LANDASAN TEORI
B. Karakter Disiplin dan Jujur 1. Disiplin
a. Pengertian Karakter Disiplin
Ditinjau dari asal kata, disiplin berasal dari bahasa latin discare yang memilki arti belajar. Dari kata ini kemudian muncul kata diciplina yang berarti pengajaran atau pelatihan. Menurut IG Wursanto, kedisiplinan merupakan bentuk ketaatan dan pengendalian diri yang rasional, sadar penuh, tidak memaksakan perasaan sehingga tidak emosional. Disiplin bukan sikap mental yang dibawa sejak lahir, tetapi banyak dipengaruhi oleh pengalaman kita, khususnya pengalaman pendidikan. Meskipun sifat-sifat kepribadian yang dibawa sejak lahir juga akan ikut menentukan. Untuk itu perlu upaya-upaya untuk menanamkan disiplin sejak dini terhadap peserta didik.
Secara etimologis “disiplin” berasal dari bahasa latin yakni, desclipina yang menunjukkan kepada kegiatan belajar mengajar. Seangkan dalam bahasa inggris kata disiplin disebut discipline, yang berarti tertib, taat atau mengendalikan tingkah laku, penguasaan diri, kendali diri.53 Maenurut kamus bahasa indonesia disiplin adalah tatanan, ( petunjuk, kaidah, ketentuan) yang di buat untuk mengatur.54 Disiplin adalah sikap mental yang tercermin dalam perbuatan atau tingkah laku perorangan, kelompok atau masyrakat berupa kepatuhan atau ketaatan (obedience) terhadap peraturan-peraturan dan ketentuan yang berlaku dalam masyarakat untuk tujuan tetentu.
Kedisiplinan berasal dari kata disiplin. Kannet W. Requena menjelaskan tentang kata disiplin yang dalam bahas inggris discipline, berasal dari akar kata bahasa latin yang sama (discipulus) yang dengan kata discipline mempunyai makna
53 Sofya Mari, Pengembangan dan Model Pembelajaran Dalam Kurikulum, 2013( Jakarta: Prestasi Pustakarya,2013),h.161.
54 Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 2003) h.997.
yang sama yaitu mengajari atau mengikuti pemimpin yang di hormati. Kedisiplinan merupakan suatu hal yang sangat mutlak dalam kehidupan manusia, karena seorang manusia tanpa disiplin yang kuat akan merusak sendi-seni kehidupannya, yang akan membahayakan dirinya dan manusia lainnya, bahkan alam sekitarnya.
Berdasarkan pemaparan beberapa ahli diatas maka dapat disimpulkan kedisiplinan adalah suatu sikap individu yang menunjukkan kepatuhan dan ketaatan terhadap peraturan yang telah di tetapkan lalu di lakukan secara suka rela (ikhlas) serta penuh dengan kesadaran diri
Kebanyakan oang-orang yang berhasil mencapai kesuksesan dalam hidupnya adalah orang-orang yang hidup teratur dan berdisiplin dalam memanfaatkan waktunya, karena dengan salah menjaga waktu hidup akan terasa lebih indah dari segala sisi kehidupannya. Sebagaimana firman allah dalam alquran al-ashr ayat 1-3 yang berbunyi:
Artinya: Demi masa, sesunguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan saling berpesan dengan kebenaran dan saling berpesan dengan kesabaran. (QS.Al-Ashr : 1-3)
Karakter atau sikap disiplin dapat didefinisikan sebagai salah satu karakter yang baik dan membawa seseoarang pada hal yang baik. Karakter disiplin jika benar-benar diterapkan akan membawa keuntungan bagi pelaku disiplin itu sendiri untuk menjadikan seseorang lebih baik lagi. Karakter disiplin dapat ditanamkan pada semua orang sebagai tanda bahwa orang tersebut dapat mematuhi aturan yang berlaku. Siswa dapat berperilaku disiplin dimana saja, baik disekolah maupun dirumah. Siswa menerapkan sikap disiplin di sekolah dengan mematuhi peraturan
36
yang sudah ditetapkan, sedangkan di rumah siswa mematuhi peraturan yang ditetapkan dalam keluarga. Siswa yang menanamkan karakter disiplin dalam dirinya, maka kegiatan yang dilakukan akan lebih terarah dan teratur.
Disiplin tidak bisa dibangun secara instan, dibutuhkan proses panjang agar disiplin menjadi kebiasaan yang melekat kuat dalam diri seorang peserta didik.
Tujuannya adalah untuk mengarahkan peserta didika agar mereka belajar mengenai hal-hal baik yang merupakan persiapan bagi masa dewasa kelak. Jika sejak dini sudah ditanamkan disiplin, mereka akan menjadikan sebagai kebiasaan dan bagian dari dirinya.
Disiplin akan membawa peseta didik menjadi masyarakat yang patuh dan taat pada peraturan yang berlaku, dan disiplin itu penting untuk menciptakan manusia yang seragam dalam kepatuhan pada peraturan.
b. Indikator Karakter Disiplin
Beberapa indikator yang dapat dikemukakan agar disiplin dapat dibina dan dilaksanakan dalam proses pendidikan. Sehingga suatu pendidikan dapat ditingkatkan adalah sebagai berikut:
a. Melaksanakan tata tertib dengan baik, baik guru maupun siswa, karena tata tertib yang berlaku merupakan aturan dan ketaatan yang harus ditaati oleh siapapun demi kelancaan proses pendidikan itu yang meliputi:
a) Patuh terhadap peraturan sekolah atau lembaga pendidikan.
b) Mengindahkan petunjuk-petunjuk yang berlaku di sekolah atau suati lembaga pendidikan tetentu, contohnya menggunakan kurikulum yang berlaku atau membuat satuan pelajaran.
c) Tidak membangkan pada pertauran yang berlaku, baik para pendidik maupun peserta didik, contohnya membuat satuan pelajaran bagi guru dan mengerjakan PR bagi peserta didik.
d) Tidak suka berbohong.
e) Tingkah laku yang menyenangkan f) Rajin dalam belajar mengajar.
g) Tidak suka malas dalam belajar mengajar
h) Tidak menyuruh orang untuk bekerja demi dirinya i) Tepat waktu dalam belajar mengajar.
j) Tidak dalam belajar mengajar.
b. Taat terhadap kebijakan yang berlaku
a) Menerima, menganalisis dan merangkai berbagai peraturan pendidikan.
b) Tidak membuat keributan di dalam kelas.
c) Mengerjakan tugas sesuai dengan waktu yang telah ditentukan.
d) Membantu kelancaran proses belajar mengajar.
c. Menguasai diri sendiri dan introspeksi diri, menguasai diri berarti guru maupunpun peserta didik dalam memiliki rasa tanggung jawab yang tinggi terhadap keberlangsungan belajar mengajar. Sedangkan introspeksi berarti guru maupun peserta didik senatiasa memperhatikan indikator kedisiplinan melalui upaya seperti melakukan evaluasi secara rutin terhadap belajar mengajar.
Menurut Abu Ahmad dan Widodo Supriono seorang siswa memilki disiplin apabila siswa tersebut memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
a. Siswa giat dan tekun dalam belajar dan berkonsentrasi dalam mengikuti pelajaran di dalam kelas.
38
b. Siswa datang kesekolah tepat pada waktunya.
c. Menaati tata tertib sekolah.55
Siswa yang memilki sikap disiplin maka mereka akan mempunyai tanggung jawab yang tinggi, yang sudah biasa disiplin, akan mampu menggunkanan waktu yang baik.
Menurut Arikunto dalam penelitian mengenai kedisiplinan mempunyai tiga macam indikator yaitu:
a) Perilaku kedisiplinan di sekolah (kehadiran, kelengkapan berpakaian dan tingkah laku).
b) Perilaku kedisiplinan dalam kegiatan belajar (tugas sekolah, keaktifan dalam belajar, keteraturan dalam belajar).
c) Perilaku kedisiplinan di dalam rumah ( keteraturan dalam belajar).56
c. Fungsi Disiplin
Membangun tradisi disiplin pada anak di lakukan mulai dari kecil karena perilaku dan sikap disiplin seseorang terbentuk tidak secara optimis, namun melalui proses yang panjang dan tidak dibentuk dalam waktu yang singkat. Disiplin dalam islam sangat dianjurkan untuk selau diaktualisasikan dalam kehidupan sehari-hari.
Dapat diketahui bahwa Allah menyuruh kepada manusia supaya dapat memanfaatkan waktu dengan baik, yaitu tidak menyia-nyiakan waktu yang tersedia dengan melakukan perbuatan yang tidak bermanfaat. Ini menunjukkan bahwa allah menyuruh manusia untuk berlaku disiplin dalam menggunkan waktu yang tersedia.
Namun, perintah disiplin tersebut tidak terbatas dalam aspek waktu saja, akan tetapi disiplin yang diaktualisasikan dalam segala aspek kehidupan.
55 Tabrani Rosyam, Kemampuan Dasar Guru Dalam Proses Belajar Mengajar, (Bandung: Remaja Rosdakarya,1991) h,18
56 Abu Ahmadi dan Widodo Suriono, Psikologi Belajar ( Jakarta: Rineka Cipta,2004) h,3
Menurut sofyan amri mengutip pendapat Tu‟u fungsi kedisiplinan di sekolah adalah sebagai berikut:
a. Menata kehidupan bersama b. Membangun kepribadian c. Melatih kepribadian d. Pemaksaan
e. Hukum
f. Menciptakan lingkungan yang kondusif57
Konsep disiplin juga diterangkan dalam islam, salah satu yang menunjukkan konsep kedisiplinan dalam islam adalah kewajiban kita untuk selalu taat dan patuh kepada allah dan rasul serta pemimpin.
d. Unsur-unsur disiplin
Sebelum seseorang memiliki sikap disiplin maka akan didahului oleh serangkaian sikap yang akan mendorong terbentuknya sikap disiplin. Sikap-sikap inilah yang kemudian disebut sebagai unsur-unsur disiplin.
Unsur-unsur disiplin yang diharapkan mampu mendidik anak untuk berperilaku sesuai dengan standar yang ditetapkan kelompok sosial mereka. Ia harus mempunyai empat unsur pokok, yaitu:
a. Peraturan: peraturan adalah pola yang ditetapkan untuk tingkah laku. Pola tersebut bisa ditetapkan oleh orang tua, guru, atau teman bermain.
Tujuannya adalah untuk membekali anak dengan pedoman perilaku yang disetujuai dalam situasi-situasi tertentu.
b. Hukuman: hukuman mempunyai peranan antara lain menghalangi pengulangan tindakan yang tidak diinginkan oleh masyarakat, mendidik
57 Mari sofya. Pengembangan dan model pembelajaran dalam kurikulum. (Jakarta: prestasi pustaka karya. 2013) h. 73
40
anak membedakan mana yang benar dan mana yang salah, serta memberi motivasi untuk menghindari perilaku yang tidak diterima masyarakat.
c. Penghargaan: penghargaan berati tiap bentuk pemberian untuk suatu hasil yang baik. Penghargaan mempunyai nilai mendidik, sebagai motivasi untuk mengulang perilaku yang di setujui secara sosial, memperkuat perilaku yang disetujui secara sosial.
d. Konsistensi: konsistensi berati tingkat keseregaman atau stabilirtas,. Harus ada konsistesi dalam peraturan yang digunakan sebagai pedoman perilaku, konsistensi dalam cara peraturan ini diajarkan dan dipaksakan, dalam hukuman yang diberikan pada mereka yang tidak menyesuaikan pada standar dan dalam dalam penghargaan bagi mereka yang menyesuaikan.58 e. Faktor-faktor yang mempengaruhi kedisiplinan di sekolah
Disiplin sangat berpengaruh dalam perkembangan mode moral, meskipun anak memerlukan disiplin, disiplin merupakan masalah yang serius bagi anak yang lebih besar. Disiplin sangat penting bagi peserta didik, maka dari itu disiplin di tananmkan secara konsisten kepada siswa. Dengan menamkan perilaku disiplin secra konsisten akan menjadi sutu kebiasaan yang tertanam dalam diri siswa. Mungkin tidak asing bagi kita orang-orang sukses pada umumnya karena memilki sifat disiplin dalam dirinya. Orang-orang yang berhasil dalam bidangnya masing-masing umumnya mempunyai kedisiplinan yang tinggi. Sebaliknya orang yang gagal, umumnya tidak disiplin.
Berikut ini adalah beberapa faktor yang mempengaruhi terbentuknya kedisiplinan disekolah yaitu:
58 Elizabeth Hurlock. Perkembangan Anak, ( Jakarta: Erlangga, 1970) h.74
a. Faktor internal: faktor yang berasal dari dalam diri elemen sekolah itu sendiri, baik dari kepala sekolah, guru, karyawan, siswa, dan pihak-pihak terkait lainnya. Maka dari itu, faktor internal kedisipinan yaitu:
1) Minat adalah kesedian jiwa yang sifatnya aktif untukmenerima sesuatu dari luar. Siswa memilki minat disiplin yaitu siswa memilki rasa peduli yang tinggi terhadap aturan dan tata tertib yang telah dibuat oleh pihak sekolah. Bentuk minat ini akan muncul dengan siswa menerapkan perilaku disiplin di sekolah.
b. Emosi adalah sutu keadaan yang mempengaruhi dan menyertai penyesuaian di dalam diri secara umum, keadaan yang merupakan penggerak mental dan fisik bagi individu dan dapat di lihat melalui tingkah laku luar tertentu. Contohnya gembira, marah, terkejut putus asa dan lain sebagainya.
c. Faktor eksternal: adalah faktor yang berasal dari luar diri ndividu sehingga menjadi penyebab siswa menjadi disiplin. Adapun beberap faktor dari luar yang menjadi penyebab kedisiplinan siswa yaitu:
1) Sanksi/ hukum adalah tindakan yang di jatuhkan kepada anak secara sadar dan sengaja sehingga menimbulkan nestapa, dan dengannnya adanya nestapa itu anak menjadi sadar akan perbuatannya danberjanji dalam hatinya untuk tidak menguanginya. Hukuman adalah perbuatan yang secar intensional diberikan sehingga menyebab bimbingan dan konseling lahir batin diarahkan ntuk membuka hati nurani dan penyadaran si penderita akan kesalahannya.59
59Kartini,Kartono, Pengantar Ilmu Mendidik Teoritis Apakah Pendidikan Masih Diperlukan, (Bandung : Mizan, 2004) h.47
42
2) Situasi dan kondisi sekolah sangat berpegaruh pada pebentukan perilaku manusia seperti faktor ekologis, faktor rancangan dan arsitektural, faktor temporal, suasana perilaku dan faktor sosial. Tapi manusia memberikan reaksi yang berbeda-beda terhadap situasi yang dihadapinya sesuai dengan karakteristik personal yang dimilkinya.
f. Strategi Menanamkan Disiplin
Disiplin harus diatamkan dan ditumbuhkan dalam diri anak, sehingga akhirnya rasa disiplin itu akan tumbuh dari hati sanubari anak itu sendiri. Dengan demikian pada akhirnya disipin itu menjadi disiplin diri sendiri (self discipline). Adapun langkah-langkah untuk menanamkan disiplin pada anak, antara lain pembiasaan, contoh atau teladan, sanksi/hukuman.
a. Pembiasaan
Kepribadian yang tertib, teratur, taat, patuh, dan berdisiplin mustahil dapat terbentuk begitu saja. Hal ini memerlukan waktu dan proses yang memakan waktu. Perlu adanya latihan, pembiasaan diri, mencoba, berusaha, dengan gigih, bahkan dengan gemblengan dan tempaan keras.
Dengan latihan dan membiasakan diri, disiplin akan terbentuk dalam diri siswa dan pada akhirnya disiplin itu menjadi disiplin diri sendiri.
Belajar membentuk sikap melalui pembiasaan itu juga dilakukan oleh skinnermelalui teorinyaoperant conditioning. Pemebentukan sikap melalui pembiasaan yang dilakukan watson berbeda dengan proses pembentukan sikap yang dilaukan oleh skinner yang menekannkan pada proses peneguhan respon anak. Setiap kali anak menunjukkan prestasi yang baik diberikan penguatan dengan cara diberikan hadiah atau perilaku yang
menyenangkan. Lama kelamaan siswa akan berusahamenunjukkan sikap positifnya.
b. Contoh atau teladan
Dalam kamus besar bahasa indonesia disebutkan bahwa keteladanan pada dasarnya adalah teladan yaitu (perbuatan, barang atau sebagainya).
Yang patut ditiru dan dicontoh. Metode keteladanan sebagai suatu metode digunakan untuk merealisasikan suatu tujuan. Pendidikan dengan memberi contoh keteladanan yang baik kepada siswa agar mereka dapat berkembang dengan baik secara fisik dan mental. Mereka jugamemilki akhlak yang baik. Keteladan memberikan kontribusi yang besar dalam pendidikan baik secara ibadah,akhlah, kesenian,dll.60
Teladan ialah tindakan perbuatan pendidik yang sengaja dilakukan untuk ditiru oleh anak didik. Teladan merupakan alat pendidikan yang utama dalam menanamkan keyakinan atau membentuk tingkah laku atau akhlak yang baik kepada anak didik.61 Perbuatan dan tindakan kerap kali lebih besar pengaruhnya dibandingkan dengan kata-kata . karena itu, contoh dan teladan disiplin kepala sekolah dan guru-guru sangat berpengaruh terhadap disiplin para siswa. Mereka lebih mudah meniru apa yang mereka lihat, dibanding apa yang mereka dengar. Dan hal ini karena guru adalah teladan bagi siswa, yang dalam kiasan sering disebut “digugu dan ditiru”.
c. Penyadaran
Disiplin berguna untuk menyadarkan seseorang bahwa dirinya perlu menghargai orang lain dengan cara mentaati dan mematuhi peraturan yang
60 Maunah Binti, Metodologi Pengajaran Agama Islam Metode Penyusunan Desain Pembelajaran ( yogyakarta, teras 2009) h 102
61 H.M.Alisuf Sabri, Pengantar Ilmu Pendidikan....H.56
44
berlaku. Ketaatan dan kepatuhan itu membatasidirinya merugikan pihak lain, tetapi hubungan dengan sesama menjadi baik dan lancar.
d. Pengawasan
Pengawasan bertujuan untuk menjaga atau mencegar agar tidak terjadi sesuatuyang tidak diinginkan. Dan untuk memperkuat kedudukan dari pengawasan, maka dapat diikuti adanya hukuman-hukuman dimana perlu.62
Adapun strategi umum penerapan disiplin menurut Resmain dan Payne, seperti yang dikutip E.Mulyasa dalam buku standar kompetensi dan sertifikasi guru, sebagai berikut:
1. Konsep diri, strategi ini menekankan bahwa konsep-konsep diri peserta diri pesrta didik merupakan faktor penting dari setiap pelaku.
2. Keterampilan berkomunikasi, guru harus memilki keterampilan komunikasi yang efektif agar mampu menerima semua perasaan dan mendorong timbulnya kepatuhan peserta didik.
2. Kejujuran
a. Pengertian Karakter Jujur
Jujur berasal dari bahasa Arab ”asb-shiqu” atau “shiddiq”,y yang artinya nyata, benar, atau berkata benar. Dalam kamus besar bahasa Indonesia kata jujur merupakan kata dasar dari kejujuran yang berarti lurus hati, tidak bohong, tidak curang, tulus, dan ikhlas.Sedangkan kejujuran berarti sifat (keadaan) jujur, ketulusan hati, kelurusan hati.63
62 Amir dien indra kusuma, pengantar ilmu pendidikan,... H.23
63 Muhammad Amin”Peran Guru Dalam Menanamkan Nilai Kejujuran Pada Lembaga Pendidikan”
Jurnal Studi Manajemen Pendidikan vol. 1, no 01, 2017. h.109
Secara harfiah jujur berarti lurus hati, tidak berbohong, tidak jurang. Jujur merupakan nilai penting yang harus dimiliki setiap orang, jujur tidak hanya diucapkan, tetapi juga harus tercermin dalam perilaku sehari-hari. Pepatah kuno mengatakan “mata uang yang laku dimana-mana”. Bawalah sekeping kejujuran dalam saku anda, maka itulah melebihi mahkota raja di raja sekalipun.
Jujur adalah perilaku yang di dasarkan pada upaya yang menjadikan dirinya sebagai orang yang selalu dapat dipercaya dalam perkataan, tindakan dan pekerjaan, baik terhadap diri sendiri maupun terhadap pihak lain. Jujur adalah mengakui berkata atau memberikan suatu informasi yang sesuai kenyataan dan kebenaran.64 Jujur merujuk pada suatu karakter moral yang mempunyai sifat-sifat positif dan mulai seperti integritas, dan lurus sekaligus tidak berbohong, curang maupun mencuri.
Karakter yang perlu dimilki oleh siswa adalah kejujuran yang merupakan bagian dari spiritual qoution( SQ). Kejujuran sangat berkaitan dengan sifat amanah dalam diri siswa, hal ini harus dilandasi oleh kecintaan dan ketaqwaan terhadap Allah SWT. Sifat amanah dilandasi oleh kejujuran, sehingga merupakan atribut karakter yang seharusnya dibentuk secara berkesinambungan dengan kejujuran.
Karakter jujur adalah sikap yang harus ditananamkan pada anak agar dapat tumbuh menjadi pribadi yang dapat dipercaya dalam perkataan, perbuatan (tindakan), dan pekerjaan terhadap diri sendiri maupun orang lain, baik dirumah, di sekolah, maupun di masyarakat.
Nilai jujur penting untuk ditumbuh kembangkan sebagai karakter karena sekarang ini kejujuran semakin terkikis. Orang jawa bilang, “ jujur malah ajur”
(jujur justru hancur ). Hal ini disebabkan ketidakjujuran telah sedemikian mewabah
64Amirullah Syarbini, Pendidikan Karakter Berbasis Keluarga, (Jogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2016) hlm.159
46
dan memengaruhi sistem kehidupan secara keseluruhan sehingga ketika ada orang yang jujur ia justru akan terperosok dalam kesulitan. Jika ketidak jujuran telah menjadi sistem, masa depan bangsa ini akan suram, ketidak jujuran menjadi penyebab bagi lahirnya berbagai perilaku yang merugikan sendi-sendi kehidupan bangsa ini. Ketidakjujuran yang mendorong berkembangnya perilaku korupsi, kolusi dan nepotisme, kekerasan dan penipuan, dan sebagainya.
Jujur dianggap bersifat moral, sedangkan dusta dianggap immoral. Kejujuran dapat saja tidak diinginkan dalam banyak sistem sosial dengan alasan penjagaan diri (self preservation). Disini kejujuran sering kali dianjurkan secara publik, tetapi dapat dilarang dan dihukum jika hal itu dianggap sebagai ancaman dengan alasan bid‟ah, penghianatan atau tidak sopan. Tetapi pada dasarnya kejujuran itu adalah alamiah dan sanata diperlukan untuk pertimbangan diri dan masyarakat. Yang penting adalah bagaimana menerapkannya. Jujur bermakna keselarasan antara berita dengan kenyataan yang ada. Jadi kalau suatu berita sesuatu dengan keadaan yang ada, maka dikatan benar/jujur, tetapi kalu idak, maka dikatakan dusta. Kejujuran itu pada ucapan, juga ada pada perbuatan, sebagaimana seseorang yang melakukan suatu perbuatan, tentu sesuai dengan yang ada pada batinnya.
Ada beberapa tingkat kejujuran menurut kong fu tse, yaitu:
a. Li, ingin tampak benar untuk keuntungan pribadi.
b. Yi, mengatakan apa yang benar atas dasar bahwa kita akan diperlakukan secara sama.
c. Ren, berdasarkan bentuk yang paling mulia dari empati terhadap yang lain yang berbeda dari kita baik secara umur, jenis kelamin, budaya, pengalaman, keluarga, dan sebaginya.
Rasanya tidak dibutuhkan logika dan argumentasi yang mengukuhkan arti dan makna penting jujur ini. Peneliti kira semua orang akan sepakat jika jujur itu penting, jujur itu mulia, jujur itu harus di tumbuh kembangkan, dan jujur itu sifat yang layak diteladani. Harus ada kemauan dan kesadaran untuk menindak lanjuti dalam aksi nyata. Dengan menjadi orang yang jujur akan menjadi golongan orang-orang yang mengantarkan kita ke dalam surga yang menjadi tujuan dan cita-cita tertinggi.
b. Karakteristik Kejujuran
Menurut Kusuma,dkk orang yang memiliki karakter jujur dicirikan dengan perilaku diantaranya yaitu:
a. Jika bertekad ( inisiasi keputusan) untuk melakukan sesuatu, bertekadnya adalah kebenaran dan kemaslahatan.
b. Jika berkata tidak berbohong ( benar apa adanya).
c. Jika adanya kesamaan antara yang dikatakan hatinya dengan apa yang dilakukannya.
Seseorang yang memilki karakter jujur akan disegani oleh banyak orang dalam berbagia hal seperti dalam persahabatan, mitra kerja, dan sebagainya. Karakter jujur merupakan salah satu karakter pokok yang bisa menjadikan seseorang cinta kebenaran dan mau mengambil resiko sebesar apapun dari kebenaran yang dilakukannya.
Menurut mustari kejujuran harus diterapkan sejak dini, di mana saja dan kapan saja. Guru dapat membuat peraturan yang dapat mengurangi, bahkan meniadakan ketidakjujuran untuk menegakkan kejujuran pada diri siswa di sekolah.
Disiplin sekolah sangat penting ntuk mendukung pendidikan kejujuran yang digegakkan
48
c. Strategi Guru BK Dalam Penanaman Sikap Jujur Siswa
Kejujuran merupakan nilai kerakter yang harus ditanamkan pada diri seorang anak sejak kecil,karena kejujuran merupakan nilai kunci dalam kehidupan manusia.
Kejujuran harus diintegrasian dalam lingkungan kehidupan keluarga, masyarakat dan khususnya dilingkungan lembaga pendidikan (sekolah).
Dalam rangka penanaman sikap jujur disekolah ada beberapa startegi yang dapat dilakukan oleh guru, yaitu:
a. Memberikan pengajaran secara terus menerus dan terintegrasi
Secara umum, seseorang dalam melakukan tindakan dan aktivitas sehari-hari cendrung dipengaruhi oleh tigkat pengetahuan orang tersebut. Jika memiliki pengetahuan yang memadai maka tindakannya akan lebih baik dan sebaliknya jika pendidikannya kurang memadai tindakannya cendrung kurang baik.
Begitupun pengetahuan tentang kejujuran, peran konselor dalam menanamkan kejujuran pada peserta didik adalah memberikan pengetahuan melalui pengajaran secara terus menerus dan memadai tentang kejujuran. Misal, pengetahuan tantang apa yang dimaksud tentang jujur,mengapa seseorang harus berbuat jujur dan apa konsekuensi jika seseorang tidak jujur65
b. Memberikan keteladanan
Keteladanan tidak hanya diberikan oleh para guru disekolah, tatapi juga bagi seluruh unsur yang ada di setiap unsur tersebut saling besinergi. Kepala sekolah
Keteladanan tidak hanya diberikan oleh para guru disekolah, tatapi juga bagi seluruh unsur yang ada di setiap unsur tersebut saling besinergi. Kepala sekolah