Bab IV Hasil Penelitian dan Analisis
Bab ini berisi penjelasan mengenai profil industri alas kaki di Cibaduyut, uraian mengenai hasil data penelitian yang diperoleh, serta analisis dan interpretasi hasil penelitian tersebut dikaitkan dengan permasalahan yang diteliti.
IV.1. Profil Industri Alas Kaki Cibaduyut
Cibaduyut merupakan sebuah ruas jalan panjang yang berada di dekat terminal Leuwi Panjang yang terkenal sebagai sentra pembuatan dan penjualan sepatu. Demikian melekatnya Cibaduyut dengan sepatu, hingga di ujung utara jalan itu dibangun monumen sepatu raksasa. Di sepanjang jalan Cibaduyut banyak sekali terdapat toko yang memajang, menjual dan melayani pemesanan sepatu. Selain itu, industri alas kaki menjadi salah satu cluster yang akan dikembangkan karena Indonesia pernah menjadi salah satu eksportir sepatu ketiga di dunia, salah satunya produk sepatu Cibaduyut.
Letak geografis Sentra Sepatu Cibaduyut terletak 5 Km dari Pusat Kota Bandung ke arah selatan, luas arealnya mencapai 14 Km² dengan wilayah meliputi Kota Bandung 5 (lima) Kelurahan dan Kabupaten Bandung 3 (tiga) Desa. Pertumbuhan dan perkembangan Industri Kecil Menengah (IKM) Sepatu Cibaduyut meningkat hingga membentuk sebuah sentra. Pada awalnya dimulai pada tahun 1920 yang dirintis oleh beberapa orang warga setempat yang kesehariannya bekerja pada sebuah pabrik sepatu di Kota Bandung, maka dengan bekal keterampilan yang dimiliki serta kemauan dan tekad yang kuat, mereka memulai dengan membuka usaha walau kecil-kecilan di rumah dengan tenaga kerja putra-putrinya. Dengan semakin banyaknya pesanan maka mereka kemudian merekrut pekerja dari warga sekitar sehingga keterampilan menyebar secara turun temurun ke warga setempat yang akhirnya diikuti oleh warga sekitar untuk ikut membuka usaha tersebut.
Pada tahun 1940 sebelum Jepang menjajah masuk ke Indonesia, jumlah perajin sepatu di Cibaduyut sekitar 89 orang. Semakin lama kemampuan dan keterampilan para pengrajin sepatu di Cibaduyut semakin meningkat yang diikuti pula dengan peningkatan jumlah order atau pesanan dari luar Cibaduyut.
Tahun 1950 jumlah perajin semakin bertambah dan meningkat menjadi pengusaha industri kecil sepatu di Sentra Cibaduyut, jumlah unit usaha saat itu mencapai 250 unit usaha. Di samping itu telah mulai tumbuh hubungan yang baik antar pengusaha/perajin yang kemudian membentuk sebuah organisasi Gabungan Pengusaha Sepatu Desa Bojongloa (GPSB). Gerakan organisasi dimulai adanya kebutuhan para pengusaha/perajin untuk kebutuhan pengadaan bahan baku kulit, dimana saat itu masih diimpor dari luar negeri. Atas hasil kesepakatan dari para anggotanya, maka GPSB berganti nama menjadi Koperasi Perkulitan dan Sepatu Indonesia (KOPSI) dengan jumlah anggota 120 Pengusaha/Perajin.
Sejalan dengan perkembangannya, pada tahun 1989 para pengusaha/perajin yang pada umumnya belum memiliki pesawat telepon, mulai merasakan kebutuhan komunikasi dagang, sehingga tercipta kerjasama antar departemen, instansi, dan koperasi terkait dengan berdirinya Warung Telekomunikasi (Wartel) bertempat di UPT Barang Kulit Cibaduyut dan konon sebagai Wartel Pertama yang didirikan di Indonesia yang diresmikan oleh Menteri Pariwisata, Pos dan Telekomunikasi Bapak Susilo Sudarman.
Sementara itu, para industri alas kaki Cibaduyut semakin berkembang dan meningkat, terutama dalam hal pemasaran untuk memenuhi pesanan dalam dan luar kota bahkan antar provinsi di Indonesia. Walaupun demikian, timbul kesulitan dalam hal pengiriman barang untuk memenuhi pesanan konsumen. Kesulitan tersebut antara lain mengenai tempat jasa pengiriman yang jauh dan belum adanya alat transportasi yang memadai untuk menuju tempat tersebut. Berdasarkan permasalahan itu, Kanwil Departemen Perindustrian Provinsi Jawa Barat pada tahun 1990 mengadakan kerjasama pembinaan dengan PT. POS INDONESIA.
Tujuannya adalah peningkatan mutu pelayanan dan mutu pengiriman (delivery) untuk memenuhi pendistribusian produk sepatu dari sentra Sepatu Cibaduyut ke seluruh wilayah di Indonesia. Pada dekade tahun 90 an wilayah kerja perajin semakin meluas sampai ke desa Sukamenak dan desa Cangkuang di Kabupaten Bandung. Pada tahun 1996 Dep. Perindustrian merger dengan Dep Perdagangan, sehingga berubah menjadi Dep.Perindustrian dan Perdagangan dan di Jawa Barat menjadi Kanwil Departemen Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Barat.
IV.1.1. Unit Pelayanan Teknis (UPT)
Pada era reformasi terbentuk otonomi daerah pada tahun 2001, maka Kanwil Departemen Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Barat beserta asetnya diserahkan kepada kewenangan Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Barat termasuk di dalamnya Unit Pelayanan Teknis (UPT) Barang-Barang Kulit Cibaduyut (Peraturan Daerah Nomor 5 tahun 2002 tentang perubahan atas Peraturan Daerah Propinsi Jawa Barat). Peraturan Daerah Tahun 2002 Nomor 9 Seri D, berubah menjadi Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Barat dan berdasarkan Keputusan Gubernur Jawa Barat Nomor 33 tahun 2003 tentang Pembentukan Instalasi Unit Pelaksana Teknis Dinas pada Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Barat, maka Unit Pelayanan Teknis (UPT) Barang-barang Kulit Cibaduyut berubah namanya menjadi Instalasi Pengembangan Industri Kecil Menengah Persepatuan. Kewenangan dan tanggung jawabnya diserahkan kepada Pemerintah Provinsi Jawa Barat, pelaksanaannya melalui Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Barat.
Pelayanan yang disediakan instalasi ini untuk membantu para pelaku usaha alas kaki antara lain adalah:
¾ Pelayanan Teknis Mesin.
¾ Pelayanan Publik (Public Service). ¾
¾ Kerjasama Klinik Kesehatan Kerja.
¾ Kerjasama Forum Komunikasi Pengusaha Persepatuan ¾ Kerjasama Paguyuban Alas Kaki Unggulan
¾ Kerjasama R & D
Dampak adanya perkembangan sentra industri kecil menengah persepatuan Cibaduyut telah menumbuhkan industri pendukung lainnya seperti tumbuhnya show room/outlet sepatu, pusat perdagangan sepatu, toko/penjual bahan baku/bahan pembantu dan counter atau penjual produk-produk lainnya.
Lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel di berikut ini:
Tabel IV.1 Perkembangan Pertumbuhan Industri Pendukung
No Uraian Jumlah
1. Show Room/Outlet/Toko 158 Unit 2. Pusat Perdagangan 4 Unit
3. Toko Bahan Baku
dan Penolong 39 Unit
4. Shoelast/Acuan kasar 14 Unit
5. Industri Alat/Spare part 3 Unit 6. Industri
Kemasan/Packaging 15 Unit 7. Industri Sol Karet 5 Unit Sumber : UPT Cibaduyut, 2006
Potensi Sentra IKM Alas Kaki/Sepatu di Cibaduyut dalam 5 tahun terakhir memberi gambaran sebagai berikut:
Tabel IV.2 Potensi Sentra IKM Alas Kaki/Sepatu di Cibaduyut
Sumber : UPT Cibaduyut, 2006
T A H U N No POTENSI 2001 2002 2003 2004 2005 2006 1. Unit Usaha 859 859 861 848 845 828 2. Tenaga Kerja (Org) 6.045 6.045 2.850 3.468 3.556 3.498 3. Investasi (Rp.1.000) 7.902.000 7.727.200 7.162.657 18.170.475 23.720.67 5 14.567.16 8 4. Produksi (Psg/Thn) 8.827.150 8.530.000 2.984.460 3.049.344 4.046.700 3.310.800
Namun dalam perkembangannya hingga saat ini, industri alas kaki di Cibaduyut, sejak terjadinya krisis moneter tahun 1997 mengalami berbagai permasalahan yang menyebabkan industri ini sulit untuk berkembang. Berbagai permasalahan tersebut selanjutnya akan dijelaskan lebih dalam pada bagian hasil kuesioner.
IV.1.2. Aprisindo
Aprisindo merupakan salah satu asosiasi industri alas kaki atau sepatu di Indonesia. Aprisindo berdiri pada tanggal 7 Juli 1988, dalam rapat yang dilaksanakan oleh 23 perusahaan yang bergerak di bidang industri sepatu dari Jakarta, Surabaya, Bandung, dan Medan menyepakati untuk membentuk suatu wadah organisasi bersama atau Asosiasi yang diberi nama : Asosiasi Persepatuan Indonesia atau disingkat Aprisindo dan pada tanggal 16 April 1997, sesuai keputusan tentang penyempurnaan AD/ART, organisasi ini diberi nama Asosiasi Persepatuan Indonesia atau disingkat Aprisindo, dengan terjemahannya dalam bahasa Inggris: Indonesian Footwear Assosiation. Maksud didirikannya Aprisindo adalah untuk meningkatan industri sepatu dan kerja sama antara Asosiasi dan anggota-anggotanya dalam peningkatan target atau sasaran ekspor sepatu Indonesia dengan membentuk 3 (tiga) kerangka operasional yaitu bidang teknologi dan sumber daya manusia, hukum dan legal serta marketing dan pengembangan usaha (Aprisindo, -).
Menurut Loekito (2008) selaku ketua Aprisindo Jabar dalam wawancara langsung, Asosiasi Persepatuan Indonesia atau Aprisindo ini telah lama berdiri, namun untuk wilayah Jawa Barat Aprisindo baru terlaksana pada bulan Maret tahun 2007. Sebelumnya, para pelaku IKM alas kaki telah membentuk sebuah asosiasi namun hanya sebatas formatur tanpa adanya kepengurusan dan kegiatan hingga akhirnya muncul kesepakatan untuk membentuk Aprisindo Jawa Barat. Salah satu tujuan dibentuknya Aprisindo Jawa Barat adalah untuk menjadi pendorong semangat bangkitnya industri alas kaki terutama di Cibaduyut. Selain itu, Aprisindo Jawa Barat juga bertujuan menyatukan para pelaku IKM alas kaki
Saat ini industri alas kaki di Cibaduyut sedang dalam kondisi terpuruk yang disebabkan oleh berbagai macam permasalahan. Beberapa diantara permasalahan tersebut adalah masalah pihak pengelola dan pengrajin alas kaki dengan latar belakang pendidikan yang kurang memadai sehingga memiliki pola pikir dan wawasan yang sempit, tidak memiliki strategi berwirausaha, serta merasa paling hebat dengan keahlian yang dimilikinya sehingga muncul istilah SMS (Senang kalau melihat orang susah). Karakter pengelola dan pengrajin tersebut sering terjadi tidak hanya untuk industri alas kaki di Cibaduyut tetapi juga pada pabrik-pabrik sepatu kelas menengah di kota Bandung. Selain masalah pengelola dan pengrajin, persaingan usaha juga turut menjadi kendala pada industri alas kaki di Cibaduyut, baik persaingan dari segi harga yang tidak diikuti dengan peningkatan kualitas maupun desain yang ditandai dengan terjadinya penjiplakan desain atau plagiat sebagaimana yang telah dijelaskan pada sub bab sebelumnya.
Masalah lain yang turut diungkapkan Loekito (2008) adalah sulitnya mendapatkan informasi yang dibutuhkan oleh para pelaku industri alas kaki dalam rangka memajukan industrinya sehingga banyak diantara pabrik-pabrik kelas menengah yang memiliki kapasitas di bawah 500 pasang alas kaki perhari gagal mempertahankan usahanya. Berbagai permasalahan tersebut yang akhirnya memotivasi para pelaku industri alas kaki untuk membentuk Aprisindo dengan harapan dapat membenahi kondisi industri alas kaki karena pada kenyataannya persaingan usaha yang terjadi pada industri tersebut tidak hanya terjadi diantara sesama pelaku industri alas kaki tetapi telah terjadi secara global dengan sangat luar biasa, sehingga para pelaku industri alas kaki secara bersama-bersama harus memperbaiki konsep-konsep dasar mengenai kewirausahaan agar mampu bertahan dalam persaingan global tersebut.
IV.2. Hasil Kuesioner
Survey dengan menggunakan kuesioner diajukan kepada 30 pelaku usaha industri alas kaki di Cibaduyut dan dilakukan untuk mengetahui lebih jelas mengenai permasalahan yang terjadi di lapangan, pelayanan yang dibutuhkan serta untuk mengukur jiwa kewirausahaan dan proses pengembangan produk yang diterapkan oleh para pelaku usaha alas kaki di Cibaduyut tersebut. Data yang diperoleh dari hasil pengolahan kuesioner selanjutnya akan dijadikan dasar untuk mengembangkan model awal Pusat Inovasi didukung oleh hasil literatur yang telah dilakukan sebelumnya.
Dari pengolahan kuesioner, diperoleh hasil sebagai berikut: IV.2.1. Identifikasi Masalah
Variabel identifikasi masalah terdiri atas 10 item pernyataan, yaitu: Tabel IV.3 Pernyataan Variabel Identifikasi Masalah
Selain kesepuluh pernyataan tersebut, para responden turut ditanyakan mengenai permasalahan lain yang dialami responden yang tidak tercantum pada daftar
Pernyataan No
A. Identifikasi masalah
1 Pelaku usaha mengalami permasalahan dalam memperoleh bahan baku kulit untuk memproduksi alas kaki
2 Pelaku usaha mengalami permasalahan dalam memperoleh bahan baku imitasi untuk memproduksi alas kaki
3 Pelaku usaha mengalami permasalahan dalam memperoleh bahan baku asesoris untuk memproduksi alas kaki
4 Sulit mendapatkan tenaga kerja (SDM) terampil memproduksi alas kaki 5 Persaingan usaha alas kaki di Cibaduyut sangat ketat
6 Sering terjadi peniruan desain alas kaki antara pelaku usaha di Cibaduyut
7 Sering terjadi peniruan merk alas kaki luar negeri antara pelaku usaha di Cibaduyut
8 Perhatian Pemerintah terhadap kemajuan pengusaha alas kaki di Cibaduyut masih kurang
9 Daerah Cibaduyut merupakan daerah yang tidak nyaman sebagai tempat wisata belanja
Berdasarkan hasil pengolahan kuesioner (lihat Lampiran A halaman 187) diperoleh data yang dapat dilihat pada tabel sebagai berikut:
Tabel IV.4 Identifikasi Masalah A. Identifikasi masalah No. Ite m Pernyataan Ya Tidak 1
Pelaku usaha mengalami permasalahan dalam memperoleh bahan baku kulit untuk memproduksi alas kaki
0,83 0,17
2
Pelaku usaha mengalami permasalahan dalam memperoleh bahan baku imitasi untuk memproduksi alas kaki
0,5 0,5
3
Pelaku usaha mengalami permasalahan dalam memperoleh bahan baku asesoris untuk memproduksi alas kaki
0,47 0,53 4 Sulit mendapatkan tenaga kerja (SDM) terampil 0,63 0,37 5 Persaingan usaha alas kaki di Cibaduyut sangat ketat 0,9 0,1 6 Sering terjadi peniruan desain alas kaki antara pelaku
usaha di Cibaduyut 0,87 0,13
7 Sering terjadi peniruan merk alas kaki luar negeri
antara pelaku usaha di Cibaduyut 0,37 0,63
8 Perhatian Pemerintah terhadap kemajuan pengusaha
alas kaki di Cibaduyut masih kurang 0,93 0,07 9 Daerah Cibaduyut merupakan daerah yang tidak
nyaman sebagai tempat wisata belanja 0,33 0,67 10 Sarana lalu lintas menuju daerah Cibaduyut kurang
lancar atau sering macet 0,93 0,07
Untuk permasalahan lain yang diungkapkan para responden adalah sebagai berikut:
1. Belum ada tempat penyimpanan sampah sementara
2. Permasalahan dalam mengatur sistem pembayaran dengan pihak pemesan 3. Kurangnya rasa kebersamaan antara sesama pelaku usaha
4. Mesin-mesin yang tersedia tidak modern 5. Banjir dan kurangnya keamanan
Dari data tersebut di atas dapat dijelaskan bahwa permasalahan utama yang dihadapi oleh para pelaku usaha industri alas kaki di Cibaduyut berdasarkan skala prioritas antara lain adalah:
1. Sarana lalu lintas menuju daerah Cibaduyut kurang lancar atau sering macet 2. Perhatian Pemerintah terhadap kemajuan pengusaha alas kaki di Cibaduyut
masih kurang
3. Persaingan usaha alas kaki di Cibaduyut sangat ketat
4. Sering terjadi peniruan desain alas kaki antara pelaku usaha di Cibaduyut 5. Permasalahan dalam memperoleh bahan baku kulit dan imitasi untuk
memproduksi alas kaki
6. Sulit mendapatkan tenaga kerja (SDM) terampil
Ke enam permasalahan utama di atas akan menjadi fokus utama dari penelitian ini, sedangkan permasalahan lainnya dapat menjadi bahan penelitian lebih lanjut.
IV.2.2. Pelayanan yang Dibutuhkan
Variabel pelayanan yang dibutuhkan terdiri atas11 item pernyataan, yaitu: Table IV.5 Penyataan Pelayanan yang Dibutuhkan
Pernyataan
No B.Pelayanan yang dibutuhkan pelaku usaha alas kaki dari Pusat Inovasi
1 Pelaku usaha membutuhkan Pelatihan/Training/Mentoring mengenai kewirausahaan
Pelaku usaha membutuhkan konsultasi usaha berupa: a. Perencanaan bisnis (Business planning )
b. Pembinaan manajemen perusahaan (Management development)
c. Perencanaan Keuangan (Finance)
d. Manajemen proyek (Project management) e. Akuntansi (Accounting) / Pembukuan
f. Pemasaran dan inovasi (Marketing and innovation) g. Pengembangan Produk (New product development) h. Pembinaan keahlian dan kemampuan bisnis
2
i. Konsultasi Pajak
3 Pelaku usaha membutuhkan Penyediaan jaringan usaha/ Network Access (terutama ke Pemerintah)
Selain beberapa pernyataan tersebut, para responden turut ditanyakan mengenai kebutuhan lain yang tidak tercantum pada daftar pernyataan di atas, sehingga kebutuhan yang sebenarnya dibutuhkan oleh para pelaku usaha dapat diketahui dengan lebih jelas.
Berdasarkan hasil pengolahan kuesioner (lihat Lampiran A halaman 188) diperoleh data sebagai berikut:
Tabel IV.6 Pelayanan yang Dibutuhkan B. Pelayanan yan dibutuhkan No.
Item
Pernyataan Ya Tidak
1
Pelaku usaha membutuhkan Pelatihan/Training/Mentoring mengenai kewirausahaan
0,87 0,13 2 Pelaku usaha membutuhkan konsultasi usaha berupa:
a. Perencanaan bisnis ( Business Planning ) 0,87 0,13 b. Pembinaan manajemen perusahaan (Management
Development) 0,83 0,17
c. Perencanaan Keuangan (Finance) 0,93 0,07
d. Manajemen proyek (Project management) 0,87 0,13 e. Akuntansi (Accounting) / Pembukuan 0,9 0,1
f. Pemasaran dan Inovasi (Marketing and
Innovation) 0,9 0,1
g. Pengembangan Produk (New Product
Development) 0.97 0,03
h. Pembinaan keahlian dan kemampuan bisnis 0,9 0,1
i. Konsultasi Pajak 0,93 0,07
3 Pelaku usaha membutuhkan Penyediaan jaringan
usaha/ Network Access (terutama ke Pemerintah) 1 0 Untuk kebutuhan lain yang dibutuhkan oleh para pelaku usaha di luar pernyataan kuesioner adalah sebagai berikut:
1. Promosi
2. Bantuan pinjaman modal dari pemerintah 3. Pelatihan untuk operator
Berdasarkan data tersebut di atas dapat dijelaskan bahwa semua pernyataan yang terdapat pada kuesioner dibutuhkan oleh para pelaku industri alas kaki di Cibaduyut, namun ditemukan beberapa kebutuhan lain sebagai mana yang telah disebutkan sebelumnya.
Dengan demikian, kebutuhan utama industri alas kaki di Cibaduyut yang harus dipenuhi berdasarkan skala prioritas antara lain adalah:
1. Pelaku usaha membutuhkan Penyediaan jaringan usaha/ Network Access (terutama ke Pemerintah)
2. Pelatihan/Training/Mentoring mengenai kewirausahaan 3. Membutuhkan konsultasi usaha berupa:
a. Pengembangan Produk (New product development) b. Perencanaan Keuangan (Finance)
c. Konsultasi Pajak
d. Pembinaan Keahlian dan Kemampuan Bisnis e. Akuntansi (Accounting) / Pembukuan
f. Pemasaran dan Inovasi (Marketing and innovation) g. Perencanaan Bisnis (Business planning )
h. Manajemen Proyek (Project management)
i. Pembinaan Manajemen Perusahaan (Management development)
Kebutuhan-kebutuhan utama tersebut akan menjadi fokus utama dari penelitian ini, sedangkan kebutuhan lainnya dapat menjadi bahan penelitian lebih lanjut.
IV.2.3. Karakteristik Kewirausahaan
Untuk mengukur jiwa kewirausahaan para pelaku usaha industri alas kaki di Cibaduyut, penelitian ini menggunakan pendapat dari Zimmerer dan Scarborough (2005) yang digabung dengan pendapat dari Frey dan Korman (2004).
Sebagai mana yang telah dijelaskan pada Bab II, menurut Zimmerer dan Scarborough (2005) karakteristik kewirausahaan terdiri atas beberapa karakter yaitu bertanggung jawab, berani mengambil resiko, percaya diri, segera mengevaluasi diri, semangat, orientasi masa depan, keterampilan pada pengaturan, nilai prestasi atas uang, komitmen tinggi, toleransi pada ketidakpastian dan fleksibilitas. Sedangkan menurut Frey dan Korman (2004), karakteristik seorang wirausaha adalah ketabahan dan kemauan untuk terus maju, kemampuan melihat kesempatan, bersedia menghadapi penderitaan, hubungan dan penuh pertimbangan.
Variabel karakteristik kewirausahaan terdiri atas 40 item pernyataan dihitung secara total (Hasil pengolahan data dapat dilihat pada Lampiran A halaman 189). Dari hasil pengolahan kuesioner diperoleh data secara keseluruhan sebagai berikut:
Tabel IV. 7 Kategori Variabel Karakteristik Kewirausahaan
Skor maksimal 6000
Skor minimal 1200
Selisih 4800
Panjang interval 960
Interval Skor 1200 - 2160 (Sangat tidak baik) Skor 2161- 3120 ( Tidak baik) Skor Total 3910 Skor 3121 - 4080 ( Cukup)
Skor 4081- 5040 ( Baik) Skor 5041 - 6000 (Sangat baik)
Berdasarkan data tersebut di atas dapat dijelaskan bahwa karakteristik kewirausahaan pelaku usaha industri alas kaki di Cibaduyut tergolong dalam dalam kategori cukup.
Hal ini dapat ditunjukkan dari perhitungan skor total 3910 yang berdasarkan interval tergolong ke dalam kategori cukup. Para pelaku usaha industri alas kaki di Cibaduyut dinilai telah cukup memiliki beberapa karakteristik kewirausahaan seperti yang telah dijelaskan sebelumnya yaitu bertanggung jawab, berani mengambil resiko, percaya diri, segera mengevaluasi diri, semangat, orientasi masa depan, keterampilan pada pengaturan, nilai prestasi atas uang, komitmen tinggi, toleransi pada ketidakpastian dan fleksibilitas (Zimmerer dan Scarborough, 2005) dan ketabahan dan kemauan untuk terus maju, kemampuan melihat kesempatan, bersedia menghadapi penderitaan, hubungan dan penuh pertimbangan (Frey dan Korman, 2004). Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa para pelaku usaha industri alas kaki di Cibaduyut telah memiliki jiwa kewirausahaan dalam kategori cukup baik dalam mengelola usahanya.
Berdasarkan pendapat Loekito (2008) selaku ketua Aprisindo Jabar dalam wawancara langsung, saat ini industri alas kaki di Cibaduyut sedang menghadapi berbagai macam permasalahan. Beberapa diantara permasalahan tersebut adalah masalah pihak pengelola dan pengrajin alas kaki dengan latar belakang pendidikan yang kurang memadai sehingga memiliki pola pikir dan wawasan yang sempit, tidak memiliki strategi berwirausaha, serta merasa paling hebat dengan keahlian yang dimilikinya sehingga muncul istilah SMS (Senang kalau melihat orang susah).
Hal ini tentunya bertentangan dengan hasil kuesioner yang menyatakan bahwa para pelaku usaha industri alas kaki di Cibaduyut telah cukup memiliki karakteristik kewirausahaan, sehingga peneliti menganggap bahwa kategori cukup untuk variabel karakteristik kewirausahaan tersebut berlaku dalam level cukup ke bawah. Dengan demikian, masih diperlukan usaha untuk meningkatkan jiwa kewirausahaan para pelaku usaha industri di Cibaduyut ke level yang lebih tinggi.
IV.2.4. Proses Pengembangan Produk
Berdasarkan hasil literatur, menurut Wikipedia (2006) ada beberapa tahap umum dalam proses pengembangan produk yaitu Idea Generation, Idea Screening, Concept Development and Testing , Business Analysis, Beta Testing and Market Testing, dan Technical Implementation. Penelitian ini menggunakan dasar teori tersebut untuk mengukur proses pengembagan produk yang telah dilakukan oleh para pelaku usaha industri alas kaki di Cibaduyut.
Variabel proses pengembangan produk terdiri atas 25 item pernyataan yang menyangkut variabel proses pengembangan produk yang dihitung secara total (Hasil pengolahan data dapat dilihat pada Lampiran A halaman 191). Hasil pengolahan kuesioner diperoleh data sebagai berikut :
Tabel IV.8 Kategori Variabel Proses Pengembangan Produk
Skor maksimal 3750
Skor minimal 750
Selisih 3000
Panjang interval 600
Interval Skor 720 - 11710 (Sangat tidak baik)
Skor 1711- 2670 ( Tidak baik)
Skor Total 2816 Skor 2671 - 3630 ( Cukup) Skor 3631- 4590 ( Baik) Skor 4590 - 5550 (Sangat baik)
Berdasarkan data tersebut di atas dapat dijelaskan bahwa proses pengembangan produk yang dilakukan oleh para pelaku usaha industri alas kaki di Cibaduyut termasuk ke dalam kategori cukup baik.
Hal ini dapat ditunjukkan dari perhitungan skor total 2816 yang berdasarkan interval tergolong cukup baik. Para pelaku usaha industri alas kaki di Cibaduyut dinilai telah cukup baik dalam melakukan tahapan kegiatan pengembangan produknya yang terdiri atas Idea Generation, Idea Screening, Concept Development and Testing, Business Analysis, Beta Testing and Market Testing, dan Technical Implementation (Wikipedia, 2006).
Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa para pelaku usaha industri alas kaki di Cibaduyut telah cukup baik dalam melakukan proses pengembangan produknya.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan Wawan (2006), pola perkembangan gaya desain industri alas kaki di Cibaduyut antara tahun 1990 sampai dengan tahun 2004, selalu mengikuti ("meniru") perkembangan gaya desain yang sedang tren baik lokal maupun internasional. Namun dalam proses tersebut tidak diikuti oleh kualitas produk yang memadai sehingga produk Cibaduyut dianggap produk murahan dengan kualitas rendah. Dengan image market seperti itu, bagi konsumen yang memiliki gengsi dan menganggap benda sebagai gaya hidup, Cibaduyut tidak menjadi pilihan untuk belanja alas kaki. Pendapat tersebut bertentang dengan hasil kuesioner, sehingga seperti halnya variabel karakteristik kewirausahaan, peneliti menganggap bahwa kategori cukup untuk variabel proses pengembangan produk tersebut berlaku dalam level cukup ke bawah. Dengan demikian, proses pengembangan produk yang dilakukan pelaku usaha industri alas kaki di Cibaduyut masih harus diperbaiki dan ditingkatkan ke level yang lebih tinggi.
IV.3. Model dan Kerangka Kerja Pusat Inovasi
Model pusat inovasi dikembangkan berdasarkan adaptasi dan dimodifikasi dari praktek pusat inovasi di dunia yaitu The Canadian Innovation Centre dan The Barnsley Business and Innovation Centre. Berikut merupakan model awal pusat inovasi beserta elemen-elemennya:
Berdasarkan gambar di atas, pusat inovasi terdiri dari beberapa elemen yaitu visi dan misi, program kegiatan, tim manajemen, bentuk usaha, fasilitas, pelayanan dan sponsorship. Elemen-elemen tersebut selanjutnya akan dijadikan acuan pertanyaan untuk membentuk model pusat inovasi yang sesuai dengan kondisi industri alas kaki di Cibaduyut berdasarkan pendapat informan sekaligus memverifikasi model tersebut.
Kerangka kerja pusat inovasi dikembangkan berdasarkan Caputo, A.C., et all, (2002) yang disesuaikan dengan hasil kuesioner. Kerangka kerja tersebut terdiri dari elemen-elemen penting dari sebuah pusat inovasi yang selanjutnya akan dijadikan acuan penyusunan pertanyaan sekaligus diverifikasi melalui in-depth interview dengan para informan expert. Informasi yang diperoleh dari para informan tersebut akan digunakan untuk memferivikasi kerangka kerangka kerja dan model pusat inovasi yang telah dikembangkan sebelumnya sehingga pada akhirnya akan diperoleh model akhir pusat inovasi yang benar-benar sesuai dengan kebutuhan dan kondisi industri alas kaki di Cibaduyut.
Berdasarkan pembahasan tersebut di atas, kerangka kerja pusat inovasi yang dapat dikembangkan adalah sebagai berikut:
Gambar IV.2 Kerangka Kerja Pusat Inovasi Adopted from : Caputo, A.C., et al. (2002).
Dari gambar tersebut dapat diketahui bahwa pusat inovasi dalam usahanya memajukan IKM akan dihubungkan oleh innovation promotor yang terdiri dari pemerintah, pihak akademis dan organisasi independent. Innovation promotor merupakan pihak-pihak yang akan menggerakkan pusat inovasi dalam mencapai tujuannya.
Untuk skema industri alas kaki di Cibaduyut berdasarkan hasil kuesioner dapat dilihat sebagai berikut :
Gambar IV.3 Skema Industri Alas Kaki di Cibaduyut
Permasalahan utama industri alas kaki di Cibaduyut, sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya, berdasarkan hasil kuesioner terdiri atas sarana lalu lintas menuju daerah Cibaduyut kurang lancar atau sering macet, perhatian pemerintah terhadap kemajuan pengusaha alas kaki di Cibaduyut masih kurang, persaingan usaha alas kaki sangat ketat, sering terjadi peniruan desain alas kaki antara pelaku usaha di Cibaduyut, permasalahan dalam memperoleh bahan baku kulit dan imitasi untuk memproduksi alas kaki serta SDM yang terbatas dan kurang terampil.
Untuk kebutuhan utama para pelaku usaha industri alas kaki di Cibaduyut berdasarkan hasil kuesioner terdiri atas penyediaan jaringan usaha/network access (terutama ke Pemerintah), pelatihan/training/mentoring mengenai kewirausahaan, dan konsultasi usaha (meliputi pengembangan produk (new product development), perencanaan keuangan (finance), konsultasi pajak, pembinaan keahlian dan kemampuan bisnis, akuntansi (accounting)/pembukuan, pemasaran dan inovasi (marketing and innovation), perencanaan bisnis (business planning), manajemen proyek (project management), pembinaan manajemen perusahaan (management development)).
IV.4. Model Pusat Inovasi Cibaduyut Hasil Verifikasi
Berdasarkan coding result dari hasil wawancara, diperoleh model kategorial yang telah disebutkan pada Bab III.
Dari model kategorial tersebut dapat dilihat bahwa pengembangan model pusat inovasi untuk industri alas kaki di Cibaduyut terdiri atas beberapa kategori yaitu pengembangan Pusat Inovasi Cibaduyut, perkembangan industri alas kaki di Cibaduyut, pengembangan model pusat inovasi, model pusat inovasi untuk industri alas kaki di Cibaduyut, peran innovation promotor, kaitan pusat inovasi dengan UPT dan cluster, permasalahan industri alas kaki di Cibaduyut dan solusinya, visi dan misi Pusat Inovasi Cibaduyut, bentuk usaha Pusat Inovasi Cibaduyut, tujuan Pusat Inovasi Cibaduyut, klien Pusat Inovasi Cibaduyut, program kerja Pusat Inovasi Cibaduyut, tim manajemen Pusat Inovasi Cibaduyut, fasilitas dan layanan Pusat Inovasi Cibaduyut, sponsor Pusat Inovasi Cibaduyut, dan rencana strategi Pusat Inovasi Cibaduyut.
Kategori-kategori tersebut dipilih karena memiliki informasi dan data penting yang berkaitan dengan topik penelitian, sehingga kategori-kategori tersebut dapat membangun konsep mengenai topik penelitian ini. Penentuan kategori-kategori di atas didasarkan pada kesamaan tema/pola dari informasi yang diperoleh dari para informan. Penjabaran kategori-kategori tersebut akan dijelaskan sebagai berikut:
IV.4.1. Pengembangan Pusat Inovasi Cibaduyut
Berdasarkan pendapat informan C2, pengembangan pusat inovasi untuk memajukan industri alas kaki di Cibaduyut sangat bagus dan perlu untuk dilakukan. Hal ini disebabkan karena pada keadaan sekarang, para pelaku industri alas kaki di Cibaduyut sering melakukan penjiplakan desain, sehingga pusat inovasi dibutuhkan oleh para pelaku tersebut agar dapat berkreasi sendiri.
Menurut pendapat informan B1, untuk membangun sebuah pusat inovasi terutama di Cibaduyut diperlukan sebuah proses karena pada kenyataannya industri alas kaki merupakan industri yang sangat kompleks, begitu pula dengan permasalahan yang dihadapinya. Selain itu, dalam membangun sebuah pusat inovasi, faktor budaya yang mengarah pada suatu sikap tidak memiliki semangat perubahan turut menjadi kendala.
Pengembangan pusat inovasi, dari sisi kepemilikan atau ownership harus turut diperhitungkan, karena apabila dari sisi ownership sudah lemah, menurut pendapat B1, pusat inovasi tersebut akan sulit untuk dikembangkan yang selanjutnya akan menjadi masalah pada tahap substainsbility dan menjadi terbatas, sehingga masalah kepemilikan harus ditentukan terlebih dahulu. Hal ini penting dilakukan agar pihak yang mengelola pusat inovasi tersebut akan memiliki rasa tanggung jawab atas masalah kelangsungan dari pusat inovasi tersebut. Apabila pihak pengelola pusat inovasi tidak memiliki rasa tanggung jawab tersebut, pusat inovasi akan sulit dikembangkan.
Menurut pendapat B1, jika pusat inovasi menjadi lembaga yang dimiliki pemerintah, akan terbentur pada masalah program-program kegiatan, dimana dalam hal ini program-program kegiatan pemerintah dinilai tidak fokus dan kurang compatibel dengan demand dari para pelaku industri alas kaki di Cibaduyut itu sendiri.
Jika pusat inovasi menjadi lembaga swasta seperti asosiasi atau lembaga independent, akan memberatkan IKM karena apabila pusat inovasi dikelola oleh pihak swasta, cenderung akan berfungsi sebagai business center yang berorientasi pada keuntungan, sehingga tujuan untuk memajukan industri ini tidak akan tercapai. Dengan demikian, dibutuhkan kerjasama antara pihak pemerintah atau UPT dan pihak swasta dalam hal kepemilikan dan pengelolaan pusat inovasi tersebut. Informan D1 mengungkapkan bahwa status kepemilikan pusat inovasi dapat ditentukan melalui MOU (Memorandum Of Understanding) antara pihak pemerintah atau UPT dan pihak swasta sekaligus menentukan peran dan status masing-masing pihak tersebut. Pusat inovasi dapat berbentuk sebagai salah satu lembaga pemerintah yang dikelola oleh pihak swasta (organisasi independent), yang lebih mengetahui dan berpengalaman dalam mengelola sebuah institusi seperti pusat inovasi, sehingga pihak swasta memiliki status sebagai mitra pemerintah dimana dalam pengelolaan pusat inovasi ini melibatkan beberapa pihak lain yang memiliki kepentingan dan latar belakang kemampuan yang diperlukan antara lain seperti para pelaku IKM alas kaki Cibaduyut dan pihak akademik. Peran masing-masing pihak akan dijelaskan lebih lanjut pada sub bab berikutnya.
Penjelasan di atas didukung oleh pernyataan informan sebagai berikut: // ... Kalau saya sih..memang segalanya perlu proses yah, permasalahan di Cibaduyut juga itu sangat kompleks...fakta industrinya juga kompleks..gitu yah...dan kadang-kadang kita kebentur juga sama apa yah, culture mereka gitu...karena mereka memang tidak punya suatu spirit perubahan... references B1//
Untuk kategori Pengembangan Pusat Inovasi Cibaduyut, ada beberapa informan yang tidak memberikan jawaban diantaranya informan A1, A2, C1, dan D2.
Hal ini cenderung disebabkan karena kategori ini bukan merupakan pertanyaan tetapi merupakan informasi lain yang memiliki keterkaitan yang penting dengan topik penelitian ini, sehingga peneliti merasa perlu untuk dijabarkan sebagai latar belakang pengembangan model Pusat Inovasi Cibaduyut.
IV. 4.2. Perkembangan Industri Alas Kaki di Cibaduyut
Cibaduyut sebagai sentra industri alas kaki di kota Bandung memiliki sebuah unit pelayanan teknik atau UPT yang memiliki beberapa fungsi yang telah dijelaskan pada bagian profil industri alas kaki di Cibaduyut. Berdasarkan pendapat informan A1, sebelum otonomi daerah, UPT dikelola oleh orang-orang yang memiliki keahlian di atas rata-rata pelaku IKM alas kaki Cibaduyut. Hal ini dikarenakan, pengelola tersebut disekolahkan oleh pemerintah ke Itali sehingga memiliki kreativitas tinggi dan turut dilengkapi dengan peralatan yang maju.
Namun, seiring dengan perkembangan setelah otonomi daerah, UPT kemudian tidak dikelola dengan baik. Beberapa diantaranya disebabkan karena para pegawai yang sebelumnya mengelola UPT dipindahkan baik ke kota Bandung atau kabupaten Bandung maupun ke propinsi. Selain itu, para pengelola yang memiliki keahlian turut menghilang. Dengan keadaan tersebut, UPT menjadi tidak berfungsi selama beberapa tahun. Pada tahun 2006, pemerintah kota Bandung menggalakkan rencana program revitalisasi untuk kawasan industri alas kaki di Cibaduyut yang kegiatannya antara lain melengkapi kembali permesinan di UPT Cibaduyut, memperbaiki bangunan UPT Cibaduyut, memilih kembali para pengelolanya, dan saat ini pemerintah sedang mengkaji kawasan Cibaduyut dari segi tatanannya.
Penjelasan dari infoman A1 tersebut didukung oleh pernyataan Wali Kota Bandung, Dada Rosada dalam Gurnita (2006) yang menjelaskan bahwa Pemerintah Kota Bandung telah membentuk tim untuk menyusun program revitalisasi kawasan Cihampelas, Cigondewah, Cibaduyut, Binongjati, dan Suci. Penataan lima kawasan yang diharapkan dapat menghasilkan produk lokal berkualitas internasional itu dimulai Januari 2007. Tim tersebut terdiri atas unsur pemerintah pusat, provinsi, kota, perguruan tinggi, perwakilan usaha, Kadin, lembaga keuangan perbankan dan nonperbankan, serta BUMN/BUMD.
Hal senada diungkapkan pula oleh Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jawa Barat, Agus Gustiar dalam Surjana (2006) yang menjelaskan bahwa revitalisasi kawasan industri sepatu Cibaduyut diharapkan tidak hanya dapat menjadi kawasan belanja, tetapi juga mengarah pada konsep wisata industri. Salah satunya adalah dengan mewujudkan konsep rumah dan bisnis (RnB) di kawasan ini yang berarti bahwa rumah perajin tidak hanya berfungsi sebagai tempat untuk pameran hasil kerajinan sepatu, tetapi juga display cara pembuatan (bengkel) sepatu kulit. Program revitalisasi ini turut didukung oleh pernyataan salah satu anggota DPR dari fraksi PAN, Didik J.Rachbini (DPR-RI, 2007), yang menjelaskan bahwa diperlukan adanya revitalisasi Cibaduyut sebagai sentra produksi sepatu dengan membangun kelembagaan yang sifatnya forum solusi
untuk mengatasi permasalahan yang ada, yang meliputi permasalahan baik dari masalah kredit, marketing, bunga bank,
masalah desain dan masalah lainnya.
Dengan demikian, konsep mengenai revitalisasi Cibaduyut harus mendapat dukungan penuh dari berbagai pihak dan infrastruktur, salah satunya melalui lembaga pusat inovasi sebagai forum solusi dengan segala fasilitas dan layanannya untuk memajukan industri alas kaki di Cibaduyut sehingga kawasan Cibaduyut mampu menjadi tujuan wisata utama kota Bandung dan masyarakat Bandung akan bangga dengan produk Cibaduyut.
Penjelasan di atas berdasarkan pernyataan informan sebagai berikut: //...tahun 2006 baru kita galakkan kembali...revitalisasi sendiri permesinannya dilengkapi lagi…bangunannya direhab…orang-orangnya juga dipilih…dan sekarang lagi dikaji dari segi tatanannya...references A1//
Pada kategori Perkembangan Industri Alas Kaki di Cibaduyut, hanya diperoleh dari informan A1 yang memiliki latar belakang sebagaimana yang tercantum pada transkrip A1 (dapat dilihat pada Lampiran B halaman 192). Hal ini disebabkan karena kategori ini ditentukan dari informasi tambahan dari informan A1 yang memiliki kaitan penting bagi pembentukan konsep pengembangan model pusat inovasi di Cibaduyut.
IV. 4.3. Pengembangan Model Pusat Inovasi
Proses pengembangan model pusat inovasi erat kaitannya dengan keadaan serta permasalahan yang sedang dihadapi industri alas kaki di Cibaduyut saat ini. Hal ini selanjutnya akan menentukan layanan, fasilitas serta program yang akan disusun sehingga dapat memenuhi kebutuhan serta mengatasi permasalahan yang dihadapi para pelaku IKM alas kaki sebagaimana yang diungkapkan oleh informan B2.
Berdasarkan hasil kuesioner yang telah dijelaskan pada sub bab Hasil Kuesioner, terdapat enam permasalahan yang dihadapi para pelaku IKM alas kaki di Cibaduyut yaitu permasalahan dalam memperoleh bahan baku kulit dan imitasi untuk memproduksi alas kaki, sulit mendapatkan tenaga kerja (SDM) terampil, persaingan usaha alas kaki di Cibaduyut sangat ketat, sering terjadi peniruan desain alas kaki antara pelaku usaha di Cibaduyut, perhatian Pemerintah terhadap kemajuan pengusaha alas kaki di Cibaduyut masih kurang, dan sarana lalu lintas menuju daerah Cibaduyut kurang lancar atau sering macet.
Informan B2 mengungkapkan bahwa perlu menggambarkan suatu hubungan antara keadaan IKM alas kaki Cibaduyut saat ini beserta permasalahannya saat ini dengan keadaan IKM alas kaki Cibaduyut setelah memanfaatkan pusat inovasi melalui program kegiatan, fasilitas dan layanannya, sehingga akan diperoleh penggambaran yang jelas tentang manfaat pusat inovasi serta indikator keberhasilan yang diinginkan bagi para pelaku IKM alas kaki di Cibaduyut.
Berdasarkan pendapat informan A2, C1 dan C2 indikator keberhasilan pusat inovasi ditunjukkan dengan sarana lalu lintas yang lancar sehingga dalam hal ini keterlibatan pemerintah mutlak diperlukan antara lain dalam hal perbaikan infrastruktur yang dapat berupa pembukaan akses tol ke Cibaduyut, regulasi, promo serta perijinan. Dengan keterlibatan pemerintah tersebut, perhatian pemerintah pun turut dapat ditingkatkan.
Indikator keberhasilan lainnya yaitu para pelaku IKM alas kaki memiliki produk dengan branding yang lebih baik dan kualitas yang berdaya saing tinggi untuk menghadapi persaingan usaha yang ketat, para pelaku IKM alas kaki juga menjadi lebih kreatif dan mampu menciptakan model desain produk yang semakin beragam, akses pasar dari segi segmentation, targeting dan positioning yang tepat, pembentukan customer base yang kuat dan advertising yang gencar. Selain itu, indikator keberhasilan pusat inovasi ditunjukkan dengan adanya ketersediaan jaringan supplier bahan baku yang lebih luas bagi para pelaku IKM, sedangkan dari sisi sumber daya manusia (SDM), melalui pusat inovasi diharapkan tidak hanya meningkatkan jiwa kewirausahaan para pelaku IKM alas kaki menjadi lebih profesional, tetapi juga kemampuan dan keahlian dalam membuat produk alas kaki. Dari segi pendapatan pelaku usaha alas kaki, setelah memanfaatkan program kegiatan, fasilitas dan layanan pusat inovasi diharapkan terjadi peningkatan pendapatan yang tinggi sehingga kesejahteraannya pun meningkat.
Industri Alas Kaki (Footwear) Di Cibaduyut
Tidak Berkembang / Menurun
Pusat Inovasi
Industri Alas Kaki (Footwear) Di
Cibaduyut Berkembang /
Meningkat
Mengalami Beberapa Permasalahan utama, yaitu :
1. Sarana lalu lintas kurang lancar 2. Perhatian Pemerintah masih kurang 3. Persaingan ketat
4. Tingkat peniruan desain produk/merk tinggi 5. Bahan baku
6. SDM yang terbatas dan kurang terampil
Program Kegiatan Fasilitas dan Pelayanan Mengalami kemajuan :
1. Keterlibatan pemerintah meningkat dengan perbaikan infrastruktur melalui perijinan, regulas, promo dan pembukaan akses jalan tol ke Cibaduyut.
2. Menghasilkan produk yang memiliki branding yang lebih baik, berkualitas dan daya saing tinggi
3. Kreativitas pengusaha dalam mendesain produk meningkatkan sehingga terus menghasilkan beragam desain baru
4. Memiliki link ke berbagai supplier bahan baku 5. IKM memiliki jiwa kewirausahaan yang lebih profesional dan terampil
6. Peningkatan pendapatan pelaku usaha alas
Gambar IV.4. Indikator Keberhasilan Pusat Inovasi Cibaduyut
Penjelasan mengenai pendapat informan di atas berdasarkan pernyataan sebagai berikut:
//...bikin model juga..keadaan industri ini sekarang lengkap dengan permasalahanya trus dikaitkan dengan pusat inovasi dengan segala apa ya..ya apa yang ada di pusat inovasi ini lah..programnya..fasilitasnya..layanannya.. trus diikuti gambar keadaan setelah industri ini nantinya..setelah memanfaatkan pusat inovasi ini... references B2//
Pada kategori Pengembangan Model Pusat Inovasi, informasi yang memiliki kesamaan tema diperoleh dari informan A2, B1, C1 dan C2. Hal ini dikarenakan penentuan kategori tersebut berdasarkan informasi tambahan diluar pertanyaan wawancara, namun memiliki keterkaitan yang sangat penting bagi pembentukan konsep pengembangan model pusat inovasi di Cibaduyut sehingga peneliti merasa perlu untuk menentukan kategori tersebut. .
(Keterangan transkrip para informan A2, B1, C1 dan C2 dapat dilihat pada Lampiran B halaman 203, 208, 221 dan 231).
IV.4.4. Model Pusat Inovasi Untuk Industri Alas Kaki di Cibaduyut
Pusat inovasi yang dikembangkan untuk industri alas kaki di Cibaduyut harus mencakup inovasi secara menyeluruh meliputi inovasi produk, marketing, promosi, desain dan teknologi sebagaimana yang diungkapkan oleh informan D1. Dengan demikian segala kebutuhan inovasi dapat terlayani oleh pusat inovasi tersebut.
Melalui pusat inovasi diharapkan industri alas kaki Cibaduyut dapat memperluas jaringan usahanya serta memperoleh pelatihan yang diantaranya untuk mendidik pegawai agar memiliki kemampuan yang sesuai standar sehingga dapat mencapai hasil yang juga sesuai standar. Hal ini disebabkan karena pada industri alas kaki khususnya di Cibaduyut, para pegawai cenderung terjebak dalam kebisaan lama dimana karena memiliki keahlian menjadi merasa lebih tahu sehingga bersikap sulit untuk di atur.
Dengan adanya pusat inovasi, melalui pelatihan diharapkan para pegawai menjadi lebih profesional dengan memenuhi syarat Skill, Knowledge and Attitude (SKA) karena dalam hal ini Skill, Knowledge and Attitude para pegawai IKM alas kaki di Cibaduyut masih bersifat warisan orang tua atau turun temurun sehingga perlu dikelola dengan lebih baik.
Menurut pendapat informan A1, model pusat inovasi untuk industri kreatif alas kaki di Cibaduyut harus sesuai dengan keadaan industri ini yang salah satunya yaitu pusat inovasi sebaiknya berlokasi di Cibaduyut dengan merevitalisasi dari fungsi-fungsi unit pelayanan teknis yang telah ada saat ini. Model pusat inovasi harus mengikuti kebutuhan para pelaku IKM alas kaki dengan cara yang berbeda sesuai dengan perkembangan permasalahan di lapangan.
Pada perkembangannya saat ini, Cibaduyut mengalami pergeseran fungsi dimana sebelumnya Cibaduyut berfungsi sebagai sentra industri, saat ini Cibaduyut lebih berfungsi sebagai sentra perdagangan. Sebagai sentra industri, Cibaduyut berfungsi menjual produk-produk produksi IKM Cibaduyut sendiri sehingga akan lebih memajukan industri ini, sedangkan sebagai sentra perdagangan, Cibaduyut tidak hanya menjual produk-produknya tetapi juga produk alas kaki dari daerah lain seperti Sumantra dan China.. Dengan fungsinya sebagai sentra perdagangan, terjadi persaingan antara produk Cibaduyut dengan produk luar dimana dalam hal ini produk Cibaduyut cenderung tidak mampu bersaing dari segi harga sehingga menghancurkan industri alas kaki asli Cibaduyut.
Menanggapi keadaan ini, Dinas perindustrian dan Perdagangan bersama pemerintah kota Bandung memiliki rencana membangkitkan kembali industri alas kaki Cibaduyut dengan mengembalikan fungsinya sebagai sentra industri, sehingga sebuah lembaga seperti pusat inovasi menjadi sangat dibutuhkan untuk dapat mendukung suksesnya proses tersebut. Dukungan pusat inovasi dalam hal ini dapat berupa bantuan dari sisi teknologi yang disesuaikan dengan kebutuhan para pelaku IKM alas kaki, dari sisi permesinan yang dalam hal ini mendapat bantuan dari pemerintah setempat, dari sisi research and development dalam hal ini pusat inovasi dapat melakukan kerjasama dengan pihak akademik atau perguruan tinggi mengingat kemampuan IKM alas kaki dalam melakukan research and development sangat terbatas.
Selain itu, kerjasama tersebut dapat pula berupa pengembangan desain produk dengan melibatkan perguruan tinggi yang memiliki jurusan desain seperti ITENAS dan senirupa ITB karena salah satu kekurangan produk Cibaduyut adalah sering terjadi peniruan desain sehingga produk Cibaduyut menjadi kurang mampu mengikuti trend atau mode desain alas kaki yang belakangan terus berkembang. Melalui kegiatan pengembangan desain, pusat inovasi dapat berfungsi sebagai bank desain, dimana para mahasiswa-mahasiswa lulusan jurusan desain produk dapat menginvestasikan desain-desainnya dalam bentuk prototype-prototype di pusat inovasi untuk kemudian diperjualbelikan. Para pelaku IKM alas kaki yang membutuhkan desain dapat membeli baik dengan cara tunai ataupun dengan memasukkan fee untuk desain mahasiswa tersebut pada harga produk alas kaki sehingga pelaku IKM alas kaki berkewajiban menyerahkan sekian persen dari total omset produk yang terjual kepada mahasiswa tersebut. Sistem pembayaran fee ini dapat dilakukan jika pelaku IKM tidak mampu membeli secara tunai, namun untuk perhitungannya dibutuhkan sebuah sistem pembukuan yang sesuai, salah satunya dengan membuat kartu persediaan, sehingga dapat diketahui dengan pasti jumlah persediaan, jumlah produk yang terjual, besarnya fee yang harus dibayar, dan lain-lain. Dengan adanya sistem pembayaan fee ini dapat meringankan beban pelaku IKM alas kaki Cibaduyut mengingat besarnya biaya HaKI yang harus ditanggung jika mereka harus membeli secara tunai.
Dukungan pusat inovasi lainnya dapat berupa bantuan inovasi dari sisi promosi melalui pembuatan majalah sebagai mana yang dilakukan salah satu distro di Bandung dengan majalah SWAFTnya. Promosi melalui majalah dinilai efektif karena dapat menyentuh kalangan remaja yang merupakan pangsa pasar sekaligus populasi terbanyak di Jawa Barat. Selain itu, majalah sebagai media promosi dapat digunakan pula untuk meningkatkan kesadaran masyarakat pengguna atau konsumen agar lebih mencintai produk-produk dalam negeri. Sistem promosi lainnya juga dapat melalui media atau fasilitas internet dan pengembangan sistem
Pusat inovasi dalam mendukung proses revitalisasi fungsi Cibaduyut sebagai sentra industri sekaligus memajukan industri ini dapat memberikan pelayanan berupa pendampingan bisnis yang disesuaikan dengan permasalahan dan kebutuhan IKM alas kaki itu sendiri, salah satunya dapat berupa bantuan jaringan ke perbankan, pendampingan dalam pembuatan proposal, pembukuan sederhana, dan sebagainya. Selain itu, pusat inovasi juga dapat melakukan kerjasama dengan instansi pemerintah berupa unit pelayanan teknik (UPT) dengan memberikan pelayanan baik secara teknik maupun kontrol kualitas, memberikan pendidikan kepada masyarakat pelaku IKM alas kaki di Cibaduyut untuk mengurangi persaingan dengan sesama pelaku IKM alas kaki Cibaduyut, mendidik para pelaku tersebut untuk dapat menghargai arti desain sehingga menghindari terjadinya peniruan desain, menghimbau para para pelaku IKM alas kaki Cibaduyut untuk menghindari persaingan dengan saling menjatuhkan harga, mendorong para para pelaku IKM alas kaki Cibaduyut untuk melakukan inovasi secara terus menerus sebagaimana yang dilakukan oleh distro-distro baik inovasi bahan baku maupaun desain produk sehingga dapat bersaing dengan produk luar terutama produk China, serta menanamkan rasa kebersamaan dan pentingnya bekerjasama dengan sesama pelaku IKM alas kaki Cibaduyut dalam rangka meningkatkan kualitas dan daya saing produk mereka.
Selain itu, unit pelayanan teknik (UPT) juga turut menyediakan informasi yang berkaitan dengan perkembangan industri alas kaki di Cibaduyut dan memfasilitasi perluasan pasar bagi industri ini.
Penjelasan pendapat para informan berkaitan dengan masalah perubahan fungsi Cibaduyut tersebut didukung oleh pernyataan pelaku usaha Uce Hidayat dalam Ernanto (2003) yang menjelaskan bahwa bersamaan dengan krisis ekonomi yag melanda Indonesia pada tahun 1997, perajin terpaksa menjual toko-toko sepatu yang ada di tepi jalan Cibaduyut ke orang lain untuk bertahan hidup. Perajin terpaksa pindah di rumah-rumah yang ada di belakang kawasan Cibaduyut. Sementara itu, para pengusaha yang memiliki modal dan berasal dari luar kota Bandung mulai memiliki toko-toko alas kaki dan berdagang di Cibaduyut.
Uce mengatakan bahwa pada awalnya pemasok toko-toko milik pengusaha tersebut tetap berasal dari pengrajin di sekitar Cibaduyut. Namun, sejak toko-toko tersebut dimiliki oleh orang dari luar Kota Bandung, lambat laun kawasan Cibaduyut mulai berubah fungsi. Tidak hanya menjual sepatu sebagaimana ciri khas Cibaduyut, tetapi toko-toko tersebut juga menjual baju, menjadikannya supermarket, bahkan menjajakan jajanan serta makanan. Hal ini mengakibatkan fungsi Cibaduyut sebagai kawasan industri yang menjual dan memproduksi produk alas kaki beralih menjadi kawasan perdagangan yang menjual berbagai produk yang pada akhirnya membuat Cibaduyut tak lagi identik dengan sepatu (Ernanto, 2003).
Selain itu, terjadi persaingan antara produk Cibaduyut dan produk China yang disebabkan oleh banyak faktor. Hal ini didukung oleh pernyataan pelaku usaha alas kaki di Cibaduyut Amun Ma’mun (Dio, 2005) yang menjelaskan bahwa salah satu diantara faktor tersebut adalah produk sepatu asal Cina tidak hanya dijual di mal atau pertokoan semata tetapi juga dijual dengan bebas hingga ke tingkat pedagang kaki lima (PKL) di pinggiran jalan.
Hal ini berdampak pada produksi sepatu dari industri kecil menengah yang memiliki pangsa pasar kalangan masyarakat menengah ke bawah, sehingga Pemerintah diminta membatasi peredaran sepatu impor dari Cina.
Menurut Ma’mun yang merupakan Ketua Asosiasi Pengusaha Sepatu Cibaduyut Bandung (Dio, 2005), semakin lama industri sepatu Cibaduyut harus mengurangi produksinya. Jika dalam kondisi normal setiap pengusaha sepatu Cibaduyut mampu memproduksi sedikitnya 30 lusin sepatu, maka kini turun hingga tinggal 30 persen saja. Dio (2004) menjelaskan bahwa lebih murahnya produk impor dari Cina menjadi pertimbangan utama.
Produk sepatu Cibaduyut memang kalah bersaing dengan produk sepatu Cina, terutama soal harga sementara produk sepatu Cibaduyut sulit dijual dengan harga yang murah seperti produk sepatu Cina karena harga bahan baku mengalami kenaikkan padahal dari segi kualitas produk sepatu Cina lebih baik. Dengan harga yang lebih mahal, tetapi dengan kualitas yang kurang baik, maka sepatu Cibaduyut tak lagi dilirik konsumen.
Loekito dalam Muttaqien (2007) selaku ketua Aprisindo Jabar mengungkapkan bahwa pihaknya telah berulang kali meminta perhatian pemerintah melalui Menteri Perindustrian dan Menteri Perdagangan serta Dirjen Bea Cukai untuk mengawasi peredaran sepatu impor tersebut karena banyak juga produk sepatu China tersebut masuk secara ilegal. Namun, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Jabar Agus Gustiar (Muttaqien, 2007) mengatakan bahwa dalam era perdagangan bebas, satu negara tidak bisa menahan produk negara lain untuk masuk dan beredar, sehingga yang harus dilakukan adalah para pelaku IKM harus meningkatkan daya saing produknya.
Salah satu yang menjadi tujuan Pusat Inovasi Cibaduyut adalah membantu para pelaku IKM alas kaki di Cibaduyut untuk dapat meningkatkan daya saing produknya secara berkelanjutan yang akan dibahas lebih lanjut pada bab berikutnya. Dengan demikian, pengembangan pusat inovasi sebagai salah satu solusi untuk membantu para pelaku IKM alas kaki dalam menghadapi persaingan dengan produk China semakin diperlukan.
Penjelasan di atas didasarkan pernyataan informan sebagai berikut:
//...tempatnya ya di Cibaduyut lagi aja..jadi istilahnya revitalisasi dari fungsi- fungsi unit pelayanan teknis yang ada sekarang ini ..jadi ikuti apa yang perlu oleh para pelaku itu ..apa...caranya itu berbeda... Berubah-ubah sesuai dengan Perkembangan permasalahan dilapangan…references A1//
(Keterangan transkrip informan A1 dan A2 dapat dilihat pada Lampiran B halaman 193 dan 203).
IV. 4.5. Peran Innovation Promotor
Innovation promotor merupakan para pihak yang bertugas mengelola pusat inovasi dalam usaha mencapai tujuannya. Berdasarkan pendapat para informan innovation promotor terdiri atas pihak pemerintah, asosiasi/LSM/organisasi independent, pihak akademik serta komunitas pelaku IKM Alas Kaki di Cibaduyut yang memiliki kemampuan di bidangnya. Setiap pihak memiliki perannya masing-masing, diantaranya yaitu:
1. Pemerintah (mencakup DISPERINDAG, Dinas Koperasi, Dinas Pariwisata, Dinas Tenaga Kerja, Pemerintah Kota Bandung), berperan:
• Memberikan bantuan regulasi dalam pengadaan undang-undang perlindungan usaha bagi para pelaku IKM Alas Kaki Cibaduyut serta Memberikan dukungan kebijakan dan bantuan regulasi yang mendukung iklim usaha yang baik bagi industri alas kaki di Cibaduyut.
• Menyediakan instalasi UPT Cibaduyut sebagai sarana pusat inovasi yang berfungsi sebagai rumah pengusaha dan rumah pengrajin
• Menyediakan fasilitas pelatihan teknis dan manajemen • Menyediakan fasilitas perluasan pasar melalui promosi • Menyederhanakan prosedur birokratis.
• Pengadaan mesin/peralatan di instalasi UPT
• Mengawasi dan mengevaluasi kegiatan pusat inovasi
• Bekerjasama dengan pihak konsultan dan akademik dalam pengadaan kegiatan pelatihan /training
2. Asosiasi / LSM / Organisasi Independent, berperan:
• Mengidentifikasi kebutuhan inovasi dari industri alas kaki di Cibaduyut • Menerapkan program pendidikan dan pelatihan serta penyuluhan untuk IKM
Cibaduyut.
• Menghadirkan seorang manager inovasi, yang berpengalaman dan profesional dalam pemecahan masalah dalam berinovasi
3. Komunitas Pelaku Usaha, berperan:
• Memberikan masukan dan informasi keadaan di lapangan
• Berperan aktif dalam kegiatan-kegiatan diskusi, sharing dan brainstorming
4. Perguruan Tinggi / Akademik, berperan:
• Meningkatkan usaha dalam riset dan pengembangan berdasarkan masalah yang dihadapi IKM alas kaki yang secara langsung dapat diterapkan dan ditransfer ke perusahaan IKM
• Mensosialisasikan hasil riset kepada IKM dan Pemda
• Merencanakan dan menerapkan jasa pelatihan dalam hal teknik dan manajemen tenaga kerja IKM untuk menciptakan lingkungan kerja yang mendukung tranfer inovasi.
Pernyataan informan tersebut di atas mengenai pengelola atau innovation promotor turut didukung oleh hasil literatur yang menyebutkan bahwa model organisasi seringkali berganti-ganti sehingga pusat inovasi yang didirikan di setiap negara cenderung berbeda-beda. Terkadang usaha ini dibuat dalam sebuah pusat teknologi atau dihubungkan dengan universitas. Mungkin juga menjadi bagian dari beberapa departemen atau organisasi pemerintah. Bahkan banyak juga organisasi swasta yang dihubungkan dengan pusat inovasi (Sipilä, 1999).
Dengan demikian pada umumnya para pengelola pusat inovasi terdiri dari pihak pemerintah, akademik maupun pihak swasta, sehingga dalam hal ini ada kesesuian antara literatur dengan pernyataan informan. Namun, untuk Pusat Inovasi Cibaduyut, dalam pengelolaan pusat inovasi tersebut juga melibatkan komunitas pelaku IKM alas kaki karena memiliki peran penting sebagaimana yang telah dijelaskan di atas.
Penjelasan di atas didukung oleh pernyataan informan sebagai berikut: //... Ada DISPERINDAG, akademik dan organisasi kewirausahaan atau organisasi independent ya? Kalo menurut saya memang pasti ini ya..tapi pelakunya juga harus dilibatin...references B1//
(Keterangan transkrip informan A1, A2, B1, B2, C1, C2, D1, dan D2 dapat dilihat pada Lampiran B halaman 192).
IV. 4.6. Kaitan Pusat Inovasi Dengan UPT dan Cluster
Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya bahwa pusat inovasi dalam melaksanakan aktivitasnya dapat menjalin kerjasama dengan instansi pemerintah yang secara khusus memberikan pelayanan kepada para pelaku IKM alas kaki di Cibaduyut yaitu unit pelayanan teknik (UPT).
Menurut beberapa informan yang terdiri dari informan A1, A2, B1, B2, D1, dan D2 menjelaskan bahwa pusat inovasi dapat menjadi bagian dari UPT dan saling mendukung dalam pelaksanaan beberapa kegiatan secara bersama tetapi masing-masing tetap memiliki fungsi atau peran dan manajemen yang berbeda.
Pada penjelasan sebelumnya telah diungkapkan bahwa UPT sebagai instansi pemerintah memiliki beberapa tugas antara lain yaitu memberikan pelayanan teknis, pengadaan permesinan, memfasilitasi perluasan pasar, penyediaan informasi dan lain-lain. Pusat inovasi memiliki fungsi yang lebih ke arah pengembangan manajemen dan jiwa kewirausahaan IKM Alas Kaki Cibaduyut serta pengembangan desain dan inovasi produk. Pusat inovasi dalam hal ini merupakan bagian unit khusus dari UPT sekaligus sebagai perkuatan UPT yang dioperasionalkan secara independent oleh lembaga independent yang profesional. Jika pusat inovasi bukan bagian dari UPT, dalam hal ini pemerintah akan sulit untuk dilibatkan sehingga pusat inovasi tidak akan mendapat dukungan dan bantuan baik dari segi regulasi maupun pendanaan.
Adapun bentuk kerjasama pusat inovasi dan UPT dapat berupa merumuskan bersama visi dan misi baik untuk UPT maupun pusat inovasi. Visi dan misi tersebut kemudian diusulkan dan disesuaikan dengan visi dan misi Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jawa Barat. Hal ini harus dilakukan karena UPT
Selain berada di lokasi yang sama sekaligus memanfaatkan fasilitas pemerintah serta mempermudah pengelolaan dan memperoleh dukungan dari pemerintah dari segi regulasi dan pendanaan, pusat inovasi dan UPT dapat pula bekerjasama dalam menentukan program kerja dimana pemerintah menerima laporan perkembangan dan pertanggungjawaban dari masing-masing lembaga tersebut.
Dalam hubungannya dengan cluster industri alas kaki yang sedang dikembangkan pemerintah, informan C2 dan D1 menjelaskan bahwa jika cluster ini mampu berjalan dengan baik, pusat inovasi dapat dijadikan salah satu infrastruktur yang dapat membantu mengembangkan dan mensosialisasikan cluster kepada para pelaku industri alas kaki di Cibaduyut karena pada kenyataannya cluster membantu para pelaku IKM alas kaki tersebut untuk dapat memperluas jaringan usahanya.
Penjelasan para informan tersebut juga turut didukung oleh pernyataan Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Jabar, Agus Gustiar dalam Anonim (2006) yang menjelaskan bahwa untuk membangkitkan daya saing industri serta meningkatkan daya beli masyarakat, Pemprov Jabar melalui Dinas Perindustrian dan Perdagangan akan mengembangkan empat cluster industri yang terdiri dari cluster tekstil produk tekstil (TPT), furnitur, suku cadang serta cluster alas kaki yang akan dikembangkan untuk lima tahun mendatang. Untuk cluster TPT berada di wilayah Bandung Selatan, cluster alas kaki berada di Cibaduyut Bandung, cluster furnitur yang dikembangkan akan lebih difokuskan pada produk rotan di Cirebon dan cluster suku cadang berada di Sukabumi dan Kota Bandung.
Pengertian cluster sendiri adalah konsentrasi sejumlah perusahaan dan lembaga dalam suatu wilayah serta saling berhubungan dalam bidang khusus yang mendukung persaingan. Wilayah cluster tersebut dibatasi oleh keterkaitan dan komplementer, tetapi tidak dibatasi oleh wilayah administrasi. Dengan membentuk cluster industri, akan terjadi suatu kolaborasi serta keterkaitan antara industri inti, pendukung penyedia serta penunjang.
Contohnya, industri sepatu Cibaduyut, pengadaan kulit, lem serta bahan lainnya melibatkan pihak lain yang disebut pendukung. Pengembangan cluster ini pada akhirnya juga akan membuka peluang usaha baru. Pengembangan cluster Industri alas kaki dilakukan karena Indonesia merupakan salah satu eksportir sepatu ketiga di dunia yang salah satunya adalah produk alas kaki Cibaduyut
Hidayat (2005) menjelaskan bahwa Pemprov Jabar akan memperkuat sistem cluster dalam pengembangan industri alas kaki dan sepatu yang belakangan ekspornya menunjukkan penurunan karena biaya ekonomi tinggi serta ketatnya persaingan. Penurunan nilai ekspor alas kaki dan sepatu asal Jawa Barat dari US$50,6 juta tahun 2003 menjadi US$37,4 juta pada 2004 telah menjadi bahan pertimbangan pemerintah untuk memperkuat industri alas kaki melalui sistem cluster. Selain itu, pertimbangan lain dibentuknya cluster alas kaki karena jumlah industri alas kaki di Jabar tergolong banyak yaitu 6.125 perusahaan yang menyerap tenaga kerja 389 ribu orang meski bila dibandingkan dengan negara pesaing, pangsa pasar ekspor alas kaki asal Jawa Barat masih relatif kecil namun produk alas kaki masuk kategori produk ekspor unggulan Jawa Barat.
Disperindag Jabar melalui sistem cluster ini akan memperkuat jaringan pemasaran ekspor produk alas kaki yang didasarkan pada kemampuan daerah masing-masing melalui simpul-simpul jaringan eksportir yang sudah kuat sehingga dalam hal ini pemerintah menghimbau para kalangan eksportir yang telah mapan dengan aktivitas ekspornya untuk segera membangun jaringan dengan UKM produsen alas kaki dengan prinsip bisnis.
Dengan demikian, dalam menyukseskan pengembangan cluster alas kaki, pembangunan pusat inovasi sebagai salah satu sarana pengembangan industri alas kaki semakin penting karena dapat dijadikan infrastruktur yang membantu mendukung dan mensosialisasikan kegiatan cluster alas kaki kepada para pelaku IKM alas kaki di Cibaduyut.
Penjelasan di atas didukung oleh pernyataan informan sebagai berikut:
//... Pusat inovasinya mungkin merupakan bagian dari UPT, mungkin di situ nanti…Perkuatan UPT...yang dioperasionalkan secara independent oleh para profesional ..references A1//
Pada kategori ini, ada beberapa informan yang tidak memberikan jawaban mengenai hubungan pusat inovasi dengan UPT yaitu C1 dan C2. Hal ini cenderung disebabkan karena latar belakang kedua informan tersebut yang tidak mengetahui secara pasti keberadaan dan fungsi dari lembaga UPT karena kedua informan mendalami masalah konsep pusat inovasi dan industri kreatif. Sedangkan informasi mengenai cluster hanya diperoleh dari informan C2 dan D1. Hal ini disebabkan karena informasi mengenai cluster merupakan informasi tambahan yang muncul di luar pertanyaan wawancara namun turut mendukung pembentukan konsep pengembangan model Pusat Inovasi Cibaduyut sehingga peneliti merasa perlu untuk menjelaskan informasi ini.
(Keterangan transkrip informan A1, A2, B1, B2, C1, C2, D1, dan D2 dapat dilihat pada Lampiran B halaman 192).
IV. 4.7. Permasalahan Industri Alas Kaki Di Cibaduyut dan Solusinya
Pengembangan model pusat inovasi harus didasarkan pada beberapa hal diantaranya yaitu permasalahan yang sedang dihadapi pelaku industri alas kaki di Cibaduyut. Dengan mengetahui permasalahan yang dihadapi pelaku IKM alas kaki di Cibaduyut, pusat inovasi selanjutnya dapat menentukan akar permasalahan dan mencari solusi yang tepat untuk mengatasi berbagai permasalahan tersebut baik melalui penerapan program maupun penyediaan fasilitas dan layanan.
Berdasarkan hasil kuesioner yang telah dijelaskan sebelumnya, permasalahan yang dihadapi para pelaku IKM alas kaki di Cibaduyut terdiri dari:
1. Sarana lalu lintas menuju daerah Cibaduyut kurang lancar atau sering macet 2. Perhatian Pemerintah terhadap kemajuan pengusaha alas kaki di Cibaduyut
masih kurang
3. Persaingan usaha alas kaki di Cibaduyut sangat ketat
5. Permasalahan dalam memperoleh bahan baku kulit dan imitasi untuk memproduksi alas kaki
6. Sulit mendapatkan tenaga kerja (SDM) terampil
Hal tersebut didukung oleh pendapat para informan yang menjelaskan bahwa penentuan akar masalah harus dilakukan terlebih dahulu dengan memperhatikan siklus produksi dari industri alas kaki ini. Masalah bahan baku dan SDM merupakanan permasalahan pada bagian penelitian dan pengembangan (LITBANG), masalah persaingan usaha merupakan permasalahan pada bagian penjualan, sedangkan masalah perhatian pemerintah yang kurang serta sarana lalu lintas yang macet terletak di luar siklus produksi industri alas kaki di Cibaduyut dan merupakan bagian dari infrastruktur. Dari pendapat tersebut dapat digambarkan sebagai berikut:
Gambar IV.5 Siklus Produksi Industri Alas kaki (Footwear) Di Cibaduyut dan Permasalahannya
Berikut ini peneliti akan menjelaskan masing-masing akar masalah dan solusi yang tepat dari berbagai permasalahan tersebut.
1. Bagian Produksi
• Permasalahan bahan baku
kulit menjadi salah satu akar masalah dari permasalahan ini. Isu penyakit kuku dan mulut hewan penghasil kulit yang pernah merebak di kalangan IKM alas kaki di Cibaduyut membuat bahan baku kulit menjadi sulit. Hal ini disebabkan karena bahan baku kulit yang diduga terjangkit penyakit kulit dan kuku oleh pemerintah kemudian dikarantina dan impor bahan baku tersebut diperketat.
Dengan terbatasnya bahan baku impor tersebut, harga bahan baku lokal menjadi meningkat sehingga tidak terjangkau oleh pelaku industri ini. Sebagian besar pelaku IKM alas kaki di Cibaduyut dalam menjalankan usahanya melakukan sistem order, sehingga ketika harga bahan baku mahal, banyak para pelaku tersebut yang memutuskan untuk tidak menerima order dan menghentikan produksi sementara sampai harga bahan baku turun kembali. Selain itu, sistem pembelian bahan baku dengan langsung melakukan pembelian ke pabrik terbentur adanya batas minimum pembeliannya turut memberatkan IKM Alas Kaki Cibaduyut karena dibutuhkan modal yang sangat besar untuk melakukan pembelian dalam jumlah besar, sementara kadang-kadang bahan baku yang dibutuhkan tidak terlalu banyak. Hal ini merupakan salah satu penyebab IKM alas kaki sulit untuk berkembang.
Permasalahan bahan baku sebagaimana yang dijelaskan berdasarkan pendapat informan tersebut turut pula didukung oleh literatur yang menyebutkan bahwa krisis ekonomi yang ditandai dengan terdepresiasinya nilai tukar rupiah terhadap dollar memberikan imbas yang sangat buruk kepada para perajin sepatu. Turunnya kurs rupiah membuat harga bahan baku seperti kulit kambing, kulit sapi, serta kulit imitasi meningkat tajam, sehingga menyebabkan para pelaku IKM alas kaki di Cibaduyut tidak mampu untuk membelinya. Akhirnya, perajin tidak bisa melakukan kegiatan produksi lagi. Lambat laun satu per satu pelaku IKM alas kaki tersebut menghentikan dan menutup usahanya (Ernanto, 2003).
Pernyataan lain menjelaskan bahwa ada berbagai kendala yang menyebabkan turunnya produksi sepatu di Cibaduyut. Kendala tersebut diantaranya masalah bahan baku, sol yang tidak standar dari produksi pabrikan. Pemasalahan bahan
baku adalah kulit lokal yang terus mengalami kenaikan harga dan kulit impor yang harga kurang terjangkau, sehingga para pelaku IKM alas kaki menseleksi bahan baku tersebut sebatas kemampuan daya belinya. Kendala lainnya mengenai bahan baku tersebut adalah bahan baku kulit impor yang masuk ke pelabuhan oleh banyak yang dikarantina oleh pihak bea cukai karena dikhawatirkan ada bibit penyakit mulut dan kuku (koswara dalam DPR-RI, 2007).
Hal senada turut diungkapkan pelaku usaha alas kaki di Cibaduyut, bahan baku sepatu yang biasa dijual eceran di beberapa toko menjadi langka dan perajin menjadi kesulitan mendapatkan bahan baku tersebut. Sebenarnya para pelaku tersebut dapat melakukan pemesanan langsung ke pabrik tapi harus dalam jumlah yang banyak, sedangkan kebutuhan masing-masing pelaku IKM alas kaki sedikit. Selain bahan baku yang sulit, harga bahan baku alas kaki juga mengalami kenaikan, seperti kulit kualitas menengah dari harga Rp 11.000,00 per feet menjadi Rp 12.500,00 per feet. Kemudian untuk kulit berkualitas bagus dari harga Rp 14.000,00 per feet menjadi Rp 16.500,00 per feet. Diperkirakan bahan baku tersebut akan naik jika TDL mengalami kenaikan (Gun Gun dalam Akhirudin, 2006).
Berdasarkan pendapat para informan, ada beberapa solusi yang dapat diterapkan untuk mengatasi masalah bahan baku antara lain yaitu memfasilitasi perluasan jaringan supplier bahan baku kulit maupun imitasi khususnya yang berlokasi di Jawa Barat terutama Bandung. Hal ini dilakukan agar bahan baku yang dibutuhkan dapat diperoleh dengan mudah dan murah oleh para pelaku IKM alas kaki di Cibaduyut.
Pusat inovasi dalam hal ini dapat bekerjasama dengan cluster alas kaki yag sedang dikembangkan pemerintah saat ini sehingga membantu mempermudah proses tersebut. Selain solusi tersebut, pembelian bahan baku secara kolektif juga dapat dilakukan oleh para pelaku industri tersebut dalam melakukan pembelian ke