• Tidak ada hasil yang ditemukan

Ariyati

SMPN 3 Pulau Hanaut, Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah

[email protected]

Abstrak

Karya ini didasarkan pada permasalahan rendahnya hasil ketrampilan berbicara pada siswa kelas 7 ruang 2, SMPN 3 Pulau Hanaut. Pengumpulan data dilakukan dengan memberikan tes berbicara pada siswa, dan wawancara. Data dianalisis dengan menggunakan descritiptive statistik untuk data kuantitatif dan interakatif model untuk data kualitatif. Data kuantitatif menunjukkan bahwa penerapan metode pergelaran berbasis budaya bahandep dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam ketrampilan berbicara. Hal ini bisa dilihat dari hasil pre-test dan post- test yang menunjukkan perubahan. Skor rata-rata pre-test adalah 63, sedangkan skor yang skor rata-rata post-test yang dicapai siswa adalah 72. Peningkatan ketrampilan ini juga didukung oleh pencapaian hasil pembelajaran siswa yang mengalami peningkatan dari 40% siswa yang mencapai KKM menjadi 80% siswa mencapai KKM. Data kualitatif menunjukkansebagian besar siswa menyatakan penerapan metode pergelaran berbasis budaya bahandep membantu meningkatkan ketrampilan berbicara. Sebagian besar siswa berpendapat penerapan inovasi pembelajaran ini dapat memfasilitasi mereka untuk memperbaiki kesalahan selama proses pembelajaran. Mereka menyatakan bahwa penerapan inovasi pembelajaran memberikan nilai positif yang dapat membantu meningkatkan motivasi, tanggung jawab, kerja sama, rasa percaya diri Hasil inovasi rancangan pembelajaran ini menunjukkan bahwa kemampuan siswa dalam berbicara meningkat secara signifikan. Mereka mampu bekerjasama sama dalam tim dalam memahami isi materi dan menyampaikan kepada siswa lain dengan benar.

Kata Kunci: Ketrampilan Berbicara, Metode Pergelaran, Budaya Bahandep Pendahuluan

Undang – Undang Sisdiknas No. 20 tahun 2003 pasal 37 menyatakan bahwa: Kurikulum pendidikan dasar dan menengah wajib memuat : (a) pendidikan agama; (b) pendidikan kewarganegaraan; (c) bahasa ; (d) ) matematika; (e) ilmu pengetahuan alam; (f) ilmu pengetahuan sosial; (g) seni dan budaya; (h) pendidikan jasmani dan olahraga; (i) ketrampilan/kejuruan; (j) muatan lokal

Berdasarkan isi Undang-Undang tersebut, bahasa Inggris menjadi salah satu mata pelajaran yang wajib diberikan di sekolah.

SMPN 3 Pulau Hanaut mengembangkan pengelolaan pembelajaran Bahasa Inggris dengan upaya memenuhi standar yang ditetapkan. Standar tersebut meliputi Standar isi, proses, SKL, sarana prasarana, tendik dan penilaian. Keenam standar tersebut sangat diperhatikan dalam pengelolaan pembelajaran.

Faktanya, masih banyak masalah dihadapi siswa. Masalah tersebut adalah: 1. Siswa mengalami kesulitan mengucapkan kata dengan benar; 2. Siswa tidak lancar berbicara dalam bahasa Inggris; 3.Siswa kesulitan menampilkan dialog dengan baik; 4. Siswa tidak percaya diri ketika berkomunikasi menggunakan bahasa Inggris. Hasil belajar siswa dalam pelajaran bahasa Inggris pun masih banyak yang belum tuntas.

149

Mestinya, pembelajaran bahasa Inggris dapat mengantarkan siswa berkompetensi tinggi, khususnya dalam ketrampilan speaking (berbicara). Untuk memperoleh kompetensi tinggi, pembenahan cara mengajar sangat diperlukan. Untuk itu, cara mengajar secara konvesional yakni penjelasan melalui ceramah dan penyelesaian tugas berdasar buku teks harus dibenahi.

Salah satu tindakan yang harus dilakukan guru adalah memperbaiki rancangan pembelajaran bahasa Inggris. Selain itu, pembenahan juga dapat dilakukan dalam pengembangan alat peraga/media, sumber belajar, bahan dan tehnik penilaian.

Rancangan pembelajaran untuk meningkatkan kompetensi lisan (speaking) ini dilakukan melalui metode pembelajaran pergelaran (role playing) berbasis budaya bahandep. Metode ini dinilai sangat efektif sebagaimana isi Permendiknas No. 65 tahun 2013 yang menyatakan bahwa,”Proses pembelajaran pada satuan pendidikan diselenggarakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat serta perkembangan fisik serta psikologis peserta didik.” ( hal:1)

Mengacu pada latar belakang tersebut, penulis mengajukan rumusan masalah yang berkaitan dengan pertanyaan apakah metode pembelajaran pergelaran (role playing) berbasis budaya bahandep dapat meningkatkan hasil ketrampilan berbicara siswa kelas 7 ruang 2.

Best Practice ini bertujuan untuk mengetahui apakah penggunaan metode pergelaran (Role Playing) berbasis budaya bahandep mampu meningkatkan ketrampilan berbicara siswa kelas 7 ruang 2 SMPN 3 Pulau Hanaut.

Kajian Teori

Berbicara (Speaking)

Pemerintah melalui Permen No. 59, 2014 menyatakan bahwa, “tujuan pembelajaran bahasa Inggris adalah untuk mengembangkan kompetensi berkomunikasi (students’ communicative competence) mengenai pengetahuan faktual dan prosedural dengan menggunakan berbagai teks lisan maupun tertulis dengan ciri kebahasaan yang sistematis.” Berangkat dari pernyataan tersebut, ketrampilan berbicara menjadi bagian sangat penting dalam pencapaian tujuan pembelajaran bahasa.

Beberapa ahli bahasa mendefinisikan ketrampilan berbicara (speaking). Mackey (di Beni, 2012: 6) mendefinisikan berbicara (speaking) sebagai ekspresi lisan yang meliputi penggunaan pola ritme dan intonasi yang benar serta cara yang benar untuk menyampaikan makna. Lazaration dalam Cele-Murcia (2002) (dalam Fauziati, 2010: 17) menyatakan bahwa berbicara (speaking) adalah,” an activity requiring the integration of many subsystem and all these factors combine to make speaking a second or foreign language a formidable task for language learners.” Disamping itu, Nunan (dalamWidagdo, 2012:6) berpendapat bahwa berbicara (speaking),” consists of short, often fragmentary utterances, in a range of pronunciation.” Hal ini berarti bahwa ketika seseorang berbicara maka pernyataan akan diproduksi.

Berdasarkan beberapa definisi tersebut, disimpulkan bahwa berbicara (speaking) adalah ekspresi lisan dalam pembelajaran bahasa kedua atau bahasa asing yang merupakan kombinasi beberapa faktor seperti pola irama, intonasi, susunan kata, cara pengucapan untuk menyampaikan makna secara benar.

150

Underhill, 1987 (dalam Widagdo, 2012:11) berrbicara (speaking) yang baik memiliki beberapa kriteria. Kriteria tersebut adalah grammar atau susunan kata, kosa kata, cara pengucapan kata, kelancaran, dan pemahaman terhadap isi percakapan.

Mengacu pada definisi dan kriteria tersebut, dapat disimpulkan bahwa kriteria berbicara yang baik meliputi:

1. Siswa dapat mengucapkan kata dengan benar. 2. Siswa dapat mengorganisasikan kata dengan benar. 3. Siswa dapat menggunakan kosa kata dengan benar. 4. Siswa lancar melakukan komunikasi.

5. Siswa memahami isi dialog.

Pergelaran (Role Playing)

Pergelaran (role playing) merupakan salah satu metode pembelajaran yang direkomendasikan untuk mengembangkan kemampuan berbicara siswa. Hal ini didukung oleh pendapat Barrows dan Zorn, 1990 (dalam Fauziati, 2010:19) yang menyatakan bahwa role playing (pergelaran) merupakan metode yang memotivasi siswa untuk berbicara tanpa rasa takut.

Schmuck, Richard. A dan Patricia A. Schumck (2001:182) menyatakan bahwa role playing (pergelaran) merupakan tehnik yang bisa digunakan dalam berbagai keadaan. Sedangkan Hamalik, 1990(dalam Widagdo, 2012:6) mendefinisikan role playing (pergelaran) merupakan penerapan pembelajaran berdasarkan pengalaman yang berguna untuk mengembangkan komunikasi diantara siswa.

Mengacu pada beberapa pendapat tersebut, dapat disimpulkan bahwa role playing (pergelaran) merupakan metode pembelajaran berbasis pengalaman yang bermanfaat untuk mengembangkan komunikasi.

Budaya Bahandep

Bahandep merupakan salah satu kearifan lokal yang dimiliki suku Dayak Pesisir. Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan penulis dengan tokoh adat, Bahandep (bekerja sama) adalah kebiasaan masyarakat setempat untuk bekerja sama menyelesaikan pekerjaan tanpa meminta upah. Pekerjaan yang dimaksud meliputi pekerjaan di sektor domestik maupun publik. Sebagai contoh, membangun jembatan, menanam dan memanen padi, membangun rumah.

Bahandep dilakukan secara bergantian. Sebagai contoh, satu keluarga memiliki agenda menanam padi, maka masyarakat di sekitarnya membantu mengerjakannya. Hal ini akan dilakukan oleh keluarga tersebut ketika ada keluarga lain yang memiliki pekerjaan publik maupun domestik lainnya.

Nilai budaya bahandep inilah yang penulis ambil sebagai salah satu kearifan lokal yang bisa digunakan dalam pembelajaran bahasa Inggris. Penggunaan budaya bahandep ini, didukung oleh para siswa yang mayoritas bertempat tinggal di daerah pesisir.

Metode dan Proses Penyelesaian Masalah

Pencapaian kompetensi peserta didik dalam bahasa Inggris tidak cukup melalui tes tulis saja, akan tetapi juga melalui tes lisan. Salah satu ketrampilan yang dalam perkembangaannya paling bermasalah antara lain ketrampilan berbicara (speaking).

Berdasarkan pengamatan yang penulis lakukan selama proses pembelajaran, ditemukan beberapa masalah sebagai berikut: 1. Siswa mengalami kesulitan mengucapkan kata dengan benar; 2. Siswa tidak lancer berbicara dalam bahasa Inggris; 3. Siswa kesulitan membawakan dialog dalam bahasa Inggris dengan baik; 4) Siswa tidak percaya diri ketika berkomunikasi menggunakan bahasa Inggris.

151

Hasil dari wawancara menyatakan bahwa sebagian besar siswa mengalami kesulitan dalam pembelajaran berbicara (speaking). Hal ini didukung oleh hasil pre-test yang menunjukkan bahwa 40% siswa yang memenuhi kriteria ketuntasan minimal (KKM).

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi tidak optimalnya pencapaian hasil belajar tersebut. Faktor yang pertama adalah pembenahan kekeliruan siswa dalam berkomunikasi dan umpan balik secara idividu tidak bisa segera dilakukan karena keterbatasan waktu. Faktor yang kedua adalah siswa siswa hanya bisa berbicara bahasa Inggris di sekolah. Sebagai bahasa asing, bahasa Inggris tidak digunakan sebagai bahasa komunikasi di rumah, sehingga siswa memiliki sedikit kesempatan untuk menggunakannya di luar kelas. Faktor ketiga adalah proses pembelajaran yang tidak bervariasi. Baik dari situasi maupun topik yang tidak kontekstual. Siswa dipertemukan dengan situasi dimana mereka jarang memiliki kesempatan berkomunikasi dalam bahasa Inggris. Sebagai akibatnya, siswa tidak terbiasa bertutur dalam bahasa Inggris. Topik yang jauh dari kehidupan mereka sehari-hari juga ikut andil di dalamnya. Faktor keempat adalah kurangnya motivasi siswa untuk berkomunikasi dalam pembelajaran bahasa. Siswa juga tidak percaya diri ketika dituntut untuk bertutur dengan menggunakan bahasa Inggris. Masalah ini barangkali disebabkan oleh rasa malu untuk berbicara di depan kelas. Hal ini berakibat kelas menjadi pasif.

Berdasarkan permasalahan tersebut, diperlukan inovasi untuk menciptakan suasana belajar yang lebih interaktif, menyenangkan, untuk mencapai kompetensi peserta didik secara optimal. Inovasi yang dilakukan penulis menggabungkan metode pergelaran (role playing) dengan budaya bahandep. Inovasi dipilih dengan pertimbangan bahwa pergelaran (role playing) mendorong siswa untuk berkomunikasi dengan temannya. Dengan budaya bahandep, siswa memiliki kesempatan untuk lebih mengenal budaya mereka. Siswa juga lebih memahami sekaligus menerapkan nilai luhur yang terkandung dalam budaya bahandep. Siswa juga lebih bersemangat dan termotivasi untuk berkomunikasi karena topik yang mereka komunikasikan adalah kebiasaan yang mereka lakukan sehari-hari.

Mengacu pada hal tersebut, penulis yakin bahwa rancangan pembelajaran yang berupa metode pergelaran berbasis budaya bahandep akan menjadi solusi efektif bagi permasalahan yang muncul pada proses pembelajaran berbicara (speaking).

Rancangan Pembelajaran

Berdasarkan permasalah yang dihadapi siswa, pembelajaran bahasa Inggris ini dirancang sebagai berikut.

1. Menentukan jenis pergelaran (role playing) yang digunakan.

2. Menentukan topik dialog sesuai kompetensi dasar dan tujuan pembelajaran yang hendak dicapai.

3. Menyiapkan lembar observasi untuk mengamati penampilan siswa. 4. Mendesain rubrik penilaian ketrampilan berbicara.

5. Menentukan standar setiap kriteria penilaian ketrampilan berbicara. 6. Menentukan skala penilaian ketrampilan berbicara.

7. Mengujicobakan rubrik penilaian ketrampilan berbicara.

8. Melakukan uji ketrampilan berbicara kepada siswa dengan langkah berikut: a. Guru memberi penjelasan singkat mengenai rubrik penilaian.

b. Guru meminta siswa membentuk kelompok dialog. c. Guru meminta siswa untuk memilih topik yang disiapkan.

152

Topik tersebut adalah membuat lubang tanam (menugal), menanam padi dan memanen padi.

d. Guru memberikan dialog rumpang kepada siswa sesuai dengan topik. e. Guru meminta siswa melengkapi dialog tersebut di rumah.

f. Guru mendiskusikan jangka waktu penyelesaian tugas dengan siswa. g. Guru dan siswa mengamati penampilan tiap kelompok.

h. Guru dan siswa memberikan umpan balik, masukan.

i. Siswa mencatat semua masukan dan umpan balik dari guru dan teman untuk memperbaiki kesalahan.

j. Siswa menampilkan kembali peran di depan kelas.

Hasil dan Pembahasan

Data yang yang dikumpulkan oleh penulis diambil melalui tehnik tes dan wawancara.

1. Tes berbicara

Tes ini digunakan untuk memperoleh data kuantitatif dari ketrampilan berbicara siswa. Tes diberikan sebelum dan sesudah penerapan inovasi pembelajaran. Data yang diperoleh dari tes berbicara tersebut adalah sebagai berikut:

74 73 72 71 70 69 68 67 66 65 64 63 62 61 60 Pre-tes Post-test

153 90% 85% 80% 75% 70% 65% 60% 55% 50% 45% 40% 35% 30% 25% 20% 15% 10%

Pre- test Post - test

Gambar 2 Prosentase siswa yang mencapai KKM pada saat pre-test dan post-test

2. Data yang diperoleh dari hasil wawancara dibagi dalam 3 kategori, yaitu:

a. Peran inovasi rancangan pembelajaran dalam memperbaiki kesalahan dalam proses pembelajaran berbicara (speaking)

b. Fasilitasi inovasi rancangan pembelajarn dalam peningkatan kemampuan berbicara

c. Nilai pembelajaran, yakni kerja sama, tanggung jawab dan percaya diri, Data tersebut menunjukkan bahwa ada peningkatan ketrampilan berbicara siswa dengan menggunakan metode pergelaran berbasis budaya bahandep. Skor rata – rata pre-test adalah 63. Sedangkan skor rata – rata siswa pada post-test menunjukkan peningkatan yakni 72.

Peningkatan ketrampilan berbicara ini juga didukung oleh hasil capaian pembelajaran yang ditunjukkan oleh gambar 2. Pada tahap pre-test, hasil capaian pembelajaran siswa yang mencapai KKM sebanyak 40%.. Sedangkan pada tahap post-test, hasil capaian pembelajaran siswa yang mencapai KKM sebanyak 80%.

Hal ini didukung oleh hasil wawancara terhadap 20 siswa kelas 8-1. Sebagian besar siswa menyatakan bahwa penerapan metode pergelaran berbasis budaya bahandep ini membantu mereka dalam meningkatkan kemampuan ketrampilan berbicara. Dengan penerapan inovasi rancangan pembelajaran ini, siswa yang tidak berani berkomunikasi menggunakan bahasa Inggris memiliki tantangan untuk berpartisipasi aktif.

154

Sebagian besar siswa juga mengatakan bahwa penerapan inovasi pembelajaran ini dapat memfasilitasi mereka untuk memperbaiki kesalahan selama berkomunikasi. Kesalahan dari pengucapan kata, kelancaran berkomunikasi, pemahaman isi dialog, diperbaiki melalui inovasi pembelajaran ini. Dengan demikian, ketercapaian hasil pembelajaran secara optimal dapat dicapai.

Melalui penerapan inovasi rancangan pembelajaran ini, sebagian besar siswa juga berpendapat bahwa inovasi ini memberikan nilai pembelajaran yang dapat meningkatkan motivasi, tanggung jawab, kerja sama dan rasa percaya diri. Melalui metode ini, siswa diantarkan untuk memahami isi teks dan menyampaikannya kepada yang lain. Siswa juga difasilitasi untuk bisa mengucapkan kata dengan tepat dan mengorganisasikan kata dengan baik sehingga mereka tidak malu atau ragu lagi untuk berbagi dengan teman sebagai perwujudan rasa tanggung jawab menyampaikan isi teks. Perpaduan metode pergelaran (role playing) dengan budaya bahandep, membuat siswa termotivasi dan senang karena topik yang dikerjakan berkaitan dengan kegiatan kebersamaan, saling bantu, yang mereka lakukan sehari-hari.

Kesimpulan dan Saran Simpulan

Penerapan rancangan pembelajaran dengan menggunakan metode pergelaran (role playing) berbasis budaya bahandep sangat efektif digunakan. Sebagai bukti adalah hasil tes yang diujikan kepada siswa menunjukkan bahwa skor rata-rata pembelajaran meningkat dari 63 menjadi 72. Begitu juga dengan pencapaian hasil belajar yang mengalami peningkatan dari 40% siswa mencapai KKM menjadi 80% siswa mencapai KKM.

Saran

Agar penguasaan ketrampilan berbicara optimal, hendaknya inovasi rancangan pembelajaran ini digunakan dalam pembelajaran ketrampilan berbicara dalam bahasa Inggris

DAFTAR PUSTAKA

Celce –Murcia, Marriane (ed).(2002). Teaching English as a Second or Foreign Language. Boston, MA : Heinle and Heinle

Fauziati, Endang. (2010). Teaching Engish As a Foreign language (TEFL). Surakarta : Era Pustaka Utama

Kirkgoz, Yasemin. (2011). A Blended Learning Study on Implementing Video Recorded speaking Tasks in Task-Based Classroom Instruction. The Turkish Online Journal of Educational Technology,10(4)

Kuswardani, N. & Wahyuni, R.B. Encouraging Students in Speaking Through Videoing Activity. Retrieved from www.litu.tu.ac.th.FLLTCP.Proceeding

Permendiknas No. 65. (2013). Standar Proses Pendidikan Dasar dan Menengah. Jakarta: Kemendikbud

Schmuck, Richard A.& Patricia A. Schmuck. (2001). Group Press in the Classroom. New York: The McGraw-Hill Companies, Inc.

Soffee, Kim. (2014). Developing Autonomous Learning for Oral Proficiency Using Digital Story Telling. Language Learning & Technology, 18(2), 20-35

155

Undang-Undang Sisdiknas No.20 tahun 2003. (2003). Jakarta: Sinar Grafika

Widagdo, Beni.(2012). The Use of Role Play to Improve Students’ Speaking Skill. Surakarta: Sebelas Maret University

156

IMPROVING STUDENTS’ WRITING SKILL OF RECOUNT TEXT