BAB II
BAB II
BAB II
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
KAJIAN PUSTAKA
KAJIAN PUSTAKA
KAJIAN PUSTAKA
2.1. Umum
Nilai Tukar Petani (NTP) merupakan perbandingan/rasio antara Indeks Harga Yang Diterima Petani (It) dengan Indeks Harga Yang Dibayar Petani. Hubungan NTP dengan tingkat kesejahteraan petani sebagai produsen secara nyata terlihat dari posisi It yang berada pada pembilang (enumerator)
NTP. Apabila harga barang/produk pertanian naik, dengan asumsi volume produksi tidak berkurang, maka penerimaan / pendapatan petani dari hasil panennya juga akan bertambah. Perkembangan harga yang ditunjukkan It, merupakan sebuah indikator tingkat kesejahteraan petani produsen dari sisi pendapatan (Rosidi, 2007).
Perkembangan nilai tukar petani merupakan salah satu penentu tingkat pendapatan riil petani dan juga seringkali disebut sebagai indikator tingkat kesejahteraan petani, maka menurunnya nilai tukar petani dapat berpengaruh negatif terhadap tingkat pendapatan riil petani. Menurunnya nilai tukar Nilai Tukar Petani (NTP) merupakan perbandingan/rasio antara Indeks Harga Yang Diterima Petani (It) dengan Indeks Harga Yang Dibayar Petani. Hubungan NTP dengan tingkat kesejahteraan petani sebagai produsen secara nyata terlihat dari (enumerator) dari angka NTP. Apabila harga barang/produk pertanian naik, dengan asumsi volume produksi tidak berkurang, maka penerimaan / pendapatan petani dari hasil panennya juga akan bertambah. Perkembangan harga yang ditunjukkan It, merupakan sebuah kat kesejahteraan petani produsen dari sisi
Perkembangan nilai tukar petani merupakan salah satu penentu tingkat pendapatan riil petani dan juga seringkali disebut sebagai indikator tingkat kesejahteraan petani, maka nilai tukar petani dapat berpengaruh negatif terhadap tingkat pendapatan riil petani. Menurunnya nilai tukar
hasil produksi pertanian dapat langsung mempengaruhi daya beli masyarakat tani, sebaliknya makin baik nilai tukar komoditi pertanian tertentu, semakin baik pula kedudukan pertanian terhadap industri dan semakin bergairah petani untuk meningkatkan produksinya, sehingga kelestarian swasembada beras/pangan dapat terjamin (Hendayana, 2001).
2.2. Angka Indeks
Angka lndeks adalah suatu angka yang diharap
memberitahukan perubahan-perubahan sebuah atau lebih karakteristik pada waktu dan tempat yang sama ataupun berlainan. Macam-macam angka lndeks ada tiga, yaitu lndeks harga, Indeks jumlah (kuantitas), dan lndeks nilai. Dalam NTP ini, Indeks yang digunakan adalah indeks harga.
Dalam penghitungan angka lndeks, selalu menggunakan acuan tahun dasar. Pengertian tahun dasar adalah tahun dan waktu di mana keadaan dijadikan pokok perbandingan daripada keadaan pada tahun atau waktu yang lainnya. Pedoman da pemilihan tahun dasar adalah sebagai berikut:
1. Harga yang dipakai untuk perbandingan adalah harga rata rata selama jangka waktu tersebut.
hasil produksi pertanian dapat langsung mempengaruhi daya beli masyarakat tani, sebaliknya makin baik nilai tukar komoditi akin baik pula kedudukan pertanian terhadap industri dan semakin bergairah petani untuk meningkatkan produksinya, sehingga kelestarian swasembada
Angka lndeks adalah suatu angka yang diharapkan dapat perubahan sebuah atau lebih karakteristik pada waktu dan tempat yang sama ataupun macam angka lndeks ada tiga, yaitu lndeks harga, Indeks jumlah (kuantitas), dan lndeks nilai. Dalam NTP ini,
angka lndeks, selalu menggunakan acuan tahun dasar. Pengertian tahun dasar adalah tahun dan waktu di mana keadaan dijadikan pokok perbandingan daripada keadaan pada tahun atau waktu yang lainnya. Pedoman dalam
rata-2. Tahun atau waktu dasar yang normal (tidak masa perang, banjir, wabah penyakit).
3. Jangka waktu tidak terlalu pendek atau terlalu panjang. 4. Tahun dasar atau waktu dasar tidak diambil terlampau jauh
lewat ke masa silam.
2.3. Indeks Harga
Indeks harga adalah angka yang diharapkan dapat dipakai untuk memperlihatkan perubahan mengenai harga barang, baik harga untuk semacam maupun berbagai macam barang dalam waktu dan tempat yang sama ataupun berlainan.
lndeks harga dirumuskan sebagai berikut:
di mana,
ho = harga barang pada tahun atau waktu dasar ht = harga barang pada tahun yang lain
Tahun atau waktu dasar yang normal (tidak masa perang,
atau terlalu panjang. Tahun dasar atau waktu dasar tidak diambil terlampau jauh
Indeks harga adalah angka yang diharapkan dapat dipakai untuk memperlihatkan perubahan mengenai harga-harga macam maupun berbagai macam barang dalam waktu dan tempat yang sama ataupun berlainan.
2.4. Angka Indeks Gabungan
Angka lndeks gabungan adalah angka lndeks yang ditentukan berdasarkan beberapa macam barang atau bahan. Penentuan angka lndeks gabungan meliputi:
a. Angka Indeks Agregatif
Angka lndeks gabungan yang didapat dengan jalan membentuk angka relatif untuk jumlah akhir mengenai harga (jumlah atau nilai) dari pada barang-barang (bahan
yang membentuk agregatif tersebut. b. Angka lndeks dengan cara rata-rata relatif
Angka lndeks gabungan yang didapat dengan jalan menentukan rata-rata dari angka relatif tiap barang atau bahan.
Cara penentuan angka Indeks gabungan meliputi dua hal, yaitu memperhatikan kepentingan relatif (ditimbang) dan
tidak memperhatikan kepentingan relatifnya (tidak
ditimbang). Tiga cara untuk penentuan angka lndeks agregatif ditimbang, yaitu:
1) Cara Laspeyres atau Cara Tahun Dasar
Menggunakan banyak barang yang terdapat pada tahun Angka lndeks gabungan adalah angka lndeks yang ditentukan berdasarkan beberapa macam barang atau bahan.
Angka lndeks gabungan yang didapat dengan jalan atif untuk jumlah akhir mengenai harga barang (bahan-bahan)
Angka lndeks gabungan yang didapat dengan jalan rata dari angka relatif tiap barang atau
Cara penentuan angka Indeks gabungan meliputi dua hal, yaitu memperhatikan kepentingan relatif (ditimbang) dan
relatifnya (tidak
ditimbang). Tiga cara untuk penentuan angka lndeks
dasar sebagai timbangan terhadap harga. Banyak barang merupakan faktor perkalian untuk harga-harga barang yang lndeks sedang dicari. lndeks ini digunakan untuk
mengetahui perubahan harga apabila dengan
menganggap banyak barang tidak berubah dari tahun ke tahun semenjak tahun dasar atau pengaruh perubahan banyak barang ditiadakan. Formula lndeks Laspeyres adalah sebagai berikut:
di mana,
ht = harga pada tahun t yang lndeksnya
dicari
ho = harga pada tahun yang lain
do = banyak barang yang didapat tahun atau waktu
dasar
lt = indeks Laspeyres yang sedang dicari
2) Cara Paasche atau Cara Tahun Diketahui
Menggunakan timbangan berupa banyak barang yang terdapat pada tahun yang angka lndeksnya akan dasar sebagai timbangan terhadap harga. Banyak barang harga barang yang lndeks sedang dicari. lndeks ini digunakan untuk
mengetahui perubahan harga apabila dengan
menganggap banyak barang tidak berubah dari tahun ke tahun semenjak tahun dasar atau pengaruh perubahan ng ditiadakan. Formula lndeks Laspeyres
rga pada tahun t yang lndeksnya sedang
banyak barang yang didapat tahun atau waktu
Menggunakan timbangan berupa banyak barang yang terdapat pada tahun yang angka lndeksnya akan
ditentukan. lndeks ini digunakan untuk mengukur perubahan harga semenjak tahun dasar dengan anggapan bahwa banyak barang pada tahun dasar sama dengan banyak barang pada tahun yang lndeksnya dicari. Formula lndeks Paasche adalah sebagai berikut:
dimana,
ht = harga pada tahun t yang lndeksnya sedang dicari
ho = harga pada tahun yang lain
dt = banyak barang yang didapat tahun atau waktu
dasar
lp = indeks Paasche yang sedang dicari 3) Cara Tahun Khas
lndeks yang menggunakan timbangan berupa banyak barang yang terdapat pada suatu tahun atau waktu tertentu yang dianggap khas atau cukup ber
Formula lndeks Tahun Khas adalah sebagai berikut: ditentukan. lndeks ini digunakan untuk mengukur perubahan harga semenjak tahun dasar dengan bahwa banyak barang pada tahun dasar sama dengan banyak barang pada tahun yang lndeksnya dicari. Formula lndeks Paasche adalah sebagai berikut:
ht = harga pada tahun t yang lndeksnya sedang dicari
banyak barang yang didapat tahun atau waktu
ndeks Paasche yang sedang dicari
lndeks yang menggunakan timbangan berupa banyak barang yang terdapat pada suatu tahun atau waktu tertentu yang dianggap khas atau cukup beralasan. Formula lndeks Tahun Khas adalah sebagai berikut:
di mana,
ht = harga pada tahun t yang lndeksnya sedang
dicari
ho = harga pada tahun yang lain
dt = banyak barang yang didapat tahun khas lk = indeks Khas yang sedang dicari
2.5. Penghitungan Nilai Tukar Petani
Beberapa formula angka Indeks yang berkaitan dengan penghitungan nilai tukar petani adalah:
a. Harga Relatif
Harga relatif (HR) adalah rasio perbandingan harga suatu komoditi pada suatu periode waktu tertentu terha
pada periode waktu sebelumnya. Data harga per komoditi diperoleh dari pemantauan harga konsumen pedesaan dan harga produsen di kecamatan dan digunakan untuk menghitung HR komoditi kecamatan.
Rumus HR adalah:
harga pada tahun t yang lndeksnya sedang
banyak barang yang didapat tahun khas
Beberapa formula angka Indeks yang berkaitan dengan
Harga relatif (HR) adalah rasio perbandingan harga suatu komoditi pada suatu periode waktu tertentu terhadap harga pada periode waktu sebelumnya. Data harga per komoditi diperoleh dari pemantauan harga konsumen pedesaan dan harga produsen di kecamatan dan digunakan untuk
dengan,
HR(t)ji = HR pada bulan ke-t komoditi j di kecamatan ke H(t)ji = Harga pada bulan ke-t komoditi di kecamatan ke H (t-1)ji = Harga pada bulan ke-(t-1) komoditi j di
kecarnatan ke-i
Dari hasil penghitungan HR kecamatan, selanjutnya dihitung HR komoditi kabupaten dengan cara rata-rata dari HR sebagai berikut:
dengan,
HR (t) j = rata-rata HR pada bulan ke-t komoditi j
HR(t)ji = HR pada bulan ke-t komoditi di kecamatan ke
k = jumlah kecamatan
b. lndeks Harga Yang Diterima Petani (IHTP)
Penghitungan lndeks harga yang diterima petani
menggunakan formula lndeks Laspeyres. Beberapa formula di kecamatan ke-i t komoditi di kecamatan ke-i
di
HR kecamatan, selanjutnya dihitung rata dari HR
t komoditi j t komoditi di kecamatan ke-i
lndeks harga yang diterima petani
yang berkaitan dalam penghitungan IHTP dan IHBF adalah sebagai berikut:
dengan,
It = lndeks harga bulan ke-t baik pada IHTP
maupun IHBP
Hti = Harga pada bulan ke-t untuk barang ke
H(t-1)i = Harga pada bulan ke-(t-7) untuk barang ke
= Relatif harga bulan ke-t dibanding ke untuk barang ke-i
Hoi = Harga pada tahun dasar untuk barang ke
Qoi = Kuantitas pada tahun dasar untuk barang ke
m = Banyaknya barang yang tercakup dalam
paket komoditi.
Untuk mempermudah penghitungan pada formula Indeks Laspeyers maka digunakan rumus berikut:
Hti
H (t-1) i
IHTP dan IHBF adalah
baik pada IHTP
t untuk barang ke-i 7) untuk barang ke-i
t dibanding ke-(t-1)
pada tahun dasar untuk barang ke-i Kuantitas pada tahun dasar untuk barang ke-i Banyaknya barang yang tercakup dalam
Sehingga untuk penghitungan IHTP adalah
dengan,
DToi = Diagram timbangan dasar komoditi i
NMSoi = Nilai Market Surplus dasar komoditi
T = Jumlah komoditi paket komoditi sektor
pertanian
c. lndeks Harga Yang Dibayar petani (lHBP)
Penghitungan IHBP pada dasarnya juga menggunakan lndeks Laspeyers, tetapi terdapat perbedaan pada penyebutnya. Formula penghitungan lHBP adalah sebagai berikut:
di mana:
dengan,
DT0i = Diagram timbangan dasar komoditi i
PoiOoi = Nilai Konsumsi dasar untuk komoditi
Nilai Market Surplus dasar komoditi i
Jumlah komoditi paket komoditi sektor
IHBP pada dasarnya juga menggunakan lndeks Laspeyers, tetapi terdapat perbedaan pada penyebutnya.
lHBP adalah sebagai berikut:
T = Jumlah komoditi konsumsi rumahtangga dan biaya produksi
d. Nilai Tukar Petani
Berdasarkan IHTP dan IHBP maka Nilai Tukar Petani diformulakan sebagai berikut:
dengan,
NTP = Nilai Tukar Petani
lt = lndeks harga yang diterima petani
lp = lndeks harga yang dibayar petani
Menurut Rosidi (2007), NTP merupakan nilai tukar ( trade) antara barang/produk pertanian dengan barang barang konsumsi dan faktor produksi yang dibutuhkan petani yang dinyatakan dalam persen. NTP berfluktuasi dari waktu kewaktu tergantung dari perkembangan harga barang yang dijual petani (It) dan barang dan jasa yang dikonsumsi petani (Ib). Apabila harga produk pertanian yang dihasilkan petani naik dengan persentase lebih besar dari persentase kenaikan Jumlah komoditi konsumsi rumahtangga dan
Berdasarkan IHTP dan IHBP maka Nilai Tukar Petani
Menurut Rosidi (2007), NTP merupakan nilai tukar (term of ) antara barang/produk pertanian dengan barang-barang konsumsi dan faktor produksi yang dibutuhkan petani yang dinyatakan dalam persen. NTP berfluktuasi dari waktu kewaktu tergantung dari perkembangan harga barang yang a yang dikonsumsi petani (Ib). Apabila harga produk pertanian yang dihasilkan petani naik dengan persentase lebih besar dari persentase kenaikan
barang dan jasa yang dibayar petani, dengan asumsi volume produksi tidak berkurang, maka NTP naik dan dengan sendirinya pendapatan petani naik relatif lebih besar dari kenaikan pengeluaran atau terjadi surplus. Dengan demikian secara konseptual, hubungan antara NTP dan pertambahan pendapatan petani sangat erat. Karena pendapatan petani sangat erat kaitannya dengan tingkat kesejahteraan, maka NTP merupakan indikator yang relevan untuk menunjukkan perkembangan tingkat kesejahteraan petani. Secara umum
penghitungan angka lndeks yang dikaitkan dengan
penghitungan Nilai Tukar Petani (NTP) menghasilkan 3 (tiga) kemungkinan sebagai berikut:
1. NTP > 100, berarti petani mengalami surplus. produksinya naik lebih besar dari kenaikan harga konsumsinya. Pendapatan petani naik lebih besar dari pengeluarannya; dengan demikian tingkat kesejahteraan petani lebih baik dibanding tingkat kesejahteraan petani sebelumnya.
2. NTP = 100: berarti petani mengalami impas / break even, kenaikan/penurunan harga produksinya sama dengan
persentase kenaikan/penurunan harga barang
barang dan jasa yang dibayar petani, dengan asumsi volume produksi tidak berkurang, maka NTP naik dan dengan ndirinya pendapatan petani naik relatif lebih besar dari kenaikan pengeluaran atau terjadi surplus. Dengan demikian secara konseptual, hubungan antara NTP dan pertambahan pendapatan petani sangat erat. Karena pendapatan petani tingkat kesejahteraan, maka NTP merupakan indikator yang relevan untuk menunjukkan perkembangan tingkat kesejahteraan petani. Secara umum
angka lndeks yang dikaitkan dengan
Nilai Tukar Petani (NTP) menghasilkan 3 (tiga)
surplus. Harga produksinya naik lebih besar dari kenaikan harga konsumsinya. Pendapatan petani naik lebih besar dari pengeluarannya; dengan demikian tingkat kesejahteraan tingkat kesejahteraan petani
berarti petani mengalami impas / break even, kenaikan/penurunan harga produksinya sama dengan
konsumsinya. Tingkat kesejahteraan petani periode tertentu tidak mengalami perubahan.
3. NTP < 100: berarti petani mengalami defisit. Kenaikan
harga barang produksinya relative lebih kecil
dibandingkan dengan kenaikan harga barang
konsumsinya. Tingkat kesejahteraan petani periode tertentu mengalami penurunan dibandi
kesejahteraan petani pada periode sebelumnya.
kesejahteraan petani periode
berarti petani mengalami defisit. Kenaikan
harga barang produksinya relative lebih kecil
dibandingkan dengan kenaikan harga barang
Tingkat kesejahteraan petani periode mengalami penurunan dibanding tingkat kesejahteraan petani pada periode sebelumnya.
BAB III
BAB III
BAB III
BAB III
METODOLOGI
METODOLOGI
METODOLOGI
METODOLOGI
3.1. UmumAcuan kerja pada pekerjaan ini akan memberi
pelaksanaan pekerjaan yang baik. Untuk memenuhi maksud dan tujuan seperti dalam Kerangka Acuan Kerja, maka perlu diuraikan pendekatan umum tentang hal-hal yang diperhatikan dalam melaksanakan pekerjaan ini, yaitu:
1. Dalam melaksanakan pekerjaan ini harus didasari dengan pola berpikir multi disiplin teknologi, lingkungan, ekonomi pembangunan dan tata ruang. 2. Pemahaman pekerjaan yang akan dilakukan dengan
sedetail-detailnya sangat diperlukan untuk
memperoleh hasil pekerjaan yang teliti dan dapat mendukung kelancaran pekerjaan. Oleh karena itu tim harus benar-benar memahami situasi, kondisi dan lokasi pekerjaan.
memberikan arahan pelaksanaan pekerjaan yang baik. Untuk memenuhi maksud dan tujuan seperti dalam Kerangka Acuan Kerja, maka perlu hal yang diperhatikan
arus didasari dengan pola berpikir multi disiplin teknologi, lingkungan, ekonomi pembangunan dan tata ruang. Pemahaman pekerjaan yang akan dilakukan dengan
detailnya sangat diperlukan untuk
memperoleh hasil pekerjaan yang teliti dan dapat g kelancaran pekerjaan. Oleh karena itu benar memahami situasi, kondisi
3.2. Tahapan Penelitian
Tahapan penelitian penghitungan Nilai Tukar Petani (NTP) Kabupaten Jombang Tahun 2012 dapat dilihat pada diagram alir berikut:
Gambar 3.1 Diagram Alir Metode Analisis Penghitungan
3.3. Tahapan Pelaksanaan Pekerjaan
Agar pekerjaan ini dapat dilaksanakan secara terarah dan sistematika, berikut diuraikan tahapan pelaksanaan pekerjaan dengan berdasar pada lingkup dan kerangka pikir pekerjaan, yaitu:
Nilai Tukar Petani (NTP) dapat dilihat pada diagram alir
Penghitungan NTP
Agar pekerjaan ini dapat dilaksanakan secara terarah dan sistematika, berikut diuraikan tahapan pelaksanaan pekerjaan dengan berdasar pada lingkup dan kerangka pikir pekerjaan,
1. Kegiatan Persiapan. Kegiatan persiapan mencakup beberapa kegiatan awal sebelum kegiatan operasional survei di
lapangan dimulai. Kegiatan ini dilakukan untuk
mempersiapkan beberapa hal yang terkait, agar kegiatan operasional yang akan dilaksanakan mencapai sasaran, lebih terarah, efektif dan efisien. Pemahaman terhadap ling pekerjaan dan persoalan yang dapat dikaji/dipelajari dari Kerangka Acuan Pekerjaan yang ada, produk studi terdahulu yang terkait dengan studi yang akan dilaksanakan, serta informasi lain termasuk aspek kebijakan dan kelembagaan. Dari tahapan kegiatan tersebut dapat dirumuskan persoalan yang ada, data pendukung yang diperlukan baik data primer maupun sekunder, serta data dan informasi tambahan sesuai dengan kebutuhan.
2. Pengumpulan Data, Referensi dan Analisis
Kegiatan ini mencakup beberapa tahapan, mulai Inventarisasi data dan referensi pendahuluan yang perlu dilakukan untuk mendapatkan gambaran garis besar dari kondisi wilayah dan persoalan studi, baru ditindak
dengan pengumpulan data sekunder pengumpulan data primer dan data penunjang.
Kegiatan persiapan mencakup beberapa al sebelum kegiatan operasional survei di
lapangan dimulai. Kegiatan ini dilakukan untuk
mempersiapkan beberapa hal yang terkait, agar kegiatan operasional yang akan dilaksanakan mencapai sasaran, lebih terarah, efektif dan efisien. Pemahaman terhadap lingkup pekerjaan dan persoalan yang dapat dikaji/dipelajari dari Kerangka Acuan Pekerjaan yang ada, produk studi terdahulu yang terkait dengan studi yang akan dilaksanakan, serta informasi lain termasuk aspek kebijakan dan kelembagaan. ersebut dapat dirumuskan persoalan yang ada, data pendukung yang diperlukan baik data primer maupun sekunder, serta data dan informasi tambahan sesuai
Kegiatan ini mencakup beberapa tahapan, mulai dari Inventarisasi data dan referensi pendahuluan yang perlu dilakukan untuk mendapatkan gambaran garis besar dari kondisi wilayah dan persoalan studi, baru ditindak-lanjuti dengan pengumpulan data sekunder pengumpulan data
a) Inventarisasi Pendahuluan, dimaksudkan untuk melakukan orientasi atau observasi lapangan secara global untuk memperoleh informasi mutakhir tentang kondisi wilayah studi dengan referensi hasil studi terdahulu dan informasi lain yang ada, untuk menangkap persoalan-persoalan umum sebelum survei dan pengumpulan data yang lebih rinci dilakukan.
b) Pengumpulan dan Analisis Data Sekunder, dilakukan terutama untuk melengkapi data yang telah ada yang dipakai sebagai dasar analisis dari pekerjaan ini dan untuk pemutakhiran (up dating) terhadap data yang dianggap kurang. Sehingga studi ini dapat mencapai tujuan yang diharapkan secara optimal serta efisien. c) Melakukaan telaah hukum/sinkronisasi dengan RTRW
dan penjaringan informasi/pengumpulan referensi data yang berkaitan dengan pekerjaan ini, dilakukan dengan maksud untuk melengkapi data sekunder yang ada yang dianggap masih kurang, memutakhirkan atau checking silang terhadap data atau informasi yang dianggap meragukan atau yang dianggap perlu dilakukan pengecekan untuk penajaman.
ntarisasi Pendahuluan, dimaksudkan untuk
melakukan orientasi atau observasi lapangan secara global untuk memperoleh informasi mutakhir tentang kondisi wilayah studi dengan referensi hasil studi terdahulu dan informasi lain yang ada, untuk persoalan umum sebelum survei dan pengumpulan data yang lebih rinci
Pengumpulan dan Analisis Data Sekunder, dilakukan terutama untuk melengkapi data yang telah ada yang dipakai sebagai dasar analisis dari pekerjaan ini dan terhadap data yang dianggap kurang. Sehingga studi ini dapat mencapai tujuan yang diharapkan secara optimal serta efisien.
Melakukaan telaah hukum/sinkronisasi dengan RTRW dan penjaringan informasi/pengumpulan referensi data yang berkaitan dengan pekerjaan ini, dilakukan dengan maksud untuk melengkapi data sekunder yang ada yang dianggap masih kurang, memutakhirkan atau silang terhadap data atau informasi yang dianggap meragukan atau yang dianggap perlu
3.4. Metode Pengumpulan Data 3.4.1. Jenis dan Sumber Data
Terdapat dua sumber data utama dalam penyusunan Nilai Tukar Petani (NTP) Kabupaten Jombang yaitu: 1. Data primer (melalui survei lapangan)
2. Data sekunder yang diperoleh dari berbagai sumber. Variabel-variabel yang dibutuhkan dalam
penyusunan NTP dan sumber datanya selengkapnya disajikan pada Tabel 3.1. berikut:
Tabel 3.1. Variabel-variabel dan
Sumber Data yang Digunakan Dalam Penyusunan NTP
Terdapat dua sumber data utama dalam penyusunan ) Kabupaten Jombang yaitu:
ata sekunder yang diperoleh dari berbagai sumber. variabel yang dibutuhkan dalam
penyusunan NTP dan sumber datanya selengkapnya
3.4.2. Definisi Operasioanal
Definisi dan konsep pada data yang diperlukan dalam penghitungan Nilai Tukar Petani adalah sebagai berikut: ■ Petani
Adalah orang yang mengusahakan mengelola usaha pertanian, perkebunan, peternakan, kehutanan, perburuan dan perikanan, atas resiko sendiri dengan tujuan untuk dijual. Petani yang termasuk dalam cakupan penghitungan NTP adalah petani penggarap baik sebagai petani pemilik, penyewa atau bagi hasil, tidak termasuk buruh tani.
■ Harga Produsen
Adalah harga produksi dari petani sebelum