• Tidak ada hasil yang ditemukan

Karakteristik Data IHK, Inflow dan Outflow di Kalimantan

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Karakteristik Data IHK, Inflow dan Outflow di Kalimantan

Data yang digunakan dalam analisis ini adalah data IHK bulan Januari 2003 sampai dengan Desember 2014. Data tahun Januari 2003 sampai dengan Desember 2013 sebanyak 132 pengamatan digunakan sebagai data in-sample, sedangkan sebanyak 12 pengamatan mulai bulan Januari 2014 sampai dengan Desember 2014 sebagai data out-sample.

Data IHK pada empat kota di Kalimantan yang digunakan dalam kajian ini adalah Kota Pontianak, Kota Banjarmasin, Kota Samarinda dan Kota Balikpapan. Pemilihan kota dilakukan dengan memperhatikan kecukupan data untuk analisis time series sebanyak minimal 50 pengamatan, keberadaan Kantor Perwakilan Bank Indonesia di daerah untuk ketersediaan data jumlah uang beredar (inflow dan outflow), dan kontribusi kota IHK/inflasi terhadap IHK/inflasi dengan batasan minimal memberikan andil sebesar 1 (satu) persen terhadap IHK/inflasi nasional.

Secara umum, statistik deskriptif untuk data IHK pada empat kota di Kalimantan seperti terlihat pada Tabel 4.1. Berdasarkan Tabel 4.1 diketahui bahwa selama Januari 2003 sampai dengan Desember 2013 nilai rata-rata data IHK di Pontianak sebesar 76,48, Banjarmasin sebesar 75,86, Samarinda sebesar 77,17, dan Balikpapan sebesar 76,8. Rata-rata nilai IHK tertinggi adalah Kota Samarinda yaitu sebesar 77,17. Persebaran data terhadap rata-rata untuk IHK Kota Pontianak sebesar 18,89, Banjarmasin sebesar 18,80, Samarinda sebesar 19,53

dan Balikpapan sebesar 18,68. Nilai variansi empat kota di Kalimantan menunjukkan angka yang relatif tinggi, hal ini mengindikasikan fluktuasi kebutuhan konsumsi masyarakat di masing-masing kota tersebut relatif tinggi. Tabel 4.1. Statistik Deskriptif Data IHK Empat Kota di Kalimantan Tahun 2003-2013

Kota Rata-rata Standar Deviasi Minimum Maksimum

Pontianak 76,48 18,89 48,84 111,74

Banjarmasin 75,86 18,80 46,48 108,22

Samarinda 77,17 19,53 47,40 112,92

Balikpapan 76,81 18,68 47,60 110,98

Kota Pontianak mengalami nilai IHK terendah pada Bulan Januari 2003 dan tertinggi pada bulan Desember 2013. Kota Banjarmasin mengalami nilai IHK terendah Bulan Juni 2003 dan tertinggi Bulan Desember 2013. Kota Samarinda mengalami nilai IHK terendah Bulan Januari 2003 dan tertinggi Bulan Agustus 2013. Kota Balikpapan mengalami nilai terendah Bulan Februari 2003 dan tertinggi Bulan Agustus 2013. Penjelasan mengenai pergerakan IHK empat kota di Kalimantan dapat kita lihat pada plot time series pada Gambar 4.1.

Gambar 4.1. Plot time series data IHK empat kota di Kalimantan: (a). Pontianak (b). Banjarmasin (c). Samarinda (d). Balikpapan

Pada Gambar 4.1 menunjukkan bahwa pergerakan IHK selama tahun 2003 sampai dengan tahun 2013 mengalami peningkatan pada setiap periode. Pergerakan IHK di masing- masing kota terjadi secara beriringan dan cenderung memiliki pola yang sama, dimana terdapat kecenderungan adanya peningkatan/penurunan disuatu kota hampir pasti juga terjadi pada kota lainnya. Hal ini menunjukkan bahwa fenomena perubahan harga barang dan jasa pada empat kota IHK di Kalimantan memiliki karakateristik yang sama. Seperti halnya kebijakan kenaikan harga BBM pada bulan Oktober 2005, Juni 2008, dan Juli 2013 serta kenaikan tarif dasar listrik (TDL) bulan Juli 2010 secara serempak direspon dengan peningkatan nilai IHK oleh masing-masing wilayah. Penjelasan hubungan antar IHK kota yang satu dengan kota yang lain dapat ditunjukkan dengan scatter plot pada Gambar 4.2.

Gambar 4.2. Scatter plot antar IHK empat kota di Kalimantan: (a). Pontianak (b). Banjarmasin (c). Samarinda (d). Balikpapan

Dengan melihat hasil scatter plot data antar IHK empat kota di Kalimantan seperti pada Gambar 4.2. menimbulkan dugaan adanya kecenderungan hubungan antara IHK kota yang satu dengan kota yang lainnya. Nilai korelasi IHK antar kota dapat digunakan untuk mengetahui besar kecilnya

kecenderungan hubungan IHK antar kota. Hasil penghitungan korelasi IHK antar kota seperti terlihat pada Tabel 4.2.

Tabel 4.2. Nilai Korelasi Data IHK Empat Kota di Kalimantan

Kota Pontianak Banjarmasin Samarinda Balikpapan Pontianak p-value 1 0,997 (0,000) 0,999 (0,000) 0,999 (0,000) Banjarmasin p-value 0,997 (0,000) 1 0,998 (0,000) 0,998 (0,000) Samarinda p-value 0,999 (0,000) 0,998 (0,000) 1 0,999 (0,000) Balikpapan p-value 0,999 (0,000) 0,998 (0,000) 0,999 (0,000) 1

Pada Tabel 4.2. menunjukkan bahwa antar IHK empat kota di Kalimantan mempunyai nilai korelasi yang tinggi. Hal ini mengindikasikan bahwa terjadi keterkaitan data IHK antar kota pada orde waktu yang sama. Nilai korelasi IHK antar wilayah ini mendukung pernyataan sebelumnya yang menyatakan bahwa IHK antar lokasi yang berdekatan saling memiliki keterkaitan yang tinggi.

Salah satu faktor yang mempengaruhi perkembangan IHK adalah jumlah uang beredar (inflow dan outflow). Perkembangan inflow dapat kita lihat pada Tabel 4.3.

Tabel 4.3. Perkembangan inflow empat kota di Kalimantan Tahun 2003-2013 (milyar)

Tahun Pontianak Banjarmasin Samarinda Balikpapan

2003 2.938,20 3.862,83 3.621,92 2.174,11 2004 3.432,21 4.640,58 3.968,88 2.442,81 2005 3.866,14 5.583,12 4.381,33 2.781,59 2006 4.430,74 5.742,46 2.779,70 2.865,23 2007 1.199,91 2.475,86 1.519,69 862,01 2008 1.314,61 2.375,65 1.279,71 989,50 2009 1.306,86 2.890,07 1.381,20 743,61 2010 1.296,09 4.397,78 1.583,67 920,48 2011 2.789,34 4.999,37 2.269,61 1.669,03 2012 3.395,63 7.459,28 3.573,36 2.211,44 2013 4.033,97 8.507,30 3.682,19 3.877,90 Rata-rata 2.727,61 4.812,21 2.731,02 1.957,97

Perkembangan inflow dan outflow pada Tabel 4.3. rata-rata inflow setiap tahun sejak tahun 2003 sampai dengan tahun 2013 untuk Kota Pontianak sebesar Rp 2.727,61 milyar, Kota Banjarmasin sebesar Rp 4.812,21 milyar, Kota Samarinda sebesar Rp 2.731,02 milyar dan kota Balikpapan sebesar Rp.1.957,97 milyar. Sedangkan perkembangan outflow dapat kita lihat pada Tabel 4.4.

Tabel 4.4. Perkembangan outflow empat kota di Kalimantan Tahun 2003-2013 (milyar)

Tahun Pontianak Banjarmasin Samarinda Balikpapan

2003 2.886,62 3.114,23 4.964,30 3.078,83 2004 3.697,19 3.780,41 5.648,58 3.504,77 2005 4.318,11 4.856,07 6.244,05 3.999,90 2006 5.465,16 4.729,80 5.241,45 3.994,18 2007 2.687,08 1.808,38 3.972,50 2.918,17 2008 3.078,64 1.770,16 3.864,59 3.931,78 2009 2.882,03 1.337,06 3.539,58 3.828,57 2010 5.889,04 5.011,19 7.415,61 5.778,35 2011 5.371,90 5.136,20 7.529,04 4.673,03 2012 6.176,51 5.952,95 9.201,97 6.103,54 2013 6.015,35 6.483,43 11.114,80 6.561,94 Rata-rata 4.406,15 3.998,17 6.248,77 4.397,55

Pada Tabel 4.4. menunjukkan bahwa rata-rata outflow sejak tahun 2003 sampai dengan tahun 2013 untuk Kota Pontianak sebesar Rp 4.406,15 milyar, Kota Banjarmasin sebesar Rp 3.998,17 milyar, Kota Samarinda sebesar Rp 6.248,77 milyar dan kota Balikpapan sebesar Rp.4.397,55 milyar.

Gambar 4.3. Perkembangan inflow dan outflow empat kota di Kalimantan tahun 2003-2013 ! " # # $ ! " # # $

Plot perkembangan inflow dan outflow pada Gambar 4.3. menunjukkan bahwa pola perkembangan rata-rata inflow dan outflow empat kota di Kalimantan sejak tahun 2003 sampai dengan 2013 memiliki pola yang sama. Hal ini terjadi karena seluruh aktifitas inflow dan outflow setiap wilayah mengikuti regulasi yang telah ditentukan oleh Bank Indonesia.

Seperti terlihat pada Gambar 4.3. penurunan secara serentak di empat kota yang terjadi pada tahun 2007 dikarenakan adanya penerapan kebijakan uji coba setoran bayaran bank yang diatur dalam ketentuan sesuai dengan Surat Edaran Bank indonesia No.9/37/DPU tanggal 27 Desember 2007 perihal penyetoran dan penarikan uang rupiah oleh bank umum di Bank Indonesia. Kebijakan ini belaku secara nasional sejak Desember 2006 di seluruh wilayah Kantor Bank Indonesia, sehingga berdampak pada penurunan aliran uang kartal secara signifikan pada tahun 2007. Perubahan mekanisme penyetoran dan penarikan uang rupiah oleh bank umum di Bank Indonesia sebagaimana yang tertuang dalam Surat Edaran No.13/9/DPU pada tahun 2011 menyebabkan pergerakan inflow dan outflow semakin dinamis sejak tahun 2011.

Gambar 4.4. Perkembangan rata-rata bulanan inflow dan outflow empat kota di Kalimantan tahun 2003-2013

Perkembangan rata-rata bulanan inflow dan outflow sejak tahun 2003 sampai dengan tahun 2013 sebagaimana terlihat pada gambar 4.4. menunjukkan fenomena aktifitas inflow cukup tinggi terjadi setiap bulan Januari. Hal ini juga terjadi pada bulan Juli sampai dengan November, kemudian menurun pada bulan Desember. Sedangkan aktifitas outflow seperti pada Gambar 4.4. menunjukkan pola linier meningkat tiap bulan, aktifitas tertinggi terjadi pada bulan Desember.

% & # ' ! # ()* *" * (# + ! " # # $ % & # ' ! # ()* *" * (# + ! " # # $

Pada bulan-bulan lain aktifitas outflow juga menunjukkan aktifitas yang tinggi seperti pada bulan Agustus.