• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kaitan hak dipilih dengan hak asasi manusia bagaikan “dua sisi mata uang”. Penggunaan hak pilih, termasuk hak dipilih (hak pilih pasif) merupakan suatu hak dan sekaligus bagian dari hak asasi manusia. Hak asasi manusia adalah hak-hak yang dimiliki oleh manusia semata-mata karena ia manusia. Hak ini dimilikinya bukan karena diberikan oleh masyarakat atau berdasarkan hukum positif,

melainkan berdasarkan martabatnya sebagai manusia.38 Meskipun manusia

terlahir dalam kondisi dan keadaan yang berbeda-beda, termasuk berbeda jenis

38Rhona K.M. Smith, dkk, 2008, Hukum Hak Asasi Manusia, Yogyakarta, PUSHAM UII, Hlm. 11.

kelamin, ras, agama, suku, budaya dan keanekaragaman lainnya, namun manusia

tetap memiliki hak-hak tersebut dimana hak tersebut bersifat universal.39

Sifat keuniversalan hak asasi manusia tidak lain karena hak asasi manusia merupakan hak yang dimiliki oleh setiap manusia yang melekat dan inheren dalam dirinya sehingga wajib dihormati, dipenuhi, dijunjung tinggi, dilindungi, dan dijamin oleh negara, hukum dan pemerintah. Untuk itu dalam sistem hukum nasional Negara Republik Indonesia yang diproklamasikan pada tanggal 17 Agustus 1945, nilai-nilai hak asasi manusia yang sejatinya adalah nilai-nilai kemanusiaan sebagai tercermin dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, dalam Batang Tubuh Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang meski tidak aplikatif, dan dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 Perubahan. Di samping itu materi-materi hak asasi manusia dalam Konstitusi Negara Republik Indonesia tersebut tidak dapat dilepaskan dari pengaruh perkembangan hak asasi manusia di dunia, termasuk yang telah menjadi instrumen-instrumen internasional mengenai hak asasi manusia.

39Dalam Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 ditemukan dua pengertian hak asasi manusia meski memiliki substansi yang sama. Pertama, hak asasi manusia merupakan hak dasar yang secara kodrati melekat pada diri manusia, bersifat universal dan langgeng, oleh karena itu harus dilindungi, dihormati, dipertahankan, dan tidak boleh diabaikan, dikurangi, atau dirampas oleh siapa pun (bagian Menimbang pada huruf b). Kedua, hak asasi manusia adalah seperangkat hak yang melekat pada hakikat dan keberadaan manusia sebagai mahkluk Tuhan Yang Mahan Esa dan merupakan anugerah-Nya yang wajib dihormati, dijunjung tinggi dan dilindungi oleh negara, hukum, pemerintah, dan setiap orang demi kehormatan serta perlindungan harkat dan martabat manusia (Pasal 1 angka 1).

Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 terkandung sarat dengan nilai-nilai hak asasi manusia, baik pada alenia pertama sampai alenia keempat. Dalam alenia keempat dinyatakan bahwa: “Kemudian dari pada itu....maka disusunlah kemerdekaan kebangsaan itu dalam suatu undang-undang Negara Indonesia yang terbentuk dalam suatu susunan negara Republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat...” Pernyataan tersebut dapat dimaknai bahwa sistem pemerintahan Negara Republik Indonesia didasarkan atas kedaulatan rakyat (demokrasi). Oleh karena itu bentuk Negara Republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat merupakan bentuk pemerintahan dimana pemerintah dipilih oleh rakyat. Bentuk ini sejalan dengan makna kedaulatan rakyat dimana kekuasaan tertinggi dalam negara dipegang oleh rakyat (negara yang menganut paham demokrasi). Rakyat yang memiliki kekuasaan untuk menyelenggarakan pemerintahan, baik secara langsung maupun tidak langsung melalui lembaga perwakilan rakyat.

Amanat kedaulatan rakyat dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 tersebut dielabosi sebagaimana tercermin dalam Batang Tubuh Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 Perubahan Ketiga dalam Pasal 1 ayat (2), Pasal 6A, Pasal 18 ayat (4), Pasal 19 ayat (1), dan Pasal 22E. Ketentuan konstitusional tersebut pada hakekatnya merupakan perwujudan dari kedaulatan rakyat yang dilaksanakan melalui pemilihan umum secara langsung, umum, bebas, rahasia, jujur dan adil untuk

memilih wakil-wakil rakyat (Dewan Perwakilan Rakyat, dan Dewan Perwakilan Daerah, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah), Presiden dan Wakil Presiden serta Gubernur, Bupati dan Walikota. Hak-hak konstitusional warga negara tersebut seperti hak pilih dan hak dipilih sebagai hak politik dikonkretisasi oleh lembaga pemilihan umum (Komisi Pemilihan Umum). Komisi Pemilihan Umum sebagai lembaga secara konstitusional baru lahir dalam Konstitusi Negara Republik Indonesia (Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 Perubahan Ketiga) bersifat nasional, mandiri dan tetap eksistensinya telah diakui oleh negara-negara yang menganut paham kedaulatan rakyat (paham demokrasi). Oleh karena itu pemilihan umum merupakan salah satu sarana penyaluran hak

asasi warga negara dan sekaligus sebagai ciri dari negara hukum demokratis.40

Dengan eksistensinya yang sangat penting dan strategis dalam mewujudkan negara hukum demokratis, maka dapat dimaknai apabila International Commission of Jurist (1965) memberikan rumusan mengenai sistem politik yang demokratis sebagai suatu bentuk pemerintahan dimana hak untuk membuat keputusan-keputusan politik diselenggarakan oleh warga negara melalui wakil-wakil yang

40International Commission of Jurist dalam konferensi tahun 1965 di Bangkok telah

merumuskan syarat-syarat pemerintahan yang demokratis di bawah Rule od Law ialah: 1) Perlindungan konstitusional, dalam arti bahwa konstitusi, selain menjamin hak-hak individu harus menentukan pula cara prosedural untuk memperoleh perlindungan atas hak-hak yang dijamin; 2) Badan kehakiman yang bebas dan tidak memihak (independent and impartial trubunal); 3) Pemilihan umum yang bebas; 4) Kebebasan untuk menyatakan pendapat; 5) Kebebasan untuk berserikat/ berorganiasi dan beroposisi; 6) Pendidikan kewarganegaraan (civic education) dalam Miriam Budiardjo, Op.Cit., Hlm. 116.

dipilih oleh mereka dan yang bertanggung jawab kepada mereka melalui suatu

proses pemilihan yang bebas.41

Sebagaimana diuraikan di atas bahwa tonggak-tonggak sejarah hak dipilih tidak dapat dilepaskan dan sekaligus merupakan bagian dari perkembangan hak asasi manusia, demokrasi, negara hukum, baik dalam istilah Rechtsstaat maupun Rule of Law dalam pengertian klasik dan modern. Keberadaan hak dipilih sebagai bagian dari hak asasi manusia dengan tegas diuraikan tidak saja dalam Konstitusi Negara Republik Indonesia, Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 Tentang Hak Asasi Manusia melainkan juga dalam berbagai instrumen internasional tentang hak asasi manusia. Keberadaan hak dipilih sebagai constitutional rights dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 diatur dalam Pasal 27 ayat (1) dan ayat (2), Pasal 28D ayat (3) dan Pasal 28E ayat (3). Sedangkan dalam Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 diatur dalam Pasal 23 ayat (1) yang menetukan bahwa “Setiap orang bebas untuk memilih dan mempunyai keyakinan politiknya”. Lebih lanjut diuraikan dalam Pasal 43 ayat (1) yang menentukan bahwa “Setiap warga negara berhak untuk dipilih dan memilih dalam pemilihan umum berdasarkam persamaan hak melalui pemungutan suara yang langsung, umum, bebas, rahasia, jujur dan adil sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.”

Pengaturan hak dipilih dalam Deklarasi Universal hak Asasi Manusia diatur dalam Pasal 21 ayat (1) dan ayat (2). Sedangkan dalam Kovenan Internasional Tentang Hak-Hak Sipil dan Politik diatur dalam Pasal 25 ayat (1) dan ayat (2). Kedua instrumen internasional hak asasi manusia tersebut, secara substansial menegaskan bahwa setiap warga negara mempunyai hak sama tanpa ada perbedaan untuk duduk dalam pemerintahan dan memiliki hak politik yang sama untuk memilih dan dipilih dalam pemilihan umum yang dilaksanakan secara langsung, umum, bebas, rahasia, adil dan jujur. Segala bentuk pembatasan, penyimpangan, peniadaan, penghapusan dan tindakan diskriminatif terhadap hak-hak tersebut sehingga tidak dapat dipenuhi hal tersebut merupakan pelanggaran.

Dari seluruh uraian tentang hak dipilih di atas menunjukkan dengan jelas bahwa hak dipilih sebagai bagian dari hak asasi manusia merupakan constitusional rights dimana jaminan, pemenuhan, penegakan dan perlindungan terhadap hak tersebut merupakan tanggung jawab negara, terutama pemerintah. Berbagai bentuk pembatasan, penyimpangan, peniadaan, penghapusan, dan tindakan diskriminatif yang membuat tidak terpenuhinya hak-hak tersebut dapat dinyatakan sebagai bentuk pelanggaran terhadap hak asasi manusia.

BAB III