DALAM PEMBELAJARAN BAHASA INGGRIS
KAJIAN TEORI
Berbicara tentang kearifan lokal membawa kita pada kenyataan beranekaragamnya budaya dan tradisi yang dimiliki oleh bangsa Indonesia yang terdiri dari ribuan suku bangsa, berikut dengan adat istiadat, budaya, dan agama yang berbeda-beda. Setiap daerah memiliki budaya dan ciri khas tersendiri yang mungkin tidak ditemukan di daerah lain di negeri ini termasuk kearifan lokalnya masing-masing.
Kearifan lokal (local wisdom) dapat diartikan sebagai nilai-nilai yang diwarisi secara turun temurun dan menjadi suatu kebenaran dalam suatu komunitas atau masyarakat tertentu. Menurut Kamonthip & Kongprasertamorn (2007), karakteristik kearifan lokal di antaranya (1) mengajarkan etika dan nilai-nilai moral, (2) pengetahuan yang mengajarkan orang untuk mencintai alam, bukan merusaknya, (3) bersumber dari nenek moyang suatu masyarakat tertentu. Sedangkan Kartawinata (2011) melihat kearifan lokal sebagai perwujudan ketahanan dan kemampuan untuk menumbuhkan pandangan hidup, pengetahuan, dan strategi-strategi kehidupan dalam berbagai kegiatan di masyarakat lokal untuk memecahkan masalah kebutuhan hidup mereka sambil melindungi kebudayaan itu sendiri.
47
Keberagaman suku, agama, ras dan budaya di setiap daerah di Indonesia yang melahirkan nilai-nilai kearifan lokal menjadi hal yang menarik jika dihubungkan dengan pendidikan sebagai upaya memupuk persatuan dan kesatuan bangsa di tengah kebhinnekaan. Pendidikan menanamkan semangat untuk membangun toleransi di dalam kemajemukan yang berbeda cara pandang, cara berpikir, cara bertindak, dan seterusnya (Yamin, 2011).
Atas dasar itulah, Peraturan Menteri Pendidikan Nomor 22 tahun 2006 tentang Standar Isi kemudian menyatakan bahwa muatan lokal dan kegiatan pengembangan diri merupakan bagian integral dari kurikulum pendidikan dasar dan menengah. Oleh sebab itu, setiap satuan pendidikan perlu menentukan jenis muatan lokal yang disesuaikan dengan ciri khas dan potensi daerah. Standar Isi yang disusun secara terpusat tidak dapat mengakomodasi beranekaragam jenis muatan lokal yang dilaksanakan di setiap daerah, maka otoritas atau kewenangan daerahlah yang mampu menghidupkan muatan lokal sebagai sebuah kakayaan lokal daerah masing-masing. Di provinsi Lampung sendiri, pemerintah provinsi telah menetapkan bahasa daerah Lampung menjadi muatan lokal yang harus dipelajari siswa pendidikan dasar dan menengah. Namun muatan lokal saja tidak cukup efektif untuk menjaga kearifan lokal Lampung. Internalisasi kearifan lokal Lampung dalam berbagai mata pelajaran dapat menjadi solusi.
Menyisipkan kearifan lokal Lampung dalam pembelajaran bahasa Inggris menjadi suatu metode untuk ikut serta menjaga dan melestarikan potensi tradisi dan budaya. Berbagai penelitian telah dilakukan dengan memasukkan kearifan lokal dalam pembelajaran bahasa Inggris; seperti yang telah dilakukan oleh Owon (2017), Yamin dkk (2016), dan Suciani dkk (2012). Dalam penelitiannya, Owon (2017) mengembangkan bahan ajar menulis berbagai jenis teks yang bertemakan kearifan lokal daerah Sikka, NTT bagis siswa SMP. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa sebagian besar siswa mampu meningkatkan keterampilan menulisnya dengan tetap menjaga kearifan lokal Sikka.
Sedangkan Yamin dkk (2016) melakukan penelitian di SMPN di Banjarmasin mengenai pembelajaran bahasa Inggris yang berkearifan lokal. Penelitian tersebut menghasilkan temuan bahwa SMPN di Banjarmasin telah mengkaitkan nilai-nilai kearifan lokal yang berhunungan dengan pelestarian sungai dan beberapa tradisi masyarakat Banjarmasin. Nilai-nilai luhur kearifan lokal Banjarmasin sangat dihargai oleh para siswa sebagai generasi muda penerus bangsa.
Sementara Suciani dkk (2012) mengemukakan bahwa melalui pendekatan kontekstual yang mengangkat budaya Bali dalam pembelajaran bahasa Inggris tingkat SD sangat efektif. Siswa mampu memahami pengetahuan bahasa Inggris tanpa terbebani dengan budaya asing. Pengaitan proses pembelajaran dengan kehidupan sosial budaya siswa sehari-hari berdampak positif pada ketercapaian siswa.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Penggunaan Teks Fungsional Panjang yang Mengandung Kearifan Lokal Lampung
Kearifan lokal masyarakat Lampung yang dimasukkan dalam teks fungsional panjang atau esai dalam pembelajaran bahasa Inggris menjadi suatu solusi pelestarian kearifan lokal Lampung. Teks fungsional panjang atau teks esai berdasarkan kearifan lokal masyarakat Lampung yang digunakan dalam pembelajaran bahasa Inggris meliputi teks naratif, teks deskriptif, teks recount, dan teks prosedur.
48 1. Teks Naratif
Teks naratif merupakan teks esai yang berupa cerita dan bertujuan untuk menghibur pembaca/ pendengar. Struktur kebahasaannya adalah Orientasi, Komplikasi, dan Resolusi. Orientasi merupakan pengenalan karakter dan latar dari cerita, sedangkan bagian Komplikasi berisi masalah atau problem yang dihadapi oleh karakter dalam cerita. Pemecahan masalah atau solusinya dapat ditemukan di bagian terakhir yang disebut Resolusi. Bentuk teks naratif dapat berupa dongeng, fable ataupun cerita-cerita rakyat. Cerita-cerita ini biasanya mengandung pesan moral tertentu yang dapat dikaitkan dalam kehidupan kita.
Teks naratif yang digunakan dalam kajian ini berupa cerita rakyat yang berasal dari provinsi Lampung seperti “Asal Usul Kota Bumi”, “Asal Usul Way Linti”, “Asal Usul Kota Lampung”, dan sebagainya. Cerita-cerita ini dimaksudkan agar siswa dapat mengenal legenda atau cerita rakyat dari Lampung sekaligus mengambil nilai moral yang terkandung dalam cerita.
2. Teks Deskriptif
Teks deskriptif merupakan teks yang memberikan gambaran atau mendeskripsikan sesuatu secara khusus seperi deskripsi orang, tempat maupun kesenian tertentu. Teks ini bertujuan untuk memberikan gambaran secara khusus tentang sesuatu hal. Struktur dari teks deskriptif meliputi Identifikasi dan Deskripsi. Identifikasi merupakan bagian pengenalan yang menyebutkan hal apa yang akan dibahas atau dideskripsikan.
Dalam kajian ini, teks deskriptif yang digunakan berupa deskripsi tradisi atau adat Lampung tertentu, tarian tradisional, maupun tempat-tempat wisata khas Lampung. Contohnya: deskripsi tentang “Tari Cangget”, deskripsi falsafah hidup“Piil Pesenggiri” yang menjadi salah satu kearifan lokal Lampung (Syani, 2013), deskripsi tentang Adat Mepadun, maupun deskripsi tradisi Lampung lainnya atau tempat wisata khas Lampung.
3. Teks Recount
Teks recount merupakan teks yang menceritakan pengalaman seseorang maupun suatu kejadian secara runtut. Struktur bahasa dari teks ini yaitu Orientastion, Events, dan Closing atau Reorientation. Sama seperti halnya naratif, bagian Orientasi berisi pengenalan karakter dan waktu serta tempat kejadian. Sedangkan Events berisi kejadian-kejadian yang diceritakan secara runtut. Bagian terakhir merupakan penutup.
Teks recount yang digunakan berupa cerita pengalaman seseorang setelah berkunjung ke tempat-tempat wisata khas provinsi Lampung seperti Taman Nasional Way Kambas, Menara Siger, Teluk Kiluan, dan masih banyak lagi. Cerita pengalaman dalam teks ini juga dapat berupa pengalaman menyaksikan sebuat adat atau tradisi Lampung maupun mengalami tradisi itu sendiri.
4. Teks Prosedur
Teks prosedur merupakan teks yang menceritakan langkah-langkah membuat atau melakukan sesuatu secara berurutan. Struktur dari teks ini yaitu judul, tujuan, bahan-bahan yang diperlukan serta langkah-langkah. Judul dalam teks ini biasanya berhubungan dengan tujuan. Bentuk teks prosedur dapat berupa resep masakan, instruksi penggunaan alat tertentu, dan sebagainya.
49
Dalam kajian ini, teks prosedur yang digunakan berupa prosedur pembuatan masakan khas Lampung seperti Seruit dan Pindang. Selain itu, teks prosedur dapat pula berisi tentang cara-cara membuat keterampilan khas Lampung seperti sulam tapis.
Pembelajaran bahasa Inggris yang menggunakan teks-teks fungsional panjang atau esai yang mengandung kearifan lokal Lampung sejalan dengan model pembelajaran konsteksual yang dianut dalam kurikulum 2013. Model pembelajaran kontekstual atau Contextual Teaching Learning (CTL) memiliki empat pilar pendidikan yaitu learning to do, learning to know, learning to be, and learning to live together. Learning to do diartikan bahwa pembelajaran dimaksudkan untuk memberdayakan peserta didik agar mau dan mampu memperkaya pengalaman belajarnya. Lerning to know yaitu pembelajaran didesain dengan cara mengintensifkan interaksi dengan lingkungan baik lingkungan fisik, sosial dan budaya sehingga peserta didik mampu membangun pemahaman dan pengetahuan terhadap dunia di sekitarnya. Sedangkan learning to be adalah proses pembelajaran yang mengharapkan agar siswa mampu membangun pengetahuan dan kepercayaan dirinya. Pilar terakhir yaitu learning to live together. Pada bagian ini proses pembelajaran lebih diarahkan pada upaya untuk membentuk kepribadian agar dapat memahami dan mengenal keberagaman sehingga melahirkan sikap dan perilaku positif dalam merespon perbedaan-perbedaan atau kemajemukan tersebut. Selain keempat pilar itu, model pembelajaran CTL memiliki tujuh komponen utama yaitu konstruktivisme, inkuiri, bertanya, pemodelan, masyarakat belajar, penilaian autentik, dan refleksi. Dalam penerapannya dengan menggunakan materi teks fungsional panjang yang mengandung kearifan lokal masyarakat Lampung, ketujuh komponen tersebut dapat ditemukan.
Model pembelajaran kontekstual yang diimplementasikan dalam pembelajaran bahasa Inggris dengan menggunakan teks-teks fungsional panjang berdasarkan kearifan lokal Lampung menjadi sangat potensial karena materi pembelajaran dikaitkan dengan kehidupan siswa secara pribadi, sosial, dan budaya. Siswa memiliki sebagian pengetahuan mengenal isi dari budaya Lampung (prior knowledge) yang pada akhirnya memudahkan mereka menguasai komponen pengetahuan bahasa dan keahlian.
Teks-teks fungsional panjang atau essay berdasarkan kearifan lokal Lampung yang digunakan dapat berupa teks tulis maupun lisan. Para siswa dapat diberikan kebebasan untuk mencari sendiri contoh-contoh teks tersebut lewat internet. Contoh-contoh yang mereka dapatkan dari berbagai sumber menjadi model dalam memahami berbagai jenis teks; dalam hal ini teks naratif, deskriptif, recount, dan prosedur. Siswa juga dapat menarik kesimpulan dari setiap jenis teks yang dipelajari.
Dalam pelaksanaannya, guru juga perlu memotivasi siswa untuk memanfaatkan teknologi sebagai media belajar. Setelah memperoleh contoh-contoh teks dari berbagai sumber, siswa diminta membuat tulisan yang akan dipresentasikan menggunakan Power Point. Sebagai contoh, ketika membahas materi tentang teks deskriptif berisi salah satu tradisi Lampung, siswa mempresentasikannya disertai gambar-gambar maupun video yang memaparkan deskripsi tradisi tersebut, sehingga pembelajaran semakin menarik. Begitu pula ketika membahas teks naratif, dapat menggunakan media-media yang menarik atau diperankan sebagai drama.
50
Manfaat Penggunaan Teks Fungsional Panjang yang Berkearifan Lokal Lampung
Dengan menggunakan teks fungsional panjang atau esai yang bercirikan kearifan lokal Lampung dalam pembelajaran bahasa Inggris, maka para siswa dapat:
1. mengenal cerita-cerita rakyat Lampung dan mengambil nilai-nilai moral yang terkandung dalam setiap cerita
2. mengenal tradisi atau budaya khas Lampung melalui teks deskripsi maupun recount dan ikut serta dalam pelestariannya
3. mengenal berbagai tempat wisata di Lampung dan mampu ikut serta dalam pelestariannya
4. menjelaskan dan mempraktekkan langkah-langkah membuat masakan khas Lampung atau langkah-langkah keterampilan membuat sulam tapis melalui teks prosedur yang dipelajari
5. memperkenalkan tradisi, seni dan budaya Lampung ke dunia internasional melalui teks esai baik lisan maupun tulis yang dibuat dan diunggah ke internet lewat media Youtube, Facebook, blog, dan sebagainya
6. semakin mencintai tradisi dan budaya Lampung sehingga tidak melupakan nilai-nilai kearifan lokal dalam kehidupan sosial
SIMPULAN
Pembelajaran yang mengaitkan materi dengan kearifan lokal dalam kehidupan siswa sehari-hari secara pribadi, sosial dan budaya dapat sangat bermanfaat. Penggunaan teks-teks fungsional panjang yang mengandung kearifan lokal masyarakat Lampung dalam pembelajaran bahasa Inggris dapat menjadi solusi dari lunturnya kearifan lokal khususnya di daerah Lampung. Melalui pendekatan kontekstual, siswa dapat memahami materi secara lebih baik sekaligus ikut berperan serta dalam pelestarian budaya lokal.
Guru sebagai fasilitator dalam proses pembelajaran di sekolah harus berani membuat perubahan dengan memasukkan kearifan lokal di dalam proses pembelajaran dengan kegiatan semenarik mungkin.
DAFTAR PUSTAKA
Kamonthip & Kongprasertamorn. (2007). Local Wisdom, Environmental Protection and
Community Development: The Clam Farmers in Tambon Bangkhunsai, Phetchaburi Province, Thailand, Manusya: Journal of Humanities 10.1, 2007.
Kartawinata, A.M. (2011). Local Wisdom in the Middle of Modernization. Jakarta: Ministry
of Culture and Tourism of the Republic of Indonesia.
Owon, R.A.S. (2017) Pengembangan Bahan Ajar Menulis Berbagai Jenis Teks Bertema
Kearifan Lokal Sikka bagi Siswa SMP.
https://www.researchgate.net/publication/317254300_Pengembangan_Bahan_Ajar_M
enulis_Berbagai_Jenis_Teks_Bertema_Kearifan_Lokal_Sikka_Bagi_Siswa_SMP .
51
Suciani, N.K., Subur, I.M., & Widanta, I.M.R.J. (2012) Pembelajaran Bahasa Inggris Berkonteks Budaya Bali: Suatu Strategi Pengembangan Budaya Global. Stilistetika Tahun 1 Volume 1, November 2012 ISSN 2089-8460
Syani, A. (2013). Kearifan Lokal Sebagai Aset Budaya Bangsa dan Implementasinya
dalam Kehidupan Masyarakat.
http://staff.unila.ac.id/abdulsyani/2013/04/17/kearifan- lokal-sebagai-aset-budaya-bangsa-dan-implementasinya-dalam-kehidupan-masyarakat/ diunduh di Bandar Lampung, 16 April 2018.
Yamin, M. (2011). Meretas Pendidikan Toleransi. Malang: Madani.
Yamin, M., Mu’in, F., & Arini, D.N. (2016). Kajian Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Bahasa Inggris Berkearifan Lokal Tingkat SMPN di Kota Banjarmasin. Banjarmasin:
FKIP Universitas Lambung Mangkurat.
Kajian%20rencana%20pelaksanaan%20pembelajaran%20bahasa%20inggris.pdf diunduh di Bandar Lampung 18 April 2018.
52