BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
4.3 Katagori
4.3.1 Peran Perpustakaan Dalam Mengelola Hak Cipta
Kategori pertama yang diperoleh dari hasil transkip wawancara adalah peran perpustakaan dalam mengelola hak cipta. Peran perpustakaan dalam mengelola hak cipta adalah sebagai sumber informasi dan penyebaran informasi bagi pengguna, tanpa melanggar hak cipta dari pemegang hak. Untuk mengetahui pembatasan hak cipta yang dilakukan oleh pihak perpustakaan, maka peneliti mewawancarai informan. Berikut padalah petikan hasil wawancara mengenai peran perpustakaan dalam hak cipta:
Pertanyaan : Apakah perpustakaan memiliki pedoman khusus yang digunakan sebagai acuan pengelolaan hak cipta?
Jawaban dari Informan:
Pedoman yang digunakan berupa kebijakan yang tertuang dalam aturan dan tata tertib Perpustakaan Khusus PPKS, dengan memperhatikan UU No. 28 Tahun 2014 dan UU No. 43 Tahun 2007”.
Dari petikan hasil wawancara dengan dapat disimpulkan bahwa Perpustakaan PPKS memiliki aturan dan tata tertib Perpustakaan Khusus PPKS dengan memperhatikan UU No. 28 Tahun 2014 dan UU No. 43 Tahun 2007
Pertanyaan: Adakah kebijakan Perpustakaan PPKS dalam melindungi hak cipta?
Jawaban dari Informan:
: “Ada, kebijakan khusus untuk koleksi terbitan sendiri dan koleksi terbitan luar untuk penggandaan bagi pengguna maksimal 10 halaman. Koleksi terbitan sendiri sebenarnya sudah full open access bisa dilihat di website kami di jurnalkelapasawit.iopri.org tetapi jika ada yang ingin melakukan fotokopi lebih dari 10 halaman untuk koleksi terbitan sendiri kami langsung mengarahkan ke Bagian Publikasi untuk melakukan pembelian. Untuk koleksi berbentuk online kami mengadopsi cc atau creative common by SA”
Dari petikan hasil wawancara di atas mengatakan bahwa Perpustakaan PPKS memiliki kebijakan dalam melindungi hak cipta, yaitu pengguna dapat melakukan fotokopi koleksi bahan pustaka sebanyak 10 halaman saja. Untuk koleksi terbitan dari Pusat Penelitian Kelapa Sawit sendiri, dapat digunakan secara full access yang dapat dilihat di website resmi mereka, yaitu jurnalkelapasawit.iopri.org . dan pengguna juga dapat melakukan pembelian di bagian publikasi.
Pertanyaan : Bagaimana cara pihak Perpustakaan PPKS dalam memonitoring penggandaan koleksi di perpustakaan?
Jawaban dari Informan:
“Sebenarnya untuk kegiatan fotokopi seharusnya petugas perpustakaan yang bekerja di lantai 1 yang melakukannya. Tetapi, tidak semua petugas perpustakaan melakukannya. Mereka membebaskan pemustaka untuk fotokopi sendiri ke koperasi”.
Dari petikan hasil wawancara di atas dikatakan bahwa kurangnya monitoring penggandaan koleksi di perpustakaan. Seharusnya petugas perpustakaan yang melakukan kegiatan fotokopi untuk memperhatikan pembatasan hak cipta agar tidak terjadi sebuah pelanggaran, akan tetapi faktanya petugas perpustakaan membebaskan pemustaka dalam melakukan penggandaan koleksi diluar ruangan perpustakaan yaitu di koperasi. Hal ini dapat menimbulkan pelanggaran hak cipta baik disengaja ataupun tidak disengaja yang dilakukan oleh pemustaka.
Pertanyaan : kebijakan apa yang diambil perpustakaan jika mengetahui bilamana adanya pelanggaran hak cipta yang dilakukan oleh pegawai perpustakaan?
Jawaban dari Informan:
: “Untuk saat ini tidak ada dan jangan sampai ada. Jika ada, kami akan menegur dengan keras. Dan dia harus mengembalikan salinan tersebut juga mengembalikan uang yang dia dapatkan dari menggandakan koleksi tersebut”.
Dari petikan hasil wawancara di atas dikatakan bahwa apabila ditemukan pelanggaran hak cipta yang dilakukan oleh pegawai perpustakaan, maka pihak perpustakaan akan mengambil tindakan yaitu menegur dengan keras pegawai pelaku pelanggaran dan meminta untuk mengembalikan salinan juga mengembalikan uang yang dia dapat dari menggandakan koleksi bahan pustaka tersebut.
4.3.2 Pembatasan Hak Cipta
Pembatasan hak cipta dilakukan guna memberikan kesempatan kepada pengguna agar dapat menggunakan ciptaan tersebut tanpa melanggar hak cipta dari si pencipta. Hal ini dilakukan sesuai Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang Hak Cipta pembatasan hak cipta di perpustakaan yang diatur dalam pasaal 47 bahwa setiap perpustakaan dapat membuat satu salinan ciptaan tanpa seizin pencipta. Pembatasan lainnya adalah untuk keperluan pendidikan, penelitian dan hal-hal yang tidak merugikan baik secara moril maupun ekonomis si pencipta. Untuk mengetahui pembatasan hak cipta yang dilakukan oleh pihak perpustakaan, maka peneliti mewawancarai informan. Berikut adalah petikan hasil wawancara mengenai pembatasan hak cipta:
Pertanyaan : Adakah peraturan yang mengatur tentang fotokopi koleksi di Perpustakaan PPKS?
Jawaban dari Informan:
: “Peraturannya paling pengguna boleh memfotokopi 1 buku maksimal 10 lembar, itu berlaku untuk semua anggota”.
: “ada, dari segi fotokopi, tidak semua buku paling tidak beberapa lembar saja. Paling tidak 1 artikel dari buku tersebut.”
: “kalau fotokopi ke koperasi, tidak di perpustakaan. Pengguna bebas mau fotokopi berapa banyak.”
Dari petikan wawancara di atas dapat dinyatakan bahwa tidak semua pegawai perpustakaan mengetahui adanya batasan dalam melakukan penggandaan hak cipta. Hal ini merugikan bagi perpustakaan, karena perpustakaan dapat melakukan dengan tidak sengaja melakukan pelanggaran hak cipta, dan dapat terkena sangsi pidana sesuai peraturan Undang - Undang yang berlaku.
Pertanyaan : Bagaimana alur yang diperbolehkan bagi pengguna untuk Memfotokopi koleksi di Perpustakaan PPKS?
Jawaban dari Informan:
: “ya, meninggalkan kartu member, izin terlebih dahulu kepada petugas yang ada, fotokopi maksimal 10 lembar, pemustaka dapat memfotokopi koleksi di koperasi. Kalau pemustaka ingin fotokopi diluar lingkungan PPKS harus meninggalkan KTP/member kalau mesin fotokopi di koperasi rusak”.
: “pertama, user mencari literatur. Lalu jelas dong user melakukan kontak atau komunikasi ke petugas, meminta izin terlebih dahulu.
Lalu user diarahkan oleh petugas untuk memfotokopi koleksi di bagian koperasi.”
: “Langsung saja pengguna ke koperasi, sebelumnya ya minta izin terlebih dahulu yang mana yang mau di fotokopi”.
Dari hasil petikan wawancara di atas dapat disimpulakan pengguna dapat melakukan penggandaan koleksi secara bebas diluar ruang perpustakaan. Hal ini mengakibatkan kurangnya pengawasan terhadap jumlah halaman yang digandakan oleh pengguna.
Pertanyaan : Bagi pemustaka yang ingin menggandakan koleksi,
apakah ditanyakan terlebih dahulu tujuan penggandaannya?
Jawaban dari Informan:
: “ya pasti ditanyakan terlebih dahulu lah, tapi selama ini untuk
penelitian, biasanya pemustaka kebanyakan dari golongan mahasiswa, jadi udah tau kegunaannya untuk apa”.
: “pasti ditanya. Apalagi kalau sampai puluhan atau sampai 1 buku.
Pasti ditanya”
: “Biasanya pemustaka disini kebanyakan mahasiswa. Biasanya
mahasiswa untuk penelitian, pengetahuan dan pendidikan. Untuk orang luar tidak bisa sembarangan dan ditanyakan”.
Dari hasil petikan wawancara di atas dapat disimpulkan bahwa pegawai perpustakaan melakukan pengawasan tujuan penggunaan dari penggandaan koleksi yang dilakukan oleh pemustaka. Biasanya, pemustaka yang melakukan penggandaan koleksi bertujuan sebagai bahan penelitian dan pendidikan.
Pertanyaan: Apakah Perpustakaan PPKS meminta izin terlebih dahulu kepada pencipta jika melakukan penggandaan?
Jawaban dari informan 1:
: “kami hanya membuat satu salinan saja. Kalau pemustaka yang ingin memiliki atau menggandakan satu buku itu diluar tanggung jawab kami”.
Petikan wawancara di atas dapat menyimpulkan bahwa Perpustakaan PPKS hanya melakukan penyalinan ciptaan atau koleksi sebanyak satu salinan saja. Jadi, dapat disimpulakan bahwa Perpustakaan PPKS telah mengikuti pembatasan hak cipta yang diatur oleh Undang-Undang. Hal ini diperkuat oleh keterangan yang diberikan oleh , , dan , yaitu sebagai berikut :
Pertanyaan: Bagaimanakah pengelolaan hak cipta di Perpustakaan PPKS?
Jawaban dari informan 2, 3 dan 4:
: ” Untuk pengadaan koleksi, penggandaannya paling banyak satu ataupun dua eksemplar saja. Untuk di cabang medan satu dan di Siantar satu”
: “Paling kita hanya melakukan pembatasan kepada pemustaka yang Ingin memfotokopi koleksi saja.”
: “nah, kalau itu saya kurang tahu, tanyakan kembali kepada Pak Harfano ya.”
Dari pernyataan di atas menunjukan bahwa pembatasan hak cipta tentang salinan yang diperbolehkan untuk pengadaan koleksi yang ada di Perpustakaan PPKS sudah mengikuti peraturan yang berlaku agar tidak dianggap sebagai pelanggaran hak cipta. Tetapi, peraturan tentang pembatasan hak cipta belum dilaksanakan dengan tegas karena belum ada kebijakan yang pasti tentang pengelolaan hak cipta di Perpustakaan PPKS.
4.3.3 Pelanggaran Hak Cipta
Pelanggaran hak cipta merupakah suatu kegiatan yang merugikan pencipta baik dari segi moral maupun ekonomis. Pada umumnya pelanggaran hak cipta terjadi jika materi hak cipta tersebut digunakan tanpa seizin dari pencipta atau pemegang hak cipta. untuk mengetahui apakah pernah terjadi atau tidak pelanggaran hak cipta di Perpustakaan PPKS dan apa yang akan dilakukan jika terjadi pelanggaran hak cipta maka peneliti mewawancarai informan mengenai pelanggaran hak cipta, yaitu sebagai berikut:
Pertanyaan: Bisakah pemustaka melakukan fotokopi koleksi dari keseluruhan isi koleksi?
Jawaban:
: “Tidak bisa, maksimal 10 lembar, kalau memang perlu 1 buku harus izin terlebih dahulu ke kepala perpustakaan”.
: “Tergantung kebutuhan. Jika perlu ya diizinkan”.
: “Kalau fotokopi 1 buku di kantor tidak bisa, satu buku ada yang 250 halaman, tidak mungkin semuanya di fotokopi. Biasanya pengguna cuma memfotokopi yang mereka perlukan saja ke koperasi”.
Dari petikan hasil wawancara oleh , dan dapat disimpulkan bahwa masih belum ada kejelasan tentang berapa jumlah halaman yang dapat di fotokopi oleh pemustaka. Hal ini diduga dapat memicu terjadinya pelanggaran hak cipta baik disengaja ataupun tidak disengaja karena kurangnya perhatian pihak perpustakaan dalam melindungi hak cipta dari setiap koleksinya.
Pencipta memiliki hak ekslusif yang melekat langsung kepada hasil ciptaanya yang harus dilindungi agar pencipta merasa dihormati dan tidak dirugikan baik secara moral maupun ekonomis. Untuk itu, bagi seseorang yang terbukti melakukan pelanggaran hak cipta, makanya akan diberikan hukuman pidana yang sudah diatur dalam Undang-Undang No 28 Tahun 2014 Tentang Hak Cipta. Hal ini disesuaikan dengan informasi yang diberikan oleh , dan
Pertanyaan: Apa yang dilakukan perpustakaan jika ada pegawai maupun pemustaka yang ketahuan melakukan pelanggaran hak cipta dari koleksi Perpustakaan PPKS?
Jawaban dari informan:
: “kurang tahu ya saya, soalnya belum ada kasus yang seperti itu sampai saat ini”.
: “ya, pertama ditegur terlebih dahulu. Ditanya apa alasannya. Apakah sengaja atau tidak disengaja. selanjutnya dilihat dulu kasusnya bagaimana”.
: “Kami akan melakukan tuntutan hak cipta ke ranah hukum”.
Dari petikan hasil wawancara dengan , , dan dapat disimpulkan bahwa Perpustakaan PPKS hingga saat ini belum pernah menemukan kejadian yang dianggap melanggar hak cipta di Perpustakaan PPKS. Jika ada pelanggaran
hak cipta di perpustakaan, maka pihak perpustakaan akan menyikapinya dengan tegas.