Arso II Kab Keerom Yotefa Kota Jayapura Infrastruktur Jalan Armada Jarak
9. KAPASITAS EKONOMI PETANI ASLI PAPUA DI WILAYAH KABUPATEN KEEROM
9.2. Model Regres
9.2.1. Model regresi pendapatan (Y1)
Pendapatan petani yang dimaksudkan dalam penelitian ini berasal dari kegiatan usahatani. Pendapatan usahatani dalam penelitian ini adalah pendapatan kotor yang diperoleh petani dalam usahatani selama satu bulan yang diperhitungkan dari hasil penjualan produksi pertanian yang dinilai dalam rupiah berdasarkan informasi petani. Pendapatan usahatani dipengaruhi oleh variabel tingkat pendidikan formal (X1), lama kerja di lahan pertanian (X3), frekuensi mengolah lahan dalam satu tahun(X4), jumlah tenaga kerja dalam mengolah lahan pertanian (X5), ketersediaan dana (modal) mengolah lahan pertanian (X10), luas lahan pertanian yang diolah (X11), kesesuaian pendidikan non formal dengan jenis pekerjaan usahatani yang ditekuni (Dksp), dan penggunaan tehnologi pertanian (Dtek).
Rata-rata pendapatan petani di wilayah kabupaten Keerom per bulan Rp. 6.580.000; dengan tingkat pendapatan maximum Rp. 16.000.000; dan pendapatan minimum Rp. 500.000.
Model regresi yang terbentuk melalui penggunaan alat analisis SPSS 19 tersaji dalam Tabel 9.1, adalah sebagai berikut:
Model regresi dengan menggunakan peubah dummy tersebut dapat diuraikan untuk masing-masing kategorinya, yaitu dengan memasukkan nilai peubah dummy tersebut.
Model regresi untuk petani lokal dengan komoditi kakao dimana pendidikan non formal sesuai dengan bidang yang ditekuni (DL=1, DK=1, DKsp=1).
Model regresi untuk petani non lokal dengan komoditi kakao dimana pendidikan non formal sesuai dengan bidang yang ditekuni (DL=0, DK=1, DKsp=1).
Dari kedua model tersebut diperoleh rata-rata perbedaan pendapatan petani lokal dan non lokal dengan komoditi kakao, dimana pendidikan non formal sesuai dengan bidang yang ditekuni sebesar 773916 rupiah, dengan asumsi variabel yang lain tetap.
Tabel 9.1. Koefisien parameter model regresi untuk pendapatan (Y1) Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients t Sig. B Std. Error Beta 1 (Constant) -85085.975 492164.017 -.173 .863 X1 = Pendidikan formal 12964.672 19458.107 .010 .666 .506
X3 = Lama kerja di lahan pertanian 34450.551 15019.208 .091 2.294 .023* X4 = Frekuensi olah lahan dlm setahun -372135.765 118400.761 -.095 -3.143 .002*
X5 = Jumlah tenaga kerja 538850.764 109826.014 .179 4.906 .000*
X7 = Partisipasi dlm kelompok tani 554044.860 205648.477 .071 2.694 .008*
X10 = Ketersediaan dana 6.512 .494 .617 13.180 .000*
X11 = Luas lahan yang diolah 180250.501 97605.348 .031 1.847 .066
DL = Petani lokal (petani asli Papua) -773916.040 278246.590 -.088 -2.781 .006*
DK = Komoditas kakao 547369.517 156420.236 .060 3.499 .001*
DkSp = Kesesuaian pendidikan non
formal dgn pekerjaan 557270.765 161356.256 .061 3.454 .001* Sumber: Data Primer, 2013 Keterangan: *signifikan pada α=5%
Data regresi hasil analisis SPSS pada Tabel 9.1. menunjukkan variabel X1, X3, X5, X7, X10, X11, dan variabel dummy yaitu dummy kakao (DK), kesesuaian pendidikan non formal dengan jenis pekerjaan usahatani yang ditekuni (DKsp), berkorelasi positif terhadap pendapatan rumah tangga petani asli Papua maupun petani non Papua di wilayah Kabupaten Keerom. Variabel yang mempunyai korelasi negatif terhadap pendapatan adalah variabel X4 (frekuensi mengolah lahan dalam satu tahun), dan dummy petani lokal atau petani asli Papua (DL).
a. Pendidikan formal
Variabel pendidikan formal (X1) berpengaruh positif terhadap pendapatan, dengan koefisien 12964.672, dapat diartikan bahwa setiap pertambahan 1 tahun pendidikan petani maka pendapatan akan meningkat sebesar koefisien tersebut. Masalahnya adalah tingkat pendidikan petani yang tinggi tidak diikuti oleh kinerja petani asli Papua (terutama petani asal Keerom) dalam menggarap lahan pertanian. Hal ini dipengaruhi oleh banyak faktor, tetapi yang pasti adalah faktor pemilikan lahan hak ulayat yang sangat luas dan sumber bahan pangan yang tersedia secara alami di atasnya berpengaruh terhadap kinerja petani dalam mengolah lahan pertanian (Gambar 9.1).
Rata-rata pendidikan petani asli Papua relatif tinggi dari petani non Papua, namun kemampuan mengelola lahan, dan penggunaan tehnologi usahatani (tanaman pangan, perkebunan, dan peternakan) petani non Papua jauh lebih baik dibanding petani asli Papua. Demikian maka tingkat pendidikan formal tidak berpengaruh secara langsung terhadap pendapatan, apabila petani yang memiliki tingkat pendidikan tinggi tidak mampu menerapkannya dalam pekerjaan yang ditekuninya.
b. Lama bekerja di lahan pertanian (X3)
Analisis regresi atas variabel lama bekerja di lahan pertanian didasarkan atas rata- rata waktu aktivitas petani di lahan pertanian (jumlah jam/minggu). Hasil analisis menunjukkan bahwa lama bekerja di lahan pertanian berpengaruh nyata terhadap pendapatan, dengan koefisien positif 34450.551. Koefisien tersebut memberikan arti bahwa semakin lama seorang petani bekerja dilahan pertanian maka akan
meningkatkan pendapatan petani. Hal ini berarti bahwa setiap bertambah 1 jam kerja perhari atau perminggu akan meningkatkan pendapatan sebesar 34450.551 rupiah.
Lama bekerja di lahan pertanian memungkinkan petani melakukan banyak hal yang berkaitan dengan usahatani, yaitu (1) persiapan lahan meliputi pembuatan guludan, bedenan, membuat saluran air, (2) pemeliharaan yang terdiri dari membersihkan rumput dari tanaman, pemberantas hama dan penyakit, pemupukan tanaman, penyulaman, (3) pembibitan dan penanaman meliputi persemaian dan transplanting, tanam benih langsung, serta stek tanaman.
Banyak hal yang harus dilakukan petani di lahan pertanian sehingga membutuhkan keaktifan petani secara intensif apabila menginginkan produksi tanaman yang diusahakan memberikan hasil yang lebih baik. Pengelompokan petani berdasarkan ketekunan dalam mengelola lahan pertanian menunjukkan bahwa petani non Papua Distrik Arso memiliki jumlah jam kerja rata-rata 30 jam perminggu, Gambar 9.2.
Sumber: Data primer, 2013
Gambar 9.2. Waktu yang digunakan bekerja di lahan pertanian
c. Frekuensi mengolah lahan dan menanam
Hasil analisis regresi menunjukkan bahwa variabel frekuensi mengolah lahan dan menanam dalam satu tahun (X4) berpengaruh negatif terhadap pendapatan, dengan koefisien negatif -372135.765. koefisien negatif tersebut memberikan arti bahwa frekuensi mengolah lahan dan menanam dalam satu tahun, tidak menjamin peningkatan ekonomi petani. Hal ini disebabkan oleh ancaman hama dan bahaya banjir yang terjadi setiap tahun yang melanda lahan pertanian yang menyebabkan gagal panen.
Frekuensi mengolah lahan ternyata berbeda-beda diantara petani sesuai dengan komoditas pertanian yang ditanami dan kinerja petani. Petani non Papua di distrik Arso lokasi eks UPT memiliki intensitas mengolah lahan antara 3-4 kali setahun untuk tanaman sayuran, sedangkan tanaman padi baru dapat dilakukan antara 1-2 kali karena
0 5 10 15 20 25 30 Papua Arso Papua Artim Papua Waris Papua Arso Keerom Papua Arso Peg.
Papua all Non Papua all Non Papua Arso Non Papua Artim 13 6 13 8 19 11 24 30 13 Jumlah jam Jam / minggu
hanya mengandalkan curah hujan (belum ada irigasi) yang memadai. Komoditas yang ditanam tersebut sering terancam gagal panen karena banjir tahunan dan hama.
Frekuensi mengolah lahan bagi petani non Papua di Arso Timur antara 2-3 kali setahun, namun bercocok tanam pada luas lahan yang sangat terbatas 0,25 ha (lahan pekarangan). Demikian pula petani asli Papua yang bukan berasal dari Keerom, memiliki luas lahan yang terbatas seperti petani non Papua. Hanya 15% dari 40 responden yang memiliki luas lahan 1 ha dan 5% memiliki luas lahan 1,25 ha. Kondisi menyebabkan pendapatan yang diperoleh rendah, walaupun frekuensi mengolah lahantergolong sedang ke tinggi.
Petani asli Papua asal pegunungan (Wamena) rata-rata mengolah lahan kembali pada bulan ke 8, terutama untuk komoditas tanaman ubijalar dan singkong, sedangkan tanaman keladi umumnya terus berlanjut hingga 2 tahun. Khusus klasifikasi untuk kelompok petani ini umumnya memiliki 2 lahan kebun tanaman pangan yang diolah dalam selisih waktu yang hampir bersamaan. Caranya adalah setelah lahan 1 diolah dan ditanami, selanjutnya pada bulan ketiga dan keempat lahan 2 mulai diolah dan ditanami dengan komoditas yang sama. Strategi ini ternyata menjadikan petani asli Papua asal wilayah pegunungan di Keerom melakukan aktivitas panen sepanjang tahun, dan telah terbukti memberikan penghasilan yang tinggi seperti disajikan dalam Gambar 9.3.
Sumber: Data primer, 2013
Gambar 9.3. Pendapatan petani tiga distrik lokasi penelitian
Berbeda dengan petani asli Papua asal Keerom di distrik Arso, Arso Timur dan Waris, umumnya 2 tahun sekali mengolah lahan untuk ditanami kembali. Lahan kebun yang ditanami memang diperuntukan untuk dikonsumsi sendiri (subsisten) sehingga keladi, singkong, maupun ubijalar yang dipanen ketika itu pula ditanami kembali pada lubang yang sama. Cara ini dapat diidentikan sebagai lumbung pangan yang tersedia sepanjang tahun, sehingga petani tidak termotivasi untuk selalu berusaha mengolah lahan secara intensit sebagaimana petani non Papua dan petani Papua asal pegunungan. Hal lain yang juga dinilai sebagai faktor penghambat adalah ketersediaan potensi bahan pangan di lahan hak ulayat yang dapat dimanfaatkan setiap saat bila diperlukan. 0 2.000.000 4.000.000 6.000.000 8.000.000 10.000.000 12.000.000 14.000.000 Papua Arso Papua Artim Papua Waris Papua Arso Keerom Papua Arso Peg. Papua all Non Papua all Non Papua Arso Non Papua Artim 6.230.000 3.460.000 4.137.000 2.780.000 9.680.000 4.734.615 9.245.555 12.350.000 5.365.000 Juta (R p)
d.Jumlah tenaga kerja
Variabel jumlah tenaga kerja dalam mengolah lahan pertanian (X5) berpengaruh nyata terhadap pendapatan, dengan koefisien positif 538850.764. koefisien tersebut mengandung makna bahwa setiap penambahan satu tenaga kerja akan meningkatkan pendapatan sebesar 538850.764 rupiah.
Petani yang tergabung dalam kelompok tani di Distrik Arso yaitu kampung- kampung eks UPT memiliki tenaga kerja yang berasal dari kelompok tani yang terdiri dari 6 – 8 orang. Jumlah orang tersebut merupakan pecahan dari sebuah kelompok tani yang sengaja dikelompokkan dalam kelompok-kelompok kecil untuk menjaga efektifitas dan memudahkan pelayanan terhadap sesama anggota kelompok. Strategi ini dianggap sangat efektif karena pelayanan setiap anggota kelompok terhadap anggota kelompoknya bergulir dalam hitungan waktu cepat. Kelompok tani ini hanya menangani beban pekerjaan yang dianggap berat seperti: (1) pembersihan lahan, dan pembuatan saluran air, (2) cangkul dan bajak lahan, (3) menanam serta panen padi, dan bawang.
Berbeda dengan petani yang tidak tergabung dalam kelompok tani, segala sesuatu yang berhubungan dengan aktifitas pertanian dilakukan sendiri. Hal ini terjadi pada petani yang tidak aktif dalam kelompok tani maupun kelompok tani yang sudah tidak aktif (165 kelompok tani). Perbedaan jumlah tenaga kerja ternyata berpengaruh terhadap pendapatan yang diterima setiap bulan. Petani yang memiliki jumlah tenaga kerja yang berasal dari anggota kelompok tani (kampung eks UPT) jauh lebih tinggi hingga mencapai Rp. 16.000.000; (rata-rata Rp. 12.350.000). Petani asli Papua yang memiliki pendapatan mendekati petani non Papua di Arso adalah petani asal wilayah pegunungan Rp. 12.000.000; (rata-rata Rp. 9.680.000). Petani asal pegunungan walaupun tidak tergabung dalam kelompok tani namun secara adat dan budaya mereka memiliki kebiasaan gotong royong yang kuat, terutama di awal pembukaan atau pembersihan lahan. Praktek tersebut sangat meringankan beban kerja petani sehingga secara intensif mereka terus mengembangkan aktifitas pertanian.
e. Partisipasi dalam kelompoktani
Partisipasi petani dalam kelompoktani berpengaruh nyata terhadap pendapatan, dengan koefisien positif 554044.860. Koefisien tersebut bermakna setiap aktif dalam kegiatan kelompoktani maka dapat meningkatkan pendapatan sebesar 554044.860 rupiah. Berpartisipasi atau aktif dalam kegiatan kelompoktani sangat bermanfaat bagi petani dalam mengembangkan kerjasama atau saling membantu melakukan aktifitas di lahan pertanian. Partisipasi dalam kelompoktani telah membawa manfaat bagi petani non Papua di kampung-kampung eks UPT (Distrik Arso). Keaktifan petani tersebut turut meningkatkan pendapatan petani di wilayah ini lebih tinggi dari petani yang tidak aktif dalam kelompoktani.
f. Ketersediaan dana pengelolaan lahan pertanian
Ketersediaan dana untuk membiayai aktivitas pertanian meliputi pengadaan pupuk, pestisida, bibit, gotong royong, dan biaya-biaya lainnya berpengaruh nyata terhadap pendapatan, dengan koefisien positif 6.512. Koefisien tersebut memberikan arti bahwa modal sangat dibutuhkan bagi petani untuk meningkatkan pendapatan. Demikian maka setiap terjadi peningkatan pendapatan sebesar 6.512 rupiah maka modal yang dimiliki untuk mengolah lahan pertanian bertambah 1 (satu) rupiah.
Modal sangat dibutuhkan dalam kegiatan usahatani. Modal terdiri dari modal tetap (peralatan pertanian), dan modal tidak tetap (khususnya dana) untuk pengadaan benih, pupuk, pestisida, dan sarana lainnya sehingga produksi pertanian dapat ditingkatkan. Modal yang dimakdudkan pada bagian ini adalah ketersediaan dana pada petani untuk kegiatan usahatani. Petani asli Papua hanya membutuhkan dana untuk pembersihan lahan (gotong royong), sedangkan pupuk, pestisida, dan peralatan pertanian seperti traktor, peralatan semprot tidak digunakan oleh petani asli Papua.
Berbeda dengan petani non Papua di Distrik Arso dan Arso Timur, sangat membutuhkan sarana dan prasarana pertanian tersebut untuk meningkatkan produksi. Hal ini dimungkinkan karena lahan pertanian yang dimiliki petani non Papua terbatas sehingga pengelolaan lahan dengan pola intensifikasi harus dilakukan untuk mengendalikan penurunan kesuburan lahan. Sebaliknya petani asli Papua dapat saja mengolah lahan secara berpindah-pindah untuk menghindari penurunan kesuburan lahan, karena lahan yang dimiliki sangat luas.
g. Luas lahan pertanian yang diolah
Luas lahan pertanian yang diolah petani berkorelasi positif terhadap pendapatan, dengan koefisien positif 180250.501, dapat diartikan bahwa luas lahan pertanian yang diolah dapat meningkatkan pendapatan petani, setiap penambahan luas lahan 1 ha yang diolah, dapat meningkatkan pendapatan sebesar 180250.501 rupiah.
Luas lahan tanaman pangan yang diolah petani asli Papua antara 0,25-1,0 ha, sedangkan tanaman perkebunan antara (0,25 – 2,0), termasuk lahan kelapa sawit (plasma) oleh PTPN II. Petani asli Papua memiliki cadangan lahan yang luas di masing-masing wilayah hak ulayat. Berbeda dengan petani non Papua yang terbatas dalam pemilikan luas lahan, namun dengan bekal pengetahuan dan ketrampilan yang dimiliki mampu memaksimalkan pengolahan lahan 2,25-3,50 ha, sehingga pendapatan kelompok tani ini lebih tinggi dibanding petani asli Papua.
Pendapatan petani asli Papua terutama petani asal wilayah pegunungan tengah Papua (Wamena) yang saat ini berdomisili di Kabupaten Keerom akan meningkat pendapatan lebih tinggi dari pendapatannya saat ini apabila mereka memahami dan mau menggunakan teknologi pertanian terutama pupuk dalam bercocok tanam. Kelompok petani ini sangat tekun mengolah lahan dengan teknologi sederhana yaitu hanya mengandalkan tugal dan sekop, tidak mengenal penggunaan pupuk, pestisida, traktor, mesin semprot, apalagi teknologi stek. Komoditas pertanian tanaman pangan yang dipilih adalah: ubi jalar, keladi, bete, singkong, dan pisang. Pendapatan rata-rata kelompok petani ini lebih tinggi dari sesama petani Papua di Keerom, dan sebagian petani non Papua di Arso dan Arso Timur, bahkan mendekati pendapatan petani non Papua di Distrik Arso, yaitu pendapatan rata-rata sebesar Rp. 9.680.000; per bulan, dengan pendapatan maximum Rp. 12.000.000; per bulan, dan pendapatan minimum Rp. 3.000.000, per bulan, sedangkan rata-rata pendapatan petani asal Keerom sebesar Rp. 2.780.000.
Kedua kelompok petani tersebut dalam bercocok tanam sama-sama menggunakan tugal (kayu yang diruncing berbentuk pipih), sebagai peralatan utama menggemburkan tanah. Alasan menggunakan tugal karena mudah dibuat sendiri dan hasil produksi keladi, ubijalar dan singkong lebih berkualitas. Hal yang berbeda adalah petani asal pegunungan serius mengolah lahan pertaniannya yang terbatas, dibanding petani asal Keerom. Pendapatan kelompok tani dalam penelitian ini disajikan pada Gambar 9.3.
h.Kesesuaian pendidikan non formal dengan pekerjaan usahatani yang dilakukan
Kesesuaian pendidikan non formal (pertanian) dengan pekerjaan yang ditekuni berpengaruh nyata terhadap pendapatan, degan koefisien positif 557270.765. Koefisien tersebut dapat diartikan, bahwa latar belakang pendidikan non formal yang pernah diperoleh seorang petani apabila sesuai dengan pekerjaan yang dilakukan maka dapat meningkatkan pendapatan sebesar 557270.765 rupiah.
Pekerjaan petani non Papua eks UPT di Distrik Arso maupun petani PIR di Distrik Arso Timur sesuai dengan pendidikan non formal yang pernah diperoleh. Petani eks UPT memperoleh pendidikan non formal secara intensif dijaman ordebaru ketika pertama berada di lokasi transmigrasi, demikian halnya dengan petani PIR. Pada jaman ordebaru kelompoktani dan kegiatan kelompencapir sangat intensif dilakukan dengan berbagai insentif untuk memotivasi kelompok untuk menjadi yang terbaik diantara kelompok yang lain, sehingga pendidikan informal yang diperoleh benar-benar diaplikasikan dalam pekerjaan usahatani.
Kesesuaian pendidikan non formal dengan pekerjaan petani berpengaruh signifikan terhadap tingkat pendapatan petani non Papua (lebih tinggi) dari petani asli Papua.