BAB II. LANDASAN TEORI
B. Resiliensi dalam Konteks Erupsi Merapi 2010
Ada banyak definisi mengenai resiliensi, banyak ahli berpendapat bahwa resiliensi adalah kemampuan individu untuk menghadapi, mengatasi, memperkuat diri, dan tetap melakukan perubahan setelah peristiwa sulit dialami (Grotberg, 1995). Resiliensi merupakan kemampuan individu untuk menghadapi penderitaan. Persamaan kata resiliensi dalam bahasa Indonesia adalah daya lentur. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia dapat diartiakan sebagai tidak mudah patah dan dapat dengan mudah menyesuaikan diri dengan keadaan. ―Daya Lentur‖ sepertinya lebih pas dengan definisi resiliensi
di atas, yaitu kemampuan untuk bangkit dan berubah menjadi lebih baik setelah melewati kondisi yang sulit. Lebih dari itu, resiliensi digunakan untuk menyatakan kapabilitas individual untuk bertahan atau survive dan mampu beradaptasi dalam keadaan stres dan mengalami penderitaan pada peristiwa traumatis.
Resiliensi adalah seperangkat pikiran yang memungkinkan untuk mencari pengalaman baru dan memandang kehidupan sebagai sebuah kemajuan. Resiliensi adalah kapasitas untuk merespon secara sehat dan produktif ketika menghadapi kesulitan atau trauma serta bisa menyesuaikan diri dengan keadaan.
Karakter individu yang memiliki resiliensi seperti terdapat dalam beberapa poin berikut ini (www.APAHelpCenter.org/resilience):
a. Memiliki sikap optimis yaitu terdapat harapan akan masa depan;
b. Individu memiliki keyakinan diri bahwa mereka memiliki kemampuan untuk mengatur secara efektif atau menyelesaikan tugas secara mandiri; c. Individu juga percaya bahwa mereka tetap memiliki kendali yang baik
terhadap lingkungan, terutama pasca kejadian trauma;
d. Individu memiliki pemahaman yang baik bahwa setiap pengalaman hidup memiliki alasan tertentu, dan mereka masih memiliki sumber personal dan sosial untuk memenuhi tuntutan hidup tersebut;
Serta individu yang bersangkutan biasanya aktif, percaya bahwa mereka memiliki kekuatan untuk menentukan jalan hidup mereka, terutama pasca kejadian traumatis. Menurut Alexander (dalam Dewi, 2010), setelah melewati peristiwa traumatis, hidup seseorang tidak akan pernah sama lagi. Dengan kata lain, individu yang resiliensinya baik akan bisa menyesuaikan diri dengan keadaan. Menyesuaikan diri dengan keadaan adalah juga menyesuaikan diri tanpa membuatnya merasa terganggu kembali terhadap peristiwa traumatis yang menjadi bagian dari dirinya.
Reaksi psikologis individu terhadap peristiwa traumatis bervariasi dan tergantung pada banyak faktor seperti karakteristik individu, sistem dukung yang ada dan pengalaman traumatis yang langsung dialami atau tidak pada peristiwa traumatis tersebut (Webb dalam Dewi, 2010). Hal tersebut juga sangat berpengaruh pada resiliensi seseorang dalam menghadapi peristiwa
traumatis. Narasi reseliensi pada peristiwa erupsi Merapi 2010 silam terealisasi dengan terbuktinya masyarakat korban erupsi bangkit dari keterpurukannya.
Peristiwa traumatis pada umumnya berpotensi menimbulkan stres. Dalam fase yang lebih akut, stres ini akan memunculkan gangguan stres
pascatrauma atau PTSD. Tanda-tanda PDSD meliputi ketakutan,
ketidakberdayaan, dan rasa dihantui. Lebih lanjut, gejala gangguan ini antara lain: (a). mengalami kembali peristiwa traumatis, misalnya melalui mimpi buruk atau terbayang kembali peristiwa tersebut; (b). menghindari stimulus yang berkaitan dengan peristiwa traumatis, tidak dapat merespons, atau berkurangnya responsivitas terhadap lingkungan sekitar; dan (c). meningkatnya ketergugahan, seperti sulit tidur atau tidur tidak nyenyak, mudah jengkel atau marah, kesulitan berkonsentrasi, dan menampilkan respons keterkejutan (APA, 2000).
Pada penelitian ini, penyintas wanita dikatakan bebas dari PTSD ketika terbebas dari gejala-gejala PTSD. Deskripsi gejala-gejala PTSD berikut ini diadaptasi dari DSM IV (APA, 2000):
a. Seseorang telah mengalami peristiwa traumatik dimana kedua hal berikut ini muncul:
Penderita atau korban mengalami, menyaksikan atau dikonforontasi dengan sebuah peristiwa atau peristiwa-peristiwa yang melibatkan pengalaman kematian atau ancaman kematian, cedera yang serius, atau ancaman terhadap integritas fisiknya atau orang lain
Respons penderita atau korban terhadap peristiwa tersebut melibatkan ketakutan yang intens, perasaan tidak berdaya, perasaan horror, atau persepsi anda terhadap peristiwa yang menyebabkan emosi-emosi tersebut
b. Seseorang mengalami kembali peristiwa dengan satu atau beberapa cara berikut ini:
Penderita atau korban mengalami rekoleksi peristiwa yang mengganggu, intrusif dan sering muncul yang meliputi bayangan, pikiran dan persepsi
Penderita atau korban mengalami mimpi yang mengganggu dan berulang atas peristiwa yang terjadi
Penderita atau korban bertindak atau merasakan seakan-akan peristiwa traumatis tersebut terjadi berulang ulang dan penderita atau korban mungkin mengalami perasaan dimana ia mengalami kembali peristiwa tersebut melalui halusinasi, ilusi dan kilas balik aktif
Penderita atau korban mengalami gangguan psikologis atau reaksi tubuh yang intens ketika terekspos pada tanda-tanda eksternal maupun internal yang menandakan atau menyerupai peristiwa traumatis tersebut (misalnya: penglihatan, bau, suara, tanggal), hal-hal ini disebut triggers (Pemicu)
c. Seseorang tetap menghindari hal-hal atau peristiwa (pemicu) yang diasosiasikan dengan trauma dan mebekukan respon dengan tiga atau lebih cara berikut ini:
Penderita atau korban melakukan berbagai macam cara untuk menghindari munculnya pikiran, perasaan atau percakapan yang terkait dengan trauma tersebut atau menghindari aktivitas, tempat, atau orang-orang yang dapat menyebabkan anda mengingat trauma tersebut
Penderita atau korban tidak dapat menngingat aspek penting yang terjadi pada peristiwa tersebut
Minat dan partisipasi dalam aktivitas menjadi jauh berkurang Penderita atau korban merasa terasing dari orang lain
Kemampuan penderita atau korban untuk merasakan emosi dan jumlah emosi yang dirasakan menjadi terbatas (misalnya: ia tidak dapat merasakan perasaan mencintai)
Penderita atau korban mengalami perasaan dimana pandangan terhadap masa depan menjadi terbatas. Penderita atau korban tidak dapat melihat jauh ke masa depan (misalnya: ia tidak memiliki pengharapan untuk memiliki karir, pernikahan, anak-anak, atau usia yang normal)
d. Seseorang juga memiliki gejala persisten berupa rangasangan fisik yang meningkat yang tidak ada muncul sebelum terjadinya trauma seperti yang diindikasikan oleh dua atau lebih hal berikut ini:
Sulit tidur atau sulit untuk tetap tidur
Mudah tersinggung atau kemarahan yang meluap Sulit berkonsentrasi
Waspada yang berlebihan
e. Gejala tersebut berlangsung lebih dari sebulan
f. Karena gejala ini, penderita atau korban mengalami stres dan gangguan dan fungsi sosial, kerja dan area yang penting lainnya.
PTSD dianggap akut jika gejala-gejala tersebut telah berlangsung kurang dari tiga bulan dan dianggap kronis jika gejala telah berlangsung selama tiga bulan atau lebih. PTSD dianggap sebagai serangan yang tertunda jika gejala mulai muncul setidaknya setelah enam bulan setelah terjadinya peristiwa traumatis tersebut. Jika seseorang hanya memiliki beberapa gejala-gejala yang tersebut di atas maka ia baru bisa disebut sebagai penderita PTSD parsial.
Dalam sebuah jurnal psikologi dikatakan bahwa perbedaan dari orang yang hanya mengalami tekanan untuk sementara dalam bagian kehidupannya dengan orang yang mengalami PTSD, secara mendasar dan sederhana dikatakan bahwa orang tidak mengalami PTSD apabila orang tersebut mampu
untuk memulai mengelola hidupnya kembali ―berdampingan‖ dengan trauma
yang mereka alami. Jadi, pada orang yang mengalami PTSD terdapat proses mengumpulkan kembali memori (recollection) yang mengganggu secara terus menerus (persistent) pasca terjadinya peristiwa traumatis. Persistent
recollection terhadap kejadian-kejadian traumatis yang dialami dan dilakukan
gangguan secara biologis dan psikologis, yang merupakan bagian dari PTSD (Sulastri, 2007).
Komponen lain yang membuat sebuah peristiwa traumatis dapat menjadi gangguan adalah penilaian subyektif dari penyintas terhadap seberapa parah mereka merasa tertekan, terancam atau merasa tidak berdaya oleh adanya pengalaman tersebut. Jadi, meskipun fakta adanya pengalaman yang tidak biasa (extraordinary atau unusual) bisa disebut sebagai inti dari munculnya PTSD, namun arti (meaning) yang dilekatkan penyintas terhadap peristiwa tersebut juga bisa menjadi bagian paling mendasar dari gangguan yang dialami (Herman, 1992). Proses interpretasi seseorang terhadap arti dari peristiwa traumatis biasanya akan terus terjadi terhadap trauma yang pernah dialami, walaupun peristiwa itu sendiri telah berhenti.
Gejala khas dari PTSD dimulai dari fase, di mana bayangan-bayangan kejadian traumatis seperti terulang kembali (flashback) atau bayangan kejadian tersebut muncul kembali dalam mimpi, terjadi dengan latar belakang
yang menetap berupa kondisi perasaan ―beku‖ (daze) dan penumpukan emosi
(emotional numbness), menjauhi orang lain, tidak responsive terhadap
lingkungan, tidak mampu merasakan perasaan senang (anhedonia), serta menghindari aktivitas dan situasi yang berkaitan dengan traumanya
(avoidance). Selain itu, juga muncul ketakutan dan penghindaran dari hal-hal
yang meningkatkan kembali pada trauma yang pernah dialami.Walaupun jarang, kadang-kadang terjadi bisa terjadi reaksi yang dramatis
dimunculkan oleh stimulus yang mendadak mengingatkannya kembali pada trauma yang pernah dialaminya serta memunculkan reaksi asli terhadap trauma itu. Hyperarousal seperti ini pada dasarnya jarang terjadi, namun simptom hyperarousal menjadi salah satu simptom kuat adanya gangguan PTSD. Munculnya PTSD harus didahului dengan dengan adanya traumatis, dengan masa laten (belum menampakkan secara nyata simtom-simtom PTSD, namun sudah mulai menjangkiti) yang berkisar antara beberapa minggu hingga beberapa bulan, jarang melampaui 6 bulan.
PTSD tidak terbatas pada salah satu jenis peristiwa traumatis tak terkecuali peristiwa traumatis yang diakibatkan karena faktor alam (disaster).
Disaster dikategorikan sebagai penyebab tekanan yang luar biasa.Tekanan
luar biasa yang dimaksud adalah peristiwa traumatis yang menyebabkan adanya ancaman serius terhadap hidup atau integritas diri (tubuh), atau pengalaman berhadapan langsung dengan kematian dan kehilangan. Dalam beberapa penelitian menunjukkan bahwa kondisi kehilangan secara signifikan terkait dengan stres pascatrauma (Gist & Lubin, 1999). Pengalaman-pengalaman yang mengagetkan dan menyakitkan dimana Pengalaman-pengalaman itu melebihi situasi stres yang dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari dalam kondisi wajar maka itu bisa dikatakan sebagai pengalaman traumatik (Sidabutar dkk., 2003). Terkadang digunakan istilah stres pascabencana untuk merujuk pada stres pascatrauma yang disebabkan oleh bencana.
Pada peristiwa erupsi Merapi 2010 yang lalu ada cukup banyak penyintas mengalami PTSD, hal itu mungkin terjadi karena mereka melihat
sendiri kematian yang tidak wajar, kehilangan orang yang mereka cintai, dan kehilangan semua harta bendanya. Situasi traumatis seperti itu akan memblokir sistem normal sehingga membuat orang tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri, dan lingkungannya serta arti (Williams & Poijula, 2002).
Dalam pengalaman penulis, gejala-gejala PTSD pada penyintas pada erupsi Merapi 2010 silam nampak secara kuat. Respons keterkejutan cenderung bertahan lebih lama dibandingkan gejala lainnya. Penyintas biasanya menampilakan respons berlari, wajah pucat atau keterkejutan yang lainnya apabila mendengar atau melihat stimulus yang mirip atau ada hubungannya dengan peristiwa traumatis, misalnya: berlari bila mendengar suara gemuruh atau pucat ketika melihat api.
Pada kasus erupsi Merapi, wanita memiliki kemampuan resiliensi yang lebih baik daripada laki-laki. Oleh karena itu, penulis mengambil wanita sebagai subyek dalam penelitian ini.Wanita memiliki karakteristik personal yang menonjol seperti kreativitas, dan kompetensi sosial (Kelly dalam Handayani & Novianto, 2007).Wanita juga memiliki kemampuan berempati, kemampuan untuk melihat makna dari suatu kejadian, sikap realistis melihat situasi diri dan lingkungannya sebagai ciri dari individu-individu yang lentur.
Wanita cenderung memiliki kemampuan untuk membangun hubungan
positif dengan orang lain atau ―keterampilan sosial‖. Dalam kasus ini, penulis
menemukan bahwa ketika bencana terjadi para ibu masih bisa memikirkan dan mengurusi anak serta anggota keluarga yang lain. Wanita memiliki kemampuan untuk mencari berbagai alternatif dalam berbagai masalah atau
―keterampilan memecahkan masalah‖, misalnya: ketika para laki-laki masih bingung karena lahan pertanian mereka hilang atau belum bisa ditanami, para wanita mencari alternatif untuk mendapatkan rejeki dengan membuka warung atau menjual kebutuhan para wisatawan disekitar rumah mereka yang hancur. Wanita mempunyai kemampuan untuk percaya pada kemampuan diri dan
mandiri atau ―kemandirian‖. Para wanita yang kehilangan suami atau pasangan hidupnya karena menjadi korban keganasan erupsi Merapi tetap mampu mengurusi anak dengan melakukan aktivitas ekonomi, misalnya: memecah batu, menjadi buruh pada proyek-proyek, bertani, berdagang dan pemandu wisata.