BAB VI PROFIL RUMAHTANGGA PESERTA PROGRAM NASIONAL
6.2 Karakteristik Rumahtangga Peserta PNPM MP
Kepemilikan benda berharga merupakan karakteristik rumahtangga untuk memperoleh gambaran mengenai kondisi dari rumahtangga tersebut. Adapun
kepemilikan benda berharga terdiri dari kepemilikan atas teknologi rumahtangga dan kepemilikan ternak. Berikut ini ditampilkan data terkait kepemilikan benda berharga yang disajikan dalam Tabel 10.
Tabel 10 Rata-rata Kepemilikan Benda Berharga pada Rumahtangga Peserta PNPM MP di Desa Kemang menurut Kategori Stimulan, Tahun 2011 Kepemilikan Teknologi
Rumahtangga PNPM Sosial Dasar PNPM SPKP
Mobil 0,03 0,00
Diketahui bahwa rata-rata tertinggi ada pada kepemilikan hand phone (HP).
Sejak pendirian dua buah BTS (Telkomsel dan XL) dua tahun yang lalu di desa ini, kepemilikan HP di Desa ini berkembang pesat dan hampir seluruh rumahtangga di Desa Kemang memiliki HP dengan rata-rata dua unit per rumahtangga. Kepemilikan benda berharga terbanyak kedua adalah televisi.
Sebagaimana HP, kepemilikan televisi ini pun hampir semua rumahtangga memilikinya. Hal ini didukung oleh fakta bahwa dari hasil survei terhadap 60 rumahtanga, hanya dua rumahtangga yang tidak memiliki televisi. Dengan perkataan lain, televisi telah diposisikan sebagai kebutuhan primer bagi masyarakat Desa Kemang. Adapun kepemilikan atas motor di desa ini juga semakin berkembang setelah adanya program pembagunan pengaspalan jalan yang berasal dari PNPM MP pada tahun 2009.
Jika dilihat berdasarkan kategori stimulan, terlihat bahwa pada rumahtangga Peserta SPKP, rata-rata kepemilikan benda berharga lebih tinggi dibandingkan dengan rumahtangga peserta SPKP. Diduga hal ini berhubungan dengan status kategori rumahtangga dimana pada rumahtangga peserta Sosial Dasar
rumahtangga yang tergolong kategori miskin lebih banyak dibandingkan rumahtangga Peserta SPKP.
Selanjutnya, pada Tabel 11 disajikan data berkenaan rata-rata kepemilikan ternak yang terdiri dari ayam, domba/kambing dan bebek menurut kategori stimulan.
Tabel 11 Rata-rata Kepemilikan Ternak pada Rumahtangga Peserta PNPM MP di Desa Kemang menurut Kategori Stimulan, Tahun 2011 (ekor)
Kepemilikan Ternak PNPM Sosial Dasar PNPM SPKP
Ayam 1,13 0,67
Bebek 0,07 0,07
Domba 0,07 0,07
Sebagaimana dapat dilihat pada tabel, rata-rata kepemilikan ternak ayam menunjukkan jumlah tertinggi. Meski, jumlah tersebut menunjukkan penurunan dibanding dengan jumlah ternak pada tahun-tahun sebelumnya. Menurut pernyataan beberapa rumahtangga, mereka yang dulu memlihara ayam di pekarangan rumahnya sekarang mengaku sudah tidak lagi dikarenakan di desa ini sempat terserang wabah flu burung sehingga merasa trauma untuk kembali memelihara atau beternak ayam.
6.2.3 Luas Lahan Usaha Tani
Luas lahan usahatani yang dikuasai rumahtangga peserta PNPM MP dapat dilihat pada Gambar 5 berikut.
Gambar 5 Persentase Rumahtangga Peserta PNPM MP di Desa Kemang menurut Kategori Stimulan dan Penguasaan Lahan
Diketahui bahwa Berdasarkan Gambar 5, terlihat mayoritas peserta PNPM MP baik peserta PNPM MP Sosial Dasar maupun Pesera SPKP, memiliki lebih dari 0,5 hektar lahan berturut-turut 22 persen dan 25 persen. Hal ini berhubungan dengan fakta bahwa sebagian anggota rumahtangga peserta PNPM MP bermata pencaharian sebagai petani pemilik dan penggarap. Adapun kepemilikan lahan tersebut sebagian besar merupakan lahan warisan yang diturunkan secara turun temurun. Selanjutnya, diketahui bahwa dari 35 persen rumahtangga yang memiliki kurang dari 0,25 hektar lahan, sekitar sepuluh persen merupakan rumahangga yang tidak memiliki lahan, hal ini berhubungan dengan fakta bahwa terdapat sejumlah rumahtangga peserta PNPM MP yang tergolong ke dalam rumahtangga miskin yang tidak memiliki lahan.
6.2.4 Status Kategori Rumahtangga
Kategori rumahtangga miskin dalam studi ini menggunakan indikator lokal yang ditetapkan melalui pemetaan sosial yang dihadiri oleh rumahtangga peserta PNPM MP, tokoh-tokoh masyarakat serta didampingi oleh Pendamping Lokal dan Fasilitator Kecamatan. Kategori rumahtangga miskin menurut indikator lokal yakni: (1) penghasilan dibawah Rp 500.000 per bulan, (2) makan satu kali atau dua kali sehari tanpa lauk pauk, (3) makan daging/lauk pauk sebulan sekali,
ha ha ha
(4) rumah Panggung dengan ukuran dibawah 30 meter persegi, kumuh, tidak memiliki fentilasi dan kaca, tidak memiliki WC/toilet, (5) tidak memiliki sawah atau ladang, (6) tidak memiliki kulkas, TV, (7) bahan bakar memasak masih menggunakan kayu baka, (8) membeli pakaian setahun sampai dua tahun sekali
. Adapun persentase rumahtangga peserta PNPM MP menurut kategori rumahtangga miskin kriteria lokal disajikan pada Gambar 6.
Gambar 6 Persentase Rumahtangga Peserta PNPM MP di Desa Kemang menurut Kategori Stimulan dan Kategori Rumahtangga
Meski sasaran utama dalam PNPM MP merupakan rumahtangga miskin (RTM) dengan tujuan utama meningkatkan partisipasi RTM, namun pada pelaksanaan di Desa Kemang mayoritas Peserta PNPM MP merupakan rumahtangga tidak miskin yaitu pada Peserta PNPM MP Sosial Dasar dan SPKP berturut-turut sekitar 54 persen dan 67 persen.
Khusus pada program Simpan Pinjam Kelompok Perempuan (SPKP), dari 30 rumahtangga peserta SPKP jumlah rumahtangga berdasarkan kategori tidak miskin, miskin dan sangat miskin berturut-turur, 20, 8 dan 2 rumahtangga.
Dengan perkataan lain, sekitar 60 persen anggota SPKP tergolong ke dalam rumahtangga tidak miskin. Hal ini disebabkan pada umumnya RTM merasa tidak memerlukan dana SPKP, dengan alasan bahwa mereka seakan memiliki beban
dengan kewajiban mengangsur setiap bulannya. Selain itu, sebagian besar RTM yang ada di Desa Kemang tidak memiliki usaha dan hanya menggantungkan hidupnya dari hasil bertani, seperti yang dipaparkan oleh Ibu E, Ketua SPKP kelompok Pengajian Nurul Huda, Cikupa:
“…Seuseueur na anggota kelompok SPKP nu di Ibu sanes RTM. Da saleres na mah neng kelompok nu sanes ge kitu, paling ngan hiji dua nu RTM na mah. Sanes teu ditawisan, mung RTM mah kitu rada keberatan aya pinjamana-pinjaman kieu teh, abot mayaran angsuran sasihan na. Janten Ibu mah nyayogikeun kanggo saha we kitu anu kersa, teras anu gaduh usaha nu mayeng, utami na mah anu nyanggupan ngangsur unggal sasih tepat waktu..”
Adapun pada program pembangunan sarana dan prasarana baik pengaspalan jalan maupun pembangunan PAUD, sebagian besar RTM merasa tidak dilibatkan.
Sebagaimana tertulis dalam PTO PNPM MP, tenaga kerja untuk pembangunan sarana prasarana disyaratkan berasal dari RTM. Namun, pada kenyataannya di lapangan, tenaga kerja yang menjadi tukang ditentukan secara sengaja dalam musyawarah dengan tidak mempertimbangkan RTM melainkan dengan pertimbangan keahlian. Sehingga tenaga kerja terpilih merupakan tukang bangunan yang berdomisili di Desa Kemang.
BAB VII
STIMULAN PNPM MP DAN PENGELOLAAN PNPM MP
Seperti yang telah dipaparkan sebelumnya, kegiatan PNPM MP yang telah dilaksanakan di Desa Kemang meliputi Pembangunan Sarana dan Prasarana berupa pengaspalan jalan dan Pembangunan PAUD serta kegiatan Simpan Pinjam Kelompok Perempuan (SPKP). Jumlah keseluruhan dana yang diterima Desa Kemang untuk kedua program atau kegiatan tersebut sebesar Rp 361.764.600,-(tiga ratus enam puluh satu juta tujuh ratus enam puluh empat ribu enam ratus rupiah). Sub bab berikut ini akan menguraikan lebih lanjut mengenai stimulan PNPM MP berupa jumlah dana untuk masing-masing program.
7.1 Stimulan PNPM MP
7.1.1 Stimulan Dana BLM untuk Kegiatan Pembangunan Sarana dan Prasarana
Salah satu indikator keberhasilan PNPM MP dapat dilihat dari perbaikan sarana dan prasarana yang menunjang di Desa Kemang. Program yang dilaksanakan untuk mewujudkan hal tersebut dilakukan melalui kegiatan perbaikan sarana dan prasarana berupa pengasapalan jalan dan pembangunan gedung PAUD.
Dari keseluruhan dana yang diterima dari PNPM MP, total dana BLM yang digunakan untuk perbaikan sarana dan prasarana, yaitu sebesar Rp 283.638.600,- (dua ratus delapan puluh tiga juta enam ratus tiga puluh delapan ribu enam ratus rupiah). Pencairan dana dilakukan melalui tiga tahapan yaitu tahap pertama dan kedua masing-masing 30 persen dari total dana bantuan, dan tahap ketiga 40 persen dari total dana bantuan. Bantuan dana tersebut diberikan kepada masyarakat untuk pembangunan sarana dan prasarana hingga selesai pengerjaannya. Masyarakat Desa Kemang hanya tinggal menikmati hasil-hasil dari program PNPM MP.
Dapat dikatakan bahwa tingkat bantuan dana pada program pembangunan sarana dan prasarana seragam, karena pada dasarnya hasil program PNPM MP
berupa pengaspalan jalan dan pembangunan PAUD dapat dinikmati seluruh masyarakat Desa Kemang.
7.1.2 Stimulan Dana BLM untuk Kegiatan Simpan Pinjam Kelompok Perempuan (SPKP)
Jumlah dana yang dialokasikan untuk kegiatan SPKP sebesar Rp 60.000.000,- untuk enam kelompok yang masing-masing terdiri dari sepuluh anggota. Secara administratif, masing-masing kelompok mendapatkan Rp 10.000.000,- untuk didistribusikan kepada setiap anggota dengan jumlah dana pinjaman sebesar Rp 1.000.000,- per orang. Namun, pada pelaksanaannya ditemukan bahwa tidak semua anggota mendapatkan dana dengan jumlah yang sama. Pada Tabel 12 berikut ini disajikan data berkenaan dengan jumlah dan persentase tingkat bantuan dana BLM yang diperoleh anggota SPKP.
Tabel 12 Tingkat Bantuan Dana BLM yang Diperoleh Anggota SPKP PNPM MP di Desa Kemang, Tahun 2009 (dalam jumlah dan persen)
Tingkat Bantuan Dana Jumlah %
Rendah 2 6,67
Sedang 26 86,67
Tinggi 2 6,67
Total 30 100
Untuk diketahui bahwa menurut PTO PNPM MP jumlah dana yang diterima oleh anggota SPKP harus merata, namun berdasarkan kasus di Desa Kemang, ditemukan bahwa ada dua orang anggota yang meminjam pinjaman ganda sebesar Rp 2.000.000,-. Hal tersebut ditemukan pada kasus kelompok Pengajian Nurul Huda dan Kelompok Arisan Istri Binangkit. Hal ini dikarenakan terdapat anggota yang tidak meminjam sehingga mengalokasikannya kepada anggota lain. Selain itu, terdapat pula dua anggota SPKP yang hanya menerima pinjaman sebesar Rp 500.000,- karena anggota SPKP merasa keberatan dalam membayar angsuran sehingga jumlah pinjaman yang diterima, dibagi separuhnya kepada anggota keluarga atau kerabatnya. Kasus ini ditemukan pada kelompok Posyandu Dusun 1.
7.1.3 Tingkat Kemudahan Sistem Alokasi Dana
Secara umum tidak terdapat kendala maupun masalah yang dihadapi masyarakat Desa Kemang dalam penerimaan dana. Begitu pula dalam teknis pencairan dana yang dilakukan pihak kecamatan. Pencairan dana selalu dilakukan tepat waktu melalui prosedur yang ada. Seperti yang telah dikemukakan sebelumnya, pencairan dana untuk pembangunan sarana dan prasarana dilakukan melalui tiga tahapan, yaitu tahap pertama dan kedua masing-masing 30 persen dari total dana yang diterima, dan tahap ketiga 40 persen dari total dana yang diterima.
Adapun sistem alokasi dana BLM untuk kegiatan SPKP yang dilakukan dalam satu tahap pencairan dana dengan persyaratan administrasi yaitu Kartu Keluarga (KK) dan Kartu Tanda Penduduk (KTP) seluruh anggota SPKP yang dikolektif oleh masing-masing ketua kelompok. Seluruh anggota yang menjadi responden dalam penelitian ini mengaku persyaratan untuk melakukan pinjaman tergolong mudah dipenuhi hanya dengan KK dan KTP tersebut, sehingga tidak ada kesulitan berarti dalam hal persyaratan.
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa tingkat kemudahan sistem alokasi dana baik untuk kegiatan pembangunan sarana dan prasarana maupun dana kegiatan SPKP secara keseluruhan tergolong mudah.
7.2 Pengelolaan PNPM MP
7.2.1 Frekuensi Kunjungan Pendampingan Fasilitator
Pada Program PNPM MP yang dilaksanakan di Desa Kemang, yang berperan sebagai fasilitator merupakan pihak dari masyarakat dan pihak luar yang berasal dari kecamatan. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, fasilitator tingkat desa atau yang disebut dengan Kader Pemberdayaan Masyarakat Desa (KPMD) laki-laki dan perempuan yang berjumlah dua orang. Adapun fasilitator kecamatan yaitu Unit Pengelola Kegiatan (UPK) dan Pendamping Lokal.
Pada pelaksanaannya, KPMD berperan mendampingi setiap proses tahapan program baik dalam perencanaan maupun pelaksanaan. Adapun Fasilitator Kecamatan yang juga mendampingi setiap tahapan program, meski
dalam hal ini yang lebih banyak berperan adalah Pendamping Lokal. UPK hanya berperan dalam pengawasan dan tidak setiap tahapan diikutsertakan.
Fasilitator merupakan pihak yang berperan penting dalam setiap tahapan program. Kehadiran fasilitator merupakan prasyarat terlaksananya suatu tahapan, dalam artian bahwa suatu tahapan/kegiatan tidak akan terlaksana apabila salah satu fasilitator tidak hadir. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa frekuensi kunjungan pendampingan fasilitator pada pelaksanaan PNPM MP di desa ini tergolong tinggi.
7.3 Ikhtisar
Tingkat bantuan dana program dan tingkat kemudahan sistem alokasi dana PNPM MP merupakan bagian dari stimulan program PNPM MP yang diduga berhubungan dengan tingkat akses, kontrol, partisipasi, perkembangan usaha dan pendapatan Peserta Sosial Dasar dan Peserta SPKP. Disimpulkan bahwa tingkat bantuan dana dan kemudahan sistem alokasi dana program seragam. Dengan demikian tidak dapat dilakukan analisis hubungan antara variabel input dengan variabel tingkat akses, kontrol, partisipasi, perkembangan usaha dan pendapatan peserta PNPM MP baik laki-laki maupun perempuan. Begitu pula dengan frekuensi kunjungan fasiliator yang seluruhnya tergolong tinggi. Setiap fasilitator rutin mengunjungi dan mendampingi setiap proses atau tahapan program PNPM MP.
Sebagaimana tertulis dalam PTO PNPM MP jumlah dana yang diterima oleh anggota SPKP harus merata, namun berdasarkan kasus di Desa Kemang, ditemukan bahwa terdapat dua orang anggota yang meminjam pinjaman ganda sebesar Rp 2.000.000,-, hal ini dikarenakan terdapat anggota yang tidak meminjam sehingga mengalokasikannya kepada anggota lain. Selain itu, terdapat pula dua anggota SPKP yang hanya menerima pinjaman sebesar Rp 500.000,-karena anggota SPKP merasa keberatan dalam membayar angsuran sehingga jumlah pinjaman yang diterima, dibagi separuhnya kepada anggota keluarga atau kerabatnya.
BAB VIII
ANALISIS GENDER DALAM PROGRAM NASIONAL PEMBERDAYAAN MASYARAKAT MANDIRI PERDESAAN
(PNPM MP) DI DESA KEMANG
Sebagaimana telah dikemukakan di depan, fokus pada studi evaluasi PNPM MP ini adalah untuk menelaah keberhasilan program tersebut berdasarkan perspektif gender, khususnya dari aspek keluaran PNPM MP pada tingkat individu dan rumahtangga peserta PNPM MP. Sehubungan dengan itu, bab ini mendeskripsikan hubungan antara sejumlah variabel pengaruh dan terpengaruh sebagaimana disajikan pada Gambar 1 serta mengemukakan hasil uji dan analisis statistik atas sejumlah hipotesis yang dikembangkan atas hubungan antar variabel tersebut di kalangan para peserta PNPM MP di Desa Kemang yang dibedakan menurut kategori stimulan yang mereka terima, yaitu Peserta Sosial Dasar (Peserta PNPM Laki-laki) dan Peserta SPKP (Peserta PNPM Perempuan).
8.1 Hubungan Karakteristik Sumberdaya Individu dengan Tingkat Akses dan Kontrol Peserta Sosial Dasar dan Peserta SPKP terhadap Komponen PNPM MP
Karakteristik sumberdaya individu Peserta Sosial Dasar dan Peserta SPKP diduga berhubungan positif dengan Tingkat Akses dan Tingkat Kontrol Peserta Sosial Dasar dan Peserta SPKP terhadap komponen PNPM MP (perencanaan dan pelaksanaan). Adapun yang termasuk ke dalam karakteristk sumberdaya individu pada penelitian ini terdiri dari (1) Tingkat Pendidikan Formal (X4), dan (2) Status Bekerja (X5).
Data berkenaan dengan dua variabel bebas (pengaruh) pada karakteristik sumberdaya individu Peserta Sosial Dasar dan Peserta SPKP disajikan pada Tabel 13.
Tabel 13 Hubungan Karakteristik Sumberdaya Individu dengan Tingkat Akses dan Tingkat Kontrol Peserta PNPM MP di Desa Kemang menurut Kategori Stimulan, Tahun 2011 (dalam persen)
Karakteristik Rendah Sedang Tinggi Total Rendah Sedang Tinggi Total 1. Tingkat Pendidikan Formal (X4)
Rendah 23,33 3,33 53,33 80,00 36,67 16,67 33,33 86,67
Sedang 6,67 0,00 6,67 13,33 6,67 3,33 3,33 13,33
Tinggi 3,33 0,00 3,33 6,67 0,00 0,00 0,00 0,00
Total 33,33 3,33 63,33 100,00 43,33 20,00 36,67 100,00 2. Status Bekerja (X5)
Rendah 0,00 0,00 0,00 0,00 33,33 6,67 30,00 70,00
Sedang 31,75 28,57 25,40 85,71 10,00 13,33 6,67 30,00
Tinggi 4,76 4,76 4,76 14,29 0,00 0,00 0,00 0,00
Total 36,51 33,33 30,16 100,00 43,33 20,00 36,67 100,00 Tingkat Kontrol
Peserta Sosial Dasar (Y2)
Tingkat Kontrol Peserta SPKP (Y2) Rendah Sedang Tinggi Total Rendah Sedang Tinggi Total 1. Tingkat Pendidikan Formal (X4)
Rendah 26,67 30,00 23,33 80,00 56,67 10,00 20,00 86,67
Sedang 6,67 3,33 3,33 13,33 6,67 6,67 0,00 13,33
Tinggi 3,33 0,00 3,33 6,67 0,00 0,00 0,00 0,00
Total 36,67 33,33 30,00 100,00 63,33 16,67 20,00 100,00 2. Status Bekerja (X5)
Rendah 0,00 0,00 0,00 0,00 46,67 3,33 20,00 70,00
Sedang 33,33 30,00 26,67 90,00 16,67 13,33 0,00 30,00
Tinggi 3,33 3,33 3,33 10,00 0,00 0,00 0,00 0,00
Total 36,67 33,33 30,00 100,00 63,33 16,67 20,00 100,00 Sebagaimana terlihat pada Tabel 13, diketahui bahwa secara umum Tingkat Pendidikan Formal Peserta Sosial Dasar dan Peserta SPKP tergolong kategori rendah. Menurut kategori stimulannya, Tingkat Pendidikan Formal Peserta SPKP yang tergolong kategori rendah tersebut sebanyak 87 persen, atau tujuh persen lebih tinggi dibandingkan dengan Peserta Sosial Dasar. Kondisi ini tampaknya tidak jauh berbeda dibanding kondisi pendidikan penduduk Desa Kemang pada umumnya. Dalam hal Status Bekerja mereka, terdapat perbedaan diantara kedua kategori peserta tersebut, yakni bahwa pada Peserta Sosial Dasar mayoritas ada pada kategori sedang (86 persen), sementara pada Peserta SPKP
ada pada kategori rendah (70 persen). Hal ini dimungkinkan karena sebagaimana dikemukakan pada profil rumahtangga peserta PNPM MP, mayoritas Peserta Sosial Dasar bekerja sebagai petani pemilik dan penggarap (40 persen) yang status bekerjanya bekerja sendiri, sementara mayoritas Peserta SPKP meskipun bekerja di sektor pertanian, namun Status Bekerja mereka tergolong pekerja keluarga.
Meskipun mayoritas Tingkat Pendidikan Formal kedua kategori peserta PNPM MP keduanya tergolong rendah, namun Tingkat Akses terhadap komponen PNPM MP diantara kedua kategori peserta tersebut menunjukkan perbedaan, tercermin dari data dimana mayoritas Peserta Sosial Dasar memiliki Tingkat Akses terhadap PNPM MP yang tergolong tinggi (67 persen), sementara di kalangan Peserta SPKP mereka yang tergolong tinggi tersebut sekitar 26 persen lebih rendah dibanding Peserta Sosial Dasar, dan bahwa Tingkat Akses mayoritas Peserta SPKP ada pada kategori rendah (43 persen). Di pihak lain, diketahui bahwa meski tidak seorangpun mayoritas Peserta Sosial Dasar yang berstatus kerja rendah, ternyata sekitar 37 persen diantara mereka memiliki Tingkat Akses terhadap PNPM MP yang rendah. Sebaliknya di kalangan Peserta SPKP, meskipun mayoritas berstatus bekerja rendah, namun diantara mereka ditemukan yang memiliki Akses terhadap PNPM MP tergolong tinggi sekitar 37 persen, atau tujuh persen lebih tinggi dibanding dengan Peserta Sosial Dasar.
Perbedaan Tingkat Akses pada kedua kategori peserta diduga berhubungan dengan fakta bahwa Peserta Sosial Dasar mayoritas Tingkat Aksesnya tinggi karena mereka merupakan tokoh masyarakat seperti ketua RT, RW dan Kepala Dusun yang ada di Desa Kemang yang diwajibkan hadir dalam setiap tahapan program, sementara peserta SPKP mayoritas merupakan ibu rumahtangga yang hanya berperan sebagai anggota dalam kelompoknya dan tidak merasa berkewajiban unuk hadir dalam setiap tahapan program, sehingga keikutsertaan mereka sebatas kegiatan simpan pinjam saja. Adapun Tingkat Akses yang tinggi merupakan mereka yang berperan sebagai ketua, sekretaris dan bendahara dalam kelompok SPKP.
Kondisi tersebut di atas tampaknya juga berlangsung dalam hal Tingkat Kontrol terhadap PNPM MP. Di kalangan Peserta Sosial Dasar, meskipun
mayoritas diantara mereka berpendidikan rendah dan berstatus bekerja yang tergolong sedang, namun dijumpai adanya mereka yang Tingkat Kontrolnya terhadap PNPM MP tergolong tinggi, dengan persentase sebesar 30 persen atau 10 persen lebih tinggi dibanding Peserta SPKP. Sebaliknya, terdapat kecenderungan dimana rendahnya Tingkat Pendidikan dan Status Bekerja di kalangan Peserta SPKP menjadikan Tingkat Kontrol mereka terhadap PNPM MP juga rendah. Hal ini didukung oleh fakta bahwa pada proses pengambilan keputusan khususnya dalam menentukan besaran dana ditentukan oleh pihak pengelola PNPM MP.
Berdasar penjelasan di atas, penelitian ini tidak menemukan adanya hubungan yang positif antara Tingkat Pendidikan Formal dan Status Bekerja dengan Tingkat Akses dan Tingkat Kontrol kedua kategori peserta PNPM MP di Desa Kemang. Hal ini didukung oleh hasil uji korelasi rank Spearman (Lampiran 5) dimana nilai korelasi dan tingkat signifikannya tergolong tidak nyata. Pada Peserta Sosial Dasar hubungan antara Tingkat Pendidikan Formal dengan Tingkat Akses dan Tingkat Kontrol mereka terhadap PNPM MP berturut-turut adalah rs
=-0,153 pada taraf α=0,2 dan rs= -0,60 pada taraf α=0,38. Adapun di kalangan Peserta SPKP, hasil uji statistik hubungan antara Pendidikan Formal dengan Tingkat Akses adalah rs=-0,079 pada taraf α=0,34, sementara dengan Tingkat Kontrolnya adalah rs = 0,026 pada taraf α=0,445. Dengan demikian, merujuk pada Purnaningsih (2006), tidak terdapat hubungan nyata antara variabel karakteristik sumberdaya individu dengan Tingkat Akses dan Kontrol baik pada Peserta Sosial Dasar maupun Peserta SPKP.
8.2 Hubungan Antara Karakteristik Sumberdaya Individu dengan Tingkat Partisipasi Peserta Sosial Dasar dan Peserta SPKP
Diduga terdapat hubungan positif antara Tingkat Pendidikan Formal (X4) dan Status Bekerja (X5) dengan Tingkat Partisipasi Peserta Sosial Dasar dan Peserta SPKP terhadap komponen PNPM MP (Y3). Tingkat pasrtisipasi ini dilihat dari keikutsertaan Peserta PNPM MP baik Peserta Sosial Dasar maupun Peserta SPKP yang dinilai dari peranannya dalam kelembagaan-kelembagan yang ada pada PNPM MP Desa Kemang. Nilai rendah menunjukkan partisipasi Peserta Sosial Dasar dan Peserta SPKP dalam kelembagaan PNPM MP (Tim Pengelola
Kegiatan, Tim Penulis Usulan, Simpan Pinjam Kelompok Perempuan) sebagai anggota, nilai sedang berarti Peserta Sosial Dasar dan Peserta SPKP berperan sebagai sekretaris atau bendahara, selanjutnya nilai tinggi merupakan mereka yang menjadi ketua dalam kelembagaan. Tabel 14 memperlihatkan Tingkat Partisipasi kedua kategori penerima stimulan PNPM MP di Desa Kemang yaitu Peserta Sosial Dasar dan Peserta SPKP dalam PNPM MP menurut Tingkat Pendidikan Formal dan Status Bekerja.
Tabel 14 Hubungan Karakteristik Sumberdaya Individu dengan Tingkat Partisipasi Peserta Sosial Dasar dan Peserta SPKP di Desa Kemang, Rendah Sedang Tinggi Total Rendah Sedang Tinggi Total 1. Tingkat Pendidikan Formal (X4)
Rendah 80,00 0,00 0,00 80,00 66,67 10,00 10,00 86,67
Sedang 10,00 0,00 3,33 13,33 10,00 0,00 3,33 13,33
Tinggi 6,67 0,00 0,00 6,67 0,00 0,00 0,00 0,00
Total 96,67 0,00 3,33 100,00 76,67 10,00 13,33 100,00 2. Status Bekerja (X5)
Rendah 0,00 0,00 0,00 70,00 56,67 3,33 10,00 70,00
Sedang 66,67 0,00 3,33 70,00 20,00 6,67 3,33 30,00
Tinggi 30,00 0,00 0,00 30,00 0,00 0,00 0,00 0,00
Total 96,67 0,00 0,00 100,00 76,67 10,00 13,33 100,00
Tabel 14 memperlihatkan bahwa lebih dari separuhnya peserta PNPM MP baik Peserta Sosial Dasar maupun Peserta SPKP memiliki Tingkat Partisipasi rendah, yakni sekitar 80 persen, hal ini berarti mayoritas Peserta Sosial Dasar dan Peserta SPKP berperan sebagai anggota. Secara administratif, pelaksanaan PNPM MP Desa Kemang dilaksanakan sesuai dengan prosedur dan prasayarat yang ada dimana setiap tahapan program diikuti sekurang-kurangnya 40 persen dari peserta merupakan Peserta SPKP. Begitu pula dengan tingkat partisipasi dalam kelembagaan dimana setiap kelembagaan PNPM MP -kecuali SPKP-, keanggotaan dipilih dengan mempertimbangkan proporsi peserta laki-laki dan perempuan. Seperti dalam kelembagaan TPK dan TPU dimana ketua dari
masing-masing kelembagaan tersebut merupakan laki-laki, adapun sekretaris dan bendaharanya adalah perempuan.
Berdasar data pada Tabel 14, terlihat pula bahwa pada Peserta Sosial
Berdasar data pada Tabel 14, terlihat pula bahwa pada Peserta Sosial