BAB II
KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA PIKIR DAN HIPOTESIS
A. Kajian Pustaka
1. Penelitian yang Relevan
Untuk mendukung penelitian ini, berikut ini disajikan beberapa penelitian yang relevan dengan penelitian yang akan dilakukan. Penelitian tersebut antara lain:
a. Penelitian yang dilakukan oleh Endah Nurhayati (2013) dalam penelitian yang berjudul Keefektifan Model Pembelajaran Webbed dalam Menulis Karangan pada Siswa Kelas V SD Negeri 26 Mojokerto. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode penelitian eksperimen. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah bahwa data yang dianalisis dengan menggunakan uji-t pada taraf signifikan 95% (ά=0,05). Jadi, dapat disimpulkan terdapat perbedaan yang signifikan antara keterampilan menulis karangan siswa yang mengikuti pembelajaran menggunakan model webbed dengan siswa yang mengikuti pembelajaran secara konvensional. Adapun perbedaan penelitian Endah dengan Penelitian ini dapat dilihat dari model pembelajaran yang digunakan, jenis menulis yang dipilih dan jenjang pendidikannya. Endah Nurhayati menggunakan Model Pembelajaran Webbed dalam Menulis Karangan pada Siswa Kelas V SD Negeri 26 Mojokerto. Sementara penulis menggunakan model pembelajaran webbed dalam penelitian menulis karangan sederhana yang dilakukan pada kelas V SD Negeri 87 Manipi.
b. Penelitian yang dilakukan oleh Riki Harkemri (2015) dalam penelitian yang berjudul Peningkatan Keterampilan Menulis Karangan melalui Pembelajaran Model Webbed pada Siswa Kelas VII SMPN 30 Bulukumba. Dari penelitian ini yang telah dilakukan oleh Riki Harkemri menyimpulkan bahwa keterampilan menulis karangan siswa mengalami peningkatan setelah diterapkan pendekatan pembelajaran webbed. Berdasarkan hasil pengamatan aktivitas pembelajaran, model pembelajaran webbed meningkatkan keterlibatan siswa dalam pembelajaran sehingga terjadi peningkatan hasil dalam keterampilan menulis karangan yang dilakukan pada penelitian ini. Adapun perbedaan penelitian Riki Harkemri dengan penelitian ini dapat dilihat dari pendekatan yang digunakan, jenis menulis yang dipilih dan jenjang kelas pendidikannya. Sementara penulis menggunakan model pembelajaran webbed dalam penelitian menulis karangan sederhana yang dilakukan pada kelas V SD Negeri 87 Manipi. Kemudian metodologi yang digunakan oleh Riki Harkemri yaitu penelitian tindakan kelas atau Classromm Action Research, sedangkan metodologi yang akan penulis lakukan adalah ekperimen kuantitatif yaitu penelitian ekperimen.
c. Penelitian Sarifah Aisyah (2016) dalam penelitian yang berjudul Pengaruh Model Pembelajaran Webbing dalam Keterampilan Menulis Puisi Siswa Kelas VIII SMPN 27 Makassar. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah eksperimen kuantitatif. Penelitian ini dilakukan terhadap dua kelas yaitu kelas eksperimen dan kelas kontrol. Hasil penelitian ini menyatakan terdapat pengaruh model pembelajaran webbing terhadap keterampilan menulis puisi siswa kelas VIII SMPN 27 Makassar. Artinya
pembelajaran dengan model webbing lebih baik dalam meningkatkan kemampuan menulis puisi siswa. Adapun perbedaan penelitian Sarifah Aisyah dengan penelitian ini dapat dilihat dari jenis menulis yang dipilih dan jenjang kelas pendidikannya. Sarifah Aisyah menggunakan model pembelajaran webbing dalam penelitian keterampilan menulis puisi pada siswa kelas VIII SMPN 27 Makassar. Sementara penulis menggunakan model pembelajaran webbed dalam penelitian menulis karangan sederhana yang dilakukan pada kelas V SD Negeri 87 Manipi.
2. Teori Belajar dan Pembelajaran a. Belajar dan Pembelajaran
Belajar menurut Purwanto (2010: 84) adalah sesuatu yang berhubungan dengan perubahan tingkah laku seseorang terhadap sesuatu situasi tertentu yang disebabkan oleh pengalamannya yang berulang-ulang dalam situasi itu, dimana perubahan tingkah laku itu dapat dijelaskan atau dasar kecenderungan respon pembawaan, kematangan, atau keadaan-keadaan sesaat seseorang (misalnya kelelahan, pengaruh obat dan sebagainya). Perubahan dalam kepribadian manusia dapat terlihat dari peningkatan pengetahuan, sikap, keterampilan, daya berpikir, dan kemampuan lainnya.
Oemar Hamalik (2014: 54) menjelaskan bahwa belajar adalah merupakan suatu proses, suatu kegiatan dan bukan suatu hasil atau tujuan. Belajar bukan hanya mengingat, akan tetapi lebih luas daripada itu, yakni mengalami. Hasil belajar bukan suatu penguasaan hasil latihan, melainkan perubahan kelakuan.
Purwanto (2010: 85) menjelaskan definisi-definisi tentang belajar terdapat elemen yang penting yang mencirikan pengertian tentang belajar yaitu:
1) Belajar merupakan suatu perubahan dalam tingkah laku, dimana perubahan itu dapat mengarah kepada tingkah laku yang lebih baik, tetapi juga ada kemungkinan mengarah kepada tingkah laku yang lebih buruk. 2) Belajar merupakan suatu perubahan yang terjadi melalui latihan atau
pengalaman, dalam arti perubahan-perubahan yang disebabkan oleh pertumbuhan atau kematangan tidak dianggap sebagai hasil belajar, seperti perubahan-perubahan yang terjadi pada diri seorang bayi.
3) Untuk dapat disebut belajar, maka perubahan itu harus mantap, harus merupakan akhir daripada suatu periode waktu yang cukup panjang. 4) Tingkah laku yang mengalami perubahan karena belajar menyangkut
berbagai aspek kepribadian, baik fisik maupun psikis, seperti: perubahan dalam pengertian, pemecahan masalah.
5) Salah/ berpikir, keterampilan, kecakapan, kebiasaan , ataupun sikap. Wasty Soemanto (2006: 104) mendefinisikan belajar adalah proses di mana tingkah laku (dalam artian luas) ditimbulkan atau diubah melalui praktek atau latihan. Dengan proses menginterpretasikan praktek dan latihan yang baru dimiliki siswa saat belajar maka dapat membuat suatu perubahan pengetahuan dari yang tidak tahu menjadi tahu. Pembelajaran Bahasa Indonesia merupakan suatu upaya untuk melatih siswa berkomunikasi dengan baik. Oleh karena itu, pembelajaran Bahasa Indonesia harus diterapkan dengan baik .
Berdasarkan pemaparan mengenai pengertian belajar, dapat disimpulkan bahwa belajar adalah suatu proses perubahan tingkah laku individu untuk mencapai tujuan peningkatan diri, baik dalam pengetahuan, sikap, keterampilan, perilaku, sebagai hasil dari pengalaman sebelumnya dalam berinteraksi dengan lingkungannya melalui sebuah proses.
Peristiwa belajar yang disertai dengan proses pembelajaran akan lebih terarah dan sistematik daripada belajar yang hanya semata-mata dari pengalaman dalam kehidupan sosial masyarakat. Proses pembelajaran merupakan suatu proses pendidikan dalam lingkup persekolahan, sehingga dapat diartikan dari proses pembelajaran adalah proses sosialisasi dari interaksi individu siswa dengan lingkungan sekolah, seperti guru, sumber/fasilitas, dan teman sesama siswa.
Tujuan pembelajaran bukanlah penguasaan materi pelajaran, akan tetapi proses untuk mengubah tingkah laku siswa sesuai dengan tujuan yang akan dicapai. Artinya penguasaan materi pelajaran bukanlah akhir dari proses pengajaran, akan tetapi hanya sebagai tujuan antara untuk pembentukan tingkah laku yang lebih luas. Diharapkan dari tujuan ini siswa dapat membentuk pola perilaku siswa itu sendiri, atau sejauh mana siswa dapat menguasai akan suatu materi pelajaran.
Dalam proses pembelajaran Wina Sanjaya (2008: 219) mengklasifikasikan mengajar berpikir menjadi tiga, yaitu teaching of thinking adalah proses pembelajaran yang diarahkan pembentukan keterampilan mental tertentu, seperti misalnya keterampilan berpikir kritis, berpikir kreatif, dan lain sebagainya. Dengan demikian, jenis pembelajaran ini lebih menekankan kepada aspek tujuan pembelajaran. Teaching for thinking adalah proses pembelajaran yang diarahkan pada usaha menciptakan lingkungan belajar yang dapat mendorong terhadap pengembangan kognitif. Jenis pembelajaran ini lebih menitikberatkan kepada proses menciptakan situasi dan lingkungan tertentu, contohnya menciptakan suasana keterbukaan yang demokratis, menciptakan iklim yang menyenangkan sehingga memungkinkan siswa bisa berkembang secara optimal. Dan teaching about thinking adalah pembelajaran yang diarahkan pada upaya membantu agar
siswa lebih sadar terhadap proses berpikirnya. Jenis pembelajaran ini lebih menekankan kepada metedologi yang digunakan dalam proses pembelajaran.
Berdasarkan pengertian proses pembelajaran diatas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran merupakan proses adaptasi melalui sosialisasi individu siswa dengan lingkungan sekolah dengan tujuan pembelajaran merupakan proses yang amatlah penting untuk mengubah tingkah laku siswa sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai.
b. Pengertian Model Pembelajaran
Model pembelajaran menurut Trianto (2014: 51) adalah suatu perencanaan atau suatu pola yang digunakan sebagai pedoman dalam merencanakan pembelajaran di kelas atau pembelajaran dalam tutorial dan untuk menentukan perangkat-perangkat pembelajaran termasuk di dalamnya buku-buku, film, komputer, kurikulum, dan lain-lain.
Model pembelajaran yang tepat ditunjukkan kepada siswa agar mencapai tujuan belajar yang maksimal. Menurut Kemp di dalam buku Model-model Pembelajaran Mengembangkan Profesionalisme Guru yang ditulis oleh Rusman (2011: 132) mengatakan bahwa model pembelajaran adalah suatu kegiatan pembelajaran yang harus dikerjakan guru dan siswa agar tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif dan efisien. Model pembelajaran dapat dijadikan pola pilihan, artinya para guru boleh memilih model pembelajaran yang sesuai dan efisien untuk mencapai tujuan pendidikannya.
Dari pengertian model pembelajaran yang sudah dijelaskna dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran merupakan suatu kegiatan pembelajaran yang dilakukan oleh guru terhadap siswa agar kegiatan belajar mengajar lebih efektif.
c. Ciri-ciri Model Pembelajaran
Trianto (2014: 23) di dalam bukunya menuliskan bahwa istilah model pembelajaran mempunyai makna yang lebih luas dari pada strategi, metode atau prosedur. Namun demikian apabila mengkaji berbagai model pembelajaran, dapat dipahami bahwa strategi pembelajaran berbeda dengan model pembelajaran. Secara praktis, proses pembelajaran dengan perubahan paradigma adalah suatu proses yang dapat mengembangkan potensi-potensi siswa secara menyeluruh dan terpadu. Strategi pembelajaran lebih umum dari model pembelajaran dan sebaliknya model pembelajaran lebih khusus dari strategi pembelajaran. Berikut ini adalah ciri-ciri model pembelajaran :
1) Berdasarkan teori pendidikan dan teori belajar dari para ahli seperti Herbert Thelen berdasarkan teori Jhon Dewey berpendapat bahwa model pembelajaran dirancang untuk melatih partisipasi dalam kelompok secara demokratis.
2) Mempunyai misi atau tujuan pendidikan tertentu, misalnya model berpikir induktif dirancang untuk mengembangkan proses berpikir induktif.
3) Dapat dijadikan pedoman untuk perbaikan kegiatan belajar mengajar di kelas, misalnya model synetic dirancang untuk memperbaiki kreativitas dalam pembelajaran mengarang.
4) Memiliki bagian-bagian model yang dinamakan: (1) urutan langkah-langkah pembelajaran (syntax), (2) adanya prinsip-prinsip reaksi, (3) system social, dan (4) system pendukung. Keempat bagian tersebut merupakan pedoman praktis bila guru akan melaksanakan suatu model pembelajaran.
5) Memiliki dampak sebagai akibat terapan model pembelajaran. Dampak tersebut meliputi: (1) Dampak pembelajaran, yaitu hasil belajar yang dapat diukur, (2) Dampak pengiring, yaitu hasil belajar jangka panjang. Membuat persiapan mengajar dengan pedoman model pembelajaran yang dipilihnya.
3. Pembelajaran Terpadu
a. Pengertian Pembelajaran Terpadu
Konsep pembelajaran terpadu merupakan pada hakikatnya anak sebagai pembelajar dan proses yang melibatkan pengembangan berpikir dan belajar. Pelakasanaan pendekatan pemebelajaran terpadu ini bertolak dari suatu topik atau tema yang dipilih dan dikembangkan oleh guru bersama-sama dengan anak.
Oemar Hamalik (2014 :133) menjelaskan pembelajaran terpadu adalah suatu sistem pembelajaran yang bertitik tolak dari suatu masalah atau proyek, yang dipelajari atau dipecahkan oleh siswa baik secara individual maupun secara kelompok dengan metode yang bervariasi dan dengan bimbingan guru guna mengembangkan pribadi siswa secara utuh dan terintegrasi.
Jika dibandingkan dengan pendekatan konvensional, maka pembelajaran terpadu lebih menekankan pada keterlibatan anak dalam proses belajar atau mengarahkan anak secara aktif terlibat dalam proses pembelajaran dan pembuatan keputusan. Pendekatan pembelajaran terpadu ini lebih menekankan kepada konsep belajar sambil melakukan sesuatu (learning by doing).
b. Model-model Pembelajaran Terpadu
Ditinjau dari cara memadukan konsep, topik, dan unit tematisnya, menurut seorang ahli yang bernama Fogarty mengemukakan bahwa terdapat 10 (sepuluh) model pembelajaran terpadu, yakni: (1) fragmented, (2) connected, (3) nested, (4)
sequenced, (5) shared, (6) webbed, (7) treated, (8) integrated, (9) immersed, dan (10) network (Ridwanudin, 2015: 44). Adapun macamnya diantaranya:
Model fragmented ditandai oleh ciri pemanduan yang hanya pada satu mata pelajaran saja. Misalnya dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia, materi pembelajaran tentang menyimak, berbicara, membaca, dan menulis dapat dipadukan dalam materi pembelajaran keterampilan berbahasa. Kemudian model keterhubungan connected yaitu topik-topik dalam satu disiplin ilmu berhubungan satu sama lain. Kemudian ada model nested merupakan pemaduan berbagai bentuk penguasaan konsep keterampilan melalui sebuah kegiatan pembelajaran. Selanjutnya model sequenced adalah model pembelajaran yang memadukan dua bidang studi yang memiliki keterkaitan atau kesamaan topik. Jika model shared adalah model pembelajaran terpadu yang menggabungkan dua mata pelajaran atau lebih yang memiliki ketimpangan konsep sehingga dapat saling melengkapi. Kemudian model webbed adalah model pembelajaran terpadu yang bertolak dari pendekatan tematik. Dalam pengembangnnya dimulai dengan menentukan tema, kemudian dikembangkan menjadi subtema dengan memperlihatkan keterkaitan dengan sub-sub tema kemudian dikembangkan dengan aktivitas belajar siswa. Setelah itu ditentukan berbagai kegiatan pembelajaran yang dapat mendukung terhadap tema. Model treated adalah model pembelajaran yang memfokuskan pada metakurikulum yang berpotongan dengan inti materi. Selanjutnya model integrated adalah model pembelajaran terpadu yang memadukan sejumlah topik, konsep, keterampilan dan sikap dari berbagai mata pelejaran yang saling tumpang tindih. Topik, konsep, keterampilan dan sikap tersebut selanjutnya dikaitkan dalam satu tema yang mencakup berbagai mata pelajaran. Kemudian ada model immersed adalah model pembelajaran yang melibatkan beberapa mata pelajaran
dalam satu subjek. Keunggulan model ini adalah setiap siswa mempunyai ketertarikan mata pelajaran yang berbeda, dengan begitu siswa dapat saling bertukar pengalaman dan berbagi informasi. Secara tidak langsung siswa akan terpacu untuk menghubungkan mata pelajaran yang satu dengan yang lainnya. Dan yang terakhir adalah model networked adalah model pembelajaran terpadu yang mengandalkan kemungkinan pengubahan konsepsi, bentuk pemecahan masalah, maupun tuntutan bentuk keterampilan baru setelah siswa mengadakan studi lapangan dalam situasi, kondisi, maupun konteks yang berbeda. Proses belajar berlangsung secara terus-menerus dikarenakan adanya hubungan timbal balik antara pemahaman dan kenyataan yang dihadapi siswa.
c. Pengertian dan Karakteristik Model Pembelajaran Webbed
Pembelajaran terpadu model webbed menurut Trianto (2014: 41) adalah pembelajaran terpadu yang menggunakan pendekatan tematik. Model pembelajaran tematik ini bertolak dari suatu tema yang dipilih dan dikembangkan oleh guru bersama siswa.
Menurut Alfiah (2012: 2), ”Model webbed (jaring laba-laba) dalam pembelajaran bahasa lebih mengutamakan unsur keterpatuan yang akhirnya membentuk komunikasi yang efektif antara guru dengan siswa”. Dengan demikian maka model ini sangat baik diterapkan kepada siswa agar siswa mampu berkomunikasi secara efektif dan aktif dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar di sekolah. Model webbed merupakan bentuk kolom jaring laba-laba sebagai tempat jawaban pertanyaan, penuntun tentang imajinasi dari benda atau gambar. Dari sub-sub tema ini dikembangan aktivitas belajar yang harus dilakukan siswa.
Jadi model webbed atau jaring laba-laba terimplementasi melalui pendekatan tematik sebagai pemandu bahan dan kegiatan pembelajaran. Model webbed merupakan bentuk kolom jaring laba-laba sebagai tempat jawaban pertanyaan penuntun tentang imajinasi dari benda atau gambar. Karakteristik webbed yaitu:
1) Berpusat pada siswa
Pendekatan ini lebih banyak mendapatkan siswa sebagai subjek belajar, sedangkan guru lebih banyak berperan sebagai fasilitator yaitu dengan memberikan kemudahan-kemudahan kepada siswa untuk melakukan aktivitas belajar.
2) Memberi pengalaman langsung
Dengan pengalaman langsung, siswa dihadapkan pada sesuatu yang nyata atau konkret sebagai dasar untuk memahami hal-hal yang lebih abstrak. 3) Hasil pembelajaran sesuai dengan minat dan bakat siswa.
4) Menggunakan prinsip belajar sambil bermain yang menyenangkan. Kelebihan dari model jaring laba-laba atau webbed meliputi:
1) Menyeleksi tema sesuai dengan minat akan memotivasi siswa untuk belajar.
2) Memudahkan perencanaan,
3) Pendekatan tematik dapat memotivasi siswa, dan
4) Memberikan kemudahan bagi anak didik dalam melihat kegiatan dan ide-ide berbeda yang terkait.
Selain kelebihan yang dimiliki, model webbed juga memiliki beberapa kekurangan antara lain:
2) Cenderung untuk merumuskan tema yang dangkal, dan
3) Dalam pembelajaran, guru lebih memusatkan perhatian pada kegiatan daripada pengembangan konsep.
Adapun langkah-langkah dalam pembelajaran terpadu model jaring aba-laba (webbed) menurut Trianto (2014: 41) adalah sebagai berikut:
1) Menentukan tema
2) Mengembangkan sub-sub temanya
3) Mengembangkan aktivitas belajar yang harus dilakukan siswa
Keutamaan atau keberhasilan untuk membuat pembelajaran efektif dari model webbed adalah hal yang pertama ditinjau adalah dalam proses rancangan pembelajaran webbed ini harus disesuaikan dengan kondisi dan potensi siswa (bakat, minat, kebutuhan, dan kemampuan). Dengan adanya pembelajaran efektif model webbed, siswa akan memperoleh pengetahuan dan keterampilan secara utuh sehingga pembelajaran menjadi lebih bermakna. Bermakna disini artinya memahami konsep yang siswa pelajari.
Oleh karena itu, sebagai guru yang profesional ketika di dalam kelas agar tujuan pembelajaran tercapai dengan hasil yang baik, guru haruslah mempersiapkan perencanaan yang baik sesuai dengan kondisi peserta didik di dalam kelas.
4. Menulis
a. Definisi Menulis
Pada hakikatnya ada empat keterampilan berbahasa yang harus dikuasai dalam pembelajaran bahasa, yaitu keterampilan menyimak, keterampilan berbicara, keterampilan membaca dan keterampilan menulis. Keterampilan membaca dan menyimak biasanya disebut juga kemampuan yang bersifat aktif
reseptif. Kedua keterampilan tersebut memiliki kemampuan menerima, proses decoding, kemampuan untuk memahami bahasa atau pesan yang dituturkan oleh pihak lain baik yang dituturkan melalui sarana bunyi atau tulisan.
Lain halnya dengan keterampilan berbicara dan menulis yang disebut kemampuan yang bersifat aktif produktif. Aktif produktif merupakan kemampuan yang menuntut kegiatan enconding, kegiatan untuk menyampaikan bahasa kepada pihak lain, baik secara lisan maupun tertulis. Fokus dalam penelitian ini akan memaparkan keterampilan menulis yang merupakan bagian dari keterampilan yang bersifat aktif produktif.
Keterampilan menulis merupakan salah satu standar kompetensi mata pelajaran bahasa Indonesia. Tujuan dari keterampilan menulis berdasarkan Permendiknas No. 23 tahun 2006 adalah menggunakan berbagai jenis wacana tulis untuk mengungkapkan pikiran, perasaan, dan informasi dalam bentuk teks narasi, deskripsi, eksposisi, argumentasi, teks pidato, proposal, surat dinas, surat dagang, rangkuman, ringkasan, notulen, laporan, resensi, karya ilmiah, dan berbagai karya sastra berbentuk puisi, cerpen, drama, kritik dan esai.
Menulis itu pada dasarnya merupakan kegiatan merekam buah pikiran ke dalam bentuk tulisan dengan menggunakan sistem dan peralatan menulis. Usaha merekam bahasa lisan ke dalam bentuk tulis menghendaki adanya aturan atau system tertentu yang harus diikuti dan dipatuhi . Hal ini menyebabkan kepandaian menulis itu menjadi sebuah keterampilan. Sebuah keterampilan tentu tidak akan
diperoleh apabila tidak melalui proses pelatihan yang terus menerus dilakukan. Khaerudin Kurniawan (2012: 46) mengartikan menulis merupakan suatu
proses kreatif yang melibatkan cara berpikir divergen (menyebar) daripada konvergen (memusat). Menulis merupakan suatu proses kreatif, kendati demikian
wujud yang dihasilkan itu sangat bergantung pada kepiawaian, imajinasi, dan kreativitas penulis dalam mengungkapkan gagasan. Menulis merupakan kegiatan berkomunikasi mengungkapkan pikiran, perasaan, dan kehendak kepada orang lain secara tertulis. Menulis adalah kegiatan yang dilakukan seseorang untuk menghasilkan tulisan .
Menurut Nurudin (2010: 4) Menulis juga dapat didefinisikan sebagai suatu kegiatan untuk menciptakan suatu catatan atau informasi pada suatu media dengan menggunakan aksara. Menuliskan buah pikiran atau mengungkapkan perasaan adalah suatu keahlian. Keterampilan menulis tidak datang secara otomatis melainkan harus melalui proses latihan dan paraktik teratur.
Novi Resmini (2008: 230) mengatakan bahwa menulis merupakan kegiatan berkomunikasi. Seseorang menulis dengan mempertimbangkan audiens (pembaca) karena menulis tidak ditunjukkan diri sendiri. Untuk itu, dalam menulis perlu mempertimbangkan konteks tulisan mencakup apa, siapa, kapan, untuk tujuan apa, bentuk tulisan, media penyajian yang dipilih, dan sebagainya sehingga tulisan yang dihasilkan komunikatif. Menulis merupakan kebutuhan mutlak bagi setiap orang yang terlibat dalam kegiatan sosial, ekonomi, pendidikan, teknologi, dan lain-lain. Hal ini disebabkan semua aktivitas komunikasi saat ini tidak dapat melepaskan diri dari pemanfaatam sarana tulis. Melalui tulisan, seseorang dapat menceritakan ide, perasaan, peritiwa, dan benda kepada orang lain.
Oleh karena itu, kemampuan ini perlu diajarkan di sekolah dasar. Selain itu menulis juga merupakan salah satu dari keterampilan berbahasa yang harus dikuasai dengan baik oleh siswa. Sebagai keterampilan berbahasa, menulis merupakan kegiatan yang komplek karena penulis dituntut dapat menyusun dan
mengorganisasikan isi tulisannya serta menuangkannya dalam formulasi ragam bahasa tulis.
Jauharoti (2009: 17) berpendapat bahwa kemampuan menulis anak dapat diperoleh melalui proses panjang.Sebelum sampai pada tingkat menulis, siswa-siswi harus mulai tingkat awal, mulai dari pengenalan lambang-lambang bunyi hingga mengetahui cara menulis huruf, kata-kata, kalimat dan uraian yang lebih luas. kemampuan menulis merupakan salah satu jenis kemampuan berbahasa tulis yang bersifat produktif artinya kemampuan menulis ini merupakan kemampuan yang menghasilkan tulisan. Menulis bukanlah sesuatu yang asing bagi setiap manusia. Terutama bagi setiap orang yang menuntut ilmu di dunia pendidikan. Karena manusia yang menuntut ilmu sudah tidak asing dengan kegiatan menulis. Artikel, esai, laporan, resensi, karya sastra, buku, komik, dan cerita adalah contoh bentuk dan produk bahasa tulis yang akrab dengan kehidupan sehari-hari.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa menulis merupakan suatu kegiatan yang penting bagi siswa untuk melatih kecerdasan untuk berpikir dan menuangkan apa yang dipikirkannya. Menulis merupakan suatu kegiatan yang erat kaitannya dengan kegiatan manusia. Manusia selalu berpikir dan selalu ingin berkarya, dan ingin melakukan hal yang kreatif. Namun kegiatan menulis karangan ini perlu diasah secara maksimal.
b. Tujuan Menulis
Kegiatan menulis dilakukan berbagai tujuan. Tujuan merupakan langkah awal yang penting dalam menulis. Tujuan penulisan adalah gambaran atau perencanaan menyeluruh yang kan mengarahkan penulis dalam melakukan tindakan menyelesaikan tulisannya. Adapun maksud dan tujuan penulis (the writer’s intention) adalah responsi atau jawaban yang diharapkan oleh penulis
akan diperolehnya dari pembaca. Berdasarkan batasan ini, Tarigan (2008: 24) mengatakan bahwa:
1) Tulisan yang bertujuan untuk memberitahukan atau mengajar disebut wacana informatif (informative discourse).