6.3.1. Hubungan Tingkat Pengetahuan Dengan Perilaku K3
Dari hasil penelitian tampak proporsi prosentase responden pada masing-masing kategori dan tingkat perilaku menggambarkan proporsi yang relatif sama. Pada kategori berpengetahuan tinggi prosentase berkisar dari yang terendah adalah 80% dan tertinggi 94%. Sedang untuk kategori yang berpengetahuan rendah prosentase berkisar dari yang terendah adalah 6% dan tertinggi 20%.
Setelah dilakukan uji kai-kuadrat didapatkan hasil dengan p value = 0,158 > 0,050. Dengan hasil uji diatas diketahui bahwa tidak ada perbedaan yang bermakna antara tingkat pengetahuan responden yang rendah atau tinggi
dengan perilaku K3 di area pengolahan PT. ANTAM Tbk, UBPE Pongkor Kabupaten Bogor tahun 2008.
Pada kategori pengetahuan tinggi, semakin tinggi tingkat perilaku K3 proporsi responden semakin besar. Sedangkan pada kategori berpengetahuan rendah semakin rendah tingkat perilaku K3 proporsi responden semakin kecil. Dengan kata lain luasnya pengetahuan responden tentang K3 di area pengolahan berbanding terbalik dengan perilaku kesehatan dan keselamatan kerjanya.
Hasil penelitian diatas menunjukkan bahwa perilaku responden tentang K3 tidak dipengaruhi oleh tingkat pengetahuan. Fakta ini menandakan bahwa luas atau sempitnya pengetahuan responden di area pengolahan tidak mempengaruhi perilaku K3. Kenyataan diatas tidak sejalan dengan pendapat yang dikemukakan oleh Adenan (1986) dalam buku Widayatun (1999) bahwa semakin luas pengetahuan seseorang maka semakin positif perilaku yang dilakukannya.
Perilaku positif mempengaruhi jumlah informasi yang dimiliki seseorang sebagai hasil proses penginderaan terhadap objek tertentu. Selain itu tingkat perilaku mempengaruhi domain kognitif seseorang dalam hal mengingat, memahami, dan mengaplikasikan informasi yang dimiliki. Juga berpengaruh dalam proses analisis, sintesis, dan evaluasi suatu objek. Menurut Adenan (1986) dalam buku Widayatun (1999) juga bahwa pengetahuan diperoleh dari pendidikan formal atau pendidikan informal.
6.3.2. Hubungan Persepsi Dengan Perilaku K3
Dari tabel hasil penelitian didapatkan gambaran persepsi responden terhadap perilaku K3 di area pengolahan PT. ANTAM Tbk, UBPE Pongkor Kabupaten Bogor tahun 2008 dikategorikan positif dan negatif. Untuk kategori persepsi positif prosentase masing-masing yaitu 60% dan 95% sedangkan untuk kategori persepsi negatif prosentasenya yaitu 40% dan 5%.
Setelah dilakukan uji kai-kuadrat didapatkan hasil dengan p value = 0,000 < 0,050. Dari hasil uji tersebut dapat disimpulkan bahwa ada perbedaan yang bermakna antara persepsi positif dan negatif responden dengan perilaku K3 pada semua kategori di area pengolahan PT. ANTAM Tbk, UBPE Pongkor Kabupaten Bogor tahun 2008.
Hasil penelitian menggambarkan bahwa seluruh responden dengan tingkat pendidikan yang berbeda, jenis pekerjaan yang berbeda, dan tempat kerja yang berbeda pula tidak didapatkan perbedaan yang jelas mengenai perilaku K3 yang positif maupun negatif. Hal ini dapat terjadi karena bekerja di area pengolahan merupakan hasil dari proses belajar serta pengalaman selama bekerja. Hal ini pula dipengaruhi oleh pemahaman dari responden tentang bahaya yang bersumber dari pekerjaan dan lingkungan kerjanya.
Perbedaan yang sangat kecil diatas dapat juga terjadi karena masing-masing jenis perilaku K3 yang diungkapkan bersumber dari responden yang berbeda latar belakang pendidikannya, lingkungan pekerjaan mempunyai sumber bahaya dan tingkat risiko yang berbeda-beda, juga dampak yang ditimbulkan jika terjadi kecelakaan akan berbeda. Selain itu fokus kegiatan
dan sistem nilai yang berkembang dalam pekerjaan dan lingkungan tidak sama sehingga menyebabkan terjadinya perbedaan terhadap perhatian para responden dalam bekerja.
Robin (1989) dalam buku Danim (2007) menyebutkan bahwa faktor yang mempengaruhi pembentukan persepsi sehingga memungkinkan terjadinya perbedaan adalah karakter dari receiper meliputi motif, minat, dan pengalaman masa lalu. Juga pengaruh dari karakter target yang dipersepsikan tentang bagaimana hubungan target dan latar belakang serta kemiripan yang dipersepsikan. Selain itu bagaimana konteks situasi terjadinya persepsi melipuuti waktu, lokasi, dan situasi lainnya.
6.3.3. Hubungan Sikap Dengan Perilaku K3
Sesuai hasil penelitian pada area pengolahan PT. ANTAM Tbk, UBPE Pongkor Kabupaten Bogor tahun 2008 tentang perilaku K3 positif dikategorikan responden bersikap positif berjumlah 63 (100%) orang, sedangkan yang bersikap negatif berjumlah 0 (0%) orang. Sementara responden yang berperilaku K3 negatif dikategorikan bersikap positif sebesar 9 (90%) orang, sedangkan yang bersikap negatif sebesar 1 (10%) orang.
Setelah dilakukan uji kai-kuadrat didapatkan hasil dengan p value = 0,000 < 0,050. Dari hasil diatas terdapat perbedaan yang bermakna antara kategori sikap responden yang negatif maupun positif dengan kategori perilaku K3 responden di PT. ANTAM Tbk, UBPE Pongkor Kabupaten Bogor tahun 2008.
Fakta hasil penelitian diatas yang menunjukkan hasil yang hampir berbanding lurus antara responden berperilaku K3 positif bersikap negatif dan responden berperilaku K3 negatif bersikap positif karena tidak adanya perbedaan jenis pekerjaan yang sangat berarti dalam keseharian dan kondisi lingkungan kerja pada area pengolahan. Seluruh responden yang bekerja pada umumnya selalu diberikan informasi dan komunikasi tentang K3 yang baik namun berlatar belakang pendidikan yang bervariasi. Sehingga dalam penanggapan sikap pada diri masing-masing responden bervariasi pula.
Pada area pengolahan, sifat pekerjaan dan kondisi lingkungan kerja yang homogen dengan sumber bahaya serta tingkat risiko yang relatif sama. Kondisi ini menumbuhkan sikap para responden yang cenderung lebih bersikap positif dibanding bersikap negatif terhadap perilaku K3 yang baik dan benar.
Penjelasan diatas sesuai dengan pendapat Mar’at (1982) dalam buku Notoatmodjo (2007) yang mengatakan bahwa sikap merupakan produk dari proses sosialisasi dimana seseorang beraksi sesuai dengan rangsangan yang diterimanya. Pendapat lain dikemukakan oleh Krech yang dikutip Za’im (2002) berbunyi secara operasional, sikap menunjukkan konotasi adanya kesesuaian reaksi terhadap kategori stimulus tertentu dan dalam penggunaan praktis sikap sering kali dihadapkan dengan rangsangan sosial dan reaksi yang bersifat emosional.
6.3.4. Hubungan Tingkat Pendidikan Dengan Perilaku K3
Hasil penelitian menunjukkan proporsi prosentase responden pada masing-masing kategori perilaku K3 dari tingkat pendidikan menggambarkan proporsi yang variatif. Pada kategori perilaku K3 positif, responden yang hanya lulus sampai SLTP terdapat 10 orang dari 13 orang. Responden yang hanya lulus sampai SLTA terdapat 40 dari 46 orang. Sedangkan responden yang telah lulus PT terdapat 13 dari 14 orang.
Setelah dilakukan uji kai-kuadrat didapatkan hasil dengan p value = 0,215 > 0,050. Dengan hasil uji diatas diketahui bahwa tidak ada perbedaan yang bermakna antara responden berpendidikan hanya lulus SLTP, lulus SLTA, atau sampai lulus PT terhadap perilaku K3 di PT. ANTAM Tbk, UBPE Pongkor Kabupaten Bogor tahun 2008.
Hasil penelitian diatas menunjukkan bahwa perilaku K3 responden tidak dipengaruhi oleh tingkat pendidikan formal yang telah dilaksanakan. Fakta ini tdak menjamin semakin tinggi tingkat pendidikan formal seseorang, semakin baik perilakunya. Kenyataan diatas bertentangan dengan Adenan (1986) dalam buku Widayatun (1999) bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan formalnya maka semakin luas pengetahuannya. Sehingga perilaku yang baik dapat diterapkan dalam menjalankan kehidupan sehari-hari.
6.3.5. Hubungan Jenis Pekerjaan Dengan Perilaku K3
Dari hasil penelitian didapatkan gambaran jenis pekerjaan responden dengan perilaku K3 bahwa dari lima jenis pekerjaan yang ada, masing-masing yaitu process plant, perencana pengolahan, sianidator, recovery, dan pengolah
limbah. Perilaku K3 positif tertinggi sampai terendah diketahui yaitu pekerja pada jenis pekerjaan process plant (0%), recovery (95%), perencana pengolahan (92%), sianidator (85%), dan pengolah limbah (72%).
Setelah dilakukan uji kai-kuadrat spesifik homogenitas didapatkan hasil dengan p value = 0,429 > 0,050. Dari hasil uji tersebut dapat disimpulkan bahwa tidak ada perbedaan yang bermakna antara semua jenis pekerjaan yang ada dengan perilaku K3 di PT. ANTAM Tbk, UBPE Pongkor Kabupeten Bogor tahun 2008.
Perbedaan diatas terjadi akibat perbedaan karakter individu setiap responden sehingga didapat hasil yang bervariatif. Menurut Robin (1989) dalam buku Danim (2007) bahwa faktor yang mempengaruhi pembentukan individu seseorang adalah karakter dari receiper meliputi motif, minat, dan pengalaman masa lalu. Selain itu bagaimana konteks situasi terjadinya perbedaan karakter meliputi waktu, lokasi, dan situasi lainnya.
6.3.6. Hubungan Tempat Kerja Dengan Perilaku K3
Sesuai hasil penelitian responden yang bekerja di area pengolahan PT. ANTAM Tbk, UBPE Pongkor Kabupeten Bogor tahun 2008 bahwa terdapat dua jenis tempat kerja yaitu in door dan out door. Perilaku K3 positif ternyata terdapat pada responden yang bekerja di in door. Nilai yang didapat adalah 94% berperilaku K3 yang baik. Sementara pada lokasi out door didapat 79% berperilaku K3 yang baik.
Setelah dilakukan uji kai-kuadrat didapatkan hasil dengan p value = 0,228 > 0,050. Dari hasil diatas diketahui bahwa tidak terdapat perbedaan
yang bermakna antara tempat kerja in door dan tempat kerja out door
terhadap perilaku K3 di PT. ANTAM Tbk, UBPE Pongkor Kabupeten Bogor tahun 2008.
Fakta hasil penelitian diatas terjadi karena tidak adanya perbedaan berarti antara jenis pekerjaan yang ada serta kondisi lingkungan kerja yang relatif sama pula. Penjelasan tersebut sesuai dengan pendapat dari Mar’at (1986) dalam buku Notoatmodjo (2007) bahwa lingkungan tinggal merupakan produk dari proses sosialisasi dimana seseorang bereaksi sesuai dengan rangsangan yang diterimanya. Lingkungan tinggal juga merupakan kesesuaian reaksi terhadap kategori rangsangan tertentu yang sering kali dihadapkan dengan rangsangan sosial dan reaksi yang bersifat emosional.
BAB VII
KESIMPULAN DAN SARAN