• Tidak ada hasil yang ditemukan

KABUPATEN KEEROM

2. TINJAUAN PUSTAKA

2.6. Kapasitas Ekonomi Petan

Pengertian dan lingkup kapasitas ekonomi petani bersumber dari konsep Community Economic Development, konsep Community Capacity, dan tinjauan tentang petani. Macleod (1993) dan Shragge (1993) dalam Dzulhijjah (2010), mengemukakan bahwa Community Economic Development (CED) merupakan suatu usaha yang dilakukan secara bersama oleh masyarakat lokal dalam mengontrol kondisi sosial ekonomi untuk merespon kebutuhan lokal. Bush et al dalam

Dzulhijjah (2010) mengemukakan kapasitas masyarakat sebagai suatu kumpulan karakteristik dan sumberdaya yang apabila disatukan akan meningkatkan kemampuan masyarakat untuk mengenali, mengevaluasi dan menentukan kunci permasalahan.

Kapasitas ekonomi menurut Connell dan Wall (2004) menunjukkan ketersediaan sumberdaya di setiap lokasi yang mendukung pembangunan ekonomi. Definisi kapasitas ekonomi tersebut bermakna upaya atau kegiatan yang dapat memproduksi barang atau jasa melalui penggunaan tehnologi, tenaga kerja, modal dan sumberdaya lainnya secara intensif. Bryant (1994) dalam Connell dan Wall

(2004) mengidentifikasi delapan atribut yang terkait dengan kapasitas ekonomi, yaitu: (1) lingkungan yang mendukung, (2) modal, (3) sumberdaya alam, (4) infrastruktur dan sumberdaya buatan, (5) tenaga kerja dan manajemen, (6) pasar, (7) informasi, (8) dan kewirausahaan.

Subagio (2008) mengemukakan bahwa kapasitas petani diartikan sebagai pelaku utama pengelola sumber daya pertanian untuk dapat menetapkan tujuan usahatani secara tepat dan mencapai tujuan yang telah ditetapkan dengan cara tepat pula. Tingkat perbedaan kapasitas seseorang ditunjukkan dari pengetahuan, sikap dan ketrampilan berusaha di bidang pertanian dalam memperoleh dan memanfaatkan informasi/inovasi serta kondisi lingkungan yang melingkupinya.

Kapasitas dalam bidang perikanan seperti dikemukakan oleh Fauzi (2010) dapat diartikan sebagai kemungkinan produksi yang maksimum yang dapat dihasilkan dengan ketersediaan teknologi, input tetap dan input variabel yang ada. Lebih lanjut Fauzi (2010) mengutip FAO (1998) bahwa kapasitas perikanan dapat diartikan sebagai kemampuan dari kapal atau armada untuk menangkap ikan.

Kajian dalam penelitian ini tidak hanya terkait dengan upaya eksternal yang dilakukan oleh pemerintah atau aturan yang mengatur fisik serta ruang dalam mendorong kegiatan ekonomi saja, tetapi lebih kepada upaya internal yang muncul

dari internal komunitas. Konsep kapasitas ekonomi masyarakat yang akan dibahas dalam penelitian ini terfokus pada aspek ekonomi masyarakat petani.

Konsep kapasitas sering diidentikan dengan posisi kemampuan individu dalam bentuk tindakan. Organization for Economic Co-operation and Development (OECD, 1996) mengembangkan konsep kapasitas dalam melaksanakan pembangunan dalam rangka membantu negara-negara berkembang, mengemukakan bahwa kapasitas merupakan gambaran kemampuan dari individu ataupun masyarakat untuk menghadapi permasalahan sebagai bagian dari usaha untuk mencapai tujuan pembangunan secara berkesinambungan.

Canadian International Development Agency (CIDA, 2001) mengemukakan bahwa kapasitas merupakan kemampuan yang dimiliki oleh individu, organisasi maupun masyarakat untuk memecahkan permasalahan yang dimiliki secara efektif. Brown et, al (2001), mengatakan bahwa kapasitas diperlukan untuk membangun tingkat kesiapan yang dimiliki oleh individu, organisasi maupun masyarakat sehingga dapat ditandai dengan suatu kemajuan maupun kemunduran. Alikodra

(2004) mengemukakan bahwa kapasitas individu maupun masyarakat menyangkut kemampuan dan ketrampilan dalam memecahkan permasalahan yang dimiliki individu ataupun masyarakat berdasarkan tujuan pembangunan yang telah ditetapkan.

Aspek yang merupakan lingkup kapasitas ekonomi petani yang terkait dengan potensi individu pada suatu komunitas dalam melakukan kegiatan ekonomi meliputi sosial budaya, sumberdaya, tingkat pengetahuan, aksesibilitas, tingkat partisipasi, peluang pasar, pendapatan dan peraturan dan kelembagaan sebagai berikut:

2.6.1. Sosial budaya dan modal sosial a. Sosial budaya

Aspek sosial dan budaya merupakan suatu hal yang turut mengatur pola ataupun tindakan setiap individu atau komunitas dalam melakukan kegiatan ekonomi. Muller (1992) mengemukakan bahwa aktifitas ekonomi suatu komunitas tidak terlepas dari kebudayaan, dimana kebudayaan membentuk seluruh aspek kehidupan manusia, termasuk perilaku ekonomi dengan sejumlah cara yang kritis. Aktivitas ekonomi merepresentasikan bagian yang krusial dari kehidupan sosial yang variatif berupa norma, aturan, kewajiban moral, dan kebiasaan lain yang secara bersama membentuk kehidupan masyarakat.

Ruang lingkup sosial budaya yang dikembangkan dalam penelitian ini ditekankan pada masyarakat petani. Mubyarto (1989) mengemukakan bahwa persoalan yang dihadapi petani, baik yang berhubungan langsung dengan produksi dan pemasaran hasil-hasil pertaniannya maupun yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari tidak hanya berkaitan dengan aspek ekonomi saja, tetapi aspek-aspek sosial dan kebudayaan, aspek kepercayaan dan keagamaan, serta aspek-aspek tradisi, semuanya memegang peranan penting dalam tindakan-tindakan petani. Lebih lanjut jelas Mubyarto bahwa dari segi ekonomi pertanian, berhasil tidaknya produksi petani dan tingkat harga yang diterima oleh petani untuk hasil produksinya merupakan faktor yang sangat mempengaruhi perilaku dan kehidupan petani.

Temuan para antropolog budaya tentang konsep “cultural determinism” bahwa segala sesuatu yang terdapat di dalam masyarakat ditentukan oleh kebudayaan yang dimilikinya. Bahwa alam tempat hidupnyalah yang menentukan cara hidup suatu kelompok masyarakat (geography determinism) Syahyuti (2003).

Kebudayaan menurut Koentjaraningrat (2009) adalah keseluruhan sistem gagasan, tindakan dan hasil karya manusia dalam kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar. Parsons dan Kroeber dalam Koentjaraninggrat

(2009) membedakan membedakan wujud kebudayaan sebagai suatu sistem ide, sedangkan konsep dari wujud kebudayaan sebagai suatu rangkaian tindakan dan aktivitas manusia yang berpola. Honigmann (1959) dalam Koentjaraningrat (2009) membedakan adanya tiga gejala kebudayaan yaitu: (a) wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks dari ide, gagasan, nilai, norma, peraturan dan sebagainya, (b) wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks aktivitas serta tindakan berpola dari manusia dalam masyarakat, (c) wujud kebudayaan sebagai benda-benda hasil karya manusia. Tujuh unsur-unsur universal kebudayaan menurut Koentjaraningrat

meliputi: (1) sistim religi dan upacara keagamaan, (2) sistem dan organisasi kemasyarakatan, (3) sistem pengetahuan, (4) bahasa, (5) kesenian, (6) sistem mata pentjaharian hidup, dan (7) sistem teknologi dan peralatan.

b. Modal Sosial (Social Capital)

Yustika (2013) mengutip pendapat Bourdieu (1993), Coleman (1988), dan

Putnam (1993), tentang definisi modal sosial. Bourdieu mengemukakan bahwa modal sosial sebagai agregat sumberdaya aktual ataupun potensial yang diikat untuk mewujudkan jaringan yang awet (durable) sehingga menginstitusionalisasikan hubungan persahabatan (acquaintance) yang saling menguntungkan. Bourdieu

meyakini bahwa jaringan sosial (social network) tidaklah alami (natural given), melainkan dikonstruksi melalui strategi investasi yang berorientasi pada pelembagaan hubungan-hubungan kelompok (group relations), yang bisa dipakai sebagai sumber terpercaya untuk meraih keuntungan (benefits). Coleman, mendefinisikan modal sosial berdasarkan fungsinya, bahwa modal sosial memiliki entitas majemuk yang mengandung dua elemen: (1) mencakup beberapa aspek dari struktur sosial, (2) memfasilitasi tindakan tertentu dari perilaku (aktor). Putnam, mendefinisikan modal sosial sebagai gambaran organisasi seperti: jaringan, norma, dan kepercayaan sosial yang memfasilitasi koordinasi dan kerjasama yang saling menguntungkan. Berdasarkan definisi modal sosial yang dikemukakan Bourdieu, Coleman, dan Putnam, Yusika (2013) menyatakan bahwa modal sosial baru eksis bila ia berinteraksi dengan struktur sosial, atau bila telah terjadi interaksi dengan orang lain.

Struktur sosial menurut Soemardjan, merupakan keseluruhan jalinan antara unsur-unsur sosial yang pokok, yaitu kaidah-kaidah sosial (norma-norma sosial), lembaga sosial, kelompok sosial, dan lapisan sosial. Menurut Ralp terdapat dua konsep dalam struktur sosial, yaitu status dan peran (role). Bahwa struktur sosial memiliki 4 elemen dasar, yaitu: (1) status sosial, merupakan kedudukan atau posisi sosial seseorang dalam masyarakat, (2) peran sosial, merupakan seperangkat harapan terhadap seseorang yang menempati suatu posisi atau status sosial tertentu, (3) kelompok sosial, merupakan sekelompok orang yang memiliki norma-norma, nilai-nilai dan harapan yang sama serta secara sadar dan teratur saling berinteraksi, dan (4) institusi, merupakan kumpulan norma-norma yang berkisar pada pemenuhan suatu kebutuhan pokok di dalam kehidupan masyarakat.

Tiga konsep modal sosial yang dikemukakan Bourdieu, Coleman, dan Putnam, dalam Yustika (2013) yaitu, Bourdieu (1993) menekankan pada kemampuan modal sosial dalam menghasilkan sumberdaya ekonomi. Coleman

(1988) memandang modal sosial sebagai struktur bangunan sosial, khususnya peran modal sosial dalam mengakuisisi modal manusia, dan Putnam (1993) menekankan hubungan kerjasama yang memapankan demokrasi melalui keanggotaan kelompok kecil.

Coleman, mengemukakan tiga bentuk modal sosial. Pertama, struktur kewajiban (obligation), ekspektasi (expectation), dan kepercayaan (trustworthines). Pada konteks ini modal sosial tergantung pada: kepercayaan dari lingkungan sosial dan perluasan aktual dari kewajiban yang sudah dipenuhi. Kedua, jaringan informasi (information channels), yaitu individu yang memiliki jaringan lebih luas akan lebih muda (dan murah) untuk memperoleh informasi, sehingga diktakan modal sosialnya tinggi. Ketiga, norma dan sanksi yang lebih efektif (norms and effective sanctions). Norma dalam sebuah comunitas yang mendukung individu untuk memperoleh prestasi (achievement), dapat digolongkan sebagai bentuk modal sosial yang sangat penting.

2.6.2. Sumber daya

Menurut Shaffer et al (2006) dalam Dzulhijjah (2010) bahwa sumberdaya merupakan faktor utama dalam proses produksi, yang terdiri dari modal, SDM dan SDA teknologi. (1) modal adalah aspek sumberdaya materi yang menjadi dasar guna mendorong terlaksananya suatu kegiatan produksi atau kegiatan ekonomi pertanian, (2) sumber daya manusia (SDM) adalah aspek sumberdaya yang terkait dengan inovasi dan tindakan yang dilakukan oleh setiap individu atau komunitas dalam kegiatan ekonomi, (3) sumber daya alam (SDA) berbentuk bahan mentah yang disediakan oleh alam sebagai komoditas utama dalam kegiatan ekonomi pertanian, (4) teknologi adalah sumberdaya yang terkait dengan alat atau peralatan yang biasa digunakan oleh setiap individu atau komunitas dalam melakukan kegiatan ekonomi pertanian.

Menurut Saragih (2008) bahwa strategi dasar untuk meningkatkan kemandirian petani (kemandirian mikro), yaitu:

1) Meningkatkan kualitas SDM petani untuk menjadi seorang manajer usaha tani yang makin profesional melalui sistem pendidikan nonformal;

2) Menyediakan teknologi usahatani yang makin sesuai dengan kondisi agroekologi dan sosial budaya setempat sehingga mudah diadopsi oleh petani;

3) Menyediakan fasilitas publik yang makin mudah diakses oleh petani, misalnya irigasi, jalan desa, kredit usaha tani, informasi pasar, dan lain-lain.

2.6.3. Tingkat pengetahuan

Kadar pengetahuan dan kemampuan petani dalam melakukan aktivitas pertanian tentunya berbeda-beda, sehingga perlu selektif dalam memilih content materi penyuluhan pertanian. Campbell dan Barker (1997) mengungkapkan lingkup yang sesuai untuk penyuluhan pertanian meliputi: (a) secara teknik dapat dilakukan (technically feasible), teknologi yang ditawarkan dapat memproduksi komoditas di lingkungan petani, dan dapat dicapai oleh petani, (b) secara ekonomi menguntungkan (economically feasible), penggunaan teknologi berdampak pada peningkatan sistem usahatani yang menguntungkan, (c) Secara sosial dapat diterima (socially acceptable), inovasi yang ditawarkan diterima dan tidak menyebabkan

ketidakseimbangan sosial, (d) Lingkungan yang lestari dan berkelanjutan (environmentally safe and sustainable).

2.6.4. Tingkat partisipasi

Partisipasi adalah keikutsertaan seseorang atau sekelompok anggota masyarakat dalam suatu kegiatan. Partisipasi diartikan pula sebagai keikutsertaan seseorang di dalam kelompok sosial untuk mengambil bagian dari kegiatan masyarakat di luar pekerjaan atau profesinya sendiri, Theodorson (1969) dalam

Mardikanto (2010). Menurut Mubyarto dalam Ndraha (1990) mengartikan partisipasi sebagai kesediaan untuk membantu berhasilnya setiap program sesuai kemampuan setiap orang tanpa mengorbankan kepentingan diri sendiri.

Bank Dunia (1992) dalam Setiawan (2012) merinci indikator partisipasi masyarakat dalam pembangunan meliputi partisipasi dalam perencanaan (planing), pelaksanaan (implementasi), pemanfaatan hasil (benefit), dan penilaian atau evaluasi (evaluation). Berdasarkan penjelasan tersebut maka dapat dikatakan bahwa partisipasi ada pada setiap orang, karena adanya kerelaan untuk melibatkan diri dalam kegiatan pembangunan.

Dusseldorp (1981) dalam Mardikanto (2010) membedakan kesukarelaan menjadi: (1) partisipasi spontan, (2) partisipasi terinduksi, (3) partisipasi tertekan oleh kebiasaan, (4) partisipasi tertekan oleh alasan sosial ekonomi, (5) partisipasi tertekan oleh peraturan. Selanjutnya Slamet (1985) dalam Mardikanto et. al (2012) membagi partisipasi masyarakat dalam pembangunan menjadi lima jenis, yaitu: (a) ikut memberi input proses pembangunan, menerima imbalan atas input tersebut dan ikut menikmati hasilnya; (b) ikut memberi input, tidak ikut menerima imbalan atas input, tetapi ikut memanfaatkan hasilnya; (c) ikut memberi input dan menerima imbalan tanpa ikut menikmati hasil pembangunan secara langsung; (d) ikut menerima imbalan dan menerima hasil pembangunan tanpa ikut memberi input; dan (e) ikut memberi input tanpa menerima imbalan dan tidak menikmati hasilnya.

Partisipasi masyarakat dalam proses pembangunan akan terwujud sebagai suatu kegiatan nyata apabila terpenuhi adanya tiga faktor utama yang mendukungnya, yaitu: (a) kemauan, (b) kemampuan, dan (c) kesempatan bagi masyarakat untuk berpartisipasi.

2.6.5. Pendapatan

Pendapatan rumah tangga petani menurut Rahim at, al (2008) berasal dari lahan usahatani, memelihara ternak, menebang kayu secara ilegal, buruh tani maupun bekerja di luar sektor pertanian. Besar kecilnya pendapatan rumah tangga dipengaruhi oleh faktor ekonomi maupun sosial. Berdasarkan pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa pendapatan merupakan nilai dari seluruh barang dan jasa yang dihasilkan oleh suatu aktivitas ekonomi dalam suatu periode tertentu.

Persoalan ekonomi pertanian dan persoalan ekonomi di luar bidang pertanian menurut Mubyarto (1989) adalah adanya jarak waktu (gap) antara pengeluaran yang harus dilakukan petani dengan penerimaan hasil penjualan. Pendapatan petani hanya diterima setiap musim panen, sedangkan pengeluarannya berlangsung setiap hari, setiap minggu, atau kadang-kadang dalam waktu yang sangat mendesak sebelum tiba waktu panen.