AKIBAT HUKUM PUTUSAN MAHKAMAH KONSTITUSI NOMOR 011-017/PUU-I/2003 TERHADAP WARGA NEGARA
4.1 Pertimbangan dan Analisis Hukum atas Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 011-017/PUU-I/2003
4.2.1 Keterbatasan Putusan Hanya pada Lembaga Perwakilan
Permasalahannya adalah berkenaan dengan akomodasi hak dipilih dalam pemilihan umum, dalam kaitan ini adalah Pemilihan Umum Legislatif. Padahal berdasarkan analisis pada Bab III permasalahan yang berhubungan dengan hak dipilih pada dasarnya adalah untuk semua jabatan publik. Dalam prakteknya, untuk jabatan publik yang bersifat strategis masih menggunakan acuan atau mencantumkan persyaratan: “terlibat secara langsung atau tidak langsung dengan pemberontakan PKI.” Kalimat “terlibat langsung atau tidak langsung dengan pemberontakan PKI”, yaitu bekas anggota organisasi terlarang PKI, termasuk organisasi massanya, atau bukan orang yang terlibat langsung dalam G.30.S/PKI merupakan kalimat politis yang dapat diterjemahkan oleh rezim penguasa sesuai dengan kepentingannya. Secara politis hal demikian dapat dijadikan sebagai dasar
untuk menyingkirkan hak-hak politik dari para pesaing politiknya.90
Sebagai refleksi dalam hal ini, misalnya adalah pada syarat calon Presiden dan Wakil Presiden sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 huruf q Undang-Undang Nomor 42 Tahun 2008 Tentang Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden, terkait persyaratan Calon Presiden dan Calon Wakil Presiden dan Pasal 10 huruf q Peraturan Komisi Pemilihan Umum Nomor 15 Tahun 2014 Tentang Pencalonan Presiden dan Wakil Presiden masih mencantumkan persyaratan “bukan bekas anggota organisasi terlarang Partai Komunis Indonesia, termasuk organisasi
90Munasir, 2003, Hak Politik dalam Pespektif Hak Asasi Manusia, Solo, Panepen Mukti, Hlm. 65.
massanya, atau bukan orang yang terlibat langsung dalam G.30.S/PKI”. Dalam perspektif hak asasi manusia dan hak dipilih adanya ketentuan tersebut bertentangan dengan hak konstitusional (constitutional rights) warga negara, baik sebagaimana ditentukan dalam Konstitusi Negara Republik Indonesia, peraturan perundang-undangan Indonesia maupun dalam instrumen internasional tentang hak asasi manusia. Dalam Konstitusi Negara Republik Indonesia, jaminan dan perlindungan terhadap hak asasi manusia tercermin dalam pasal-pasal tentang hak asasi manusia (HAM). Terutama terkait dengan hak dipilih sebagai hak politik, ketentuan Pasal 27 ayat (1), Pasal 28D ayat (1), Pasal 28I ayat (2) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 Perubahan Kedua merupakan landasan konstitusional. Dengan demikian, hal ini seharusnya juga menjadi dasar dalam pengakomodasian hak-hak warga negara untuk mencalonkan diri sebagai pemimpin tertinggi negeri ini, yaitu sebagai Calon Presiden dan Calon Wakil Presiden dalam satu pasangan yang dipilih langsung oleh rakyat dalam suatu Pemilihan Umum.
Ketentuan pasal yang kemudian dicabut itu dinilai bertentangan dengan konstitusi karena berbagai peraturan perundang-perundangan lain sudah mengakomodasikan hak anggota partai tersebut. Setidaknya secara ideologis tidak ada kekhawatiran akan terjadinya pemberontakan atau mengulangi peristiwa pemberontakan G.30-S/PKI tersebut. Secara ideologis, perjuangan yang dikaitkan
dengan pemberontakan PKI itu seharusnya sudah tidak ada lagi dan tinggal
menjadi catatan sejarah perjalanan bangsa yang kelam.91
Kalaupun berdasarkan kajian politis teoretik masih relevan dan memunculkan kekhawatiran, akan tetapi kecenderungannya adalah sebagai upaya untuk mengurangi persaingan atau untuk menyingkirkan lawan-lawan politik dari kancah persaingan. Permasalahan yang berhubungan dengan pemberontakan PKI, misalnya dalam kerangka apa yang disebut dengan PKI gaya baru misalnya,
bersifat wacana yang tidak terukur dan terbuktikan secara kuantitatif.92
Kondisi sebagaimana dikemukakan di atas merupakan bentuk diskriminasi dalam bidang politik. Diskriminasi dalam hubungan ini merujuk kepada perlakuan yang tidak adil terhadap warga negara tertentu. Secara umum diskriminasi memberlakukan perbedaan peraturan atas pemberlakuan secara tidak adil karena karakteristik suku, antar golongan, kelamin, ras, agama dan kepercayaan, aliran politik, kondisi fisik atau karateristik lain.
Dalam perspektif Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden yang didasarkan pada Pasal 5 huruf q Undang-Undang Nomor 42 Tahun 2008 dan pada Pasal 10 huruf q Peraturan Komisi Pemilihan Umum Nomor 15 Tahun 2014 yang mensyaratkan Calon Presiden dan Calon Wakil Presiden harus bebas dari keanggotaan PKI maupun simpatisannya merupakan bentuk diskriminasi terhadap
91Ibid., . Hlm. 80.
92PKI gaya baru menjadi tema hangat beberapa waktu yang lalu dan merupakan upaya untuk membangkitkan kembali peristiwa pemberontakan PKI. Namun pada dasarnya hal itu mencerminkan adanya ketakutan kiprah lawan politik, terutama dari anak keturunan anak-anak PKI.
hak politik warga negara. Hal demikian tentunya tidak boleh terjadi, apalagi kebijakan diskriminatif tersebut dilakukan oleh negara. Negara sebagai pihak yang seharusnya melindungi dan bertanggung jawab untuk memastikan terpenuhinya
hak konstitusional (constitutional rights) warga negara tanpa diskriminasi.93
Dalam kaitan ini, pola rekruitmen kepemimpinan harusnya direfleksikan pada pengakomodasian seluruh warga negara untuk secara sehat berkompetisi didasarkan pada hak asasi manusia yang universal yaitu tidak ada pembatasan, penyimpangan, peniadaan, penghapusan, dan diskriminasi. Pemilihan Umum sebagai sarana perwujudan demokrasi tidak seharusnya tercoreng dengan adanya pembatasan hak partisipasi politik warga negara. Ketentuan Undang-Undang Nomor 42 Tahun 2008 dan Peraturan Komisi Pemilihan Umum Nomor 15 Tahun 2014 tersebut sudah tidak relevan dalam menumbuhkan budaya hukum yang demokratis. Demikian pula, dalam perspektif hak asasi manusia hal tersebut mencerminkan adanya ketakutan yang berlebihan (fobia) dan cenderung sebagai upaya mengeleminasi hak-hak warga negara.
Dalam perspektif ini kiranya Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 011-017/PUU-I/2003 tersebut harusnya dijadikan sebagai dasar yuridis untuk
93Dengan adanya Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 011-017/PUU-I/2003, persoalan lain yang tidak kalah pentingnya adalah menyangkut beberapa peraturan perundang-undangan yang masih mencantumkan larangan bagi eks anggota PKI (dan organisasi terlarang lainnya) untuk mendapat perlakuan yang sama di dalam hukum dan pemerintahan. Semestunya Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 011-017/PUU-I/2003 harus menjadi spirit untuk menghapus semua peraturan perundang-undangan yang diskriminatif. Semangat ini penting artinya karena sampai sekarang masih ada belasan undang-undang yang diskriminatif terhadap eks anggota PKI. Lihat dalam Saldi Isra, Satu Tahun Sang Penjaga Konstitusi” dalam Refli Harus (Ed.), 2004, Menjaga
mengakomodasikan dalam Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden serta pemilihan umum untuk jabatan publik lainnya. Dalam hal ini dapat merujuk pada rezim Pemilihan Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah sebagaimana ditentukan dalam Pasal 58 Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintahan Daerah tidak mencantumkan persyaratan sebagaimana dimaksud Pasal 60 huruf g Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2003. Dengan demikian, pengakomodasian terhadap Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 011-017/PUU-I/2003 tersebut harus diperluas menjadi tidak saja untuk pemilihan umum anggota legislatif tetapi untuk seluruh jabatan publik, baik pada jabatan legislatif, eksekutif (dalam hal ini Presiden dan Wakil Presiden) maupun pada jabatan yudikatif. Sebagai instrumen internasional yang juga diakomodasikan dalam sistem penegakan dan perlindungan hak asasi manusia di Indonesia, maka ketentuan sebagai dasar hukum sebagaimana diatur dalam Pasal 25 huruf b Kovenan Internasional Tentang Hak-Hak Sipil dan Politik yang telah diratifikasi melalui Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2005 Tentang Pengesahan International Covenant on Civil and Political Rights (Kovenan Internasional Hak-Hak Sipil dan Politik, Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 119). Dalam kovenan tersebut dinyatakan bahwa setiap warga negara memiliki hak dan kesempatan tanpa pembedaan, termasuk untuk memilih dan dipilih pada Pemilihan Umum berkala yang murni, dan dengan hak pilih yang universal dan sama, serta dilakukan melalui pemungutan suara secara rahasia, menjamin kebebasan berekspresi dari kehendak pemilih.
Tidak ada interpretasi yang kemudian mengeleminasi ketentuan tersebut. Artinya bagi negara tidak ada argumentasi yang membenarkan adanya pembatasan hak politik bagi mantan anggota PKI dan simpatisannya. Untuk itu, negara seharusnya menjamin pelaksanaan sekaligus perlindungan hak untuk berpartisipasi dalam pemilihan umum, tanpa mendapat perlakuan diskriminasi terhadap warga
negaranya. Dengan kalimat lain, hendaknya hak-hak tersebut dapat
diakomodasikan tanpa adanya pembatasan-pembatasan yang bertentangan dengan hak asasi manusia.