• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN

5.2. Penilaian Keberlanjutan Masyarakat

Penilaian Keberlanjutan Masyarakat merupakan salah satu metode yang dapat digunakan untuk menilai tiga aspek penting dalam konsep keberlanjutan yaitu ekologi, sosial, dan spiritual. Penilaian keberlanjutan ini juga merupakan suatu bagian dalam kerangka pikir ecovillage yang disusun oleh GEN. Dalam penilaiannya akan dibandingkan keadaan sebenarnya pada lokasi penelitian dan keadaan-keadaan ideal yang sesuai dengan standar-standar untuk mencapai suatu perkampungan yang berlanjut. Perbandingan ini akan menjadi gambaran tentang potensi dan kendala dari lokasi penelitian untuk mencapai keberlanjutan sehingga dapat disusun suatu bentuk rekomendasi dari pengelolaan yang dapat dilakukan. Pada awalnya akan dibahas tingkat keberlanjutan masyarakat total sebagai gambaran umum dari hasil penilaian keseluruhan, kemudian akan dibahas penilaian terhadap masing-masing aspek, baik ekologi, sosial, maupun spiritual beserta parameternya. Skor penilaian detail untuk setiap aspek disajikan pada Lampiran 4.

5.2.1 Penilaian Keberlanjutan Masyarakat Total

Tingkat keberlanjutan masyarakat total merupakan gambaran umum dari penilaian keberlanjutan masyarakat terhadap aspek ekologi, sosial, dan spiritual. Dari penilaian ini diketahui bahwa seluruh lokasi penelitian menunjukkan suatu awal yang baik ke arah keberlanjutan (Tabel 7). Namun, aspek ekologi memiliki nilai lebih rendah pada seluruh lokasi. Bahkan hulu tengah dan bawah menunjukkan nilai yang mengkhawatirkan. Pada kedua lokasi ini, nilai yang minim disebabkan oleh rendahnya beberapa nilai pada parameter penyusun aspek ekologi dibandingkan dengan dua lokasi lainnya. Nilai yang rendah itu terutama terkait dengan rasa keterikatan masyarakat dengan lokasi tempat tinggalnya, praktik pengelolaan sampah maupun limbah, serta pengelolaan energi.

Tabel 7 Penilaian Keberlanjutan Total

Aspek Lokasi

Hulu Atas Hulu Tengah Hulu Bawah Sentul City

Ekologis 128/C** 96/C** 88/C** 142/C**

Sosial 182/B** 210/B** 199/B** 273/B**

Spiritual 200/B** 211/B** 230/B** 261/B**

Total 510/B*** 517/B*** 517/B*** 676/B***

Keterangan:

Pembobotan variabel/parameter dalam satu aspek

*** 999+ : Menunjukkan kemajuan sempurna ke arah keberlanjutan 500-998 : Menunjukkan suatu awal yang baik ke arah keberlanjutan 0-449 : Menunjukkan perlunya tindakan untuk mencapai keberlanjutan

Di samping itu secara umum Sentul City menunjukkan nilai yang lebih tinggi dibandingkan dengan ketiga lokasi lainnya. Hasil ini sebenarnya menjadi suatu gambaran dari pendapat Barus dan Pribadi (2009) bahwa komitmen merupakan dasar utama dalam membentuk ecovillage. Walaupun masih belum sempurna dan baru dalam tahap menuju kota yang berlanjut, komitmen ini memberi pengaruh yang positif bagi keberlanjutan Sentul City. Sementara kenyataan bahwa Sentul City merupakan kawasan yang dikelola secara terencana juga menjadikan nilainya lebih tinggi dalam penilaian ini. Walaupun demikian, tidak dapat ditarik kesimpulan bahwa ecovillage lebih berpeluang diterapkan pada bentuk pemukiman seperti Sentul City. Pernyataan ini didasarkan pada kenyataan

bahwa faktor utama yang membentuk ecovillage adalah komitmen

yang besar dalam pengembangan ecovillage ketika masyarakatnya berkomitmen dan berperilaku selaras dengan alam dalam kehidupannya.

5.2.2 Penilaian Keberlanjutan Ekologi

Pada aspek ekologi, keempat lokasi penelitian menunjukkan perlunya tindakan untuk mencapai keberlanjutan (Tabel 8). Dari hasil penilaian, nilai terendah didapat dari parameter pengelolaan limbah cair, ketersediaan produksi makanan, dan sumber dan penggunaan energi. Nilai tertinggi diperoleh dari aspek infrastruktur, bangunan, dan transportasi yaitu keempatnya menunjukkan awal yang baik menuju keberlanjutan.

Tabel 8 Penilaian Keberlanjutan Aspek Ekologi

No. Parameter Hulu atas (Kp. Cimandala) Hulu tengah (Kp. Landeuh) Hulu bawah (Kp. Kadumanggu Cluster (Kota Sentul) 1 Sense/perasaan terhadap tempat 20/C* 12/C* 8/C* 27/B* 2 Ketersedian, produksi dan distribusi makanan 15/C* 16/C* 21/C* 15/C* 3 Infrastruktur, bangunan, dan transportasi 32/B* 26/B* 25/B* 35/B*

4 Pola konsumsi dan pengelolaan limbah padat

22/C* 17/C* 17/C* 12C*

5 Air- sumber, mutu dan pola

penggunaan

25/B* 24/C* 20/C* 26/B*

6 Limbah cair dan pengelolaan polusi air -4/C* -4/C* -9/C* 15/C* 7 Sumber dan penggunaan energi 18/C* 5/C* 6/C* 12/C* Total 128/C** 96/C** 88/C** 142/C** Keterangan:

Pembobotan variabel/parameter dalam satu aspek

* 50+ : Menunjukkan kemajuan sempurna ke arah keberlanjutan 25-49 : Menunjukkan suatu awal yang baik ke arah keberlanjutan 0-24 : Menunjukkan perlunya tindakan untuk mencapai keberlanjutan Pembobotan variabel/parameter dalam satu aspek

** 333+ : Menunjukkan kemajuan sempurna ke arah keberlanjutan 166-332 : Menunjukkan suatu awal yang baik ke arah keberlanjutan 0-165 : Menunjukkan perlunya tindakan untuk mencapai keberlanjutan

Secara lebih spesifik terdapat nilai yang ekstrim rendah dalam penilaian aspek ekologi ini yaitu parameter limbah cair dan pengelolaan polusi air. Hal ini disebabkan oleh masih minimnya kesadaran dan kemampuan masyarakat dalam

usaha mengelola limbah cair dan mengurangi polusi air. Masalah terbesarnya adalah masih bersarnya kecenderungan membuang sampah pada aliran sungai, baik sampah rumah tangga maupun padat, pada akhirnya sungai menjadi turun kualitasnya dan tidak dapat dimanfaatkan secara optimal. Di samping itu, pada hulu tengah dan bawah parameter sumber dan penggunaan energi juga menunjukkan nilai yang rendah. Secara umum, kenyataan ini disebabkan oleh kombinasi ketergantungan masyarat terhadap sumber daya tidak terbarukan (listrik yang diperoleh dari pembakaran minyak bumi) dan sikap tidak konservatif dalam memanfaatkan energi listrik, misalnya dalam pola penggunaan dan pemilihan barang elektronik. Sementara itu rendahnya parameter sense/perasaan terhadap tempat pada hulu bawah disebabkan oleh jumlah komunitas yang terlalu besar dan penurunan kualitas lingkungan yang dirasakan oleh masyarakatnya. 5.2.2.1Perasaan terhadap Tempat

Parameter perasaan dan keterikatan terhadap lingkungan menunjukkan nilai rendah pada ketiga kampung, terutama pada kawasan hulu tengah dan bawah. Sedangkan pada cluster di Sentul City menunjukkan nilai yang lebih tinggi. Salah satu penyebabnya adalah rendahnya tingkat kepemilikan lahan pada masyarakat perkampungan terutama lahan pertanian. Pada daerah hulu tengah, bentuk nyata dari hilangnya rasa kepemilikan ini adalah keengganan masyarakat untuk menghijaukan kampung. Selain memang tidak memiliki lahan lagi, masyarakat beranggapan tidak akan memperoleh manfaat dari kegiatan tersebut karena nantinya lahan akan dimiliki oleh orang lain. Padahal perasaan terhadap

lingkungan menjadi hal yang penting dalam kerangka ecovillage karena

menyangkut rasa memiliki dan tanggung jawab untuk mempertahankan keberlanjutan lingkungannya (Nurlaelih, 2005).

Terkait dengan masalah ini, fenomena lain yang terjadi adalah terdapat praktik penambangan batu kali yang berlebihan. Kejadian ini terjadi pada lahan pertanian yang telah dimiliki oleh perusahaan pengembang pada hulu bagian tengah. Penambangan batu kali ini telah mengakibatkan bagian bantaran sungai terganggu, terbuka dan semakin rentan terhadap erosi (Gambar 29). Ketidakpastian akan hak, seperti belum diakuinya hak dalam mengakses

sumberdaya telah mendorong masyarakat perdesaan mengeksploitasi sumber daya alam tanpa mempertimbangkan dampak yang akan terjadi (Rustiadi, 2007).

Gambar 29 Penambangan Batu Kali pada Hulu Tengah

Ditinjau dari komposisi masyarakat, sebagian besar warga pada tiap kampung merupakan warga asli, yang menurut sejarah terbentuknya masih merupakan satu keturunan. Sedangkan pendatang hanya sebesar kurang dari 10% pada hulu atas, dan 20% pada hulu tengah dan bawah (berdasarkan FGD pada ketiga lokasi). Seharusnya hal ini memiliki korelasi yang positif dengan perasaan terhadap lahan dan rasa pemilikaannya, namun diduga faktor ekonomi masyarakat lebih berperan sehingga penjualan lahan kepada pihak luar terus dilakukan. Sementara pada Sentul City penduduknya merupakan pendatang dari tempat lain. Pada FGD diketahui bahwa sekitar 60% yang menjadikan rumah pada cluster tersebut sebagai rumah utama yang didiami sepanjang tahun, 40% sisanya merupakan penduduk yang hanya ada pada akhir pekan.

Di samping itu, masyarakat juga merasakan penurunan kualitas lingkungan di ketiga lokasi penelitian, terutama kualitas tanah pada lahan mereka. Indikator yang diutarakan adalah menurunnya hasil produksi dari tahun ke tahun. Diduga hal ini disebabkan oleh pemakaian pupuk anorganik dan penggunaan lahan secara terus menerus. Pada sistem pertanian tradisional, terdapat beberapa cara yang lebih konservatif dalam mengatasi permasalahan ini, antara lain sistem bera, pergiliran komoditas, serta tumpang sari. Kualitas air juga dirasakan menurun pada hulu DAS Kalibekasi. Hal ini diakibatkan oleh semakin banyaknya polusi baik dari limbah cair maupun sampah yang dihasilkan masyarakat sendiri. Sementara kualitas udara dirasakan relatif masih stabil.

Jenis vegetasi dan satwa juga dirasakan berkurang oleh masyarakat pada hulu atas, tengah, dan bawah. Salah satu penyebabnya adalah fragmentasi lahan akibat pesatnya konversi lahan pada lokasi penelitian. Fragmentasi adalah pemecahan suatu habitat, ekosistem, atau jenis penggunaan lahan ke dalam patch atau pola yang lebih kecil (Arifin, 2009). Dalam skala rumah tangga fragmentasi ini juga terjadi yaitu dengan fenomena penambahan bangunan pada area pekarangan. Kekayaan spesies akan berkurang seiring dengan penurunan luas pekarangan akibat dari fragmentasi dan berpengaruh pada perubahan dari struktur vegetasi pada pekarangan perdesaan di Jawa Barat (Arifin, Sakamoto, Chiba, 1997).

5.2.2.2Ketersediaan, Produksi dan Distribusi Makanan

Pada lokasi penelitian, sebagian besar pangan dihasilkan dari luar desa. Keadaan ini berhubungan dengan komoditas utama desa adalah singkong, sedangkan lahan pertanian padi hanya terdapat sedikit dari kawasan perkampungan. Produksi kawasan belum dapat mencukupi kebutuhan dalam kampung. Dalam FGD masyarakat memperkirakan bahwa kurang dari 25% makanan yang berasal dari dalam wilayah kampung.

Pada daerah hulu, tanaman pangan yang diproduksi antara lain padi, singkong, sayuran. Singkong merupakan produksi utama dan mendominasi lahan pertanian di ketiga kampung. Desa Karang Tengah yang menjadi lokasi hulu atas dan tengah merupakan salah satu sentra singkong untuk daerah Bogor (Wardhana, 2005). Lahan padi yang ada hanya kurang dari 10% dan hanya berproduksi untuk mencukupi kebutuhan masing-masing pemiliknya, bahkan terkadang tidak mencukupi. Masyarakat memenuhi kebutuhan pangannya dengan membeli dari warung atau pedagang keliling yang berbelanja di pasar Kecamatan Babakan Madang dan Citereup setiap harinya (Gambar 30). Di samping membeli dari pasar masyarakat, memenuhi kebutuhannya dari pekarangan rumah mereka. Namun pada ketiga lokasi pemanfatan pekarangan masih belum optimal. Tanaman yang paling banyak dimanfaatkan hanya beberapa jenis seperti cabai rawit, tanaman sayur yang dapat dibuat lalap, dan tanaman buah-buahan. Potensi pemanfaatan

pekarangan untuk ketahanan pangan dinilai besar, namun masih butuh ditingkatkan.

Gambar 30 Alur Distribusi Makanan pada Lokasi Penelitian

Bibit tanaman produksi sebagian besar diperoleh masyarakat dari pasar. Beberapa jenis padi unggul yang ditanam pada lokasi penelitan adalah IR, Sadane, dan pandan wangi. Sebenarnya terdapat varietas lokal yang dibudidayakan pada waktu lampau, yaitu varieras paris, beras merah. Namun, jenis ini tidak diusahakan lagi sekarang karena waktu budidayanya dinilai terlalu panjang yaitu enam bulan. Sementara itu tanaman singkong diperbanyak dengan stek dari panen sebelumnya.

Pada lokasi penelitian konsep pertanian organik belum diterapkan. Pertanian organik ialah usaha pertanian yang tidak menggunakan sarana produksi terutama pupuk dan pestisida anorganik buatan pabrik (Bintoro, 2008). Biasanya pada pertanian organik hara didapatkan dari kompos baik dari sisa tanaman maupun hewan. Keuntungan menggunakan kompos dalam pertanian organik antara lain kompos menyediakan unsur hara baik makro maupun mikro, menggemburkan tanah, memperbaiki struktur dan tekstur tanah, meningkatkan porositas dan aerasi tanah, meningkatkan mikroorganisme tanah, meningkatkan daya pegang air, meningkatkan kapasitas tukar kation, menurunkan aktivitas mikroorganisme yang merugikan, memperbaiki kualitas pertumbuhan dan hasil tanaman (Bintoro, 2008). Namun masyarakat di lokasi penelitian masih tergantung kepada pupuk anorganik yang dibeli di pasar karena dianggap lebih praktis. Potensi menggunakan kompos dalam pertanian cukup besar di ketiga lokasi. Apalagi bahan-bahannya dapat diperoleh secara lokal, seperti kotoran ternak maupun sisa tanaman. Bahkan berdasarkan penelitian, sisa tanaman singkong merupakan salah satu bahan kompos yang potensial (Anwar dalam Bintoro, 2008). Pasar Citeureup/ Babakan Madang Warung Masyarakat/ konsumen Penjaja sayur

Pada Sentul City, masyarakat memperoleh pangan dengan berbelanja pada pedagang sayur atau berbelanja di pasar Babakan Madang maupun supermarket. Hal ini menunjukkan terdapat dua macam kecenderungan perolehan pangan pada mayarakat kota, yaitu secara lokal (pasar kecamatan dan pedagang keliling) atau dimasukkan dari luar (supermarket). Namun untuk buah-buahan seperti pisang, pepaya, atau manggis biasanya dibeli langsung dari pedagang yang menjajakan dagangannya di dalam kota. Buah-buahan ini berasal dari kampung-kampung di sekitar kota, termasuk dari ketiga lokasi penelitian. Sementara itu, pada Sentul City sangat jarang terdapat rumah yang memanfaatkan lahan untuk berkebun menghasilkan tanaman produksi.

Pada konsep ecocity yang dikembangkan dari konsep klasik kota konsentris Von Thunen, suatu kota seharusnya dapat memenuhi kebutuhan terutama pangan dari lahan-lahan di sekitarnya. Bahkan pada konsep ini ditentukan secara spesifik pola penggunaan lahan pada setiap ring yang mengitari suatu kota berdasarkan pertimbangan efisiensi dan efektifitas biaya pengangkutan serta ketahanan produk akibat adanya variabel jarak. Idealnya, penggunaan lahan dari yang terdekat dari kota berturut-turut adalah lahan untuk tanaman yang mudah busuk seperti sayuran, lahan penghasil kayu dengan pertimbangan kemudahan pengangkutan dan kebutuhan yang tinggi dalam pembangunan kota, kebun buah, padi atau serealia yang tahan lebih lama, tanaman musiman, dan peternakan (Waggoner, 2006). Walaupun secara utuh sulit untuk diikuti tapi konsep dasar mendekatkan lahan pertanian pada kota menjadi sangat mungkin utuk diikuti. Pada lokasi penelitian, permasalahannya saat ini malah sebaliknya, lahan produksi perdesaan sekitar kota diokupasi untuk perluasan kota bukan dimanfaatkan sebagai sumber pangan pada kota. Padahal keduanya dapat menjadi elemen yang saling membutuhkan pada pembentukan ecovillage maupun ecocity. 5.2.2.3Infrastruktur, Bangunan, dan Transportasi

Parameter infrastruktur, bangunan dan transportasi menunjukkan awal yang baik menuju keberlanjutan. Salah satu parameternya adalah penggunaan material bangunan. Pada ketiga lokasi penelitian terdapat beberapa material lokal

yang umumnya dimanfaatkan oleh masyarakat dalam membangun. Material ini berupa pasir, batu, bambu, maupun kayu yang didapatkan dari wilayah sekitar.

Pada daerah hulu atas, batu mudah ditemukan di sekitar perkampungan, sedangkan pasir dapat diambil dari pinggir sungai. Sementara bambu biasanya dibeli dari masyarakat yang memiliki kebun bambu, sedangkan kayu, biasanya dipanen dari kebun sendiri atau dibeli. Pada hulu bawah, batu bata didapatkan secara lokal, karena terdapat pabrik batu bata dalam wilayah tersebut. Material lainnya didapatkan dengan membeli toko bangunan. Pembangunan yang ekologis salah satunya dapat dilihat dari pendekatan energi karena penggunaan energi paling sedikit, juga akan merusak lingkungan paling sedikit. Energi ini salah satunya dapat ditinjau dari perolehan material atau bahan bangunan. Konsep penggunaan bahan yang tersedia pada wilayah sekitar merupakan suatu pilihan terbaik karena akan menghemat biaya transportasi. Di samping itu, bahan lokal biasanya lebih adaptif terhadap lingkungan sekitar. Pada Sentul City material yang dibeli dari sekitar lokasi adalah batu dan pasir. Sementara sisanya merupakan bahan yang diperoleh dari daerah lain.

Dari segi tata ruang konsep ecovillage, ruang permukiman pada suatu kampung diletakkan pada blok yang terpusat di tengah kampung, tidak berpencar. Hal ini dimaksudkan agar fasilitas, utilitas, dan pelayanan dapat disediakan secara efisien dan mudah diakses masyarakat (Nasrullah, 2009). Pada hulu atas, fasilitas publik seperti SD terletak pada ujung desa dan dirasakan jauh apabila diakses dari ujung desa lainnya. Beberapa keluarga bahkan menjadikannya sebagai alasan putus sekolah. Perencanaan tata ruang perdesaan yang memperhatikan kemudahan akses merupakan hal yang harus dilakukan sejak awal pembangunan perdesaan.

5.2.2.4Pola Konsumsi dan Pengelolaan Limbah Padat

Parameter pola konsumsi dan pengolahan limbah padat menunjukkan perlunya tindakan untuk menuju keberlanjutan. Pada dasarnya pola konsumsi masyarakat di daerah perdesaan relatif sederhana. Namun kecenderungan ini merupakan akibat dari kondisi ekonomi masyarakat bukan suatu kesengajaan dengan motivasi mengurangi limbah padat. Pada ketiga lokasi penelitian,

perkampungan terlihat banyak dicemari oleh sampah plastik sisa konsumsi sehari-hari (Gambar 31). Pada FGD, masyarakat hulu bawah mengaku memang belum mengenal konsep pengurangan limbah padat, sedangkan masyarakat pada hulu tengah dan bawah sudah mengenal namun belum diterapkan secara optimal. Pada hulu bawah ditemukan rumah tangga yang memiliki usaha mengumpulkan bahan plastik yang dapat di daur ulang. Hal ini merupakan potensi dalam pengelolaan sampah, khususnya anorganik. Apabila setiap masyarakat lebih sadar dan mau memilah sampah, memanfaatkan yang organik, serta menyalurkannya yang anorganik pada pengumpul, maka dapat mengurangi masalah sampah. Selain itu, metode 3R (Reduce, Recycle, dan Reuse) yang merupakan salah satu metode dalam mereduksi sampah juga perlu digiatkan pada lokasi penelitian, terutama dalam mengurangi pemakaian bahan-bahan yang tidak dapat didaur ulang seperti plastik.

(a) Sampah plastik pada hulu sungai (b) Sampah pada area permukiman Gambar 31 Permasalahan Sampah

Sementara itu, pola pemakaian bersama untuk perkakas tidak banyak ditemukan pada lokasi penelitian. Masyarakat biasanya memiliki barang yang dibutuhkannya secara individu. Namun, pada Kampung Leuwijambe pada hulu bawah ditemukan pola kepemilikan komunal untuk perangkat hajatan pada setiap RT. Tenda dan tempat duduk dapat dipinjam anggota RT yang ingin menyelenggarakan hajatan. Hal ini merupakan suatu hal positif, selain menghemat uang juga mengurangi limbah. Sementara koperasi atau bentuk kerjasama ekonomi lokal lain tidak ditemukan pada ketiga lokasi. Koperasi Unit Desa berada di desa, namun tidak mudah untuk diakses atau tidak aktif lagi. Padahal dengan adanya koperasi pembelian barang dapat lebih mudah dan murah.

Pada konsep keberlanjutan, pengelolaan sampah merupakan parameter yang penting. Namun kesadaran dan kepedulian terhadap masalah sampah masih jarang ditemukan. Sistem pengelolaan sampah komunal, belum ditemukan pada ketiga kampung. Pengelolaan sampah terjadi dalam skala rumah tangga dan ada umumnya belum dilakukan pemilahan proses pengelolaan sampah padat. Sampah organik (dedaunan kering, sisa makanan) dan anorganik (plastik, kaca) biasanya hanya dibakar dan/atau ditimbun. Masyarakat yang tinggal berdekatan dengan sungai umumnya membuang sampah ke sungai. Hal ini menyebabkan kebersihan dan keindahan ketiga kampung terganggu.

Pada Sentul City, sampah padat dikelola secara kolektif oleh manajemen kota. Setiap harinya Sentul City menghasikan sampah sebanyak 22,95 m3 (ANDAL Sentul City, 2009). Sampah ini diangkut menuju TPA Kabupaten Bogor dengan armada truk pengangkut sampah. Dalam konsep ecovillage, sebaiknya sampah dapat dikelola di dalam kota sendiri karena siklus material dan energi tetap berada dalam kota dan tidak merugikan wilayah lain. Kegiatan positif dan awal yang baik telah dilakukan pihak pengelola dengan memisahkan tempat sampah organik dan anorganik. Namun fasilitas ini belum dimanfaatkan maksimal oleh masyarakat. Sosialisasi yang gencar perlu dilakukan agar tujuan pengelolaan sampah ini lebih optimal. Di samping itu dalam tindakan yang lebih besar, dengan adaptasi teknologi, pengelolaan sampah dalam kota juga dimanfaatkan sebagai penghasil energi yang dapat mencukupi sebagian keperluan kota, dengan demikian dalam skala lebih besar sampah bukan menjadi masalah, namun bermanfaat.

Sementara itu, sampah organik dari RTH kota dimanfaatkan pengelola untuk memproduksi kompos. Hal ini dinilai suatu yang positif karena merupakan suatu bentuk pengelolaan sampah dan di sisi lain merupakan bisnis yang menghasilkan uang. masyarakat di dalam komunitas dapat dilibatkan dalam kegiatan ini, yaitu dengan memberi insentif bagi yang melakukan praktik pengomposan, dan ditangani dalam penjualannya oleh pengelola. Pada Tabel 9 disajikan metode pengelolaan sampah yang ditemukan pada lokasi penelitian.

Tabel 9 Metode Pengelolaan Sampah pada Lokasi Penelitian

*hanya sampah organik dari ruang terbuka hijau

5.2.2.5Sumber, Mutu dan Pola Penggunaan Air

Pada parameter air, hulu atas dan Sentul City menunjukkan suatu awal yang baik ke arah keberlanjutan, sedangkan hulu tengah dan bawah menunjukkan perlu tindakan untuk menuju keberlanjutan. Nilai yang lebih tinggi pada hulu atas disebabkan oleh pengaruh keadaan alam terhadap kualitas dan kuantitas airnya. Pada hulu atas, sumber air adalah mata air yang berada pada gunung-gunung di sekitar perkampungan. Selain bersih, jumlahnya juga melimpah dibandingkan dengan hulu tengah dan bawah yang memanfaat air sumur sebagai sumber air bersih. Di samping itu, sungai pada hulu tengah dan bawah lebih buruk kualitasnya karena polusi sampah ataupun membawa sedimen dari hulu atas.

Bentuk usaha untuk konservasi air lebih intensif dilakukan pada hulu atas. Kearifan lokal yang membagi mata air untuk setiap keluarga telah menjadikan warga di hulu atas menjaga kelestarian mata airnya masing-masing. Biasanya setiap keluarga menjaga daerah sekitar mata airnya agar tetap bervegetasi. Hal ini secara kolektif berdampak positif bagi hutan sebagai lahan serapan air yang terdapat di sekitar perkampungan. Konsep barang pribadi dan publik tergambarkan pada kasus ini. Mata air yang pada sistem setempat seperti barang pribadi, akan lebih dijaga daripada dibandingkan apabila telah menjadi barang publik.

Namun demikian, kepedulian untuk melakukan konservasi terhadap sungai pada lokasi penelitian menunjukkan nilai yang rendah. Pada beberapa tempat sungai dijadikan tempat membuang sampah dan limbah, baik dari rumah tangga maupun pabrik. Oleh karena itu, sungai tidak dimanfaatkan sebagai sumber air bersih. Padahal pada konsep DAS, hulu memegang peranan penting karena

Dibuang ke sungai Dibuat lubang, dibakar, ditimbun Dibakar Dikomposkan Hulu Atas V V V V Hulu tengah V V V Hulu bawah V V V Sentul City V*

merupakan sumber air. Apabila sungai di hulu tidak terjaga, maka hilir akan memperoleh akibatnya.

Masalah air belum menjadi hal yang kritis pada bagian hulu DAS. Namun, masyarakat berpendapat bahwa beberapa dekade terakhir jumlah mata air di desa berkurang. Pada musim kemarau debit air dari beberapa mata air juga berkurang.

Dokumen terkait