• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kaitan Pusat Inovasi Dengan UPT dan Cluster

Dalam dokumen Bab IV Hasil Penelitian dan Analisis (Halaman 33-36)

Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya bahwa pusat inovasi dalam melaksanakan aktivitasnya dapat menjalin kerjasama dengan instansi pemerintah yang secara khusus memberikan pelayanan kepada para pelaku IKM alas kaki di Cibaduyut yaitu unit pelayanan teknik (UPT).

Menurut beberapa informan yang terdiri dari informan A1, A2, B1, B2, D1, dan D2 menjelaskan bahwa pusat inovasi dapat menjadi bagian dari UPT dan saling mendukung dalam pelaksanaan beberapa kegiatan secara bersama tetapi masing-masing tetap memiliki fungsi atau peran dan manajemen yang berbeda.

Pada penjelasan sebelumnya telah diungkapkan bahwa UPT sebagai instansi pemerintah memiliki beberapa tugas antara lain yaitu memberikan pelayanan teknis, pengadaan permesinan, memfasilitasi perluasan pasar, penyediaan informasi dan lain-lain. Pusat inovasi memiliki fungsi yang lebih ke arah pengembangan manajemen dan jiwa kewirausahaan IKM Alas Kaki Cibaduyut serta pengembangan desain dan inovasi produk. Pusat inovasi dalam hal ini merupakan bagian unit khusus dari UPT sekaligus sebagai perkuatan UPT yang dioperasionalkan secara independent oleh lembaga independent yang profesional. Jika pusat inovasi bukan bagian dari UPT, dalam hal ini pemerintah akan sulit untuk dilibatkan sehingga pusat inovasi tidak akan mendapat dukungan dan bantuan baik dari segi regulasi maupun pendanaan.

Adapun bentuk kerjasama pusat inovasi dan UPT dapat berupa merumuskan bersama visi dan misi baik untuk UPT maupun pusat inovasi. Visi dan misi tersebut kemudian diusulkan dan disesuaikan dengan visi dan misi Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jawa Barat. Hal ini harus dilakukan karena UPT

Selain berada di lokasi yang sama sekaligus memanfaatkan fasilitas pemerintah serta mempermudah pengelolaan dan memperoleh dukungan dari pemerintah dari segi regulasi dan pendanaan, pusat inovasi dan UPT dapat pula bekerjasama dalam menentukan program kerja dimana pemerintah menerima laporan perkembangan dan pertanggungjawaban dari masing-masing lembaga tersebut.

Dalam hubungannya dengan cluster industri alas kaki yang sedang dikembangkan pemerintah, informan C2 dan D1 menjelaskan bahwa jika cluster ini mampu berjalan dengan baik, pusat inovasi dapat dijadikan salah satu infrastruktur yang dapat membantu mengembangkan dan mensosialisasikan cluster kepada para pelaku industri alas kaki di Cibaduyut karena pada kenyataannya cluster membantu para pelaku IKM alas kaki tersebut untuk dapat memperluas jaringan usahanya.

Penjelasan para informan tersebut juga turut didukung oleh pernyataan Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Jabar, Agus Gustiar dalam Anonim (2006) yang menjelaskan bahwa untuk membangkitkan daya saing industri serta meningkatkan daya beli masyarakat, Pemprov Jabar melalui Dinas Perindustrian dan Perdagangan akan mengembangkan empat cluster industri yang terdiri dari cluster tekstil produk tekstil (TPT), furnitur, suku cadang serta cluster alas kaki yang akan dikembangkan untuk lima tahun mendatang. Untuk cluster TPT berada di wilayah Bandung Selatan, cluster alas kaki berada di Cibaduyut Bandung, cluster furnitur yang dikembangkan akan lebih difokuskan pada produk rotan di Cirebon dan cluster suku cadang berada di Sukabumi dan Kota Bandung.

Pengertian cluster sendiri adalah konsentrasi sejumlah perusahaan dan lembaga dalam suatu wilayah serta saling berhubungan dalam bidang khusus yang mendukung persaingan. Wilayah cluster tersebut dibatasi oleh keterkaitan dan komplementer, tetapi tidak dibatasi oleh wilayah administrasi. Dengan membentuk cluster industri, akan terjadi suatu kolaborasi serta keterkaitan antara industri inti, pendukung penyedia serta penunjang.

Contohnya, industri sepatu Cibaduyut, pengadaan kulit, lem serta bahan lainnya melibatkan pihak lain yang disebut pendukung. Pengembangan cluster ini pada akhirnya juga akan membuka peluang usaha baru. Pengembangan cluster Industri alas kaki dilakukan karena Indonesia merupakan salah satu eksportir sepatu ketiga di dunia yang salah satunya adalah produk alas kaki Cibaduyut

Hidayat (2005) menjelaskan bahwa Pemprov Jabar akan memperkuat sistem cluster dalam pengembangan industri alas kaki dan sepatu yang belakangan ekspornya menunjukkan penurunan karena biaya ekonomi tinggi serta ketatnya persaingan. Penurunan nilai ekspor alas kaki dan sepatu asal Jawa Barat dari US$50,6 juta tahun 2003 menjadi US$37,4 juta pada 2004 telah menjadi bahan pertimbangan pemerintah untuk memperkuat industri alas kaki melalui sistem cluster. Selain itu, pertimbangan lain dibentuknya cluster alas kaki karena jumlah industri alas kaki di Jabar tergolong banyak yaitu 6.125 perusahaan yang menyerap tenaga kerja 389 ribu orang meski bila dibandingkan dengan negara pesaing, pangsa pasar ekspor alas kaki asal Jawa Barat masih relatif kecil namun produk alas kaki masuk kategori produk ekspor unggulan Jawa Barat.

Disperindag Jabar melalui sistem cluster ini akan memperkuat jaringan pemasaran ekspor produk alas kaki yang didasarkan pada kemampuan daerah masing-masing melalui simpul-simpul jaringan eksportir yang sudah kuat sehingga dalam hal ini pemerintah menghimbau para kalangan eksportir yang telah mapan dengan aktivitas ekspornya untuk segera membangun jaringan dengan UKM produsen alas kaki dengan prinsip bisnis.

Dengan demikian, dalam menyukseskan pengembangan cluster alas kaki, pembangunan pusat inovasi sebagai salah satu sarana pengembangan industri alas kaki semakin penting karena dapat dijadikan infrastruktur yang membantu mendukung dan mensosialisasikan kegiatan cluster alas kaki kepada para pelaku IKM alas kaki di Cibaduyut.

Penjelasan di atas didukung oleh pernyataan informan sebagai berikut:

//... Pusat inovasinya mungkin merupakan bagian dari UPT, mungkin di situ nanti…Perkuatan UPT...yang dioperasionalkan secara independent oleh para profesional ..references A1//

Pada kategori ini, ada beberapa informan yang tidak memberikan jawaban mengenai hubungan pusat inovasi dengan UPT yaitu C1 dan C2. Hal ini cenderung disebabkan karena latar belakang kedua informan tersebut yang tidak mengetahui secara pasti keberadaan dan fungsi dari lembaga UPT karena kedua informan mendalami masalah konsep pusat inovasi dan industri kreatif. Sedangkan informasi mengenai cluster hanya diperoleh dari informan C2 dan D1. Hal ini disebabkan karena informasi mengenai cluster merupakan informasi tambahan yang muncul di luar pertanyaan wawancara namun turut mendukung pembentukan konsep pengembangan model Pusat Inovasi Cibaduyut sehingga peneliti merasa perlu untuk menjelaskan informasi ini.

(Keterangan transkrip informan A1, A2, B1, B2, C1, C2, D1, dan D2 dapat dilihat pada Lampiran B halaman 192).

Dalam dokumen Bab IV Hasil Penelitian dan Analisis (Halaman 33-36)