• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.2 Karakteristik Informan

Informan dalam penelitian ini adalah kepala perpustakaan dan pegawai Perpustakaan PPKS yang bertugas mengelola Perpustakaan PPKS yang ada di lingkungan PPKS beralamatkan di Jalan Brigjen Katamso No. 51, Kp. Baru.

Medan Maimun, Kota Medan, Sumatera Utara. Berikut adalah daftar karakteristik informan :

Tabel 4.1 Karakteristik Informan

No Kode Informan Informan Lokasi wawancara

1 M. Harfano Arrasyid. S.Sos

Ruang Kepala

Perpustakaan PPKS Lantai 2

2 Endra Lesmana

Perpustakaan PPKS Lantai 1

3 Friyandi Putra

Perpustakaan PPKS Lantai 1

4 Saut P. Sibagariang

Perpustakaan PPKS Lantai 1

Informan pertama ( ) adalah informan yang berhasil di wawancarai dengan pendekatan terlebih dahulu, begitu juga dengan , , , kemudian diminta waktunya untuk bersedia di wawancarai, dengan menjelaskan terlebih dahulu maksud dan tujuan daripada penelitian ini yang dalam pengumpulan datanya dilakukan dengan menggunakan metode wawancara ( ) di wawancarai bertempat di ruang Perpustakaan PPKS tepatnya di Lantai 2 Ruang Kepala Perpustakaan. Proses bertemunya penulis dengan ( ) adalah di mulai pada tahap penulis datang ke Perpustakaan PPKS untuk meminta izin penelitian dan menyerahkan surat penelitian, lalu diarahkan ke Bagian Tata Usaha PPKS untuk

mendapatkan surat balasan izin penelitian. Selanjutnya penulis menemui informan satu per satu untuk melakukan wawancara. Proses menemui informan dimulai dengan perkenalan dan menerangkan maksud dari penelitian dan dengan metode apa yang digunakan untuk pengumpulan datanya. Setelah proses perkenalan tersebut penulis menanyakan waktu untuk melakukan proses wawancara, apakah informan dapat melakukan wawancara pada saat itu juga. Pada hari itu penulis berhasil melakukan wawancara dengan dan selaku pegawai Perpustakaan PPKS. wawancara berlangsung secara informal, wawancara dilakukan dengan menggunakan pedoman wawancara dan dengan wawancara mendalam (depth interview). Pelaksanaan wawancara dilakukan secara substantif, artinya tidak diharuskan pada suatu tempat. Pelaksanaan wawancara dilakukan pada pagi hari tepatnya berada di ruang baca Perpustakaan PPKS yang berada di Lantai 1 dan di Ruang Alih Media Koleksi Tua yang berada di Lantai 2. Selanjutnya wawancara dilanjutkan minggu depannya dikarenakan informan yang tidak berada di tempat karena sedang cuti. Pelaksanaan wawancara dilakukan pada siang hari di ruang baca Perpustakaan PPKS yang berada di Lantai 1 dan pelaksanaan wawancara dilaksanakan pada pagi hari di Ruang Kepala Perpustakaan tepatnya berada di Lantai 2. Suasana dan kondisi wawancara bersifat apa adanya, yang tidak diatur sedemikian rupa untuk tujuan tertentu.

Begitu juga dengan bahasa yang digunakan. Bahasa yang digunakan selama percakapan adalah bahasa informal, meskipun terkadang penulis menggunakan istilah bidang Ilmu Perpustakaan. Bahasa informal juga memancing percakapan awal kepada informan, kemudian menggunakan pedoman wawancara

yang sudah disiapkan. Percakapan berkembang sesuai dengan jawaban yang diberikan informan. Wawancara dilakukan berulang jika penulis merasa ada yang perlu ditambahi atau kurang jelas dari wawancara sebelumnya.

4.3 Kategori

Berdasarkan hasil wawancara dan pedoman wawancara, penulis menyusun sebuah kerangka awal analisis sebagai acuan dan pedoman dalam melakukan koding. Dengan pedoman ini, penulis kemudian kembali membaca transkrip wawancara dan melakukan koding, melakukan pemilihan data yang relevan dengan pokok pembicaraan dan menunjukan hubungan antara bagian-bagian yang diteliti sehingga menghasilkan beberapa kategori. Penulis menurunkan tiga kategori yang berkaitan. Adapun ketiga kategori itu adalah, sebagai berikut:

1. Peran Perpustakaan dalam mengelola hak cipta 3. Pembatasan hak cipta

2. Pelanggaran hak cipta

4.3.1 Peran Perpustakaan Dalam Mengelola Hak Cipta

Kategori pertama yang diperoleh dari hasil transkip wawancara adalah peran perpustakaan dalam mengelola hak cipta. Peran perpustakaan dalam mengelola hak cipta adalah sebagai sumber informasi dan penyebaran informasi bagi pengguna, tanpa melanggar hak cipta dari pemegang hak. Untuk mengetahui pembatasan hak cipta yang dilakukan oleh pihak perpustakaan, maka peneliti mewawancarai informan. Berikut padalah petikan hasil wawancara mengenai peran perpustakaan dalam hak cipta:

Pertanyaan : Apakah perpustakaan memiliki pedoman khusus yang digunakan sebagai acuan pengelolaan hak cipta?

Jawaban dari Informan:

Pedoman yang digunakan berupa kebijakan yang tertuang dalam aturan dan tata tertib Perpustakaan Khusus PPKS, dengan memperhatikan UU No. 28 Tahun 2014 dan UU No. 43 Tahun 2007”.

Dari petikan hasil wawancara dengan dapat disimpulkan bahwa Perpustakaan PPKS memiliki aturan dan tata tertib Perpustakaan Khusus PPKS dengan memperhatikan UU No. 28 Tahun 2014 dan UU No. 43 Tahun 2007

Pertanyaan: Adakah kebijakan Perpustakaan PPKS dalam melindungi hak cipta?

Jawaban dari Informan:

: “Ada, kebijakan khusus untuk koleksi terbitan sendiri dan koleksi terbitan luar untuk penggandaan bagi pengguna maksimal 10 halaman. Koleksi terbitan sendiri sebenarnya sudah full open access bisa dilihat di website kami di jurnalkelapasawit.iopri.org tetapi jika ada yang ingin melakukan fotokopi lebih dari 10 halaman untuk koleksi terbitan sendiri kami langsung mengarahkan ke Bagian Publikasi untuk melakukan pembelian. Untuk koleksi berbentuk online kami mengadopsi cc atau creative common by SA”

Dari petikan hasil wawancara di atas mengatakan bahwa Perpustakaan PPKS memiliki kebijakan dalam melindungi hak cipta, yaitu pengguna dapat melakukan fotokopi koleksi bahan pustaka sebanyak 10 halaman saja. Untuk koleksi terbitan dari Pusat Penelitian Kelapa Sawit sendiri, dapat digunakan secara full access yang dapat dilihat di website resmi mereka, yaitu jurnalkelapasawit.iopri.org . dan pengguna juga dapat melakukan pembelian di bagian publikasi.

Pertanyaan : Bagaimana cara pihak Perpustakaan PPKS dalam memonitoring penggandaan koleksi di perpustakaan?

Jawaban dari Informan:

“Sebenarnya untuk kegiatan fotokopi seharusnya petugas perpustakaan yang bekerja di lantai 1 yang melakukannya. Tetapi, tidak semua petugas perpustakaan melakukannya. Mereka membebaskan pemustaka untuk fotokopi sendiri ke koperasi”.

Dari petikan hasil wawancara di atas dikatakan bahwa kurangnya monitoring penggandaan koleksi di perpustakaan. Seharusnya petugas perpustakaan yang melakukan kegiatan fotokopi untuk memperhatikan pembatasan hak cipta agar tidak terjadi sebuah pelanggaran, akan tetapi faktanya petugas perpustakaan membebaskan pemustaka dalam melakukan penggandaan koleksi diluar ruangan perpustakaan yaitu di koperasi. Hal ini dapat menimbulkan pelanggaran hak cipta baik disengaja ataupun tidak disengaja yang dilakukan oleh pemustaka.

Pertanyaan : kebijakan apa yang diambil perpustakaan jika mengetahui bilamana adanya pelanggaran hak cipta yang dilakukan oleh pegawai perpustakaan?

Jawaban dari Informan:

: “Untuk saat ini tidak ada dan jangan sampai ada. Jika ada, kami akan menegur dengan keras. Dan dia harus mengembalikan salinan tersebut juga mengembalikan uang yang dia dapatkan dari menggandakan koleksi tersebut”.

Dari petikan hasil wawancara di atas dikatakan bahwa apabila ditemukan pelanggaran hak cipta yang dilakukan oleh pegawai perpustakaan, maka pihak perpustakaan akan mengambil tindakan yaitu menegur dengan keras pegawai pelaku pelanggaran dan meminta untuk mengembalikan salinan juga mengembalikan uang yang dia dapat dari menggandakan koleksi bahan pustaka tersebut.

4.3.2 Pembatasan Hak Cipta

Pembatasan hak cipta dilakukan guna memberikan kesempatan kepada pengguna agar dapat menggunakan ciptaan tersebut tanpa melanggar hak cipta dari si pencipta. Hal ini dilakukan sesuai Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang Hak Cipta pembatasan hak cipta di perpustakaan yang diatur dalam pasaal 47 bahwa setiap perpustakaan dapat membuat satu salinan ciptaan tanpa seizin pencipta. Pembatasan lainnya adalah untuk keperluan pendidikan, penelitian dan hal-hal yang tidak merugikan baik secara moril maupun ekonomis si pencipta. Untuk mengetahui pembatasan hak cipta yang dilakukan oleh pihak perpustakaan, maka peneliti mewawancarai informan. Berikut adalah petikan hasil wawancara mengenai pembatasan hak cipta:

Pertanyaan : Adakah peraturan yang mengatur tentang fotokopi koleksi di Perpustakaan PPKS?

Jawaban dari Informan:

: “Peraturannya paling pengguna boleh memfotokopi 1 buku maksimal 10 lembar, itu berlaku untuk semua anggota”.

: “ada, dari segi fotokopi, tidak semua buku paling tidak beberapa lembar saja. Paling tidak 1 artikel dari buku tersebut.”

: “kalau fotokopi ke koperasi, tidak di perpustakaan. Pengguna bebas mau fotokopi berapa banyak.”

Dari petikan wawancara di atas dapat dinyatakan bahwa tidak semua pegawai perpustakaan mengetahui adanya batasan dalam melakukan penggandaan hak cipta. Hal ini merugikan bagi perpustakaan, karena perpustakaan dapat melakukan dengan tidak sengaja melakukan pelanggaran hak cipta, dan dapat terkena sangsi pidana sesuai peraturan Undang - Undang yang berlaku.

Pertanyaan : Bagaimana alur yang diperbolehkan bagi pengguna untuk Memfotokopi koleksi di Perpustakaan PPKS?

Jawaban dari Informan:

: “ya, meninggalkan kartu member, izin terlebih dahulu kepada petugas yang ada, fotokopi maksimal 10 lembar, pemustaka dapat memfotokopi koleksi di koperasi. Kalau pemustaka ingin fotokopi diluar lingkungan PPKS harus meninggalkan KTP/member kalau mesin fotokopi di koperasi rusak”.

: “pertama, user mencari literatur. Lalu jelas dong user melakukan kontak atau komunikasi ke petugas, meminta izin terlebih dahulu.

Lalu user diarahkan oleh petugas untuk memfotokopi koleksi di bagian koperasi.”

: “Langsung saja pengguna ke koperasi, sebelumnya ya minta izin terlebih dahulu yang mana yang mau di fotokopi”.

Dari hasil petikan wawancara di atas dapat disimpulakan pengguna dapat melakukan penggandaan koleksi secara bebas diluar ruang perpustakaan. Hal ini mengakibatkan kurangnya pengawasan terhadap jumlah halaman yang digandakan oleh pengguna.

Pertanyaan : Bagi pemustaka yang ingin menggandakan koleksi,

apakah ditanyakan terlebih dahulu tujuan penggandaannya?

Jawaban dari Informan:

: “ya pasti ditanyakan terlebih dahulu lah, tapi selama ini untuk

penelitian, biasanya pemustaka kebanyakan dari golongan mahasiswa, jadi udah tau kegunaannya untuk apa”.

: “pasti ditanya. Apalagi kalau sampai puluhan atau sampai 1 buku.

Pasti ditanya”

: “Biasanya pemustaka disini kebanyakan mahasiswa. Biasanya

mahasiswa untuk penelitian, pengetahuan dan pendidikan. Untuk orang luar tidak bisa sembarangan dan ditanyakan”.

Dari hasil petikan wawancara di atas dapat disimpulkan bahwa pegawai perpustakaan melakukan pengawasan tujuan penggunaan dari penggandaan koleksi yang dilakukan oleh pemustaka. Biasanya, pemustaka yang melakukan penggandaan koleksi bertujuan sebagai bahan penelitian dan pendidikan.

Pertanyaan: Apakah Perpustakaan PPKS meminta izin terlebih dahulu kepada pencipta jika melakukan penggandaan?

Jawaban dari informan 1:

: “kami hanya membuat satu salinan saja. Kalau pemustaka yang ingin memiliki atau menggandakan satu buku itu diluar tanggung jawab kami”.

Petikan wawancara di atas dapat menyimpulkan bahwa Perpustakaan PPKS hanya melakukan penyalinan ciptaan atau koleksi sebanyak satu salinan saja. Jadi, dapat disimpulakan bahwa Perpustakaan PPKS telah mengikuti pembatasan hak cipta yang diatur oleh Undang-Undang. Hal ini diperkuat oleh keterangan yang diberikan oleh , , dan , yaitu sebagai berikut :

Pertanyaan: Bagaimanakah pengelolaan hak cipta di Perpustakaan PPKS?

Jawaban dari informan 2, 3 dan 4:

: ” Untuk pengadaan koleksi, penggandaannya paling banyak satu ataupun dua eksemplar saja. Untuk di cabang medan satu dan di Siantar satu”

: “Paling kita hanya melakukan pembatasan kepada pemustaka yang Ingin memfotokopi koleksi saja.”

: “nah, kalau itu saya kurang tahu, tanyakan kembali kepada Pak Harfano ya.”

Dari pernyataan di atas menunjukan bahwa pembatasan hak cipta tentang salinan yang diperbolehkan untuk pengadaan koleksi yang ada di Perpustakaan PPKS sudah mengikuti peraturan yang berlaku agar tidak dianggap sebagai pelanggaran hak cipta. Tetapi, peraturan tentang pembatasan hak cipta belum dilaksanakan dengan tegas karena belum ada kebijakan yang pasti tentang pengelolaan hak cipta di Perpustakaan PPKS.

4.3.3 Pelanggaran Hak Cipta

Pelanggaran hak cipta merupakah suatu kegiatan yang merugikan pencipta baik dari segi moral maupun ekonomis. Pada umumnya pelanggaran hak cipta terjadi jika materi hak cipta tersebut digunakan tanpa seizin dari pencipta atau pemegang hak cipta. untuk mengetahui apakah pernah terjadi atau tidak pelanggaran hak cipta di Perpustakaan PPKS dan apa yang akan dilakukan jika terjadi pelanggaran hak cipta maka peneliti mewawancarai informan mengenai pelanggaran hak cipta, yaitu sebagai berikut:

Pertanyaan: Bisakah pemustaka melakukan fotokopi koleksi dari keseluruhan isi koleksi?

Jawaban:

: “Tidak bisa, maksimal 10 lembar, kalau memang perlu 1 buku harus izin terlebih dahulu ke kepala perpustakaan”.

: “Tergantung kebutuhan. Jika perlu ya diizinkan”.

: “Kalau fotokopi 1 buku di kantor tidak bisa, satu buku ada yang 250 halaman, tidak mungkin semuanya di fotokopi. Biasanya pengguna cuma memfotokopi yang mereka perlukan saja ke koperasi”.

Dari petikan hasil wawancara oleh , dan dapat disimpulkan bahwa masih belum ada kejelasan tentang berapa jumlah halaman yang dapat di fotokopi oleh pemustaka. Hal ini diduga dapat memicu terjadinya pelanggaran hak cipta baik disengaja ataupun tidak disengaja karena kurangnya perhatian pihak perpustakaan dalam melindungi hak cipta dari setiap koleksinya.

Pencipta memiliki hak ekslusif yang melekat langsung kepada hasil ciptaanya yang harus dilindungi agar pencipta merasa dihormati dan tidak dirugikan baik secara moral maupun ekonomis. Untuk itu, bagi seseorang yang terbukti melakukan pelanggaran hak cipta, makanya akan diberikan hukuman pidana yang sudah diatur dalam Undang-Undang No 28 Tahun 2014 Tentang Hak Cipta. Hal ini disesuaikan dengan informasi yang diberikan oleh , dan

Pertanyaan: Apa yang dilakukan perpustakaan jika ada pegawai maupun pemustaka yang ketahuan melakukan pelanggaran hak cipta dari koleksi Perpustakaan PPKS?

Jawaban dari informan:

: “kurang tahu ya saya, soalnya belum ada kasus yang seperti itu sampai saat ini”.

: “ya, pertama ditegur terlebih dahulu. Ditanya apa alasannya. Apakah sengaja atau tidak disengaja. selanjutnya dilihat dulu kasusnya bagaimana”.

: “Kami akan melakukan tuntutan hak cipta ke ranah hukum”.

Dari petikan hasil wawancara dengan , , dan dapat disimpulkan bahwa Perpustakaan PPKS hingga saat ini belum pernah menemukan kejadian yang dianggap melanggar hak cipta di Perpustakaan PPKS. Jika ada pelanggaran

hak cipta di perpustakaan, maka pihak perpustakaan akan menyikapinya dengan tegas.

4.5 Rangkuman Hasil Wawancara

Berdasarkan hasil wawancara mendalam (depth interview) dengan informan, melalui proses analisa data yang menjaga keabsahan data serta melakukan trianggulasi, maka diperoleh beberapa kategori. Kategori tersebut sebagai berikut:

Tabel 4.2 Rangkuman Hasil Penelitian No Kategori Hasil Wawancara

1 Peran Perpustakaan

PPKS dalam

Mengelola Hak Cipta

Perpustakaan sudah menyalurkan informasi kepada pengguna tetapi belum memerhatikan pengelolaan hak cipta.

Perpustakaan kurang memonitoring proses penggandaan koleksi bahan pustaka oleh pengguna

2 Pembatasan Hak Cipta

Peraturan tentang pembatasan hak cipta belum dilaksanakan dengan tegas

Belum ada kebijakan yang jelas tentang batasan dalam menggandakan koleksi.

Pelanggaran Hak Cipta

Belum pernah ditemukan adanya tindakan pelanggaran hak cipta di Perpustakaan PPKS Perpustakaan PPKS akan bertindak tegas jika menemukan pelanggaran hak cipta terhadap koleksi yang dimiliki.

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan

Berdasarkan permasalahan dan hasil pembahasan dapat disimpulkan sebagai berikut:

1. Perpustakaan PPKS dalam mengelola hak cipta sudah menjadi sumber informasi dan menyalurkan informasi kepada pengguna, tetapi Perpustakaan PPKS kurang memonitoring proses penggandaan koleksi yang dilakukan oleh pengguna. Dapat dinyatakan Perpustakaan PPKS belum melakukan pengelolaan hak cipta di perpustakaan.

2. Berdasarkan permasalahan pembatasan hak cipta, Perpustakaan PPKS membatasi penggandaan koleksi bagi pemustaka sebanyak 10 halaman, tetapi dalam pelaksanaannya melanggar aturan yang ditetapkan. Hal ini dikarenakan, Perpustakaan PPKS belum memiliki kebijakan yang tegas tentang pengelolaan hak cipta di perpustakaan.

3.Berdasarkan permasalahan pelanggaran hak cipta, Perpustakaan PPKS memperhatikan batas penggunaan sesuai Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang Hak Cipta. Pegawai perpustakaan tidak memahami tentang pengelolaan hak cipta di perpustakaan. Pegawai perpustakaan tidak mengawasi kegiatan fotokopi dan tidak memberikan batasan jumlah halaman yang dapat di fotokopi kepada pemustaka. Hingga saat ini, belum ditemukan adanya tindakan pelanggaran hak cipta di Perpustakaan PPKS.

5.2 Saran

Berdasarkan hasil penelitian dan kesimpulan yang ada, maka penulis mengemukakan beberapa saran sebagai berikut :

1. Perpustakaan PPKS belum memiliki kebijakan yang tegas tentang pengelolaan hak cipta di perpustakaan, untuk itu diharapkan Perpustakaan PPKS membuat suatu kebijakan tentang pengelolaan hak cipta di perpustakaan dan dijalankan.

Hal ini dilakukan agar pegawai maupun pemustaka terhindar dari pelanggaran hak cipta yang tidak disengaja.

2. Agar pegawai perpustakaan memahami tentang pengelolaan hak cipta di perpustakaan, Perpustakaan PPKS sebaiknya memberikan pelatihan kepustakawanan khususnya tentang hak cipta di perpustakaan. Hal ini dilakukan agar selanjutnya pegawai perpustakaan yang bertugas tidak melakukan pelanggaran hak cipta baik disengaja ataupun tidak disengaja. Dan pegawai dapat memberikan pendidikan tentang hak cipta kepada pemustaka.

3. Untuk membantu dalam mengawasi pembatasan hak cipta dan mencegah pelanggaran hak cipta sebaiknya Perpustakaan PPKS memonitoring kegiatan penggandaan koleksi bahan pustaka di perpustakaan. Jika ada pemustaka yang ingin menggandakan koleksi, seharusnya pegawai perpustakaan yang menggandakan koleksi tersebut, agar penggandaannya diawasi sesuai dengan batasan yang dibuat oleh Perpustakaan PPKS.

DAFTAR PUSTAKA

Badan Standar Nasional (BSN) 2009. Standar Nasional Indonesia: Perpustakaan Khusus Instansi Pemerintah. Jakarta: Badan Standar Nasional

Basuki, Sulistyo. 1991. Pengantar Ilmu Perpustakaan. Jakarta: Gramedia Utama Ginting, Elyta Ras. 2012. Hukum Hak Cipta Indonesia: Analisis Teori dan

Praktik. Bandung: Citra Aditya Bakti.

Hasugian, Jonner. 2009. Dasar – Dasar Ilmu Perpustakaan dan Informasi.

Medan: USU Press

H.B. Sutopo. 2002. Pengantar Penelitian Kualitatif. Surakarta: Universitas Sebelas Maret Press.

Hermawan,Rachman dan Zen, Zulfikar. 2006. Etika Pustakawan. Jakarta: Sagung Seto

Hutauruk,M. 1982. Peraturan Hak Cipta Nasional. Jakarta: Erlangga IFLA Committee on Copyright and other Legal Matters. 2008. Standing

Committee on Copyright and Related Rights (SCCR): 17th Session, Geneva, 3-7 November 2008.

https://www.ifla.org/files/assets/clm/statements/limitations-exceptions-200811.pdf ( 4 Desember 2017)

Indonesia. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 1990 Tentang Serah Simpan Karya Cetak dan Karya Rekam

Indonesia. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 28 Tahun 2014 Tentang Hak Cipta

Indonesia. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 43 Tahun 2007 Tentang Perpustakaan

Krihanta. 2002. Implementasi Hak Cipta Khususnya Hak Akses Informasi di Perpustakaan, Pusat dokumentasi dan Informasi. Jakarta: Universitas Indonesia

Lindsey,dkk. 2006. Hak Kekayaan Intelektual: Suatu Pengantar. Bandung:

Alumni

Lopes, Fransin Miranda. 2013. Penegakan Hukum Terhadap Pelanggaran Hak Cipta di Bidang Musik dan Lagu. Lexprivatum 1( 2): 48

Loughlan, Patricia. 1998, Intellectual Property: Creative and Marketing Rights.

Sydney: LBC Information Services

Moleong, Lexy J. 2000. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya

---. 2002. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya Norman, Sandy. 1999. Copyright in futher and higher education libraries.

London : Library Association Publishing

Pedoman Umum Penyelenggaraan Perpustakaan Khusus.2006. Jakarta:

Perpustakaan Nasional R.I

Pangaribuan, Syakirin. 2010. Rambu-Rambu Hak Cipta Dalam Operasional Perpustakaan. Medan: Universitas Sumatera Utara

Priyatna, Aan. 2016. Penegakan Hukum Terhadap Pelanggaran Hak Cipta Dalam Pembuatan e-book. Semarang: Universitas Diponegoro

Saidin,OK. 2015. Aspek Hukum Hak Kekayaan Intelektual: Intellectual Property Rights. Jakarta: Rajawali Press

Singh, S.P. 2006. Special Libraries in India: Some Current Trends. Vol. 55 Iss. 8 pp 520-530

Sugiyono.2014.Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif,Kualitatif Dan R&D. Bandung: Alfabeta

Sutarno, NS. 2006. Manajemen Perpustakaan: Suatu Pendekatan Praktis. Jakarta:

Sagung Seto

---. 2006. Perpustakaan dan Masyarakat. Jakarta : Sagung Seto

Yaranal, Mahesh. 2012. Managing Intellectual Property Right (IPR) In Libraries:

A Practical Approaches And Solutions. Vol. 2 Iss. 3 pp 43-50

LAMPIRAN I

PEDOMAN WAWANCARA

Pertanyaan

1. Adakah kebijakan Perpustakaan PPKS dalam melindungi hak cipta ?

2. Bagaimana cara pihak Perpustakaan PPKS dalam memonitoring penggandaan koleksi di perpustakaan?

3. Apakah perpustakaan memiliki pedoman khusus yang digunakan sebagai acuan pengelolaan hak cipta ?

4. Apakah perpustakaan meminta izin terlebih dahulu kepada pencipta jika melakukan peggandaan ?

5. Apakah perpustakaan PPKS melakukan perjanjian atau lisensi dengan penyedia informasi?

6. Kebijakan apa yang diambil perpustakaan jika mengetahui bilamana adanya pelanggaran hak cipta yang dilakukan oleh pegawai Perpustakaan PPKS?

KEPALA PERPUSTAKAAN PPKS MEDAN

PEDOMAN WAWANCARA

Pertanyaan

1. Apakah Perpustakaan PPKS memiliki pedoman khusus yang digunakan sebagai acuan bagi pengelolaan hak cipta ?

2. Adakah peraturan yang mengatur tentang fotokopi koleksi di Perpustakaan PPKS Medan ?

3. Bagaimana alur yang diperbolehkan untuk memfotokopi bagi pemustaka di Perpustakaan PPKS?

4. Apakah pemustaka dapat mengunduh jurnal yang dimiliki perpustakaan PPKS dengan mudah?

5. Apakah ada pengawasan terhadap pemustaka dalam menggunakan koleksi perpustakaan?

6. Bisakah pemustaka melakukan fotokopi koleksi dari keseluruhan isi koleksi?

7. Apa yang dilakukan perpustakaan jika ada pemustaka yang ketahuan melakukan pelanggaran hak cipta dari koleksi Perpustakaan PPKS?

8. Bagi pemustaka yang ingin menggandakan koleksi, apakah ditanyakan terlebih dahulu tujuan penggandaannya?

9. Apakah pemustaka yang ingin menggandakan koleksi perpustakaan harus mengisi form khusus terlebih dahulu ?

10. Bagaimanakah pengelolaan hak cipta di Perpustakaan PPKS Medan?

PEGAWAI PERPUSTAKAAN PPKS MEDAN

LAMPIRAN II

HASIL TRANSKIP WAWANCARA

1. Hasil Transkip Wawancara dengan Informan 1 Hari / Tanggal : Kamis, 5 April 2018

Waktu : 10.00 Wib

Lokasi : Ruang Kepala Perpustakaan PPKS

Keterangan Informan 1 : Peneliti : P

Informan I

P : Adakah kebijakan Perpustakaan PPKS dalam melindungi hak cipta?

: ada, kebijakan khusus untuk koleksi terbitan sendiri dan koleksi terbitan luar untuk penggandaan bagi pengguna maksimal 10 halaman. Koleksi terbitan sendiri sebenarnya sudah full open access bisa dilihat di website kami di jurnalkelapasawit.iopri.org tetapi jika ada yang ingin melakukan fotokopi lebih dari 10 halaman untuk koleksi terbitan sendiri kami langsung

mengarahkan ke bagian publikasi untuk melakukan pembelian. Untuk koleksi berbentuk online kami mengadopsi cc atau creative common by SA .

P : Bagaimana cara pihak Perpustakaan PPKS dalam memonitoring penggandaan koleksi di perpustakaan?

: Sebenarnya untuk kegiatan fotokopi seharusnya petugas perpustakaan yang bekerja di lantai 1 yang melakukannya. Tetapi, tidak semua petugas

: Sebenarnya untuk kegiatan fotokopi seharusnya petugas perpustakaan yang bekerja di lantai 1 yang melakukannya. Tetapi, tidak semua petugas

Dokumen terkait