• Tidak ada hasil yang ditemukan

AKIBAT HUKUM PUTUSAN MAHKAMAH KONSTITUSI NOMOR 011-017/PUU-I/2003 TERHADAP WARGA NEGARA

4.1 Pertimbangan dan Analisis Hukum atas Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 011-017/PUU-I/2003

4.1.3 Pendapat Berbeda (Dissenting Opinion)

Hakim Konstitusi, H. Achmad Roestandi, S.H. memberikan pendapat berbeda (dissenting opinion) dengan Hakim Konstitusi lainnya. Achmad Roestandi berpendapat bahwa permohonan Para Pemohon I nomor 23 sampai dengan nomor 28 dalam Perkara Nomor 011/ PUU-I/2003 dan seluruh Para Pemohon II dalam Perkara Nomor 017/ PUU-I/2003 harus ditolak dengan alasan sebagai berikut.

a) Pasal 60 huruf g Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2003 tentang Pemilihan Umum Anggota Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah berbunyi: “bukan bekas anggota organisasi terlarang Partai Komunis Indonesia, termasuk organisasi massanya, atau bukan orang yang terlibat langsung ataupun tak langsung dalam G30S/ PKI, atau organisasi terlarang lainnya.” Pasal ini seolah-olah tidak terlalu sejalan dengan semangat yang terkandung dalam beberapa pasal dari Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, yaitu: a) Pasal 27 ayat (1): persamaan hak dalam hukum dan pemerintahan; b) Pasal 28 C ayat (2): hak untuk memperjuangkan haknya secara kolektif; c) Pasal 28 D ayat (1): hak atas perlakuan yang sama di depan hukum; d) Pasal 28 D ayat (3): hak untuk memperoleh kesempatan yang sama dalam pemerintahan; e) Pasal 28 I ayat (2): hak untuk bebas dari perlakuan yang bersifat diskriminatif.

b) Namun demikian, dalam membaca dan mencari makna pasal-pasal Undang-Undang Dasar hendaknya tidak parsial, tetapi harus dikaitkan secara sistematis dengan pasal-pasal lainnya, dalam hal ini terutama Pasal 22E ayat (6), Pasal 28I ayat (1), dan Pasal 28J ayat (2) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

c) Pasal 22 E ayat (6) berbunyi: “Ketentuan lebih lanjut tentang Pemilu diatur dengan undang-undang”. Pasal ini memberi mandat kepada Pembuat Undang-Undang (Dewan Perwakilan Rakyat dan Presiden) untuk membuat ketentuan yang lebih rinci tentang Pemilu. Sebagaimana lazimnya mandat seperti itu bisa meliputi persyaratan, penegasan (konfirmasi), pengulangan (repetisi), dan pembatasan (restriksi) sepanjang tidak bertentangan dengan Undang-Undang Dasar. Itulah yang telah dilakukan oleh pembuat Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2003 tentang Pemilihan Umum Anggota Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah yaitu membuat pembatasan seperti tercantum dalam Pasal 60 huruf a: pembatasan umur, Pasal 60 huruf c: pendidikan, Pasal 60 huruf g: konduite politik, dan Pasal 145: status pemilih.

d) Pembatasan seperti itu mempunyai alas konstitusional, yaitu: Pasal 28 J ayat (2) dan 28 I ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Pasal 28 J ayat (2) berbunyi: “Dalam menjalankan

yang ditetapkan oleh Undang-Undang dengan maksud semata-mata untuk menjamin pengakuan serta penghormatan atas hak dan kebebasan orang lain dan untuk memenuhi tuntutan yang adil sesuai dengan pertimbangan moral, nilai-nilai agama, keamanan dan ketertiban umum dalam suatu masyarakat demokratis.” Pasal ini memberikan wewenang kepada pembuat undang-undang untuk membuat pembatasan bagi setiap orang dalam menjalankan haknya dengan pertimbangan tertentu. Adapun salah satu pertimbangan yang bisa digunakan sebagai dasar pembatasan itu adalah pertimbangan keamanan dan ketertiban umum.

e) Walaupun rujukan terakhir adalah Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, tetapi pembatasan tersebut bersesuaian dengan Pasal 29 ayat (2) Universal Declaration of Human Rights yang berbunyi: “In the exercise of his rights and freedoms, everyone shall be subject only to such limitations determined by law solely for the purpose of securing due recognation and respect for the rights and freedoms of others and of meeting the just requirements of morality, public order and the general welfare in a democratic society”.

f) Sebagai perbandingan, pembatasan hak individual karena konduite politik, yaitu misalnya bekas anggota suatu Partai Politik tertentu bisa terjadi juga di negara lain, termasuk negara-negara yang demokratis. Dari keterangan ahli Frans Magnis Soeseno, dalam sidang, terungkap bahwa di Jerman, setidak-tidaknya sewaktu pendudukan Sekutu (1945-1949) dan di

awal era Republik Federasi Jerman (1949-1953) telah dilakukan tindakan de-NAZI-fikasi, yang antara lain berupa pembatasan terhadap bekas anggota partai Nazi untuk menduduki jabatan-jabatan tertentu (misalnya jabatan menteri). Ahli juga mengakui bahwa Sekutu yang terdiri dari Amerika Serikat, Inggris, dan Perancis adalah negara demokratis, walaupun belum tentu bertindak demokratis.

g) Pembatasan yang diberlakukan di Jerman tidak bersifat permanen tetapi semakin longgar dan akhirnya berakhir pada tahun 1956. Sementara itu, ahli menerangkan juga bahwa walaupunn hak asasi manusia tidak bisa dilanggar dengan menggunakan alasan raison d’etat, namun dalam kenyataannya dengan menggunakan alasan kepentingan nasional (national interest) kadang-kadang pelanggaran terhadap ketentuan tersebut dilakukan oleh negara-negara “demokratis”.

h) Pemerintah Amerika Serikat melakukan penangkapan terhadap warga Afghanistan yang dicurigai terlibat Al-Qaida dan kemudian menahan mereka di sebuah kamp di Guatanamo (Cuba). Walaupun tindakan Pemerintah Amerika Serikat seperti itu mungkin tidak akan dibenarkan oleh Hakim-hakim Amerika Serikat, tetapi demi raison d’etat dan national interest ternyata Pemerintah Amerika melakukannya.

i) Di Indonesia, berdasarkan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 pembatasan seperti itu bisa dilakukan oleh pembuat undang-undang terhadap semua hak asasi manusia, yang

tercantum dalam keseluruhan Bab XV HAK ASASI MANUSIA, kecuali terhadap hak-hak yang tercantum dalam Pasal 28 I, yaitu:

a. hak hidup.

b. hak untuk tidak disiksa.

c. hak kemerdekaan pikiran dan hati nurani. d. hak beragama.

e. hak untuk tidak diperbudak.

f. hak untuk diakui sebagai pribadi di depan hukum.

g. hak untuk tidak dituntut atas dasar hukum yang berlaku surut.

h. Pembatasan yang diatur dalam Pasal 60 huruf g Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2003 tentang Pemilihan Umum Anggota Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah tidak termasuk dalam salah satu hak yang disebut dalam Pasal 28 I ayat (1). Oleh karena itu pembatasan dalam Pasal 60 huruf g tidak bertentangan dengan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Dari keterangan Dewan Perwakilan Rakyat dan Pemerintah terungkap bahwa ketika Pasal 60 huruf g dibahas telah secara mendalam dipertimbangkan alasan-alasan pembatasan tersebut sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28 I ayat (1) dan Pasal 28J ayat (2) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

j. Pembatasan yang ditentukan oleh pembuat undang-undang sebagaimana tercantum dalam Pasal 60 huruf g bukanlah pembatasan yang bersifat permanen, melainkan pembatasan yang bersifat situasional, dikaitkan dengan intensitas peluang penyebaran kembali faham (ideologi) Komunisme/Marxisme-Leninisme dan konsolidasi Partai Komunis Indonesia (PKI). Sebagaimana diketahui penyebaran ideologi komunisme dan konsolidasi PKI tidak dikehendaki oleh rakyat Indonesia, dengan tetap diberlakukannya TAP MPRS Nomor XXV/MPRS/1966 oleh MPR hingga saat ini. Menurut keterangan ahli Dr. Thamrin Amal Tomagola, TAP MPR itu secara formal adalah sah, karena dibuat oleh lembaga negara yang berwenang.

k. Pembatasan ini bersifat situasional, dapat ditelusuri dengan semakin longgarnya perlakuan terhadap bekas anggota PKI dan lain-lain dari undang-undang Pemilu yang terdahulu ke undang-undang Pemilu berikutnya. Dalam undang-undang Pemilu sebelumnya bekas anggota PKI dan lain-lain, bukan saja dibatasi hak pilih pasif (hak untuk dipilih), tetapi juga hak pilih aktif (hak untuk memilih). Sedangkan dalam Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2003 tentang Pemilihan Umum Anggota Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah yang dibatasi hanya hak pilih pasif saja.

l. Dalam rangka rekonsiliasi nasional, di masa datang pembuat undang-undang diharapkan untuk mempertimbangan kembali pembatasan itu, yang diikuti oleh legislative review, untuk memutakhirkan bunyi Pasal 60 huruf g sesuai dengan pertimbangan-pertimbangan yang sesuai dengan ketentuan Pasal 28J ayat (2) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Himbauan ini disampaikan karena sesuai dengan ketentuan Pasal 28J ayat (2) yang diberikan wewenang untuk membuat pertimbangan atas pembatasan itu adalah pembuat undang-undang (Dewan Perwakilan Rakyat bersama Presiden), bukan lembaga negara lain. Setiap lembaga negara, termasuk Mahkamah Konstitusi memang boleh saja memberikan penilaian terhadap situasi keamanan dan ketertiban umum untuk menentukan atau menghapuskan pembatasan, tetapi secara konstitusional yang diberi mandat sebagai pemegang kata akhir (ultimate decision maker) dalam hal ini adalah pembuat undang-undang (Dewan Perwakilan Rakyat dan Presiden).

Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 011-017/PUU-I/2003 diputus dalam rapat permusyawaratan Pleno Mahkamah Konstitusi pada hari Selasa, tanggal 24 Pebruari 2004 dan diucapkan dalam Sidang Pleno Mahkamah Konstitusi yang terbuka untuk umum pada hari Selasa, tanggal 24 Pebruari 2004. Dalam pembacaan perkara a quo, Prof. Dr. Jimly Asshiddiqie, S.H., selaku Ketua dan didampingi oleh: Prof. Dr. H.M. Laica Marzuki, S.H., Prof. H.A.S. Natabaya,

S.H., L.LM., Dr. Harjono, S.H., MCL, I Dewa Gede Palguna, S.H., M.H., Prof. Dr. H. Mukthie Fajar, S.H., M.S., Maruarar Siahaan, S.H., Soedarsono, S.H., dan H. Achmad Roestandi, S.H., masing-masing sebagai Anggota. Sedang Cholidin Nasir, S.H. sebagai Panitera Pengganti.

4.1.4 Ratio Decidendi Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 011-017/PUU-I/2003

Ian McLeod dalam buku Legal Method secara singkat menerjemahkan ratio decidendi sebagai alasan untuk membuat keputusan (... ratio decidendi may be translated as the reason for the decision...).79

Dengan kalimat lain, ratio decidendi

maksudnya adalah dasar putusan.80 Dalam kaitan dengan Putusan Mahkamah

Konstitusi Nomor 011-017/PUU-I/2003 merupakan putusan Mahkamah Konstitusi yang pertama kali menyatakan suatu norma bertentangan dengan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dan tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat. Pengujian terhadap undang-undang (judicial review) dimaksud adalah terhadap ketentuan Pasal 60 huruf g Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2003 Tentang Pemilihan Umum Anggota Dewan

79 Ian McLeod, 1996, Legal Method (Second Edition), London, MacMillan, Hlm. 137. 80Bryan A. Garner, 2009, Op.Cit., Hlm. 1376 menyatakan ratio decidendi diartikan sebagai: “the reason for deciding”. Selengkapnya disebut: 1) “The principle or rule of law on which a

court’s decision in founded; 2) The rule of the law on which a later court thinks that a previous court founded its decision”.

Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah.

Mahkamah Konstitusi menyatakan larangan bekas anggota organisasi terlarang Partai Komunis Indonesia, termasuk organisasi massanya, atau orang yang terlibat langsung maupun tidak langsung dalam G.30.S/PKI atau organisasi terlarang lainnya menjadi Anggota Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi, dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten/Kota adalah bertentangan dengan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dan tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat.

Dalam Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 011-017/PUU-I/2003, Mahkamah Konstitusi telah memulihkan hak dipilih bekas anggota Partai Komunis Indonesia (PKI) dan anggota partai terlarang lainnya yang dibatasi oleh ketentuan Pasal 60 huruf g Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2003 Tentang Pemilihan Umum Anggota Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. Pasal ini telah membatasi hak asasi manusia warga negara terkait dengan persyaratan menjadi calon anggota Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah, bukan bekas anggota organisasi terlarang PKI, termasuk organisasi massanya, atau bukan

orang yang terlibat langsung atau pun tidak langsung dengan peristiwa tersebut.81

81Istilah “terlibat langsung atau tidak langsung” bersifat relatif. Ketentuan Pasal 60 huruf g Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2003 menegaskan syarat-syarat pencalonan anggota Dewan

Setelah Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 011-017/PUU-I/2003 tersebut, beberapa materi muatan ayat, pasal, dan/atau bagian dari undang-undang ataupun undang-undang secara keseluruhan yang diputus dan diucapkan oleh Mahkamah Konstitusi dalam sidang terbuka untuk umum sampai dengan tahun 2012, dikabulkan permohonannya dan dalam amar putusan dinyatakan bertentangan dengan Undang-Undang Dasar Republik Negara Indonesia Tahun 1945 dan tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat.

Di antara ratio decidendi pada Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 011-017/PUU-I/2003 dapat disebutkan bahwa di samping sebagai implementasi atas kewenangan Mahkamah Konstitusi sebagai pelindung hak-hak konstitusional warga negara, sebagai penafsir tunggal konstitusi, dan sebagai pengawal demokrasi (the protector of the citizen constitutional rights, as sole intepreter of the constitution, and as the guardian of the process of democratization) juga

adalah dalam rangka menuju rekonsiliasi nasional.82 Rekonsiliasi dimaknai

Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten/Kota. Pada waktu itu, apabila calon anggota warga negara telah berumur 60 tahun dimana dalam KTP-nya tidak tertulis “seumur hidup” melainkan dalam KTP-nya diberi tanda ET (eks tahanan politik), maka tidak memenuhi syarat Pasal 60 huruf g Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2003 karena telah dianggap sebagai bekas anggota Partai Komunis Indonesia atau terlibat langsung atau tidak langsung dalam G.30.S/PKI.

82Pengertian rekonsiliasi menurut Jimly Asshiddiqie ada dua, yaitu: a) secara sosiologis- politis atau dalam arti sempit dimaksudkan sebagai usaha mengatasi konflik dengan semangat “islah” dan “rujuk” untuk terciptanya kehidupan bersama yang rukun dan damai di antara pihak-pihak yang sebelumnya bersengketa; 2) secara politis atau dalam arti luas berhubungan dengan telah terjadnya berbagai jenis pelanggaran hak asasi manusia yang berat (gross violation of human

rights) yang selama ini belum pernah diselesaikan secara adil yang banyak menimpa banyak pihak

di masa lalu. Lihat dalam Jimly Asshiddiqie, 2011, Hukum Tata Negara dan Pilar-Pilar

Demokrasi, Jakarta, Edisi Kedua, Sinar Grafika, Hlm. 299-300. Bdk. dalam Anonim, 2014,

sebagai upaya untuk memperbaiki sebuah hubungann yang rusak yang dilakukan oleh dua pihak yang terlibat dalam pertikaian. Dalam perspektif substantif, ada beberapa argumentasi mengapa penyelesaian berbagai kasus hak asasi manusia masa lalu pada umumnya dan pemberontakan PKI tahun 1965 pada khususnya mendesak untuk segera diselesaikan oleh pemerintah yang sedang memegang kekuasaan. Argumentasi yang dijadikan dasar, pertama, berdasarkan penilaian politis bahwa Indonesia kini masih berada pada masa peralihan/transisi dari periode otoriter ke rezim yang lebih demokratik. Masa peralihan adalah masa yang strategis dan momen paling tepat untuk menyelesaikan kasus-kasus yang berkaitan dengan pelanggaran hak asasi manusia pemerintahan sebelumnya yang autokratik

dan sewenang-wenang, khususnya pemberontakan PKI.83

Dapat dinyatakan sebagai masa yang strategis karena pelaku pelanggaran hak asasi manusia diharapkan masih dapat dimintai pertanggungjawaban. Banyak pelaku masih hidup dan berbagai dokumen yang mendukung dapat dijadikan sebagai dasar masih dapat ditemukan. Barang bukti yang mendukung

persahabatan ke keadaan semula. Bdk.juga dalam Bryan A. Gadner (Ed.)., 2009, Op.Cit., Hlm 1386 mengartikan rekonsiliasi sebagai pemulihan keharmonisan antara orang-orang atau sesuatu yang telah mengalami konflik (restoration of harmony between persons or things that had been in

conflict).

83Ifdhal Kasim (Ed..), 2003, Kebenaran Versus Keadilan. Pertanggungjawaban

Pelanggaran HAM Masa Lalu, Jakarta, Elsam. Dalam buku ini dideskripsikan, misalnya

terjadinya pembunuhan, penyiksaan, penahanan massal, pengusiran paksa, perkosaan, perbudakan seks, terjadi antara bulan Oktober 1965 sampai sekitar bulan Maret 1966. Diduga antara setengah sampai satu juta orang tewas dalam rangkaian kejadian itu, ratusan ribu lainnya ditahan, sementara belasan juta kehilangan penghidupan, harta benda karena dirampas dalam gelombang kekerasan tersebut. Operasi pembasmian ini menandai awal berdirinya Orde Baru. Pola dan teknik yang digunakan terus ditemukan dalam kasus-kasus pelanggaran selanjutnya.

pengungkapkan diharapkan masih dapat diinventarisasi. Demikian pula saksi-saksi maupun korban diharapkan pula masih dapat mengingat peristiwa dengan baik.

Kedua, penyelesaian kasus masa lalu membawa makna penting untuk mencegah impunitas atau kekebalan dari para pelanggar hak asasi manusia, apalagi kasus pemberontakan PKI yang membawa begitu banyak korban dan

kerugian itu.84 Sejarah tentu mencatat, bahwa dengan tidak diselesaikannya kasus

itu segera memberikan kesan bahwa para pelanggar hak asasi manusiaa dapat bebas meninggalkan korbannya tanpa pertanggungjawaban. Hal demikian bertentangan dengan nilai-nilai keadilan dan cita-cita negara hukum yang menjadi dasar penyelenggaraan negara. Padahal dalam hal ini dengan tegas dinyatakan bahwa Indonesia adalah negara berdasar atas hukum.

Norma yang dijadikan dasar untuk penetapan kesalahan terhadap pelaku penting dan penegakan hukum dengan doktrin persamaan dihadapan hukum (equality before the law) dalam negara hukum harus konsisten ditegakkan. Apalagi dalam tataran kehidupan berbangsa dan bernegara bersama dalam pergaulan internasional hal demikian diabadikan dalam Universal Declaration of Human Rights (UDHR) tidak hanya menjadi sekadar tema yang dikumandangkan untuk kepentingan sempit. Konsistensi terhadap penegakan hukum bagi pelanggar hak

84

Pemberontakan PKI menimbulkan diskriminasi hak kewarganegaraan, yang mencabut atau membatasi hak kewarganegaraan tanpa dasar hukum telah merugikan hak dan kewenangan konstitusional warga negara Indonesia. Dalam bahasa politis, mereka menjadi korban rezim Orde Baru dalam peristiwa G.30.S/PKI dan pelanggaran HAM.

asasi manusia untuk ini harus ditegakkan sebagai implementasi dan tanggungjawab atas peristiwa yang terjadi pada masa lalu.

Ketiga, pada perspektif hak asasi manusia, penuntasan kasus pelanggaran hak asasi manusia masa lalu, khususnya kasus pemberontakan PKI merupakan refleksi keadilan. Penegakan keadilan bagi para korban adalah adalah hak setiap orang yang dilanggar hak asasinya sebagaimana diamanatkan Pasal 8 Deklarasi Universal Hak-Hak Asasi Manusia. Demikian pula, pemberian keadilan bagi para korban merupakan syarat yang harus dipenuhi terlebih dahulu dalam kerangka tercapainya rekonsiliasi nasional dimaksud.

Rekonsiliasi atau perdamaian atau persahabatan baru akan mungkin terwujud, jika pelaku telah ditetapkan sebagai pihak yang bersalah. Sebagai konsekuensinya harus menjalani hukuman, atau kewajiban lain menurut hukum sebagai kompensasinya. Demikian pula, untuk pihak korban mendapatkan kompensasi, restitusi, rehabilitasi, dan pemulihan nama baik sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan atas dasar hak asasi manusia (HAM).

Tanpa adanya pengungkapan dan penetapan siapa yang salah dan bertanggung jawab dan kewajiban bagi pelaku, maka rekonsiliasi nasional sulit diwujudkan. Oleh karena itu, mendasar untuk dilakukan adalah melakukan klarifikasi berdasarkan kesadaran semua pihak sehingga perjalanan sejarah masa lalu yang kelam itu menjadi catatan berharga bagi eksistensi bangsa Indonsia.

Rekonsiliasi nasional, dalam perspektif hak asasi manusia, termasuk hak warga negara artinya seluruh warga negara mempunyai kesempatan, hak dan

kewajiban serta tanggungjawab yang sama di dalam kedudukan di pemerintahan (jabatan publik). Oleh karena itu, tidak ada perbedaan dan diskriminasi yang didasarkan pada pandangan politik tertentu.

Dalam perspektif konstitusional, terjadinya perubahan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 telah memberi warna baru komitmen negara dalam jaminan, pemenuhan, penegakan, dan perlindungan terhadap hak asasi manusia (HAM). Jaminan dan pemenuhan terhadap hak asasi manusia yang selama ini tidak sepenuhnya dan terinci dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 diwujudkan. Hal ini tercermin dari materi muatan pengaturan hak asasi manusia yang lebih beragam dan lebih lengkap, manakala hak asasi manusia dimaksud dipenuhi dan menjadi bagian dari bentuk jaminan, pemenuhan, penegakan, dan perlindungan terhadap hak asasi manusia (HAM). Baik dalam kaitan dengan hak asasi pribadi, hak asasi keluarga, masyarakat dan

sebagai warga negara Indonesia yang aman dan damai.85

Perlindungan yang beragam tersebut dapat dilihat dengan dimuatnya jaminan dan perlindungan hak asasi manusia dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 Perubahan II pada BAB XA “Hak Asasi Manusia”, dari Pasal 28A sampai dengan Pasal 28I. Pengaturan jaminan dan perlindungan terhadap hak asasi manusia yang lebih beragam dan lebih lengkap tersebut sekaligus dapat dipandang sebagai suatu upaya dalam merepresentasikan

gagasan konstitusionalisme moderen. Konstitusionalisme ini penekanannya adalah sebagai implementasi dari gagasan pembatasan kekuasaan yang terus berkembang. Dengan demikian, kemunculannya adalah sebagai reaksi terhadap praktik penyalahgunaan kekuasaan sepanjang sejarah peradaban manusia oleh penguasa

demi kelanggengan kekuasaannya.86

Dengan adanya Mahkamah Konstitusi sebagai buah dari Gerakan Reformasi menjadi salah satu pilar negara hukum demokratis. Hal ini bertolak dari anggapan bahwa konstitusi ditetapkan oleh rakyat yang memegang kedaulatan. Rakyat yang memegang kekuasaan sepenuhnya dalam negara yang diimplementasikan dan dijalankan dalam kekuasaan pemerintah sehingga harus dijalankan sesuai dengan amanat rakyat. Dengan demikian, dapat dimaknai bahwa pemulihan hak-hak mantan anggota PKI dalam Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 011-017/PUU-I/2003 telah dipenuhi meski sifatnya masih belum maksimal.

Oleh karena itu kedaulatan rakyat yang dituangkan dalam konstitusi memperkuat gagasan agar konstitusi ditempatkan pada puncak piramida sistem norma hukum. Norma hukum ini mengakomodasikan hak asasi manusia (HAM) sebagai dasar pengikat kekuasaan dalam negara. Konstitusi dibuat untuk mengikat organ-organ kekuasaan negara, yang secara umum terdistribusikan dalam kekuasaan legislatif, eksekutif dan yudikatif.

86Ni’matul Huda., 2008, UUD 1945 dan Gagasan Amandemen Ulang, Jakarta, PT. RajaGrafindo Persada, Hlm. 39.

Dalam hubungan dengan perlindungan hak politik warga negara, kewenangan Mahkamah Konstitusi sebagai refleksi pengakomodasian atas hak asasi manusia tersebut tercermin pada kewenangan konstitusional Mahkamah Konstitusi, yaitu melakukan pengujian terhadap produk hukum berupa undang-undang yang merugikan dan bertentangan dengan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, pembubaran partai politik, perkara sengketa perselisihan

hasil pemilihan umum (PHPU), memutus sengketa lembaga negara

memperlihatkan fungsi Mahkamah Kontitusi sebagai penjaga demokrasi. Hal ini sekaligus sebagai penjaga konstitusi, pelindung hak asasi manusia, dan pelindung

hak konstitusional warga negara.87

Pada bagian lain wewenang Mahkamah Konstitusi dalam perkara pembubaran Partai Politik merupakan upaya melindungi hak asasi manusia (hak konstitusional warga negara) yang telah dijamin oleh konstitusi agar pemerintah tidak sewenang-wenang membubarkan Partai Politik yang akan mengakibatkan terlanggarnya hak berserikat dan mengeluarkan pendapat yang telah dijamin oleh