• Tidak ada hasil yang ditemukan

B. Metode Pemecahan Masalah yang Tampak Bertentangan

2. Metode Pemecahan Masalah yang Masih Tampak Bertentangan

Muh}addis\ (ahli hadis) yang disebutkan terakhir ini—dalam menyelesaikan permasalahan hadis mukhtalif mengemukakan prinsipnya sebagai berikut:

Jangan sekali-sekali mempertentangkan hadis-hadis Rasulullah satu dengan yang lainnya selama mungkin ditemukan jalan (untuk mengkompromikannya) agar hadis-hadis tersebut dapat sama-sama diamalkan. Jangan telantarkan yang satu lantaran yang lain karena kita punya kewajiban yang sama untuk mengamalkan masing-masingnya. Oleh karena itu jangan jadikan (nilai) hadis-hadis tersebut sebagai pertentangan kecuali apabila tidak mungkin dapat diamalkan selain harus meninggalkan salah satunya.51

Sebagaimana penulis singgung di atas bahwa kebenaran itu tidak mungkin bertentangan antara yang satu dengan yang lainnya. Tidak ada kemungkinan Nabi saw. menyampaikan ajaran Islam yang benar-benar saling bertentangan

48Abu Muh}ammad ‘Abd Alla>h ibn Muslim ibn Qutaibah Dainuri>, Ta’wi>l Mukhtalaf

al-Hadi>s\ (Kairo: Maktabah al-Kulliyah, 1386 H) keterangan ini dapat dilihat dalam Muh}ammad Abu>

Zahwu, al-Hadi>s\ wa al-Muh}addis\u>n (Mesir: Matba’ah al-Mis}r, t.th.), h. 362-363.

49 Ibnu Furak menulis Musykil al-Hadi>s\ wa Baya>nuh, sementara al-T}aha>wi> menulis

Musyki>l al-As\ar. Kedua kitab ini ditulis untuk membantah bahwa hadis-hadis banyak yang

bertentangan antara satu dengan yang lainnya. Lihat Muh}ammad ‘Ajja>j al-Khatib, op. cit., h. 286.

50

Edi Safri, loc. cit.

51Terjemahan ini penulis sadur dari Edi Safri, op. cit., h. 96. Sementara ungkapan Imam

antara satu dengan yang lainnya. Jika terdapat penilaian adanya pertentangan antara satu hadis dengan hadis yang lain, maka ada dua kemungkinan yang terjadi. Pertama, salah satu dari dua hadis tersebut bukan hadis maqbu>l. Hadis mardu>d baik itu d}a’i>f (lemah) atau maud}u>’ (palsu) memiliki kemungkinan yang besar bertentangan dengan hadis s}ah}i>h} atau h}asan. Kedua, adanya pemahaman yang keliru terhadap maksud yang diinginkan oleh hadis-hadis tersebut.52 Bisa jadi hadis-hadis yang tampak bertentangan tersebut memiliki konteks (maksud dan tujuan) yang berbeda. Jika ini yang terjadi, maka justru kedua hadis tersebut dapat diamalkan sesuai dengan konteksnya.

Imam al-Sya>fi’i> sendiri—dari hasil penelitian Edi Safri—menawarkan empat alternatif pemecahan masalah hadis yang berkaitan dengan masalah ini. Tiga solusi berhubungan dengan hadis yang tampak bertentangan dan satu dalam bentuk perbedaan (tanawwu’).53 Ketiga solusi pertama tersebut, sesuai dengan urutannya adalah sebagai berikut:

a. Kompromi

Cara ini adalah cara yang dimaksudkan untuk menghilangkan pertentangan yang terlihat secara lahiriyah dengan cara mencari titik temu kandungan makna masing-masing hadis sehingga maksud sesungguhnya yang diinginkan oleh setiap hadis tersebut dapat dikompromikan. Pemacahan dengan metode ini dapat ditemukan dengan cara mencari keterkaitan makna sehingga masing-masing hadis dapat diamalkan sesuai dengan konteksnya. Untuk menemukan titik temu antara hadis-hadis yang tampak bertentangan tersebut, maka perlu melakukan 4 (empat) cara, yaitu: a. Memahami kandungan hadis dengan pendekatan kaidah

52Edi Safri, op. cit., h. 97

53

us}u>l; b. Mencari pemahaman kontekstual; c. Melihat pemahaman korelatif; d. Ta’wi>l.54

b.Nasakh

Cara kedua ini dilakukan setelah cara yang pertama memang sudah tidak mampu lagi memecahkan permasalahan. Di sini terungkap bahwa cara kompromi tidak membuahkan penyelesaian, oleh sebab itu ditempuh cara nasakh. Pada hadis-hadis mukhtalif yang pertentangannya tidak hanya terjadi pada makna lahiriyahnya namun juga pada makna yang dikandungnya, berkemungkinan besar salah satu dari hadis tersebut telah terjadi na>sikh dan satu yang lainnya mansu>kh.55 Jika ini yang terjadi, maka na>sikh diamalkan dan mansu>kh ditinggalkan.

c.Tarji>h}

Tarji>h} secara bahasa berarti ‘menguatkan’, sementara secara istilah menurut defenisi mayoritas ulama adalah: ‘menguatkan salah satu indikator dalil yang z}anni> atas yang lainnya untuk diamalkan’.56

Cara Tarji>h dimaksud adalah membandingkan hadis-hadis yang tampak bertentangan yang tidak dapat dikompromikan dan tidak pula ditemukan adanya indikasi nasakh. Dari hasil perbandingan tersebut diambil hadis yang lebih kuat yang memilki nilai yang lebih tinggi dari hadis yang lainnya, di mana yang lebih kuat diamalkan dan yang lemah ditinggalkan. Oleh karena itu berbagai hal yang dapat menguatkan sebuah hadis yang dapat dijadikan dalil digunakan sebagai data pendukung untuk melemahkan hadis yang lain memiliki pendukung lebih

54

Pembahasan lebih lengkap tentang masalah ini sudah dibahas pada pembahasan sebelumnya pada pembahasan mengenai ‘Kerangka Metodologis Syarah Hadis’.

55

Muhammad 'Ajaj al-Khatib, op. cit., h. 288

56Lihat misalnya Nasrun Haroen, Ushul Fiqh, (Cet ke-2; Jakarta: Logos Wacana Ilmu,

sedikit dari sisi sanad dan matan. Dengan membandingkan dua hadis yang bertentangan ini, bisa diketahui mana hadis yang lebih ra>jih} (kuat) dan yang lainnya marju>h (dilemahkan). Dengan cara ini pertentangan dapat dihindari. Dengan demikian pula maka hadis ra>jih} diamalkan dan yang marju>h} ditinggalkan.57

Sebagaimana disinggung sebelumnya Imam al-Sya>fi’i> melakukan ketiga cara ini secara berurut. Artinya yang pertama akan dilakukan adalah kompromi, lalu nasakh. Jika hal ini juga belum menyelasikan masalah, maka baru dilakukan tarji>h}.

Urutan ini berbeda dengan apa yang dilakukan dalam Mazhab Hanafiyah. Kelompok terakhir lebih mendahulukan melakukan nasakh untuk menghindari kerja yang berulang. Jika dilakukan kompromi terlebih dahulu, sementara pertentangan itu sudah ada kejelasan tentang nasakh-nya, maka cara kompromi dianggap hanya menghabiskan waktu. Memang belum ada penelitian yang mengungkap latar belakang Mazhab Hanafiyah melakukan urutan yang berbeda dengan Imam al-Sya>fi’i>.

Sementara itu pemecahan masalah yang berhubungan dengan perbedaan yang terkandung dalam hadis diselesaikan dengan cara tanawwu’ al-iba>dah berikut ini.

d.Tanawwu’ al-‘Iba>dah

Cara terakhir ini adalah cara yang ditempuh Imam al-Sya>fi’i> untuk memecahkan masalah yang terjadi jika terjadi perbedaan antara satu hadis dengan hadis lainnya. Perbedaan itu bukan dalam arti ta’a>rud} (bertentangan), tetapi dalam arti tanawwu’ (pola).

57

Berkenaan dengan dua hal ini, Salman bin ‘umar al-Sunaid mengutip Ibnu Taymiyyah dan al-Sya>tibi> menyatakan bahwa ikhtila>f terbagi menjadi dua: tanawwu’ dan tad}a>d}. Bagian pertama bermakna perbedaan yang bersifat variasi, sementara bagian kedua bermakna perbedaan yang bersifat kontradiksi.58

Variasi yang dibicarakan pada bagian ini adalah variasi yang dibolehkan dalam ibadah. Dengan kata lain adanya berbagai macam bentuk ibadah yang memang memiliki sandaran riwayat yang bermacam-macam pula. Ibnu Taymiyyah dan Ibnu ‘Abd al-‘Izz al-Hanafi> menyebutnya dengan istilah ikhtilaf al-‘anwa>’.59

Sementara itu Edi Safri sendiri memberikan defenisi masalah ini sebagai adanya hadis-hadis yang menerangkan praktek ibadah tertentu yang diajarkan oleh Rasulullah saw. namun demikian terdapat perbedaan antara yang satu dengan yang lain, bukan pertentangan, sehingga menggambarkan keberagaman dalam pelaksanaan ibadah tersebut.60

Dalam perkara ini yang akan menjadi pertimbangan adalah mengamalkan pola yang lebih afd}al. Untuk permasalahan ini, maka perlu dilihat tiga hal berikut ini: pertama, ragam ibadah yang sering dilakukan oleh Rasulullah saw. dan para sahabat; kedua, ajaran yang terkandung dalam hadis itu sendiri, mana yang lebih lengkap dan tepat sesuai dengan kondisi pengguna; ketiga, mana dari hadis-hadis tersebut yang lebih tinggi tingkat ke-s}ah}i>h}-annya.61

Solusi alternatif yang ditawarkan oleh Imam al-Sya>fi’i> yang direformulasi oleh Edi Safri di atas cukup menarik. Namun demikian penulis beranggapan bahwa formula yang terakhir (tanawwu’ al-iba>dah) hanya merupakan metode

58 Salman bin ‘umar al-Sunaid, al-Tanawwu’ al-Masyru>’ fi> S}ifat al-S}alah, terj. Arif

Munandar, Variasi Praktik Shalat Nabi SAW. Kajian Lengkap Seputar Ragam Tata Cara Shalat Sesuai Praktik Nabi SAW. (Cet I; Solo: Qiblatuna, 2011), h. 25

59

Ibid., h. 27

60Edi Safri, op. cit., h. 132

61

tambahan saja. Metode terakhir ini tidak beda dengan metode kompromi. Kedua hadis yang saling berhadapan itu dapat diamalkan seluruhnya. Lebih lanjut penulis melihat bahwa apa yang ditawarkan tersebut juga masih kurang. Kekurangan tersebut adalah bagaimana jika seluruh cara yang ditawarkan tersebut tidak bisa dilakukan? Haruskah terjadi pemaksaan aplikasi teori?

Untuk itu maka, sebagaimana sudah penulis singgung pada awal disertasi ini, al-tawqi>f diperlukan. Al-al-tawqi>f adalah menunggu penyelesaian masalah sampai ada petunjuk atau dalil lain yang dapat menyelesaikannya atau menjernihkannya.62 Berkenaan dengan ini pula maka Ibnu Hajar lebih lanjut menyatakan bahwa hadis maqbu>l yang tidak ada pertentangan dengan hadis maqbu}l lainnya disebut sebagai muhkam. Namun demikian jika ada hadis yang memiliki kualitas yang sama dengan hadis maqbu>l tersebut maka hadis tersebut dianggap mukhtalif dan hadis-hadis tersebut harus dikompromikan secara wajar. Bila tidak dapat dikompromikan dan ada data sejarah yang memastikan kedua hadis tersebut tidak keluar secara bersamaan, maka yang datang datang terakhir dianggap na>sikh dan yang lainnya mansu>kh. Jika langkah ini tak bisa dilakukan maka hadis-hadis yang saling bertentangan tersebut akhirnya dipending (tawaqquf).63 Langkah terakhir ini penulis anggap sebagai langkah yang sangat perlu dilakukan untuk menghindari pemaksaan teori dan juga ketergesaan dalam mengambil istinba>t} (kesimpulan).

Dokumen terkait