BAB 6. PEMBAHASAN
6.2 Karakteristik Demografis Subjek
Karakteristik demografis subjek pada penelitian ini relatif sama antara kelompok JKN dan non JKN. Lebih dari 50 persen subjek pada kedua kelompok berjenis kelamin perempuan, dengan rasio jenis kelamin (RJK) antara laki-laki dan perempuan adalah 0,85. Hal ini sesuai dengan data demografis dari Bappenas Indonesia tahun 2013,6 dimana perempuan sedikit mendominasi populasi usia lanjut (RJK berkisar antara 0,68-0,96 pada kelompok umur 60-75+). Hal ini juga sesuai dengan karakteristik demografis di Cina, dimana Chan dkk42 mendapatkan populasi geriatri didominasi oleh perempuan (60 %) baik di dalam komunitas atau pada ruang rawat.
Kelompok usia terbanyak pada sampel yang didapat adalah pada kelompok usia 60-69 tahun (tabel 5.1). Median usia antara kedua kelompok JKN dan non JKN
relatif sama, yaitu 68 -70 tahun dengan rentang usia 60-86 tahun. Kelompok umur yang mendominasi adalah pada kelompok usia 60-79 tahun, sebesar 92% dari sampel.
Hasil pada penelitian ini serupa dengan penelitian yang dilakukan oleh Soejono5, yang mendapatkan kelompok usia terbanyak pada populasi geriatri yang menerima P3G di ruang rawat geriatri adalah pada kelompok 60-79 tahun, mencapai kurang lebih 88%. Buurman dkk43, lewat suatu penelitian yang dilakukan terhadap 639 subjek berusia diatas 65 tahun yang menjalani perawatan di Belanda, mendapatkan rerata usia pasien 78 tahun. Perbedaan ini kemungkinan disebabkan selain dari perbedaan angka harapan hidup negara-negara Eropa dengan Asia, juga dikarenakan perbedaan kriteria usia subjek yang dikategorikan sebagai populasi geriatri (>65 tahun) sehingga lebih banyak terkumpul subjek dengan sebaran usia yang lebih lanjut. Studi yang dilakukan oleh Chan dkk42 di Cina mendapatkan rerata usia populasi geriatri yang diteliti berkisar antara 80-82 tahun. Perbedaan ini selain dikarenakan oleh kriteria usia geriatri yang digunakan berbeda (>65 tahun), juga bisa diakibatkan perbedaan lokasi pengambilan sampel, dimana Chan dkk42 mengumpulkan sampel dari komunitas dan panti jompo. Perbedaan lokasi ini menjadi penting mengingat populasi lansia yang menempati panti jompo biasanya adalah populasi dengan usia yang lebih lanjut yang memiliki tingkat kemandirian yang lebih rendah. Soejono5 dan Buurman43 mengumpulkan sampel dari ruang perawatan di rumah sakit, serupa dengan lokasi pengumpulan sampel penelitian ini.
Kedua kelompok, JKN dan non JKN, memiliki dominasi sebaran subjek dengan status gizi yang baik atau lebih. Hanya sebagian kecil pada kelompok JKN dan non JKN (15,2% dan 14%) yang memiliki gizi kurang. Hasil ini sesuai dengan studi yang dilakukan oleh Soejono5, dimana mayoritas subjek memiliki gizi yang baik dengan rerata IMT 18,24. Chan dkk42 juga memperoleh nilai rerata IMT yang dikategorikan sebagai gizi baik pada dua kelompok populasi geriatri yang diteliti, yaitu berkisar 21,9-22,5.
Data demografis lainnya pada penelitian ini adalah suku, agama dan pendidikan. Proporsi data demografis tersebut tidak berbeda diantara kedua kelompok
pada penelitian ini. Proporsi demografis ini sebanding dengan data demografis populasi usia lanjut di Indonesia terutama yang berdomisili di pulau Jawa yang didapat dari BAPPENAS 2013.6
Dari tabel 5.1 dapat dilihat sebaran karakterisitk demografis antara kelompok JKN dan non JKN relatif sama, sehingga secara demografis dapat disimpulkan kedua kelompok yang diteliti memiliki distribusi subjek yang serupa.
6.3 Karakteristik klinis
Karakteristik klinis yang diidentifikasi dalam penelitian ini adalah karakteristik medis pasien yang terkait dengan mortalitas, yaitu keluhan utama saat masuk, diagnosis, jumlah tindakan medis saat perawatan, skor APACHE dan kadar albumin serum.
Gambaran penyakit yang mendominasi pada subjek penelitian ini serupa dengan penelitian sebelumnya oleh Soejono5, yaitu pneumonia dan sindrom delirium akut. Pada penelitian ini, pneumonia dan sindrom delirium akut merupakan diagnosis pada 68% dan 37% subjek, dengan distribusi yang sedikit lebih tinggi pada kelompok JKN. Penting diperhatikan di sini bahwa pada analisis data yang hilang, menunjukkan subjek dengan diagnosis sindrom delirium akut lebih banyak dieksklusi pada kelompok non JKN dibanding JKN sehingga dapat mempengaruhi hasil sebaran diagnosis pada subjek yang diteliti ini. Soejono dkk,5 pada tahun 2007, menemukan kondisi pneumonia dan sindrom delirium akut sebanyak 42,06% dan 38,79%, sebagai dua penyakit terbanyak. Perbedaan proporsi subjek yang memiliki pneumonia dengan studi ini menunjukkan betapa pentingnya pneumonia sebagai penyakit utama yang menyebabkan pasien membutuhkan perawatan, dengan prevalensi yang makin meningkat. Pada populasi geriatri di komunitas, laporan Riskesdas tahun 201343 menunjukkan prevalensi pneumonia semakin naik seiring usia, mencapai 7,8% pada populasi usia lanjut diatas 75 tahun. Penelitian oleh Buurman dkk43 di Belanda mendapatkan pula penyakit terbanyak adalah pneumonia, menunjukkan masalah pneumonia merupakan masalah global yang terdapat pula di negara berkembang, dan bukan hanya di negara berkembang seperti Indonesia, yang oleh PBB diklasifikasikan
sebagai less developed country.2 Adanya variasi lingkungan sosial dan ekonomi dari kedua profil negara tersebut, dimana pneumonia tetap menjadi penyebab utama perawatan pasien geriatri semakin menekankan peran penting faktor host dalam patogenesis terjadinya suatu penyakit. Pada geriatri terjadi perubahan-perubahan fisiologis pada seperti imunosenescence dan homeostenosis yang membuatnya rentan terkena infeksi.5 Ciri khas geriatri ini membuatnya rentan mengalami penurunan fungsi selama perawatan dan mempengaruhi morbiditaas dan mortalitas selama perawatan.45
Dari tabel 5.2 dapat dilihat beberapa geriatric giants yang teridentifikasi saat subjek masuk perawatan. Geriatric giants yang terbanyak ditemukan adalah imobilisasi, sindrom delirium akut dan instabilitas dengan riwayat jatuh, dengan proporsi yang relatif sama pada era non JKN dan JKN. Imobilisasi ditemukan pada 54% dan 49,6% subjek pada era non JKN dan JKN. Temuan ini serupa dengan yang studi oleh Burmann43, dimana imobilisasi merupakan geriatric giants yang terbanyak ditemukan, sebesar 58,5%. Hal ini dapat dimengerti karena geriatric giants sendiri merupakan morbiditas yang timbul terkait proses penuaan, sehingga tidak berbeda walaupun berada di lingkungan yang berbeda.
Kesetaraan beratnya penyakit saat masuk perawatan antara kedua kelompok pembiayaan ini ditentukan dengan membandingkan skor APACHE II. APACHE II merupakan sistem klasifikasi beratnya penyakit, awalnya banyak digunakan di setting perawatan intensif, namun seiring perkembangan waktu, penerapannya mulai diperluas. Sistem skoring APACHE pertama kali dikembangkan oleh Knaus et al di tahun 1981. Dalam perkembangannya, APACHE dikembangkan menjadi APACHE II dan APACHE III, namun skor APACHE II merupakan skoring yang paling sering digunakan. Skor APACHE II dinilai cukup akurat dalam menilai beratnya penyakit dan resiko kematian, terdiri dari komorbiditas, kondisi hemodinamik dan beberapa parameter laboratorium.
Skor APACHE II pada penelitian ini tidak menunjukkan perbedaan antara kedua kelompok, dengan median pada era JKN adalah 12 dan pada era non JKN 13,
dengan nilai minimum dan maximum yang sama pada kedua kelompok. Nilai ini lebih tinggi dari nilai yang diperoleh Soejono5, yaitu 8,25. Perbedaan dari skor APACHE II sangat mungkin terkait lebih tingginya prevalensi pneumonia yang ditemukan pada penelitian ini, mengingat beberapa parameter klinis dan laboratorium di dalam skor APACHE II sangat terkait dengan ada tidaknya infeksi.
6.4 Mortalitas dan Analisis kesintasan
Salah satu parameter klinis keberhasilan suatu layanan kesehatan di rumah sakit adalah rendahnya angka mortalitas atau tingginya kesintasan pasien, selain rendahnya lama rawat, bertambahnya kualitas hidup, rendahnya angka rehospitalisasi dan status fungsional. Pada penelitian ini tidak terdapat perbedaan yang bermakna antara angka kematian saat perawatan ( 31,2% vs 28%, p = 0,602) dan kesintasan 30 hari ( 66,4%
vs 65,2 %, p = 0.086) pada kelompok JKN dan non JKN. Penelitian sebelumnya oleh Soejono5 dilakukan terhadap pasien yang dirawat di ruang rawat geriatri pada tahun 2007, menunjukkan angka kesintasan pasien yang menerima P3G sebesar 80,4% atau angka mortalitas sebesar 19,6%. Perbedaan angka mortalitas penelitian ini dengan penelitian Soejono5 dapat disebabkan oleh dua hal. Yang pertama, subjek pada penelitian ini memiliki derajat keparahan penyakit yang lebih tinggi dibandingkan penelitian sebelumnya oleh Soejono5. Rerata skor APACHE pada penelitian ini lebih tinggi bila dibandingkan pada penelitian Soejono5, yang menandakan lebih beratnya beban penyakit yang diderita dan lebih buruknya prediktor mortalitas. Jumlah subjek yang dirawat dengan masalah utama pneumonia juga lebih banyak ditemukan pada studi ini (68%) dengan kurang lebih 14% subjek pada kedua kelompok memiliki gizi buruk. Karakteristik ini menunjukkan lebih beratnya kondisi penyakit subjek pada penelitian ini dengan faktor resiko mortalitas yang lebih tinggi. Penelitian oleh Calle dkk46 pada pasien geriatri dengan pneumonia komunitas mendapatkan angka mortalitas sebesar 24,2%, suatu nilai yang tidak terlalu berbeda dengan angka mortalitas pada penelitian ini. Hal ini menunjukkan besarnya peran pneumonia sebagai prediktor mortalitas pasien geriatri yang dirawat inap.
Alasan kedua adalah adanya kemungkinan terdapat perubahan kualitas pelaksanaan P3G. Angka mortalitas era non JKN pada penelitian ini adalah 28%, sedangkan pada penelitian Seojono5 adalah 19,6%. Kedua angka tersebut diperoleh dari populasi geriatri yang sama-sama berada pada era non JKN, meskipun terdapat perbedaan waktu penelitian dan karakteristik klinis penyakit. Namun bila P3G dilaksanakan dengan prosedur dan pengendalian yang semestinya dan tidak mengalami perubahan kualitas seiring berjalannya waktu, angka mortalitas antara dua masa ini seharusnya tidak akan berbeda jauh. Nyatanya terdapat perbedaan angka mortalitas 8,4%. Hal ini menunjukkan ada kemungkinan pelaksanaan P3G pada saat penelitian ini dilaksanakan telah mengalami perubahan dibandingkan saat pertama kali diimplementasikan di RSCM pada tahun 2008. Pelaksanaan P3G di ruang rawat akut geriatri memerlukan evaluasi lebih lanjut untuk melihat apakah telah sesuai dengan yang diharapkan. Misalnya, apakah benar-benar sudah memenuhi syarat-syarat seperti koordinasi interdisiplin, identifikasi dan inventarisasi menyeluruh masalah medis, fisik, sosial, psikologi, pengambilan keputusan klinis termasuk rehabilitasi, dan implementasi tatalaksana yang direkomendasikan, termasuk evaluasinya.50
Pada analisis menggunakan metode Kaplan Meier untuk melihat hubungan kesintasan dengan waktu, didapatkan tidak adanya perbedaan antara kurva kesintasan kelompok JKN dan non JKN. (p = 0.831). Ini dapat dijelaskan karena terdapatnya kesetaraaan relatif antara karakteristik demografis dan karakteristik klinis antara kedua kelompok (Tabel 5.1 dan 5.2) termasuk beberapa karakteristik prognostik untuk mortalitas. Studi oleh Zekry dkk47 dan Dias48 menunjukkan keterkaitan erat antara mortalitas pasien geriatri yang dirawat dengan banyaknya komorbiditas yang dimiliki. Lebih dari setengah subjek pada kedua kelompok yang diteliti memiliki jumlah diagnosis saat masuk pada kelompok 5-10 buah (non JKN vs JKN = 69,7% vs 75,7%). Studi oleh Burrmann dkk43 mendapatkan bahwa jenis kelamin laki2, besarnya umur, ada tidaknya komorbid seperti malnutrisi, riwayat jatuh, ulkus dekubitus, terpasangnya kateter urine, sindrom delirium akut, rendahnya tingkat kemandirian pasien geriatri (yang diukur dengan instrumen ADL dan IADL)
berhubungan dengan tingginya angka mortalitas saat perawatan. Karakteristik tersebut setara antara kelompok JKN dan non JKN. Chan49 mendapatkan bahwa IMT yang baik (antara 24-28) merupakan faktor yang protektif terhadap mortalitas yang disebabkan oleh infeksi, kardiovaskular dan rehospitalisasi. Pada studi ini didapatkan nilai IMT dan kadar albumin tidak berbeda antara kelompok JKN dan non JKN.
Bila dibandingkan angka mortalitas dan kesintasan antara kelompok JKN dan non JKN pada saat perawatan, angka mortalitas kelompok JKN (31,2%) sedikit lebih tinggi dibandingkan non JKN (28%), sedangkan kesintasan 30 hari kelompok JKN lebih rendah 1,2% dibanding kelompok non JKN, meskipun secara statistik tidak bermakna. Perbedaan tersebut relatif kecil dan menurut peneliti tidaklah bermakna secara klinis. Namun, perbedaan angka mortalitas dan kesintasan antara kedua kelompok pada penelitian ini dapat dijelaskan sebagai berikut.
Pertama, terdapat perbedaan pada beberapa karakteristik klinis kedua kelompok yang merupakan faktor prognostik mortalitas. Karakteristik klinis tersebut diantaranya 43,47,48 seperti status gizi, albumin, ada tidaknya pneumonia, sindrom delirium akut dan sepsis. Faktor-faktor prognostik mortalitas tersebut ditemukan dengan proporsi yang lebih besar pada kelompok JKN, meskipun tidak bermakna secara statistik. Analisis menggunakan chi square pada beberapa karakteristik klinis dan demografis dengan mortalitas menunjukkan pneumonia, sepsis, malignansi, penyakit koroner dan sindrom delirium akut terkait dengan angka mortalitas yang lebih tinggi pada kedua kelompok.
Analisis dengan Cox Regression menunjukkan hazard kematian yang tidak bermakna pada penerapan JKN (hazard ratio[HR] 1,05; IK 95%, 0,65 sampai 1,7).
Dengan mempertimbangkan beberapa faktor prognostik mortalitas yang tidak seluruhnya setara pada kedua kelompok, maka dilakukan analisis multivariat dengan mengikutsertakan variabel diagnosis penyakit koroner, pneumonia, sindrom delirium akut, sepsis dan keganasan. Analisis ini menunjukkan bahwa walaupun terdapat kecenderungan peningkatan hazard kematian pada kelompok JKN, tetap tidak menunjukkan kemaknaan secara statistik. (HR 1,08; IK 95%, 0,66 sampai 1,79).
Kedua, implementasi JKN masih dalam tahap awal dan sampai penelitian ini selesai dilaksanakan, belum mencapai 1 tahun pelaksanaan. JKN baru mulai diimplementasikan pada 1 Januari 2014 dengan tujuan tercapainya program yang diharapkan pada tahun 2019. Saat awal diimplementasikan terdapat banyak perubahan yang terjadi pada layanan kesehatan di Indonesia pada umumnya, yang secara khusus dibahas saat ini adalah perubahan pada RSCM. Perubahan-perubahan akibat JKN tersebut terutama dirasakan dari segi non medis, bukan pada segi medis.
Hal ini karena tidak ada perubahan pada standar operasional (Standard of Procedure) berbagai tindakan medis, clinical pathway yang digunakan serta assesment medis yang dilakukan antara era JKN dan pra JKN.
Beberapa perubahan yang terjadi pada era JKN tidak bisa dielaborasi seluruhnya pada tulisan ini, namun akan dipaparkan perubahan-perubahan yang dinilai penting dan mempengaruhi kesintasan. Identifikasi perubahan-perubahan ini didapat dari data kualitatif di lapangan. Belum ada penelitian kuantitatif mengenai hal ini, karena penelitian ini adalah penelitian pertama yang secara kuantitatif melihat efek dari penerapan JKN. Perubahan yang nyata terlihat adalah mengenai ketersediaan obat, alat atau bahan medis. Tidak tersedianya obat dan peralatan medis dapat mengakibatkan keterlambatan diagnostik dan tatalaksana , yang pada akhirnya bisa mempengaruhi mortalitas. Ketidaktersediaan obat, alat dan bahan medis ini terkait dengan dikeluarkannya formularium nasional. Penyedia obat dan alat medis yang terdaftar di dalam formularium nasional diharuskan untuk memasok seluruh rumah sakit di Indonesia yang terdaftar dalam program JKN. Perubahan supply dan demand ini dapat menjadi penyebab sering tidak tersedianya persediaan obat dari pemasok.
Pada analisis sensitifitas, dilakukan analisis sub grup setelah subjek-subjek yang menjadi outlier (biaya rawat dan lama rawat) dieksklusi. Lima sampel dari masing-masing kelompok dieksklusi dan dilakukan analisis mortalitas. Didapatkan hasil yang tidak berbeda, dengan mortalitas saat perawatan dan kesintasan 30 hari antara kelompok JKN dan non JKN adalah 30,8% vs 28,4%(p = 0,701) dan 63,5% vs
65,8% (p=0,769). Kelompok JKN tetap memiliki angka mortalitas absolut yang lebih besar dibanding non JKN sebesar 2,4% dan kesintasan lebih rendah 2,3% namun tidak bermakna secara statistik.
6.5 Biaya rawat
Biaya total perawatan antara kelompok JKN dan non JKN tidak berbeda bermakna, dengan kelompok JKN memiliki rerata yang sedikit lebih besar dibanding non JKN.(2,43 juta vs 2,23 juta). Biaya material yaitu obat dan alat medis menyumbang biaya rawat terbesar. Hal ini serupa dengan penelitian analisis efektivitas biaya oleh Soejono5yang mendapatkan biaya rawat terbesar diperoleh dari biaya material.
Selain biaya material, komponen biaya yang juga perlu untuk diperhatikan adalah biaya sarana. Contoh biaya sarana yang dimaksud adalah tindakan bedah, intervensi non bedah, hemodialisis, dan transfusi. Dari biaya total perawatan terdapat tiga pasien yang masuk dalam outliers, karena memiliki biaya total rawat >100 juta.
Pada pengamatan lebih lanjut untuk menelaah penyebabnya, subjek dengan biaya tertinggi (mencapai 140 juta) merupakan subjek dengan lama rawat terlama dan selama perawatan menjalani dua kali tindakan bedah. Subjek kedua merupakan pasien yang menjalani hemodialisa dan transfusi produk darah berulang, yang menjelaskan biaya rawat yang besar. Subjek yang ketiga merupakan pasien dengan comorbiditas yang banyak, yang selama perawatan menjalani prosedur non bedah berulang dengan antibiotik jangka panjang. Prosedur atau tindakan medis, baik bedah maupun non bedah merupakan salah satu faktor penting yang menentukan besarnya biaya rawat. Sebagian besar pasien tidak menjalani tindakan selama perawatan (56%
pada non JKN dan 60% pada JKN).
Pada kelompok non JKN terdapat 8 persen subjek yang dirawat tanpa menggunakan jaminan kesehatan (biaya umum). Ini merupakan salah satu alasan utama diterapkannya JKN, untuk mencapai universal coverage yaitu tiap penduduk tanpa terkecuali memiliki jaminan kesehatan. Pada penelitian ini, dapat dilihat 100 persen subjek pada era JKN yang menjalani perawatan menggunakan JKN, tidak ada
yang menggunakan biaya sendiri. Meskipun penerapan JKN belum lama terlaksana, namun sudah terlihat keberhasilan dari segi tujuan universal coverage tersebut.
Perlu diingat bahwa biaya perawatan antara kedua kelompok tersebut dipengaruhi oleh tingkat inflasi dan situasi perekonomian di Indonesia. Indeks Harga Konsumen (IHK) merupakan salah satu indikator ekonomi yang sering digunakan untuk mengukur tingkat perubahan harga (inflasi/deflasi) di tingkat konsumen, khususnya di daerah perkotaan. Di Indonesia, tingkat inflasi diukur dari persentase perubahan IHK dan diumumkan ke publik setiap awal bulan (hari kerja pertama) oleh Badan Pusat Statistik (BPS).51Pada Januari 2014 terjadi inflasi sebesar 1,07 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 110,99. Inflasi terjadi karena adanya kenaikan harga yang ditunjukkan oleh kenaikan indeks beberapa kelompok pengeluaran, yaitu: kelompok bahan makanan 2,77 persen; kelompok makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau 0,72 persen; kelompok perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar 1,01 persen; kelompok sandang 0,55 persen; kelompok kesehatan 0,72 persen; kelompok pendidikan, rekreasi, dan olahraga 0,28 persen; dan kelompok transpor, komunikasi, dan jasa keuangan 0,20 persen. Pada kelompok kesehatan hanya terjadi peningkatan harga sebesar 0,72 persen dan hanya memberikan andil sebesar 0,03% dari inflasi nasional bulan Januari 2014 (1,07 %). Sampai dengan bulan Juni 2014 tingkat inflasi yang terjadi sebesar 1,98%, angka yang tergolong inflasi ringan (<10%) dengan nilai IHK 112,01.
Untuk membandingkan tingkat inflasi antar kedua kelompok menjadi sulit karena perhitungan IHK pada tahun 2014 menggunakan metode baru, dan bukan merupakan kelanjutan tahun 2013. IHK 2013 menggunakan titik acuan 100 pada tahun 2007, sedangkan IHK 2014 menggunakan titik acuan yang baru yaitu pada tahun 2012. Namun bila kita melihat tingkat inflasi yang ringan pada periode tersebut, dengan peran kelompok kesehatan yang kecil pada inflasi tersebut, nilai inflasi dapat diabaiakan pada perhitungan biaya.
Terdapat perbedaan biaya rawat antara kedua kelompok, dengan kelompok JKN menunjukkan biaya rawat yang lebih besar dibanding kelompok non JKN. Hal ini dapat diakibatkan karena terdapat perbedaan tarif obat-obatan dan peralatan medis pada kedua era. Tarif beberapa obat, alat dan bahan medis habis pakai pada era JKN berbeda dengan era pra JKN, beberapa mengalami peningkatan dan ada pula yang mengalami penurunan. Ketika dibandingkan beberapa tarif obat, alat dan prosedur medis yang umum penggunaannya diantara kedua era, ditemukan tarif pada era JKN relatif lebih mahal dibanding era pra JKN. Peningkatan tarif tersebut bervariasi dari hanya 6% sampai mencapai 200%.
Seperti yang telah disebutkan pada subbab sebelumnya, salah satu dampak penerapan JKN adalah penyedia obat dan alat medis yang terdaftar dalam formularium nasional diberi kepercayaan memasok obat dan alat medis ke seluruh rumah sakit di Indonesia yang tergabung dalam program JKN. Hal ini dapat menyebabkan beberapa perubahan dalam perusahaan-perusahaan terkait, dan salah satu perubahan yang terjadi adalah penyesuaian harga obat. Namun mengingat era JKN terletak di masa yang berbeda dengan era non JKN, perubahan tarif ini juga dapat disebabkan akibat perubahan pada situasi perekonomian Indonesia, dan bukan akibat penerapan JKN itu sendiri. Sulit untuk mengidentifikasi faktor mana yang menyebabkan peningkatan tarif ini, karena penentuan tarif ditentukan dari berbagai macam faktor yang berada di luar cakupan penelitian ini. Hal ini perlu dipertimbangkan dalam menginterpretasi hasil penelitian ini yang menunjukkan biaya rawat pada era JKN lebih besar dibanding pada era pra JKN.
Infeksi dan pneumonia pada geriatri merupakan penyebab utama perawatan di berbagai negara di Asia5,42,49 dan Eropa43, dan dapat menyebabkan peningkatan biaya akibat tatalaksananya. Tatalaksana pneumonia dan sepsis biasanya meliputi pemberian antibiotika empirik broad spectrum, pemasangan central venous catheter untuk pemantauan cairan, transfusi darah untuk mencukupi oksigenasi perifer dan panel-panel laboratorium dan mikrobiologi yang ketat; kesemuanya menghabiskan biaya yang tidak sedikit. Lama rawat yang panjang akan menyebabkan peningkatan
biaya perawatan secara langsung lewat peningkatan biaya ruangan, biaya material dan sarana.
Pada studi ini, terdapat 10 subjek yang memiliki biaya rawat besar, yang menjadikan mereka outlier dalam variabel biaya. Dari 10 subjek tersebut, yang memiliki biaya terbesar adalah subjek pada kelompok JKN, yaitu sebesar 140 juta.
Rentang biaya pada 10 subjek tersebut berkisar dari 70 juta-140 juta, sedangkan subjek lainnya biaya perawatannya seluruhnya dibawah 65 juta. Saat dilakukan sub group analysis pada ke 10 subjek tersebut, didapatkan bahwa semuanya memiliki diagnosis sepsis atau pneumonia, dengan lama rawat >30 hari. Hal ini menunjukkan adanya pengaruh yang nyata dari infeksi dan lama rawat terhadap biaya perawatan.
Dari 10 subjek tersebut, hanya ada satu subjek dengan karakteristik yang berbeda dengan lainnya. Subjek tersebut menjalani perawatan <30 hari dan tidak mengalami infeksi. Namun subjek tersebut dirawat dengan penyakit dasar pansitopeni, yang menyebabkan selama perawatan dilakukan transfusi produk darah
Dari 10 subjek tersebut, hanya ada satu subjek dengan karakteristik yang berbeda dengan lainnya. Subjek tersebut menjalani perawatan <30 hari dan tidak mengalami infeksi. Namun subjek tersebut dirawat dengan penyakit dasar pansitopeni, yang menyebabkan selama perawatan dilakukan transfusi produk darah