• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN

5.3. Rekomendasi Pengelolaan

Berdasarkan hasil penilaian yang telah dilakukan pada lokasi penelitian dapat disusun suatu rekomendasi pengelolaan. Rekomendasi yang disampaikan berupa konsep-konsep pengelolaan terkait aspek-aspek ekologi, sosial dan spiritual. Pada beberapa rekomendasi, pendekatan ecovillage digunakan untuk memecahkan masalah yang ada pada lokasi penelitian baik pada hulu atas, tengah, bawah, dan kota.

5.3.1 Rekomendasi Umum

Pada awalnya akan disampaikan rekomendasi umum tentang konsep tahapan pembangunan komunitas yang berlanjut pada hulu DAS Kalibekasi. Tahapan ini disusun berdasarkan suatu kesadaran bahwa pembangunan

masyarakat yang berlanjut merupakan suatu proses yang kontinu dan tidak bisa instan. Oleh karena itu, diperlukan rencana pengelolaan di dalamnya. Adapun skema tahapan yang harus ditempuh disajikan pada Gambar 34.

Gambar 34 Skema Tahapan Menuju Komunitas yang Berlanjut

1. Introduksi konsep keberlanjutan: Pada tahap ini anggota masyarakat pada kawasan hulu DAS Kalibekasi baik desa maupun kota diperkenalkan dengan konsep keberlanjutan yang utuh. Latar belakang, filosofi, tujuan, manfaat, bentuk kegiatan, dan pencapaian perlu disosialisasikan secara komprehensif. Hal ini berguna untuk membentuk kesadaran dan komitmen awal dalam menuju komunitas yang berkelanjutan. Bentuk kegiatannya dapat berupa penyuluhan pada skala komunitas. Pada lokasi penelitian skala kampung dinilai lebih efektif karena jumlahnya anggota komunitasnya yang tidak terlalu besar. Pelaku penyuluhan dapat berasal dari pemerintah, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), maupun institusi pendidikan. Sistem kaderisasi yang telah terdapat di hulu tengah dan bawah dapat digunakan untuk menyebarkan pengetahuan tentang keberlanjutan pada komunitas yang lebih luas.

2. Peningkatan Kapabilitas: Tahap ini merupakan tahap pembekalan

komunitas untuk menuju keberlanjutan. Dua aspek yang penting dalam langkah awal ini adalah peningkatan pendidikan dan ekonomi. Secara sinergi pendidikan formal di sekolah dan pendidikan praktis tentang

Introduksi Konsep Keberlanjutan (kesadaran dan komitmen)

Peningkatan Kapabilitas (pendidikan dan ekonomi)

konsep keberlanjutan diberikan kepada masyarakat. Begitupula dengan usaha-usaha untuk meningkatkan ekonomi lokal. (Bentuk nyatanya dibahas pada poin 1 rekomendasi khusus). Salah satu yang perlu diperhatikan adalah bahwa pembentukan ecovillage ataupun ecocity adalah suatu kegiatan yang terus berproses sehingga tahap peningkatan kapabilitas ini merupakan proses yang terus berlangsung.

3. Pembiasaan pola hidup berkelanjutan: Pada tahap ini masyarakat telah mampu menerapkan pengetahuannya untuk menerapkan konsep kebelanjutan. Manfaat prinsip berkelanjutan mulai dirasakan oleh masyarakat. Pemerintah, institusi pendidikan, dan LSM diharapkan

bertindak sebagai fasilitator dan pendukung komunitas dalam

pengembangan pengetahuan dan kemampuan yang lebih luas.

5.3.2 Rekomendasi khusus

Berdasarkan rekomendasi umum yang telah diuraikan disusun beberapa rekomendasi khusus. Pada rekomendasi khusus ini disajikan beberapa konsep pengelolaan masyarakat, lingkungan dan lanskap pada lokasi penelitian. Berikut merupakan rekomendasi khusus tersebut:

1. Penguatan Pendidikan dan Ekonomi pada Perdesaan

Penguatan pendidikan serta ekonomi masyarakat merupakan pilar yang penting dari suatu usaha untuk mencapai keberlanjutan. Kedua hal ini merupakan faktor penentu dalam menentukan kelestarian lingkungan baik pada ecovillage maupun ecocity. Oleh karena itu, peningkatan pendidikan serta ekonomi masyarakat menjadi penting untuk diusahakan. Konsep ini secara diagramatis disajikan pada Gambar 35.

Gambar 35 Alur Pikir Kelestarian Lingkungan

Pendidikan Perekonomian

Kesejahteraan Masyarakat Kelestarian Lingkungan &

Bentuk pendidikan yang perlu diperhatikan adalah pendidikan formal dan

pendidikan tentang konsep-konsep keberlanjutan. Peningkatan kualitas

pendidikan formal merupakan bentuk usaha jangka panjang dalam memperbaiki kualitas sumberdaya manusia perdesaan. Sementara pendidikan tentang-konsep keberlanjutan diharapkan dapat menjadi percepatan perbaikan kualitas lingkungan dan pemantapan kemampuan masyarakat dalam membentuk komunitas yang berlanjut. Peningkatan kualitas pendidikan dapat dilakukan dengan:

- Pembangunan sarana dan prasarana pendidikan pada lokasi penelitian, seperti sekolah dan pusat-pusat pelatihan. Ketika penelitian dilakukan, masyarakat pada Kampung Cimandala, secara swadaya sedang membangun SMP pertama di kampung tersebut. Pemerintah dapat membantu dalam akselerasi pembangunan sarana pendidikan tersebut.

- Peningkatan kualitas pendidikan dengan meningkatkan jumlah dan tenaga

pengajar, perlengkapan pendidikan seperti buku pada perpustakaan, dan sarana pendidikan lain.

- Pembukaan akses seluas-luasnya untuk pendidikan. Baik akses fisik, ditinjau dari letak sekolah, baik SD, SMP, SMA dan jenjang yang lebih tinggi maupun akses terkait finansial. Program pemerintah seperti BOS perlu dimanfaatkan secara optimal pada perdesaan.

Peningkatan pengetahuan masyarakat tentang pendidikan praktis terkait konsep keberlanjutan dapat dilakukan dengan beberapa usaha seperti disajikan pada Tabel 12.

Tabel 12 Bentuk Pendidikan Praktis untuk Keberlanjutan Lingkungan dan Masyarakat.

Aspek Jenis Penyuluhan dan

Pelatihan Lokasi Alternatif penyuluh/pelatih A T B P Lingku-ngan/ Ekologi -Pengelolaan sampah mandiri skala rumah tangga:

V V V V LSM, Sentul City

-Konservasi tanah dengan kolam resapan atau biopori

V V V V

Pemda (Dinas Pertanian), Institusi pendidikan

-Pertanian terpadu, pertanian organik, pertanian yang konservatif V V V Pemda (Dinas Pertanian), Institusi pendidikan -Pemanfaatan pekarangan

untuk ketahanan pangan V V V

Pemda (Dinas Pertanian), Institusi pendidikan -Pengetahuan konsep 3R V V V V LSM, Intitusi pendidikan, Pengelola Sentul City -Pemanfaatan sumber energi ramah lingkungan: matahari (panel surya)

V Pengelola Sentul City

-Pemanfaatan sumber

energi ramah

lingkungan: air sungai

V

Pemda (Dinas Energi dan Pertambangan), Institusi pendidikan Sosial-Ekonomi -Agroindustri dari komoditi potensial seperti singkong, pisang, bambu, pandan, tanaman-tanaman obat, dll (produk makanan, kerajinan tangan, furnitur) V V V Pemda (Disperindag, Dinas koperasi dan UKM), LSM

-Kerajinan dari bahan bekas seperti sampah plastik

V V V

LSM, Pemda (Disperindag, Dinas koperasi danUKM

-Ketrampilan kerja V V V Pemda (Dinas

Diperindag), LSM

Sementara pada aspek ekonomi, peningkatan kapasitas yang dilakukan berorientasi pada pembentukan komunitas yang lebih mandiri. Namun pada awalnya, dukungan dan pendampingan dari pemerintah, LSM sangat dibutuhkan. Beberapa langkah nyata yang dapat diambil antara lain:

- Penyaluran modal usaha untuk masyarakat perdesaan oleh pemerintah

dengan pendampingan agar modal dapat dimanfaatkan secara

berkelanjutan. Pendampingan dapat dilakukan oleh pemerintah, LSM atau institusi pendidikan.

- Penguatan posisi tawar petani pada perdesaan dengan pembentukan

kelompok tani atau koperasi ini diharapkan dapat mengatur distribusi produk, harga produk, dan pengelolaan modal para petani.

2. Harmonisasi desa dan kota berkelanjutan

Konsep harmonisasi unit ecovillage dan/atau ecocity dikembangkan dari pemikiran Kasper dalam Barus dan Pribadi (2009) bahwa pengembangan

ecovillage dapat selaras dengan kota/ pusat pelayanan di dekatnya. Di samping

itu, pada unit yang lebih luas, masing-masing ecovillage dapat saling berinteraksi untuk membentuk suatu komunitas berkelanjutan yang lebih luas. Hubungan kota-desa pada ecovillage dapat dikembangkan karena kota tetap menjadi pusat pelayanan seperti pendidikan, ekonomi, dan kesehatan bagi komunitas ecovillage, sedangkan warga kota dapat menikmati jasa lingkungan dari perdesaan di sekitarnya. Wilayah perdesaan juga dapat menjadi penyangga kota, terutama karena RTHnya yang luas. Di samping itu, kemunculan suatu unit ecovillage, dapat memotori pembentukan ecovillage yang lain sehingga berpeluang terbentuk komunitas berlanjut yang lebih luas. Menurut Kasper dalam Barus dan Pribadi (2009), biasanya unit-unit ecovillage dapat membentuk jaringan sosial, ekonomi dan politik antara sesamanya. Pada lokasi penelitian terdapat Sentul City sebagai kota dan komunitas-komunitas perdesaan di sekitarnya, maka terdapat potensi dalam pengembangan konsep harmonisasi kota-desa ini (Gambar 36).

Diadaptasi dari Barus dan Pribadi, 2009

Gambar 36 Konsep Hubungan Unit Ecovillage-Ecocity Ecocity

Ecovillage Ecovillage Ecovillage

Ecovillage

Hubungan timbal balik kota-desa

Kota dan desa harus memiliki itikad baik dan komitmen dalam mewujudkan pembentukan komunitas berkelanjutan secara bersama, sementara pemerintah dapat mendukung konsep ini melalui program-program yang dibuatnya. Bentuk rekomendasi pengelolaan terkait model ini adalah:

- Membangun akses yang lebih besar terhadap masyarakat desa pada kota terutama pada aspek ekonomi. Para petani pada kampung-kampung pada hulu Kalibekasi dapat menjual hasil pertanian, maupun produk-produk mereka ke dalam kota berkelanjutan dengan harga yang sesuai (terlebih untuk produk-produk organik yang dihasilkan).

- Secara spasial, perluasan kawasan kota baru, hingga masuk ke kawasan perdesaan harus dihentikan dengan menegakkan hukum sesuai regulasi yang telah dibuat mengenai hal ini (RTRW Kota Bogor).

- Hubungan kerjasama antara desa dalam transfer teknologi

program-program untuk mengelola lingkungan maupun bidang ekonomi seperti pelatihan-pelatihan kerja, dan pertanian. Bentuk ini juga dapat digunakan sebagai CSR pada warga di sekitar pemukiman.

- Hubungan kerja sama antar desa atau kampung. Bentuk kerja sama dapat

berupa transfer teknologi, pertukaran pengetahuan, maupun aktivitas bisnis. Hal ini diharapkan dapat memperkuat jejaring antar desa sehingga memperkuat posisi tawar masyarakat di perdesaan.

3. Pengembangan Agrowisata, Ekowisata, wisata Perdesaan Berbasis

Komunitas

Pengembangan konsep agrowisata, ekowisata, desa wisata merupakan potensi yang dapat diterapkan pada daerah hulu DAS Kalibekasi. Konsep agrowisata selain memberi keuntungan ekonomi, juga memaksa untuk mempertahankan lahan-lahan dan ruang terbuka hijau pada perdesaan. Pada saat penelitian berlangsung kegiatan agrowisata dan ekowisata telah dilakukan, namun sepenuhnya dikelola oleh Sentul City. Program ini berbentuk ekowisata pada wilayah Gunung Pancar yang berdekatan dengan Kampung Cimandala dan kebun

buah naga yang berdekatan dengan Kampung Landeuh. Apabila program-program pada Sentul City dapat dikombinasikan dengan bentuk agrowisata atau ekowisata yang berbasis komunitas, pilihan program dan objek yang ditawarkan dapat lebih beragam. Sementara itu, tidak hanya menguntungkan pihak kota namun juga komunitas-komunitas pada perdesaan yang menjadi lokasi agrowisata, ekowisata, maupun, desa wisata.

Berdasarkan hasil pengamatan pada saat penelitian ditemukan beberapa potensi desa yang dapat dikembangkan sebagai agrowisata, ekowisata maupun wisata perdesaan. Potensi-potensi ini disajikan pada Tabel.13

Tabel 13 Potensi Agrowisata, Ekowisata, dan Wisata Desa Objek

Lokasi

Bentuk Kegiatan dan Atraksi yang mungkin dilakukan

A T B Sawah dan Ladang

(padi, singkong, pandan, sayur-sayuran, buah-buahan)

V V V

Kegiatan pertanian (menanam, merawat, memanen padi, penjualan produk segar

Lanskap alami (Gunung Pancar, Gunung Astana, Sumber air panas Cibeureum)

V

Ekowisata, mengenal flora fauna, mengunjungi talun, melihat makam di atas gunung, mandi air panas Lanskap pemukiman

tradisional V V V

Merasakan kehidupan perdesaan (harian/menginap), menikmati keindahan dan produk pada lanskap sekitar pemukiman (sungai, produk pekarangan, kebun campuran

Pabrik tapioka V V V Melihat proses pembuatan, ikut

dalam proses pembuatan Kegiatan seni budaya

masyarakat V V

Mentang Kolecer (pada musim

tertentu) A: hulu atas, T: hulu tengah, B: hulu bawah

Dalam mengembangkan agrowisata, ekowisata, maupun desa wisata selain potensi-potensi yang telah ada, harus didukung dengan kemampuan masyarakat dalam mengelola program wisata. Oleh karena itu, pada awalnya dibutuhkan pelatihan dan pendampingan. Pelatihan-pelatihan ini dapat diberikan oleh pemerintah, LSM terkait, maupun pihak lainnya. Dalam tahap selanjutnya dapat pula dilaksanakan kerja sama antara kota dan desa dalam pengembangan dan pengelolaan program wisata ini, sehingga semua pihak dapat memperoleh manfaat secara adil.

4. Revitalisasi Bentuk Lanskap Agroforestri

Merevitalisasi lanskap agroforestri pada hulu DAS Kalibekasi juga merupakan usaha untuk menjaga keberlanjutan DAS dari hulu sampai hilir. Dengan merevitalisasi bentuk-bentuk agroforestri maka akan mendukung dan

melestarikan jasa lingkungan (environmental services) yang mencakup

penyimpanan karbon, konservasi dan perlindungan keanekaragaman hayati, pengelolaan sumber daya air, dan menjaga keindahan lanskap. Bentuk agroforestri yang dapat dilakukan pada DAS Kalibekasi dan bentuk arahan pengelolaanya disajikan pada Tabel 14.

Tabel 14 Tabel Bentuk dan Pengelolaan Lanskap Agroforestri Elemen agroforestri Pemanfaatan Lokasi Bentuk Pengelolaan A T B P Pekarangan -Ketahanan pangan -Penghasilan tambahan

V V V -Revitalisasi fungsi pekarangan dengan kembali

memanfaatkannya untuk bertanam tanaman pangan, sayur, bumbu, obat, maupun industri Pertanian (sawah dan ladang) -Produksi utama

V V V -Penghentian konversi tataguna lahan pertanian dengan regulasi dan penegakan hukum (sesuai RTRW) oleh pemerintah -Insentif bagi yang

mempertahankan lahan pertanian atau RTH dan disinsentif bagi yang melakukan konversi oleh pemerintah

-Agrowisata basis komunitas sebagai nilai tambah oleh dan untuk komunitas Kebun campuran dan talun -Jasa lingkungan -Produksi -Ketahanan pangan

V V V - Pelestarian praktik kebun campuran dan talun pada lokasi penelitian

- Pemberian insentif bagi yang mempertahan bentuk

Hutan -Jasa

lingkungan

V -Pengelolaan hutan

berkelanjutan oleh pemerintah -Perdagangan karbon pada skala

lokal (hulu-hilir) maupun global

-Pengembangan ekowisata

dengan melibatkan komunitas sekitar lokasi RTH pada kota -Jasa lingkungan -Nilai tambah kota

V -Pemeliharaan RTH pada kota

-Insentif oleh pemerintah bagi yang memenuhi persyaratan RTH kota

A: hulu atas, T: hulu tengah, B: hulu bawah, P: Pembanding 5. Revitalisasi Kearifan Lokal

Revitalisasi kearifan lokal adalah suatu bentuk usaha pengelolaan lanskap dengan mempelajari kembali bentuk-bentuk respon manusia dalam menghadapi alam, baik yang masih berlaku maupun yang telah hilang, sehingga dapat diterapkan, diadaptasi, dan dilestarikan. Konsep-konsep kearifan lokal secara tradisional diterima oleh masyarakat serta berpengaruh baik kepada lingkungan. Pada lokasi penelitian ditemukan beberapa bentuk kearifan lokal yang masih diterapkan masyarakat. Beberapa di antaranya disajikan pada Tabel 15.

Tabel 15 Bentuk Kearifan Lokal pada Lokasi Penelitian

Bentuk Kearifan Lokal Lokasi

ditemukan

Manfaat Intensitas

ditemukan

A T B

Pengelolaan mata air berbasis masing-masing rumah tangga

V Perlindungan yang

lebih intensif pada mata air

Masih diterapkan

Pemanfaatan material lokal (beronjong batu) dalam pencegahan erosi sungai dan menahan tanah pada pemukiman yang memiliki ketinggian berbeda V V -Penghematan pengeluaran untuk material -Merupakan suatu bentuk eko-engineering yang adaptif lingkungan Masih diterapkan secara terbatas

Konsep rumah

panggung pada rumah tradisional Sunda V V V -Eko arsitektur -KDB kecil -Resisten terhadap gempa Mulai ditinggalkan Pekarangan sebagai dapur hidup V V V -Ketahanan pangan -Sumber penghasilan tambahan Masih diterapkan dengan tanaman yang sedikit

Area pemakaman yang berada pada kebun bambu V V V -Konservasi kebun bambu -Kesuburan kebun bambu Masih ditemukan

A: hulu atas, T: hulu tengah, B: hulu bawah

Bentuk-bentuk kearifan ini dapat dilestarikan dengan cara sosialisasi pada komunitas yang lebih luas dan pada generasi berikutnya agar tidak hilang. LSM dapat menjadi fasilitator kegiatan sosialisasi ini. Di samping itu, dalam membuat kebijakan terkait lingkungan pemerintah dapat menegosiasikannya dengan masyarakat serta memperhatikan bentuk-bentuk kearifan lokal yang ada, sehingga dapat lebih mudah diterima dan dijalankan.

6. Merevitalisasi Seni Budaya Lokal.

Bentuk kegiatan yang dapat dilakukan untuk melestarikan budaya pada lokasi penelitian adalah dengan merevitalisasi kesenian lokalnya. Sekolah merupakan suatu sarana yang baik dalam usaha ini. Bentuk kesenian lokal dapat dijadikan muatan lokal pada sekolah-sekolah di lokasi penelitan. Sekolah Dasar pada Kampung Cimandala, Landeuh, maupun Leuwijambe merupakan sarana yang potensial untuk memulai usaha ini. Sementara itu, memang dibutuhkan penambahan ruang komunitas yang dapat dimanfaatkan dalam melaksanakan kegiatan ini.

Beberapa bentuk kesenian lokal yang dapat dipelajari kembali adalah gendang pencak dan tamsilan. Tenaga pengajar bisa meminta bantuan pada warga masyarakat yang masih menguasai kesenian ini. Di samping itu dengan

mengajarkan bentuk kesenian lokal pada anak-anak dapat membentuk kebanggan mereka terhadap seni budaya lokal yang merupakan warisan leluhur mereka.

5.3.3 Alternatif Rekomendasi Teknis

Berikut disajikan beberapa rekomendasi teknis dalam pencapaian

ecovillage. Rekomendasi berupa saran-saran yang bersifat konsep maupun metode

yang dapat diaplikasikan langsung pada lokasi penelitian. Rekomendasi yang diberikan terutama terkait dengan perbaikan kualitas lingkungan serta hubungan sosial masyarakat melalui pendekatan lanskap.

Visualisai konsep harmonisasi lanskap desa dan kota disajikan pada Gambar 37. Sentul City dilingkupi oleh sabuk hijau pertanian perdesaan. Sabuk hijau pertanian diharapkan dapat memenuhi kebutuhan pangan kota maupun perdesaan. Permukiman perdesaan berada pada sekitar kota, dengan akses yang mudah menuju kota. Sementara area penyangga Gunung Pancar, atau area alami lainnya menjadi penyangga keseluruhan kawasan.

Gambar 37. Rekomendasi Konsep Pola Kawasan pada Lokasi Penelitian Pada skala perkampungan, tata ruang kampung juga penting untuk diperhatikan. Pada Gambar 38 disajikan model tata ruang perkampungan

ecovillage sebagai alternatif konsep tata ruang pada lokasi penelitian yang

diadaptasi dari model tata ruang ecovillage (Nasrullah, 2009). Fasilitas publik, seperti sekolah, puskesmas, pasar, pusat kegiatan masyarakat, termasuk ruang

terbuka komunitas berada pada pusat desa sehingga mudah diakses oleh semua masyarakat. Sementara itu pemukiman berada disekitar pusat desa yang dilingkupi dengan areal produksi pertanian di sekitarnya. Area konservasi, gunung maupun hutan dapat berada pada sisi desa sebagai penyangga desa. Sementara itu,

greenbelt perlu dibangun pada pada sisi sungai sebagai buffer sungai serta area

konservasi sempadan sungai. Pada area transisi antar masing-masing ruang dapat menjadi greenbelt yang melingkupi perdesaan.

Gambar 38 Rekomendasi Konsep Pola Perkampungan

Sementara pada aspek sirkulasi, jalan utama merupakan akses utama kampung dari kampung lain. Pada lokasi penelitian, terutama menuju Kampung Cimandala, akses utama menuju masing-masing kampung masih dalam kondisi buruk secara fisisk. Jalan masih berupa jalan berbatu, atau dengan kondisi perkerasan yang telah rusak. Hal ini perlu segera diperbaiki. Akses merupakan sarana dalam membuka keterisolasian desa sehingga perbaikan ekonomi (terkait kemudahan distribusi produk pertanian), pendidikan (kemudahan mencapai pusat pelayanan pendidikan), serta pembangunan lain dapat mencapai perdesaan. Pada hirarki selanjutnya terdapat jalan permukiman yang menghubungkan masing-masing rumah pada kampung. Jalan kebun merupakan jalan yang berada pada area-area produksi dapat berupa jalan setapak, namun akan sangat baik bila

direncanakan dapat diakses dengan mudah untuk mengangkut produk desa. Selanjutnya terdapat akses menuju gunung atau hutan yang dapat berupa jalan setapak sebagai akses masyarakat dalam memanfaatkan hasil hutan dengan lestari.

Fokus selanjutnya adalah pengadaan ruang terbuka untuk komunitas. Ruang terbuka ini sebaiknya bersifat publik, kepemilikan pribadi dikhawatirkan tidak berlanjut terkait ketidakpastian sikap pemilik atau generasi selanjutnya terhadapa ruang terbuka tersebut pada waktu yang akan datang. Selain untuk rekreasi dan olah raga, ruang terbuka publik untuk komunitas dapat menjadi ruang untuk kegiatan yang melibatkan seluruh kampung, seperti perayaan hari besar agama atau nasional, tempat pertemuan, ruang dalam mempertunjukkan seni budaya lokal, serta pasar lokal pada hari-hari tertentu. Disamping itu, ruang ini dapat pula diintegrasikan dengan bangunan publik untuk kegiatan masyarakat seperti pelatihan, rapat kampung, posyandu, puskesmas, atau sekretariat kelompok-kelompok desa. Mengingat bahwa lokasi perdesaan merupakan lokasi yang rawan bencana longsor maupun banjir maka keberadaan ruang terbuka ini berpotensi juga menjadi ruang evakuasi bencana. Oleh karena itu dibutuhkan perencanaan yang baik dalam menentukan lokasinya. Pertimbangan dalam kemudahan akses dan kesesuaiannya penting untuk dipertimbangkan. Sementara itu, ruang komunitas skala ketetanggaan yang telah ada harus dipertahankan. Ruang-ruang terbuka ini diharapkan dapat memberi kesempatan masyarakat untuk rekreasi, bersosialisasi, serta menjalani kegiatan-kegiatan bersama (Gambar 39).

(c) Ilustrasi ruang terbuka publik skala kampung

Gambar 39 Skema dan Ilustrasi Ruang Terbuka Publik untuk Komunitas Sementara itu, sebagai usaha konservasi pada daerah bantaran sungai dapat dilakukan dengan konsep eco-engineering sederhana, terutama dengan penanaman (Gambar 40a). Praktik ini dapat berfungsi sebagai usaha minimalisasi erosi pada dinding sungai, melindungi tempat hidup berbagai fauna sungai, serta dapat pula menjadi penyaring alami sampah maupun sisa pupuk kimia yang dapat menjadi polusi sebelum akhirnya mengalir ke sungai. Beberapa alternatif metode konservasi sungai yang dapat dilakukan disajikan pada Gambar 40b. Pada beberapa tempat pada lokasi, seperti di Sungai Cipancar perlu segera dilakukan perbaikan karena telah mengalami erosi yang parah. Menurut Maryono (2008), beberapa tanaman perdu atau herba yang dapat hidup di zona amfibi (antara zona darat dan air) adalah dari golongan pandan (Pandanus), golongan lengkuas

(Alpinia), rumput wlingi (Cyperus alternifolius), serta golongan

kangkung-kangkungan (Ipomea). Tanaman pohon pinggir sungai yang dapat digunakan adalah dari keluarga bambu (Bambusa sp., Gigantochloa sp, Dendrocalamus sp.), keluarga beringin (Ficus benjamina, Ficus gibbosa, Ficus glomerata), dan gayam

(Inocarpus fagiferus). Tanaman yang khusus dapat menahan longsoran antara lain

rumput vetiver (Vetiveria zizanoides), karangkungan (Ipomea carnea), serta bambu. Pada hulu atas tanaman-tanaman ini dapat dikombinasikan dengan teknik beronjong batu yang telah ada. Kombinasi dengan tanaman-tanaman lokal lain yang berpotensi juga dapat dilakukan. Pada Gambar 40c disajikan ilustrasi penanganan erosi di beberapa sungai pada lokasi penelitian.

(a) Penanaman pada bantaran sungai (Sumber: Maryono, 2005)

(b) Metode pasangan batu kali kombinasi vegetasi atau vegetasi saja (Patt et al dalam Maryono, 2005)

(c) Ilustrasi konservasi beberapa dinding sungai pada lokasi penelitian. Gambar 40 Metode dan Ilustrasi Konservasi Dinding Sungai

Sementara itu, pada skala rumah tangga pemanfaatan pekarangan dapat lebih dioptimalkan dengan revitalisasi pekarangan untuk ketahanan pangan. Sebagian besar rumah masih memiliki lahan kosong baik di depan kiri, depan, atau belakang rumah (seperti pada masing-masing pola pekarangan berdasarkan penanaman yang telah dipaparkan pada subbab pola lanskap). Pekarangan ini dapat dimanfaatkan untuk penanaman khususnya tanaman pangan seperti sayur, buah, bumbu, obat, maupun, penghasil pati. Hal ini dimaksudkan agar masyarakat perdesaan pada lokasi penelitian dapat mandiri dalam memenuhi kebutuhan

pangannya sendiri. Sementara itu revitalisasi pekarangan juga dapat dilakukan dengan menyediakan lahan untuk pengomposan, area untuk sumur resapan, biopori, dan lebih baik apabila dikombinasikan dengan kolam pemeliharaan ikan. Keberadaan pekarangan yang ditanami juga diharapkan dapat meningkatkan kualitas lanskap pada perdesaan. Alternatif konsep dan ilustrasi pemanfaatan

Dokumen terkait