• Tidak ada hasil yang ditemukan

Karakter dan ciri khas tokoh Punakawan Gagrag Yogyakarta

Dalam dokumen 2. IDENTIFIKASI DAN ANALISIS DATA (Halaman 38-44)

2.3. Tinjauan Karakter Tokoh Punakawan Gagrag Yogyakarta 1. Pengertian Punakawan Gagrag Yogyakarta

2.3.2. Karakter dan ciri khas tokoh Punakawan Gagrag Yogyakarta

Dalam pewayangan Yogyakarta terdapat karakter panakawan yang terdiri dari 4 karakter yaitu Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong. Tiap-tiap karakter memiliki cirri khas dan keunikannya masing-masing.

2.3.2.1. Semar

Semar yang sering disebut Ki Lurah Semar adalah punakawan utama dalam dunia pewayangan. Dalam pendalangan ia sering disebut dewa

ngejawantah. Artinya, dewa yang mengubah wujud dirinya sebagai manusia di

alam dunia. Sebenarnya, Semar adalah wujud Batara Ismaya. Dalam keadaan biasa, Semar hanya seorang panakawan, manusia hamba sahaya. Namu adakalanya, dalam situasi tertentu ia disusupi Sang Hyang Ismaya, sehingga jangankan kepada manusia, kepada dewa manapun ia akan berani (Ensiklopedi

Wayang Indonesia 1169).

Menurut buku Pakem Pendalangan Lampahan Wayang Purwa karangan S. Probohardjono alias K.R.T Muloyodipuro, ketika dunia telah tercipta, Hyang Mahakawasa (Yang Maha Kuasa) menciptakan empat sosok makhluk yang berwujud manusia. Sang Hyang Narada tercipta dari cahaya. Sang Hyang Antaga tercipta dari teja, Sang Hyang Guru tercipta dari manik, sedangkan Sang Hyang

Ismaya tercipta dari maya. Jadi, menurut versi ini, Narada, Antaga, Guru, dan Ismaya langsung diciptakan Sang Hyang Mahakawasa tanpa bapak tanpa ibu, sebagai makhluk pertama di alam semesta (pewayangan) (Ensiklopedi Wayang

Indonesia 1169).

Menurut Serat Paramayoga, Sang Hyang Ismaya adalah salah seorang dari tiga putra Hyang Tunggal. Ibunya adalah Dewi Rakti. Tetapi dalam pewayangan umumnya, terutama Wayang Purwa, ibu Sang Hyang Ismaya adalah Dewi Rekatawati. Istri Sang Hyang Ismaya menurut Paramayoga ialah Dewi Senggani, sedangkan dalam pendalangan adalah Dewi Kanastri atau Kanastren. Sang Hyang Ismaya lahir bersamaan dengan kedua saudaranya, Sang Hyang Manikmaya, dan Sang Hyang Antaga. Mulanya mereka lahir dalam wujud cahaya yang kemudian berubah wujud menjadi sebutir telur. Oleh Sang Hyang Tunggal, telur itu dipuja menjadi tiga orang putra. Kulit telurnya menjadi Sang Hyang Antaga, putih telurnya menjadi Sang Hyang Ismaya, sedangkan kuning telurnya menjadi Sang Hyang Manikmaya. Ketiga anak ini semua merasa dirinya paling sakti dan paling pantas menjadi pewaris kedudukan ayahnya sebagai penguasa alam kahyangan. Karena tidak satupun diantara mereka yang mau mengalah, Sang Hyang Tunggal memberi persyaratan : “Siapa di antara yang sanggup menelan Gunung Mahameru dan memuntahkannya kembali, dialah yang berhak atas singgasana kahyangan.” Akhirnya Sang Hyang Ismaya dapat menelan gunung tersebut namun tidak dapat mengeluarkannya lagi. Tahta kahyanganpun jatuh ke tangan Sang Htang Manikmaya (Ensiklopedi Wayang Indonesia 1169-1170).

Sang Hyang Ismaya kemudian diperintahkan oleh ayahnya untuk turun ke dunia dan bertindak sebagai pamong bagi manusia yang berbudi baik. Sebagai

pamong, Ismaya menggunakan nama Semar. Bambang Manumasa adalah

manusia pertama yang menjadi momongan Semar (Ensiklopedi Wayang Indonesia 1170).

Adapun sebagai panakawan, Semar dalam pengembaraannya selaku pamong manusia di Marcapada, dia mempunyai tiga anak angkat yaitu Gareng, Petruk, dan Bagong (Ensiklopedi Wayang Indonesia 1171).

Dalam berbagai lakon wayang, Semar muncul sebagai pemeran utama. Namun fungsi utama Semar pada seluruh lakon wayang adalah sebagai pengisi

dan pengarah utama nilai falsafah kehidupan. Setiap tindakan dan kata-kata Semar hampir selalu berisi nasihan dan mengandung bobot sebagai tuntunan (Ensiklopedi Wayang Indonesia 1173).

Semar, walaupun memiliki sifat amat sabar, sesekali pernah juga marah. Jika sedang marah, tidak seorangpun di dunia ini yang sanggup melawannya. Bahkan para dewa akan takut kepadanya. Senjata sakti Semar yang paling ditakuti oleh semua ‘makhluk’ pewayangan adalah kentutnya. Bau busuk (sampah nuklir) itu mampu memporak porandakan sepasukan raksasa (Ensiklopedi Wayang

Indonesia 1173).

Dalam falsafah Jawa, tokoh Semar menduduki tempat yang sangat terhormat. Dalam pengertian filosofi Jawa, Semar bukan lelaki, bukan pula perempuan, dan juga bukan banci. Dia juga melambangkan kebenaran yang hakiki, dan dengan demikian merupakan jaminan kemenangan serta keselamatan. Kata-kata Semar dianggap sebagai suara rakyat kecil, suara hati nurani manusia yang asasi (Ensiklopedi Wayang Indonesia 1173-1174).

gambar 2.29. Semar, Punakawan Gagrag Yogyakarta Sumber : Ensiklopedi Wayang Indonesia 4 (1999, 1171) 2.3.2.2. Gareng

Sering disebut sebagai Nala Gareng. Nala artnya hari, Gareng atau garing artinya bersih. Hatinya bersih dan tidak suka pada yang bukan haknya. Tangannya

ceko, kakinya pincang, Gareng merupakan simbol bahwa manusia mesti hati-hati

dalam melangkah dan bertindak. Matanya juling ke kiri dan ke kanan, mempunyai makna bahwa semua hal harus ditilik dari berbagai sudut pandang. Gareng adalah anak sulung Semar (Ensiklopedi Wayang Indonesia 558).

Nama asli Greng adalah Bambang Sukskati. Bertahun-tahun ia bertapa di bukit Candala untuk mendapatkan kesaktian. Setelah selesai tapanya, ia meminta ijin kepada ayahnya untuk menaklukan raja-raja. Di tengah jalan ia bertemu

dengan Bambang Panyukilan dan bertarung. Karena kesaktian mereka yang seimbang maka tidak ada yang menang ataupun kalah. Namun demikian, mereka tetap tidak mu berhenti bertarung. Pada akhirnya pertarungan mereka dihentikan oleh Semar dan mereka berdua diubah menjadi buruk rupa. Bambang Sukskati berubah menjadi Gareng dan Bambang Panyukilan berubah menjadi Petruk. Ciri-ciri fisik Gareng antara lain adalah mata juling, hidung bulat bundar, tak berleher, perut gendut, kaki pincang, rambut yang tumbuh dikepalanya dikucir, tubuhnya bungkuk, tangannya bengkok atau ceko, dan kakinya gejig karena tumitnya

bubulan sehingga ia kalau berjalan berjingkat-jingkat. Nala Gareng berumur

sangat panjang, ia hidup sampai zaman madya (Ensiklopedi Wayang Indonesia 558-559).

2.30. Gareng, Punakawan Gagrag Yogyakarta Sumber :

http-//3.bp.blogspot.com/_ecaFTwScRqs/TC83PfBI9KI/AAAAAAAAC2w/H47Og1H T8jc/s1600/Gareng-Yogya-02

2.3.2.3. Petruk

Petruk merupakan anak kedua dari Semar. Tentang asal usul Petruk, dalam pewayangan terdapat tiga cerita yang berbeda. Yang pertama Gareng dan Petruk sebenarnya adalah anak seorang raksasa dan nama aslinya adalah Kuncir dan Kucung. Karena diperlakukan buruk oleh ibu mereka, merekapun lari dari rumah dan akhirnya sampai di Dukuh Karangdempel dan diaku anak oleh Lurah Janggan Smarasanta. Mereka diberi nama baru yaitu Gareng dan Petruk (Ensiklopedi

Wayang Indonesia 1019).

Cerita yang kedua menyebutkan bahwa nama asli Petruk adalah Bambang Panyukilan. Ia berkenala dan di tengah jalan bertemu dengan Bambang Sukskati dan akhirnya bertarung. Pertarungan mereka dihentikan oleh Semar dan keduanya

diubah menjadi buruk rupa. Karena kagum dengan kebijaksanaan Semar keduanya ingin berguru kepada Semar. Akhirnya mereka diangkat menjadi anak-anak Semar (Ensiklopedi Wayang Indonesia 1019-1020).

Pada cerita yang ketiga, disebutkan bahwa Petruk sesungguhnya adalah anak raja Gandarawa. Karena merasa tidak dapat mendidik anak dengan baik, akhirnya raja Gandarawa menyerahkan Petruk kepada Semar. Petruk kemudian diangkat menjadi anak oleh Semar (Ensiklopedi Wayang Indonesia 1020).

Baik dalam Wayang Kulit Purwa maupun Wayang Orang, Petruk dikenal sebagai tokoh periang yang mahir segala macam gending. Itulah sebabnya dalam adegan gara-gara, Petruklah yang sering menjadi bintangnya. Petruk digambarkan bertubuh jangkung, lehernya besar, hidungnya panjang,selalu tersenyum, dan berkucir panjang (Ensiklopedi Wayang Indonesia 1022-1023).

gambar 2.31. Petruk, Punakawan Gagrag Yogyakarta Sumber : Ensiklopedi Wayang Indonesia 4 (1999, 1020) 2.3.2.4. Bagong

Menurut cerita dalam pewayangan, Bagong diciptakan dari bayangan Semar. Di hari-hari pertama Sang Hyang Ismaya turun ke dunia sebagai Semar untuk bertugas sebagai pamong golongan manusia yang berbudi baik, ia merasa kesepian. Karena itu ia memohon kepada ayahnya, Sang Hyang Tunggal, agar diberi teman. Sebagai teman setia Semar, adalah bayangannya, yang oleh Sang Hyang Tunggal kemudian diubah ujud menjadi Bagong. Itulah sebabnya bentuk dan wajah Bagong amat mirip dengan Semar. Seperti Semar, perut Bagong juga buncit, hidungnya peset, pantatnya besar (Ensiklopedi Wayang Indonesia 188).

Bagong mempunyai sifat dan pembawaan yang kekanak-kanakan. Lucu, jarang bicara, tetapi sekali bicara membuat orang tertawa. Dalam pewayangan, Bagong merupakan pengkritik yang tajam bagi tokoh wayang lain yang bertindak

tidak benar. Walaupun Bagong merupakan anak pertama Semar, dalam pewayangan ia sering dianggap sebagai anak bungsu. Hal ini terutama disebabkan karena sifat Bagong yang kekanak-kanakan (Ensiklopedi Wayang Indonesia 188).

gambar 2.32. Bagong, Punakawan Gagrag Yogyakarta Sumber : Ensiklopedi Wayang Indonesia 1 (1999, 188)

2.4. Tinjauan Buku Cerita Interaktif untuk Anak yang akan dirancang

Dalam dokumen 2. IDENTIFIKASI DAN ANALISIS DATA (Halaman 38-44)