HASIL PENGHIHASIL PENGHI
HASIL PENGHITUNGANTUNGANTUNGAN TUNGAN
Pada bagian ini akan disajkan hasil penghitungan NTP di tingkat kabupaten dan tingkat kecamatan yang terdiri atas 5 (lima) sub-sektor pertanian. Sektor pertanian tersebut meliputi sub-sektor tanaman bahan makanan, sub-sektor tanaman perkebunan rakyat, sub-sektor perikanan, dan sub
peternakan.
5.1. Nilai Tukar Petani (NTP KABUPATEN)
Nilai tukar petani ( NTP ) merupakan ukuran kemampuan daya tukar produk pertanian yang dihasilkan petani terhadap produk barang dan jasa yang dibeli oleh rumahtangga petani, baik dalam rangka usaha produksi pertanian maupun konsumsi rumahtangga petani. Alat ukur daya beli petani yang mencerminkan tingkat kesejahteraan diformulasikan dalam bentuk nilai tukar petani ( NTP ).
Nilai tukar petani ( NTP ) merupakan hubungan antara hasil pertanian yang dijual petani dengan harga barang dan jasa lain Pada bagian ini akan disajkan hasil penghitungan NTP di tingkat kabupaten dan tingkat kecamatan yang terdiri atas 5 tersebut meliputi sektor tanaman sektor perikanan, dan sub-sektor
Nilai tukar petani ( NTP ) merupakan ukuran kemampuan pertanian yang dihasilkan petani terhadap produk barang dan jasa yang dibeli oleh rumahtangga petani, baik dalam rangka usaha produksi pertanian maupun konsumsi rumahtangga petani. Alat ukur daya beli petani yang asikan dalam
Nilai tukar petani ( NTP ) merupakan hubungan antara hasil pertanian yang dijual petani dengan harga barang dan jasa lain
yang dibeli petani. NTP berfungsi mengukur kemampuan tukar barang-barang produk pertanian yang dihasilkan petani dengan barang atau jasa yang diperlukan untuk konsumsi rumahtangga petani dan keperluan dalam memproduksi barang
pertanian.
Jenis komoditas yang diteliti adalah tanaman sub tanaman bahan makanan, sub-sektor tanaman
rakyat, sub-sektor perikanan, dan sub-sektor peternakan. Sedangkan jenis komoditas yang harus dibayar petani adalah konsumsi bahan makanan, kebutuhan perumahan, kebutuhan pakaian, aneka barang dan jasa, faktor produksi, dan upah tenaga kerja. Jumlah komoditas yang dihasilkan petani sampel bervariasi. Harga yang digunakan untuk menghitung NTP adalah harga pada tahun 2012 dengan menggunakan tahun dasar 2008. Pengambilan tahun dasar 2008 ini dimaksudkan agar NTP yang dihitung bisa dibandingkan dengan nilai NTP dua tahun sebelumnya yang juga menggunakan tahun dasar 2008.
yang dibeli petani. NTP berfungsi mengukur kemampuan tukar nian yang dihasilkan petani dengan barang atau jasa yang diperlukan untuk konsumsi rumahtangga petani dan keperluan dalam memproduksi barang-barang
Jenis komoditas yang diteliti adalah tanaman sub-sektor perkebunan sektor peternakan. Sedangkan jenis komoditas yang harus dibayar petani adalah konsumsi bahan makanan, kebutuhan perumahan, kebutuhan pakaian, aneka barang dan jasa, faktor produksi, dan upah umlah komoditas yang dihasilkan petani sampel bervariasi. Harga yang digunakan untuk menghitung NTP adalah harga pada tahun 2012 dengan menggunakan tahun dasar 2008. Pengambilan tahun dasar 2008 ini dimaksudkan agar NTP yang an nilai NTP dua tahun sebelumnya yang juga menggunakan tahun dasar 2008.
Tabel 5.1. Rata-rata Indeks Diterima Petani (It), Indeks Dibayar Petani (I
Tukar Petani (NTP) Kabupaten Jombang Tahun 2010-2012 (2008 =100)
Sumber : Data Primer & Sekunder Diolah, 2012
Berdasarkan hasil penghitungan dengan menggunakan data yang diambil pada akhir tahun (September dan Oktober) tahun 2012, rata-rata NTP Kabupaten Jombang Tahun 2012 adalah sebesar 105,86. Angka ini dihitung berdasarkan tahun dasar 2008. Indeks diterima petani sebesar 123,73 dan indeks
No Sub Sektor Tahun
2010 2011
1 Indeks yang diterima
petani 119,74 106,69
1.Tanaman Bahan Makanan 100,68 101,44
2.Tanaman Perkebunan 96,33 128,59 126,755
3.Peternakan 185,72 98,79
4.Perikanan 96,23 101,02
2 Indeks yang dibayar petani 122,03 109,12
1.Konsumsi Rumah Tangga 131,70 107,65
2.Biaya Produksi &
Penambahan Barang Modal
112,36 110,59
NTP 98,12 98,48
), Indeks Dibayar Petani (Ib) dan Nilai 2012 (2008 =100)
Berdasarkan hasil penghitungan dengan menggunakan data yang diambil pada akhir tahun (September dan Oktober) rata NTP Kabupaten Jombang Tahun 2012 adalah sebesar 105,86. Angka ini dihitung berdasarkan tahun ni sebesar 123,73 dan indeks
Perubahan 2012 (%) 123,73 2,54% 127,39 13,17% 126,755 16,03% 141,65 -1,71% 99,135 1,56% 116,88 -1,73% 123,50 -1,77% 110,26 -0,94% 105,86 3,93%
dibayar petani sebesar 116,88 (lihat Tabel 5.1). Hal ini menunjukkan bahwa tingkat kesejahteraan petani selama tahun 2012 secara umum mengalami kenaikkan dari tahun 2008 (tahun dasar) dan tahun 2011. Perkembangan Nilai Tukar Pe
3 tahun berturut-turut rata-rata sebesar 3,93%, dengan rincian perkembangan rata-rata indeks yang diterima petani sebesar 2,54% dan perkembangan rata-rata indeks yang dibayar petani sebesar -1,73%.
Gambar 5.1. Grafik Perkembangan Indeks Terima (It), Indeks Bayar (Ib) dan NTP Tahun 2010-2012
Sumber : Data Primer & Sekunder Diolah, 2012
dibayar petani sebesar 116,88 (lihat Tabel 5.1). Hal ini menunjukkan bahwa tingkat kesejahteraan petani selama tahun 2012 secara umum mengalami kenaikkan dari tahun 2008 (tahun dasar) dan tahun 2011. Perkembangan Nilai Tukar Petani selama %, dengan rincian rata indeks yang diterima petani sebesar rata indeks yang dibayar petani
Tabel 5.2. Rata-rata Indeks Diterima Petani (It), Indeks Dibayar Petani (I Nilai Tukar Petani (NTP) per Subsektor Kabupaten Jombang Tahun 2010-2012 (2008 =100)
No Sub Sektor Tahun
2010 2011
1. Tanaman Bahan Makanan
Indeks yang diterima (It) 100,68 101,44
Indeks yang dibayar (Ib) 120,21 113,47 117,58
Nilai Tukar Petani (NTP) 83,76 89,4 110,39
2.
Tanaman Perkebunan
Rakyat
Indeks yang diterima (It) 96,33 128,59 126,75
Indeks yang dibayar (Ib) 113,63 124,46 121,99
Nilai Tukar Petani (NTP) 84,78 103,32 103,91
3. Peternakan
Indeks yang diterima (It) 185,72 98,79 141,65
Indeks yang dibayar (Ib) 133,85 89,50 10
Nilai Tukar Petani (NTP) 138,75 110,38 13
4. Perikanan
Indeks yang diterima (It) 96,23 101,02
Indeks yang dibayar (Ib) 120,48 120,58 125,68
Nilai Tukar Petani (NTP) 78,87 83,78
Sumber : Data Primer & Sekunder Diolah, 2012
Indeks Dibayar Petani (Ib) dan Nilai Tukar Petani (NTP) per Subsektor Kabupaten Jombang Tahun
Perubahan 2012 (%) 129,8 14,36% 117,58 -0,99% 110,39 15,11% 126,75 16,03% 121,99 3,77% 103,91 11,22% 141,65 -1,71% 107,13 -6,72% 132,23 -0,33% 99,13 1,55% 125,68 2,16% 78,88 0,19%
Berdasarkan tabel 5.2. dalam tahun 2010-2012 tampak
bahwa subsektor tanaman perkebunan
perkembangan NTP yang paling pesat, disusul oleh tanaman pangan, perikanan dan terakhir subsektor peternakan.
Gambar 5.2. Grafik Rata-rata Indeks Diterima Petani (I
Dibayar Petani (Ib) dan Nilai Tukar Petani (NTP) per Sub-sektor Kab. Jombang Tahun 2011 (2008 =100)
Sumber : Data Primer Diolah, 2012
Peningkatan Nilai Tukar Petani (NTP) pada tahun 2012 disumbangkan paling besar oleh peningkatan NTP sub sektor peternakan dengan kenaikkan sebesar 25,48% dibandingkan 2012 tampak
bahwa subsektor tanaman perkebunan mengalami
perkembangan NTP yang paling pesat, disusul oleh tanaman pangan, perikanan dan terakhir subsektor peternakan.
rata Indeks Diterima Petani (It), Indeks ) dan Nilai Tukar Petani (NTP) per Jombang Tahun 2011 (2008 =100)
Peningkatan Nilai Tukar Petani (NTP) pada tahun 2012 disumbangkan paling besar oleh peningkatan NTP sub sektor n sebesar 25,48% dibandingkan
tahun 2011. Naiknya NTP sub sektor peternakan disebabkan naiknya harga sapi dan domba yang lebih dari 50%. Untuk tanaman pangan juga mengalami kenaikkan cukup pesat dibandingkan pada tahun 2011 dengan kenaikkan sebesar 21,19% dan tanaman perkebunan dengan kenaikkan 0,57%. Kenaikkan NTP subsektor tanaman pangan sangat dipengaruhi naikknya harga beras dan harga jagung ,sedangkan untuk sektor tanaman perkebunan dipengaruhi oleh stabilnya harga tebu dan semakin baiknya tata kelola tanaman tebu. NTP ketiga subsektor tersebut dengan nilai diatas 100 (tahun dasar), artinya tahun 2012 ini kesejahteraan petani lebih tinggi dibandingkan tahun dasar 2008, dimana hal ini juga lebih baik dibanding 2010 dan 2011 yang tingkat kesejahteraan petani masih lebih rendah dibanding 2008.
NTP sub sektor perikanan pada tahun 2012 ini mengalami penurunan jauh di bawah 100 (5,85%) dengan NTP 78,88
mengindikasikan rendahnya kesejahteraan petani ikan
dibandingkan tahun 2008, nilai ini sebenarnya sama dengan tahun 2010. Tajamnya penurunan NTP perikanan disebabkan naiknya harga pakan (pelet) dan turunnya harga ikan gurami dan lele yang merupakan bagian besar dari komoditas ikan yang dibudidayakan oleh petani.
tahun 2011. Naiknya NTP sub sektor peternakan disebabkan naiknya harga sapi dan domba yang lebih dari 50%. Untuk tanaman pangan juga mengalami kenaikkan cukup pesat dibandingkan pada tahun 2011 dengan kenaikkan sebesar dan tanaman perkebunan dengan kenaikkan 0,57%. Kenaikkan NTP subsektor tanaman pangan sangat dipengaruhi naikknya harga beras dan harga jagung ,sedangkan untuk sektor tanaman perkebunan dipengaruhi oleh stabilnya harga tebu dan tanaman tebu. NTP ketiga subsektor tersebut dengan nilai diatas 100 (tahun dasar), artinya tahun 2012 ini kesejahteraan petani lebih tinggi dibandingkan tahun dasar 2008, dimana hal ini juga lebih baik dibanding 2010 dan ani masih lebih rendah
NTP sub sektor perikanan pada tahun 2012 ini mengalami penurunan jauh di bawah 100 (5,85%) dengan NTP 78,88
mengindikasikan rendahnya kesejahteraan petani ikan
dibandingkan tahun 2008, nilai ini sebenarnya sama dengan NTP tahun 2010. Tajamnya penurunan NTP perikanan disebabkan naiknya harga pakan (pelet) dan turunnya harga ikan gurami dan lele yang merupakan bagian besar dari komoditas ikan yang
5.2. Indeks Diterima Petani Kabupaten (lt)
Hasil penghitungan Indeks Diterima Petani Kabupaten Jombang Tahun 2012 adalah 123,73 yang merupakan hasil rataan dari indeks-indeks 4 (empat) sub-sektor pertanian, diantaranya indeks sub-sektor tanaman bahan makanan, yaitu 127,39, indeks sub-sektor tanaman perkebunan rakyat sebesar 126,75, indeks sub-sektor peternakan sebesar 141,65 dan indeks sub-sektor perikanan sebesar 99,13. Indeks diterima petani Kabupaten Jombang tahun 2012 menurut 4 (empat) subsektor pertanian selengkapnya disajikan pada Tabel 5.3.
Di antara keempat angka indeks yang diterima petani, indeks sub-sektor peternakan memiliki angka indeks terbesar, yaitu sebesar 141,65, kemudian disusul oleh indeks tanaman bahan makanan yaitu sebesar 127,39 (lihat Tabel 5.3).
il penghitungan Indeks Diterima Petani Kabupaten Jombang Tahun 2012 adalah 123,73 yang merupakan hasil sektor pertanian, sektor tanaman bahan makanan, yaitu rkebunan rakyat sebesar sektor peternakan sebesar 141,65 dan indeks sektor perikanan sebesar 99,13. Indeks diterima petani Kabupaten Jombang tahun 2012 menurut 4 (empat) subsektor
antara keempat angka indeks yang diterima petani, sektor peternakan memiliki angka indeks terbesar, yaitu sebesar 141,65, kemudian disusul oleh indeks tanaman bahan makanan yaitu sebesar 127,39 (lihat Tabel 5.3).
Tabel 5.3. Rata-rata Indeks Diterima Petani (It) Kabupaten Jombang Menurut Sub Sektor PertanianTahun 2010-2012 (2008 = 100)
No Sub Sektor Tahun
2010 2011 2012
It Indeks yang diterima petani 119,74 106,7 123,7
1 Tanaman bahan makanan 100,68 101,4 127,4
2 Tanaman Perkebunan Rakyat 96,33 128,6 126,8
3 Peternakan 185,72 98,79 141,7
4 Perikanan 96,23 101 99,13
Sumber : Diolah dari hasil Survey, 2012
Tabel 5.3 memberikan gambaran bahwa dari keempat indeks diterima petani, indeks tanaman pangan mengalami kenaikkan dibandingkan tahun 2011. Artinya tahun 2012, harga tanaman pangan, tanaman perkebunan dan peternakan relatif lebih mahal, dibanding tahun 2011, sedangkan penurunan harga ini terjadi pada perikanan (gurami, lele). Untuk sektor peternakan terjadi kenaikan harga yang cukup baik untuk ternak besar seperti sapi dan kambing sehingga tingkat kesejahteraan petani ternak di tahun 2012 mengalami peningkatan yang baik bila dibandingkan dengan tahun 2011.
) Kabupaten Jombang Menurut 2012 (2008 = 100) Perubahan 2012 (%) 123,7 2,54% 127,4 13,17% 126,8 16,03% 141,7 -1,71% 99,13 1,56%
memberikan gambaran bahwa dari keempat indeks diterima petani, indeks tanaman pangan mengalami kenaikkan dibandingkan tahun 2011. Artinya tahun 2012, harga tanaman pangan, tanaman perkebunan dan peternakan relatif gkan penurunan harga ini terjadi pada perikanan (gurami, lele). Untuk sektor peternakan terjadi kenaikan harga yang cukup baik untuk ternak besar seperti sapi dan kambing sehingga tingkat kesejahteraan petani ternak di tahun 2012 mengalami peningkatan yang cukup
5.3. Indeks Dibayar Petani Kabupaten
Penghitungan indeks yang dibayar petani meliputi konsumsi rumah tangga, biaya produksi dan penambahan barang modal. Untuk konsumsi rumah tangga dibedakan konsumsi makanan, minuman dan konsumsi non makanan. Konsumsi non makanan meliputi konsumsi untuk perumahan, pakaian, kesehatan, dan transportasi. Sementara untuk biaya produksi dan penambahan barang modal dibedakan atas subsektor pertanian (tanaman bahan makanan, tanaman
rakyat, petemakan, dan perikanan).
Tabel 5.4 menunjukkan bahwa indeks yang dibayar petani sebesar 116,88, merupakan rataan dari indeks konsumsi rumah tangga, sebesar 125,30 dan indeks biaya produksi dan penambahan barang modal, sebesar 110,26. Diantara indeks yang dibayar petani, indeks konsumsi rumah tangga memiliki angka yang lebih tinggi daripada biaya produksi dan penambahan barang modal. Hal ini menunjukkan bahwa harga harga untuk biaya konsumsi rumah tangga mengalami kenaikan yang nyata dibandingkan .biaya produksi dan penambahan barang modal
Diantara indeks biaya produksi dan penambahan barang Penghitungan indeks yang dibayar petani meliputi konsumsi rumah tangga, biaya produksi dan penambahan barang modal. Untuk konsumsi rumah tangga dibedakan konsumsi Konsumsi non makanan meliputi konsumsi untuk perumahan, pakaian, Sementara untuk biaya produksi dan penambahan barang modal dibedakan atas subsektor perkebunan
Tabel 5.4 menunjukkan bahwa indeks yang dibayar petani , merupakan rataan dari indeks konsumsi rumah dan indeks biaya produksi dan Diantara indeks yang dibayar petani, indeks konsumsi rumah tangga memiliki biaya produksi dan penambahan barang modal. Hal ini menunjukkan bahwa harga-harga untuk biaya konsumsi rumah tangga mengalami kenaikan
.biaya produksi dan penambahan
modal, indeks perikanan memiliki indeks yang tertinggi, yaitu 127,85, sedangkan yang terkecil adalah peternakan, yaitu 8 Tingginya indeks perikanan ini di picu adanya kenaikan bibit ikan, pakan, sewa lahan, upah buruh dan obat Sementara indeks konsumsi rumah tangga khususnya kebutuhan akan pakaian angka indeks terbesarnya adalah 194,83
angka indeks terkecil adalah pendidikan yaitu 80 jelasnya (lihat Tabel 5.4).
Tabel 5.4. Rata-rata Indeks Dibayar Petani (Ib) Kabupaten Jombang
Menurut Kelompok/Jenis Komoditi Tahun 2010 100)
No Sub Sektor Tahun
2010 2011 2012
Ib Indeks yang dibayar
petani 122,03 109,12 116,88
1 Konsumsi Rumah Tangga 131,70 107,65
Makanan 112,99 118,17 124,665
Perumahan 116,35 97,92 106,095
Sandang 163,99 162,83 194,825
Kesehatan 132,52 74,85
Transportasi & Komunikasi 118,59 134,22 143,515
2
Biaya Produksi & Penambahan Barang Modal 112,36 110,59 110,26 Tanaman Pangan 108,69 113,47 111,66 Tanaman Perkebunan Rakyat 95,53 124,46 120,48 Peternakan 115 89,5 Perikanan 109,24 120,58 127,85
Sumber : Diolah dari hasil Survey, 2012
memiliki indeks yang tertinggi, yaitu , sedangkan yang terkecil adalah peternakan, yaitu 81,05. di picu adanya kenaikan harga , sewa lahan, upah buruh dan obat-obat. Sementara indeks konsumsi rumah tangga khususnya kebutuhan 194,83, adapun
80,81 lebih
) Kabupaten Jombang Menurut Kelompok/Jenis Komoditi Tahun 2010-2012 (2008 = Perubahan 2012 (%) 116,88 -1,73% 123,5 -1,77% 124,665 5,04% 106,095 -3,75% 194,825 9,47% 91,11 -10,90% 143,515 10,05% 110,26 -0,94% 111,66 -1,73% 120,48 -1,73% 81,04 -1,73% 127,85 -1,73%
5.4. Nilai Tukar Petani (NTP KECAMATAN)
Berdasarkan hasil penghitungan dengan menggunakan data yang diambil pada akhir tahun (September dan Oktober) tahun 2012, terdapat 12 kecamatan yang mempunyai NTP > 100 dan 9 kecamatan yang NTP < 100, angka ini dihitung berdasarkan tahun dasar 2008. Indeks diterima petani, dihitung berdasarkan penerimaan pada sektor tanaman pangan, perkebunan, peternakan, perikanan, dan kehutanan. Selanjutnya dibagi menurut sektor tersebut maka diperoleh nilai rata
diterima petani (It) sedangkan indeks dibayar petani diperoleh
dari penghitungan biaya konsumsi rumah tangga dan penambahan barang modal.
Adapun rata-rata NTP di 21 Kecamatan Kabu Jombang Tahun 2012 adalah sebagai berikut, Tabel 5.5 Rekapitulasi NTP Kecamatan Tahun 2012 :
Berdasarkan hasil penghitungan dengan menggunakan data yang diambil pada akhir tahun (September dan Oktober) kecamatan yang mempunyai NTP > 100 dan 9 kecamatan yang NTP < 100, angka ini dihitung berdasarkan tahun dasar 2008. Indeks diterima petani, dihitung berdasarkan penerimaan pada sektor tanaman pangan, perkebunan, utnya dibagi menurut sektor tersebut maka diperoleh nilai rata-rata indeks ) sedangkan indeks dibayar petani diperoleh dari penghitungan biaya konsumsi rumah tangga dan
rata NTP di 21 Kecamatan Kabupaten , Tabel 5.5
Tabel 5.5. Rekapitulasi NTP Kecamatan Tahun 2012
Sumber : Diolah dari hasil Survey, 2012
1 Bandar Kedungmulyo 103,54 175,69 188,35 100,13 141,93 121,61 106,66 2 Bareng 136,87 138 102,13 91,38 117,1 115,01 115,71 3 Diwek 177,89 111,21 207,78 91,47 147,09 149,27 108,46 4 Gudo 102,98 104,2 123,22 99,63 107,51 111,08 115,7 5 Jogoroto 123,16 115,01 178,27 91,24 126,92 142,78 113,46 6 Jombang 136,52 102,8 156,67 91,39 121,85 113,89 110,65 7 Kabuh 140,83 107,01 107,64 99 113,62 172,28 114,44 8 Kesamben 120,77 115,01 107,36 106 112,28 126,12 115,35 9 Kudu 138,83 136,75 120,62 106,1 125,57 113,86 112,12 10 Megaluh 104,71 115,5 202,29 98,89 130,35 112,23 103,34 11 Mojoagung 155,35 101,1 108,82 96,85 115,53 119,45 109,43 12 Mojowarno 124,43 110,89 107,57 116,68 114,89 104,02 114,2 13 Ngoro 108,57 155,15 143,77 110,58 129,52 156,44 110,04 14 Ngusikan 118,83 136,51 125,34 94,48 118,79 152,03 114,99 15 Perak 117,67 116,88 195,36 100,19 132,53 96,69 106,66 16 Peterongan 136,44 111,21 110,25 90,37 112,07 139,24 111,73 17 Plandaan 105,48 265,33 112,3 97,21 145,08 87,34 106,06 18 Ploso 100,62 115,66 125,33 100,31 110,48 96,98 112,43 19 Sumobito 114,93 115,82 153,71 91,03 118,87 147,42 116,9 20 Tembelang 128,93 104,89 117,35 97,76 112,23 131,86 115,16 21 Wonosalam 177,04 107,14 180,63 111,94 144,19 81,01 101,75 Biaya Produksi Peternakan Perikanan Indeks yang Diterima Petani (It) Konsumsi RT No Kecamatan Tanaman Bahan Makanan Perkebunan 106,66 114,13 124,35 115,71 115,36 101,51 108,46 128,86 114,14 115,7 113,39 94,81 113,46 128,12 99,06 110,65 112,27 108,53 114,44 143,36 79,25 115,35 120,73 93 112,12 112,99 111,14 103,34 107,79 120,93 109,43 114,44 100,95 114,2 109,11 105,3 110,04 133,24 97,21 114,99 133,51 88,97 106,66 101,67 130,34 111,73 125,49 89,31 106,06 96,7 150,03 112,43 104,7 105,51 116,9 132,16 89,95 115,16 123,51 90,87 101,75 91,38 157,79 Indeks yang Dibayar Petani (Ib) NTP
Secara grafis, Nilai Tukar Petani (NTP) pada masing
Kecamatan di Kabupaten Jombang dapat dilihat pada gambar di bawah ini :
Gambar 5.3. Grafik Nilai Tukar Petani (NTP) Kecamatan Tahun 2012
Secara grafis, Nilai Tukar Petani (NTP) pada masing-masing Kecamatan di Kabupaten Jombang dapat dilihat pada gambar di
5.5. Indeks diterima Petani Kecamatan(lt)
Hasil perhitungan Indeks Diterima Petani setiap kecamatan Tahun 2012 menunjukkan hasil rataan dari indeks
(empat) subsektor pertanian. Untuk subsektor tanaman bahan makanan tersebut kecamatan yang paling baik adalah Wonosalam dan Diwek dengan angka indeks antara 177,04 177,89 sedangkan angka indeks terendah untuk sub sektor ini adalah Kecamatan Ploso dengan angka indeks sebesar 100,62. Subsektor tanaman perkebunan rakyat memiliki angka rata indeks yang baik, hal ini ditunjang oleh tata niaga tebu yang semakin baik dan perkebunan tembakau yang memberikan kontribusi yang cukup besar bagi pendapatan petani yakni indeks 265,33 untuk kecamatan Plandaan. Subsektor peternakan juga sudah mampu memberikan sumbangan angka indeks yang cukup baik bagi petani dibandingkan tahun 2011 lalu, sektor ini hanya menyumbangkan indeks tertinggi sebesar 207,78 untuk kecamatan Diwek, dan terendah 102,13 untuk kecamatan Bareng dari sektor peternakan. Subsektor perikanan belum mampu memberikan kontribusi yang baik bagi petani, sektor ini hanya memberikan angka indeks yang tinggi sebesar 116,68 di Kecamatan Mojowarno.
Hasil perhitungan Indeks Diterima Petani setiap kecamatan Tahun 2012 menunjukkan hasil rataan dari indeks-indeks 4 (empat) subsektor pertanian. Untuk subsektor tanaman bahan makanan tersebut kecamatan yang paling baik adalah osalam dan Diwek dengan angka indeks antara 177,04 – 177,89 sedangkan angka indeks terendah untuk sub sektor ini adalah Kecamatan Ploso dengan angka indeks sebesar 100,62. Subsektor tanaman perkebunan rakyat memiliki angka rata-rata ni ditunjang oleh tata niaga tebu yang semakin baik dan perkebunan tembakau yang memberikan kontribusi yang cukup besar bagi pendapatan petani yakni indeks Subsektor peternakan juga sudah mampu memberikan sumbangan angka indeks yang cukup baik bagi petani dibandingkan tahun 2011 lalu, sektor ini hanya menyumbangkan indeks tertinggi sebesar 207,78 untuk kecamatan Diwek, dan terendah 102,13 untuk kecamatan eng dari sektor peternakan. Subsektor perikanan belum mampu memberikan kontribusi yang baik bagi petani, sektor ini hanya memberikan angka indeks yang tinggi sebesar 116,68 di
Di antara keempat angka indeks yang diterima petani, indeks subsektor perkebunan memiliki angka indeks terbesar. Sumbangan terbesar dari angka indeks perkebunan, yakni dengan indeks 265,33 untuk kecamatan Plandaan, kemudian disusul oleh indeks peternakan dengan indek 207,78 di kecamatan Diwek, indeks tanaman bahan makanan dan indeks perikanan.
Peningkatan yang terjadi pada subsektor tanaman perkebunan tersebut dipengaruhi oleh faktor harga tembakau dan tebu yang stabil dengan tata niaga yang lebih baik. Subsektor tanaman perkebunan seperti tembakau merupakan salah satu tanaman unggulan Kabupaten Jombang, khususnya di wilayah bagian utara (seperti: Plandaan dan Kabuh).
5.6. Indeks Dibayar Petani Kecamatan
Perhitungan indeks yang dibayar petani meliputi konsumsi rumahtangga, biaya produksi dan penambahan barang modal. Untuk konsumsi rumahtangga dibedakan konsumsi makanan, minuman dan konsumsi non makanan. Konsumsi non makanan meliputi konsumsi untuk perumahan, pakaian, kesehatan, dan transportasi. Sementara untuk biaya produksi dan penambahan barang modal dibedakan atas subsektor pertanian (tanaman Di antara keempat angka indeks yang diterima petani, s subsektor perkebunan memiliki angka indeks terbesar. Sumbangan terbesar dari angka indeks perkebunan, yakni untuk kecamatan Plandaan, kemudian disusul oleh indeks peternakan dengan indek 207,78 di n makanan dan indeks
Peningkatan yang terjadi pada subsektor tanaman perkebunan tersebut dipengaruhi oleh faktor harga tembakau dan tebu yang stabil dengan tata niaga yang lebih baik. Subsektor tanaman perkebunan seperti tembakau merupakan h satu tanaman unggulan Kabupaten Jombang, khususnya di wilayah bagian utara (seperti: Plandaan dan Kabuh).
Perhitungan indeks yang dibayar petani meliputi konsumsi rumahtangga, biaya produksi dan penambahan barang modal. Untuk konsumsi rumahtangga dibedakan konsumsi makanan, minuman dan konsumsi non makanan. Konsumsi non makanan n, pakaian, kesehatan, dan Sementara untuk biaya produksi dan penambahan barang modal dibedakan atas subsektor pertanian (tanaman
bahan makanan, tanaman perkebunan rakyat, petemakan, dan perikanan).
Tabel 5.5 menunjukkan bahwa indeks yang di
masing-masing kecamatan secara keseluruhan masih lebih tinggi jika dibandingkan dengan indeks yang diterima petani. Indeks tersebut merupakan rataan dari indeks konsumsi rumah tangga, dan indeks biaya produksi dan penambahan barang modal.
Diantara indeks yang dibayar petani, indeks konsumsi rumah tangga memiliki angka yang lebih tinggi daripada indeks biaya produksi dan penambahan barang modal. Hal ini menunjukkan bahwa harga barang-barang konsumsi rumah tangga mengalami kenaikan yang nyata dibandingkan biaya produksi dan penambahan barang modal.
5.7. Pendapatan Rumah Tangga Petani
Berdasarkan hasil survey yang dilakukan terhadap petani responden , pendapatan rumah tangga petani rata
Rp. 36.263.943,00 pertahun atau sekitar Rp.3.021.995,00 per bulan. Petani sub sektor tanaman perkebunan rakyat memiliki tingkat pendapatan yang lebih tinggi dibandingkan dengan subsektor lainnya. Tercatat pendapatan petani subsektor ini bahan makanan, tanaman perkebunan rakyat, petemakan, dan
Tabel 5.5 menunjukkan bahwa indeks yang dibayar petani masing kecamatan secara keseluruhan masih lebih tinggi jika dibandingkan dengan indeks yang diterima petani. Indeks tersebut merupakan rataan dari indeks konsumsi rumah tangga, dan indeks biaya produksi dan penambahan barang modal.
tara indeks yang dibayar petani, indeks konsumsi rumah tangga memiliki angka yang lebih tinggi daripada indeks biaya produksi dan penambahan barang modal. Hal ini barang konsumsi rumah andingkan biaya
Berdasarkan hasil survey yang dilakukan terhadap petani responden , pendapatan rumah tangga petani rata-rata adalah Rp.3.021.995,00 per perkebunan rakyat memiliki tingkat pendapatan yang lebih tinggi dibandingkan dengan subsektor lainnya. Tercatat pendapatan petani subsektor ini
mencapai Rp. 52.279.036,00 per tahun. Sedangkan petani sub sektor tanaman pangan mendapatkan pendapatan terendah yaitu Rp. 13.221.983 per tahun. Sedangkan pendapatan untuk sub sektor holtikultura, peternakan dan perikanan dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 5.6
Pendapatan Rumah Tangga Petani Kabupaten Jombang
13.221.983 32.310.000 52.279.036 42.828.698 40.680.000 0 10.000.000 20.000.000 30.000.000 40.000.000 50.000.000 60.000.000
Tanaman Pangan Holtikultura Tanaman Perkebunan Rakyat
Peternakan Perikanan
Tanaman Pangan Holtikultura Tanaman Perkebunan Rakyat Peternakan Perikanan Pendapatan Rata
Sumber: Data survey, diolah
Besar kecilnya pendapatan dipengaruhi oleh banyak hal termasuk diantaranya luas lahan, kepemilikan alat produksi, sumber permodalan, teknologi yang digunakan, penguasaan pasar dan sebagainya. Relatif tingginya pendapatan dari sub sektor tanaman perkebunan rakyat utamanya dipengaruhi oleh kepemilikan lahan yang luas, harga komoditi yang relatif tinggi mencapai Rp. 52.279.036,00 per tahun. Sedangkan petani sub sektor tanaman pangan mendapatkan pendapatan terendah yaitu Rp. 13.221.983 per tahun. Sedangkan pendapatan untuk sub sektor holtikultura, peternakan dan perikanan dapat dilihat
Pendapatan Rumah Tangga Petani Kabupaten Jombang tahun 2012
40.680.000
36.263.943
Pendapatan Rata-rata Pendapatan Rata-rata
Besar kecilnya pendapatan dipengaruhi oleh banyak hal termasuk diantaranya luas lahan, kepemilikan alat produksi,