• Tidak ada hasil yang ditemukan

Probusiness policy dengan sistem BDS (Business Development Services) Sistem BDS (Business Development Services) merupakan suatu sistem bisnis

Dalam dokumen Bab IV Hasil Penelitian dan Analisis (Halaman 51-56)

IV. 4.9. Bentuk Usaha Pusat Inovasi Cibaduyut

1. Probusiness policy dengan sistem BDS (Business Development Services) Sistem BDS (Business Development Services) merupakan suatu sistem bisnis

yang bertujuan mendapatkan pendapatan namun tidak berorientasi pada keuntungan semata, tetapi juga memperhatikan nilai-nilai sosial.

Sistem bisnis digunakan agar pihak pengelola pusat inovasi memiliki karakter dan perilaku yang dapat mendukung pusat inovasi untuk beroperasi dengan cara menghasilkan uang.

Dengan adanya perputaran uang tersebut, pihak pengelola akan termotivasi untuk memberikan pelayanan yang terbaik bagi para pelaku industri alas kaki selaku konsumen serta berusaha sebaik mungkin untuk mempertahankan kelangsungan hidup pusat inovasi.

Proses bisnis dapat dilakukan dengan menjual jasa (pelayanan konsultasi, pembinaan, pendampingan, pelatihan dan lain-lain) dan produk (desain produk) dimana penentuan biaya atau tarif yang dikenakan untuk jasa dan produk tersebut memperhatikan dan disesuaikan dengan tingkat kemampuan para pelaku industri alas kaki di Cibaduyut sehingga terjangkau dan tidak memberatkan para pelaku tersebut, karena jika biaya atau tarif yang dikenakan terlalu tinggi akan membuat para pelaku menjadi tidak tertarik untuk memanfaatkan fasilitas dan layanan pusat inovasi yang selanjutnya dapat mengakibatkan tujuan untuk memajukan industri alas kaki Cibaduyut menjadi tidak tercapai.

Dengan sistem BDS (Business Development Services), tidak hanya menjadi sumber penghasilan dan memberikan keuntungan bagi pusat inovasi tetapi juga memiliki nilai sosial melalui penentuan biaya dan tarif yang terjangkau dan sesuai dengan kemampuan para pelaku dalam memanfaatkan fasilitas dan layanan pusat inovasi. Selain itu, penerapan sistem BDS (Business Development Services) dapat memberikan kesadaran dan mendidik para pelaku bahwa untuk memajukan

dan layanan yang telah diperolehnya dari pusat inovasi karena pengorbanan tersebut dilakukan untuk kepentingannya sendiri. Teknik penjualan jasa dan produk (Desain) diatur sedemikian rupa sehingga tidak merugikan kedua belah pihak, misalnya desain yang ditawarkan tidak diperjualbelikan dua kali tetapi hanya tersedia satu desain saja untuk setiap kali pemesanan atau penjualan.

Pendapatan yang diperoleh digunakan untuk membiayai prasarana dan kegiatan operasional, mendukung kinerja dan kelangsungan hidup pusat inovasi. Dengan menerapkan sistem bisnis, pusat inovasi menjadi lebih mandiri dan tidak bergantung pada pendanan dari sponsor seperti pemerintah serta pihak lainnya Pengelolaan pusat inovasi yang efektif dan efesien diharapkan tidak hanya dapat memberikan manfaat bagi para pelaku IKM alas kaki di Cibaduyut, tetapi juga memberikan kesejahteraan para pengelola pusat inovasi itu sendiri.

Berkaitan dengan konsep Business Development Services atau BDS, berdasarkan literatur “Kerangka Kerja BDS” tumbuh dari keyakinan komunitas donor bahwa sasaran ekonomi dan sosial hanya akan tercapai apabila dapat mengandalkan pelaku sektor swasta yang menyediakan beragam layanan jasa. Pemberdayaan sektor swasta untuk mencapai jangkauan yang lebih luas memerlukan pemahaman yang lebih baik tentang bagaimana penyedia BDS dapat mencapai kemandirian finansial atau bahkan mendapatkan keuntungan.

BDS meliputi pelatihan, jasa konsultasi dan saran, bantuan pemasaran, informasi, pengembangan usaha, alih teknologi serta promosi jaringan usaha. Kadangkala dibuat perbedaan antara jasa usaha “operasional” dan “strategis”. Jasa operasional adalah jasa dalam kegiatan harian, seperti informasi dan komunikasi, manajemen pembukuan dan laporan pajak, kepatuhan terhadap peraturan ketenagakerjaan serta peraturan lainnya. Di sisi lain, jasa strategis dipergunakan perusahaan untuk mengatasi hal-hal jangka menengah dan panjang untuk meningkatkan kinerja perusahaan, akses pasar dan kemampuan bersaing. Misalnya, jasa strategis dapat membantu perusahaan untuk identifikasi dan melayani pasar, mendesain produk, menyiapkan fasilitas dan mencari pendanaan. Oleh karena itu “Jasa

Pengembangan Usaha/BDS” dirumuskan dengan pengertian yang luas, meliputi berbagai jenis jasa usaha, baik jasa operasional maupun jasa strategis.

Hal ini berarti bahwa terdapat berbagai pasar yang dapat menyediakan beragam jenis jasa usaha dengan struktur yang berbeda (kompetitif atau konsentrasi), dengan pola perubahan dan berbagai implikasi bagaimana melakukan intervensi. Beberapa jenis BDS disediakan dalam bentuk “terpisah” (stand alone) oleh penyedia jasa usaha khusus. Adakalanya penyedia jasa menyediakan paket BDS bersamaan dengan jasa atau produk lain–misalnya, saat membantu alih-teknologi baru yang digabung dengan jasa desain dan pelatihan. Penyediaan BDS sebagai bagian dari hubungan usaha termasuk hubungan pemasok/pembeli, sub-kontrak, waralaba dan lisensi merupakan kebiasaan umum dikalangan usaha kecil. Dalam hal ini, BDS disediakan sebagai bagian dari transaksi lain, misalnya bantuan desain bagi UKM yang menjual produk kepada perusahaan yang lebih besar, atau pelatihan bagi UKM sebagai bagian dari pembelian peralatan. Asosiasi-asosiasi usaha dan jaringan usaha informal merupakan sarana lain yang dapat menyediakan jasa usaha bagi UKM.

Di samping berbagai jenis jasa dan mekanisme penyediaan BDS, terdapat berbagai jenis mekanisme pembayaran BDS. Harga jasa dapat berupa pembayaran langsung, sebagai komponen dari harga paket jasa (mis. sewaktu UKM menjual produk dengan harga lebih murah dengan imbalan memperoleh bantuan teknologi dari pembeli), atau berdasarkan komisi (misalnya penyedia jasa pemasaran dibayar sesudah berhasil menjual produk UKM). Terdapat cukup bukti bahwa UKM cenderung memanfaatkan jasa yang ditawarkan berdasarkan komisi daripada membayar jasa langsung, karena bentuk pembayaran dengan mekanisme komisi mengurangi risiko dan pengeluaran uang tunai sehingga tidak mengganggu kelancaran alur kas. Penelitian terakhir menunjukkan bahwa BDS sudah disediakan berkesinambungan secara komersial bagi usaha-usaha yang sangat kecil (CDASED, 2001).

2. Nirlaba

Bentuk usaha nirlaba menjadi salah alternatif bentuk usaha yang dapat diterapkan di pusat inovasi mengingat industri yang dilayani merupakan industri dengan skala kecil menengah sehingga pusat inovasi dengan konsep ini tidak akan memberatkan pelaku IKM alas kaki di Cibaduyut.

Bentuk usaha dengan konsep nirlaba harus melibatkan orang-orang yang berjiwa sosial dan motivasi yang tinggi karena pusat inovasi dalam kondisi ini tidak menghasilkan pendapatan sehingga tidak ada jaminan kesejateraan bagi para pengelola pusat inovasi. Keseluruhan biaya kegiatan operasional pusat inovasi sepenuhnya bergantung pada sumber pendanaan dari pihak sponsor.

Hasil literatur menyebutkan bahwa pelaku usaha dalam melakukan perubahan pematenan dan pengembangan penemuan menjadi produk yang dapat dipasarkan memerlukan biaya yang tidak sedikit. Oleh karena itu, pusat inovasi dalam hal ini diharapkan dapat memberikan dukungan keuangan untuk membiayai hal tersebut. Dukungan keuangan biasanya digunakan untuk membayar biaya-biaya pematenan, pengembangan produk dan komersialisasi yang berkenaan dengan pengembangan suatu penemuan. Pembiayaan tersebut dapat berupa suatu format dana, meminjamkan atau menjamin. Pengembalian dana keuangan tersebut dapat dilakukan melalui pembayaran kembali secara bersyarat kepada pusat inovasi yang tergantung pada kesuksesan proyek dan pada pendapatan yang diterima oleh pihak yang melakukan pinjaman tersebut. Jika penemuan gagal dimanfaatkan secara ekonomis, penerima dari dukungan keuangan tidak berkewajiban untuk mengembalikan uang pinjaman kepada Pusat Inovasi (Sipilä, 1999).

Selain format dana di atas, Canadian Innovation Centre pada prakteknya merupakan pusat inovasi yang tidak berorientasi pada keuntungan walaupun memiliki peluang keuangan. Pembiayaan diperoleh dari pembayaran yang dibebankan kepada sponsor atas jasa pengembangan yang dilakukan pusat inovasi. Pusat inovasi ini membuat persetujuan dengan pemerintah pusat Kanada. Melalui persetujuan ini, pembiayaan kegiatan pusat inovasi menjadi tanggung

jawab pemerintah, sedangkan Canadian Innovation Centre sendiri berperan dalam melakukan pembaharuan untuk kemajuan Kanada (Anonim, 2006).

Berdasarkan hasil literatur tersebut apabila dibandingkan dengan pernyataan para informan akan ditemukan perbedaan maupun persamaan mengenai pembiayaan kegiatan operasional pusat inovasi.

Menurut Sipilä (1999), pusat inovasi dapat memberikan bantuan dana bagi para pelaku usaha dalam melakukan pengembangan produknya, sedangkan pusat inovasi cibaduyut tidak memberikan dana secara langsung tetapi lebih kepada pelayanan pengembangan produk sehingga dalam hal ini pusat inovasi melakukan pengembangan produk yang selanjutnya akan disosialisasikan kepada para pelaku usaha tersebut.

Untuk pembiayaan pusat inovasi sendiri, menurut Anonim (2006) menjadi tanggungan pemerintah karena pusat inovasi dalam hal ini berperan memajukan kepada negara, sedangkan Pusat Inovasi Cibaduyut selain melibatkan pemerintah sebagai sponsor juga turut melakukan aktivitas bisnis untuk mendukung pembiayaan operasional pusat inovasi tersebut, karena pemerintah tidak sepenuhnya memberikan bantuan dalam bentuk dana tetapi lebih kepada fasilitas dan dukungan kebijakan.

Dengan demikian, peneliti dalam hal ini menetapkan konsep bentuk usaha Pusat Inovasi Cibaduyut dengan sistem BDS dan bukan nirlaba, mengingat terbatasnya bantuan pemerintah tersebut, sehingga Pusat Inovasi Cibaduyut dalam hal ini harus melakukan aktivitas bisnis dan tidak bergantung sepenuhnya pada pemerintah dan sponsor sebagaimana yang berlaku pada sistem nirlaba. Namun, dalam pelaksanaan sistem binis ini harus tetap memperhatikan kemampuan para pelaku IKM alas kaki di Cibaduyut agar tidak memberatkan para pelaku tersebut, sehingga tujuan untuk memajukan industri alas kaki di Cibaduyut dapat tercapai.

Penjelasan di atas didukung oleh pernyataan informan sebagai berikut:

//...bagaimana sebuah organisasi bisa menghidupi prasarananya...jadi bentuk usahanya harus Probusiness policy ya dengan BDS itu...ya..ini kan bisnis...Probusiness policy itu tetap bisnis tapi ada nilai sosialnya juga... references D1//

(Keterangan transkrip informan A1, A2, B1, B2, C1, C2, D1, dan D2 dapat dilihat pada Lampiran B halaman 192).

Dalam dokumen Bab IV Hasil Penelitian dan Analisis (Halaman 51-56)