• Tidak ada hasil yang ditemukan

KAJIAN SEMIOTIK

4.2 Kajian Teks Katoneng-katoneng

Teks katoneng-katoneng Tegun Sukut

Bentuk: A

Dage kalimbubu kami enterem

dibata idah kami la pilihi kami bas warina si sekale, wari si muli wari sisalang sai

Terjemahan:

Wahai kalimbubu kami semua

yang kami muliakan dengan segala hormat dengan tidak pandang bulu

pada hari yang baik,

hari yang tenang dan cerah ini

Pada Bentuk. A, penyebutan dibata idah kepada pihak kalimbubu merupakan satu bentuk relasi antara penanda dan petanda, demikian jika dikaji dari semiotik Saussure. Kalimbubu adalah sebagai wujud fisik dikategorikan penanda (Signifier) sedangkan dibata idah adalah suatu konsep atau nilai-nilai yang terkandung di dalamnya, sebagai Petanda (Signified). Pengertian dibata idah secara harafiah, tuhan yang tampak/ kelihatan. Posisi kalimbubu di dalam konsep kekerabatan masyarakat Karo sangat dihormati dan dimuliakan. Sehingga posisinya dianggap sebagai tuhan yang berada di dunia ini.

Bentuk: B

Pulung kita taneh Sukanalu simalam e, Kalimbubu dibata idah kami

Tarigan mergana, Milala mergana, Pandia mergana Ginting mergana, Tambar malem

Terjemahan:

kita berkumpul di kampung Sukanalu yang damai ini kalimbubu yang sangat kami hormati,

marga Tarigan, marga Milala, marga Pandia, marga Ginting, marga Perangin-angin

Bentuk: C

kalimbubu kami merga si empat, puang kalimbubu kami merga silima puang nupuang kami Ia erpilih

Terjemahan:

kalimbubu kami siempat marga puang kalimbubu kami silima marga puang nupuang kami seluruhnya

Pada bentuk C, seluruh teks merupakan simbol atau tanda. Menurut Whitehead (1928), setiap tindak persepsi tak langsung merupakan simbol (cf. Tanda 1.3.3). Seccara lebih umum, ahli neurosemiotik telah menguraikan simbol sebagai instrumen kognisi (cf. Laughlin & Stephens 1980: 327) Dalam defenisi seperti itu, simbol merupakan sinonim tanda.

Bentuk: D

Terinda ibas kesadan arih kami sukut Karo mergana, Karo mergana, Karo mergana ningen Sitepu

Sitepu mergana sitimah sada penuangen gelang sada teriken

Terjemahan:

tampaklah pada kesatuan kumpulan sukut marga Karo-karo

marga Karo-karo Sitepu marga Sitepu yang selalu bersatu rukun dan damai

Pada bentuk D diakhir kalimat, Sitepu mergana sitimah sada penuangen gelang sada tarikan. Secara harafiah terjemahannya, seluruh marga Sitepu satu cetakan timah dan satu set perhiasan gelang.

Kajian semiotik Pierce, Sitepu mergana sitimah sada penuangen gelang sada tarikan adalah bagian tanda yang dapat dipersepsikan sehingga dapat disebut sebagai Representamen (R), sebagai Object (O) adalah marga Sitepu yang bersatu padu kuat dan rukun, sedangkan sebagai Interpretant (I) adalah marga Sitepu yang menjadi

Kajian semiotik Saussure pada kalimat tersebut, Sitepu mergana dikategorikan sebagai Penanda (Signifier) sedangkan sitimah sada penuangen gelang sada tariken sebagai Petanda (Signified).

Kajian semiotik Barthes pada kalimat tersebut dilihat sebagai konsep Relasi (R) antara Expression (E)- Penanda dan Content/ isi (C)- Petanda.

Bentuk: E

Ija bas lias, kuah ate Dibata Bapa mama impal, Seh kepe toto sini toto kendu Masinkepe ranan bi belas kenndu Nandangi kamimanuk mbulandu

Terjemahan:

dimana atas kemurahan Tuhan Allah mama impal

Terkabul sudah doa yang kau panjatakan Tepat seperti yang pernah kau ucapkan Kepada kami anak berumu

Kata masin dan manuk mbulan ( terjemahan: asin dan ayam putih), adalah dua kata menandai simbol (metafora). Asin pada kalimat lagu tersebut bermakna tepat atau mantap, sedang kata ayam putih melambangkan anak beru yang lincah, cekatan dan bertanggung jawab.

Menurut Ricoeur, “ ada simbol dimana bahasa menghasilkan tanda majemuk yang maknanya tidak puas atas penandaan sesuatu, menandakan arti lain yang hanya bisa diwujudkan oleh dari organisasi internalnya” (1965: 25)

Selanjutnya dalam Criticue of Judgement (1790), Kant mendefinisikan simbol sebagai “ representasi tak langsung konsep melalui media analogi” (cf. Sejarah 3.4.4). Dalam Philosophy of Fine Art-nya (1817: 11, 8-9), Hegel

mempertentangkan simbol dengan tanda arbitrer, dimana “ ikatan antara signifikasi dan tanda merupakan salah satu ketidakacuan” atau dimana tidak ada “ hubungaan penting antara sesuatu yang ditandakan dengan modus pengungkapnya”.

Bentuk: F

Ibas kami kite-kite dalanta pulung mengketi rumah jabu simbaru bekas biakpande namuraerbahan

Terjemahan:

Kami buat cara supaya kita dapat berkumpul Memasuki rumah yang baru

Yang telah selesai dibangun tukang yang terbaik

Dengan menggunakan teori semiotik Pierce Bentuk F dapat dianalisa sebagai berikut;

Repesentamen ((R): Kami buat cara supaya kita dapat terkumpul

Memasuki rumah yang baru yang telah selesai dibangu tukang yang terbaik. Object (O): masuk rumah baru, Interpretant (I) menyenangkan, bersyukur.

Bentuk: G

enggo adi bagei kami percakapen arih ibas tengah jabu kami kalimbubu kami merge siempat puangkalimbubu merga silima ilebuh kami anak beru kami

sebab e ngealeng-alengkami siperlebe-lebe kami

Terjemahan:

Kalau menurut pembicaraan kami

Ditengah keluarga kami , kalimbubu kami

Siempat marga puang kalimbubu kami silima marga Kami bermusyawarah dengan anak beru kami Karena dialah perantaan kami , utusan kami Pembicaraan kami , marga Karo-karo

Bentuk G dalam teks katoneng-katoneng secara utuh dapat dikaji melalui semiotik :

 Pierce: Representamen (R) adalah

seluruh kalimat G, sebagai Object (O) adalah anak beru dan sebagai Interpretant (I) “ semua pekerjaan akan diselesaikan dengan baik dan penuh tanggung jawab”

 Barthes: konsep Konotasi, dimana

menjelaskan hubungan penanda dan petanda pada realitas, menghasilkan makna tidak eksplisit, tidak langsung dan tidak pasti.

Aleng-aleng adalah kata benda berarti tempat/wadah seperti ember atau tempayan tempat lauk pauk. Kata ini bermakna simbolis atau perlambang dimana anak beru adalah wadah dimana segala hal pekerjaan bisa ditampung dan diselesaikana dengan baik dan bertanggung jawab.

Bentuk: H

emaka isungkun kami katandu kam kalimbubu ras puang,

ipenggurui kami kam lalap rasa lalap maka ula teridah kami Ia beluh

mama, mami , impal, silih nina turangku Terjemahan:

Oleh sebab itu kami selalu bertanya kepadamu Kalimbubu dan puang

Kami selalu belajar darimu Supaya kami tidak bodoh

Mama , mami , impal, silih kata turangku

Dengan menggunakan teori semiotik Pierce Bentuk H dapat dianalisa sebagai berikut; Repesentamen ((R): Oleh sebab itu kami selalu bertanya kepadamu kalimbubu dan puang, kami selalu belajar darimu, supaya kami tidak bodoh, mama, mami, impal, silih nina turangku. Object (O): minta pengarahan/ petunjuk, Interpretant (I) anak beru yang rendah hati dan bertanggung jawab.

Bentuk: I

bas si enggo menda,

ibas pemena tanggalna tanggal sada bulanna bulan siwah, de tahunna tahun sada siwah siwah sada

pulung kita taneh sukanalu enda Dibata idah sila erpilih

Terjemahan: Pada hari ini

Pada awal tanggal satu Bulannya bulan sembilan

Tahunnya Satu sembilan sembilan satu Kita berkumpul di Sukanalu ini

Wahai Kalimbubu yang kami muliakan Bentuk: J

Ija ibas kita mengketi rumah simbaru

rumah silindungen bulan sendi gading kurung manik enda sebab ibas erpenggurun kami karina man bandu

Dibata idah kami ras puang, karina Pengendesenta Dibata Bapa simada kuasa Terjemahan:

Dimana dalam memasuki rumah yang baru

Rumah silindungen bulan sendi gading kurung manik ini Sebab seperti apa yang telah kami pelajari darimu Kalimbubu dan puang kami semua

Kita harus menyerahkanya kepada Tuhan Yang Maha Esa

Ferdinand de Saussure dengan istilah Penanda (Signifier) dan Petanda (Signified). Maka pada bentuk J dalam kalimat lagu katoneng-katoneng yang menjadi Penanda (Signifier) adalah rumah yang baru, dengan kata lain adalah wujud fisik rumah itu sendiri. Sedangkan Petanda (Signified) adalah rumah silindungen bulan sendi gading kurung manik enda satu istilah yang mengandung nilai, konsep dan fungsi rumah yang kokoh, baik, teduh, dan menjadi tempat perlindungan yang nyaman.

Bentuk: K

Jei maka erkite-kite kiniteken Ibas tengah-tengah jabu kami

Ilebuh menda serayaan Tuhan sierdahina Ibereken kata-kata Dibata

si erkelangken pustakaNa Sibadia emaka runggun gereja nge simenaken kerna mengket rumah jabu simbaru enda bagi enggo ndai nisaksiken sangkep nggeluh Terjemahan:

Dan karena kepercayaan dalam keluarga kami Maka dipanggillah hamba Tuhan

Untuk menyampaikan firman Tuhan Melalui kitab injil

Oleh sebab itu hamba Tuhanlah yang melaksanakan Acara memasuki rumah baru ini

Bentuk K pada kalimat lagu katoneng-katoneng jika dikaji lewat semiotik Pierce maka sebagai Representamen (R) adalah keseluruhan teks kalimat lagu pada bentuk K. Sedangkan Object (O) adalah hamba Tuhan/ pengurus gereja. Dan sebagai Interpretant (I) sempurnalah acara kerja mengket rumah tersebut karena sudah diawali dengan acara liturgi gereja.

Bentuk: L

e ijenari, mindo ketunggungen me kami nandangi kam kerina kalimbubu tua, kalimbubu bena, kalimbubu sierkimbang siniperdemui mama impal

Terjemahan:

Dan disini kami mohon restu kepada seluruh kalimbubu tua , kalimbubu bena ,

Kalimbubu simada dareh , kalibubu simupus , Kalimbubu sierkimbang , siniperdemui mama impal

Bentuk L pada kalimat lagu katoneng-katoneng jika dikaji lewat semiotik Pierce maka sebagai Representamen (R) adalah keseluruhan teks kalimat lagu pada bentuk L. Sedangkan Object (O) adalah mohon restu . Dan sebagai Interpretant (I) sebuah gambaran etitud yang baik dan benar.

Bentuk: M

adi bagei beloh kami lit lanaime kurangi kami

tapi entah ijakin gia si tadingna labo kami mekarus

sebab enggo iangkandu gedang gedek ukur kami tadingken Bapa ndube ras nande bring ndube Terjemahan:

Beginilah keberadaan kami apa adanya Tapi bila ada kekurangan / kesalahan Bukanlah kami sengaja

Sebab kamu pun sudah tahu akan keberadaan kami Yang telah ditinggalkan ayah dan ibu beru biring

Bentuk M pada kalimat lagu katoneng-katoneng jika dikaji lewat semiotik Pierce maka sebagai Representamen (R) adalah keseluruhan teks kalimat lagu pada bentuk L. Sedangkan Object (O) adalah permintaan maaf . Dan sebagai Interpretant (I) sebuah gambaran etitud yang baik dan benar.

Bentuk: N

emaka entah ija gia kari kurang lebih pengaturken manuk mbulan kami ersembahkel ujung jari kami bas nehekami nari ku takal kami Terjemahan:

Oleh sebab itu jika ada kekurangan

Dalam hal penyambutan kami anak berumu Kami menyembah dengan ujung jari kami Dari kaki kami hingga kepala kami

Bentuk N pada kalimat lagu katoneng-katoneng jika dikaji lewat semiotik Pierce maka sebagai Representamen (R) adalah keseluruhan teks kalimat lagu pada bentuk L. Sedangkan Object (O) adalah permintaan maaf . Dan sebagai Interpretant (I) sebuah gambaran etitud yang baik dan benar.

Bentuk: O

ula me kari taktaki kekurangen-kekurangen kami sangkep kami nggeluh

tapi marilah dage kerja simetunggung simeparas enda ngena ate manusia

terlebih-lebih ngena ate Dibata uga ningku deba bapa Karo mergana kam enggo tading ei ras nande biring ndube bage kange nina Karo merganei

lit erbeluh erkelangken babah sora dilah beru Tarigan ras kalimbubu sial erpilih Terjemahan:

Janganlah lihat kekurangan-kekurangan kami Saudara kami semua

Tapi biarlah pesta yang agung dan Mulia ini dapat kita nikmati

Terlebih-lebih sesuai dengan kehendak Tuhan

Apalagi yang harus kuucapkan bapa Karo mergana (almarhum) Kamu sudah mendahului kami bersama ibu beru sembiring Begitulah rupanya kata Karo mergana

Ada pesan melalui ucapan

Beru Tarigan (perkolong-kolong) dan seluruh kalimbubui

Bentuk O pada kalimat lagu katoneng-katoneng melalui kajian semiotik Pierce maka sebagai Representamen (R) adalah seluruh rangkaian teks bentuk O. Sebagai Object (O) adalah permintaan maaf anak beru. Dan sebagai Interpretant (I) etitud yang baik dari anak beru yang sangat menjunjung tinggi kalimbubunya.

Bentuk: P

enggo labo bagei bapa teman senina bapana enterem ku tadingken nindu ndubei karo mergana

enggo labo bagei bapa turang nandena Karo mergana Ia erpilih beru Karo la erndobahen nindu nandei beru Biring Beru biring beru Milala

Adi teridah gelah kam karina I lebe-lebe kalimbubu ras puang Singasup ndalanken kehormaten

Kehormatan nandangi nandendu beru Pandia Amin enggo pe metua batang daging ibabana Ngasup nge ia nerangi ukurndu sigelap denga Bagei kange kuakap nina Karo mergana

Terjemahan:

Jadi beginilah bapa turang nandena (anakku) Semua Karo mergana dan beru Karo seluruhnya Kata ibu beru Biring beru Milala

Agar semua kalian terpandang

Ditengah-tengah kalimbubu dan puang Yang mampu menjaga nama baik kita Nama baik ibumu beru Pandia

walaupun ia sudah tua renta

tapi masih sanggup menerangi pikiranmu yang sedang kusut (gelap)

begitulah kira-kira menurutku (perkolong-kolong) pesan Karo mergana (almarhum) pemain gendang yang pendek-pendek dan lincah

Bentuk P pada teks kalimat lagu katoneng-katoneng ini jelas sekali bagaimana terlihat hubungan Penanda dan Petanda. Barthes menggunakan istilah Denotasi dimana hubungan keduanya menghasilkan makna eksplisit, langsung dan pasti. Hal ini diperkuat dengan konsep Relasi (R) dimana Ekspression (E) sebagai Penanda, sangat berkaitan dengan Content/ isi (C) sebagai Petanda. Hal ini diperkuat oleh Halliday salah satu tokoh semiotik bahasa. Istilah Denotatif yakni mengkaji tanda-tanda bahasa dalam makna sesungguhnya.

Bentuk: Q

Emaka ibas gendang sipemenan enda tanda enggo metunggung karina Karo mergana ras kemberahenna Enggo kita landek ngelandakken Genda jumpa malem

Maka malem gelah karina teta nggeluh Karna nggeluh kami bagi taneh pertibi enda e kugange isuraken bag gelah man pendapaten tanda ersangap tada erdolat Karo mergana Karo mergana ningen Sitepu

oleh sebab itu pada gendang yang pertama ini adalah pertanda kesempurnaan semuanya marga Karo-karo bersama istri-istrinya kita sudah menarikan gendang jumpa malem supaya kita selalu hidup dengan damai dan menempuh hidup diatas dunia ini

dan apa yang kita cita-citakan hendaknya tercapai yang berarti tandanya murah rejeki

Karo mergana Karo-karo Sitepu

Bentuk Q pada teks kalimat lagu katoneng-katoneng juga sama kajian semiotiknya dengan bentuk P sebelumnya. Kajian semiotika Barthes dan Halliday dapat mengungkap makna teks.

Bentuk: R

Emaka kalimbubu tatap kami karina anak berundu ei Ilebe-ilebendu ampang-ampang angindu meter ei Enggo kap karina metunggung meparas

lalit kekurengenna Terjemahan:

Wahai kalimbubu lihatlah kami semua anak berumu Dihadapanmu yang menjadi perisai penahan topan Semuanya sudah sempurna

Tak ada kekurangannya

Istilah ampang-ampang angindu meter ei yang terjemahan bebasnya adalah perisai penahan topan, mengandung makna simbolik (metafora) yang artinya sebagai anak beru siap melaksanakan tugas walau seberat apapun demi terselenggaranya kerja dengan baik.

Bentuk: S

cinta-cinta gelah sari mendapet erpudun sibatang jera

e kugange i pita bagei gelah kari dapet pulung kita bagenda mama Karo

anak sintua ndai pe enggo malem penakitna jenda nari kupundi Karo mergana

Terjemahan:

Maka jadilah hendaknya Seperti apa yang dicita-citakan Cinta-cinta gelah sari mendapet Erpudun sibatang jera

Apa yang dicita-citakan Hendaknya dapat tercapai

Disini kita berkumpul mama Karo

Anak yang sulung pun sudah sembuh penyakitnya Dari sekarang hingga seterusnya Karo mergana

Jika dilihat dari terjemahan Bentuk S pada teks Cinta-cinta gelah sari mendapet Erpudun sibatang jera, maka menurut kajian semiotik Roland Barthes konsep Relasi (R) dimana Exspression (E) sebagai Penanda dan Content/ isi (C) sebagai Petanda, maka istilah Konotasi yang paling tepat untuk menjelaskan hubungan Penanda dan Petanda pada realitas , menghasilkan makna tidak eksplisit, tidak langsung dan tidak pasti. Selanjutnya jika memakai kajian semiotika Halliday, istilah Konotatif yang paling sesuai untuk kalimat lagu tersebut, karena mengkaji tanda-tanda dalam makna di luar sesungguhnya.

Bentuk: T

eimaka kalimbubu

sebaba gendang sipemenan enda ndai nina turangna Tarigan mergana sila kusilap pembegingku

landek kerina sukut nitaruhken kam kalimbubu si enggo dung ilebe anak beru anak Karo mergana,

banci nge ku akap surut-surut kam sukut Sitepu mergana ras kemberahenna Maka iasak kalimbubu janah itaruhkenna Kam kujabu amak ingan ndu kundul Terjemahan:

Kepada kalimbubu

Oleh karena gendang pemula ini Kata turang marga Tarigan (protokol) Kalau tidak silap pendengaranku

Semua sukut menari yang dihantarkan oleh kalimbubu Yang telah selesai dihadapan anak beru dan Karo mergana Dalam gendang menghantarkan anak beru

Yang telah selesai berpakaian adat

Sekarang kamu sudah boleh kembali menempati tempat duduk

Pada Bentuk T kalimat lagu katoneng-katoneng jika dikaji melalui teori Barthes, maka dikategorikan dengan istilah Denotasi. Dan bila memakai konsep Relasi (R), maka sebagai Expression (E) yakni Penanda adalah anak beru sedangkan Content/ isi (C) adalah kalimbubu menghantarkan sukut yanag menjadi anak berunya kembali ke tempatnya semula karena gendang yang pertama sebagai pengiring mereka menari sudah berakhir.

Bentuk: U

Bagem dage kalimbubu merga siempat Puang merga silima

Asak manjar-manjar anak berunduei Itaruhken gelah ia kubas jabuna

Adi lit lagu terteren em ban kaka penggual penarune Maka erlancarna perlandek

Terjemahan:

Demikianlah kalimbubu siempat marga Puang silima marga

Desak pelan-pelan anak berumu (dalam hal menari) Hantarlah ia ketempatnya

Mainkanlah segera abang penggual penarune (pemusik) Supaya acara menari ini lebih lancar dan meriah

Pada bagian akhir lagu katoneng-katoneng yakni bentuk U, terlihat jelas bagaimana Relasi (R) atara Penanda Expression (E) dan Petanda ( Content/ isi. Sehingga konsep dan kajian semiotika Barthes ini menjelaskan hubungan Penanda dan Petanda pada realitas, menghasilkan makna eksplisit, langsung dan jelas maka dikategorikan kedalam Denotasi.

Dokumen terkait