HASIL DAN PEMBAHASAN
5.1 Karakter Perdesaan pada Hulu DAS Kalibekasi
Salah satu syarat yang harus dilakukan dalam menyusun rencana pengelolaan suatu kawasan adalah mengetahui karakter dari kawasan tersebut. Hal ini bermanfaat untuk mengetahui bentuk-bentuk pengelolaan yang sesuai dan dapat dijalankan dengan baik. Oleh karena itu, dalam penelitian ini dilakukan identifikasi karakter perdesaan yang mencakup, karakter lanskap, karakter sosial, dan karakter spiritual.
5.1.1 Karakter Lanskap
Karakter lanskap yang dikaji pada penelitian ini meliputi tanah dan topografi, iklim, hidrologi, keanekaragaman hayati (vegetasi dan satwa), serta potensi keindahan lanskap pada masing-masing lokasi.
5.1.1.1Tanah dan Topografi
Tanah pada seluruh lokasi merupakan kompleks latosol merah kekuningan, latosol cokelat podsolik (BPDAS, 2007). Menurut Soepraptohardjo (1976), jenis tanah latosol cokelat memiliki air cukup tersedia, kadar N, P dan K cukup tersedia, dan peningkatan produksi dapat dilakukan dengan pemupukan. Pada lokasi penelitian lokasi dengan jenis tanah ini dijadikan lahan produksi seperti untuk sawah atau tegalan. Tanah latosol pada daerah hulu umumnya berupa latosol cokelat merah yang memiliki sifat fisika yang baik dan merupakan tanah yang paling tua. Sementara podsolik memiliki tektur berpasir hingga pasir kuarsa. Data jenis tanah dan kemiringan lahan disajikan pada Tabel 4.
Tabel 4 Data Tanah dan Kelerengan
Lokasi Jenis Tanah Kemiringan lahan
Desa Karang Tengah (Kp. Cimandaladan Kp. Landeuh
Kompleks latosol merah kekuningan latosol cokelat podsolik
15-25% dan >40% Desa Kadumanggu
Kp. Leuwijambe
Kompleks latosol merah kekuningan latosol cokelat podsolik
8-15% Sentul City
Cluster BGH
Kompleks latosol merah kekuningan latosol cokelat podsolik
0-25% Sumber Data: BPDAS, 2007
Berdasarkan USDA dalam Hardjowigeno dan Widiatmika (2007), penggolongan kelas lahan dilakukan secara kualitatif dan didasarkan pada kemampuan lahan untuk memproduksi pertanian secara umum tanpa menimbulkan kerusakan dalam jangka panjang tanpa memperhatikan sifat kimia tanah. Ditinjau dari klasfikasi ini, Desa Karang Tengah dapat digolongkan ke dalam Lahan Kelas Kemampuan (LKK) IV dan VI dan VII. LKK IV terdapat pada daerah-daerah yang miring atau berbukit (15-30%) dan atau telah mengalami erosi agak berat (75% lapisan atas telah hilang). Pada LKK IV apabila ingin digunakan untuk tanaman semusim diperlukan perlakuan khusus, seperti pembuatan teras atau pergiliran dengan tanaman penutup tanah/makanan ternak/pupuk selama 3-5 tahun, sedangkan untuk tanah yang berdrainase buruk perlu dibuat saluran-saluran drainase. Kampung Landeuh termasuk dalam katagori ini. Namun pada kenyataannya, praktik pertanian konservatif masih belum optimal dilakukan oleh petani. Pergiliran tanaman masih jarang dilakukan. Sepanjang tahun lahan akan ditanam dengan tanaman yang sama, misalnya tanaman singkong yang menjadi produk utama desa. Sementara itu pemakaian pupuk anorganik juga mendominasi dalam pertanian, sehingga kualitas tanah terus menurun. Penurunan ini secara nyata dapat dilihat dari berkurangnya hasil panen yang dirasakan masyarakat. Padahal dalam konsep keberlanjutan sistem pertanian konservatif menjadi salah satu poin utamanya.
Sementara LKK VI dan VII adalah lahan-lahan yang berada pada gunung-gunung dan sekitarnya, termasuk sebagian Kampung Cimandala. LKK VI adalah lahan yang terletak pada lereng agak curam (>30-45%), dan/atau kedalaman yang sangat dangkal (<25cm), serta telah mengalami erosi berat (>25% lapisan atas telah hilang). LKK VI tidak sesuai untuk tanaman pertanian dan hanya sesuai untuk tanaman rumput ternak atau dihutankan. Penutupan lahan harus terus dijaga, bila dihutankan, penebangannya harus selektif. Apabila dipaksakan untuk tanaman semusim maka harus dibuat teras bangku. Namun pada lokasi penelitian metode ini belum dilakukan secara optimal. LKK VII adalah tanah yang berada pada lereng curam (>45-65%) dan/atau telah mengalami erosi sangat berat, erosi parit dan/atau berbatu-batu. LKK VII hanya sesuai untuk padang rumput dan dihutankan. Pada lokasi penelitian, kawasan Gunung Pancar yang termasuk dalam
katagori ini memang telah ditetapkan sebagai kawasan lindung, berupa Taman Wisata Alam.
Desa Kadumanggu dapat digolongkan pada kelas lahan LKK III. LKK III adalah tanah yang terletak pada lereng dengan agak miring/bergelombang (8-<15%), dan atau kedalaman tanah dangkal (25-50 cm), peka erosi atau telah mengalami erosi yang agak berat. Pada LKK III, penggunaan lahan untuk tanaman semusim masih sesuai namun membutuhkan tindakan pengawetan tanah yang khusus, seperti penanaman dalam strip, pembuatan teras, pergiliran tanaman dengan penutup tanah dengan waktu untuk tanaman tersebut lebih lama, dan usaha-usaha lain untuk memelihara dan menjaga kesuburan tanah. Pada kenyataannya, seperti pada Kampung Landeuh, praktik pertanian pada hulu bawah masih belum optimal menerapkan praktik pertanian berkelanjutan, terutama dalam usaha menjaga kesuburan tanahnya.
Sementara itu, kawasan Sentul City dengan kemiringan lahan 0-25% termasuk kawasan datar hingga berbukit. Untuk pembangunan permukiman, jenis tanah dan kemiringan sangat berpengaruh dalam penentuan lokasi. Pembangunan pemukiman terbaik pada lahan dengan kemiringan lahan <8% (USDA dalam Hardjowigeno dan Widiatmika, 2007). Di atas batas tersebut perlu dilakukan stabilisasi dan penyesuaian. Oleh karena itu, bentuk penyesuaian dengan cut and fill yang masih terjadi harus diminimalkan. Beberapa dampak negatif yang ditimbulkan dari metode cut and fill, antara lain merubah kestabilan tanah dan menghilangkan keanekaragaman hayati yang terdapat di atasnya. Selain itu, lahan dengan kemiringan curam harus dibiarkan dengan tutupan vegetasi, sebagai usaha pengawetan lereng.
Hulu DAS Kalibekasi secara umum merupakan daerah yang rawan erosi. Menurut BPDAS (2007), besar erosi aktual adalah 271 ton/Ha/tahun sedangkan pada Desa Kadumanggu sebesar 168,01 ton/Ha/tahun. Sementara Badan Geologi KESDM (2007) juga menyatakan kawasan Kampung Cimandala merupakan daerah yang mempunyai potensi tinggi terjadinya gerakan tanah. Pada tahun 2007 terjadi longsor pada Desa Karang Tengah. Salah satu titik longsor adalah lereng perbukitan Gunung Pancar pada Kampung Cimandala. Penyebabnya adalah
kemiringan lereng yang curam serta tanah yang menjadi kering dan retak pada musim kemarau. Pada musim hujan, saat curah hujan tinggi, aliran air permukaan masuk ke dalam retakan sehingga retakan menjadi besar. Akibatnya, bobot masa tanah bertambah sehingga kuat gesernya meningkat. Untuk mengatasi ini butuh dilakukan konservasi lereng, seperti sistem pertanian dengan teras, penanaman tanaman dengan perakaran yang dapat mengikat tanah pada lereng-lereng yang gundul, serta pembangunan dinding penahan. Sementara itu dari segi sosial, kewaspadaan harus ditingkatkan terutama pada musim hujan tiba. Di Desa Karang Tengah telah dibuat papan pengarah untuk mitigasi bencana oleh PMI, namun sosialisasinya harus lebih sering dilakukan.
5.1.1.2Iklim
Kawasan hulu DAS Kalibekasi berada pada wilayah iklim tropis. Ciri-ciri iklim tropis menurut Simond dan Starke (2006) adalah memiliki temperatur tinggi dan relatif konstan, kelembaban dan curah hujan tinggi, angin yang bertiup sepoi-sepoi namun beresiko terhadap angin topan dan badai, penutupan vegetasi mulai dari yang jarang sampai hutan belantara, penyinaran matahari yang tinggi, serangga yang melimpah serta rawan terhadap permasalahan jamur. Ciri-ciri tropis ini akan berpangaruh pada kondisi lanskap secara keseluruhan, baik dari aspek lahan, bangunan maupun manusia yang berada di dalamnya. Di samping itu, karakter lanskap seperti penutupan lahan dan keberadaan badan air juga berpengaruh dalam pembentukan iklim mikro pada masing-masing lokasi penelitian. Secara kuantitatif, suhu dan kelembaban pada lokasi penelitian disajikan pada Tabel 5.
Tabel 5 Data Suhu dan Kelembaban Lokasi penelitian
Lokasi Suhu Rata-rata
(oC)
Kelembaban rata-rata (%)
Karang Tengah
(Kp. Cimandala dan Kp. Landeuh)
24-30 58-82 Kadumanggu (Kp. Leuwie Jambe) 24,9-26,1 76-89,1 Sentul City (BGH) 24,55-26,75 76,86-87,91
Sumber Data: TWA Gunung Pancar, AMDAL Sentul Residence 2004, ANDAL Sentul City 2009
Berdasarkan standar kenyamanan Frick dan Suskiatno (1998), kondisi iklim pada lokasi penelitian masih dapat digolongkan ke dalam keadaan yang
nyaman apabila ditinjau dari hubungan suhu dan kelembabannya (Gambar 8). Keberadaan vegetasi terutama yang dapat berfungsi sebagai pohon peneduh juga membantu dalam pembentukan iklim mikro yang nyaman. Namun lebih spesifik, suhu pada atas terasa lebih sejuk daripada titik sampel lainnya. Diduga hal ini disebabkan oleh keberadaan hutan di sekelilingnya serta ketinggian lokasi.
Gambar 8 Hubungan Suhu, Kelembaban, dan Angin(Sumber: Frick dan
Sukiyatno, 1998) 5.1.1.3Hidrologi
Pada daerah hulu atas, sumber air utama adalah mata air (Gambar 9a). Mata air banyak tersebar di sekitar desa, seperti yang terdapat pada Gunung Pancar, Gunung Paniisan, dan Gunung Astana. Setiap rumah tangga mengalirkan air dari mata air dengan selang atau paralon ke rumahnya. Sebagian besar keluarga memiliki mata air masing-masing, sedangkan beberapa keluarga lainnya berbagi satu mata air untuk beberapa rumah tangga. Hal ini merupakan suatu bentuk kearifan lokal yang baik. Kepemilikan mata air pada setiap rumah tangga mendorong pemiliknya untuk menjaga mata air tersebut karena merupakan sumber air utama untuk keluarganya. Penanaman beberapa vegetasi untuk menjaga kualitas dan kuantitas air dilakukan masyarakat di sekitar mata airnya masing-masing. Masyarakat menyatakan kegiatan ini dilakukan untuk melindungi mata airnya dari kekeringan. Usaha konservasi air lain yang dilakukan adalah menanami bagian pinggir perkampungan yang gundul. Bentuk kearifan ini secara kolektif telah menjaga mata air dan mendukung keberlanjutan sumber daya air di bagian hulu DAS Kalibekasi.
Pada bagian hulu tengah dan bawah sumber air bersih berasal dari sumur gali dengan pompa atau timba (Gambar 9b). Bentuk sumber air ini tidak ditemukan pada hulu atas karena karakter lanskapnya yang berbatu. Fluktuasi kuantitas air menjadi masalah yang banyak dikeluhkan oleh masyarakat bagian hulu tengah dan bawah. Masalah terutama timbul pada saat musim kemarau. Muka air tanah pada sumur biasanya turun dan masyarakat harus menggali lebih dalam untuk mendapatkan air. Pada sektor pertanian kekurangan air juga kerap terjadi. Sebaliknya, pada suatu kasus pada tahun 2007 dan 2010, Kampung Landeuh yang merupakan daerah hulu tengah mengalami banjir. Sebelumnya, banjir hampir tidak pernah terjadi di daerah ini. Banjir diakibatkan meluapnya Sungai Cipancar. Banjir menggenangi sawah dan beberapa rumah warga selama beberapa hari. Kejadian ini merupakan suatu bukti nyata dari bergesernya keseimbangan alam pada hulu DAS Kalibekasi. Salah satunya diakibatkan jumlah ruang terbuka hijau yang mempunyai fungsi untuk menyerap dan menyimpan air pada hulu DAS Kalibekasi yang berkurang akibat konversi menjadi area terbangun.
Pada Sentul City, sumber air untuk keperluan warga kota diperoleh dari PDAM. Sebenarnya Sentul City memiliki pengelolaan air mandiri yang dikenal dengan WTP (Water Treatment Plant). Sumber air yang digunakan pada WTP berasal dari Sungai Cibarengkok yang dijernihkan dengan proses kimia dan fisika. Namun, sistem pengelolaan air ini sekarang hanya dimanfaatkan sebagai cadangan saat krisis air. Padahal dari aspek pengelolaan air, WTP merupakan salah satu potensi bagi Sentul City dalam mewujudkan konsep kota berlanjut. Penggunaan sistem WTP dapat mengurangi ketergantungan terhadap sumber daya dari tempat lain, serta dalam skala lebih besar, apabila dipadukan dengan pengelolaah limbah cair dapat membentuk suatu sistem recycle dalam pengelolaan sumberdaya air.
(a) Mata air pada hulu atas (b) Sumur pada hulu bawah Gambar 9 Bentuk Sumber Air
Di samping badan air yang menjadi sumber air, terdapat beberapa bentuk badan air yang lain pada lokasi penelitian. Bentuk badan air ini dibedakan menjadi kolam, sungai, empang, dan danau. Pada hulu atas, Kampung Cimandala, badan air didominasi oleh sungai dan kolam. Air dari mata air pada Gunung Astana, Pancar, dan Paniisan mengalir ke Sungai Cimandala dan sungai lainnya di Kampung Cimandala. Karakter fisik sungai di hulu atas adalah berbatu dan berbadan relatif sempit. Aliran sungai pada hulu atas relatif lebih deras disebabkan oleh kemiringan lahan yang lebih curam (Gambar 10a). Sementara itu, pada hulu tengah dan bawah sungainya memiliki karakteristik fisik tidak berbatu dan lebih lebar. Secara visual, warna air lebih keruh dari pada bagian hulu atas. Kekeruhan mengindikasikan kandungan sedimen yang dibawa dari hulu di atasnya (Gambar 10b).
(a) Sungai pada hulu atas (b) Sungai pada hulu tengah Gambar 10 Karakter Sungai
Di hulu atas, lahan pada sisi sungai (bantaran) masih banyak yang ditutupi dengan vegetasi alami. Pada beberapa bagian dimanfaatkan untuk pertanian terutama padi. Menurut Maryono (2008), keberadaan penutupan lahan yang alami pada bantaran sungai memiliki korelasi yang positif terhadap kehidupan flora dan fauna di dalam sungai. Sisa-sisa vegetasi yang mati dan jatuh ke dalam sungai dapat menjadi sumber energi bagi flora dan fauna serta menambah keheterogenan kecepatan air dan kedalaman muka air. Vegetasi bambu dari jenis bambu tali
(Gigantochloa apus (Bl.Ex Schult.)f.Kurz.) adalah jenis yang banyak ditemukan
di bantaran sungai. Keberadaan bambu juga bermanfaat sebagai penahan erosi akibat arus sungai. Akar bambu yang kuat dapat menahan tanah pada sisi sungai.
Di samping itu, untuk mempertahankan dinding sungai pada beberapa segmen, masyarakat hulu atas menerapkan sistem beronjong batu (Gambar 11a). Batu pecah sebagai material utamanya dapat ditemukan dengan mudah pada hulu atas. Artinya, masyarakat pada hulu atas telah memanfaatkan material lokal untuk mengatasi masalah lingkungan. Hal ini merupakan salah satu poin positif dalam menerapakan konsep keberlanjutan dari aspek ekologi. Secara tradisional praktik ini merupakan suatu bentuk kearifan lokal masyarakat. Sementara di sisi keilmuan, pemanfaatan beronjong batu merupakan suatu bentu eco-engineering.
Eco-engineering merupakan suatu teknik rekayasa yang memanfaatkan faktor
ekologi untuk penyelesain suatu masalah (Maryono, 2008). Manfaat yang diperoleh dari penggunaan sistem beronjong batu, selain sebagai penahan erosi adalah vegetasi dapat tetap tumbuh pada celah-celah batu. Perpaduan ini akan meningkatkan kekuatan ikatan batu dan tebing, dan dapat menyediakan tempat hidup bagi flora dan fauna pada sungai. Namun terdapat pula beberapa bagian sungai yang mengalami erosi. Salah satu yang terberat berada pada Sungai Cipancar pada Kampung Landeuh (Gambar 11b). Oleh karena itu dibutuhkan penanganan segera permasalahan ini. Penggunaan material beronjong batu serta konservasi secara vegetatif dapat dilakukan untuk mengatasi masalah ini.
(a) Konservasi dengan material lokal (b) Erosi pada Sungai Cipancar Gambar 11 Kondisi Dinding Sungai pada Lokasi Penelitian
Pada hulu tengah penggunaan lahan sepanjang bantaran sungai merupakan pemukiman dan vegetasi yang berupa talun bambu, kebun campuran, maupun areal pertanian. Semakin ke hulu bawah, ruang terbuka bantaran sungai semakin sedikit sedangkan jumlah pemukiman semakin bertambah. Pada lokasi penelitian hulu bawah, Kampung Leuwijambe, beberapa sungai bahkan mati akibat dari beberapa pembangunan fisik dan permasalahan sampah.
Selain itu, kolam merupakan bentuk badan air yang banyak ditemukan di bagian hulu. Biasanya kolam berada dalam pekarangan masyarakat. Kolam dimanfaatkan sebagai tempat memelihara ikan untuk konsumsi sendiri. Keberadaan kolam pada rumah merupakan bentuk agroforestri sederhana. Secara lebih spesifik dapat disebut sebagai agrosilvofishery pada skala pekarangan.
Agrosilvofishery merupakan teknologi pemanfaatan lahan di mana tegakan pohon
berumur panjang, tanaman pangan, dan perikanan diusahakan pada petak lahan yang sama dalam suatu ruang dan waktu (Arifin et al. 2009). Di dalam praktik agroforestri dapat terjadi interaksi ekologi dan ekonomi antar unsur-unsurnya.
Pada hulu bawah ditemukan bentuk badan air yang khas yaitu empang
yang memanjang. Empang ini sebelumnya merupakan leuwi (danau buatan) yang
memiliki mata air di dasarnya. Namun seiring waktu, leuwi ini disekat sehingga menjadi empang yang berderet memanjang. Empang dimanfaatkan sebagai MCK, tempat memelihara ikan, dan tempat pembuangan limbah tapioka. Akibat dijadikan tempat pembuangan limbah, empang terpolusi sehingga menjadi bau dan turun kualitas airnya.
Pada Sentul City, bentuk badan air yang ditemukan adalah sungai dan danau. Keberadaan sungai dan danau dimanfaatkan untuk kebutuhan cadangan air melalui WTP. Di samping itu, sungai dan danau pada Sentul City juga dimanfaatkan sebagai area rekreasi dan elemen estetika dalam lanskap kotanya. Beberapa gambar bentuk badan air pada lokasi penelitian disajikan pada Gambar 12.
(a) Kolam pada hulu atas (b) Kolam pada hulu tengah
(c) Empang pada hulu bawah (d) Danau pada Sentul City
Gambar 12 Bentuk Badan Air pada Lokasi Penelitian
5.1.1.4Keanekaragaman Hayati
Keanekaragaman hayati adalah keberagaman kehidupan pada dunia dan pola alam yang membentuknya. Keanekaragaman hayati meliputi rentang yang luas akan spesies, variasi genetik dan ekosistem pada suatu tempat (Newman & Jennings, 2008). Keanekaragaman hayati khas pada setiap bentuk lanskap. Pada lokasi penelitian dapat dilihat perbedaan bentuk keanekaragaman hayati pada lanskap perdesaan dan perkotaan. Pada skala yang lebih kecil, dapat dilihat pula keanekaragaman hayati yang berbeda berdasarkan ketinggian lokasi.
Flora
Pada umumnya vegetasi pada lokasi penelitian tersebar pada berbagai penggunaan lahan yaitu hutan, lahan pertanian dan berbagai bentuk sistem agroforestri seperti pekarangan (home garden), kebun campuran (mix garden), dan talun (forest garden). Pada setiap penggunaan tata lahan dapat ditemukan variasi jenis tanaman yang berbeda-beda.
Tutupan lahan berupa hutan hanya terdapat pada hulu atas, yaitu Taman Wisata Alam Gunung Pancar seluas 477 Ha yang meliputi hutan alam pegunungan, hutan tanaman dan semak belukar. Tipe vegetasi hutan alam terdapat di lereng sampai puncak Gunung Pancar seluas 15 Ha dan memiliki keanekaragaman yang lebih tinggi. Pada hutan alam, jenis yang mendominasi adalah rasamala (Altingia Excelsa), huru (Quercus sp.), beringin (Ficus
Benjamina), puspa (Schima walisii), saninten (Castanopsis argantea),dan jamuju
(Podocarpus imbricartus). Di samping itu terdapat vegetasi lain seperti beberapa
jenis epifit juga seperti anggrek, paku sarang burung (Asplenium nidus), dan paku tanduk rusa (Platicherium coronarium) dan beberapa jenis liana yang menempel pada pohon. Hal ini dapat menunjukkan masih tingginya keanekaragaman hayati pada kawasan hutan alam Gunung Pancar. Sementara itu, tipe vegetasi hutan tanaman yang menempati lahan seluas 160 Ha dan ditanam pada 1982/1983 terlihat lebih homogen. Jenis vegetasinya yang mendominasi adalah tanaman pinus (Pinus merkusii). Selain pinus juga terdapat tanaman sengon (Albizia
falcataria), kayu afrika (Maesopsis emanii), dan meranti (Shorea sp). Kawasan
Gunung Pancar ditetapkan sebagai kawasan lindung oleh pemerintah sehingga penjagaan kelestariannya lebih ketat. Hal ini baik dalam usaha menjaga keanekaragaman hayati pada daerah hulu DAS Kalibekasi ini. Beberapa tanaman pada kawasan Gunung Pancar disajikan pada Gambar 13.
(a) Beringin pada hutan alam (b)Kadaka yang menempel pada pohon
(c)Pinus pada hutan tanaman Gambar 13 Vegetasi pada Gunung Pancar
Pada lahan pertanian, vegetasi yang dapat ditemukan antara lain padi, singkong, dan sayur mayur. Tanaman padi dan sayur mayur hanya terdapat pada beberapa bagian desa. Biasanya padi yang diusahan oleh petani atau pemilik sawah hanya dimanfaatkan untuk kebutuhan konsumsi keluarganya sendiri, sedangkan masyarakat lain harus membeli beras yang diproduksi di luar kawasan. Secara umum produksi padi pada daerah hulu belum dapat memenuhi kebutuhan masyarakatnya. Tanaman singkong (Manihot uttilisma) yang ditanam pada lahan kering mendominasi lanskap pertanian pada daerah hulu. Berdasarkan RTRW
2005-2025 Kabupaten Bogor, Kecamatan Babakan Madang memang
direncanakan sebagai kawasan pertanian lahan kering. Terdapat beberapa varietas tanaman singkong yang ditemukan antara lain varietas apui, kuning, mentega, sampo bodas, sampo iding, odang, sapipuru, gebang, apui manggu, lengka, dan salingen. Keanekaragaman tingkat varietas ini berhubungan dengan kenyataan bahwa tapioka yang berbahan dasar singkong merupakan komoditas pada ketiga desa. Selain untuk dijual dalam bentuk tapioka, masyarakat memanfaatkan
singkong untuk konsumsi sendiri, baik umbi maupun daunnya sebagai sayuran. Bahkan batangnya juga dimanfaatkan sebagai pakan ternak.
Pada pekarangan terdapat berbagai jenis tanaman. Tanaman ini berdasarkan fungsinya dapat dibedakan menjadi tanaman hias, tanaman penghasil pati, tanaman buah, tanaman sayur, tanaman industri, tanaman bumbu, dan tanaman lainnya (untuk kayu bakar, dsb) (Arifin et al. 2001). Pada bagian hulu atas, keanekaragaman didominasi oleh tanaman untuk produksi buah, sayur, dan penghasil pati. Namun semakin ke bawah tanaman mulai didominansi oleh tanaman hias. Salah satu penyebabnya adalah makin ke bawah pengaruh urbanisasi (pengkotaan) semakin besar. Tanaman produksi semakin berkurang pada daerah terurbanisasi sedang dan tinggi (Arifin, Sakamoto, Chiba, 1997). Pada perdesaan hulu DAS Kalibekasi tanaman hias, buah, dan sayur yang sering ditemukan pada pekarangan adalah bunga lipstik (Malvavicus arboreus), singonium (Singonium sp.), opiopogon (Ophiopogon sp.), jambu biji (Psidium
guajava), mangga (Magnifera indica), durian (Durio ziberanthus), dan cabai rawit
(Capsicum frutescens). Daftar jenis tanaman lengkap yang terdapat pada
pekarangan pada lokasi penelitian dan fungsinya disajikan pada Lampiran 2. Sementara itu pada cluster BGH tanaman produksi hanya ditemukan pada beberapa rumah yang pemiliknya mempunyai hobi berkebun. Biasanya lahan kosong di belakang rumah dijadikan lahan menanam tanaman produksi, sedangkan taman depan rumah dikhususkan untuk estetika. Secara umum masyarakat Sentul City hanya menanam tanaman hias pada taman depan rumah.
(d) Jambu biji (e) Mangga (f) Durian (g) Cabai rawit Gambar 14 Vegetasi pada Pekarangan
Pada kebun campuran, tanaman yang banyak ditemukan adalah tanaman buah dan tanaman industri. Kebanyakan jenisnya merupakan tanaman yang juga ditanam pada pekarangan. Namun terdapat beberapa tanaman yang khas ditanam pada kebun campuran. Pada hulu atas dan tengah dapat ditemukan ki sambang
(Excoecaria cochinchinensis Lour), picung (Pangium edule), dan sedangkan pada
hulu bawah banyak ditemukan menteng (Baccaurea sp.) dan kecapi (Sandoricum koetjape).
Selain itu, pada setiap lokasi penelitian dapat ditemukan tutupan lahan berupa kebun bambu. Beberapa jenis yang ditanam adalah bambu gombong, bambu krisik, bambu tali (Gigantochloa apus (Bl.Ex Schult.)f.Kurz.), bambu bitung (Dendrocalamus asper), bambu andong (Gigantochloa pseudoarundiaceae (Steudel) Widjaja), dan bambu hitam (Gigantochloa atroviolacea Widjaja) (Gambar 15). Biasanya tanaman bambu ditanam di pinggir sungai atau dibudidayakan oleh masyarakat sekitar pada kebun bambu. Bambu biasanya dimanfaatkan oleh masyarakat untuk keperluan sehari-hari, membuat peralatan rumah tangga, dijual, maupun sebagai bahan membangun rumah. Empat jenis