Hamster Cells. III. Molecular Characterizationof HPRT-Deficient Mutations Induced by Gamma-Rays or Alpha Particles Showing that The Majority Have Deletions of All or Part of The hprt gene. Mutat. Res. 160:
267-275.
Tien, M. dan T.K. Kirk. 1983. Lignin-Degrading Enzymefrom The Hymenomycete Phanerochaete chrysosporium Burds. Science. 221:661-662.
Tomas, M., P. Josef, O. Petra, dan B. Igor. 2010. The Using of Enzymes For Degradation of Cellulose Substrate For The Production of Biogas.
Departemen of Environmental Engineering. Institute of Chemical and Environmental Engineering. Faculty of Chemical and Food Technology.
Slovak University of Technology. Slovac Republic.
Waluyo, L. 2008. Teknik & Metode Dasar dalam Mikrobiologi. UMM-Press.
Malang.
www.batan.go.id/pusdiklat/elearning/proteksiradiasi/pengenalan_radiasi.
Diakses 30 Agustus 2013 pukul 11.00 WIB.
Yuwono, T. 2005. Biologi Molekular. Jakarta: Erlangga.
.
51 LAMPIRAN Lampiran 1. Kerangka Berpikir
BAB II
Limbah Jerami Padi Meningkat di Indonesia
Diperlukan Peningkatan Kualitas Limbah Jerami Padi
Iradiasi P. chrysosporium dosis 10 Gy, 20 Gy, dan 40 Gy Kualitas Limbah Jerami Padi
Rendah karena Tingginya Kandungan Lignin
Diperiksa Profil Enzim Diperlukan Peningkatan
Produksi Enzim
Degradasi lignin oleh enzim ekstraseluler Phanerochaete
chrysosporium
Lampiran 2. Skema Kerja
Produksi Crude Extract Enzim Ekstraseluler P.
chrysosporium
Inkubasi pada suhu ruang di atas shaking inkubator dengan agitasi 150 rpm
c. Profil Enzim (elektroforesis ) d. Foto kolonisasi
e. Kadar glukosa
f. Persentase degradasi lignin, selulosa, hemiselulosa
53
Lampiran 3. Komposisi Larutan Elektroforesis
No. Larutan Jumlah
1. Larutan Poliakrilamid 30 %
Akrilamid
BIS (Methylene Bis Acrylamide)
Akuades
22,2 gr 0,8 gr 100 ml 2. Larutan Ammonium Persulfat 10 %
Ammonium persulfat
Akuades
0,1 gr/ml 1 ml 3. Larutan Staining
Coomassie Brilliant Blue R-250
Metanol 5 Gel Separating Buffer (1,5 M Tris-HCl)
Tris (Hydroxymethyl aminomethane)
SDS (Sodium Dedocyl Sulfate)
pH
No. Larutan Jumlah 6 Gel Stacking Buffer (0,5 M Tris-HCl)
Tris (Hydroxymethyl aminomethane)
SDS (Sodium Dedocyl Sulfate)
pH
SDS (Sodium Dedocyl Sulfate)
Glisin
Reagen Nelson A Reagen Nelson B
1 Natrium karbonat Anhidrat 12,5 gr CuSO4. 5H2O 7,5 gr
2 Rochelle 12,5 gr Asam Sulfat 10 ml
3 Natrium Bikarbonat 10 gr 4 Natrium Sulfat Anhidrat 100 gr
5 Air Akuades 350 ml
55
Lampiran 7. Pertumbuhan Kapang P. chrysosporium dalam Media Jerami Padi Hari ke-0 dan ke-13 Inkubasi
Keterangan: A= Media jerami hari ke-0 inkubasi (tanpa kapang); B–E = Media jerami + kapang P. chrysosporium hari ke-13 inkubasi (B: 0 Gy, C:
10 Gy, D: 20 Gy, E: 40 Gy).
A D
A
B C E
A
Lampiran 8. Pertumbuhan Kapang Phanerochaete chrysosporium pada Permukaan Media SDA
Keterangan: Tanda panah merah menunjukkan miselia kapang (A: 0 Gy, B: 10 Gy, C: 20 Gy, D: 40 Gy)
Lampiran 9. Hasil Presentase Degradasi Lignin, Selulosa, dan Hemiselulosa Dosis Lignin (%) Selulosa (%) Hemiselulosa (%)
0 Gy 2,76 9,84 12,19
10 Gy 16,62 2,90 14,20
20 Gy 16,07 0,13 11,41
40 Gy 4,40 14,75 4,01
A B
D C
57
Lampiran 10. Kurva Standar Absorbansi Glukosa Kadar glukosa (mg/ml) Absorbansi
0,005 0,12
0,1 0,23
0,15 0,35
0,2 0,49
0,25 0,63
0,3 0,75
0,35 0,84
Hasil Pengukuran Kadar Glukosa Hari
Ke-
0 Gy 10 Gy 20 Gy 40 Gy
1 2 1 2 1 2 1 2
0 1.09 1.13 1.04 1.1 1.01 1.09 0.22 0.26
1 1.01 1.03 1.03 1.11 1.06 1.08 1.09 1.13
3 0.54 0.6 1.17 1.15 1.04 1.06 0.85 0.75
6 0.24 0.2 1.04 1.1 0.53 0.49 0.85 0.83
9 1.89 1.95 1.19 1.27 0.79 0.77 0.69 0.73
13 0.69 0.73 1.56 1.56 1.19 1.17 0.8 0.84
Hasil Perhitungan Standar Deviasi Kadar Glukosa
Lampiran 11. Hasil Pengukuran Kadar Protein Hari
Hasil Perhitungan Standar Deviasi Kadar Protein Hari
59
Lampiran 12. Hasil Elektroforesis SDS-PAGE
1. Hubungan Log kDa terhadap Rf pada kurva standar marker
kDa marker
Letak Pita (Cm)
log
kDa Rf
21,5 10,0 1,33 0,8
31,5 8,6 1,49 0,68
45 7,2 1,65 0,57
66,2 6,2 1,82 0,49
97,5 4,9 1,98 0,39
200 1,9 2,30 0,15
Keterangan:
a. Letak pita diukur dari awal tinggi gel sampai pita yang muncul.
b. Tinggi gel 12.5 cm
Rumus mencari Rf=
2. Kurva Standar Marker
Dari data di atas dapat dibuat kurva standar marker. Kurva standar marker dibuat untuk mengetahui berat molekul (BM) protein sebelum dan sesudah Iradiasi yang dihasilkan dari data Elektroforesis SDS-PAGE
Perhitungan berat molekul diperoleh dari persamaan y= -1,524x + 2,5542 dengan R2=0,9957
Lampiran 13. Pita-pita Profil Enzim
Marker Pita-Pita Profil Enzim Hasil Iradiasi kDa Keterangan 0 Gy 10 Gy 20 Gy 40 Gy
200 200 Belum terdeteksi
200 200 Belum terdeteksi