TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Lanskap Perdesaan
Menurut Undang-Undang Republik Indonesia No. 22 tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah, desa adalah kesatuan masyarakat hukum yang memiliki kewenangan untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakatnya berdasarkan asal usul dan adat istiadat setempat yang diakui dalam sistem pemerintahan nasional dan berada di daerah atau kabupaten. Desa terbentuk atas dasar ikatan tertentu, antara lain bentuk genealogis (kesatuan hukum ikatan karena kekerabatan atau suku), bentuk teritorial (daerah hukum karena kesukarelaan warga masyarakat untuk bertempat tinggal pada suatu tempat atas dasar kepentingan bersama) dan bentuk campuran keduanya (Sumardjo, 2010).
Perdesaan menurut definisi (Rustiadi, 2007) yang merupakan perluasan definisi dari Undang-Undang No. 24 tahun 1992, adalah kawasan yang dicirikan dengan pemanfaatan ruang utama aktivitas pertanian dan pengelolaan sumberdaya alam dengan susunan fungsi kawasan sebagai tempat pemukiman perdesaan, pelayanan jasa pemerintahan, pelayanan sosial, kegiatan budidaya pertanian, pengolahan/industri pertanian dan non pertanian, distribusi dan pasar pertanian dan non pertanian yang memiliki kerapatan/kepadatan yang rendah. Penduduk perdesaan secara spasial bermukim dalam kelompok terpencar (klastering), yang disebabkan persoalan ekonomi seperti karakteristik usaha taninya atau infrastruktur (jalan dan komunikasi), di samping persoalan sosiologi seperti pengelompokan secara garis keturunan dan kepemilikan lahan (Rustiadi, 2007).
Pada lanskap perdesaan ditemukan berbagai sumberdaya yang dapat digunakan oleh penduduknya untuk kebutuhan sosial dan ekonomi. Lahan, udara, dan air merupakan elemen utama pada modal alami pembentuk lanskap perdesaan
(Golley & Bellot, 1999). Kombinasi elemen modal alami dengan tenaga kerja manusia, pengetahuan, dan material kehidupan (benih, teknik, mesin) akan menghasilkan produksi perdesaan (Golley & Bellot, 1999). Di samping menghasilkan produk pangan dan material mentah, perdesaan juga menyediakan pemandangan, rekreasi, dan keterhubungan dengan aktivitas tradisional dan budaya.
Dari segi sosial, kehidupan masyarakat desa terikat nilai-nilai budaya asli yang sudah diwariskan secara turun temurun melalui proses adaptasi yang sangat panjang dan interaksi intensif dengan lingkungan biofisik masyarakat. Di samping itu, kearifan lokal merupakan salah satu aspek karakteristik masyarakat, sehingga nilai-nilai yang terkandung di dalamnya seyogiyanya dapat dipahami sebagai dasar dalam pembangunan pertanian dan perdesaan. (Sumardjono, 2010)
Beberapa masalah pada lanskap perdesaan antara lain penggundulan hutan, eksploitasi sumber daya alam yang berlebihan, degradasi lahan pertanian, penurunan keragaman jenis biologi, kekeringan dan krisis air bersih terutama di musim kemarau, peningkatan terjadinya erosi tanah longsor terutama di musim penghujan, terjadinya bahaya kelaparan, penurunan kesehatan masyarakat, peningkatan jumlah masyarakat miskin (Arifin et al. 2009)
2.2 Daerah Aliran Sungai
Daerah Aliran Sungai adalah suatu wilayah daratan yang merupakan kesatuan sungai dan anak-anak sungai yang berfungsi menampung, menyimpan serta mengalirkan air yang berasal dari curah hujan ke danau atau ke laut secara alami. Batas di darat merupakan pemisah topografis dan batas di laut sampai dengan daerah perairan yang masih terpengaruhi aktivitas daratan (UU No. 7/2004). DAS meliputi punggung bukit atau gunung yang merupakan tempat sumber air dan semua curahan air hujan yang mengalir ke sungai, sampai daerah dataran dan muara sungai (Ditjen Tata Ruang & Pengembangan Wilayah, 2002). DAS dapat disebut juga Daerah Pengaliran Sungai (DPS) atau Daerah Tangkapan Air (DTA). Dalam bahasa inggris terdapat pula berbagai istilah seperti Catchment
Area dan Watershed (Kodoatie & Sugiyanto, 2002). DAS merupakan dasar
banyak komponen, sistem, fungsi dan perannya terkait sumber daya air. Oleh karena itu pegelolaan sumber daya air harus dilihat secara utuh dalam satu kesatuan, minimal dalam satu daerah aliran sungai (Kodoatie & Sjarief, 2010).
Pada bagian hulu DAS dengan kondisi sosial dan budaya masyarakat tradisional yang relatif homogen serta relatif jauh dari pengaruh urbanisasi, akan ditemukan karakter lanskap perkampungan/perdesaan. Karakter tersebut dapat terlihat pada tata ruang, elemen pembentuk lanskap maupun aktivitas masyarakatnya. Semakin ke hilir semakin kuat pengaruh urbanisasi (Arifin & Arifin, 2007). Aktivitas masyarakat bagian hulu akan mempengaruhi kondisi ekologis bagian hilirnya, sebaliknya perkembangan perkotaan di bagian hilirnya akan mempengaruhi bagian hulunya. Oleh karena itu diperlukan pengelolaaan kawasan kawasan DAS secara terintegrasi dari bagian hulu sampai hilirnya untuk menjaga keberlanjutan ekosistem pada DAS tersebut (Asdak, 2007).
Secara biogeofisik, daerah hulu DAS dicirikan oleh hal-hal sebagai berikut: merupakan daerah konservasi, mempunyai kerapatan drainase lebih tinggi, merupakan daerah dengan kemiringan lereng besar (>15%), bukan merupakan daerah banjir, pengaturan permukaan air ditentukan oleh pola drainase, dan jenis vegetasi umumnya merupakan tegakan hutan (Asdak, 2007). Ekosistem DAS hulu merupakan hal yang penting karena mempunyai fungsi perlindungan terhadap seluruh bagian DAS, antara lain dari fungsi tata air. Daerah hulu dan hilir mempunyai keterkaitan biofisik melalui daur hidrologi (Asdak 2007).
Pemberdayaan kembali wilayah perdesaan di daerah hulu DAS diharapkan dapat memperbaiki produktivitas wilayah dan hubungan yang baik hingga ke hilir secara harmonis dan berkelanjutan. Secara kewilayahan ragam land use, potensi agroforestri, lanskap budaya, ecovillage dan keindahan lanskap, dipandang sebagai variabel yang berpotensi dikembangkan sebagai objek agrowisata. Dengan demikian masyarakat dalam aktivitas sehari-harinya yang telah memperoleh manfaat secara sosial ekonomi dan lingkungan juga dapat meningkatkan kesejahteraannya dengan aktivitas agrowisata. Hal tersebut dapat dicapai melalui tiga tahapan dasar (triple bottom line benefit) yaitu aspek
konservasi lingkungan, peningkatan kesejahteraan masyarakat, dan kenyamanan/keamanan hidup (Arifin, 2010)
2.3 Konsep Keberlanjutan Lanskap
Pembangunan berkelanjutan adalah pembangunan yang dapat memenuhi kebutuhan saat ini tanpa mengorbankan kemampuan generasi mendatang untuk mencukupi kebutuhan mereka. Pembangunan berkelanjutan memiliki dua konsep kunci yaitu kebutuhan, khususnya fakir miskin pada negara berkembang dan keterbatasan dari teknologi dan organisasi sosial yang berkaitan dengan dengan kapasitas lingkungan untuk mencukupi kebutuhan generasi sekarang dan masa depan. (Brundtland Comission, 1987 diacu dalam Mitchel et al. 2007)
Menurut Robinson et.al (1990) terdapat beberapa prinsip keberlanjutan, yaitu: A. Prinsip lingkungan/ekologi
1. Melindungi sistem penunjang kehidupan
2. Melindungi dan meningkatkan keanekaragaman biotik
3. Memelihara atau meningkatkan integritas ekosistem, serta
mengembangkan dan menerapkan ukuran-ukuran rehabilitasi untuk ekosistem yang sangat rusak
4. Mengembangkan dan menerapkan strategi yang preventif dan adaptif untuk menanggapi ancaman perubahan lingkungan global
B. Prinsip sosio politik
B.1 Dari hambatan lingkungan/ekologi
1. Mempertahankan skala fisik dari kegiatan manusia di bawah daya dukung biosfer
2. Mengenali biaya lingkungan dari kegiatan manusia; mengembangkan metode untuk meminimalkan pemakaian energi dan material per unit kegiatan ekonomi; menurunkan emisi beracun; merehabilitasi ekosistem yang rusak.
3. Meyakinkan adanya kesamaan sosial, politik, dan ekonomi dalam transisi menuju masyarakat yang lebih berkelanjutan.
4. Menjadikan perhatian-perhatian lingkungan lebih langsung dan
5. Meningkatkan peran serta masyarakat dalam pembangunan, interpretasi dan penerapan konsep pembangunan berkelanjutan.
6. Menjalin kegiatan politik lebih langsung pada pengalaman lingkungan secara aktual melalui alokasi kekuatan politik yang secara lingkungan lebih bermakna keadilan
B.2 Dari kriteria sosio politik
1. Menerapkan proses politik yang terbuka dan mudah dicapai, yang meletakkan kekuatan pembuatan keputusan secara efektif oleh pemerintah pada tingkat yang paling dekat dengan situasi dan kehidupan masyarakan yang terkena akibat dari keputusan tersebut.
2. Meyakinkan masyarakat bebas dari tekanan ekonomi
3. Meyakinkan masyarakat dapat berpartisipasi secara kreatif dan langsung dalam sistem politik dan ekonomi
4. Meyakinkan tingkat minimal dari pemerataan (equality) dan keadilan sosial, termasuk pemerataan untuk merealisasikan potensi penuh sebagai manusia, sumberdaya untuk sistem legal yang terbuka, bebas dari represi politik, akses ke pendidikan dengan kualitas tinggi, akses yang efektif untuk mendapat informasi, dan kebebasan beragama, berbicara dan bertindak.
Menurut Bossel (1988) konsep keberlanjutan berjalan dalam lebih dari satu skala spasial, sebagai contoh sebuah keberlanjutan dari sebuah lahan basah tidak dapat dipisahkan dari keberlanjutan dari DASnya. Oleh karena itu keberlanjutan mengacu pada kemampuan suatu sistem untuk bertahan dan tetap sama dalam waktu jangka waktu yang panjang. Bossel (1998) menambahkan, keberlanjutan merupakan suatu keadaan yang dinamis yang mana semua sistem kebutuhan bertemu. Ekosistem yang berlanjut adalah ekosistem yang sehat (efektif), produksi yang tidak menghasilkan limbah (zero waste), dapat mengatur diri sendiri, mempunyai gaya pegas dan kekuatan untuk memperbaiki atau memperbarui diri, serta fleksibel. Sementara itu masyarakat yang berlanjut adalah masyarakat yang memiliki etika berlandaskan hubungan emosional yang kuat
antar sesama, pemenuhan kebutuhan psikologi, dan kerja sama dalam kehidupan bersama.
Lanskap berkelanjutan berkontribusi bagi kesejahteraan manusia sekaligus tetap harmoni dengan alam karena tidak merusak ekosistem. Ketika aktivitas manusia dapat menyesuaikan dengan pola-pola alami, maka lanskap berkelanjutan dapat berjalan fungsi dan strukturnya sesuai dengan kondisi alaminya. Sumberdaya yang berharga seperti air, hara, tanah, dan energi akan terjaga. Di samping itu keanekaragaman hayati akan terkelola dan meningkat. (Council of Educators in Landscape Architecture dalam Thompson & Sorvig, 2008). Pada debat tentang lingkungan dasar yang paling kuat mucul pada cara untuk memanen dan mengelola sumberdaya yang terbarukan seperti hasil pertanian, kehutanan, dan perikanan. (Benson & Roe, 2000). Dalam Arifin (2010) dinyatakan bahwa pada lanskap secara meso (desa dan kota) aspek sosial ekonomi, budaya, dan spiritual masyarakat akan menentukan keberlanjutan suatu masyarakat dalam wilayah tersebut.
2.4 Ecovillage
Menurut GEN, ecovillage adalah komunitas dari masyarakat di kota ataupun di desa yang berusaha untuk mengintegrasikan kehidupan sosial dengan gaya hidup yang minim dampak. Untuk mencapai konsep ini dipadukan aspek desain ekologi, permakultur, bangunan ekologi, produksi ramah lingkungan, energi alternatif, latihan penguatan komunitas, dan banyak lagi. Ecovillage merupakan suatu cara hidup yang didasarkan pada pemahaman yang mendalam bahwa segala sesuatu dan segala makhluk saling berhubungan. Secara filosofi
ecovillage dibangun dari berbagai macam kombinasi dari ketiga prinsip dasar
yaitu ekologi, komunitas, dan spiritual. Terdapat tiga komponen kunci terkait dengan pembangunan berkelanjutan, yaitu keberlanjutan ekonomi, keberlanjutan sosial dan keberlanjutan lingkungan. Setiap komponen ini berfokus pada kesetaraan dan kemasadepanan (Benson& Roe, 2000).
Ecovillage adalah suatu komunitas yang secara sengaja ingin hidup
bersama dalam suatu wadah secara fisik yang anggotanya biasanya disatukan dengan adanya penggunaan bersama nilai-nilai yang terkait dengan ekologi, sosial, atau spiritual (Gilman, 1991). Konsep ecovillage tidak dapat diterapakan
pada wilayah yang terisolasi agar komunitas tetap dapat mengakses berbagai bentuk infrastruktur seperti teknologi, informasi, maupun ekonomi di pusat pelayanan yang lebih tinggi entitasnya. Sementara kenyaman lingkungan dan kehidupan komunitas dapat diperoleh di lokasi tempat tinggalnya (Barus dan Pribadi, 2009). Unit-unit ecovillage dapat terletak di kawasan hinterland dari suatu pusat pertumbuhan tertentu seperti kota dan dapat berada di kawasan budidaya maupun kawasan lindung yang masih toleran terhadap keberadaan suatu aktivitas.
Komunitas ecovillage di negara maju biasanya merupakan orang-orang muda yang produktif serta memiliki idealisme, kepedulian dan ide cemerlang dalam mewujudkan komitmen bersama untuk menjunjung tinggi pola adaptif terhadap alam (Kasper dalam Barus & Pribadi, 2009). Sebuah komunitas yang berlanjut adalah tempat di mana merasa aman, diterima dan saling mengenal. Komunitas terbangun dengan baik, mudah dijangkau, memiliki ruang ekonomi, lapangan pekerjaan, dan sarana pendidikan dan rekreasi yang cukup. Pembentukan komunitas yang berlanjut merupakan suatu pekerjaan menciptakan tatanan masyarakat yang di dalamnya kesejahteraan, kesehatan, dan harapan yang terdistribusi secara merata (Waterman, 2009).
Terdapat empat dimensi dalam konsep ecovillage yang dinyatakan oleh GEN yaitu dimensi ekologi, sosial, budaya ekonomi. Dimensi ekologi dapat dilihat dari konsep ecovillage yang memberi kesempatan manusia untuk memiliki pengalaman pribadi berhubungan dengan bumi, menikmati interaksi keseharian dengan tanah, air, angin, tanaman, dan satwa. Ecovillage menyediakan kebutuhan sehari-hari seperti makanan, pakaian, tempat tinggal, sembari menghargai siklus-siklus alam. Pada aspek ekologi, penerapan ecovillage dapat berupa:
1. Menumbuhkan tanaman sebanyak mungkin berdasarkan bioregion dari
komunitas
2. Mendukung pertanian organik
3. Mendirikan bangunan dengan material lokal
4. Memanfaatkan desa berdasarkan sistem energi yang terbarukan
5. Menjaga keanekaragaman hayati
7. Menilai daur kehidupan semua produk yang digunakan dalam ecovillage dari segi sosial dan spiritual sebagaimana halnya dari sudut pandang ekologi
8. Menjaga tanah, air, dan udara tetap sehat melalui pengelolaan energi dan pengelolaan buangan (sampah)
9. Menjaga area-area yang masih alami dan berfungsi sebagai penyangga
Dimensi sosial dititikberatkan pada konsep komunitas di mana setiap orang mendapatkan dukungan serta bertanggung jawab terhadap segala sesuatu di sekitarnya. Mereka memiliki rasa kepemilikan yang tinggi terhadap kelompoknya. Kelompok kecil yang setiap anggotanya dapat merasa aman, berdaya, diperhatikan, dan didengar, serta terbuka. Komunitas yang memiliki akses untuk berpartisipasi dalam pembuatan keputusan yang menentukan kehidupan mereka sendiri. Dari segi komunitas, penerapan ecovillage dapat berupa:
1. Mengenal dan berhubungan dengan orang lain
2. Berbagi sumber daya publik dan saling membantu
3. Mengembangkan kesehatan menyeluruh
4. Menyediakan pekerjaan yang bermakna dan berkelanjutan untuk seluruh anggotanya
5. Merangkul kelompok-kelompok marjinal
6. Mempromosikan pembelajaran tanpa akhir
7. Memperkuat persatuan melalui penghargaan terhadap perbedaan
8. Membantu pengembangan ekspresi budaya
Pada dimensi budaya dan spiritual, konsep ecovillage dicapai dengan menghormati dan mendukung bumi dan segala sesuatu yang hidup di atasnya. Hal ini mencakup pengayaan budaya dan ekspresi seni serta keanekaragaman spiritual. Beberapa bentuk nyatanya adalah:
1. Menguatkan budaya dan spiritual
2. Berbagi kreativitas, ekspresi seni, kegiatan kebudayaan, ritual, dan perayaan
3. Mengembangkan perasaan kesatuan komunitas dan saling dukung
5. Berbagi visi dan persetujuan yang mengekspresikan komitmen, warisan budaya dan keunikan dari setiap komunitas
6. Fleksibel dan peka apabila terjadi suatu kesulitan
7. Memahami keterhubungan dan kesalingtergantungan antara elemen
kehidupan dan tempat komunitas berada dan keseluruhan hubungannya 8. Menciptakan kehidupan yang damai, penuh cinta, dan berkelanjutan
Dalam aspek ekonomi, ecovillage memiliki ekonomi yang lebih sehat dan penuh vitalitas dibandingkan ekonomi lokal. Kekuatan ekonomi bermakna:
1. Menjaga uang tetap dalam komunitas
2. Perputaran uang melalui sebanyak mungkin orang
3. Memperoleh, membelanjakan, dan menginvestasikan uang dalam bisnis barang dan jasa yang dimiliki anggotanya
BAB III
METODOLOGI
3.1 Tempat dan Waktu Penelitian
Kegiatan penelitian dilakukan pada kawasan hulu DAS Kalibekasi, Kabupaten Bogor Jawa Barat (Gambar 2). Sebagai sampel, diambil tiga perkampungan yang masing-masing mewakili hulu atas, hulu tengah, dan hulu bawah. Sampel yang diambil adalah Kampung Cimandala, Desa Karang Tengah (520-600 m dpl) sebagai hulu atas, Kampung Landeuh, Desa Karang Tengah (260-280 m dpl) sebagai hulu tengah, dan Kampung Leuwijambe, Desa Kadumanggu (175-210 m dpl) sebagai hulu bawah. Ketiga lokasi berada dalam kawasan administrasi Kecamatan Babakan Madang. Di samping itu diambil satu sampel lokasi pada permukiman Sentul City sebagai pembanding lanskap kota pada area hulu, yaitu cluster Bogor Golf Hijau (220-265 m dpl). Penelitian dilakukan selama 3 bulan yang berlangsung dari Juli 2010 sampai September 2010.
U
Sumber Peta: BPDAS, 2007 Tanpa Skala
U
U
Kampung LandeuhKampung Cimandala
Peta Hulu DAS Kalibekasi Cluster di Sentul City
Tanpa Skala
Gambar 2 Peta Lokasi Penelitian
Kampung Leuwijambe
3.2 Metode Penelitian
Metode yang digunakan dalam kegiatan penelitian meliputi tahapan sebagai berikut:
1. Persiapan penelitian
Tahap persiapan penelitian terdiri survei awal dan pemilihan lokasi sampel penelitian. Pemilihan lokasi sampel dilakukan berdasarkan perbedaan ketinggian untuk merepresentasikan pembagian hulu atas, hulu tengah, dan hulu bawah. Berdasarkan survei awal, lokasi yang dipilih adalah Kampung Cimandala (520-600 m dpl) sebagai sampel hulu atas, Kampung Landeuh (260-280 m dpl) sebagai sampel hulu tengah, dan Kampung Leuwijambe (175-210 m dpl) sebagai sampel hulu bawah. Alasan lainnya adalah tiga lokasi ini dilintasi oleh aliran sungai yang sama sehingga data yang diperoleh diharapkan dapat menggambarkan suatu hulu DAS yang utuh. Sementara, sebagai pembanding lanskap kota diambil satu sampel cluster Bukit Golf Hijau (BGH) pada Sentul City. Pemilihan permukiman
Sentul City didasarkan pada komitmennya dalam mengembangkan konsep ecocity
sehingga menjadi relevan dengan kajian ecovillage. Sementara itu, cluster BGH dipilih karena merupakan cluster tertua, sehingga diasumsikan masyarakatnya lebih mengenal setiap aspek pada Sentul City. Faktor kemudahan akses juga menjadi pertimbangan dalam menentukan keempat lokasi ini.
2. Pengamatan karakter perdesaan
Karakter yang diamati dalam kegiatan penelitian ini meliputi karakter lanskap, sosial ekonomi, serta spiritual budaya. Karakter perdesaan didapatkan dengan pengamatan lapang dan studi literatur. Pola lanskap masing-masing lokasi penelitian, selain dengan pengamatan lapang juga didapatkan dari pemetaan partisipatif dari beberapa anggota masyarakat. Sementara tren pola pekarangan dan pengelompokan rumah diperoleh dari sampling pada 10 rumah pada masing-masing lokasi penelitian didukung dengan pengamatan lapang pada keseluruhan lokasi.
Sementara pendekatan metode penilaian cepat Rapid Agro-Biodiversity
Appraisal (RABA) digunakan untuk memperoleh data keragaman hayati pada
lokasi penelitian. RABA merupakan penilaian yang dilakukan dengan
suatu lokasi (TULSEA, 2009). Pada pendekatan RABA ini beberapa masyarakat pada lokasi penelitian dimintai keterangan tentang jenis dan lokasi ditemukannya suatu spesies baik vegetasi maupun satwa.
Secara rinci daftar kebutuhan data karakter perdesaan disajikan pada Tabel 1. Tabel 1 Kebutuhan Data
No Jenis Data Unit Sumber Analisis Kegunaan
Karakter Lanskap Aspek Ekologi
1
Letak dan batas desa o LU-o LS-o BT-o BB- Dokumen, studi pustaka Analisis deskriptif Mengetahui batas fisik desa 2 Iklim
(suhu, curah hujan, kelembaban udara) o C,mm,% ,- Dokumen, studi pustaka Analisis deskriptif Mengetahui karakter iklim perdesaan bagian hulu 3 Tanah dan Topografi (jenis tanah, kemiringan lahan) (-.%) Dokumen, Studi Pustaka Analisis deskriptif Mengetahui karakter topografi dan tanah pada perdesaan bagian hulu 4
Hidrologi (bentuk badan air, kualitas, kuantitas) Dokumen, Studi Pustaka Analisis deskriptif Mengetahui karakter hidrologi perdesaan bagian hulu 5 Vegetasi (keragaman jenis, klasifikasi fungsi, arsitektur, kekhasan) Spesies Observasi lapang, RABA Analisis Deskriptif Mengetahui karakter hidrologi perdesaan bagian hulu 7 Satwa (keragaman jenis, klasifikasi, kekhasan) Spesies Observasi lapang, RABA Analisis deskriptif Mengetahui karakter satwa pedesaan bagian hulu 9 Pola lanskap (pola ruang desa, pola ruang rumah, arsitektur rumah - Obsevasi lapang, sampling Pola zonasi, Analisis dekriptif Mengetahui karakter satwa perdesaan bagian hulu Aspek Sosial 10 Sejarah Desa (asal mula, berapa generasi) - Wawancara masyarakat Analisis deskriptif Mengetahui sejarah desa 11 Demografi (populasi, mata pencaharian, tingkat ekonomi, tingkat pendidikan ) Orang Dokumen, Studi Pustaka Analisis deskriptif Mengetahui karakter demografi perdesaan pada bagian hulu
12 Pelapisan dalam masyarakat - Wawancara Analisis deskriptif Mengetahui karakter sosial Aspek Spiritual 13 Agama, Nilai dalam
masyarakat - Wawancara Analisis deskriptif Mengetahui karakter keagamaan, nilai dalam masyarakat 14 Budaya/Ritual (Kegiatan budaya ) - Wawancara Analisis deskriptif Mengetahui karakter budaya pedesaan hulu
3. Penilaian keberlanjutan masyarakat
Penilaian keberlanjutan masyarakat dilakukan dengan mengumpulkan data penilaian masyarakat terhadap kondisi keberlanjutan permukimannya dengan menggunakan format Community Sustainibility Assesment (CSA) atau Penilaian
Keberlanjutan Masyarakat (PKM) melalui metode Focus Group Discussion
(FGD). FGD merupakan suatu metode diskusi yang direncanakan dan bertujuan menjaring persepsi serta sikap atas suatu topik. Setiap anggota diskusi saling mempengaruhi ide dan pendapat yang diutarakan dalam diskusi tersebut sehingga data yang didapatkan lebih kaya dan informatif. Secara teknis, 8 sampai 15 orang perwakilan masyarakat dipilih dalam diskusi sebagai representasi dari keseluruhan warga pada setiap lokasi penelitian. Perwakilan yang diambil merupakan perangkat desa, seperti ketua RT dan RW, pengawas desa, perwakilan petani, tokoh masyarakat, serta perwakilan kelompok wanita seperti anggota PKK, dan para kader. Pada Sentul City anggota FGD yang dipilih adalah beberapa anggota masyarakat dan pihak pengelola Sentul City.
Sementara itu, CSA merupakan suatu alat untuk mengukur tingkat keberlanjutan suatu masyarakat dalam kerangka ecovillage yang dibuat oleh GEN berupa serangkaian pertanyaan yang diberi pembobotan (Arifin, 2010). Materi yang digunakan adalah kuesioner baku CSA dari GEN yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Nurlaelih (2005). Kuesioner disajikan pada Lampiran 3. Parameter yang digunakan untuk menilai setiap aspek adalah sebagai berikut:
A. Aspek ekologis, lingkungan kehidupan masyarakat seimbang jika: 1. Orang-orang sangat terikat dengan tempat dimana mereka tinggal/
hidup. Batasan, kekuatan, kelemahan, iramanya jelas dan manusia tinggal dalam sinkronisasi dan keselarasan di dalam sistem yang ekologis dimana mereka menjadi suatu bagian yang utuh
2. Kehidupan alami, proses dan sistemnya dihormati, margasatwa dan habitat tumbuhan dipelihara
3. Gaya hidup manusia bersifat memperbaharui, bukan mengurangi integritas lingkungan
4. Makanan terutama berasal dari lokal atau sumber-sumber wilayah alami, organik, bebas dari zat pencemar dan menyediakan gizi yang seimbang
5. Bangunan/struktur dirancang untuk memadukan dan melengkapi lingkungan alami, penggunaan alami, material, dan sistem pembangunan wilayah serta bersifat ekologis (dapat diperbaharui dan tidak beracun)
6. Konservasi dipraktikkan dalam sistem metode pembangunan dan transportasi
7. Konsumsi dan pembuangan limbah minimal
8. Tersedia air bersih yang dapat diperbaharui. Masyarakat
menyadari, menghormati, melindungi, dan memelihara sumber airnya
9. Limbah manusia dan limbah cair digunakan atau dibuang untuk manfaat lingkungan dan masyarakat
10.Sumber energi tidak beracun dan dapat diperbaharui, digunakan untuk panas serta kegiatan masyarakat. Teknologi inovatif tidak dieksploitasi dan dibiarkan, tapi digunakan untuk kepentingan bersama
B. Aspek sosial, kehidupan masyarakat seimbang jika:
1. Ada suatu perasaan terhadap perubahan dan stabilitas sosial dalam kehidupan masyarakat: suatu pondasi bagi keselamatan dan