• Tidak ada hasil yang ditemukan

Meskipun al-Alba>ni> merupakan salah seorang ulama kontemporer dalam bidang hadis, menemukan rumusannya tentang hadis tidaklah muda. Hal ini

62

M. Syuhudi Ismail, Metodologi...op. cit., h. 144

63Ah}mad bin ‘Ali> Ibn Hajar ‘Asqala>ni>, Nuukhbah Fikr (Beirut: Dar Ihya Turas

disebabkan di antaranya karena al-Alba>ni> sendiri tidak menuliskan satu buku khusus yang berkenaan dengan rumusan-rumusan hadis.64

Al-Alba>ni> mendefinisikan hadis melalui dua arti: Bahasa dan istilah. Secara bahasa hadis\ diartikan sebagai perkataan yang sering diucapkan dan disampaikan melalui suara atau tulisan.65 Sementara itu secara istilah bagi al-Alba>ni>, hadis\ sinonim dengan sunnah. Definisi ini juga sama dengan yang dikemukakan oleh mayoritas ulama. Lebih lanjut ia menyebutkan bahwa sebenarnya sunnah berdasarkan definisi bahasa pada dasarnya adalah perbuatan dan ketetapan. Sementara hadis adalah perkataan. Kedua hal ini (sunnah dan hadis) sama-sama disandarkan kepada Nabi saw.66

Sementara itu, berkenaan dengan kaidah hadis s}ah}i>h} secara umum seperti yang dikemukakan oleh al-Alba>ni> tentang ilmu hadis tidak berbeda dengan para pendahulunya. Artinya rumusan al-Alba>ni> bukanlah sebuah formulasi yang baru. Ketika merumuskan hadis s}ah}i>h}, al-Alba>ni> menyebutnya sebagai berikut:

نﻮﻜﻳ ﻻو ﻩﺎﻬﺘﻨﻣ ﱃإ ﻪﻠﺜﻣ ﻦﻋ ﻂﺑﺎﻀﻟا لﺪﻌﻟا ﺔﻳاوﺮﺑ ﻞﺼﺘﳌا ﺪﻨﺴﳌا ﻮﻫ ﺢﻴﺤﺼﻟا ﺚﻳﺪﳊا

ﻼﻠﻌﻣ ﻻو اذﺎﺷ

67

Hadis s}ah}i>h} adalah hadis yang memiliki sanad yang bersambung dengan periwayat yang ‘a>dil dan d}a>bit} dari orang yang sama sampai pada akhir (sanad) dan tidak terdapat kejanggalan dan ‘illah.

64Tulisan khusus al-Alba>ni> mengenai rumusan hadis pada umumnya ditulis oleh orang lain

berdasarkan kepada pendapat al-Alba>ni> sendiri. Di antara penulis yang melakukan hal itu adalah ‘Is}a>m Mu>sa> Ha>di>. Penulis yang terakhir ini sudah menuliskan paling tidak 2 (dua) karya yang berkenaan dengan formulasi al-Alba>ni> mengenai kaidah-kaidah ilmu hadis. Dua karya tersebut adalah: Raud} Da>ni> fi> Fawa>id Hadi>s\ah li ‘Alla>mah Muh}ammad Na>s}ir Di>n

al-Alba>ni> yang diterbitkan oleh al-Maktabah al-Islamiyyah di ‘Amman Yordania pada tahun 1422

H; ‘Ulum al-Hadis\ li al-‘Alla>mah al-Alba>ni> Rahimah Alla>h yang diterbitkan oleh Da>r Ibnu Hazm di Beirut Libanon pada tahun 1424 h.

65Muh}ammad Na>s}ir Di>n Alba>ni>, Hadi>s\ Hujjatun bi Nafsihi fi> ‘Aqa>’id wa

al-Ahka>m, terj. Darwis, Berhujjah dengan Hadits Ahad dalam Masalah Akidah dan Hukum (Cet. I;

Jakarta: Darus Sunnah Press, 2008), h. 20

66

Ibid.

67‘Is}a>m Mu>sa> Ha>di>, ‘Ulum al-Hadis\ li al-‘Alla>mah al-Alba>ni> Rahimah Alla>h (Beirut: Da>r

Terlihat dari rumusan di atas bahwa apa yang dikemukakan oleh al-Alba>ni> bukanlah hal yang baru, rusmusan itu sama juga dengan rumusan ulama’ pendahulunya.68Persyaratan yang diajukan al-Alba>ni> tentang hadis s}ah}i>h} adalah: 1. Sanad bersambung; 2. Periwayat ‘a>dil; 3. Periwayat d}a>bit}; 4. Tidak ada kejanggalan; 5. Tidak terdapat ‘illah.

Al-Alba>ni> sangat memperhatikan otentisitas sebuah hadis. Meskipun demikian pemikiran al-Alba>ni> sekali lagi tidak tergolong sebagai sebuah pemikiran baru. Pemikirannya tetap mengacu pada pemikiran ulama hadis konservatif. Langkah-langkah yang ditempuh oleh al-Alba>ni> juga tidak berbeda dengan apa yang dilakukan mayoritas ulama lainnya. Ketika al-Alba>ni> meneliti dan menentukan otentisitas dsn kepalsuan hadis, ia akan mendasarkannya pada analisa isna>d dengan cara mencari informasi yang terdapat dalam kamus-kamus biografi periwayat hadis. Al-Alba>ni> tergolong orang yang sangat ketat dalam menentukan otentisitas hadis ini. Baginya isna>d yang tidak s\iqah, maka hadisnya juga termasuk kategori tidak kuat.69

Ketekunan al-Alba>ni> terhadap hadis ini lebih lanjut terlihat nyata ketika ia menulis buku sebagaimana yang penulis teliti sekarang ini. Al-Alba>ni> menyebutkan secara tegas bahwa ia berusaha keras menuliskan secara luas masalah yang berkenaan dengan tata cara shalat yang sesuai dengan apa yang dilakukan oleh Nabi saw. Berkenaan dengan ini ia juga menyebutkan secara tegas bahwa hadis-hadis tentang shalat yang ada sama sekali tidak memerlukan yang d}a’i>f, karena hal itu hanya bersifat meraba-raba sedangkan keyakinan yang

68

Lihat misalnya Muh}ammad Mah}fu>z} al-Tirmisi>, Manhaj Z|awi> al-Naz}a (Surabaya: Ahmad Ibn Sa’ad Ibn Nabhan, 1394 h.), h. 8; Mah}mu>d T}ah}h}a>n, Taisi>r Mus}t}alah} Hadi>s\ (t.tp.: Da>r al-Fikr, t.th.), h. 30

69Kesimpulan yang sama juga dikemukakan oleh Kamaruddin Amin, Menguji Kembali

bersifat meraba-raba adalah lemah. Cara yang lemah, bagi al-Alba>ni>, tidak boleh digunakan untuk menjalankan ibadah kepada Allah swt.70

Tidak semua pemikir Islam setuju dengan apa yang dikemukakan oleh al-Alba>ni> ini. Di antara pemikir ada yang bahkan sama sekali mengabaikan petunjuk Nabi saw. tentang tata cara pelaksanaan shalat . Kassim Ahmad, misalnya, berpendapat bahkan shalat tidak memerlukan petunjuk Nabi saw. Bagi pemikir terakhir ini, perintah shalat sudah ada pada awal Islam. Surah ketiga dari al-Qur’an (al-Muzammil) mengindikasikan bahwa bahwa ibadah religius ini telah dikenal dan dipraktekkan sejak awal. Bagi Kassim Ahmad ibadah shalat dicukupkan berdasarkan petunjuk al-Qur’an dan tidak memerlukan lagi yang selainnya.71

Pendapat seperti ini, menurut penulis, sepantasnya tidak ada, Karena bagaimanapun sebuah ibadah haruslah dilandasi dengan dalil-dalil perintah. Keberadaan al-Qur’an, sebagaimana yang diklaim oleh Kassim Ahmad, belumlah mencukupi perintah itu secara terperinci. Di sinilah hadis mengambil perannya. Namun demikian hadis yang digunakan sebagai dalil tersebut juga hadis yang telah teruji otentisitasnya.

Penulis berpendapat sama dengan apa yang dikemukakan oleh al-Alba>ni>. Ibadah terutama dalam hal ini shalat harus dilandasi dengan dalil yang pasti. Kepastian sebuah hadis tentu didapati setelah dilakukan penelitian yang mendalam. Ibadah tidak diperbolehkan kecuali atas dasar hukum yang telah ada.72

70al-Alba>ni>, S}ifat S}ala>t...,op. cit., h. 40-41

71

Lihat Kassim Ahmad, Hadis Ditelanjangi, Sebuah Re-evaluasi Mendasar atas Hadis (t.tp.: Trotoar, 2006), h. 28-29

72ﺮﻣﻷا ﻰﻠﻋ ﻞﻴﻟد مﻮﻘﻳ ﻰﺘﺣ نﻼﻄﺒﻟا تادﺎﺒﻌﻟا ﻲﻓ ﻞﺻﻷا “Asal dari ibadah adalah batil, sampai tegaknya

dalil yang memerintahkannya” kaidah ini mengarahkan untuk tidak merekayasa amalan ibadah

ritual yang tidak ada sumbernya. Kaidah ini sesuai dengan hadis: ٌدَر َﻮُﻬَـﻓ ﺎَﻧُﺮْﻣَأ ِﻪْﻴَﻠَﻋ َﺲْﻴَﻟ ًﻼَﻤَﻋ َﻞِﻤَﻋ ْﻦَﻣ

“barang siapa melakukan sebuah amalan yang tidak kami perintahkan maka amalan tersebut tertolak.” (H.R. Bukhari). Lihat A. Djazuli, Kaidah-Kaidah Fikih: Kaidah-Kaidah Hukum Islam

Al-Alba>ni> sangat menjunjung tinggi hadis. Ia bahkan menyatakan bahwa dalam menemukani istinba>t} (kesimpulan hukum), tidak diperbolehkan mendahulukan qiya>s (analogi) dari pada hadis. Ini dianggap tidak sah oleh Alba>ni>. Lebih mendahulukan qiya>s dari pada hadis bertentangan dengan al-Qur’an dan hadis. Dalam keadaan seperti ini yang dikehendaki adalah lebih mengikuti sunnah. Berkenaan dengan ini al-Alba>ni> memperkuat argumentasinya dengan mengutip pendapat Imam Syafi’i yang mengatakan “wajib hukumnya untuk menerima khabar apabila ditetapkan ke-s}ah}i>h}-annya, walaupun belum diamalkan oleh para imam.” Kemudian al-Alba>ni> melanjutkan argumentasinya ini dengan mengutip kembali pendapat Ibnu Qayyim yang menyatakan bahwa Imam Ahmad tidak pernah mendahulukan perbuatan, pendapat ataupun qiya>s dan pendapat para sahabat terhadap hadis s}ah}i>h}. Juga bukan karena ketidaktahuannya tentang hadis yang bertentangan yang dijadikan ijma’ (konsensus) oleh banyak orang. Imam Ahmad menolak pandangan adanya ijma’ dalam hal ini dan menolak mendahulukannya dari pada hadis s}ah}i>h}. keterangan Rasulullah lebih mulia dari pada harus mendahulukan ijma’ .73

Berkenaan dengan masalah penggunaan hadis a>h}a>d sebagai landasan hukum permasalahan akidah, ada sebagian kelompok yang menolaknya. Kelompok ini menyatakan bahwa hadis a>h}a>d tidak bisa digunakan sebagai dalil permasalahan akidah. Mereka yang menolak hadis a>h}a>d sebagai landasan akidah beranggapan bahwa hadis a>h}a>d hanya berimplikasi pada z}an (dugaan). Namun demikian kelompok terakhir ini tetap membolehkan penggunaah hadis a>h}a>d dalam permasalahan hukum.

dalam Menyelesaikan Masalah-Masalah yang Praktis (Cet. 3; Jakarta: Prenada Media Grup,

2010), h. 115

73

Al-Alba>ni> merasa aneh dengan pandangan terakhir ini (menolak hadis a>h}a>d sebagai landasan masalah akidah dan menerimanya sebagai landasan hukum). Al-Alba>ni> menyatakan bahwa membedakan seperti ini tidak ada landasan hukumnya baik di dalam al-Qur’an maupun sunnah. Jika tidak bisa dijadikan sebagai landasan akidah, maka tidak juga boleh menjadi landasan hukum. Z}an (dugaan) yang tidak bisa dijadikan landasan hukum itu adalah z}an yang menurut bahasa sinonim dengan bohong dan poraduga tidak benar. Berdalil tanpa ilmu. Dugaan seperti ini haram digunakan untuk hal-hal yang berkenaan dengan masalah akidah.74

Di antara dalil yang digunakan al-Alba>ni> untuk mendukung pendapatnya ini, antara lain adalah:

Q.S. al-Taubah/9:122.                        Terjemahnya :

Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka Telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.

Q.S. al-Isra>’/17:36                  Terjemahnya :

Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.

74

Q.S. al-Hujura>t/49:6                  Terjemahnya :

Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, Maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.

Penulis menyepakati apa yang dikemukakan oleh al-Alba>ni> berkenaan dengan permasalahan ini. Sudah merupakan kewajiban untuk tetap menggunakan dalil-dalil—meskipun berstatus z}an—dalam aspek hukum dan akidah. Sesengguhnya ungkapan yang menyatakan dibolehkannya hadis a>ha>d hanya dalam permasalahn hukum, akan menjadi bumerang terhadap masalah hukum itu sendiri. Hukum harus ditegakkan dengan sebuah kepastian. Praduga tidak akan menyelesaikan permasalahan.

Maka oleh karena itu pemisahan antara hukum dan akidah tidak harus terjadi. Jika hukum bisa ditegakkan atas dasar praduga yang benar dan telah teruji kebenarannya, maka akidah juga bisa demikian. Praduga yang ada pada hadis a>ha>d adalah praduga yang kuat akan kebenaran. Praduga itu sudah tidak lagi menjadi praduga, karena telah teruji kebenarannya.

Dokumen terkait