LANDASAN TEORI
C. Karakteristik Psikografis
C. Karakteristik Psikografis
Beberapa karakteristik psikografis yang bisa menggambarkan perbedaan sikap
dan prilaku terhadap produk aspal adalah :
1. Consumer innovativeness
Orang-orang marketing harus mempelajari tentang konsumen yang terbuka dan
mau mencoba produk dengan berbagai inovasi terbaru. Hal itu merupakan
usaha agar produknya dapat diterima masyarakat. Ada beberapa faktor yang
membedakan consumer innovators dan consumer non- innovators yaitu :
a. Inovasi dari konsumen, bahwa setiap konsumen yang memiliki kesadaran
yang tinggi akan pentingnya inovasi maka konsumen cenderung lebih
mudah menerima produk dengan inovasi terbaru.
b. Pandangan agama, ada agama yang memiliki pandangan bahwa agar
umatnya lebih menutup auratnya ini berarti ada batasan untuk umatnya
c. Karakter sosial, mempengaruhi sikap individu konsumen. Konsumen
menyesuaikan diri dengan karakter sosial dilingkungan tempat tinggalnya.
d. Pencarian variasi produk, konsumen akan mencoba-coba berbagai produk
baru sampai ia menemukan produk yang cocok untuk dirinya.
Ukuran karakteristik personal memberikan batasan tentang keinginan
konsumen untuk berinovasi. Ada 6 hal untuk mengetahui ukuran tingkat
inovasi konsumen yaitu :
(dalam hal ini contoh yang digunakan adalah pembelian produk sepatu
bermerek Xterbaru.)
1) Secara umum merupakan orang terakhir yang membeli sepatu bermerek
Xterbaru.
2) Jika saya mendengar sepatu bermerek X sudah tersedia ditoko saya
akan tertarik untuk membeli sepatu bermerek X.
3) Dibandingkan dengan yang orang lain saya memiliki lebih sedikit
sepatu bermerek Xdengan model yang berbeda.
4) Merupakan orang terhir yang mengetahui berita mengenai sepatu
bermerek Xterbaru.
5) Suka membeli sepatu yang sedang trend meskipun belum mengetahui
kenyamanan yang diberikan oleh sepatu tersebut.
6) Lebih tahu mengenai produk sepatu bermerek X dibandingkan yang
Konsumen yang memiliki kesadaran akan inovasi suatu produk maka
cenderung lebih mudah menerima produk terbaru. Seperti barang aspal
bermerek terkenal yang selalu saja memiliki model terbaru yang terlihat
sama dengan model terbaru dari produk bermerek terkenal yang asli dan
selalu saja diminati oleh konsumen. Hal ini menunjukan bahwa barang
aspal bermerek terkenal juga memiliki inovasi produk mengikuti model
yang sedang trend. keadaan ini dapat menarik minat konsumen yang suka
terhadap produk dengan inovasi terbaru. Contohnya yaitu ketika ada model
terbaru yang sedang trend dari pruduk aspal bermerek terkenal banyak
orang yang akan menggunakan barang tersebut.
Berdasarkan uraian diatas maka penulis mengajukan hipotesis :
H1 : Semakin tinggi tingkat inovasi konsumen maka semakin positif sikap konsumen terhadap produk aspal bermerek terkenal.
2. Consumer suscepbility to interpersonal influence
CSII ( Consumer suscepbility to interpersonal influence ) diartikan
pentingnya identifikasi atau tingginya suatu image yang dinilai oleh satu
pendapat dan pendapat yang lain. Contoh bahwa hasil studi saat ini telah
menunjukan orang yang cenderung CSII biasanya adalah orang yang ingin
terlihat memiliki status yang lebih tinggi dan dapat diterima oleh masyarakat
dilingkungannya. Dengan CSII ini pemasar bisa menciptakan komunikasi yang
sikap, pencapaian tingkahlaku dan sebagai cirri sosial yang memiliki
kecenderungan untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya melalui proses
informasi. Contohnya adalah pemasar bisa menciptakan komunikasi menarik
melalui selogan iklan produknya. Sehingga selogan itu dapat mempengaruhi
sikap konsumen.
Ada beberapa ciri yang menjadi ukuran CSII :
a. Suka berkonsultasi dengan orang lain mengenai produk berkelas.
b. Suka membeli produk yang digunakan orang yang disukai.
c. Penting jika orang lain Suka dengan produk yang biasa saya beli.
d. Jika ingin memilih produk baru biasanya suka mencari informasi dan
memilih produk yang lebih banyak pembeli dan pemakainya.
e. Saya sering merasa sama dengan seseorang setelah saya membeli barang
yang sama dengannya.
f. Jika saya belum mengetahui tentang produk yang ingin saya beli saya
sering bertanya kepada orang lain tentang produk tersebut.
g. Lebih suka membeli produk yang mereknya telah diakui.
h. Selalu ingin menggunakan produk yang bisa membuat orang lain terkesan.
Orang yang cenderung CSII biasanya ingin terlihat memiliki status yang
lebih tinggi dan diakui oleh masyarakat. Hal tersebut mungkin bisa dilihat
dari cara berpakaian dan produk yang digunakan. Misalnya jika orang
menggunakan barang bermerek terkenal maka akan terlihat lebih berkelas.
hampir tidak dapat dibedakan dengan barang bermerek terkenal yang asli
maka orang yang menggunakannya terlihat seperti menggunakan barang
bermerek terkenal yang asli.
Berdasarkan uraian diatas penulis mengajukan hipotesis :
H2 : Semakin tinggi tingkat CSII maka semakin positif sikap konsumen terhadap produk aspal bermerek terkenal.
3. Locus of control
Pada umumnya locus of control menunjuk pada kepercayaan apakah
seseorang mampu atau tidak membuat ramalan pengeluarannya sendiri, karena
orang-orang percaya bahwa mereka tidak mampu untuk mengontrol
pengeluaran hidup yang dipengaruhi oleh lingkungan dan orang lain. Sebagai
contoh adalah bahwa keberuntungan atau pengaruh dari masing-masing
individu berhubungan dengan tingkat kepercayaan lingkungan dan tingkah
laku, studi terdahulu menemukan faktor internal lebih bertanggung jawab
terhadap tingkahlaku lingkungan dibandingkan dengan faktor eksternal. Studi
ini mengharapkan faktor internal bisa mendukung adanya kerjasama yang bisa
membantu usaha pemasaran. Faktor internal lebih mendukung merek
dibandingkan faktor eksternal karena mereka percaya dengan pembelanjaan
produk bermerek maka mereka mendukung keadaan sosial masyarakat
sehingga bisa meningkatkan kehidupan ekonomi masyarakat. Faktor internal
lingkungan dan membuat ramalan pengeluaran yang dipengaruhi oleh suatu
merek produk.
Tidak semua orang bisa meramalkan dan merencanakan pengeluarannya
sendiri. Bagi orang-orang yang selalu ingin merencanakan pengeluarannya
biasanya lebih terkontrol dalam berbelanja. Hal ini membuat seseorang dapat
mengurangi pembeliannya. Keadaan ini juga dapat mempengaruhi sikap
konsumen terhadap barang aspal bermerek terkenal karena jika segala
sesuatunya telah dianggarkan dan direncanakan maka akan kecil
kemungkinannya untuk memikirkan produk lain selain yang telah
direncanakan dan dianggarkan.
Berdasarkan uraian diatas maka penulis mengajukan hipotesis :
H3 : Semakin rendah locus of control maka akan semakin positif sikap konsumen terhadap produk aspal bermerek terkenal.
4. Advertising skepticism
Secara umum sikap skeptis terhadap iklan menggambarkan kecenderungan
konsumen untuk meragukan kebenaran dari pesan yang terdapat diiklan karena
terdapat motif pemasar didalam pesan iklan tersebut. Obermiller, Spangeberg
dan Maclachlan (2005) menyatakan bahwa konsumen yang skeptis terhadap
iklan cenderung berfikir untuk tetap tidak terpengaruh dengan bahasa iklan dan
menunjukan kurangnya hubungan antara iklan dan tujuan pembelian.
ketidak percayaan konsumen terhadap iklan membawa sikap skeptis terhadap
kegiatan pemasaran menunjukan bahwa konsumen tidak lagi percaya jika
perusahaan menggunakan tujuan beramal dalam iklan produknya (Bhorn and
Vrioni, 2001).
Orang yang memiliki sikap skeptis tehadap iklan cenderung kurang
mempercayai iklan. Semakin sering ada iklan tentang produk bermerek
terkenal biasanya orang tersebut akan kurang suka terhadap produknya. Hal ini
dapat mempengaruhi sikap konsumen terhadap produk aspal bermerek
terkenal. Contohnya jika ada iklan produk tas ransel asli bermerek REEBOK
yang terlalu sering tayang maka orang yang skeptis terhadap iklan akan
kurang menyukai produk tersebut. Sikap tersebut juga berlaku terhadap tas
ransel yang bermerek sama meskipun itu hanya barang aspal.
Berdasarkan uraian diatas maka penulis mengajukan hipotesis :
H4 : Semakin tinggi sikap skeptis maka akan semakin negatif sikap konsumen terhadap produk aspal bermerek terkenal.