EFOR PLTU Suralaya Unit 5-7 vs NERC
SISTEM PENYALURAN
2.3 Sistem Konfingurasi Jaringan Transmisi & Distribusi Sistem Jawa-Bal
2.3.2. Kapasitas dan daya mampu penyaluran sistem jawa- bali
Sistem transmisi tenaga listrik Jawa-Bali menggunakan Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET) 500 kV, dan Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT) 150 kV dan 75 kV. Saluran SUTET 500 kV tersebut diperlihatkan pada gambar 4.13.
Gambar 2.14 Peta jaringan 500 kV sistem kelistrikan Pulau Jawa
Pada gambar 2.14. diperlihatkan jaringan sistem 500 kV di Pulau Jawa yang terdiri atas beberap Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET) yaitu:
a. SUTET 500 kV ASS. PLTGU Muara Tawar. b. SUTET 500 kV ASS. Tasikmalaya Depok III. c. SUTET 500 kV Tasikmalaya.
d. SUTET 500 kV Kediri Pedan. e. SUTET 500 kV 1 Kediri.
120 Pusat Tekonologi Konversi dan Konservasi Energi (PTKKE) - BPPT
f. SUTET 500 kV Grati Surabaya.
g. SUTET 500 kV Tanjung Jati Ungaran.
Panjang saluran transmisi tersebut mencapai 5.052 km, dengan kapasitas terpasang transformator pada gardu induk sebasar 23.000 MVA.
Anatomi sistem 500 kV tersebut di atas dapat dilihat pada gambar 2.15.
Gambar 2.15 Anatomi sistem 500 kV di Pulau Jawa
Pada gambar 2.15. diperlihatkan anatomi sistem 500 kV di Pulau Jawa yang dikenal dengan sistem Jawa-Bali. Region 1 Tangerang dan Jakarta menyalurkan daya listrik dari beberapa pembangkit listrik dengan kapasitas terpasang kurang lebih 5.162 MW, dengan beberapa gardu induk 500 kV, dengan kapasitas trafo terpasang total kurang lebih 6.500 MVA. Panjang saluran transmisi kurang lebih 851 km. Region 2 Jawa Barat menyalurkan daya listrik dari beberapa pembangkit listrik dengan kapasitas terpasang kurang lebih 1.709 MW, dan beberapa gardu induk 500 kV, dengan kapasitas trafo terpasang total kurang lebih 3.500 MVA. Panjang saluran transmisi kurang lebih 538 km. Region 3 Jawa Tengah dan Yogyakarta menyalurkan daya listrik yang diterima dari region 1 dan region 2, dan beberapa gardu induk 500 kV, dengan kapasitas trafo terpasang total kurang lebih 2.000 MVA. Panjang saluran transmisi kurang lebih 837 km. Region 4 Jawa Timur dan Pulau Bali menyalurkan daya listrik dari beberapa pembangkit listrik dengan kapasitas terpasang kurang lebih 4.764 MW, dan beberapa gardu induk 500 kV,
dengan kapasitas trafo terpasang total kurang lebih 3.500 MVA. Panjang saluran transmisi kurang lebih 851 km.
Gambar 2.16 Anatomi sistem kelistrikan Region 1
Pada gambar 2.16. diperlihatkan anatomi sistem Jawa-Bali. Region 1 Banten dan Jakarta menyalurkan daya listrik dari beberapa pembangkit listrik utama dengan kapasitas terpasang kurang lebih 5.162 MW, melalui Sistem Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET). Saluran udara tegangan ekstra tinggi tersebut terhubung dengan SUTET pada Region 2. Sementara itu SUTET pada Region 1 menyalurkan daya listrik ke beberapa gardu induk tegangan ekstra tinggi (GITET) pada Region 1, yang kemudian diturunkan tegangannya menjadi 150 kV menggunakan inter bus transformer (IBT), sehingga GITET menjadi sumber pasokan daya untuk saluran tegangan tinggi 150 kV. Kapasistas terpasang trafo-trafo yang langsung ke pusat beban tersebut adalah 10136 MVA. Disamping menyalurkan daya dari GITET, saluran transmisi tegangan tinggi 150 kV juga menyalurkan daya dari beberapa pembangkit dengan kapasitas total 2730 MW. Daya listrik tersebut disalukan ke pusat-pusat beban, dan sebagian diturunkan lagi tegangannya menjadi 70 kV melalui beberapa transformator dengan kapasitas terpasang total 1000 MVA. Saluran tegangan tinggi 70 kV disamping menyalurkan daya dari gardu induk tegangan tinggi 150 kV juga menyalurkan daya dari beberapa pembangkit
.
dengan kapasitas terpasang total 37 MW. Selanjutnya daya listrik tersebut disalurkan ke pusat-pusat beban melalui beberapa transformator dengan kapasitas total 930 MVA. Dari data tersebut terlihat bahwa daya terpasang pembangkit adalah 7929122 Pusat Tekonologi Konversi dan Konservasi Energi (PTKKE) - BPPT
MW, sedang beban puncak Region 1 adalah 6245 MW atau 79% dari daya terpasag pembangkit sehingga dinilai masih seimbang.
Adapun struktur beban pada Region 1 dapat dilihat pada gambar 3.17, dan gambar 3.18, dan untuk Region 1 yaitu DKI Jakarta dan Tangerang sebagai berikut:
Gambar 2.17 Struktur beban pada Region 1 (DKI Jakarta dan Tangerang)
a. Rumah tangga : 36%
b. Industri : 22%
c. Bisnis : 34%
d. Sosial : 3%
e. Gedung Kantor Pemerintah : 4% f. Penerangan Jalan : 1%
Gambar 2.18 Struktur beban pada Region 1 (Banten) 36% 22% 34% 3% 4% 1% 27% 63% 7% 1%1%1%
Dan Region 1 Banten terdiri atas :
a. Rumah tangga : 27%
b. Industri : 63%
c. Bisnis : 7%
d. Sosial : 1%
e. Gedung Kantor Pemerintah : 1% f. Penerangan Jalan : 1%
Gambar 2.19 Anatomi sistem kelistrikan Region 2
Pada gambar 3.19 diperlihatkan anatomi sistem Jawa-Bali. Region 2 Jawa Barat menyalurkan daya listrik dari beberapa pembangkit listrik utama dengan kapasitas terpasang kurang lebih 1.709 MW, melalui Sistem Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET) 500 kV. Saluran udara tegangan ekstra tinggi tersebut menyalurkan daya listrik ke beberapa gardu induk tegangan ekstra tinggi (GITET)pada Region 2, yang kemudian diturunkan tegangannya menjadi 150 kV menggunakan inter bus transformer (IBT), sehingga GITET menjadi sumber pasokan daya untuk saluran tegangan tinggi 150 kV. Kapasistas terpasang trafo-trafo tersebut adalah 3.500 MVA. Disamping menyalurkan daya dari GITET saluran transmisi tegangan tinggi 150 kV juga menyalurkan daya dari beberapa pembangkit dengan kapasitas total 525 MW. Daya listrik tersebut disalukan ke pusat-pusat
124 Pusat Tekonologi Konversi dan Konservasi Energi (PTKKE) - BPPT
beban melalui beberapa transformator dengan kapasitas terpasang 3.471 MVA, dan sebagian diturunkan lagi tegangannya menjadi 70 kV melalui beberapa transformator dengan kapasitas terpasang total 1.225 MVA. Saluran tegangan tinggi 70 kV disamping menyalurkan daya dari gardu induk tegangan tinggi 150 kV juga menyalurkan daya dari beberapa pembangkit dengan kapasitas terpasang total 138 MW. Selanjutnya daya listrik tersebut disalurkan ke pusat-pusat beban melalui beberapa transformator dengan kapasitas total 930 MVA. Dari data tersebut terlihat bahwa daya terpasang pembangkit adalah 2.372 MW, sedang beban puncak Region 2 adalah sekitar 2.555 MW atau 108% dari daya terpasag pembangkit sehingga Region 2 harus mengimpor daya dari Region lain.
Adapun struktur beban pada Region 2 dapat dilihat pada gambar 2.20 terdiri atas :
Gambar 2.20 Struktur beban pada Region 2
a. Rumah tangga : 47%
b. Industri : 35%
c. Bisnis : 14%
d. Sosial : 2%
e. Gedung Kantor Pemerintah : 1% f. Penerangan Jalan : 1%
47%
35% 14%
Gambar 2.21 Anatomi region 3 Jawa Tengah dan Yogyakarta
Pada gambar 2.21. diperlihatkan anatomi sistem Jawa-Bali. Region 3 Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta menyalurkan daya listrik dari Region lain melalui Sistem Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET) 500 kV. Saluran udara tegangan ekstra tinggi tersebut menyalurkan daya listrik ke beberapa gardu induk tegangan ekstra tinggi (GITET)pada Region 3, yang kemudian diturunkan tegangannya menjadi 150 kV menggunakan inter bus transformer (IBT), sehingga GITET menjadi sumber pasokan daya untuk saluran tegangan tinggi 150 kV. Kapasistas terpasang trafo-trafo tersebut adalah 2.000 MVA. Disamping menyalurkan daya dari GITET saluran transmisi tegangan tinggi 150 kV juga menyalurkan daya dari beberapa pembangkit dengan kapasitas total 1.774 MW. Daya listrik tersebut disalukan ke pusat-pusat beban melalui beberapa transformator dengan kapasitas terpasang 4.314 MVA.. Dari data tersebut terlihat bahwa daya terpasang pembangkit adalah 1.774 MW, sedang beban puncak Region 3 adalah sekitar 2.230 MW atau 126% dari daya terpasag pembangkit sehingga Region 3 harus mengimpor daya dari Region lain.
Adapun struktur beban pada Region 3 dapat dilihat pada gambar 2.21. dan gambar 3.22.
126 Pusat Tekonologi Konversi dan Konservasi Energi (PTKKE) - BPPT
Gambar 2.22 Struktur beban pada Region 3 (Jawa Tengah)
Pada gambar 2.22 diperlihatkan struktur beban pada Region 3 Jawa Tengah terdiri atas :
a. Rumah tangga : 60%
b. Industri : 20%
c. Bisnis : 13%
d. Sosial : 4%
e. Gedung Kantor Pemerintah : 1% f. Penerangan Jalan : 1%
Gambar 2.23 Struktur beban pada Region 3 (DIY) 60% 20% 13% 4% 1% 2% 61% 7% 20% 8% 3% 1%
Dan Region 3 Daerah Istimewa Yogyakarta terdiri atas :
a. Rumah tangga : 61%
b. Industri : 7%
c. Bisnis : 20%
d. Sosial : 8%
e. Gedung Kantor Pemerintah : 3% f. Penerangan Jalan : 1%
Gambar 2.24 Anatomi sistem kelistrikan Region 4 Jawa Timur
Pada gambar 2.24. diperlihatkan anatomi sistem Jawa-Bali. Region 4 Jawa Timur menyalurkan daya listrik dari beberapa pembangkit listrik utama dengan kapasitas terpasang kurang lebih 4.764 MW, melalui Sistem Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET) 500 kV. Saluran udara tegangan ekstra tinggi tersebut menyalurkan daya listrik ke beberapa gardu induk tegangan ekstra tinggi (GITET) pada Region 4, yang kemudian diturunkan tegangannya menjadi 150 kV menggunakan inter bus transformer (IBT), sehingga GITET menjadi sumber pasokan daya untuk saluran tegangan tinggi 150 kV. Kapasistas terpasang trafo-trafo tersebut adalah 3.500 MVA. Disamping menyalurkan daya dari GITET saluran transmisi tegangan tinggi 150 kV juga menyalurkan daya dari beberapa pembangkit dengan kapasitas total 2.131 MW. Daya listrik tersebut disalukan ke pusat-pusat beban melalui beberapa transformator dengan kapasitas terpasang 5.841 MVA, dan sebagian diturunkan lagi tegangannya menjadi 70 kV melalui beberapa transformator dengan kapasitas terpasang total 1.192 MVA. Saluran tegangan tinggi
128 Pusat Tekonologi Konversi dan Konservasi Energi (PTKKE) - BPPT
70 kV disamping menyalurkan daya dari gardu induk tegangan tinggi 150 kV juga menyalurkan daya dari beberapa pembangkit dengan kapasitas terpasang total 86 MW. Selanjutnya daya listrik tersebut disalurkan ke pusat-pusat beban melalui beberapa transformator dengan kapasitas total 106 MVA. Sebagai bagian dari sistem Jawa-Bali, daya listrik juga dikirim melalui SUTET ke region lain. Dari data tersebut terlihat bahwa daya terpasang pembangkit adalah 6.981 MW, sedang beban puncak Region 4 adalah sekitar 3.497 MW atau hanya 50% dari daya terpasag pembangkit sehingga Region 4 mengekspor daya ke Region lain.
Adapun struktur beban pada Region 4 dapat dilihat pada gambar 2.25, terdiri atas :
Gambar 2.25 Struktur beban pada Region 4 (Jawa Timur)
a. Rumah tangga : 48%
b. Industri : 31%
c. Bisnis : 15%
d. Sosial : 4%
e. Gedung Kantor Pemerintah : 1% f. Penerangan Jalan : 1%
48%
31% 15%