• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI

A. Kajian Pustaka

1. Pembelajaran Matematika

Pelajaran matematika merupakan pelajaran yang sangat menarik

dan menyenangkan bila cara pembelajarannya menarik. Selama ini

pelajaran matematika cenderung diberikan secara text book dan monoton

sehingga siswa malas belajar karena membosankan (Auliya, 2009: 3).

Hal tersebut dibuktikan oleh Permatasari (2012: 152) dengan

melaksanakan pembelajaran matematika melalui pendekatan pemecahan

masalah. Hal tersebut terbukti dapat meningkatkan kemampuan

matematis siswa, terutama mengenai materi perkalian bilangan cacah di

kelas IV SD.

Selain itu, prinsip-prinsip praktis dalam matematika adalah belajar

matematika harus berarti, belajar matematika adalah proses

perkembangan, matematika adalah pengetahuan yang sangat terstruktur,

7

mengetahui apa yang akan dipelajari dalam kelas matematika,

komunikasi merupakan bagian yang tidak terpisahkan dengan belajar,

menggunakan berbagai bentuk atau model matematika, variasi

matematika membantu siswa belajar matematika, metakognisi

memengaruhi anak belajar, pemberian bantuan pada kemampuan yang

terbentuk atau retension (Runtukahu, 2014: 31).

Berdasarkan definisi di atas, peneliti menyimpulkan bahwa

pembelajaran matematika memerlukan sebuah pendekatan pembelajaran

yang terbukti dapat mengaktifkan siswa sehingga siswa menjadi tertarik

dan senang dalam belajar matematika. Ketika siswa telah tertarik dan

senang diharapkan dapat meningkatkan kemampuan matematis siswa

sehingga pembelajaran matematika tetap memiliki arti.

2. Penjumlahan dan Pengurangan

Penjumlahan dan pengurangan merupakan dua dari empat buah

operasi aritmatik(Vonderman, 2009: 75). Matematika memberikan

pengalaman seorang individu untuk dapat memecahkan masalah dalam

kehidupan sehari-harinya (Runtukahu, 2014: 191). Hal tersebut

ditegaskan kembali oleh Runtukahu (2014: 111) bahwa konsep

penjumlahan dan pengurangan harus dikembangkan dari pengalaman

nyata.

Berdasarkan definisi di atas, peneliti menyimpulkan bahwa

8

matematika yang digunakan individu dalam pengalaman nyata untuk

memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari.

3. Alat Peraga Montessori

Berbagai macam alat peraga Montessori dapat mengasah dan

melatih daya berpikir anak sehingga membantu anak dapat tumbuh

menjadi anak yang cerdas dan teliti (Sari, 2014: 80). Selain itu juga

membentuk anak memiliki kepribadian yang matang serta untuk melatih

konsentrasi anak (Sari, 2014: 78)

Menurut Magini (2013: 51) alat peraga Montessori disiapkan

dengan pengendali kesalahan yang ada dalam alat peraga tersebut. Jika

sang anak tidak melakukan latihan secara benar, dia akan gagal dalam

tugas tersebut. Hanya ketika sang anak menggunakan bahan tersebut

secara benar tugas tersebut dapat diselesaikan, di mana keberhasilan itu

sendiri menjadi penghargaannya (Montessori, 2013: 92).

Penggunaan bahan-bahan pembelajaran yang bersifat mengoreksi

diri didasarkan pada keyakinan Montessori bahwa anak-anak akan

mencapai disiplin diri dan kemandirian jika mereka memiliki kesempatan

untuk menyadari kesalahan mereka sendiri dan mengulang sebuah tugas

tertentu hingga mereka menguasai tugas tersebut dengan baik

9

Berdasarkan definisi di atas, peneliti menyimpulkan bahwa alat

peraga Montessori disiapkan dengan pengendali kesalahan yang

membuat anak memiliki konsentrasi tinggi, cerdas, dan teliti.

4. Penggunaan Media Pembelajaran

Mengenai kondisi dan kinerja guru terdapat beberapa

permasalahan yang berkaitan dengan kurangnya motivasi siswa, yaitu

penggunaan media pembelajaran yang guru lakukan adalah berintensitas

kurang (Fechera, 2012: 119). Hal tersebut menurut Yohana (2011: 38)

disebabkan karena penggunaan sebuah media pembelajaran dalam proses

belajar mengajar itu penting karena media merupakan alat untuk

menyampaikan informasi pengetahuan kepada siswa.

Media pembelajaran adalah segala sesuatu yang dapat digunakan

untuk menyalurkan pesan (bahan pembelajaran), sehingga dapat

merangsang perhatian, minat, pikiran, dan perasaan siswa dalam kegiatan

belajar untuk mencapai tujuan belajar (Yohana, 2011: 73). Sedangkan

menurut Nurseto (2011: 34) media pembelajaran adalah wahana penyalur

pesan dan informasi belajar. Media pembelajaran yang dirancang secara

baik akan sangat membantu peserta didik mencapai tujuan pembelajaran.

Kelebihan penggunaan media pembelajaran dalam pembelajaran

adalah membantu siswa dalam memahami materi pelajaran, membantu

guru dalam proses pembelajaran, menarik antusias dan motivasi siswa

10

menambahkan bahwa perencanaan penggunaan media juga harus

mempertimbangkan karakteristik siswa karena pada berbeda usia,

berbeda wilayah, berbeda pula karakteristik yang dimiliki. Sehingga guru

dituntut untuk dapat mengenali karakteristik siswa mereka, hal ini dalam

usaha mengefektifkan penggunaan dari sebuah media pembelajaran.

Berdasarkan definisi di atas, peneliti menyimpulkan bahwa

penggunaan media pembelajaran dalam pembelajaran adalah penting

karena media pembelajaran adalah penyalur informasi belajar yang

menarik dan memotivasi siswa untuk lebih memahami pelajaran yang

diberikan namun harus sesuai dengan karakteristik siswa.

5. Pembelajaran Metode Montessori

Prinsip-prinsip metode Montessori (1) Prinsip mendidik diri

sendiri, pada prinsip ini menekankan pada kreativitas seorang anak,

dengan dibiarkan bebas bermain sendiri sehingga seorang guru dapat

melihat perkembangan anak tersebut. (2) Prinsip lingkungan yang

disiapkan, pada kelas-kelas montessori disiapkan lingkungan yang

dikondisikan secara khusus. (3) Prinsip pentingnya kebebasan, kebebasan

merupakan kunci terjadinya perkembangan yang optimal. (4) Struktur

dan keteraturan, dengan lingkungan yang dirancang secara tepat dan

benar seorang anak dapat membentuk pemahaman yang benar terhadap

realitas dunia. (5) Realistis dan alami, seorang anak memerlukan

11

Keindahan dan nuansa, di dalam kelas Montessori dirancang dengan

desain yang menarik dengan tema warna yang hangat dan santai sehingga

membuat anak dapat belajar dengan gembira. (7) Prinsip permainan

Montessori, alat-alat permainan disajikan dan diberikan pada momen

yang sesuai dengan tahap perkembangan anak (Sari, 2014: 77).

Dalam pembelajaran dalam model pendidikan Montessori ini ada

tanggungjawab setiap siswa untuk bersama-sama menginvestigasi

masalah matematika yang diberikan dan bagaimana untuk

menyelesaikannya. Selain itu, siswa yang mengalami kesulitan banyak

yang melakukan kegiatan negosiasi, sharing dengan yang lainnya dan

dengan gurunya. Suasana pembelajaran menjadi lebih kondusif dan

efektif karena adanya proses kolaborasi antar siswa. Tahap pembelajaran

di kelas siswa menjadi terlatih untuk berpendapat dan berkomentar

mengenai jawaban dari masalah matematika yang dikerjakannya dengan

alasan yang meyakinkan (Wahyuningsih, 2011: 80).

Pembelajaran dengan model pendidikan Montessori lebih membuat

siswa aktif, kreatif, kooperatif, adanya proses negoisasi, kolaborasi, dan

sharing antara siswa dengan siswa atau siswa dengan guru. Siswa aktif

dalam kegiatan pembelajaran dan menggali informasi dari berbagai

sumber serta kreatif menyampaikan ide-ide terutama dalam mencari

alternatif pemecahan masalah yang ditawarkan melalui permasalahan

yang dihadapkan pada mereka. Dalam pembelajaran dengan

12

siswa untuk menemukan pemahaman matematika mereka sendiri melalui

proses berfikir, bertanya dan berkomunikasi dalam situasi matematik

(Wahyuningsih, 2011: 81). Hasil belajar matematika siswa yang diberi

model pendidikan Montessori lebih tinggi daripada siswa yang diberi

model pembelajaran konvensional (Wahyuningsih, 2011: 79).

Berdasarkan definisi di atas, peneliti menyimpulkan bahwa

pembelajaran dengan menggunakan metode Montessori lebih baik dalam

meningkatkan hasil belajar matematika daripada menggunakan metode

konvensional karena metode Montessori membuat siswa menjadi lebih

aktif dan senang belajar matematika.

6. Pegs for the Algebraic Peg Board

Peg for the Algebraic Peg Board adalah alat peraga Montessori

yang telah dikembangkan. Alat peraga tersebut berupa papan

penjumlahan dan pengurangan. Alat peraga ini berfungsi untuk

membantu siswa mengenal dan memahami konsep penjumlahan dan

pengurangan bilangan satu angka hingga enam angka (Widyaningrum,

2015: 12).

Berdasarkan definisi di atas, peneliti menyimpulkan bahwa pegs

for the algebraic peg board adalah alat peraga Montessori yang

13

7. Ciri Pembelajaran Montessori

Landasan metode Montessori adalah kemerdekaan sang anak.

Disiplin harus muncul melalui kemerdekaan. Anak menyiapkan dirinya

bukan hanya untuk sekolah, tetapi untuk kehidupan, untuk mampu,

melalui pembiasaan dan melalui latihan, melakukan dengan mudah dan

benar tugas-tugas sederhana dalam kehidupan sosial atau kehidupan

bermasyarakat. Tugas pendidik adalah membantu anak dalam melakukan

kegiatannya sehingga mampu menguasai ketrampilan-ketrampilan secara

alami (Montessori, 2013: 173).

Dari definisi di atas, peneliti menyimpulkan bahwa ciri dari

pembelajaran Montessori adalah disiplin, kebebasan, dan mandiri.

Dokumen terkait