• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II. LANDASAN TEORI

A. Kajian Kepustakaan Tentang Erupsi Merapi 2010

Secara etimologis, bencana adalah gangguan yang menyebabkan dan menimbulkan kesusakan, kerugian, penderitaan, malapetaka, kecelakaan dan marabahaya. Kata bencana dalam bahasa Inggris sepadan dengan kata

disaster identik dengan sesuatu dan situasi yang negatif.Disaster berasal dari

Bahasa Yunani, disatro, dis berarti jelek dan astro yang berarti peristiwa jatuhnya bintang-bintang ke bumi (BAPPENAS & BNPB, 2011).

Dalam Undang-Undang No 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana, bencana didefinisikan sebagai peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan, baik oleh faktor alam atau faktor non-alam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis (BAPPENAS & BNPB, 2011).

Dampak umum bencana baik alam dan non-alam dari bencana meliputi kehilangan jiwa, luka-luka, kerusakan infrastruktur, kerusakan kehidupan dan hasil panen, gangguan produksi, gangguan kehidupan sehari-hari, kehilangan keluarga, gangguan dalam pelayanan umum, kerusakan infrastruktur secara nasional dan gangguan dalam sistem pemerintahan,

penurunan ekonomi nasional, dampak sosiologis dan psikologis setelah bencana terjadi.

Pada penelitian ini, penulis akan memfokuskan diri pada bencana alam yaitu: Erupsi Merapi 2010. Definisi bencana alam dalam penelitian ini adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau serangkaian peristiwa yang disebabkan oleh alam antara lain berupa gempa bumi, tsunami, gunung meletus, banjir, kekeringan, angin topan, dan tanah longsor (BAPPENAS & BNPB, 2011).

Gunung Merapi merupakan bagian dari rangkaian 129 gunung berapi aktif dari ring of fire yang memanjang dari kepulauan Sumatra, Jawa, hingga Indonesia bagian timur dan memiliki ekosistem yang unik. Sebagai suatu kawasan yang memiliki keunikan ekosistem maka kawasan Gunung Merapi ditunjuk menjadi Taman Nasional pada tahun 2004 melalui Keputusan Menteri Kehutanan SK Nomor 134/Menhut-II/2004 tanggal 04 Mei 2004.

Selain itu, Gunung Merapi adalah salah satu gunung teraktif di dunia sehingga banyak peneliti gunung berapi dari berbagai Negara menjadikan Gunung Merapi sebagai obyek penelitian mereka. Gunung Merapi termasuk dalam tipe strato, dengan ketinggian 2.980 meter di atas permukaan laut. Secara geografis terletak pada posisi 7° 32.5¹ Lintang Selatan dan 110° 26.5¹ Bujur Timur. Secara administratif Gunung Merapi terletak di perbatasan antara Propinsi Jawa Tengah dan Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Propinsi Jawa Tengah terbagi atas tiga kabupaten yaitu: Kabupaten Boyolali di sisi utara, Kabupaten Klaten di sisi Timur, dan Kabupaten Magelang di sisi

Barat. Sedangkan untuk Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta yaitu: Kabupaten Sleman di sisi Selatan (BNPB dan BAPPENAS, 2011).

Pada tanggal 20 September 2010, status kegiatan Gunung Merapi ditingkatkan dari Normal menjadi Waspada, dan selanjutnya ditingkatkan kembali menjadi Siaga (Level III) pada 21 Oktober 2010. Sejak 25 Oktober 2010, pukul 06.00 WIB, status kegiatan Gunung Merapi ditingkatkan dari

―Siaga ― (Level III) menjadi ―Awas‖ (Level IV), dan pada 26 Oktober 2010

Gunung Merapi mengalami erupsi pertama dan berlanjut dengan erupsi lanjutan sampai awal November 2010 (BNPB dan BAPPENAS, 2011).

Erupsi Merapi 2010 ini merupakan bencana terbesar dibandingkan dengan bencana erupsi pada tahun 1994, 1997, 1998, 2001, dan 2006. Berdasarkan data pusdalops BNPB pada tanggal 12 Desember 2010 data korban erupsi Merapi yang meninggal dunia sebanyak 386 jiwa. Selain itu, bencana tersebut mengakibatkan 15.366 jiwa mengungsi di titik-titik pengungsian yang tersebar seluruh wilayah di D.I Yogyakarta dan Jawa Tengah bahkan ada yang sampai mengungsi sampai luar kota (BNPB dan BAPPENAS, 2011).

Tabel 1.

Data Korban Jiwa dan Pengungsi Erupsi Gunung Merapi 2010 di Provinsi D.I. Yogyakarta dan Jawa Tengah

LOKASI MENINGGAL PENGUNGSI1

Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta 277 12.839

Provinsi Jawa Tengah 109 2.527

Total DIY dan Jawa Tengah 386 15.366

1

Data yang tercatat di pusdalops akan tetapi pada kenyataan dilapangan ada kurang lebih 320.090 jiwa pengungsi.

Gambar 1.

Grafik Fluktuasi Total Pengungsi Bencana Gunung Merapi Sumber: BAPPENAS & BNPB, 2011

Selain menimbulkan korban jiwa dan luka-luka, bencana erupsi ini juga membawa dampak kerusakan dan kerugian yang terjadi di 4 (empat) kabupaten disekitarnya yaitu: Kabupaten Magelang, Kabupaten Klaten dan Kabupaten Boyolali di Provinsi Jawa Tengah dan Kabupaten Sleman di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.

Gambar 2.

Sebaran Dampak Bencana Erupsi Merapi 2010

Sumber: BAPPENAS & BNPB, 2011

Berdasarkan data dari tim analisa gabungan BNPB, BAPPENAS, Pemda DIY dan Pemda Jawa Tengah pada bulan Januari 2011 teridentifikasi bahwa kerusakan rumah mencapai 2.856 unit.

Tabel 2.

Jumlah Rumah Rusak Berat Akibat Erupsi Gunung Merapi 2010

Provinsi Kabupaten Jumlah

Jawa Tengah Klaten 165

Magelang 9

Boyolali -

Total Jawa Tengah 174

D. I. Yogyakarta Sleman 2.682

TOTAL 2.856

Sumber: BAPPENAS & BNPB, 2011

Dari data di atas, kita mengetahui bersama bahwa Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta terkena dampak terparah pada erupsi Merapi 2010. Dampak kerusakan terparah tersebut berada di Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman dimana sebagian besar dari total keseluruhan korban jiwa 227 jiwa di Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta berasal dari Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman. Selain merenggut ratusan korban jiwa, di Kecamatan Cangkringan ada 2.856 unit rumah rusak parah dan ribuan rumah yang lain rusak sedang hingga ringan serta ribuan hektar lahan pertanian dan pemukiman terkena keganasan awan panas. Berdasarkan data yang diperoleh tersebut maka dalam penelitian ini, penulis memilih Kecamatan Cangkringan sebagai tempat penelitian dan secara spesifik memilih daerah Kinahrejo dusun dimana Mbah Maridjan ―Juru Kunci Merapi‖ hidup dan meninggal

Dampak dari erupsi Merapi 2010 sangatlah besar. Erupsi Merapi 2010 mengakibatkan kerusakan dan kerugian fisik maupun non fisik. Kerusakan dan kerugian fisik antara lain: rumah, ladang, pemukiman dan banyaknya korban jiwa. Kerusakan dan kerugian non fisik antara lain: rasa kehilangan, menderita yang luar bisa dan perubahan pola hidup para penyintas. Lebih dari itu semua, dampak bencana alam (disaster) akan mengakibatkan perasaan tidak berdaya dan terancam yang luar biasa pada penyintas, akhirnya

memunculkan perasaan takut yang luar biasa (Sulastri, 2007) atau ‗stres pascatrauma‘ yang dalam istilah klinis disebut sebagai Posttraumatic Stress

Disorder yang disingkat PTSD (Parkinson dalam Dewi, 2010). Apabila hal

tersebut tidak ditangani dengan baik maka akan memunculkan gangguan psikologis pada penyintas, keadaan tersebut pada umumnya terjadi disetiap bencana alam.

Akan tetapi, setiap individu mengalami reaksi yang berbeda-beda dalam merespon dampak bencana. Faktor-faktornya adalah: (1) tingkat intensitas kehilangan, semakin banyak kehilangan, akan menimbulkan reaksi yang lebih hebat, (2) kemampuan individu secara umum untuk menghadapi situasi emosional, dan (3) peristiwa lain yang menimbulkan stres mengikuti peristiwa traumatik yang baru dialaminya (American Psychiatri Association [APA], 2000).

Data menunjukkan bahwa ada peningkatan prosentase yang cukup signifikan dari penyintas yang mengalami ganguan psikologis pasca bencana erupsi Merapi 2010.Akan tetapi, sebagian besar penyintas erupsi Merapi 2010

tetap mampu bangkit dan berubah menjadi lebih baik (resiliensi) pasca bencana alam itu.

Dokumen terkait