KABUPATEN KEEROM
2. TINJAUAN PUSTAKA
2.3. Potensi Wilayah
Perluasan kesempatan berusaha kepada orang asli Papua, menurut Karma (2005) dapat diarahkan berusaha dalam beberapa cara yaitu: (1) perorangan, keluarga dan kelompok usaha sejenis, (2) pendekatan ekonomi keret (clean economy) dengan memanfaatkan penguasaan dan pemilikan sumberdaya lahan atas dasar hak ulayat, untuk kesejahteraan bersama anggota keret. Kaitannya dengan ini
Dietz dalam Baiquni (2007) menegaskan bahwa pengakuan hak atas sumberdaya alam menjadi penting untuk diperhatikan.
Pada umumnya karakteristik wilayah menunjukkan adanya keragaman budaya dan tingkat perkembangan sarana dan prasarana wilayah, serta potensi, permasalahan dan kebutuhan. Karakteristik wilayah tersebut mendasari implementasi suatu kebijakan pembangunan masyarakat desa agar tidak dapat diseragamkan antardaerah dan antarmasyarakat yang berbeda ragam. Sumardjo et al. (2010) dalam Pemikiran Guru Besar IPB, mengelompokkan tipologi masyarakat ke dalam dua karakteristik:
a. Tingkat perkembangan sarana, prasarana, dan sikap masyarakat terhadap program dibedakan ke dalam tiga tipe: (a) urban, (b) semi urban, dan (c) rural.
b. Sebaran populasi perkembangan mata pencaharian utama sebagian besar masyarakat di kawasan desa (tempat tinggal), yaitu: (a) dominan pertanian, (b) industri, atau (c) jasa.
Tipologi wilayah tidak terlepas dari masalah pokok pembangunan pedesaan sebagaimana dikemukakan oleh Arsyad et al. (2011) meliputi: (a) masalah kemiskinan absolut maupun relatif, (b) SDM yaitu masalah tekanan penduduk dan ketenagakerjaan, terutama berkaitan dengan tingkat prtumbuhan alami, kesehatan, pendidikan, produktivitas yang rendah, dan tingkat pengangguran, (c) keterbatasan infrastruktur perdesaan (fisik, ekonomi, dan sosial). Penyediaan infrastruktur tentunya berdasarkan kebutuhan (local needs), dan ketepatgunaan (appropriateness), dan (d) kelembagaan.
Menurut Saefulhakim (2008) dalam Pribadi et al, mengemukakan bahwa tingkat kemiripan antar obyek dapat digambarkan melalui nilai keragaman dan/atau jarak. Semakin kecil nilai keragaman antar obyek yang satu dengan obyek yang lain maka karakteristiknya semakin mirip. Semakin dekat jarak antara obyek yang satu dengan obyek yang lain maka karakteristiknya juga akan semakin mirip.
Potensi SDA, SDM, dan infrastruktur (transportasi) yang memadai akan mempercepat perkembangan wilayah, sebaliknya tingkat pertumbuhan wilayah yang rendah maka perkembangan wilayah menjadi lamban Adisasmita (2013). Demikian maka perbedaan potensi wilayah akan menyebabkan tingkat perkembangan wilayah yang berbeda. Berbagai klasifikasi wilayah pada hakekatnya memperhatikan keanekaan potensi, kondisi fisik dan ekonomi yang dimiliki masing-masing wilayah.
Hadi (2011) dalam menuju desa 2030 mengulas keterkaitan kawasan perdesaan dengan kawasan perkotaan yang adil, dijelaskan bahwa pembangunan wilayah tidak dimaksudkan untuk mengubah wilayah perdesaan menjadi perkotaan. Pembangunan wilayah bertujuan mengembangkan wilayah perkotaan dan wilayah perdesaan mempunyai keseimbangan dalam tingkat kemajuan wilayah, dan hanya dibedakan oleh sektor utama/dominan. Sektor utama wilayah perdesaan adalah pertanian (dalam arti luas), dan sektor utama wilayah perkotaan adalah jasa dan perdagangan.
Terkait pemikiran para ilmuan tersebut tentang berbagai masalah spatial, lingkungan dan kewilayahan tersebut di atas, Hagget (1970 dan 1972) dalam
Bintarto (1979), mengemukakan tiga pendekatan dalam geografi terpadu (integrated geography) dalam mendekati masalah, yaitu analisis keruangan (spaatial analysis), analisis ekologi (ecological analysis), dan analisis kompleks wilayah (regional complex analysis). Pendekatan geografi yang dikemukakan Hagget dapat diartikan sebagai suatu metode atau cara (analisis) untuk memahami berbagai gejala
dan fenomena geosfer, khususnya interaksi antara manusia terhadap lingkungannya, sebagai berikut:
a. Pendekatan Keruangan (Spatial)
Pendekatan keruangan (spatial) adalah upaya dalam mengkaji rangkaian persamaan dari perbedaan fenomena geosfer dalam ruang. Hal yang perlu diperhatikan dalam pendekatan keruangan adalah persebaran penggunaan ruang dan penyediaan ruang yang akan dimanfaatkan Hagget (1972) dalam Bintarto (1979).
Tujuan analisis spasial menurut Haining dalam Rustiadi (2009) adalah: (1) mendeskripsikan kejadian-kejadian di dalam ruang geografis (termasuk deskripsi pola) secara cermat dan akurat, (2) menjelaskan secara sistematik pola kejadian dan asosiasi antar kejadian atau obyek di dalam ruang, sebagai upaya meningkatkan pemahaman proses yang menentukan distribusi kejadian yang terobservasi, (3) meningkatkan kemampuan melakukan prediksi dan pengendalian kejadian-kejadian di dalam ruang geografis. Krugman (1995) dalam Kuncoro(2007) mengemukakan paradigma baru analisis spasial mengkombinasikan pendekatan ilmu ekonomi dan geografi (geografi ekonomi). Lebih lanjut dikemukakan bahwa geografi merupakan studi mengenai pola spasial di atas permukaan bumi, yang menjawab pertanyaan where (di mana aktivitas manusia berada), dan why (mengapa terjadi konsentrasi aktivitas di lokasi tertentu). Dalam perspektif geografi ekonomi, aspek pola spasial aktivitas ekonomi menjadi pusat perhatian utama dengan digunakannya Sistim Informasi Geografi, dan menjawab pertanyaan sentral dalam ekonomi regional,
yaitu “di mana” (where) lokasi aktivitas/kegiatan berada dan mengapa (why) terjadi
konsentrasi geografis atas suatu keadaan atau kejadian.
b.Pendekatan Lingkungan (Ekologi)
Mengkaji fenomena geosfer khususnya terhadap interaksi antara organisme hidup dan lingkungannya. Manusia merupakan salah satu komponen organisme hidup penting dalam proses interaksi, yang kemudian dikenal dengan ekologi manusia (human ecology) yang mempelajari interaksi antar manusia serta antara manusia dan lingkungan. Aktivitas manusia dalam kaitannya dengan interaksi dalam ruang terutama terhadap lingkungannya mengalami tahapan-tahapan sebagai berikut:
1) Tahapan yang sangat sederhana yaitu manusia tergantung pada alam (fisis Determinisme). Manusia belum memiliki kebudayaan yang cukup sehingga pemenuhan kebutuhan hidup manusia dipenuhi dari apa yang ada di alam dan lingkungannya (hanya sebagai pengguna alam). Sehingga pada saat alam tidak menyediakan kebutuhannya maka kelompok manusia ini akan berpindah menempati ruang atau lingkungan alam yang lain.
2) Manusia dan alam saling mempengaruhi. Manusia memanfaatkan alam yang berlebihan dan tidak memperhatikan kemampuan alamnya, sangat memungkinkan lingkungan alam mengalami kerusakan, maka akan berpengaruh terhadap manusia. Disisi lain manusia mampu mengurangi ketergantunggannya pada alam tapi manusia juga masih membutuhkan alam.
3) Manusia menguasai alam. Perkembangan ilmu pengetahuan dan tehnologi memungkinkan manusia dapat memanfaatkan alam secara maksimal.
Koentjaraningrat (1994) dalam Djoht (2002) mengelompokkan masyarakat Papua berdasarkan letak geografis dan mata pencaharian menjadi tiga, yaitu: (1) penduduk pantai dan hilir, kelompok masyarakat ini telah melakukan kontak dengan dunia moderen/luar, telah mengalami pendidikan formal dan kebutuhan hidup tergantung pada pasar dengan sumber alam yang melimpah, (2) masyarakat pedalaman, yaitu kelompok-kelompok kecil masyarakat yang tinggal di sepanjang sungai, hutan rimba. Aktifitas ekonominya adalah peramu yang sering berpindah- pindah tempat tinggal, jumlah penduduknya tidak besar. Kelompok masyarakat ini termasuk orang Bauzi, Keerom, Waropen atas, Asmat hulu dan lain-lain, (3) penduduk pegunungan tengah, kelompok masyarakat yang terdiri dari beberapa suku bangsa yang tinggal di lembah-lembah di pegunungan tengah yang terdiri dari pegunungan Mooke, Sudirman dan lain-lain. Jumlah penduduknya cukup padat, memelihara ternak lokal dan budidaya ubi jalar.
c. Pendekatan Kewilayahan
Pendekatan kewilayahan mengkaji fenomena geografi yang berbeda di setiap wilayah. Karakteristik wilayah terbentuk oleh perbedaan fenomena geografis di setiap wilayah. Interaksi antar wilayah akan berkembang karena pada hakekatnya terdapat perbedaan karakteristik, sehingga terjadi permintaan dan penawaran antar wilayah. Semakin tinggi perbedaan karakteristik wilayah maka interaksi antar wilayah semakin tinggi pula. Analisis perbedaan karakteristik wilayah perlu memperhatikan penyebaran fenomena tertentu (analisis keruangan), dan interaksi antara variabel manusia dan lingkungan untuk dikaji keterkaitannya (analisis ekologi).
2.4. Kelembagaan
2.4.1. Pengertian Kelembagaan
Yustika (2010) mengemukakan pengertian kelembagaan dengan mengutip pendapat ilmuan seperti Rutherford, Manig, North, Pejovich, Yeager, Bardhan, Challen, dan Scott. Kelembagaan menurut Rutherford (1994) dimaknai sebagai regulasi perilaku yang secara umum diterima oleh anggota kelompok sosial, untuk perilaku spesifik dalam situasi yang khusus, baik yang bisa diawasi sendiri maupun dimonitor oleh otoritas luar (external authority). Kelembagaan menurut Manig
(1991) adalah merefleksikan sistem nilai dan norma dalam masyarakat. North
(1994) memaknai kelembagaan sebagai aturan-aturan yang membatasi perilaku menyimpang manusia (humanly devised) untuk membangun struktur interaksi politik, ekonomi dan sosial. Kelembagaan menurut North (1990) mencakup aturan main (rule of the game) atau prosedur yang mengatur egen (masyarakat) berinteraksi dan organisasi (players) yang mengimplemantasikan aturan-aturan tersebut untuk mencapai hasil yang diinginkan.
Yustika (2010) mengemukakan tiga komponen kelembagaan yaitu:
1)Aturan formal (formal institutions), meliputi konstitusi, statuta, hukum, dan seluruh regulasi pemerintah lainnya. Aturan formal membentuk sistem politik (struktur pemerintah, hak-hak individu), sistem ekonomi (hak kepemilikan dalam kondisi kelangkaan sumber daya, kontrak), dan sistem keamanan (peradilan, polisi).
2)Aturan informal (informal institutions), meliputi pengalaman, nilai-nilai tradisional, agama dan seluruh faktor yang memengaruhi bentuk persepsi
subyektif individu tentang dunia dimana mereka hidup (Pejovich, 1999).
3)Penegakan, bahwa semua kelembagaan tersebut tidak akan efektif apabila tidak diiringi dengan mekanisme penegakan.
Kelembagaan adalah aturan yang dibuat oleh manusia untuk menentukan apa
yang “boleh” dan “tidak boleh dilakukan” untuk menghindari munculnya overuse, free rider dan mempertegas property right dalam pengelolaan CPR’s. Aturan CPR’s dibuat untuk menentukan siapa yang memiliki akses ke sumber daya, apa yang bisa diambil, dimasukkan, atau merekayasa sumber daya, berpartisipasi dalam membuat keputusan, dan siapa yang berwenang mengatur pengalihan hak dan kewajiban.
Peran kelembagaan seperti dikemukakan Kuncoro (2010) bahwa kelembagaan adalah hukum, norma sosial, tradisi, agama dan aturan perilaku lain yang menyediakan insentif. Kelembagaan seperti dikutip Yustika (2010) dari Yeager
(1999) dan Pejovich (1995) disajikan berikut ini, yaitu Yeager mengemukakan bahwa kelembagaan sebagai aturan main (rule of the game) yang mencakup regulasi yang memapankan masyarakat untuk melakukan interaksi, sedangkan Pejovich
mengemukakan bahwa kelembagaan dapat mengurangi ketidakpastian yang inheren dalam interaksi manusia melalui penciptaan pola perilaku.
Yustika (2010), dan Kuncoro (2010), keduanya mengemukakan bahwa pendefinisian kelembagaan dipilih dalam dua klasifikasi yaitu: (a) apabila berkaitan dengan proses, maka kelembagaan merujuk pada upaya untuk mendesain pola interaksi antarpelaku ekonomi sehingga mereka bisa melakukan kegiatan transaksi, (b) apabila berkaitan dengan tujuan, maka kelembagaan berkonsentrasi untuk menciptakan efisiensi ekonomi berdasarkan struktur kekuasaan ekonomi, politik, dan sosial antarpelakunya.
Sistem norma merupakan salah satu unsur dari kebudayaan, karena memiliki kekuatan mengikat yang berbeda, dan memiliki sanksi sosial yang berbeda jika dilanggar Syahyuti (2003). Empat tingkatan dalam norma yaitu: (1) cara (usage), (2) kebiasaan (folkways), (3) tata kelakuan (mores), dan (4) adat istiadat (custom).
2.4.2. Hak Kepemilikan
Hak kepemilikan diarahkan pada individu-individu menurut prinsip kepemilikan pribadi (private ownership). Sanksi atas hak kepemilikan dapat dipindahkan (transferable) melalui ijin menurut prinsip kebebasan kontrak (freedom of contract). Hak kepemilikan (right of ownership) atas suatu aset dapat dimengerti sebagai hak menggunakan (right to use), untuk mengubah bentuk dan isi hak kepemilikan (to change its form and substance), dan untuk memindahkan seluruh hak-hak atas aset (to transfer all rights in the asset), atau beberapa hak (some rights) yang diinginkan. Hak kepemilikan hampir selalu berupa hak eksklusif (exclusive rights), tetapi kepemilikan bukan berarti hak yang tanpa batas (unrestricted right)
Furubotn dan Richter (2007), dalam Yustika (2010).
Jenis hak kepemilikan yang eksis dalam masyarakat, menurut Pejovich (1995) dalam Yustika (2010) diantaranya (1) hak kepemilikan individu (private property right/ownership), (2) hak kepemilikan negara (state property right/ownership), dan (3) hak kepemilikan komunal (communal property right/ownership).
Tipe Hak pemilikan (property right) dalam mengkaji konsep pengelolaan SDA menurut Ostrom dan Schlager (1996) dalam Ostrom (1999), dikelompokkan menjadi lima tipe:
1)Hak akses (access right), hak masuk ke wilayah sumberdaya yang memiliki kejelasan batas guna menikmati manfaat non-ekstraktif.
2)Hak pemanfaatan (withdrawal right), hak memanfaatkan sumberdaya, atau hak untuk berproduksi.
3)Hak pengelolaan (management right), hak menentukan aturan operasional pemanfaatan sumberdaya.
4)Hak ekslusi (exclusion right), hak menentukan siapa yang boleh memiliki hak akses dan bagaimana hak akses tersebut dialihkan ke pihak lain.
5)Hak pengalihan (alienation right), hak menjual atau menyewakan sebagian atau seluruh hak-hak kolektif tersebut di atas.
Rustiadi (2009), mengemukakan bahwa pemindahan hak milik (penguasaan) kadang-kadang mengganggu keberlanjutan ketersediaan sumberdaya, akibat berubahnya perilaku masyarakat atas sumberdaya, dimana sumberdaya yang sebelumnya dilindungi dengan baik menjadi sumberdaya yang dieksploitasi. Proses transformasi penguasaan sumberdaya dari sumberdaya yang dikelola oleh masyarakat (adat) lokal menjadi sumberdaya milik negara di berbagai negara telah mengarah pada: (1) penghilangan kelembagaan kearifan lokal, (2) terjadinya situasi dimana kapasitas monitoring dan kontrol institusi negara menjadi lemah, terutama pada sumberdaya yang berskala luas dan kompleks yang diklaim sebagai kekuasaan negara, (3) pemanfaatan sumberdaya yang terjebak pada kondisi de facto open access dan kecenderungan para pihak menjadi berlomba untuk memanfaatkan sumberdaya sebesar-besarnya untuk kepentingan masing-masing.
Tragedi of the commons oleh Hardin (1986), dalam Rustiadi (2009) mengemukakan bahwa terjadinya tragedi of the commens apabila seseorang membatasi penggunaan sumberdaya yang terbatas namun tetangganya (masyarakat lainnya) tidak melakukannya. Argumentasi Hardin tersebut didasarkan atas dua
asumsi yaitu: (1) pengawasan dengan sifat “memaksa” dapat berjalan secara efektif
melalui pembentukan norma-norma internal atau pembentukan kewajiban pada semua pemakai sumberdaya, dan (2) kesepakatan dalam aturan yang dicapai dalam suatu negara, umumnya pada pemerintahan nasional, karena pada pemerintah lokal dan informal serta lembaga non pemerintah tidak dapat membangun cara yang efektif untuk melindungi atau memperbaiki keadaan yang mengarah pada tragedi.