Dari hasil penelitian tentang perilaku K3 responden didapatkan proporsi sebesar 86% responden berperilaku positif dan merupakan proporsi terbesar dibanding responden yang berperilaku negatif yaitu sebesar 14%.
Proporsi diatas menggambarkan bahwa sebagian besar dari responden sudah berperilaku positif dalam hal K3 pada pelaksanaan tugas sehari-hari. Tetapi masih ada proporsi responden yang masih berperilaku negatif tentang K3 pada pelaksanaan tugas sehari-hari. Komposisi hasil penelitian menggambarkan belum terbentuknya budaya berperilaku selamat pada seluruh responden dalam bekerja. Hal ini merupakan salah satu dampak dari kurangnya sosialisasi kegiatan untuk memotivasi para responden agar memperhatikan norma-norma K3.
Perilaku responden merupakan manifestasi yang dipengaruhi oleh faktor internal dan faktor eksternal dari individu. Keragaman pendidikan, jenis pekerjaan, lingkungan, sarana dan prasarana yang ada diantara faktor yang mempengaruhi perilaku para responden. Selain itu motivasi dalam bekerja merupakan faktor penentu bagi para responden agar berperilaku selamat. Pengamatan peneliti di lapangan, kurangnya perhatian dari pihak manajemen agar berperilaku selamat seperti kurangnya pengawasan terhadap perilaku
merokok membuat responden kadang bertindak ceroboh dan sembrono dalam bekerja dengan merokok di sembarang tempat. Selain itu, komunikasi akan bahaya dari pihak manajemen terhadap K3 yang kurang seperti tidak dicatatnya informasi keadaan iklim lingkungan (bising, getaran, suhu, kelembaban, kadar Cn, dan pencahayaan) yang telah diukur menimbulkan kepedulian para responden untuk berperilaku selamat yang kurang. Sahab (1997) mengatakan bahwa kegagalan dalam menjalankan misi K3 karena kurangnya motivasi untuk bekerja dengan selamat. Ia juga mengatakan bahwa komunikasi K3 diperlukan untuk mendorong perubahan perilaku sehingga termotivasi untuk bekerja dengan selamat.
Tidak selalu tersedianya sarana dan prasarana yang berhubungan dengan K3 turut mempengaruhi perilaku responden. Kadang kala karyawan melakukan sesuatu kegiatan berbahaya seperti menyalakan mesin dengan tangan kosong akibat tidak tersedianya alat bantu yang layak dipakai. Hal semacam ini sering terjadi di area pengolahan seperti di gold room, ruang monitor 77, dan sekitar ball mill. yang diteliti oleh peneliti.
6.2.2. Pengetahuan Responden Terhadap K3
Dari hasil penelitian diperoleh informasi bahwa proporsi terbesar dari responden mempunyai pengetahuan yang tinggi tentang K3 di area pengolahan PT. ANTAM Tbk, UBPE Pongkor Kabupaten Bogor tahun 2008 yaitu sebesar 92%. Tetapi masih didapat juga informasi responden yang memiliki pengetahuan yang rendah tentang K3 di area pengolahan yaitu sebesar 8%.
Komposisi yang hampir homogen tentang tingkat pengetahuan responden mengenai K3 seperti hasil di atas berkaitan dengan baiknya kegiatan komunikasi, informasi, dan edukasi tentang K3 di pertambangan. Fakta ini bertentangan dengan penelitian yang mempunyai hasil masih relatif sedikitnya pengetahuan para pekerja mengenai K3 (Suma’mur, 2001).
Menurut Skinner (1938) dalam buku Notoatmodjo (2005) mengatakan bahwa seseorang dikategorikan berpengetahuan tinggi apabila mampu mengungkapkan sebagian besar informasi dari suatu objek dengan benar. Akan dikategorikan berpengetahuan rendah apabila seseorang hanya mampu mengungkapkan sedikit informasi dari suatu objek dengan benar.
Sebagai institusi yang sejak lama telah membangun komitmen untuk melaksanakan program K3, komposisi diatas merupakan modal yang cukup baik. Dari hasil penelitian, fakta yang muncul tentang pengetahuan responden pada kategori tinggi maupun pada kategori rendah sudah cukup banyak pengetahuan responden yang bersifat parsial dan yang berada pada lingkup pekerjaan sehari-hari.
Kenyataan diatas dimungkinkan karena sebagian besar responden memiliki latar belakang pelatihan dan pemberian informasi mengenai K3 yang baik. Selama mengikuti pelatihan prinsip-prinsip K3 yang menyangkut bidangnya sudah pernah diajarkan dalam pemberian informasi mengenai K3. Hal ini sesuai dengan pendapat dari Adenan (1986) dalam buku Widayatun (1999) yang mengatakan dari lingkungan seseorang mendapat pengalaman
dan pengetahuan. Pengalaman dan pengetahuan dapat diperoleh dari pendidikan formal dan informal.
Untuk kedepannya, sosialisasi dan komunikasi yang sudah ada perlu dipertahankan bahkan jika mungkin ditingkatkan lebih intensif terhadap seluruh karyawan tentang K3 di area pengolahan PT. ANTAM Tbk, UBPE Pongkor Kabupaten Bogor. Agar kemampuan dan keterampilan para responden meningkat, perlu dilakukan pelatihan secara teratur. Kegiatan ini sesuai pendapat dari Guesich (1993) dalam buku Suma’mur (1996) yang mengatakan bahwa education merupakan program dasar dalam K3. Sedang menurut Notoatmodjo (2005) mengatakan bahwa pengetahuan merupakan hasil dari tahu, ini terjadi setelah seseorang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu terutama melalui mata dan telinga.
Pendapat lain diungkapkan oleh Suma’mur (1996) bahwa pemahaman terhadap K3 merupakan faktor esensial bagi keberhasilan program. Disamping itu pemahaman yang tepat terhadap K3 di lingkungan karyawan merupakan unsur penentu kemajuan pelaksanaan program secara normatif menurut ketentuan perundang-undangan yang berlaku serta penggerak improvisasi penyelenggaraan yang lebih dapat menjamin pencapaian kemanfaatan yang lebih besar.
6.2.3. Persepsi Responden Terhadap K3
Hasil penelitian menginformasikan bahwa persepsi responden terhadap K3 di area pengolahan PT. ANTAM Tbk, UBPE Pongkor Kabupaten Bogor tahun 2008 yang dikategorikan memiliki persepsi positif lebih besar
jumlahnya yaitu 90% dibanding yang dikategorikan memiliki persepsi negatif yaitu sebesar 10%. Fakta diatas menggambarkan sudah cukup tingginya jumlah responden yang berpersepsi positif dalam program K3.
Melihat hasil penelitian diatas masih adanya jumlah responden yang memiliki pendapat dan penilaian yang tidak baik terhadap keberadaan K3. Menurut Ross (1980) dalam buku Azwar (2007) mengatakan bahwa persepsi adalah suatu proses dimana seseorang memilih, mengorganisasikan, dan memberi arti pada rangsangan baik bersifat internal maupun eksternal.
Pembentukan persepsi terhadap K3 sangat ditentukan oleh makna yang dipahami oleh para responden yang memiliki latar belakang sosial, budaya, dan ekonomi masing-masing. Informasi yang lengkap dan utuh tentang K3 di area pengolahan yang dirasakan cukup baik membentuk persepsi yang hampir homogen di kalangan responden.
Walaupun pelaksanaan K3 di PT. ANTAM Tbk, UBPE Pongkor Kabupaten Bogor tahun 2008 bersifat parsial, proporsi pembentukan persepsi ini kemungkinan besar merupakan pengaruh dari lingkungan kerja. Perusahaan pertambangan sebagai pengelola isi dari perut bumi ini dalam melakukan fungsinya selalu mengutamakan kesehatan dan keselamatan bagi semua yang ada di lingkungannya.
Kenyataan ini sesuai dengan pendapat dari Kondarus (2006) yang mengatakan manusia dapat mengerti dan menilai lingkungannya dengan menggali dan menilai objek yang ada, juga dengan menangkap makna yang telah terkandung dalam objek yang menimbulkan stimulus pada individu.
Pernyataan lain yang memperkuat pernyataan dari Kondarus diungkapkan oleh Gibson dengan pendapatnya bahwa pertambahan kemampuan seseorang untuk mengorganisasikan pengamatan bersumber dari informasi yang berasal dari lingkungan sebagai hasil pengalaman. Selain itu menurut Suma’mur (1996) bahwa konsep yang mengatakan bahwa K3 menjadi kepedulian semua orang harus menjadi persepsi seluruh karyawan. 6.2.4. Sikap Responden Terhadap K3
Hasil penelitian menunjukkan bahwa responden yang bersikap positif terhadap K3 di area pengolahan PT. ANTAM Tbk, UBPE Pongkor Kabupaten Bogor tahun 2008 proporsinya sangat besar yaitu sampai 99%. Sedangkan responden yang bersikap negatif terhadap K3 sangat kecil yaitu hanya 1%.
Hampir tidak adanya perbedaan sikap responden disebabkan karena tidak adanya perbedaan pekerjaan yang berarti dan lingkungan kerja yang relatif sama sehingga sumber bahaya dan tingkat risiko akan terjadinya suatu bahaya sangat sama dalam terjadinya kecelakaan dan sakit akibat kerja. Selain itu, sistem nilai dari suatu individu maupun kelompok yang berkembang mempengaruhi pembentukan pemahaman tentang K3. Sudah berfungsinya sistem manajemen K3 di perusahaan tersebut turut mempengaruhi pembentukan sikap responden yang beragam. Fakta ini sesuai dengan pendapat Notoatmodjo (2007) yang mengatakan bahwa sikap adalah reaksi atau respon yang masih tertutup dari seseorang terhadap suatu stimulus atau objek.
Menurut Morgan (1961) dalam buku Widayatun (1999) bahwa sikap adalah kecenderungan untuk berespon baik secara positif atau secara negatif terhadap orang, objek, atau situasi. Sementara menurut Suma’mur (1996) mengatakan bahwa persepsi dan pemahaman tentang K3 pada akhirnya ditampilkan dalam bentuk sikap dan perilaku seseorang atau sekelompok masyarakat mengenai K3.
Pendapat diatas sesuai dengan fakta yang didapat dalam penelitian, dengan maksimalnya kegiatan K3 yang dilakukan secara terkoordinasi dan teratur mengakibatkan adanya sikap positif dari responden. Baiknya sosialisasi tentang sumber bahaya dan manfaat K3 di lingkungan kerja responden menumbuhkan sikap yang sangat peduli di kalangan responden. Fungsi dan tugas perusahaan pertambangan disertai situasi dan kondisi
lingkungan kerja yang bergerak dalam bidang penggalian isi perut bumi membentuk pemahaman responden tentang kesehatan dan keselamatan dalam bekerja. Latar belakang pendidikan serta pengalaman sehari-hari dalam bekerja membuka wawasan dan cakrawala berpikir responden tentang K3. Kedua faktor tersebut akan membentuk sikap para responden terhadap kesehatan dan keselamatan dalam bekerja.
6.2.5. Pendidikan Responden
Dari seluruh responden tampak tingkat pendidikan yang cukup bervariasi, dengan rentang tiga tingkatan dari yang paling rendah yaitu hanya lulus SLTP, lulus SLTA, dan lulus PT. Untuk proporsi yang paling besar populasinya berada pada tingkat SLTA yaitu 63%. Sementara itu proporsi
paling rendah ditempati oleh responden berpendidikan lulus SLTP 18% dan ditengahi oleh responden berpendidikan lulus PT 19%.
Keragaman tingkat pendidikan karyawan bagi perusahaan pertambangan dalam kaitannya dengan pelaksanaan K3 cukup menguntungkan. Masing-masing akan berperan sesuai dengan kemampuannya, sehingga pelaksanaan kegiatan pengolahan lebih komperhensif.
Dari informasi yang diperoleh dalam penelitian, salah satu yang dihadapi dalam penerapan dan sosialisasi K3 adalah sangat minimnya karyawan yang memiliki latar belakang pendidikan bidang K3. Menurut Depkes (2000), untuk profesionalisme bidang K3 perlu dukungan tenaga kerja yang mempunyai latar belakang pendidikan atau sudah pernah mengikuti pelatihan K3.
Gueech (1993) dalam buku Suma’mur (1996) menyebutkan bahwa pendidikan juga merupakan salah satu upaya untuk menjaga keselamatan pekerja maupun tempat kerja yang dilakukan melalui program keselamatan dan disponsori oleh manajemen. Dengan program dasar tersebut diharapkan pekerja dapat berperan aktif dalam menciptakan dan menjaga keselamatan di tempat kerja.
6.2.6. Jenis Pekerjaan Responden
Perusahaan pertambangan sesuai dengan fungsinya adalah memproduksi produk barang dan jasa dari isi perut bumi yang dilakukan oleh pekerja yang ahli dalam bidangnya. PT. ANTAM Tbk, UBPE Pongkor
Kabupaten Bogor sendiri membagi jenis pekerjaan dalam area pengolahan menjadi lima yaitu process plant, perencana pengolahan, sianidator, recovery, dan pengolahan limbah.
Dari hasil penelitian yang dilakukan, ternyata tidak terdapat kesenjangan jumlah karyawan yang begitu berarti antara lima jenis pekerjaan tersebut. Karena jenis pekerjaan merupakan kesatuan alur dalam proses pengolahan, jadi diharapkan seluruh karyawan melakukan pekerjaan sesuai dengan ahlinya dengan jumlah yang relatif sama. Prosentasenya adalah 19% untuk perencana pengolahan, 27% sianidator, 29% recovery, 25% pengolahan limbah, dan 0% process plant (karena tidak ada di tempat dan tidak diteliti).
Pekerjaan karyawan area pengolahan yang bervariasi dari segi jumlah maupun jenisnya, dalam melaksanakan tugas selalu berhubungan dengan berbagai bahaya yang potensial. Jika tidak diantisipasi dengan baik dan benar dapat menimbulkan dampak negatif terhadap kesehatan dan keselamatan dirinya, yang pada akhirnya dapat mempengaruhi produktivitas kerja (Suma’mur, 1996). Melihat kondisi ini sudah sewajarnya karyawan area pengolahan PT. ANTAM Tbk, UBPE Pongkor Kabupaten Bogor menjadi sasaran prioritas kesehatan dan keselamatan kerja.
6.2.7. Tempat Kerja Responden
Unit tempat kerja di area pengolahan PT. ANTAM Tbk, UBPE Pongkor Kabupaten Bogor tahun 2008 digolongkan menjadi dua kategori golongan besar yaitu in door dan out door. Jumlah pekerja dalam tempat kerja ini relatif seimbang dengan prosentase 48% untuk in door yang sebagianbesar
melakukan pemantauan dan pengukuran secara ilmiah dan 52% untuk out door yang sebagian besar melakukan pekerjaan di lapangan dengan tugas teknisasi mesin.
Tidak ada unit penunjang maupun unit pendukung dalam tempat kerja ini. Artinya semua jenis pekerjaan yang ada sangat berperan. Ini memungkinkan pekerjaan yang berada di in door maupun out door
mempunyai tugas dan wewenang yang sama pentingnya. Risiko yang dihadapi antara kedua tempat kerja itu pun relatif sama. Karena kejadian yang tidak diinginkan bisa saja terjadi dimanapun dan kapanpun tanpa sepengetahuan kita. Oleh karenanya kewaspadaan dalam melaksanakan pekerjaan sangat diperlukan sesuai perilaku K3 yang benar.